Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 1 (Agustus 2. : 1-19 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: 10. 59002/jtp. Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 dan Penerapannya Masa Kini Ivana Aimee Djuharto Sekolah Tinggi Teologi Aletheia ivana1140@gmail. Abstract This paper is intended to present a reading of Luke 24:1-12 using a narrative analysis approach and characterization theory in order to enrich research on related text. I combined narrative analysis method with BennemaAos characterization theory. This method explores narrative elements, such as: implied author and narrator. point of view and ideology. narration and time narration. and implied reader. Characterization of characters is done with the following step, such as: . Character analysis and classification, and . Total reconsturction of character. This writing specifically delves the narration inside the text of Luke 24:1-12 in accordance to elements mentioned above in order to provide the reader implications for living the live as a Christian The result shows that the narrative analysis character reconstruction carried out in this text can enrich readers to understand Luke 24:1-12 as a whole narrative text. At the same time, this paper emphasizes that women who are not prominent characters can still be used by God to proclaim the gospel after God has processed them spiritually. Keywords: Narrative Analysis. The Gospel Of Luke. JesusAo Ressurection. Characterization. Women Of The Gospel. Abstrak Penulis menghadirkan tulisan ini untuk menyajikan pembacaan terhadap Lukas 24:1Ae12 dengan menggunakan pendekatan analisis naratif dan teori karakterisasi demi memperkaya penelitian terhadap teks terkait. Penulis menggabungkan metode analisis naratif dengan teori karakterisasi Bennema. Metode ini mengeksplorasi elemen-elemen narasi seperti: penulis tersirat dan narator. sudut pandang dan ideologi. narasi dan waktu narasi. karakterisasi tokoh. dan pembaca Karakterisasi tokoh dilakukan dengan langkah-langkah berupa: . Analisis dan klasifikasi tokoh, dan . Rekonstruksi total karakter tokoh. Penulis meneliti mengenai narasi di dalam Lukas 24:1Ae12 sesuai dengan elemen yang telah disebutkan dan menemukan beberapa aplikasi praktis yang dapat diterapkan di dalam kehidupan orang Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis naratif dan rekonstruksi karakter yang dilakukan dalam teks ini dapat memperkaya pembaca untuk mengerti Lukas 24:1-12 secara utuh sekaligus memberikan penekanan bahwa para perempuan yang secara karakter tidak menonjol justru dipakai Allah untuk melakukan pemberitaan Injil setelah mengalami proses pengembangan spiritual dari Allah. Kata Kunci: Analisis Naratif. Injil Lukas. Kebangkitan Yesus. Karakterisasi. Para Perempuan Dalam Injil. Diterima Redaksi: 02-04-2024 | Selesai Revisi: 25-07-2. Diterbitkan Online: 31-08-2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Pendahuluan Alkitab adalah pedoman hidup bagi orang percaya yang 40% didominasi oleh kisah Secara khusus, di dalam Injil Lukas. Lukas sebagai penulis juga sering mengkomunikasikan sebuah cerita dengan cara bernarasi. Agar dapat mengerti makna secara menyeluruh dan luas, maka yang harus dilakukan adalah mendekati teks dengan analisis naratif. Meskipun demikian, rupanya terdapat beberapa penelitian lainnya yang mendekati teks ini dengan cara yang beragam. Salah satu contohnya yaitu J. Engelbrecht dalam jurnal Neotestamentica 23 . yang berusaha untuk mendekati teks Lukas 24:112 dengan perspektif historis yang memberikan penekanan pada unsur historis dari teks terkait serta formasi cerita secara khusus di dalam Injil Lukas (Engelbrecht, 1989, hal. Tidak hanya itu, pembacaan terhadap Injil Lukas 24:1Ae12 juga sempat dilakukan dengan cara pembacaan sinkronik yang mencakup kumpulan wawasan dari metode kritik ilmiah sosial, feminis, naratif, dan usaha mengimajinasikan kembali (Strath, 2017, hal. Terdapat juga Alexander Philip Thompson yang mendekati teks Lukas 24 menggunakan perkembangan rekognisi berdasar tradisi konteks teks sehingga membentuk penampilan penyampaian narasi kebangkitan Kristus dalam kitab Lukas (Thompson, 2. Meskipun sudah terdapat banyak pendekatan yang dilakukan kepada teks Lukas 24:1-12, penulis menyadari bahwa analisis naratif yang merupakan model dasar dari komunikasi antar-manusia (Tarmedi, 2. dapat menjadi jembatan yang baik untuk mengkomunikasikan teks Lukas 24:1Ae12 agar lebih mudah dipahami oleh peneliti. Sebelumnya, sudah ada yang menyelidiki Lukas 24:1-12 dengan pendekatan naratif. Tjatur Herianto, di dalam artikel jurnal Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif Injil Lukas 23:5624:12 telah melakukan pendekatan narasi terhadap teks Lukas 23:56-24:12. Yang membedakan tulisan ini dengan tulisan Herianto adalah pembahasan tulisan ini lebih fokus pada narasi Lukas 24:1Ae12 sekaligus tulisan yang memberikan penekanan pada analisis pengembangan karakter dari tokoh para perempuan di dalam Lukas 24:1-12. Menurut Bennema, seringkali dalam sebuah kisah narasi, seseorang mementingkan hanya sebatas alur cerita dan elemen-elemen yang membahas mengenai cerita tetapi tidak begitu meletakkan perhatian pada karakter dalam suatu narasi (Bennema, 2016a, hal. 375Ae. Permasalahannya adalah proses karakterisasi dalam literatur Yunani kuno dijelaskan secara tidak langsung dan implisit, oleh karena itu pembaca perlu untuk merekonstruksi ulang karakter tokoh berdasar tindakan dan perkataan subyek dan sebagainya (Bennema, 2. Atas dasar alasan tersebut, maka tulisan ini ada untuk memperkaya penelitian terhadap Lukas 24:1-12 melalui analisis naratif secara umum melalui data-data yang dikumpulkan serta analisis pegembangan karakter dalam narasinya. Analisis naratif dan rekonstruksi karakter para perempuan yang dilakukan dalam teks ini dapat memberikan analisis komprehensif untuk mengerti proses pengembangan karakter dari tokoh para perempuan sekaligus memberikan penekanan bahwa para perempuan yang secara karakter tidak menonjol justru dapat dipakai Allah untuk melakukan pemberitaan Injil setelah mengalami proses pengembangan spiritual dari Allah. Metode Penelitian Dalam tulisan ini, penulis secara khusus melakukan analisis terhadap Lukas 24:1Ae 12 dengan menggunakan metode penelitian kualitatif jenis studi kepustakaan yang berpusat pada mengimplementasikan teori