Volume 1 Nomor 2 . Desember GENITRI: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN E-ISSN: 2964-7010 Deteksi Dini Penyakit Kronis pada Lansia Melalui Pemeriksaan Kesehatan Sederhana Early Detection Of Chronic Diseases In The Elderly Through A Simple Health Examination I Wayan Edi Sanjana1. Ni Putu Kamaryati2. I Gede Edy Sagitha3 Health Faculty. Institute of Technology and Health Bali. Indonesia Jl. Tukad Balian No. Renon. Denpasar Selatan. Kota Denpasar. Bali. Indonesia 1,2,3 Corresponding author: I Wayan Edi Sanjana Email: edi. sanjana94@gmail. ABSTRAK Lansia didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki usia lebih dari 60 tahun. Adanya peningkatan dalam usia angka harapan hidup mengindikasikan adanya peningkatan jumlah lansia. Seseorang yang telah berada pada usia lansia dari survey memiliki lebih dari satu jenis penyakit kronis. Dua penyakit kronis yang ditemukan sering pada lansia yaitu diabetes melitus dan hipertensi. Lansia yang mengalami permasalahan penyakit kronis dan diperkirakan akan mengalami peningkatan setiap Dua penyakit teratas tersebut disebutkan angka kematian dan angka kesakitan yang tergolong tinggi di dunia, serta juga dikatakan sebagai penyakit dengan peringkat teratas di Indonesia. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat memiliki tujuan untuk mendeteksi penyakit kronis pada lansia yaitu diabetes melitus dan hipertensi melalui pemeriksaan Berat Badan, tinggi badan, indeks masa tubuh, tekanan darah dan gula darah sewaktu. Metode dalam pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan terbagi menjadi tiga proses kegiatan yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil analisis menunjukkan responden yang menjadi sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki usia yang tergolong lanjut usia. Responden memiliki IMT pada katagori berat badan berlebih. Responden kegiatan mayoritas memiliki tekanan darah lebih dari 140 mmHg dan memiliki kadar gula darah sewaktu kurang dari 200 mg/dL dari pemeriksaan glukometer. Responden pada kegiatan ini belum dapat didiagnosis memiliki hipertensi ataupun diabetes melitus sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat. Kata Kunci: pengabdian masyarakat. penyakit kronis ABSTRACT Elderly is defined as someone who is over 60 years of age. An increase in life expectancy indicates an increase in the number of elderly people. Someone who is at an elderly age from the survey has more than one type of chronic disease. Two chronic diseases that are often found in the elderly are diabetes mellitus and hypertension. Elderly who experiences chronic disease problems and are expected to experience an increase every year. The top two diseases are said to have high mortality and morbidity rates in the world, and are also said to be the top ranked diseases in Indonesia. Community Service Activities have the aim of detecting chronic diseases in the elderly, namely diabetes mellitus and hypertension through checking body weight, height, body mass index, blood pressure and blood Copyright @2022 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/ sugar while. This method of community service is carried out through a health examination which is divided into three activity processes, namely preparation, implementation and evaluation. The results of the analysis show that respondents who are the target of community service activities have an age that is classified as elderly. Respondents have BMI in the overweight category. The majority of activity respondents had blood pressure of more than 140 mmHg and had blood sugar levels of less than 200 mg/dL from a glucometer examination. Respondents in this activity could not be diagnosed as having hypertension or diabetes mellitus, so a more accurate follow-up examination was needed. Keyword: community service. chronic diseases PENDAHULUANA Lansia didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki usia lebih dari 60 tahun (Peraturan Presiden Nomo 88 Tahun 2. Adanya peningkatan dalam usia angka harapan hidup di Indonesia mengindikasikan adanya peningkatan jumlah lansia. Provinsi Bali perekonomian Indonesia memiliki angka harapan hidup pada 74,17 