Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam Novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios (Pascamodernisme Jean Francois Lyotar. Yultriani Damat*. Aslan Abidin & Nensilianti Universitas Negeri Makassar yultrianid@gmail. com, aslanabidin@unm. id, nensilianti@unm. Dikirim:22 Desember 2025 Direvisi: 3 Januari 2026 Diterima: 5 Januari 2026 Diterbitkan: 28 Februari 2026 How to Cite: Damat. Yultriani. AuEkletisisme. Ironi, dan Parodi dalam Novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios (Pascamodernisme Jean Francois Lyotar. Ay Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 114Ae135. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This aticle describe the form of eclecticism, irony, and parody in the novel Amore: by Your Side using the theory of postmodernism Jean Francois Lyotard. This type of research is descriptive qualitative by analyzing the text of the novel based on postmodern aspects. The results showed that eclecticism is present through three forms, namely eclecticism as a plurality of global music references, eclecticism through a blend of global culture in lifestyle, to eclecticism in a plurality of language games in the form of communication styles of the characters who often combine Indonesian with foreign languages such as English and French. The form of the aspect of irony is present in two forms, namely irony related to the contradiction of expectations and reality, as well as the irony of love and the uncertainty of feelings that reflect the ambiguity of postmodern life. As for the form of parody aspect appears through the form of parody of romance romance and parody of social life presented in a reflective, humorous and Overall, these three aspects show that the novel Amore: by Your Side represents the spirit of Lyotard's postmodernism, namely the plurality of meanings, the rejection of a single truth, and the celebration of cultural diversity and forms of expression. Keywords: eclecticism. Artikel ini mendeskripsikan bentuk ekletisisme, ironi, dan parodi dalam novel Amore: By Your Side menggunakan teori pascamodernisme Jean Francois Lyotard. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis teks novel berdasarkan aspek-aspek pascamodern. Hasil penelitian menunjukkan ekletisisme hadir melalui tiga bentuk yakni ekletisisme sebagai pluralitas referensi musik global, ekletisisme melalui perpaduan budaya global dalam gaya hidup, hingga ekletisisme dalam pluralitas permainan bahasa berupa gaya komunikasi tokoh-tokohnya yang sering memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing seperti Inggris dan Prancis. Bentuk aspek ironi hadir dalam dua bentuk, yaitu ironi yang berkaitan dengan kontradiksi harapan dan kenyataan, serta ironi cinta dan ketidakpastian perasaan yang mencerminkan ambiguitas kehidupan pascamodern. Adapun bentuk aspek parodi muncul melalui bentuk parodi terhadap romansa percintaan dan parodi kehidupan sosial yang disajikan secara reflektif, humor dan jenaka. Secara keseluruhan, ketiga aspek ini menunjukkan bahwa novel Amore: By Your Side merepresentasikan semangat pascamodernisme Lyotard, yakni pluralitas makna, penolakan terhadap kebenaran tunggal, dan perayaan terhadap keberagaman budaya serta bentuk ekspresi. Kata kunci: ekletisisme. Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A PENDAHULUAN Pascamodernisme hadir sebagai bagian dari fenomena kebudayaan yang berkembang seiring dengan peralihan era informasi. Dalam era ini, komunikasi global berlangsung secara cepat melahirkan konsep desa global dan meningkatkan kesadaran akan keberagaman budaya. Kesadaran ini kemudian mendorong pola pikir yang pluralistik, di mana perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang layak dirayakan. Sejalan dengan itu, orientasi budaya turut berubah, dari produksi massal yang seragam menuju produksi yang lebih beragam dan fleksibel, mencerminkan tren dan gaya yang semakin bervariasi tanpa batas (Grenz, 2001: 34-. Berbicara mengenai pascamodernisme, pascamodernisme merupakan sebuah pendekatan yang bersifat lintas disiplin dan sulit dibatasi oleh definisi tunggal, karena konsep ini berkembang dalam berbagai cabang keilmuan dengan penekanan yang berbeda-beda (Wijayati & Rachmawati, 2024: . Lyotard memperkenalkan pascamodernisme dalam filsafat melalui bukunya The Postmodern Condition: A Report on Knowledge . , yang menjadi salah satu karya utama dalam medan diskusi filsafat mengenai kebudayaan pascamodernisme. Lyotard mendefinisikan pascamodernisme sebagai ketidakpercayaan metanarasi, yaitu narasi-narasi besar yang sebelumnya menjadi dasar legitimasi pengetahuan. Ketidakpercayaan ini muncul sebagai konsekuensi dari kemajuan ilmu pengetahuan yang mempercepat runtuhnya metanarasi, menyebabkan krisis dalam filsafat metafisika dan wawasan akademis yang bergantung padanya karena fungsi narasi besar telah kehilangan makna. Dengan demikian pascamodernisme membawa dunia yang lebih plural dan terfragmentasi dalam beberapa bentuk bahasa yang lebih kecil dan lebih beragam tanpa struktur tunggal yang mendominasinya (Lyotard, 2009: . Pascamodernisme juga dipahami sebagai suatu wacana yang yang bertumpu pada keragaman ideologi, di mana beragam keyakinan, nilai, dan gaya hidup yang berbeda berbagi ruang pada waktu dan tempat yang sama. Dalam konteks ini tidak lagi ada satu kebenaran mutlak yang mendominasi, karena setiap perspektif diberi kesempatan untuk eksis di tengah berbagai perbedaan (Piliang, 2003: . Arus pascamodernisme memengaruhi berbagai aspek budaya serta sejumlah disiplin ilmu, termasuk sastra yang ciri khasnya masih diperdebatkan. Fiksi pascamodern sering menggunakan teknik pencampuran, baik dalam karakter dan isi alur cerita, dengan mencampurkan fakta dan fiksi, hal ini menciptakan efek ironi dan menggugah respons pembaca. Fiksi pascamodern menggabungkan dua dunia yang tidak berkaitan, sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan Jika sastra modernisme kecenderungan untuk mencari makna tunggal, sebaliknya fiksi pascamodern justru menekankan keberadaan berbagai realitas yang berbeda dapat berbaur dan saling berinteraksi bahkan berdampigan tanpa harus disatukan dalam satu tafsir tunggal (Grenz, 2001: 47-. Dengan kata lain, sastra pascamodern menolak konsep kebenaran tunggal dan kepastian yang diyakini oleh modernisme. Dalam karya sastra, fakta dan fiksi sering digabungkan untuk menunjukkan bahwa kenyataan itu tidak selalu jelas atau tetap melainkan bisa berubah tergantung sudut pandang yang melihatnya. Pascamodernisme dalam sastra bukan lagi sekadar ekspresi keputusasaan, melainkan sebuah gaya baru yang mengakomodasi berbagai gaya berbeda. Keberagaman dalam suatu karya menjadi ciri utama pascamodernisme (Endraswara, 2015: . Dalam kajian sastra pascamodernisme, terdapat beberapa ciri khas yang sering digunakan untuk menganalisis sebuah karya, di antaranya adalah aspek ekletisisme, ironi, dan parodi. Ketiga aspek sentral dalam 116 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 pascamodernisme ini menjadi ciri penting dalam fiksi pascamodern yang menolak struktur tunggal dan linear dalam narasi. Narasi dalam karya sastra sering kali mencampurkan antara fakta dan fiksi, menggunakan bahasa populer, gaya estetika yang hibrid, dan menampilkan realitas yang tidak stabil. Dalam sastra novel seringkali menggunakan ekletisisme sebagai bentuk kebebasan dalam menggabungkan unsur-unsur yang berasal dari berbagai sumber budaya atau gaya yang berbeda (Trisnawati, 2. Ironi sering muncul melalui ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, yang tidak dipandang sebagai kegagalan melainkan sebagai kesadaran akan ketidakpastian hidup (Nensilianti et al. , 2. Sementara itu, parodi sering kali muncul dalam karya sastra tidak hanya bertujuan mengejek, melainkan menjadi strategi kreatif untuk mengolah dan membelokkan narasi atau gaya tertentu dengan nuansa jenaka dan reflektif (Hutcheon, 2004: . Fenomenafenomena tersebut menunjukkan ciri khas pascamodernisme yang menolak kebenaran tunggal dan merayakan keragaman makna. Pada dasarnya, pascamodernisme semakin berkembang dalam dunia sastra. Bukan hanya teorinya yang berlandaskan pascamodernisme, tetapi juga karya-karya yang dihasilkan. Satu di antaranya adalah novel karya Bulan Nosarios yang berjudul Amore: By Your Side. Menampilkan kisah fiksi romansa yang menggambarkan hubungan kompleks antara dua sahabat. Kania dan Erga. Novel ini menghadirkan kisah cinta yang realistis dan emosional, menggambarkan cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk, tidak selalu harus diungkapkan secara langsung. Cerita ini tidak mengikuti pola umum di mana persahabatan berubah menjadi cinta dengan cepat, melainkan mengeksplorasi dinamika friendzone yang rumit, penuh ketenangan, tetapi juga Hubungan Kania dan Erga bukan sekadar persahabatan atau romansa, tetapi sesuatu yang lebih kompleks dan sulit dipahami dengan definisi biasa. Alasan pemilihan novel ini sebagai objek penelitian karena karya ini menampilkan dinamika kehidupan masyarakat urban yang memperlihatkan percampuran budaya lokal dan global, gaya hidup