yang telah ada dan memberikan relevansi dari hasil Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 implementasi teori terkait (Hamzah, 2019, hal. 269Ae. Dalam proses analisis data, penelitian ini menggunakan metode penelitian biblika yang berfokus pada pendekatan Di dalam proses analisis, penulis menggunakan pendekatan kritik narasi secara umum dan teori karakterisasi yang dikemukakan oleh Cornelis Bennema. Kritik narasi memberikan penekanan pada pembacaan teks secara teliti dan memberikan perhatian khusus pada elemen-elemen narasi berupa: penulis tersirat dan narator. sudut pandang dan narasi dan waktu narasi. karakterisasi tokoh. dan pembaca tersirat (Osborne, 2006, hal. Dalam melakukan analisis karakterisasi tokoh para perempuan, penulis menerapkan teori karakterisasi milik Cornelis Bennema (Bennema, 2. Teori karakterisasi dari Bennema dilakukan melalui langkah-langkah berupa: . Analisis dan klasifikasi karakter seluruh tokoh disesuaikan dengan konteks teks terkait. Rekonstruksi total karakter dari para perempuan yang mencakup penjabaran penampilan naratif, perihal eksternal tokoh, perkataan dan tindakan tokoh dalam teks, analisis dan klasifikasi karakter, evaluasi karakter, dan signifikansi karakter (Bennema, 2016b, hal. 418Ae. Terdapat beberapa batasan dalam penelitian tulisan ini. Yang pertama, pembedahan elemen narasi sebagai upaya analisis teks dilakukan dengan batasan pembacaan secara teliti terhadap Injil Lukas dan beberapa bagian yang dapat menunjang dari kitab Injil lainnya sesuai dengan teks Terjemahan Baru yang pertama. Yang kedua, analisis komprehensif karakterisasi tokoh dipusatkan kepada tokoh para perempuan. Yang ketiga, pemberian pemahaman signifikansi dan penerapan masa kini didasarkan pada hasil pendekatan yang dilakukan. Hasil dan Pembahasan Pendekatan Narasi dengan Analisis Struktural Teks Narasi dan Teori Karakterisasi Bennema Penulis Tersirat dan Narator Di dalam teks narasi Alkitab umumnya terdapat narator dan penulis tersirat. Narator merujuk kepada pembicara yang umumnya memulai, menyertai, dan mengakhiri suatu Narator tidak kelihatan di dalam teks maupun cerita yang disampaikan serta menjadi sosok yang mahatahu atas cerita yang akan terjadi (Osborne, 2006, hal. Sedangkan penulis tersirat merujuk kepada penulis yang tidak hadir dalam kejadian namun telah menciptakan pribadi dirinya di dalam teks terkait dengan penekanan bukanlah pada penulisnya melainkan pesan yang dimaksudkan oleh penulis tersebut (Osborne, 2006, hal. Di dalam pembacaan Lukas 24:1Ae12 sendiri, penulis menemukan bahwa seluruh penceritaan disampaikan oleh narator dan tidak ada penulis tersirat. Bila ditarik lebih jauh pada pasal sebelumnya, maka narator terlihat telah mengambil alih untuk berbicara mengenai alur cerita semenjak Lukas 23:48 setelah dialog terakhir dari kepala pasukan. Hal ini berkelanjutan hingga kisah mengenai perempuan-perempuan yang melihat penguburan Yesus, menyediakan rempah-rempah bagi mayat Yesus, serta bagaimana mereka beristirahat pada hari Sabat. Kemudian, di dalam Lukas 24:1Ae4, narator mengisahkan satu hari setelah Sabat. Satu hari setelah Sabat ini menjadi signifikan, karena berarti narator sengaja melewatkan . kejadian pada hari Sabat, dan langsung fokus pada hari pertama dalam satu minggu. Barulah pada hari pertama minggu tersebut, narator mengisahkan perempuan-perempuan ini membawa rempah-rempah yang telah disediakan sambil pergi ke kubur. Pada saat inilah, mereka melihat batu kubur yang sudah terguling dan mayat Yesus sudah tidak ada di dalam kuburan. Pada saat ini juga, mereka melihat Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 malaikat Tuhan hadir. Melalui pembahasan di atas bisa dikatakan bahwa terdapat kejadian yang sengaja ditekankan oleh narator karena merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan lebih dari yang lain. Tidak berhenti di situ, setelah jeda percakapan sepihak dari dua orang berpakaian berkilauan, narator kembali berbicara pada ayat 8Ae12 yaitu mengisahkan tentang respons para perempuan terhadap kebangkitan Yesus. Respons tersebut berupa ketakutan . an sukacita. , kemudian mereka bergegas untuk memberitahukan kebangkitan Yesus. Peran narator di dalam ayat 8-12 menjadi sangat signifikan, karena melaluinya pembaca teks ini bisa mendapatkan informasi yang lebih menyeluruh bahwa sebenarnya telah terjadi perubahan-perubahan di dalam diri para perempuan yang kemudian berpengaruh pada tindakan mereka selanjutnya. Runtutan peristiwa dalam ayat 8-12 dijelaskan begitu cepat oleh narator. Hal ini menunjukkan dua hal, yang pertama yaitu setelah mengalami momen yang penting, maka respons yang cepat dan tepat diperlukan dari para perempuan sebagai saksi mata. Yang kedua, penjelasan yang cepat dan sekilas oleh narator terkait kisah kesaksian para perempuan yang kemudian ditolak oleh para murid menandakan bahwa perihal ditolak tidak menjadi hal yang krusial dan yang paling penting adalah kisah mengenai Kristus yang telah bangkit itu sendiri. Melalui pembahasan di atas, dapat dipahami bahwa informasi mengenai perubahan karakter dari para perempuan telah disampaikan oleh narator. Sudut Pandang dan Ideologi Dimensi Psikologis Dimensi psikologis berkaitan dengan bagaimana sang narator menyampaikan motif . emikiran dan perasaa. dari tokoh yang ada (Osborne, 2006, hal. Di dalam Lukas 24:1Ae12, terdapat dimensi psikologis dalam diri para perempuan. Di dalam ayat 4, dituliskan bahwa perempuan-perempuan ini Aotermangu-manguAo setelah melihat keadaan kubur yang kosong dan mayat Yesus yang tidak ada di dalam kubur. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat itu, para perempuan terkejut, sebab mereka memiliki ekspektasi bahwa Yesus semestinya sudah mati dan mayatnya dibaringkan di dalam kubur batu (France, 2013, hal. 376Ae. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa para perempuan sedang berusaha menerima bahwa Yesus memanglah sudah mati dan tidak ada hal yang bisa diubah dari hal ini . utus as. Dimensi psikologis para perempuan juga selaras dengan dimensi psikologis dalam kisah perjalanan dua orang murid Yesus menuju ke Emaus. Di dalam perjalanannya ke luar dari Yerusalem yang menunjukkan keputusasaannya, kedua orang murid ini merasakan kebingungan berupa: mereka sudah mengikuti Yesus dalam pelayananNya dan memiliki pengharapan serta ekspektasi mesianis terhadap sosok Yesus yang meyakinkan namun ternyata Yesus mati (Keener, 1993, hal. 256Ae. Di dalam ayat 5, terdapat perkembangan emosi yang dirasakan oleh para perempuan, yaitu berupa ketakutan karena tiba-tiba ada dua orang berdiri dengan pakaian yang berkilau-kilauan. Di dalam ayat 8, dinyatakan bahwa perempuan-perempuan telah mengingat perkataan Yesus, hal ini menandakan bahwa mereka sebelumnya lupa atau tidak mengerti akan perkataan Yesus terkait peristiwa kebangkitan ini. Di dalam ayat 10Ae11 tidak bisa dijelaskan perasaan apa yang sedang dialami oleh para perempuan, namun yang pasti terdapat dua kemungkinan perasaan dari para perempuan yaitu . mereka bersedih karena ditolak kesaksiannya oleh para murid namun tetap memberitakannya, atau . mereka tidak bersedih - sebab perihal Yesus telah bangkit menjadi sukacita yang Lihat Matius 28:8. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 melampaui kesedihan dari peristiwa kematian Yesus -, mereka telah mengetahui kebenarannya, dan telah memberitakannya. Sebagai penunjang, penulis mengutip Matius 28:8 yang menggambarkan bahwa meskipun perempuan-perempuan ini merasa ketakutan, di saat yang bersamaan mereka merasakan sukacita yang besar oleh sebab pemberitaan ilahi dari dua orang berpakaian berkilauan yang menyatakan bahwa Yesus telah bangkit sehingga kemudian para perempuan bergegas untuk menceritakannya. Opsi kedua dari kemungkinan perasaan para perempuan lebih tepat. Penjelasan mengenai para perempuan ini menunjukkan bahwa Kristus yang telah bangkit telah juga memberikan pengaruh positif terhadap dimensi psikologis jiwa mereka yang sempat putus asa (Wilcock, 1984, hal. 206Ae. Di dalam ayat 12, muncul tokoh yang baru yaitu Petrus, dan di dalam teks digambarkan bahwa Petrus sedang berada dalam keingintahuan yang besar dan kebingungan atas apa yang telah terjadi . elaras dengan sikap para perempuan dalam ayat 2Ae. Informasi tambahan ini tidak mengubah apapun dari dimensi psikologis para perempuan, tetapi memberikan penjelasan tambahan bahwa tindakan sebagai hasil perubahan dalam karakter tokoh para perempuan ini rupanya telah memengaruhi dimensi psikologis Petrus. Tindakan para perempuan berdampak pada Petrus. Dimensi Evaluatif/Ideologis Dimensi evaluatif/ideologis menganalisis konsep benar atau salah dari tokoh tertentu, atau yang sedang diangkat di dalam sebuah teks narasi (Osborne, 2006, hal. Dimensi evaluatif di dalam Lukas 24:1Ae12 dapat dilihat ketika perempuan-perempuan merasa terkejut dengan peristiwa yang terjadi dan teringat akan perkataan Yesus akan kebangkitan-Nya. Hal ini menyatakan bahwa kebenaran yang dipercaya oleh para perempuan adalah bahwa Yesus, yang adalah guru mereka, telah mati di Kayu Salib. Pemahaman mereka hanya sebatas Yesus sempat memberikan sumbangsih dalam kehidupan mereka, namun sekarang ia mati. Pemahaman mereka akan Yesus masih belum Hal ini juga diperkuat melalui kisah perjalanan dua orang murid ke Emaus di dalam Lukas 24:20, yang mana kedua orang murid itu bersaksi bahwa Yesus telah diserahkan dan Sedangkan di dalam Lukas 24:5, dua orang dengan pakaian berkilauan tersebut bersaksi bahwa Yesus harus . diserahkan, disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga (Tyndale, 1998, hal. Pemahaman yang belum utuh ini yang membuat dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus maupun para perempuan menjadi bingung dan bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi. Dimensi evaluatif ini juga dapat dilihat dari ayat 10-11. Wawasan dunia patriakal yang telah menguasai konteks budaya mereka telah menjadi salah satu faktor yang membuat para murid menganggap perkataan para perempuan adalah omong kosong dan ocehan belaka. Berdasarkan budaya Yahudi-Romawi, sebenarnya tidak ada kebijakan khusus yang memberikan label bahwa kesaksian perempuan pasti salah, namun memang pemahaman-pemahaman mengenai perempuan pada masa itu tidak dapat dipungkiri secara tidak langsung - telah memengaruhi ketidakpercayaan mereka mengenai kesaksian yang disampaikan oleh para perempuan (Bauckham, 2002, hal. Berkaitan dengan hal ini. Bauckham menuliskan (Bauckham, 2002, hal. AuSince our stories are not set in law courts, this piece of halakah may be less relevant than the reason Josephus purports to give for it: Aubecause of the levity and impetuosity of their sexAy (Ant. This is of course, a version of the common ancient prejudice that women are less rational Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 than men, more easily swayed by emotion, more readily influenced, all too prone to jump to conclusions without thoughtful consideration. While this did not result in a consistent male policy of disbelieving women, it is hard to believe it would not affect judgments of credibility especially when what the women were reporting would take some believing Ay Faktor di atas bisa jadi berpengaruh, namun tidak bisa dipungkiri faktor skeptisisme dari para murid juga menguasai bagian ini. Sikap skeptis dari para murid ini sangat berkaitan dengan pemahaman mereka akan kebangkitan. Para murid yang adalah orang Yahudi mempercayai adanya kebangkitan orang mati, kehidupan setelah kematian (Sanders, 1992, hal. 302Ae. Namun, dalam teologi Yahudi, kebangkitan orang mati tidak terjadi di tengah-tengah zaman, melainkan pada akhir zaman (Morris, 1979, hal. Hal ini juga terlihat di dalam Yohanes 11:24 melalui jawaban Marta yang meyakini bahwa saudaranya akan bangkit ketika orang-orang bangkit pada akhir zaman. Sifat skeptis berdasarkan pemahaman Yahudi mereka mengenai kebangkitan pada akhir zaman ini juga didukung oleh kisah perjalanan dua orang yang pergi ke Emaus. Kesaksian para perempuan memang ditolak, namun ternyata kesaksian dua orang yang telah pergi setengah jalan ke Emaus kemudian kembali juga ditolak oleh para murid. 2 Hal ini juga didukung oleh kisah Tomas . atu-satunya murid Yesus yang tidak hadir ketika Yesus datang menampakkan diri pada murid yang lai. yang tidak memercayai perkataan para murid lainnya yang telah percaya akan kebangkitan Yesus. Kejadian ketidakpercayaan para murid setelah kabar kebangkitan telah diberitakan oleh para perempuan kepada mereka serupa dengan kejadian Tomas tidak memercayai penampakan Yesus terhadap para murid. Setelah melihat dimensi evaluatif di atas, dapat dipahami bahwa meskipun faktor gender bisa memengaruhi ketidakpercayaan murid terhadap para perempuan (Bauckham, 2002, . , namun rupanya para murid memang pada dasarnya tidak mengerti maksud Yesus ketika Ia berkata Ia akan bangkit sekaligus tidak percaya kalau Kristus telah bangkit dan menampakkan diri. Dimensi Ruang dan Waktu Di dalam Lukas 24:1-12 dimensi ruang dapat terlihat hanya menyoroti satu ruang yaitu kubur batu tempat mayat Yesus dibaringkan. Para perempuan awalnya pergi ke kubur batu Yesus untuk menyambut kematian Yesus, namun kemudian keluar dari kubur batu Yesus dengan pemahaman yang telah diperbarui. Untuk menyambut kebangkitan-Nya maka mereka mau memberitakannya. Dimensi waktu dapat dilihat dalam dialog dua orang berpakaian berkilauan Dalam dialog masa kini, mereka berkata bahwa Yesus telah . asa lampa. Perspektif dari dua orang ini secara tidak langsung telah mematahkan pemahaman para perempuan yang memahami bahwa Yesus dalam masa kini adalah sudah mati. Selain itu, terkait dengan dimensi waktu, penekanan terhadap istilah 3 hari/pada hari ketiga terus-menerus muncul dalam narasi kisah kebangkitan Yesus. Dapat dilihat sebenarnya Lukas 24:1 menunjukkan bahwa waktu kebangkitan Yesus adalah kurang dari 40 jam setelah penguburan Yesus sebelum matahari terbenam pada hari Jumat. Sedangkan di dalam Lukas 24:21, dikatakan telah lewat 3 hari, padahal kisah perjalanan ke Emaus ini terjadi di hari yang sama dengan kisah para perempuan pergi ke kubur Yesus (Wilcock. Lihat Markus 16:12-13. Lihat Yohanes 20:19Ae29. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 1984, hal. 207Ae. Penggunaan frasa ini sebenarnya merupakan suatu idiom bahasa Ibrani yang merujuk kepada Aobesok lusaAo (France, 2013, hal. Penyebutan pada hari yang ketiga ini menyiratkan suatu makna yang penting. Yesus di dalam Injil Lukas 9:18Ae22 menceritakan bagaimana Yesus berkata mengenai Diri-Nya sendiri sebagai Anak Manusia yang harus menanggung banyak penderitaan . , lalu dibunuh . , dan dibangkitkan pada hari ketiga. Penekanan ini menjadi bukti bahwa apa yang Yesus katakan mengenai Diri-Nya adalah benar, bahwa Ia akan bangkit pada hari yang ketiga setelah mengalami kematian. Hal ini sebenarnya menunjukkan kebenaran yang telah dikatakan Petrus di dalam Lukas 9:20 bahwa Yesuslah Anak Allah. Mesias dari Allah. Sebagai para perempuan yang senantiasa mengikuti rombongan murid Yesus, tentunya melalui kebangkitan Yesus, mereka juga menjadi mengerti bahwa memang Yesuslah Anak Allah. Sudut Pandang Frasaologis Di dalam Lukas 24:1Ae12 hanya ada tertulis satu percakapan yang signifikan, yaitu perkataan orang-orang yang berkilauan itu terhadap para perempuan. Perkataan tersebut berbunyi demikian : AuMengapa engkau mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini. Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga. Ay Dalam narasi ini, orangorang berkilauan tersebut sedang berkata-kata di dalam kubur Yesus, sesuatu yang semestinya adalah misteri, tidak diketahui bahkan oleh para penjaga kuburan. Dalam narasi ini, hanya ada 1 bagian dialog yaitu ketika dua orang dengan pakaian berkilauan ini memberitakan kebangkitan Yesus, hal ini menjadikan penekanan bahwa setiap kata yang disampaikan oleh dua orang muda berpakaian berkilauan tersebut memiliki unsur informatif dan yang signifikan untuk diketahui. Contohnya dalam perkataan. Aumengapa engkau mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?Ay, pertanyaan ini merupakan pertanyaan retoris dari dua orang berkilauan terhadap para perempuan (Tyndale, 1998, hal. Mencari Yesus yang telah bangkit di antara mereka yang mati merupakan bentuk ketidak-kenalan para perempuan terhadap Yesus. Narasi dan Waktu Narasi Bagian ini menjelaskan mengenai penataan dramatis suatu teks narasi (Osborne, 2006, hal. Sebelum peristiwa kubur kosong, waktu narasi dalam Injil Lukas menjelaskan secara cukup detil tentang kisah penguburan Yesus dan bagaimana perempuan-perempuan melihat penguburan itu (Lukas 23:50Ae56. Kemudian, narasi mengenai Sabat hanya terdapat dalam setengah ayat . Selanjutnya. Lukas 24:1 menjelaskan kisah yang baru setelah Sabat. Cara bercerita Lukas diawali dengan pengisahan para perempuan pergi ke kubur Yesus, penggambaran tentang keterkejutan para perempuan, dilanjutkan dengan datangnya orang-orang berkilauan yang membawa kabar, dan diakhiri dengan para perempuan meninggalkan kubur untuk memberitakan kesaksian mereka kepada para murid namun ditolak. Waktu narasi menjadi semakin detil ketika perempuan berada di dalam kubur Yesus. Hal ini menunjukkan pengembangan alur menuju kepada puncaknya, menunjukkan proses terjadinya kejadian yang menjadi klimaks dari penulis teks. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Plot Alur suatu cerita yang merupakan gabungan urutan peristiwa berdasarkan runtutan sebab-akibat mencakup exposition, rising action, climax, falling action, dan resolution. Bagian exposition dapat dilihat di dalam ayat 1 yang memberikan petunjuk tentang waktu terjadinya cerita yaitu pagi-pagi benar pada hari pertama minggu tersebut. tentang tempat kejadian peristiwa berupa kubur Yesus. serta tokoh yang akan disorot untuk beberapa waktu ke depan yaitu AumerekaAy yang merujuk kepada para perempuan. Semua masih berjalan mulus, tidak ada sesuatu yang janggal maupun perubahan tertentu. Bagian rising action terdapat di dalam ayat 2Ae5a yang menceritakan bahwa kubur Yesus sudah terbuka, mayat Yesus hilang, dan muncul sosok orang-orang berkilauan. Climax terletak pada ayat 5bAe7 mengenai pernyataan bahwa Yesus. Anak Manusia harus dan telah bangkit. Falling Action terletak pada ayat 8 mengenai teringatnya para perempuan akan perkataan Yesus terkait kebangkitan. Resolution terletak pada ayat 9-10 yaitu para perempuan menceritakan apa yang mereka lihat kepada kesebelas murid dan saudara yang lain. Dinamika alur ini telah berpengaruh terhadap perkembangan karakter para Pada bagian exposition, pemahaman para perempuan belum berubah. Yesus telah mati. Pada bagian rising action, mulai muncul tanda-tanda yang janggal dan membuat mereka heran serta bertanya-tanya. Hingga kemudian mereka menjadi ketakutan karena ada sosok dua orang yang berpakaian berkilauan. Bagian klimaks menjadi bagian yang penting, karena telah menjadi titik balik bagi para perempuan terkait pemahamannya mengenai Yesus. Mereka datang dengan pemikiran bahwa Yesus memang telah mati, namun suasana yang sedih berubah menjadi suatu kesukaan dan pengharapan yang luar biasa ketika mendengar berita dari dua orang yang berpakaian berkilauan. Klimaks inilah yang membuat para perempuan dapat mengingat kembali yang pernah diajarkan Yesus mengenai kebangkitan-Nya, dan memberitakan kepada murid-murid Yesus serta saudara yang lain mengenai kebangkitan-Nya. Bagian klimaks ini telah mengubahkan pemahaman dan cara berpikir para perempuan kepada Yesus. Latar Terdapat perkembangan latar geografis di dalam teks narasi ini. Kata tomb baru disebutkan pertama kalinya di dalam Injil Lukas pada pasal 23:53 dan teks ini menceritakan mengenai para perempuan yang melihat Yesus diletakkan dalam kubur batu Melalui hal ini, dapat diketahui bahwa para perempuan yang pergi ke kubur Yesus untuk menyelesaikan pemberian rempah-rempah pada tubuh Yesus adalah datang dengan keyakinan bahwa Yesus memang sudah mati dan mayatnya dibaringkan di dalam kubur Ketika didapati bahwa kubur Yesus telah kosong, dan orang-orang berkilauan ini telah berkata bahwa Yesus telah bangkit, maka mereka keluar dari kubur Yesus dengan pemahaman yang baru yaitu bahwa Yesus telah bangkit dan mereka memberitakannya kepada kesebelas murid dan saudara yang lain. Di dalam teks ini dapat terlihat latar waktu yang berkembang. Dijelaskan bahwa karena sudah dekat dengan Sabat maka para perempuan tidak dapat menyelesaikan penguburan Yesus secara patut dan baik. Sesuai dengan Shabbath 23:5 yang dikutip oleh Leon Morris, sebenarnya di dalam hukum orang Yahudi tidak dilarang untuk mengurapi tubuh seseorang, tetapi terdapat larangan berkaitan dengan persiapan penguburan seorang ataupun memindahkan anggota badan dari mayat Yesus (Morris, 2008, hal. 349Ae. Oleh sebab hal inilah, setelah Sabat selesai, para perempuan baru dapat kembali ke kubur Yesus pagi-pagi sekali. Penandaan waktu secara spesifik oleh Lukas yaitu Aupagi-pagi sekaliAy Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 menunjukkan bahwa para perempuan ingin bergegas memberikan penguburan yang patut bagi Yesus. Para perempuan adalah yang paling terakhir pergi meninggalkan Yesus dan yang pertama kembali menjenguk Yesus (Ryken, 2009, hal. 354, . Dapat dilihat dari perkembangan latar waktu di atas, secara tidak langsung. Allah telah menghendaki para perempuan tidak bisa menyelesaikan penguburan yang pantas pada hari kematian Yesus agar para perempuan dapat kembali ke kuburan Yesus pada hari yang ketiga (Plummer, 1901, hal. Ryken, 2009, hal. Latar sosial yang mendasari Lukas 24:1Ae12 dapat dijelaskan kurang lebih seperti ini: Para perempuan yang pergi ke kubur Yesus tergolong dari rombongan para murid. ini menunjukkan bahwa para perempuan ini merupakan bagian dari murid-murid Yesus yang banyak. Dalam pandangan orang Palestina abad pertama, adalah hal yang tidak lumrah bagi seorang perempuan untuk menjadi murid seorang guru besar (Green et al. 1992, hal. Di dalam bagian Disciples 2. , mereka menuliskan (Green et al. , 1992, AuThe Women Who Followed Jesus tertulis demikian: AuWomen disciples of a great master was an unusual occurrence in Palestine of the first century, as even the early disciplesAo reaction to JesusAo interaction with the Samaritan woman reveals (Jn 4:. , yet these women exhibited the twin characteristics of JesusAo disciples Ae they had paid the cost and were committed to him. Ay Perempuan biasanya lebih cenderung bekerja dalam hal pekerjaan rumah saja, sehingga perempuan seringkali dipandang sebelah mata berkaitan dengan kehidupan menjadi seorang murid (Jeffers, 1999, hal. 249Ae. Jeffers dalam penulisannya mengatakan (Jeffers, 1999, hal. AuAlthough Greek and Roman traditions opposed changes in the status of women, opportunities for women to be upwardly mobile existed in the New Testament period. Women in the upper classes had the greatest opportunities to break out of traditional roles. A woman who gained wealth through inheritance or investment was in a position of influence and power, even though society expected women to have a subordinate position. Ay Latar sosial seperti ini menjadi salah satu faktor ketidakpercayaan para murid terhadap kesaksian para perempuan. Sedangkan latar sosial lainnya adalah pemahaman bahwa seorang yang datang dengan pakaian yang berkilauan biasanya merujuk kepada sesuatu keberadaan yang ilahi, hal ini yang menyebabkan para perempuan ketakutan ketika bertemu dengan mereka (Keener, 1993, hal. Latar historis dari Lukas 24:1Ae12 dapat dilihat dari bagaimana tubuh Yesus semestinya berada di dalam kubur batu. Pada zaman itu, bila ada yang disalibkan, maka mayatnya akan untuk sementara dibiarkan tergantung, kemudian akan dibuang ke tanah tanpa upacara penguburan apapun (France, 2013, hal. Hal ini menunjukkan ketidakberhargaan tubuh yang telah diberikan hukuman penyaliban tersebut. Namun dalam hal ini. Yesus berada di dalam kubur batu milik Yusuf dari Arimatea. Orang yang memiliki kubur batu pribadi biasanya merupakan orang yang cukup kaya pada zamannya (France, 2013, hal. Pemberian kubur batu sebagai tempat mayat Yesus dibaringkan sebenarnya menunjukkan tindakan respek pemilik kubur kepada Yesus. Seperti halnya Yusuf dari Arimatea menghormati Yesus dengan memberikan kubur batu untuk mayat Yesus, maka para perempuan ingin menunjukkan penghormatannya kepada Yesus dengan memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Para perempuan berinisiatif untuk melumuri mayat Yesus dengan rempah-rempah. Pemberian rempah-rempah pada mayat Yesus memiliki tujuan agar dapat mengurangi bau menyengat dari mayat Yesus (Bock. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 1994, hal. , berbeda dengan pembalseman orang Mesir yang bertujuan untuk memumifikasi (Freedman et al. , 1. Hal ini sekali lagi menunjukkan bagaimana para perempuan juga mempersembahkan penghargaan dan penghormatan kepada Yesus. Karakterisasi Pada bagian karakterisasi ini, penulis akan menggunakan teori karakterisasi dari Cornelis Bennema. Dalam penggunaannya. Bennema mengusulkan tiga hal yang harus dipahami di dalam menganalisis karakterisasi pada setiap tokoh, yaitu: Karakterisasi di dalam teks dan konteks yang berkaitan dengan pemahaman konteks pada waktu itu untuk mengisi kekosongan . pada teks narasi yang sedang diamati. Analisis dan klasifikasi karakter berdasarkan kompleksitas, perkembangan, serta bagaimana penetrasi tokoh ke dalam sisi batinnya. dan yang terakhir yaitu, pengevaluasian dan penentuan signifikansi karakter dari setiap tokoh (Bennema, 2016, hal. 365Ae. Pada bagian ini, penulis hanya akan memaparkan analisis dan klasifikasi karakter beserta rekonstruksi total karakterisasi . erdasarkan analisis karakter beberapa tokoh dalam Lukas 24:1-. secara singkat yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis dan Klasifikasi Karakter Penulis akan menyampaikan hasil analisis dan klasifikasi karakter dengan menentukan dejarat karakterisasi akhir para tokoh dalam batasan Injil Lukas menurut Bennema, derajat karakterisasi dapat dibagi menjadi: . agen, . tipe/stok/karakter yang datar, . karakter dengan kepribadian, . sebagai individu/orang (Bennema, 2016, hal. Terlebih lagi analisis karakter dapat dilakukan dengan melihat situasi karakter berupa kompleksitas, pengembangan karakter, dan kehidupan batinnya. Kompleksitas mencakup varian yang menampilkan satu sifat hingga hubungan sifat yang kompleks dari tokoh Pengembangan karakter merujuk kepada varian karakter dari yang tidak menunjukkan perkembangan hingga menunjukkan adanya perkembangan. Sedangkan kehidupan batin, merujuk kepada varian karakter yang terlihat hanya dari luar hingga mereka yang dalam suatu cerita menampilkan kesadarannya dari dalam batin (Bennema, 2016a, hal. Berikut adalah analisis dan klasifikasi karakter terhadap Lukas 24:1-12. Karakter Kompleksitas -/ Pengembangan Karakter Kehidupan Batin Dua Orang Maria ibu Yakobus Yohana Maria dari Magdala MuridMurid Petrus Derajat Karakterisasi Karakter yang datar/dengan kepribadian Karakter dengan Karakter dengan Karakter dengan Menuju karakter Karakter invidiual *Keterangan: 0 = tidak ada, - = sedikit, = beberapa, = banyak Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Hasil penilaian analisis dan klasifikasi karakter bersumber pada kemunculan karakter didasarkan pada injil Lukas saja. Dalam Injil Lukas, memang didapati karakter individual Petrus dan para murid terlihat jelas dan banyak didapati di berbagai bagian dalam Injil Lukas. Sedangkan berkaitan dengan Maria (Ibu Yakobu. Yohana, dan Maria dari Magdala, hanya disebutkan di dalam Lukas 24:1-12 dan Lukas 8:1-3. Dalam kedua perikop tersebut, dapat dimengerti bahwa terdapat pengembangan karakter dari setiap tokoh yang ada di dalam Lukas 24:112. Sedangkan kehidupan batin dari para tokoh tidak semuanya terlihat karena teks narasi yang tidak begitu menjelaskan secara detil. Meskipun demikian, kedua perikop tersebut dapat menjadi petunjuk adanya perkembangan karakter dari para perempuan. Berkaitan dengan hasil ini, sosok ketiga perempuan tersebut masuk ke dalam kategori karakter yang berpribadi namun tidak begitu disorot dalam Kitab Lukas. tetapi justru menjadi karakter yang berdampak dalam narasi ini. Rekonstruksi Total Karakter Para Perempuan dalam Narasi Lukas 24:1-12 Maria dari Magdala Penampilan Naratif Asal Pembawaan Perihal Eksternal Kemunculan di dalam Injil 8:2, 3b. 24:1-5a, 8-11 Lukas Kelahiran. Jenis Kelamin. Perempuan, dari Magdala . emungkinan Etnis. Kota Asal daerah Dalmanutha atau di dalam kota Tarikhe. (Tenney, 1975, hal. Keluarga (Nenek Moyang & Bagian dari banyak perempuan yang Relati. melayani rombongan Yesus dan para Nurture. Edukasi Telah dibebaskan dari tujuh roh jahat. Julukan. Reputasi Umur. Marital Status Status Sosio-Ekonomi. Kekayaan Tempat Tinggal Pekerjaan. Posisi Jabatan Afiliasi Hubungan. Teman Perkataan Tindakan dan Interaksi dengan Yesus Interaksi dengan Sesama Kematian Analisis Karakter Sifat Kematian Peristiwa Setelah Kematian Kompleksitas Pengembangan Kehidupan Batin Julukan: Magdalena Bisa jadi tergolong kaya, bisa juga tidak. AokekayaanAo dalam Lukas 8:3. Magdala, berpindah-pindah dari kota ke kota mengikut Yesus dan kedua belas murid (Galilea. Jerusale. (Green et al. 1992, hal. Melayani rombongan Yesus Bagian dari para perempuan yang melayani Yesus. 8:2 Yesus menyembuhkan Magdalena dari tujuh roh jahat. 8:3 Ikut melayani rombongan murid Yesus dengan yang ia miliki. Cukup kompleks. Beberapa. Sedikit. Hal ini dikarenakan baik di dalam Lukas 8 maupun di dalam Lukas Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Klasifikasi Karakter Evaluasi Karakter Derajat Karakterisasi Respons pada Yesus Peran di dalam Alur Cerita Signifikansi Karakter Nilai Representatif 24, tidak ada dialog maupun penjelasan keadaan batin yang rinci. Namun, kehidupan batin masih dapat dilihat secara tersirat melalui tindakan mereka selama hidup mereka setelah bertemu Yesus dan secara khusus dalam kisah kebangkitan ini. Karakter dengan kepribadian. Mengasihi Yesus. Terkejut Yesus bangkit. Perempuan yang melayani rombongan Yesus, hadir pada kematian Yesus, membantu memberikan penguburan yang baik bagi Yesus, serta menjadi bagian dalam kelompok pertama yang menerima berita kebangkitan Yesus. Perempuan langsung teringat akan perkataan Yesus, sehingga AopercayaAo dan Pemberitaan yang dianggap omong kosong oleh para murid ini tidak membuat para perempuan tidak memberitakan kebenaran penting bahwa Yesus telah bangkit . etap pada Perempuan yang direndahkan justru dipakai Tuhan untuk melayani dengan setia terutama sebagai pemberita dan saksi pertama kebangkitan Yesus. Para perempuan telah mengikut Yesus dalam pelayanan-Nya dari kota ke kota dan dari desa ke desa (Lukas 8:1-. , tetapi ternyata belum juga memiliki pemahaman yang benar/utuh akan Yesus. Namun, bagi mereka yang sungguhsungguh mendengarkan Yesus, dalam perjalanannya bersama dengan Yesus, akan mengerti juga pada akhirnya. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Yohana Penampilan Naratif Kemunculan di dalam Injil Lukas Kelahiran. Jenis Kelamin. Etnis. Kota Asal Keluarga (Nenek Moyang & Relati. Asal Pembawaan Nurture. Edukasi Perihal Eksternal Julukan. Reputasi Umur. Marital Status Status Sosio-Ekonomi. Kekayaan Tempat Tinggal Pekerjaan. Posisi Jabatan Afiliasi Hubungan. Teman Perkataan Tindakan dan Interaksi dengan Yesus Interaksi dengan Sesama Kematian Analisis Karakter Sifat Kematian Peristiwa Setelah Kematian Kompleksitas Pengembangan Kehidupan Batin Klasifikasi Karakter Evaluasi Karakter Derajat Karakterisasi Respons pada Yesus Signifikansi Karakter Peran di dalam Alur Cerita Nilai Representatif 8:3. 24:1-5a, 8-11 Perempuan Istri Khuza, bendahara Herodes. Bagian dari banyak perempuan yang melayani rombongan Yesus dan para murid. Sudah Menikah. Berpindah-pindah mengikuti rombongan Yesus. Melayani rombongan Yesus. Murid Yesus. Bagian dari para perempuan yang melayani Yesus dan murid-Nya. Merupakan bendahara Herodes. 