tahun di periode 2019 hingga tahun 2021 (Badan Pusat Statistik. Kota Denpasar pada tahun 2015 terdata jumlah lansia pada usia lebih dari 60 tahun 365 lansia. Jumlah tersebut tergolong besar dengan luas Kota Denpasar dan memerlukan perhatian lebih lanjut. Seseorang yang telah berada pada usia lansia dari survey memiliki lebih dari satu jenis penyakit kronis (Bestari & Wati, 2. Lansia lebih cenderung memiliki lebih dari satu penyakit kronis karena pada lansia akan terjadi penurunan fungsi dari organ dalam tubuh (Smeltzer & Bare, 2. Jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2011 tercatat terdapat 28,53% lansia yang mengalami permasalahan penyakit kronis dan diperkirakan akan mengalami peningkatan setiap tahunnya (Bestari & Wati, 2. Dua penyakit kronis yang ditemukan sering pada lansia yaitu (Kusumawardani & Andanawarih, 2. Diabetes melitus disampaikan sebagai suatu penyakit kronis yang menahun akibat dari adanya ganggauan metabolik yang memiliki tanda peningkatan kadar glukosa dalam darah (Kementerian Kesehatan RI. Sedangkan, hipertensi didefinisikan sebagai adanya peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan atau peningkatan tekanan darah diastolic melebihi 90 mmHg (Kementrian Kesehatan RI, 2. Dua penyakit teratas tersebut disebutkan angka kematian dan angka kesakitan yang tergolong tinggi di dunia, serta juga dikatakan sebagai penyakit dengan peringkat teratas di Indonesia (Nurdiana, 2. Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. pada tahun 2018 mendata sebanyak 713. orang dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun terdiagnosis diabetes melitus. Disamping itu, data Riskesdas juga menunjukkan jumlah penduduk Indonesia pada usia lebih dari 18 tahun yang menderita hipertensi sebanyak 658. orang (Kementerian Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan, 2. Diabetes melitus dan hipertensi sering dikaitkan dengan adanya pola atau gaya hidup yang kurang sehat obesitas yang menjadi salah satu faktor yang dapat Upaya yang dapat dilakukan untuk mengingkatkan kualitas hidup lansia yang cenderung memiliki penyakit kronis adalah skrining atau melakukan pemeriksaan diri secara berkala. Skrining bertujuan untuk mendeteksi adanya peningkatan pada indikator penyakit kronis diabetes melitus dan hipertensi yaitu gula darah dan hipertensi. Selain itu, menjaga indeks masa tubuh agar selalu pada rentang batas normal juga dapat menjadi solusi sederhana untuk meningkatkan kualitas hidup Kelurahan Pedungan. Denpasar Selatan yang menjadi Desa binaan Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali merupakan wilayah kerja Puskesmas 4 Denpasar Selatan dengan jumlah lansia yang tinggi mencapai 628 orang . %) dari jumlah penduduk Tahun 2016. Jumlah yang tinggi tersebut, mengindikasikan perlunya ada kegiatan untuk mengetahui kondisi lansia terkait dua penyakit kronis yaitu diabetes melitus dan hipertensi. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat memiliki tujuan untuk mendeteksi penyakit kronis pada lansia yaitu diabetes melitus dan A Copyright @2022 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/ hipertensi melalui pemeriksaan Berat Badan, tinggi badan, indeks masa tubuh, tekanan darah dan gula darah sewaktu. METODE Metode dalam pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, tekanan darah, gula darah sewaktu serta perhitungan indeks masa tubuh lansia. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terbagi menjadi tiga proses kegiatan yaitu persiapan, pelaksanaan dan Kegiatan yang dilakukan pada tahap dokumentasi, persiapan alat dan bahan, serta koordinasi dengan pihak lapangan terkait tempat dan peserta. Tahap pelaksanaan kegiatan yaitu, pertama lansia akan didata identitasnya, diukur berat badan, tinggi badan. Selanjutnya akan diukur tekanan darah dan terakhir dilakukan pengukuran gula darah. Kegiatan yang dilakukan pada tahap evaluasi yaitu melakukan klarifikasi dan penjelasan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan pada hari Sabtu, 3 September 2022. Lokasi pelaksanaan kegiatan yaitu di Aula Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar. Sasaran kegiatan yaitu lansia di wilayah Kelurahan Pedungan yang secara rutin melakukan kegiatan senam bersama yang berjumlah 38 Sampel lansia dipilih dengan menggunakan teknik accidental sampling. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada kelompok lansia yang melakukan senam rutin setiap bulannya. Kegiatan senam rutin ini merupakan program dari Puskesmas 4 Denpasar Selatan yang rutin Namun, selama pandemi Covid 19 kegiatan ini tidak dilakukan dan mulai aktif Kembali setelah status PPKM diturunkan oleh Kegiatan ini biasanya diawali dengan doa Bersama dan selanjutnya melakukan senam. Setelah senam lansia akan dilakukan pemeriksaan tekanan darah. Namun, dalam pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini, responden diarahkan untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah dan kadar gula darah Selanjutnya setelah pemeriksaan dilakukan pada seluruh responden, senam baaru dilakukan secara bersama sama. Hasil pemeriksaan tinggi badan, berat badan, tekanan darah, gula darah dan analisis BMI dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 1 Daftar Responden Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat No. Inisial NNK MKni MKrni KRni Usia TD Sistol TD Diastol Copyright @2022 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/ GDS BMI 23,81 26,63 31,61 19,94 25,06 25,92 23,81 23,46 26,48 34,19 26,67 25,81 32,04 24,44 25,79 27,56 23,62 25,34 32,44 25,11 22,77 24,15 MDKM MDsudri KTGanti NySutri GMS INL NyWrtni MdSkrm NLA WySmrt MDW KTA WyP MDS WyKrni 27,19 19,07 25,29 27,39 34,02 25,26 22,86 25,63 29,75 24,15 30,08 22,86 29,86 20,43 32,39 25,10 Tabel 2 Hasil Analisis Deskriptif Pemeriksaan Responden Pemeriksaan Usia Responden . Berat badan (K. Tinggi Badan . TD Sistole TD Diastole Gula Darah Sewaktu . r/dL) Body Mass Index Min 19,07 Merujuk pada Tabel 1, terdata sebanyak 38 responden yang dilayani dalam pemeriksaan skrining penyakit kronis diabetes melitus dan Tabel 2 menunjukkan rentang usia responden yang menjadi target skrining yaitu 43-76 tahun dengan nilai rata-rata usia 62,82 6,63 tahun. Rentang berat badan responden yaitu 46-85 Kg dengan nilai rata-rata berat badan 61,68 9,95. Nilai minimum tinggi badan responden adalah 135 cm dengan nilai maksimum 175 cm dan nilai rata-rata tinggi responden 153,34 9,75. Rata-rata tekanan darah sistolik responden adalah 144,34 19,26 dengan nilai maksimum 187 mmHg dan nilai minimum 112 mmHg. Nilai minimum tekanan darah diastolic responden adalah 72 mmHg dengan nilai maksimum 126 mmHg dan ratarata tekanan darah diastolic 87,5 10,81. Nilai kadar gula darah sewaktu responden berkisar antara 86 sampai 369 mg/dL dengan nilai ratarata 135,87 65,12. Setelah dilakukan analisis nilai BMI ditemukan data rentang BMI Maks 34,19 Mean 62,82 61,68 153,34 144,34 87,50 135,87 26,26 6,63 9,95 9,75 19,26 10,81 65,12 3,72 responden yaitu antara 19,07-34,19 dengan nilai rata-rata 26,26 3,73. Gambar 1 Distribusi Responden Berdasarkan Usia Merujuk pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki usia lebih dari 60 tahun. Copyright @2022 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/ Gambar 2 Distribusi Responden Berdasarkan Tekanan Darah Sistolik Merujuk pada Gambar 2, dapat ditemukan mayoritas responden memiliki tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg. Gambar 3 Distribusi Responden Berdasarkan Gula Darah Sewaktu Merujuk pada Gambar 3, mayoritas responden memiliki kadar gula darah sewaktu kurang dari 200 mg/dL. Hanya 18% dari responden yang memiliki kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL. Gambar 4 Distribusi Responden Berdasarkan Indeks Masa Tubuh Merujuk pada Gambar 4, tidak ditemukan data IMT responden yang berada pada katagori berat badan kurang dari normal. Mayoritas responden berada pada katagori berat badan berlebih yang dilihat dari nilai IMT berada antara 25-29,9. Hasil analisis statistik dari data hasil responden memiliki tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg. Hasil tersebut memiliki makna sebagian besar responden memiliki hipertensi. Diagnosis hipertensi tidak tegak hanya dengan dilakukan sekali pengukuran. Diperlukan adanya pengukuran berkala pada pasien dengan tekanan darah lebih dari 140 mmHg. Setidaknya diperlukan lebih dari