konsumtif, serta penggunaan bahasa yang hibrid. Ketiga aspek utama pascamodernisme ekletisisme, ironi, dan parodi terlihat dominan dalam novel ini melalui penggambaran tokoh, percakapan, dan situasi yang menampilkan relasi antar tokoh yang ambigu, terbuka, dan penuh ketidakpastian, hal ini sejalan dengan semangat pascamodernisme yang menolak kebenaran tunggal dan makna yang mutlak sekaligus menghadirkan cara pandang baru terhadap karya fiksi populer Indonesia masa kini. Adapun beberapa penelitian terdahulu yang juga menunjukkan relevansi pendekatan pascamodernisme dalam analisis karya fiksi, yakni penelitian yang dilakukan oleh Baihaqi . berjudul AuRepresentasi Budaya Populer dalam film Cruella Karya Craig Gillespie: Kajian Postmodernisme J. LyotardAy. Hasil penelitian menunjukkan representasi budaya populer melalui lima aspek pascamodernisme, seperti ekletisisme dalam gaya busana, ironi dalam konflik identitas, pastiche dalam peniruan gaya fashion dan musik era lampau, parodi terhadap karakter antagonis, serta camp tampak melalui gaya flamboyan Estella dalam pengelabuan identitas saat menyamar sebagai Cruella. Terkait kedua penelitian ini, yakni penelitian dalam film Cruella dengan novel Amore: By Your Side memiliki kesamaan pada penggunaan teori pascamodernisme Lyotard. Meskipun, menggunakan teori yang sama, fokus kajian dalam masing-masing penelitian berbeda. Penelitian terdahulu berfokus pada media film dan aspek budaya populer secara visual. Sementara penelitian ini lebih menyoroti aspek relasi dan dinamika cinta dalam novel Amore: By Your Side, serta bagaimana aspek pascamodernisme ekletisisme, ironi, dan Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A parodi bekerja membongkar narasi romansa konvensional melalui pendekatan pascamodernisme Lyotard. Penelitian relevan kedua dilakukan oleh Sariasih . berjudul AuPrespektif Kajian Postmodernisme dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea HirataAy. Penelitian relevan tersebut memiliki kesamaan pada penggunaan teori pascamodernisme Lyotard. Meskipun, menggunakan teori yang sama, fokus kajian dalam masing-masing penelitian berbeda. Penelitian terdahulu meneliti novel bertema pendidikan dan menyoroti dimensi sosial dan pendidikan dalam narasi Sedangkan penelitian novel Amore: By Your Side lebih menyoroti aspek relasi dan dinamika cinta dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan tiga aspek pascamodernisme, ironi, parodi, dan pastiche. Ironi menunjukkan adanya kesenjangan harapan dan kenyataan pendidikan di Indonesia, serta parodi yang menyindir sistem pendidikan yang timpang bagi masyarakat miskin, dan pastiche, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai solidaritas dan perjuangan dalam budaya lokal. Dengan melihat penelitian-penelitian terdahulu tersebut, jelas bahwa pendekatan pascamodernisme telah digunakan dalam kajian sastra maupun film, namun fokus pada novel populer bergenre romansa dengan dinamika friendzone seperti novel Amore: By Your Side masih jarang dilakukan. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan teori pascamodernisme Lyotard dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios yang belum pernah diteliti menggunakan pendekatan pascamodernisme. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baru dalam memperluas pemahaman mengenai penerapan pascamodernisme Lyotard dalam kajian sastra populer. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah penelitian kualitatif. Sebagaimana dijelaskan oleh Moleong . alam Alaslan, 2021: . , penelitian kualitatif merupakan investigasi dan pemahaman mendalam terhadap perilaku serta tindakan subjek penelitian. Mengacu pada fokus penelitian, kajian ini bertujuan menguraikan bentuk ekletisisme, ironi, dan parodi yang terkandung dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios. Kemudian penelitian ini juga menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan data yang diperoleh berdasarkan aspek sentral pascamodernisme, yaitu ekletisisme, ironi, dan parodi yang hadir dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios. Penelitian ini berfokus pada konsep pascamodernisme Lyotard sebagai pisau bedah utama dengan menitikberatkan pada aspek sentral pascamodernisme, yaitu ekletisisme, ironi, dan parodi dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios. Selanjutnya, data penelitian ini berupa kutipan teks yang mencerminkan aspek sentral pascamodernisme dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios, dengan menitikberatkan pada ekletisisme, ironi, dan parodi. Dengan sumber data dalam penelitian ini adalah sebuah novel yang berjudul Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios yang merupakan seorang penulis asal Gayo dengan nama sangat puitis perpaduan dua kata Aumatahari malamAy. Novel ini telah menghiasi dunia literatur Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama Jakarta dan telah dicetak ulang untuk kedua kalinya setelah cetakan pertama terbit pada 2014 dan kedua pada 2017 dengan jumlah halaman sebanyak 291 halaman. Novel Amore: By Your Side ini memenangkan satu dari tiga pemenang kategori berbakat pada lomba penulisan Novel Amore Gramedia tahun 2012. 118 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang dipilih adalah metode dokumentasi. Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi pada penelitian ini yang digunakan melalui teknik membaca dan mencatat. Peneliti membaca novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios secara menyeluruh untuk memahami isi cerita secara utuh. Setelah itu, peneliti melakukan analisis dan menarik simpulan dari informasi yang diperoleh, dengan mengacu pada sumbersumber pustaka yang mendukung, seperti buku dan kajian ilmiah yang relevan. Selanjutnya, semua poin penting yang berkaitan dengan unsur pascamodernisme dalam novel tersebut dicatat secara sistematis. Pencatatan difokuskan pada tiga aspek sentral dalam pascamodernisme yang menjadi fokus penelitian ini, yaitu ekletisisme, ironi, dan parodi, sesuai dengan landasan teori yang digunakan. Selanjutnya, teknik keabsahan data dalam penelitian ini menekankan pada uji kredibilitas sebagai bentuk uji keabsahan data, dengan menggunakan dua teknik triangulasi, yaitu triangulasi teori dan triangulasi pakar. Kemudian, teknik analisis data yang diterapkan pada setiap tahap penelitian ini adalah teknik yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman . alam Hardani et al. , 2020: . , yang mencakup tiga langkah utama yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Ekletisisme dalam novel Amore: By Your Side Karya Bulan Nosarios Novel Amore: By Your Side menunjukkan tiga bentuk utama, yaitu ekletisisme sebagai pluralitas referensi musik global, ekletisisme melalui perpaduan budaya global dalam gaya hidup, dan ekletisisme dalam pluralitas permainan bahasa. Ketiga bentuk ekletisisme tersebut secara kolektif merepresentasikan semangat pluralitas dan keterbukaan budaya yang menjadi khas pascamodernisme. Menurut Lyotard ekletisisme adalah derajat nol dari budaya umum kontemporer, bahwa dalam era pascamodern kebudayaan tidak lagi memiliki pusat atau hierarki Masyarakat dengan bebas mengonsumsi berbagai elemen budaya dari berbagai tempat dan waktu tanpa adanya batasan yang ketat (Lyotard, 1984: . Ekletisisme sebagai Pluralitas Referensi Musik Global Bentuk ekletisisme dalam novel Amore: By Your Side tampak melalui pluralitas referensi musik global yang hadir dalam kehidupan para tokoh. Sesuai dengan pandangan Lyotard tentang kondisi pascamodern yang plural dan terfragmentasi, ekletisisme dalam novel Amore: By Your Side ini memperlihatkan bentuk ekletisisme hadir dari kebiasaan para tokoh yang menggemari atau mengadaptasi musik Barat seperti lagu Beautiful Girl. Love Story (Taylor Swif. , hingga A Thousand Years (Christina Perr. Bentuk ekletisisme ini ditunjukkan melalui kutipan data Data 1 AuKania hanya bergumam mengiyakan Lalu ayahnya mulai menyanyikan lagu Beautiful Girl. Suara Ayah sebenarnya bagus, tapi karena Ayah sengaja menambahkan cengkok melayu di lagu itu. Kania akhirnya tertawa dan meminta ayahnya berhenti bernyanyi. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan interaksi hangat antara Kania dan ayahnya, dengan ayah Kania yang menyanyikan lagu AuBeautiful GirlAy lagu populer Barat namun ayah Kania menyanyikannya dengan menambahkan cengkok melayu, gaya vokal khas budaya lokal Indonesia yang identik dengan musik dangdut atau melayu modern. Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A Kutipan ini menujukkan bentuk ekletisisme yang hadir melalui perpaduan budaya global dalam kehidupan sehari-hari. Budaya global hadir melalui lagu Barat Beautiful Girl yang ayah Kania nyanyikan dipadukan dengan budaya lokal cengkok melayu. Perpaduan antara lagu Barat dan gaya bernyanyi lokal tersebut mencerminkan hibriditas kultural yang menjadi ciri khas pascamodernisme, di mana batas antara budaya global dan lokal menjadi cair dan saling berbaur. Fenomena ini sejalan dengan pandangan Lyotard yang dapat dipahami melalui penolakannya terhadap metanarasi, yakni klaim tunggal atas kebenaran atau otoritas budaya. Lagu barat yang dinyanyikan ayah Kania dengan cengkok melayu adalah wujud nyata dari pluralitas budaya pascamodern yang tidak lagi terikat pada satu pusat otoritas budaya, melainkan pada kebebasan individu untuk memadukan, menciptakan bentuk ekspresi baru yang unik dan saling berbaur. Data 2 AuLalu lintas sudah sepi, dan sebentar saja mereka sudah tiba di ringroard. Kania bernapas lega, membiarkan kepalanya menyandar nyaman sementara Emi mengikuti Taylor Swift menyanyikan Love Story, membuatnya terlelap untuk sesaat. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan suasana malam ketika Erga. Kania, dan Emi sedang dalam perjalanan, setelah menembus padatnya lalu lintas kota, mereka kini berada di jalan yang mulai lengang dan tenang dan sebentar lagi akan melintasi ringroard yakni jalan lingkar Yogyakarta. Di tengah keheningan itu. Emi dengan santai ikut bernyanyi mengikuti lagu Love Story milik Taylor Swift yang diputar dari radio mobil sementara Kania menikmati momen tersebut hingga tertidur sejenak. Kutipan ini menunjukkan bentuk ekletisisme, di mana tokoh Emi dengan mudah mengonsumsi budaya global melalui musik lagu Love Story Taylor Swift yang ia nyanyikan di dalam mobil sembari melintasi jalan lingkar Yogyakarta. Pemandangan ini menampilkan perpaduan latar lokal ringroad jalan lingkar Yogyakarta dengan budaya populer global lagu Love Story karya Taylor Swift, di mana budaya populer Barat hadir dalam ruang hidup keseharian Melalui momen-momen tersebut tergambar bahwa musik Barat yakni lagu Love Story Taylor Swift dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja tanpa batas ruang atau waktu. Kutipan ini juga menunjukkan runtuhnya narasi besar tentang identitas budaya tunggal, di mana kehidupan tokoh tidak lagi berdiri dalam batas-batas budaya tunggal yang kaku, melainkan bercampur dengan berbagai referensi lintas budaya menandai semangat pascamodernisme. Data 3 AuUrutan yang dimainkan orkestra itu hampir sama dengan tahun lalu, kecuali diselipkannya pemain cello yang mengkover A Thousand Years-nya Christina Perri. Ada beberapa saat Kania merasa merinding karena suara indah itu, terlebih dengan melihat candi Siwa. Wisnu, dan Brahma yang tegak di latar belakang, tinggi, dan bercahaya. Ay (Nosarios, 2017: Kutipan ini menggambarkan suasana pertunjukan orkestra yang berlangsung di kompleks candi Prambanan, salah satu situs bersejarah dan religius yang sarat nilai budaya lokal Indonesia. Dalam pertunjukan tersebut, salah satu bagian yang menonjol adalah permainan cello yang membawakan lagu A Thousand Years milik Christina Perri, sebuah lagu populer asal Barat yang dikenal luas di seluruh dunia. 120 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 Bentuk ekletisisme dalam kutipan ini terwujud dari perpaduan budaya global melalui musik, di mana lagu populer Barat AuA Thousand YearsAy disajikan ulang dalam format orkestra dan dipadukan dengan suasana sakral candi Siwa. Wisnu, dan Brahma yang menjadi latar Gambaran tersebut menujukkan bahwa novel ini menghadirkan sebuah ruang estetik di mana budaya lokal yang bernuansa religius berpadu dengan budaya global yang populer, menghasilkan pengalaman yang unik sekaligus penuh ironi kultural. kontras sekaligus harmoni antara tradisi lokal yang penuh makna spiritual dengan budaya global yang berorientasi hiburan. Fenomena ini sejalan dengan ekletisisme Lyotard yang mencerminkan kehadiran musik populer di ruang religius menjadi tanda dari runtuhnya narasi besar yang biasanya menempatkan budaya sakral sebagai sesuatu yang harus dijaga dari pengaruh hiburan global. Alih-alih mempertahankan batas tegas antara tradisi dan modernitas kutipan ini menampilkan bentuk kebudayaan yang cair, hibrid, dan plural. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi otoritas tunggal yang mengatur cara sebuah ruang budaya dimaknai melainkan terdapat pluralitas tafsir yang sah berdampingan, penggambaran ini tidak hanya menyiratkan perubahan estetika tetapi juga menegaskan semangat pascamodernisme untuk mendekonstruksi klaim kebenaran Ekletisisme melalui Perpaduan Budaya Global dalam Gaya Hidup Selain melalui musik bentuk ekletisisme juga tampak dalam gaya hidup para tokoh dalam novel Amore: By Your Side. Dalam novel kehidupan para tokoh digambarkan tidak hanya berakar pada budaya lokal tetapi juga terbuka terhadap pengaruh global yang tercermin melalui penggunaan produk, ataupun merek global. Fenomena ini terlihat dari para tokoh mengonsumsi produk global seperti mobil Pajero dan alat pembuat kopi Bialetti. Perpaduan simbol global dengan ruang lokal menunjukkan bahwa gaya hidup para tokoh terbentuk melalui perpaduan budaya lokal dan global yang bebas. Kehidupan para tokoh tidak lagi mengikuti narasi besar tentang identitas yang homogen, tetapi berkembang dalam arus budaya yang cair, jamak, dan Bentuk ekletisisme dalam kategori ini diuraikan melalui kutipan data berikut. Data 4 AuErga mengarahkan Pajero hitamnya ke arah Malioboro. Laki-laki itu berdecak kecewa ketika gagal menembus detik detik terakhir lampu hijau di perempatan. Ay (Nosarios, 2017: Kutipan ini menggambarkan suasana perjalanan tokoh Erga di tengah hiruk-pikuk kota Yogyakarta. Erga sedang mengendarai mobil Pajero hitamnya untuk menuju Kawasan Malioboro. Kutipan ini menujukkan ekletisisme melalui perpaduan unsur global dalam gaya hidup keseharian tokoh. Mobil Pajero yang dikendarai Erga merupakan produk otomotif asal Jepang yang telah menjadi bagian dari budaya konsumsi global. Kehadiran mobil ini mencerminkan gaya hidup modern dan citra kemapanan masyarakat urban yang akrab dengan simbol global. Sementara itu, tujuan perjalanan menuju Malioboro menggambarkan ruang lokal yang kental dengan identitas budaya Yogyakarta. Perpaduan antara produk global asal Jepang dan ruang lokal tradisional memperlihatkan kehidupan tokoh bergerak di antara dua ranah budaya tanpa batas yang kaku. Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A Situasi ini menunjukkan runtuhnya metanarasi yakni tidak adanya lagi satu pola hidup tunggal yang dianggap benar atau lebih tinggi. Tokoh bebas mengonsumsi produk global sambil tetap berinteraksi dengan ruang lokal tanpa merasa perlu memilih salah satu. Pengalaman hidup Erga merefleksikan realitas pascamodern yang plural, cair, dan terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya. Kehadiran mobil Pajero di ruang lokal seperti Malioboro memperlihatkan bahwa tidak ada lagi pusat budaya yang dominan atau hierarki nilai antara global dan lokal. Semua unsur budaya memiliki posisi yang sejajar dan dapat saling berpadu sesuai kebutuhan dan selera masyarakat. Data 5 AuPameran kopi itu sudah berlangsung lima hari. Selain stan-stan biji kopi, ada juga stan alat pembuat kopi. Salah satunya Bialetti, produsen alat pembuat kopi dari Itlaia. Erga sudah memiliki beberapa, tapi ia membutuhkan tambahan untuk display di ErgaAos. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan suasana pameran kopi yang dihadiri oleh tokoh Erga. Dalam pameran tersebut tidak hanya dipamerkan berbagai jenis biji kopi lokal tetapi juga produkproduk internasional seperti Bialetti, produsen alat pembuat kopi asal Italia. Erga yang memiliki kafe bernama ErgaAos tampak akrab dengan dunia kopi modern dan bahkan telah memiliki beberapa alat merek tersebut dan berencana menambah koleksi untuk kebutuhan display kafenya. Bentuk ekletisisme tampak dari penggabungan unsur budaya lokal dan global dalam praktik konsumsi. Munculnya merek global seperti Bialetti sebuah produk Italia yang dipakai Erga sebagai bagian dari kebutuhan bisnisnya. Kehadiran produk global dalam ruang cerita tidak hanya menunjukkan detail latar, tetapi juga menegaskan bagaimana gaya hidup modern tokoh digambarkan melalui konsumsi terhadap merek asing yang memiliki citra kelas dan prestise. Pilihan Erga untuk menggunakan Bialetti sebagai alat display dalam restorannya memperlihatkan budaya lokal dalam penyajian kopi diperkaya melalui integrasi produk luar negeri yang telah memiliki reputasi di pasar dunia. Fenomena ini menujukkan runtuhnya narasi besar tentang dominasi budaya tunggal. Gaya hidup tidak lagi dibatasi oleh produk lokal atau global secara eksklusif, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Dalam kerangka Lyotard, hal ini menunjukkan bahwa otoritas budaya yang mengklaim keaslian tunggal tidak lagi relevan, karena identitas masyarakat kontemporer justru dibentuk melalui hibriditas konsumsi. Kehadiran Bialetti atau alat pembuat kopi dari Italia yang digunakan Erga untuk kebutuhan kafenya menujukkan bahwa konsumsi tidak sekadar aktivitas praktis, melainkan simbol status dan bagian dari penciptaan identitas cair yang terbuka terhadap pluralitas makna. Ekletisisme dalam Pluralitas Permainan Bahasa Bentuk ekletisisme dalam Amore: By Your Side juga hadir melalui pluralitas permainan bahasa yang digunakan oleh para tokoh. Dalam pascamodern bahasa tidak lagi dipahami sebagai sistem tunggal yang stabil tetapi sebagai ruang cair dan terbuka untuk berbagai bentuk ekspresi. Hal ini terlihat dari percakapan para tokoh yang secara spontan memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing seperti Inggris dan Prancis dalam interaksi sehari-hari seperti AuYou know it better than meAy, dan Aubon apetitAy menunjukkan kebiasaan karakter dalam menggunakan referensi bahasa lintas budaya sebagai bagian dari gaya komunikasinya. Praktik pencampuran bahasa ini menandai bahwa identitas berbahasa tokoh-tokoh tersebut tidak lagi dibangun di atas 122 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 satu pusat otoritas budaya, melainkan melalui perpaduan berbagai permainan bahasa yang setara. Bentuk ekletisisme tersebut tercermin dalam kutipan data berikut. Data 6 Erga pasti tahu Kania buta soal bisnis. Tapi ia tetap meminta pendapat Kania. Lepas dari pendapatnya penting atau tidak Kania menghargai niat Erga. AuYou know it better than me. Ay Erga menatapnya, lalu tertawa kecil saat mengatakan. AuBaiklah aku tetap harus bertanya. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan interaksi yang ringan namun hangat antara Kania dan Erga. Dalam situasi diskusi mengenai urusan bisnis suatu hal yang jelas bukan bidang Kania, tetapi Erga tetap menunjukkan rasa hormat dengan meminta pendapatnya. Kania kemudian menanggapi dengan kalimat berbahasa Inggris. AuYou know it better than me,Ay yang berarti Aukamu lebih tahu dari pada akuAy. Respon ini menunjukkan karakter Kania yang jujur, santai, dan tidak kaku, sekaligus memperlihatkan relasi komunikasi yang akrab antara keduanya. Bentuk ekletisisme dalam kutipan ini tampak melalui penggunaan bahasa Inggris di tengah konteks percakapan berbahasa Indonesia. Kutipan ini menunjukkan bentuk ekletisisme yang tampak melalui percampuran dua bahasa dalam satu percakapan, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ketika Kania mengatakan AuYou know it better than meAy di tengah komunikasi berbahasa Indonesia, penggunaan bahasa Inggris di situasi informal ini tidak hanya menunjukkan kebiasaan berbahasa tokoh, tetapi juga menandai cara berpikir dan berkomunikasi masyarakat urban yang terbiasa memadukan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia. Respon Erga yang tetap santai dan akrab dengan bahasa Indonesia menambah nuansa cair dalam percakapan Dalam konteks pascamodern praktik seperti ini mencerminkan realitas sosial yang hibrid di mana batas antara bahasa lokal dan bahasa global menjadi kabur. Bahasa Inggris tidak lagi dianggap bahasa asing yang eksklusif melainkan telah terintegrasi dalam ekspresi sehari-hari sebagai bagian dari identitas modern. Metanarasi yang runtuh disini tentang keutuhan bahasa dan identitas tunggal, jika bahasa nasional dulunya sering dianggap satu-satunya penanda identitas dan kesatuan budaya. Namun dalam kondisi pascamodern tidak ada lagi pusat otoritas bahasa yang dominan jadi setiap individu bebas mencampur, meminjam, dan memodifikasi bahasa sesuai kebutuhan komunikasi dan gaya personal. Penggunaan dua bahasa dalam kutipan ini juga menggambarkan cara berpikir plural dan fleksibel ciri khas masyarakat pascamodern yang tidak lagi tunduk pada satu bentuk ekspresi baku atau tunggal. Kania dan Erga menggunakan campuran bahasa untuk menyesuaikan nada emosional, kedekatan, dan konteks sosial dalam percakapan mereka. Data 7 AuErga menatap pintu, menunggu sosok Kania muncul. Akhirnya letih sendiri, ia akhirnya duduk di meja dapur dan mendapatkan sepiring salad buah dari Evan. Koki muda itu tersenyum dan mengucapkan. AuBon apetit!Ay dengan sarkasme. Alpukat dan biskuit havermut? Evan pasti sedang dalam mood bagus untuk bercanda. Erga menggerutu, tapi menerima sendok yang diulurkan Evan. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini memperlihatkan interaksi ringan antara Erga dan Evan dalam suasana yang Ketika Erga terlihat lelah menunggu Kania. Evan mencoba mencairkan suasana dengan Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A humor melalui ucapan AuBon apetit!Ay ungkapan dalam bahasa Prancis yang berarti selamat Ucapan tersebut disampaikan Evan secara sarkastik, karena hidangan yang disajikan bukanlah makanan mewah, melainkan hanya salad buah sederhana berisi alpukat dan biskuit havermut yang jauh dari kesan mewah. Bentuk ekletisisme Lyotard dalam kutipan ini hadir melalui pencampuran bahasa asing Prancis dengan konteks percakapan sehari-hari berbahasa Indonesia. Kata-kata seperti AuBon apetitAy, dan istilah kuliner seperti biskuit havermut memperlihatkan adanya pengaruh budaya global dalam cara tokoh berkomunikasi dan berpikir. Campuran ini muncul secara alami dalam percakapan menandakan bahwa gaya komunikasi mereka telah terbentuk oleh interaksi lintas Sejalan dengan ekletisisme Lyotard, hal ini menunjukkan penolakan terhadap klaim bahasa tunggal, karena bahasa diposisikan sebagai arena pluralitas ekspresi. Identitas tokoh tidak lagi bersandar pada homogenitas bahasa lokal melainkan pada fleksibilitas dan kemampuan memadukan berbagai gaya komunikasi. Hal ini menunjukkan runtuhnya batas antara yang lokal dan yang global, di mana ekspresi keseharian tidak lagi tunduk pada satu norma linguistik atau budaya tunggal tetapi menegaskan representasi identitas yang plural, cair, dan terbuka terhadap keberagaman simbol kultural. Bentuk Ironi dalam Novel Amore: By Your Side Karya Bulan Nosarios Menurut Lyotard, ironi hadir sejalan dengan incredulity toward metanarratives atau ketidakpercayaan terhadap metanarasi atau narasi besar. Ironi digunakan untuk menggugat keterbatasan klaim kebenaran tunggal, mempertanyakan makna yang sudah dianggap pasti dan menunjukkan bahwa dalam kehidupan tidak selalu ada jawaban atau akhir yang jelas (Lyotard, 1984: xxi. Dalam novel Amore: By Your Side, bentuk ironi yang hadir di kategorikan ke dalam dua bentuk ironi, yakni Ironi harapan dan kenyataan dan Ironi cinta ketidakpastian perasaan. Kehadiran ironi-ironi ini memperkuat karakter pascamodern novel yang menolak struktur tunggal serta membiarkan makna tetap cair dan terbuka. Berikut uraian bentuk-bentuk ironi yang ditemukan dalam novel Amore: By Your Side. Ironi Harapan dan Kenyataan Bentuk ironi pertama yang muncul dalam novel Amore: By Your Side adalah ironi yang berkaitan dengan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Ironi ini menggambarkan ketidakselarasan antara keinginan tokoh dan realitas yang mereka hadapi, serta memperlihatkan ketidakpastian hidup sebagai ciri dunia pascamodern. Bentuk ironi ini ditunjukkan melalui kutipan data berikut. Data 8 AuAyahnya sendiri meninggal karena serangan jantung. Mungkin itu bisa sedikit memengaruhi pilihan Kania. Terkadang. Kania masih merasakan jemari ayahnya di genggamannya, seperti pada malam itu. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan momen batin Kania yang masih dibayangi oleh kehilangan figur ayahnya. Jemari hangat ayahnya yang dulu selalu memberinya rasa aman, terasa menyentuh tangannya seakan hadir kembali. Namun kenyataannya, ayahnya telah meninggal karena serangan jantung dan genggaman itu hanyalah kenangan. Kania ingin merasakan perlindungan dan kasih nyata tetapi yang ia alami hanyalah fragmen masa lalu yang tak bisa kembali. 124 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 Ironi muncul dari ketidaksesuaian antara harapan seorang anak yakni Kania akan kehadiran sang ayah dengan kenyataan tragis bahwa sosok itu sudah tiada. Kehadiran ingatan sensorik pegangan jemari menjadi representasi harapan yang melekat kuat tetapi pada saat yang sama menegaskan ketidakberdayaan manusia di hadapan kematian. Sejalan dengan pascamodernisme Lyotard, situasi ini terwujud sebagai bentuk runtuhnya narasi besar tentang kepastian hidup. Kematian ayah bukan sekadar Ironi tersebut bekerja dengan menampilkan harapan yang sederhana dan manusiawi namun justru dihancurkan oleh kenyataan. Kutipan ini menghadirkan kondisi di mana realitas hidup penuh dengan ketidakpastian sehingga manusia hanya bisa menggenggam ingatan tanpa mampu menghadirkan kembali sosok yang Data 9 AuSaat mereka mencapai tepi lapangan itu. Kania merasakan pegangan ayahnya mengendur. Ia menoleh dan melihat ayahnya membungkuk, lalu jatuh ke tanah. Kania berusaha menopang, tapi tubuh kecilnya kalah kuat. Ia menggenggam jemari ayahnya, berusaha membuat laki-laki itu bergerak barang sedikit saja. Ia bertanya ayahnya kenapa. Tapi lakilaki itu bergeming, tegang, dan mengucapkan sesuatu yang tak bisa didengar Kania. Sesaat ayahnya menatap Kania, berusaha untuk tetap membuka matanya. Tapi, perlahan, laki-laki itu memejamkan matanya juga. Kania berdoa agar ayahnya membuka mata dan mengatakan bahwa ia sudah merasa lebih baik, seperti yang sudah-sudah. Tapi, meski Kania memohon-mohon dengan air mata kanak-kanaknya, sepasang mata itu tak pernah terbuka lagi. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan momen tragis saat Kania berusaha keras menyelamatkan ayahnya yang jatuh. Ketika mereka mencapai tepi lapangan, pegangan ayah Kania mulai mengendur, dan ayahnya tiba-tiba jatuh ke tanah. Kania yang masih anak-anak berusaha sekuat tenaga untuk menopang tubuh ayahnya, tetapi tubuh kecilnya tak mampu menahan beban Kania menggenggam jemari ayahnya, berusaha membuatnya bergerak, tetapi usahanya sia-sia. Ia bertanya kepada ayahnya dengan penuh harap, namun tidak ada jawaban. Ayahnya hanya mampu menatap Kania dengan mata yang semakin meredup, dan meskipun Kania berdoa dan memohon, ayahnya akhirnya menutup matanya untuk selamanya. Di sini, ironi tercermin melalui harapan Kania yang begitu besar terhadap ayahnya untuk pulih, yang bertentangan langsung dengan kenyataan pahit yang harus diterima bahwa ayahnya sudah meninggal. Ini adalah bentuk ironi di mana ekspektasi atau harapan yang berbasis pada narasi pemulihan yang sering diterima oleh banyak orang justru berakhir dengan kematian, yang menjadi bagian dari kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Kania berdoa dan berusaha keras untuk menyelamatkan ayahnya, namun kenyataan yang lebih keras kematian tidak dapat digantikan dengan harapan atau doa Kania. Lyotard menyatakan bahwa dalam dunia pascamodern kita harus menerima ketidakpastian dan ini tercermin dalam ironi di mana harapan Kania yang murni dan penuh kasih tidak membawa perubahan, malah berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Kehilangan yang dialami Kania bukan hanya kehilangan figur ayah, tetapi juga menghadirkan ketegangan besar dalam harapan dan kenyataan yang tidak bisa disatukan dalam satu kebenaran atau narasi yang Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A Data 10 AuKalau Oma sudah melihat tanda-tanda ada yang mau menjemput Oma. Oma akan bilang Sekarang, bersikaplah lebih ceria dan hibur Oma. Jangan bermuka sedih begitu. Bahkan kalau Oma mati. Oma akan mengomelimu dari jauh kalau wajahmu jelek seperti Ay (Nosarios, 2017: 262-. Dalam kutipan ini. Oma merespons kesedihan Kania dengan candaan tentang kematiannya Ia berkata bahwa jika ia mati, ia akan tetap mengomeli Kania dari jauh jika wajah Kania terlihat sedih. Meskipun topiknya serius yaitu tentang kematian Oma justru menyampaikannya secara ringan dan humoris. Hal ini mencerminkan usahanya untuk menenangkan cucunya dan menolak larut dalam kesedihan, dengan cara yang unik menjadikan kematian sebagai bahan Ironi dalam kutipan ini muncul dari ketidaksesuaian antara kematian yang serius dan bentuk penyampaian santai dan lucu. Ini mencerminkan ironi yang menolak pandangan bahwa kematian adalah momen sakral dan agung. Ungkapan seperti Aukalau Oma matiAy dan Auakan mengomelimu dari jauhAy memperlihatkan bahwa Oma tidak melihat kematian sebagai akhir yang tegas, tetapi sebagai sesuatu yang masih bisa dihadapi dengan ringan. Ironi ini menyimpan lapisan emosional yang lebih dalam karena di balik kelucuan tersebut tersembunyi trauma dan rasa takut. Harapan Oma untuk tetap dekat dengan cucunya meski telah mati merupakan bentuk harapan yang tidak mungkin dan karena itulah ini menjadi sangat ironi. Ironi ini mencerminkan runtuhnya narasi besar tentang kematian sebagai momen tragis yang tunggal dan mutlak, bahwa kehidupan pascamodern tidak lagi menawarkan makna tunggal atas kematian atau kesedihan, namun realitas tidak selalu selaras dan terkadang hadir dalam bentuk yang absurd. Pesan Oma menunjukkan bahwa absurditas kematian pun bisa dibingkai dengan humor merupakan bagian dari pengalaman yang kompleks dan sesuai prinsip pascamodern bahwa tidak ada kebenaran tunggal atau akhir yang pasti. Ironi Cinta Ketidakpastian Perasaan Bentuk ironi berikutnya yang ditemukan dalam novel Amore: By Your Side adalah bentuk ironi cinta dan ketidakpastian perasaan. Ironi ini muncul dari dinamika emosional para tokoh yang terjebak dalam ambiguitas antara cinta, harapan, dan keterikatan. Cinta yang seharusnya membawa kejelasan dan kebahagiaan justru menghadirkan kebingungan, keraguan, bahkan Bentuk ironi ini termuat dalam kutipan data berikut. Data 11 AuMenjalin rutinitas demi menjaga status, dan kemudian bosan. No. Erga tidak Yang ia perlukan cuma kepastian bahwa Kania menyayanginya. Itu Dan suatu hari jika angin berembus cukup baik. Erga akan maju selangkah demi Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan situasi Erga yang sedang merenungkan bahwa ia tidak ingin menjalani hubungan hanya demi rutinitas dan status sosial. Baginya, yang ia butuhkan hanyalah kepastian bahwa Kania menyayanginya. Ia meyakini bahwa ketika saatnya tiba "jika angin berembus cukup baik" ia akan menyatakan perasaannya secara perlahan. Namun, waktu dan kondisi yang ideal itu masih sangat samar karena bergantung pada hal yang tidak pasti. 126 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 Dalam kutipan ini menggambarkan ironi cinta, ironi muncul ketika cinta yang diharapkan Erga menjadi sesuatu yang pasti, namun ia sendiri justru menggantungkan pengakuan cintanya pada alasan yang rapuh dan tidak pasti Aujika angin berhembus cukup baikAy menggambarkan ironi keraguan antara keinginan Erga akan kepastian dan kenyataan bahwa ia sendiri bersandar pada sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, cinta yang biasanya dianggap kuat dan tegas runtuh menjadi sesuatu yang ragu dan penuh penundaan. Ironi yang runtuh dalam kutipan ini adalah narasi keyakinan pada konsep cinta yang dianggap rasional dan terkendali bahwa cinta dapat dijalani secara teratur dan pasti menuju kepastian merupakan salah satu bentuk metanarasi yang sudah kehilangan relevansinya. Pengalaman Erga menunjukkan bahwa cinta tidak selalu mengikuti pola logis atau kausal yang jelas tetapi mengalir, tidak menentu, dan penuh dengan keraguan. Data 12 AuKania lebih kecewa pada dirinya sendiri. Ia tidak menduga bahwa kenyataan tentang Erga dan Nina bisa menghantamnya sedemikian rupa. Selama ini Kania selalu mengira ia akan baik-baik saja. Kemudian hatinya berkhianat, berdenyut nyeri, merasa kosong yang janggal, menangis di sudut yang gelap, menginginkan Erga tetap di sisinya. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan saat Kania duduk sendirian di sudut ruangan, hatinya hancur setelah mengetahui tentang hubungan Erga dan Nina. Selama ini, ia percaya dirinya bisa menghadapi segala situasi dengan tenang, tetapi kenyataan menghantamnya jauh lebih keras daripada yang ia bayangkan. Perasaan cinta dan ketergantungan terhadap Erga muncul secara tak terduga, membuatnya merasakan sakit yang mendalam, kesepian, dan kehampaan. Kania menangis, menyadari bahwa hatinya tetap menginginkan Erga di sisinya meski ia sebelumnya yakin akan baik-baik saja. Kutipan ini mengandung ironi pascamodernisme Lyotard bahwa harapan akan kestabilan emosional tanpa cinta ternyata runtuh saat realitas menunjukkan sebaliknya. Kania yang selama ini percaya bahwa ia bisa bertahan tanpa cinta justru terguncang oleh kehilangan, yang menandakan bahwa cinta itu ternyata ada, meski tak pernah diakui secara sadar. Ungkapan seperti Auhatinya berkhianatAy. Aumenangis di sudut yang gelapAy, dan Auingin Erga tetap di sisinyaAy menunjukkan adanya konflik batin yang kuat, dan menjadi bukti bahwa cinta tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh rasionalitas atau perencanaan hidup. Ironinya. Kania yang berusaha keras menghindari cinta justru menjadi korbannya. Cinta muncul di saat yang tidak diharapkan dan dalam bentuk yang menyakitkan. Ironi ini juga hadir sebagai bentuk kegagalan narasi internal di mana seseorang membangun keyakinan atas perasaannya sendiri, tetapi kenyataan membongkar semua itu. Kania membentuk dirinya sebagai sosok kuat dan mandiri yang tidak membutuhkan cinta tetapi justru kalah oleh perasaannya sendiri. Data 13 AuAku yakin aku jatuh cinta sama Erga. Mbak. Aku cuma nggak yakin kami bisa sejalan. Ay AuApa lagi? Kalian bukannya sudah lama saling kenal? Semua orang juga tahu kalau Erga sayang banget sama kamu. Kan. Itu sejelas hujan di bulan Desember!Ay AuApa itu rasa sayang yang akan bertahan selamanya? Apa itu cukup untuk membuat kami bisa menjadi sahabat Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A seumur hidup?Ay Kania menggelengkan kepalanya dengan sikap tidak yakin. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan saat Kania merenung tentang perasaannya terhadap Erga. menyadari bahwa ia jatuh cinta, tetapi ragu apakah hubungan mereka bisa sejalan. Dr. Gita mencoba meyakinkannya bahwa Erga sangat menyayanginya, bahkan diilustrasikan dengan perumpamaan Ausejelas hujan di bulan Desember. Ay Namun. Kania tetap mempertanyakan apakah rasa sayang itu cukup untuk membangun hubungan yang langgeng atau persahabatan seumur Kutipan ini menunjukkan ironi bahwa perasaan yang nyata justru tidak menjamin keberlangsungan hubungan. Ungkapan Auitu sejelas hujan di bulan DesemberAy pada dasarnya bermakna kepastian karena hujan di bulan Desember merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi. Namun frasa tersebut juga menyimpan ambiguitas, hujan kerap dimaknai sebagai kesedihan atau kenangan, sedangkan Desember melambangkan akhir dari sebuah perjalanan. Dengan demikian, kepastian cinta yang digambarkan melalui perumpamaan itu justru menyiratkan kemungkinan berakhirnya hubungan. Ironi muncul ketika cinta yang seharusnya menjadi sesuatu yang pasti justru menjadi sumber keraguan bagi Kania. Hal ini sejalan dengan ironi pascamodern Lyotard, bahwa ironi ini mencerminkan keruntuhan narasi besar tentang cinta yang menyatukan dua insan. Ungkapan seperti Autidak yakinAy dan pertanyaan Auapa itu cukup?Ay mengindikasikan keraguan mendalam atas ketahanan cinta, dan bahkan mempertanyakan apakah cinta cukup menjadi fondasi persahabatan. Cinta menjadi sesuatu yang lemah karena terlalu manusiawi dan tidak mutlak. Perasaan manusia bersifat fragmentaris, kontradiktif, dan tidak selalu rasional. Ironi pascamodern terlihat ketika cinta hadir tetapi tidak bisa menjadi jaminan atau kepastian, menegaskan ketidakpastian, pluralitas, dan fragmentasi pengalaman emosional dalam dunia pascamodern. Bentuk Parodi dalam Novel Amore: By Your Side Karya Bulan Nosarios Aspek penting lain yang menunjukkan semangat pascamodern dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios adalah parodi. Parodi dapat dipandang sebagai salah satu bentuk permainan bahasa yang mengolah ulang teks atau gaya lama secara humor, jenaka, dan kreatif, sehingga membuka ruang bagi pluralitas makna dan menolak klaim kebenaran universal. Berdasarkan hal tersebut, novel Amore: By Your Side memperlihatkan kehadiran parodi sebagai elemen penting dalam membangun nuansa pascamodern novel ini yang terbagi ke dalam dua bentuk utama, yakni parodi terhadap romansa percintaan dan parodi terhadap kehidupan sosial. Bentuk parodi terhadap romansa percintaan menyoroti relasi cinta, lamaran, dan pengakuan perasaan dibingkai secara ringan, ironis, dan kadang terkesan menertawakan konvensi romantik Sementara itu, bentuk parodi terhadap kehidupan sosial menunjukkan pembelokan terhadap kebiasaan sehari-hari, relasi keluarga, dan gaya komunikasi masyarakat urban melalui humor dan idiom populer. Kedua bentuk parodi ini memperlihatkan bahwa novel Amore: By Your Side menghadirkan dunia naratif yang cair, plural, dan dekat dengan realitas keseharian masyarakat modern. Melalui gaya jenaka dan dialog ringan, parodi dalam novel ini menjadi cerminan dari cara pandang pascamodern yang menolak makna tunggal dan menekankan permainan bahasa dalam berbagai lapisan kehidupan manusia. Parodi terhadap Romansa Percintaan 128 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 Dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios bentuk parodi terhadap romansa percintaan memperlihatkan parodi terhadap romansa hadir melalui pembelokan gaya bahasa cinta menjadi lucu, adegan romantis seperti lamaran, kencan dan pengakuan cinta digambarkan menjadi candaan humor. Bentuk parodi terhadap romansa percintaan ini termuat dalam kutipan data berikut. Data 14 "Denganmu aku nggak akan gila, meski aku selalu bekerja,Ay kata Kania, secara naluriah Kania mengangkat jemarinya. "Apa nggak ada cincin?Ay Kania hanya menggoda, tapi nadanya benar-benar serius. Erga menarik jari manis Kania. "Maaf, aku belum mengukurnya. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menujukkan Kania dan Erga berada dalam momen romantis yang tenang. Kania menggoda dengan menanyakan keberadaan cincin, lalu Erga merespons dengan menarik jari manisnya dan berkata. AuMaaf, aku belum mengukurnya. Ay Gaya romantis tapi santai, tanpa Parodi muncul melalui pembelokan makna dan kaburnya batas antara keseriusan dan Momen-momen yang biasanya dianggap sakral dalam budaya populer seperti lamaran dengan cincin justru dihadirkan dalam percakapan yang ringan dan humoris. Ketika Kania bertanya Auapakah tidak ada cincin?Ay, artinya bukan sebagai klaim yang serius melainkan sebagai godaan ringan. Jawaban Erga yang mengatakan belum mengukur ukuran jari Kania, memparodikan kesan kesungguhan dan persiapan matang yang biasanya melekat pada ritual Alih-alih lamaran resmi yang sering dilihat sebagai puncak dari komitmen malah disederhanakan menjadi interaksi spontan yang tetap penuh makna, tetapi disampaikan melalui humor dan keakraban sehari-hari. Parodi ini menunjukkan bahwa simbol cinta seperti cincin tak lagi harus menjadi benda sakral tapi dapat diartikan secara lebih fleksibel tanpa harus mengikuti aturan baku yang dipertahankan dalam budaya romantis. Fenomena ini menunjukkan runtuhnya metanarasi romantis modern yaitu keyakinan bahwa hubungan harus dilegitimasi melalui ritual resmi, simbol sakral, dan momen terencana khusus seperti lamaran. Dalam kutipan ini makna komitmen tidak lagi didefinisikan oleh aturan universal tentang bagaimana cinta harus diungkapkan. Pertanyaan tentang cincin yang dilontarkan begitu saja serta jawaban tentang Auukuran jariAy menggambarkan simbol lamaran bisa kehilangan kesuciannya dan berubah menjadi lelucon yang tetap mengandung kedekatan Hal ini sejalan dengan konsep pascamodern Lyotard yang menyatakan bahwa metanarasi kehilangan otoritas dan maknanya justru terbentuk melalui berbagai permainan Dalam hal ini makna cinta tidak datang dari ritual lamaran yang formal, melainkan tumbuh dari spontanitas, humor, dan situasi antarpribadi yang khas dari kedua tokoh tersebut. Dengan demikian kutipan tersebut menggambarkan pluralitas makna dan menegaskan bahwa hubungan romantis dapat ditentukan oleh permainan bahasa yang fleksibel dan kontekstual bukan oleh aturan tunggal. Data 15 AuTidak ada kembang api. Bahkan musik yang tadi begitu indah sudah berhenti. Tapi keduanya tidak peduli. Ada yang berdendang lebih harmonis di antara mereka. Sebut saja itu cinta. Ay (Nosarios, 2017: . Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A Kutipan ini menggambarkan momen romantis Kania dan Erga yang sangat sederhana, tidak ada kembang api, musik, atau kemewahan yang biasanya hadir dalam adegan romantis Meski demikian. Erga dan Kania tetap merasakan keintiman dan kedekatan emosional dengan kalimat ringan namun bermakna Ausebut saja itu cinta. Ay yang menghadirkan cinta sebagai pengalaman yang intim namun realistis, tanpa dramatisasi berlebihan. Kutipan ini menunjukkan parodi terhadap pembelokan pola klimaks romantis dalam budaya populer yang biasanya ditampilkan dengan simbol besar dan dramatis. Biasanya adegan cinta diiringi dengan kemewahan visual seperti kembang api, musik dramatis, atau latar yang megah sebagai tanda puncak emosi. Alih-alih mengikuti pola itu, kutipan ini justru menyajikan romansa yang natural, jenaka, dan humanis, sekaligus parodi yang menertawakan kebiasaan mengidealkan adegan cinta. Parodi muncul melalui penghilangan ornamen romantis berlebihan dan menekankan bahwa cinta dapat hadir secara sederhana bahkan tanpa dramatisasi. Fenomena ini mencerminkan runtuhnya metanarasi romantis modern yang menuntut cinta diekspresikan melalui ritual mewah atau simbol-simbol besar yang dianggap universal. Dalam semangat pascamodern Lyotard, ini menunjukkan bahwa cinta tidak perlu tunduk pada satu bentuk pola yang dianggap benar tetapi menjadi bagian dari permainan makna yang membebaskan cinta dari aturan tunggal dan memberi ruang bagi interpretasi yang personal, jenaka, dan cair. Inilah bentuk dekonstruksi atas narasi cinta yang mapan. Simbol-simbol konvensional ditanggalkan diganti dengan keintiman yang tak perlu dirayakan secara berlebihan menunjukkan bahwa pengalaman romantis bersifat plural, terbuka, dan tidak lagi dikendalikan oleh narasi besar yang menentukan bagaimana cinta seharusnya diekspresikan. Parodi terhadap Kehidupan Sosial Dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios, bentuk parodi terhadap kehidupan sosial memperlihatkan aktivitas sehari-hari, hingga gaya komunikasi masyarakat urban digambarkan secara jenaka dan penuh pembelokan makna. Parodi muncul melalui humor ringan dalam percakapan, seperti pembelokan makna melalui hiperbola tentang kepekaan seorang nenek Autelinga Oma seperti kelinciAy, selain itu parodi juga hadir melalui penggunaan bahasa gaul dan idiom populer seperti Ausetan banciAy dan Auobat nyamukAy yang menertawakan kehidupan sosial anak muda urban. Hal ini menggambarkan kehidupan sosial dalam novel ditampilkan dengan gaya santai, humoris, dan reflektif terhadap realitas modern yang cair dan penuh tawa. Bentuk parodi ini ditunjukkan melalui kutipan data berikut. Data 16 AuMau tidak mau Kania tertawa. Telinga Oma memang seperti kelinci. Ketika mereka masih kecil. Oma bisa mendengar dari kamarnya kalau cucu-cucunya itu belum tidur dan sibuk Padahal ketiga gadis kecil itu sudah saling berbisik. Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan momen hangat dan jenaka dalam kehidupan sehari-hari Kania dan keluarganya. Diceritakan bahwa Oma memiliki telinga yang Auseperti kelinci,Ay mampu mendengar ketika cucu-cucunya yakni Kania. Vidya dan Emi masih terjaga dan sibuk mengobrol, meski mereka sudah berbisik. Kejadian ini membuat Kania tertawa, karena mengingat kembali kebiasaan masa kecil mereka yang lucu dan akrab. Parodi dalam kutipan ini hadir melalui ungkapan AuTelinga Oma memang seperti kelinciAy ini merupakan bentuk parodi terhadap kebiasaan keluarga dan stereotip dalam budaya populer, 130 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 yang menampilkan sosok nenek dengan kepekaan luar biasa terhadap cucu-cucunya. Dalam konteks ini parodi muncul bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai bentuk penghormatan yang dibungkus humor, memperlihatkan kehangatan relasi keluarga melalui gaya penceritaan ringan dan hiperbolis. Parodi muncul melalui gaya hiperbolis dan permainan metafora, yang mengangkat kekuatan Oma ke tingkat yang hampir AusupernaturalAy mampu mendengar bisikan dari jauh. Ini bukan sekadar humor, melainkan bentuk pembelokan terhadap citra serius figur keluarga menjadi lebih cair dan menghibur. Dalam kerangka Lyotard, ini merupakan bagian dari penolakan terhadap narasi besar tentang otoritas keluarga. Oma tetap berfungsi sebagai penjaga moral tapi caranya tidak lagi lewat ketegasan melainkan melalui kenangan lucu dan narasi personal. Ini menunjukkan bahwa otoritas dalam keluarga juga bisa diinterpretasi ulang melalui bahasa yang akrab dan jenaka sebuah bentuk permainan bahasa yang membuka ruang bagi pluralitas makna peran keluarga. Data 17 AuBengong melulu kesambet lho. Mas. Nggak tahu ya malam Minggu banyak setan banci keliaran?" Emi menyela mereka. Gadis itu tampak bosan menunggu traffic-light kembali Ay (Nosarios, 2017: . Kutipan ini menggambarkan suasana di dalam mobil saat Kania dan Erga menunggu lampu lalu lintas hijau, sementara Emi, adiknya, menyela percakapan mereka. Emi berkata. AuBengong melulu kesambet lho. Mas. Nggak tahu ya malam Minggu banyak setan banci keliaran?Ay Gadis itu tampak bosan menunggu, dan melontarkan komentarnya dengan humor dengan memanfaatkan bahasa gaul. Bentuk parodi yang hadir dalam kutipan ini yakni komentar jenaka Emi kepada Erga AuBengong melulu kesambet lho. Mas. Nggak tahu ya malam Minggu banyak setan banci keliaran?Ay Ujaran ini merupakan bentuk parodi terhadap budaya populer urban dan bahasa gaul masyarakat modern, terutama dalam konteks interaksi sehari-hari anak muda. Istilah Ausetan banciAy diucapkan bukan untuk menakuti, melainkan sebagai ungkapan hiperbolis dan humoris yang mengolok kebiasaan melamun di malam minggu waktu yang secara kultural diidentikkan dengan momen romantis. Parodi muncul melalui permainan bahasa yang membelokkan ekspresi narasi sosial dan religius soal hantu, kesambet, dan kepercayaan tradisional diambil alih oleh logika sehari-hari, diparodikan, dan dihadirkan kembali dalam bentuk yang nyeleneh. Lyotard menyebut ini sebagai bagian dari pluralitas permainan bahasa, di mana tidak ada satu cara benar dalam memaknai simbol atau tradisi. Semua bisa dibolak-balik dan dijadikan bahan bercanda bukan untuk merendahkan, melainkan untuk menunjukkan bahwa makna bisa bersifat cair dan kontekstual. Data 18 AuSaat Kania membuka mata, mobil Erga sudah tiba di depan Kedai Oma. Beberpa tamu asing, mungkin turis jika dilihat dari pakaian mereka, terlihat singgah untuk mencari kopi panas dan roti. Emi meluncur turun. AuMakasih ya, udah ngizinin aku jadi obat nyamuk,Ay Dan sekejap mata kemudian gadis itu sudah menghilang ke dalam. Ay (Nosarios, 2017: 48-. Kutipan ini menggambarkan situasi ketika Kania membuka mata dan menyadari mobil Erga sudah tiba di depan Kedai Oma. Emi, adiknya, yang duduk di kursi belakang mobil segera Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A meluncur turun dan melontarkan kata jenaka, kepada Erga dan Kania AuMakasih ya, udah ngizinin aku jadi obat nyamuk,Ay sebelum cepat-cepat menghilang ke dalam kedai. Parodi dalam kutipan ini hadir peniruan gaya bahasa populer yang kemudian dibelokkan menjadi ekspresi jenaka dan penuh keakraban. Ungkapan Aujadi obat nyamukAy adalah bagian dari bahasa budaya populer yang bersifat hiperbolis dan metaforis. Mengambarkan bentuk parodi terhadap ungkapan romantik dan peran AupenggangguAy dalam relasi cinta, yang diolah dengan gaya humor santai khas pergaulan muda. Istilah Auobat nyamukAy biasanya digunakan dalam bahasa gaul Indonesia untuk menyebut orang ketiga yang merasa canggung di antara pasangan yang sedang berduaan. Namun di sini persoalan itu justru direspons dengan santai dan lucu. Dalam perspektif Lyotard, kutipan ini menunjukkan bagaimana permainan bahasa beroperasi dalam konteks sosial modern setiap karakter memiliki gaya komunikasinya sendiri yang sah tanpa harus mengikuti satu sistem makna tunggal. Ungkapan Auobat nyamukAy menjadi simbol komunikasi ringan yang menolak formalitas romansa ideal dan menegaskan adanya humor dalam relasi manusia. Parodi dalam kutipan ini juga menampilkan semangat pascamodernisme, karena menolak pola besar cinta ideal yang serius dan menggantikannya dengan bentuk komunikasi spontan, penuh canda, dan setara. Parodi terhadap bahasa populer ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk kritik halus terhadap cara masyarakat memaknai cinta, kebersamaan, dan relasi sosial di era modern. Berdasarkan hasil analisis data terhadap novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios, berfokus pada aspek sentral pascamodernisme yang terdiri dari ekletisisme, ironi, dan parodi. Ketiga aspek sentral dalam pascamodernisme tersebut menjadi strategi naratif yang menegaskan keruntuhan narasi besar atau metanarasi sebagaimana dikemukakan oleh Jean Francois Lyotard dalam The Postmodern: Condition A Report on Knowledge . menyatakan bahwa dunia pascamodern ditandai oleh incredulity toward metanarratives, yakni ketidakpercayaan terhadap klaim kebenaran universal yang menyingkirkan keberagaman lokal dan subjektivitas individual. Dalam novel Amore: By Your Side ciri-ciri pascamodernisme tidak hanya tampak melalui tema ceritanya, tetapi juga dari cara pengarang membangun gaya naratif, menggambarkan kehidupan tokoh, serta menampilkan budaya populer dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan merek-merek terkenal, sisipan bahasa asing, percakapan santai, serta humor yang menyindir kehidupan sosial menjadi representasi semangat pascamodern yang menolak kebenaran tunggal dan membuka ruang bagi pluralitas makna. Selanjutnya novel Amore: By Your Side dapat dipahami sebagai karya pascamodern yang menolak kemapanan makna serta menonjolkan keberagaman pengalaman melalui tiga strategi utama ekletisisme, ironi, dan parodi. Novel ini tidak sekadar menyajikan kisah romansa antara Kania dan Erga, tetapi juga menjadi refleksi atas realitas kontemporer yang dipenuhi oleh persilangan budaya, humor reflektif, serta kritik terhadap norma sosial dan moralitas cinta yang konvensional. Sebagaimana dunia pascamodern menolak adanya kebenaran mutlak dan menekankan pentingnya keberagaman perspektif dalam memahami budaya, seni, dan bahasa, prinsip tersebut menjadi dasar dalam pembacaan terhadap novel Amore: By Your Side. Novel ini menampilkan permainan makna antara unsur lokal dan global, keseriusan dan kelucuan, serta cinta dan ironi. Melalui hal tersebut, metanarasi dalam novel ini terwujud melalui bentuk pencampuran gaya ekletisisme, ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan ironi, serta permainan parodi terhadap nilai-nilai romantik dan sosial. Ketiga aspek tersebut bekerja secara bersamaan membangun 132 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 narasi cinta yang plural, terbuka, dan tidak berkesudahan sebagai suatu wujud estetika khas dalam sastra pascamodern. Berdasarkan hasil analisis, novel Amore: by Your Side menggambarkan dinamika kehidupan tokoh-tokohnya bergerak dalam ruang budaya yang cair, terbuka, dan plural. Manifestasi ekletisisme dalam novel ini tercermin dalam tiga bentuk utama yakni ekletisisme sebagai pluralitas referensi musik global, ekletisisme melalui perpaduan budaya global dalam gaya hidup, serta ekletisisme dalam pluralitas permainan bahasa pada komunikasi sehari-hari. Ketiga aspek tersebut mencerminkan model representasi budaya yang tidak lagi tunduk oleh batas-batas budaya yang kaku. Para tokoh bebas menggabungkan musik Barat dengan konteks lokal, mengkonsumsi produk global sambil hidup di lingkungan tradisional dan mencampurkan berbagai bahasa asing dalam tuturan sehari-hari tanpa terikat pada satu pusat otoritas budaya. Fenomena ini menggambarkan runtuhnya narasi-narasi besar tentang kemurnian budaya dan identitas tunggal, narasi-narasi yang sebelumnya menempatkan budaya lokal sebagai satusatunya pusat legitimasi dalam cara berpikir, berkomunikasi, dan mengonsumsi simbol-simbol Dengan penerimaan alami referensi global oleh para tokoh, novel ini menegaskan tidak ada klaim atas budaya yang dominan atau hierarki nilai antara lokal dan global. Identitas para tokoh justru dibentuk oleh perpaduan dan keragaman unsur budaya yang juga hidup Oleh karena itu, ekletisisme dalam novel ini menjadi representasi sejati dari kondisi pascamodern yang digambarkan Lyotard, yaitu dunia budaya yang plural, terfragmentasi dan tidak lagi didasarkan pada satu narasi besar yang mengatur makna dan kebenaran. Dengan demikian novel tersebut menggambarkan bahwa pengalaman budaya kontemporer tidak dibangun dari satu sumber otoritas melainkan dari campuran unsur-unsur budaya yang saling melengkapi sehingga membentuk identitas yang plural, fleksibel dan cair. Selanjutnya, manifestasi ironi dalam novel Amore: By Your Side tercermin dalam dua bentuk utama yakni ironi harapan dan kenyataan serta ironi cinta dan ketidakpastian perasaan. Kedua bentuk ironi ini mempertegas ciri-ciri pascamodern dalam novel yang menggambarkan sikap skeptis terhadap sistem