8:3 Salah satu perempuan yang disembuhkan oleh Yesus. 8:3 Ikut melayani rombongan murid Yesus dengan yang ia miliki. Beberapa. Cukup terlihat. Lebih sedikit lagi dibanding Maria Magdalena. Karakter dengan kepribadian. Mengasihi Yesus. Terkejut Yesus telah bangkit. (Lihat catatan pada tokoh sebelumny. (Lihat catatan pada tokoh sebelumny. Dengan tambahan: latar belakang Yohana yang adalah bendahara Herodes merupakan hal yang menarik. Yohana menjadi tersangka atas penindasan dari Herodes (Strath, 2017, hal. Perempuan dari berbagai macam latar belakang masa lalu hidupnya telah memberikan hidupnya untuk mengikuti Yesus, dan sekarang mereka telah mendengar pemberitaan kebangkitan Yesus. Mereka akhirnya memutuskan untuk membagikan berita ini. Lihat di dalam tulisan ini, tabel tokoh Maria Magdalena. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Maria Ibu Yohanes Penampilan Naratif Kemunculan di dalam Injil Lukas Kelahiran. Jenis Kelamin. Etnis. Kota Asal Keluarga (Nenek Moyang & Relati. Asal Pembawaan Nurture. Edukasi Perihal Eksternal Julukan. Reputasi Umur. Marital Status Status Sosio-Ekonomi. Kekayaan Tempat Tinggal Pekerjaan. Posisi Jabatan Perkataan Tindakan Afiliasi Hubungan. Teman dan Interaksi dengan Yesus Interaksi dengan Sesama Kematian Analisis Karakter Sifat Kematian Peristiwa Setelah Kematian Kompleksitas Pengembangan Kehidupan Batin Klasifikasi Karakter Evaluasi Karakter Derajat Karakterisasi Respons pada Yesus Signifikansi Karakter Peran di dalam Alur Cerita Nilai Representatif 24:1-5a, 8-11 (Secara spesifik disebut pada ayat . Perempuan Merupakan ibu dari Yohanes, 1 dari 2 murid Yesus yang disebut Yohanes (France, 2013, hal. Ibu (Julukan dari Luka. Sudah menikah Mengikuti rombongan Yesus (Galilea ke Yerusale. Melayani rombongan Yesus. Murid Yesus. Melayani Yesus dan murid-murid-Nya. Melayani memberikan hartanya untuk pelayanan Tuhan. Cukup kompleks. Lumayan. Sangat perempuan lainnya. Hal ini dikarenakan bahkan Maria Ibu Yohanes tidak disebutkan di dalam Lukas 8, meskipun mungkin tergolong dalam kelompok perempuan dalam Lukas 8. Karakter dengan kepribadian. Mengasihi Yesus. Terkejut Yesus telah bangkit. (Lihat catatan pada tokoh sebelumny. (Lihat catatan pada tokoh sebelumny. Karena Maria Ibu Yohanes barulah disebut dalam bagian ini, maka belum bisa ditentukan ada nilai representatif yang khusus. Pembaca Tersirat Penulis Injil Lukas yang merupakan keturunan Yunani ini memang pada pasal pertama mengatakan bahwa tulisan ini ditujukan kepada Teofilus. Teofilus dalam hal ini bisa bermakna seorang yang bernama Teofilus sekaligus merupakan suatu sebutan bagi kelompok komunitas Kristen yang lebih besar pada masa itu, yaitu yang sedang berada di dalam latar Yunani-Romawi (DeSilva, 2004, hal. 261Ae262, 267. Keener, 1993, hal. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 De Silva di dalam bukunya menuliskan introduksi Injil Lukas dengan memberikan subjudul: mengikuti isi hati Bapa. Sub-judul tersebut sangatlah tepat karena sesungguhnya pembaca tersirat dari Injil Lukas tidak berhenti pada orang Kristen pada masa itu saja, namun bersifat inklusif, yaitu agar semua dapat melihat keselamatan dari Allah (DeSilva, 2004, hal. 261, . - yaitu dengan menuliskan bahwa apa yang ditulis oleh Lukas merupakan kebenaran5- . Jadi, semestinya kita sebagai pembaca masa kini ketika membaca Lukas 24:1-12, juga memandangnya dengan kacamata pembaca tersirat, yaitu untuk menjadi mengerti bahwa Bapa di Sorga menghendaki agar banyak orang diselamatkan dengan mengetahui kebenaran bahwa Anak Allah telah menderita, mati, namun bangkit pada hari yang ketiga. Dalam hal ini, secara tidak langsung penulisan Lukas mengenai kisah para perempuan yang memberitakan kebenaran tentang kebangkitan Yesus juga semestinya mendorong setiap pembaca masa kini untuk melakukan hal yang sama. Analisis Komprehensif Pengembangan Karakter bersadar Analisis Narasi dan Konstruksi Karakter Tokoh Dapat dimengerti bahwa para perempuan pada mulanya tidak berpikir bahwa Yesus akan bangkit. Mereka tidak mengerti apa yang Yesus katakan mengenai Diri-Nya. Ia akan diserahkan, disalibkan, dan bangkit pada hari yang ketiga. Meskipun demikian, mereka memiliki cinta dan penghormatan yang besar kepada Yesus yang dinyatakan melalui tindakan para perempuan kepada Yesus dalam penguburan. Kubur yang kosong dan pertemuan dengan dua orang yang berpakaian berkilauan menjadi pemicu pengembangan karakter dalam tokoh para perempuan. Para perempuan yang pada mulanya tidak memiliki pemahaman yang utuh terhadap Yesus, oleh karena peristiwa tersebut maka menjadi memiliki pemahaman yang utuh terhadap Yesus. Perubahan pemahaman ini membuat para perempuan yang awalnya sedih menjadi sukacita dan menyebarkan kisah kebangkitan Yesus kepada para murid lainnya meskipun dalam pemberitaannya tidak begitu dianggap. Hasil Pendekatan Setelah mendalami teks Lukas 24:1-12 dengan menganalisis elemen-elemen pendekatan narasi dan teori karakterisasi yang telah diajukan oleh Bennema, maka hasil pendekatan yang didapatkan yaitu: Narator sengaja memfokuskan kejadian lebih detil ketika para perempuan sudah sampai di lokasi kubur batu Yesus, untuk memberi pembaca informasi melalui perkataan penting dari dua orang berpakaian berkilauan tersebut. Kejadian yang sangat singkat nan krusial ini telah menyebabkan adanya perubahan pemahaman dan hati di dalam diri para perempuan sesuai dengan tindakan para perempuan yang telah dicatat oleh narator teks terkait. Di dalam elemen sudut pandang dan ideologi, didapati terdapat perkembangan psikologis secara positif dalam karakter para perempuan ketika berita kebangkitan Yesus telah disampaikan. Pada teks ini terdapat juga berbagai pandangan evaluatif maupun ideologis yang menyoroti para perempuan dan para murid Yesus yang tidak menyangka dan tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Ketidakpercayaan murid ini dipengaruhi oleh faktor yang memandang kesaksian perempuan kurang kredibel, dan Lukas 1:1. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 terutama dipengaruhi oleh pemahaman mereka mengenai kebangkitan orang mati pada akhir zaman. Dimensi ruang menunjukkan kepergian para perempuan dari kubur batu menunjukkan perubahan positif karena Yesus telah bangkit, bukan berada di antara orang mati. Kemudian, dimensi waktu yang dikaitkan dengan istilah Aopada hari yang ketigaAo menunjukkan penggenapan janji Yesus. Hal ini membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Sudut pandang frasaologis yang menyorot perkataan kedua orang dengan pakaian berkilauan tersebut menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh kedua orang tersebut sangatlah penting. Peristiwa di dalam Lukas 24:1-12 memperlihatkan bahwa peristiwa itu telah terjadi tepat di dalam ruang dan waktu sesuai dengan kehendak Allah, sehingga telah mematahkan pemahaman para perempuan yang tidak utuh tentang Yesus. Perubahan latar geografis dan latar waktu memiliki signifikansi mengenai ketetapan Allah atas terjadinya peristiwa ini. Dari latar sosial dan historis yang telah diteliti, dapat dimengerti bahwa para perempuan meskipun di dalam kelemahan status dan dirinya, ingin memberikan yang terbaik bagi Yesus. Pemberian yang terbaik bagi Yesus ini telah terlihat di dalam karakter para perempuan sebelum kebangkitan Yesus, dan semakin terlihat ketika mengetahui bahwa Yesus telah bangkit dan telah mengalami pengutuhan pemahaman dalam diri. Di dalam karakterisasi memang derajat karakterisasi para perempuan tidak sekuat para murid dan Petrus, namun orang-orang yang justru kurang mendapatkan pembahasan inilah yang telah menjadi saksi pertama dan pemberita manusia pertama akan kebangkitan Yesus. Penekanan juga terletak bagaimana para perempuan begitu mengasihi Yesus sehingga ingin memberikan penguburan yang paling patut bagi-Nya, namun ternyata meskipun mereka begitu mengasihi Yesus, mereka sebenarnya tidak begitu paham akan siapa Yesus yang mereka ikuti selama ini (Ryken, 2009, hal. 632Ae. Hal ini juga sepadan dengan sikap para murid dan Petrus yang meskipun selama ini mengikuti Yesus, ternyata tidak menentukan apakah mereka sudah mempunyai pemahaman yang utuh tentang Yesus atau tidak. Jadi sebenarnya Petrus, para murid lainnya, maupun para perempuan tidaklah berbeda, mereka sama saja di hadapan Allah merupakan manusia biasa yang tidak luput dari ketidaksempurnaan pemahaman akan segala sesuatu, termasuk Yesus. Namun yang menjadi pembeda adalah karakter para perempuan yang berkembang menjadi semakin positif, yaitu setelah mendengar kabar kebangkitan, mereka menjadi percaya, mengalami transformasi hidup, dan memberitakannya. Penerapannya Masa Kini Terdapat beberapa hal yang dapat direnungkan oleh penulis dan pembaca pada masa kini. Pertama, berita tentang kebangkitan Yesus telah mendapatkan berbagai respons dari banyak orang yang berbeda latar belakang. Respons pembaca dan penulis diperlukan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya. Ada dari mereka yang menjadi percaya sama seperti para perempuan, atau menolaknya karena ragu, atau bisa jadi tetap di dalam keraguan namun ingin terus mencari kebenaran. Kehidupan umat Tuhan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 akan memiliki tujuan ketika mengerti bahwa Yesus telah bangkit karena ada pengharapan atas hari esok. Seperti yang dikatakan oleh Ryken dalam tafsirannya, seringkali permasalahan terletak pada diri orang percaya yang kurang percaya pada Firman Allah sehingga telah menyebabkan kehidupan kita menjadi begitu rumit, namun ketika orang percaya mau percaya, semua akan berjalan sebagaimana mestinya (Ryken, 2009, hal. Ketika para perempuan telah mengingat dan menjadi percaya atas apa yang Yesus katakan, maka mereka mengerti apa yang harus dilakukan selanjutnya di dalam kehidupan mereka. Kebangkitan Yesus memampukan para perempuan untuk memiliki iman yang benar dan secara langsung iman yang cukup besar untuk memberitakannya. Kedua, terkadang kehidupan spiritualitas orang percaya akan naik dan turun sebagaimana para perempuan. Meskipun para perempuan telah mengikuti Yesus cukup lama, tidak dapat langsung dipastikan bahwa mereka benar-benar mengenal Yesus. Pengenalan akan Yesus tidak bisa berhenti pada satu titik saja, namun harus senantiasa Para perempuan pada awalnya memang belum mengetahui, namun karena hati mereka yang mencintai Yesus, maka mereka rela mengenal sosok Yesus yang telah bangkit ini terlebih lagi. Fase ketidaktahuan dari umat percaya juga merupakan bagian penting dalam proses pengenalan umat percaya kepada Yesus. sebagai tonggak awal untuk mencari Proses pengenalan kepada Yesus tersebut harus didasari oleh kasih tulus kepada Yesus selayaknya kasih para perempuan kepada Yesus. Ketiga, pertumbuhan pengenalan pada Yesus akan sebanding dengan tindakan orang tersebut dalam memaknai pengenalan pada Yesus tersebut. Setelah mengetahui kebenaran dan mengenal Yesus . an tetap dalam pertumbuhan pengenalan akan Yesu. , maka kebenaran itu tidaklah untuk disimpan sendiri, tetapi dibagikan kepada orang lain. Dalam proses pemberitaan kebangkitan ini, meskipun para perempuan dianggap berkata omong kosong, namun mereka tetap percaya dan menyampaikan berita tersebut. Seperti halnya para perempuan . leh kasih karunia Tuha. telah mengingat yang telah disampaikan oleh Yesus maka mereka memberitakannya, demikianlah orang percaya seharusnya melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya (Wilcock, 1984, hal. 207Ae. Gereja Tuhan masa kini perlu juga melakukan apa yang selaras dengan pemberitaan Injil yang mereka yakini. Kesimpulan Hasil dari pembahasan menunjukkan bahwa elemen-elemen narasi seperti narator, sudut pandang dan ideologi, narasi dan waktu narasi, alur cerita, latar cerita, karakterisasi tokoh, dan pembaca tersirat sangat berpengaruh terhadap pengembangan cerita di dalam Lukas 24:1Ae12. Dengan adanya pendalaman elemen-elemen ini, maka didapati pengembangan karakter yang menarik juga dari pihak para perempuan dalam menanggapi pemberitaan kebangkitan Yesus. Melalui penelitian di atas, terdapat beberapa penerapan penting di dalam kehidupan yaitu: setiap umat Kristen sudah sepantasnya memiliki respon yang benar terhadap kisah Injil. kehidupan spiritualitas orang percaya akan selalu berada di dalam proses pengenalan terus menerus terhadap Tuhan Yesus, yang penting adalah bagaimana umat percaya mau mencintai Tuhan dan mencari pemahaman. serta pemahaman tersebut haruslah menggerakkan hati jemaat Tuhan untuk memberitakannya kepada Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Para Perempuan. Kubur Kosong, dan Kebangkitan Yesus: Analisis Naratif terhadap Lukas 24:1-12 Saran dan Rekomendasi