dua kali pengukuran dalam waktu yang berbeda, selain itu juga dikaji apakah ada kerusakan organ akibat dari kenaikan tekanan darah. Seorang pasien akan didiagnosis hipertensi apabila dalam satu bulan setelah dilakukan kunjungan pemeriksaan tekanan darah lebih dari atau sama dengan 180/100 mmHg atau 140-179 sistolik dengan 90-109 mmHg diastolic yang disertai adanya kerusakan target organ atau diabetes. Selanjutnya apabila dalam satu bulan tersebut tidak ditemukan kriteria tersebut, dengan tekanan darah yang masih lebih dari 140 mmHg diperlukan adanya pengukuran ketiga, keempat hingga kelima sampai kriteria tegaknya diagnosis hipertensi terpenuhi (Turana, 2. Responden kegiatan PKM yang memiliki tekanan darah lebih dari 140 mmHg saat tahap evaluasi sudah dijelaskan mengenai penegakan diagnosis hipertensi dan disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke Puskesmas 4 Denpasar Selatan. Hasil analisis terhadap pemeriksaan kadar gula darah sewaktu menunjukkan, nilai rata-rata kadar gula darah sewaktu yaitu 135,87 65,12. Selain itu dari katagori pasien berdasarkan kadar gula darah, mayoritas responden memiliki kadar gula darah kurang dari 200 mg/dL. Hanya 18% responden yang memiliki kadar gula darah melebihi batas normal 200 mg/dL. Penegakan diagnosis diabetes melitu dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah dan HbA1c. Pemeriksaan darah yang dianjurkan oleh PERKENI yaitu darah yang diambil memalui plasma darah vena. Namun, adanya kecurigaan akan terdiagnosis diabetes melitus apabila pasien memiliki keluhan klasik yang dikenal dengan trias DM. keluhan tersebut meliputi polyuria . anyak kencin. , polydipsia . anyak minu. , polifagia . anyak maka. dan terdapat penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Kriteria penegakan diagnosis diabetes melitus yaitu pemeriksaan gula darah plasma puasa > 126 mg/dL atau gula darah plasma 2 jam setelah tes toleransi glukosa Copyright @2022 Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan https://ejournal. id/index. php/pkm/ oral > 200 mg/dL atau pemeriksaan HbA1c > 6,5% (PERKENI, 2. Kriteria tersebut menjadikan patokan bahwa belum tentu responden yang memiliki gula darah sewaktu dari pemeriksaan glucometer terdiagnosis DM, sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan. Namun, apabila responden yang memiliki IMT pada katagori obesitas dan kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL berisiko lebih tinggi terdiagnosis DM. Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden berada pada kataboti berat badan berlebih berdasarkan nilai IMT yang dimiliki. Itu menunjukkan responden PKM memiliki resiko untuk mengalami peningkatan tekanan darah serta gula darah. Salah satu faktor yang dapat diubah dari penyebab diabetes melitus dan hipertensi adalah obesitas. Dengan adanya nilai berat badan yang berlebih responden pada tahap evaluasi diberikan informasi untuk dapat minimal menjaga IMT agar tidak mengalami kenaikan dengan mengontrol berat badan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menjaga pola makan serta secara rutin melakukan olah raga seperti senam rutin yang dilakukan saat ini. SIMPULAN DAN SARAN Responden yang menjadi sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat memiliki usia yang tergolong lanjut usia. Responden memiliki IMT pada katagori berat badan berlebih. Responden kegiatan mayoritas memiliki tekanan darah lebih dari 140 mmHg dan memiliki kadar gula darah sewaktu kurang dari 200 mg/dL dari pemeriksaan glukometer. Responden pada kegiatan ini belum dapat didiagnosis memiliki hipertensi ataupun pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat. Namun, untuk deteksi dan mengetahui resiko responden atau lansia di Kelurahan Pedungan Denpasar memiliki resiko didiagnosis diabetes melitus dan hipertensi. dapat ditambahkan setelah simpulan . ermasuk dalam bagian in. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih diberikan kepada LPPM Itekes Bali atas pemberian dana dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada Ucapan terimakasih juga diberikan kepada Puskesmas 4 Denpasar Selatan yang telam memfasilitasi kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA