Jurnal Peduli Masyarakat Volume 5 Nomor 2. Juni 2023 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM PELATIHAN RESUSITASI JANTUNG PARU DAN BALUT BIDAI TERHADAP KORBAN GAWAT DARURAT PADA TAHAP PRA RUMAH SAKIT DI DESA KAWERUAN Fidy Randy Sada*. Johanis Kerangan. Helly Budiawan Fakultas Keperawatan. Universitas Katolik De La Salle Manado. Jl. Kairagi I Jl. Kombos-Manado. Kairagi Satu. Mapanget. Manado. Sulawesi Utara. Indonesia *fsada@unikadelasalle. Keadaan gawat darurat apabila tidak ditangani dengan tepat dan cepat dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Tindakan pertolongan pertama yang perlu dilakukan untuk diperkenalkan kepada masyarakat adalah Balut Bidai dan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Tujuan dari pelaksanaan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam melakukan pangananan kegawatdaruratan sehari-hari khususnya Balut Bidai dan BHD. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Peserta kegiatan adalah masyarakat Desa Kaweruan berjumlah 40 orang. Setelah selesai diberikan pelatihan, para peserta dievaluasi dengan melihat kemampuan setiap peserta dalam melaksanakan resusitasi jantung paru dan Hasil dari kegiatan ini menunjukkan masyarakat dapat mengikuti kegiatan dengan baik serta dapat mempraktikan tindakan balut bidai dan pemberian bantuan hidup dasar sesuai standar yang telah diajarkan. Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat dalam menangani keadaan gawat darurat yang bisa saja terjadi di mana saja dan kapan saja. Kata kunci: BHD. balut bidai. resusitasi jantung paru CARDIOPULMONARY RESUSCITATION AND SPLINT WRAP RAINING FOR EMERGENCY PATIENTS IN PRA HOSPITAL STAGE AT KAWERUAN VILLAGE ABSTRACT Emergency situations can result in disability and even death if not handled with properly and First aid intervention should be introduced to the public such as training for splint dressings and basic life support (BHD). The purpose of implementing this training to increase public knowledge in carrying out daily emergency care, especially Splint Wrap and Cardiopulmonary Resuscitation. The methods used in this activity was demonstration and Participants in this training were the people of Kaweruan Village, totaling 40 people. After completing the training, the participants were evaluated by looking at each participant's ability to carry out cardiopulmonary resuscitation and splinting. Results of this activity showed that the community can participate and practice Splint Wrap and Cardiopulmonary Resuscitation according with the standards that have been taught. Implementation of this training activity can improve knowledge and insight of the community in dealing with emergencies situation that can happen anywhere and anytime. Keywords: BHD. cardiopulmonary resuscitation. splint wrap Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group PENDAHULUAN Situasi gawat darurat dapat dialami oleh semua orang diwaktu dan tempat yang tidak Kemampuan dari penolong dalam melakukan pelayanan emergensi pra hospital untuk menangani situasi gawat darurat, membutuhkan kecepatan serta ketepatan, sehingga resiko kecacatan dan kematian dapat diminimalisir, dengan indikatornya adalah durasi respon time (Tombokan et al. , 2. Untuk memenuhi ketepatan dalam menangani situasi gawat darurat, diperlukan sumber daya dan kemandirian masyarakat (Nugroho & Prihatin. Peran masyarakat adalah satu dari beberapa elemen penting yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup dari korban, karena merupakan mata rantai awal dalam suatu sistem penyelamatan korban, yang menemukan dan menghadapi keadaan korban pertama kali (AHA, 2. Secara global terdapat 1,35 juta orang di dunia meninggal akibat cedera yang terjadi saat kecelakaan, dan terdapat kurang lebih 3700 kematian per hari dengan 46% dari korban kecelakaan mengalami fraktur dan dislokasi (Platini et al. , 2. Para korban yang mengalami cedera berupa fraktur akibat kecelakaan, rata-rata mengalami penurunan produktifitas dengan kebutuhan biaya medis yang tinggi sebagai dampak dari cedera yang Fraktur sendiri merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia setelah penyakit jantung koroner dan tuberkulosis, dengan prevalensi sebesar 5,5% (Ni Luh Putu & Yona. Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap kecelakaan, serta bencana alam. Menurut Sawiji dan Suwaryo . , di Indoesia terjadi peningkatan jumlah kematian masyarakat akibat kecelakaan lalulintas. Selain kecelakaan lalulintas, kondisi kegawatdaruratan antara lain masalah kardiovaskular seperti serangan jantung, keracunan dan tenggelam (Lubis. Oktaviani, 2015. Ambohamsah et al. , 2. Angka kasus kecelakaan lalulintas yang tinggi dan adanya masalah kardiovaskular yang membutuhkan layanan serta penanganan yang tepat dan cepat (Tombokan et al. , 2. Terdapat beberapa teori pendidikan kesehatan yang termasuk bagian dari penanganan keadaan gawat darurat, yang dapat diberikan kepada masyarakat sebagai bentuk pertolongan pertama, seperti Balut Bidai dan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Tindakan balut bidai merupakan bentuk tindakan pemberian pertolongan pertama pada anggota tubuh yang mengalami cedera . eperti patah tulan. dengan cara mempertahankan posisi tubuh menggunakan benda yang dapat menjaga posisi yang stabil dan nyaman. Sedangkan BHD adalah tindakan pertolongan pertama yang diberikan pada seseorang yang mengalami henti jantung atau henti napas sebelum mendapatkan penanganan dari tenaga medis atau rumah sakit (AHA, 2. Oleh karena itu penting untuk dilakukan pelatihan resusitasi jantung paru dan balut bidai dalam menangani pasien gawat darurat pada tahap pra rumah sakit kepada masyarakat. Kegiatan itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan resusitasi jantung paru dan pembidaian. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan tanggal 13 Mei 2023 pada masyarakat Desa Kaweruan Kecamatan Likupang Selatan Kabupaten Minahasa Utara pukul 09. WITA sampai 13. 00 WITA. Pelaksanaan kegiatan menggunakan metode ceramah, diskusi Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group dan demonstrasi. Proses pelaksanaan kegiatan terdiri dari dua tahap yaitu tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan pelatihan, dimana dimulai dengan pembentukan tim kegiatan penyuluhan, perancangan topik kegiatan dan materi yang akan dibahas, kordinasi tim dengan pemerintah desa setempat, dan survei tempat pelaksanaan kegiatan. Pada tahap pelaksanaan, kegiatan pelatihan dibuka dengan doa, pemberian materi, diskusi antara peserta dengan narasumber, dan kegiatan simulasi. Tahap pelaksanaan ditutup denganevaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan kepada 40 orang peserta, dan dibagi dalam dua sesi. Sesi yang pertama penyampaian materi, dimana materi yang disampaikan adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD), manajemen bencana alam gempa, kesiapsiagaan penanganan bencana, penanganan tersedak pada dewasa, anak dan bayi, pembidaian. Gambar 1. Pemberian Materi Setelah diberikan materi, sesi pertama dilanjutkan dengan tanya jawab. Setelah itu masuk pada sesi yang kedua yaitu demonstrasi. Pada sesi ini peserta diberikan demonstrasi pemberian kompresi dalam resusitasi jantung paru dan pembidaian. Gambar 2. Demonstrasi Pemberian Kompresi dalam Resusitasi Jantung Paru Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group Gambar 3. Demonstrasi Balut Bidai Selesai pada sesi demonstrasi, peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok dipandu oleh satu fasilitator, dan setiap peserta diberikan kesempatan untuk melakukan latihan kompresi dan balut bidai. Selama proses demonstrasi, fasilitator juga memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdiskusi terkait dengan pemberian bantuan hidup dasar dan pembidaian, ataupun pengalaman yang dialami para peserta dalam menangani kasus gawat darurat. Pengenalan tentang tindakan bantuan hidup dasar dilakukan sebagai bentuk upaya pencegahan dari perubahan keadaan pasien menjadi lebih buruk setelah terjadi henti napas dan henti jantung. Menurut Kusumawati & Jaya . , tindakan pencegahan lebih baik dilakukan dari pada memberikan tindakan penanganan henti jantung dan henti napas harus secara langsung. Setiap tahun terjadi peningkatan angka kejadian henti jantung, dan keterlambatan pemberian tindakan resusitasi jantung paru dapat mengakibatkan kematian, sehingga pemberian sosialisasi terkait tindakan resusitasi jantung paru akan membantu dalam meningkatkan keterampilan bantuan hidup dasar (Putri et al. , 2019. Abilowo & Lubis, 2. Kegiatan pelatihan ini memberikan pengetahuan serta keterampilan yang lebih kepada masyarakat dalam menangani situasi gawat darurat yang terjadi. Pengetahuan yang baik dari masyarakat tentang bantuan hidup dasar, membuat masyarakat lebih peduli pada keselamatan orang lain (Nurlaecci et al. , 2. Pengetahuan yang baik dari tetentang pemberian pertolongan pertama, juga akan mempermudah masyarakat dalam mengidentifikasi tanda-tanda bahaya pada korban serta langkah-langkah tepat dalam memberikan pertolongan pertama (Agustini et al. , 2. Hal ini sejalan dengan hasil evaluasi dari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Belitung, dimana terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang bantuan hidup dasar setelah diberikan edukasi tentang resusitasi jantung paru (Abilowo & Lubis, 2. Pelatihan balut bidai yang diberikan kepada masyarakat juga akan meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama kecelakaan atau cedera yang terjadi pada sistem muskuloskeletal dengan melakukan tindakan pembalutan dan pembidaian (Killing et al. , 2. Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Soamole & Rumaolat . dalam bentuk sosialisasi dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 5 No 2. Juni 2023 Global Health Science Group simulasi tentang pembidaian pada masyarakat pesisir, menunjukkan bahwa setelah diberikan sosialisasi dan simulasi terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat tentang teknik pembidaian. Keberhasilan dari pemberian tindakan pertolongan pertama pada kasus gawat darurat sangat ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan dari penolong (Bakara et al. , 2. Pemberian edukasi dengan pendekatan keperawatan seperti pelatihan kepada masyarakat, akan meningkatkan pengetahuan yang baik serta pemahaman positif dari masyarakat (Sukma et al. , 2. Sehingga masyarakat awam dapat memiliki keterampilan yang baik dalam melaksanakan tindakan pertolongan pertama (Agustini et al. , 2. Keterampilan yang baik dalam memberikan pertolongan pertama memberi peningkatan pada angka kelangsungan hidup korban henti jantung, sebelum para korban mendapkan penanganan lanjut di rumah sakit (Suwaryo et al. , 2. SIMPULAN Pelatihan resusitasi jantung paru dan balut bidai membantu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam melaksanakan tindakan pertolongan pertama terhadap korban gawat darurat. Kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan kepada masyarakat dengan pendampingan secara berkelanjutan. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih kepada Pemerintah Desa Kaweruan yang telah memberikan kesempatan dan menyediakan tempat untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat Pelaksana kegiatan juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah bersedia menjadi peserta pelatihan dan terlibat secara aktif selama kegiatan berlangsung. Ucapan terima kasih juga diucakan kepada Fakultas Keperawatan Universitas Katolik De La Salle Manado yang sudah memberikan izin dalam penyelengaaraan kegiatan pengabdian masyarakat ini. DAFTAR PUSTAKA