sekaligus pola pikir modern, yang menjanjikan kepastian makna dalam kehidupan dan hubungan antarmanusia. Ironi hadir sebagai strategi pascamodern untuk menekankan bahwa pengalaman manusia sebenarnya penuh dengan ketidakpastian, ambiguitas, dan keragaman makna, tanpa jaminan narasi besar yang universal dan mutlak. Hal inilah yang membuat ironi dalam novel Amore: By Your Side menunjukkan runtuhnya narasi akan kepastian hidup dan cinta romantis. Pandangan besar yang percaya bahwa setiap usaha akan membuahkan hasil, cinta selalu membawa kejelasan, atau hidup tunduk pada satu kebenaran tidak lagi berlaku bagi para tokoh. Sebaliknya ironi mengungkapkan bahwa makna dan perasaan tidak pernah pasti, melainkan selalu terbuka, berubah, dan berkembang dalam berbagai kemungkinan yang penuh Dengan begitu ironi dalam novel ini menjadi cermin yang merefleksikan dunia pascamodern itu sendiri, yakni dunia yang menghindari kesimpulan akhir dan terus bergerak dalam ketidakpastian. Pada saat yang sama, novel Amore: by Your Side menujukkan parodi hadir dalam dua bentuk utama, yaitu parodi terhadap romansa percintaan dan parodi terhadap kehidupan sosial. Keduanya menghadirkan pembelokan makna, pengolahan ulang gaya bahasa populer, serta humor yang menertawakan model konvensional yang selama ini dianggap dominan. Dengan menggunakan gaya jenaka dan dialog sehari-hari yang ringan novel ini menunjukkan pegolahan ulang berbagai hal yang biasanya dianggap serius, seperti lamaran, hubungan asmara, ritual Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A sosial, dan dinamika keluarga. Hal inilah membuat parodi dalam novel Amore: By Your Side menunjukkan runtuhnya metanarasi yang mengedepankan keseragaman makna dan otoritas tunggal, seperti yang dijelaskan oleh Lyotard. Narasi besar yang meyakini bahwa cinta mengikuti model ideal, bahwa hubungan sosial terkait dengan aturan tetap atau simbol budaya memiliki makna tunggal sudah tidak relevan lagi. Dalam novel Amore: By Your Side konvensi romansa klasik, norma percakapan, dan praktik sosial dihadirkan melalui humor, hiperbola, dan permainan bahasa sehingga maknanya menjadi fleksibel, cair, dan terbuka. Maka parodi tidak hanya hadir sebagai humor tetapi sebagai alat untuk menunjukkan bahwa realitas manusia tidak dapat dikunci dalam satu kebenaran. Kedua bentuk parodi ini memperlihatkan bahwa novel Amore: By Your Side menghadirkan dunia naratif yang cair, plural, dan dekat dengan realitas keseharian masyarakat modern. Melalui gaya jenaka dan dialog ringan, parodi dalam novel ini menjadi cerminan dari cara pandang pascamodern yang menolak makna tunggal dan menekankan permainan bahasa dalam berbagai lapisan kehidupan manusia. Hasil penelitian dalam novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios memiliki keterkaitan yang erat dengan penelitian-penelitian terdahulu yang juga menggunakan kerangka pascamodernisme Jean Francois Lyotard dalam mengkaji karya sastra dan budaya populer. Salah satu penelitian relevan adalah penelitian Baihaqi . berjudul AuRepresentasi Budaya Populer dalam Film Cruella karya Craig Gillespie: Kajian Postmodernisme J. LyotardAy. Penelitian tersebut menyoroti bagaimana prinsip pascamodernisme Lyotard, terutama tentang incredulity toward metanarratives, diwujudkan dalam bentuk pencampuran gaya, pluralitas simbol, serta dekonstruksi terhadap narasi moral dan identitas dalam film Cruella. Penelitian film Cruella menegaskan bahwa budaya populer menjadi ruang utama bagi ekspresi pascamodern, di mana unsur fashion, musik, dan ide pemberontakan berfungsi untuk menolak tatanan sosial yang baku. Keterkaitan penelitian dalam novel Amore: By Your Side dengan studi Cruella tampak pada kesamaan semangat dalam menyoroti budaya populer sebagai wujud konkret dari Namun novel Amore: By Your Side menempatkan budaya populer tidak dalam konteks pemberontakan terhadap sistem sosial, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang membentuk identitas manusia modern. Jika film Cruella menggunakan visualisasi gaya dan mode sebagai simbol perlawanan terhadap norma sosial, maka novel Amore: By Your Side menampilkan budaya populer melalui dialog, gaya komunikasi, dan simbol konsumtif yang merepresentasikan kehidupan urban. Kedua penelitian tersebut sama-sama menegaskan bahwa pascamodernisme tidak hanya hadir dalam tataran filsafat atau seni tinggi tetapi juga meresap dalam praktik keseharian masyarakat kontemporer. Selain itu, penelitian ini juga relevan dengan penelitian Sariasih . berjudul AuPerspektif Kajian Postmodernisme dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea HirataAy. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa unsur pascamodernisme dalam novel Laskar Pelangi diwujudkan melalui ironi, parodi, dan pastiche yang digunakan untuk mendekonstruksi sistem nilai sosial dan pendidikan yang mapan. Keterkaitan antara penelitian novel Laskar Pelangi dengan penelitian novel Amore: By Your Side terletak pada kesamaan pendekatan teoretis dan fokus analisis terhadap aspek ironi dan parodi sebagai strategi pembelokan makna. Namun penelitian terhadap novel Amore: By Your Side memperluas cakupan dengan menambahkan aspek ekletisisme, yaitu pencampuran budaya global dan lokal dalam representasi kehidupan masyarakat urban. Jika novel Laskar Pelangi menampilkan pascamodernisme melalui kontras antara cita-cita sosial dan kenyataan yang getir, maka novel Amore: By Your Side memperlihatkannya melalui gaya hidup konsumtif, humor reflektif, dan hibriditas bahasa serta 134 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 114-135 simbol budaya populer. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya wacana pascamodernisme dalam sastra Indonesia dengan menunjukkan bagaimana gagasan Lyotard dapat diimplementasikan pada karya populer yang berfokus pada dinamika personal dan keseharian, bukan semata pada kritik sosial yang serius. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian terhadap novel Amore: By Your Side berada dalam garis kesinambungan dengan dua penelitian sebelumnya, namun sekaligus menawarkan pembaruan penting. Jika penelitian film Cruella menyoroti estetika budaya populer visual dan penelitian novel Laskar Pelangi menekankan aspek kritik sosial, maka penelitian novel Amore: By Your Side menggabungkan keduanya melalui bentuk sastra populer yang menampilkan pluralitas budaya, ironi emosional, dan permainan parodi dalam konteks sosial modern. Hal ini menunjukkan bahwa semangat pascamodernisme Lyotard telah melintasi batas medium dan genre serta menjadi landasan estetika baru dalam memahami karya sastra dan budaya kontemporer Indonesia. PENUTUP Novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios menggambarkan estetika pascamodern melalui tiga aspek utama, yakni bentuk ekletisisme, ironi, dan parodi. Ketiga aspek sentral dalam pascamodernisme ini menjadi strategi naratif yang menegaskan keruntuhan narasi besar atau metanarasi sebagaimana dikemukakan oleh Lyotard. Pertama, bentuk aspek ekletisisme dalam novel ini hadir melalui tiga bentuk ekletisisme yakni ekletisisme sebagai pluralitas referensi musik global, ekletisisme melalui perpaduan budaya global dalam gaya hidup, hingga ekletisisme dalam pluralitas permainan bahasa berupa gaya komunikasi tokoh-tokohnya yang sering memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing seperti Inggris dan Prancis. Ketiga bentuk ekletisisme tersebut secara kolektif merepresentasikan semangat pluralitas dan keterbukaan budaya yang menjadi khas pascamodernisme. Tokoh-tokohnya bebas menggemari, meminjam, memadukan, dan menafsir ulang berbagai simbol budaya sesuai kebutuhan dan selera, yang menggambarkan runtuhnya metanarasi tunggal dan lahirnya identitas kultural yang cair serta plural sebagaimana prinsip dasar pascamodernisme Lyotard. Kedua, bentuk aspek ironi dalam novel ini muncul dalam dua bentuk utama, yakni ironi harapan dan kenyataan serta ironi cinta dan ketidakpastian perasaan. Ironi harapan dan kenyataan menggambarkan ketidaksesuaian antara keinginan tokoh dan realitas serta ketidakpastian hidup yang mereka hadapi. Kemudian, ironi cinta dan ketidakpastian perasaan ini muncul dari dinamika emosional para tokoh yang terjebak dalam ambiguitas antara cinta, harapan, dan keterikatan, di mana cinta yang seharusnya membawa kejelasan dan kebahagiaan justru menghadirkan kebingungan, keraguan, bahkan penderitaan. Melalui bentuk ironi harapan dan kenyataan serta ironi cinta ketidakpastian perasaan, mencerminkan dunia pascamodern yang cair, ambigu, dan penuh paradoks di mana kebenaran tidak pernah utuh dan makna selalu bersifat Ketiga, bentuk aspek parodi dalam novel hadir melalui dua bentuk utama yakni parodi terhadap romansa percintaan dan parodi terhadap kehidupan sosial. Bentuk parodi terhadap romansa percintaan memperlihatkan parodi romansa yang hadir melalui pembelokan gaya bahasa cinta menjadi lucu, adegan romantis seperti lamaran dan pengakuan cinta digambarkan menjadi candaan humor. Kemudian bentuk parodi terhadap kehidupan sosial memperlihatkan pembelokan terhadap kebiasaan sehari-hari, relasi keluarga, dan gaya komunikasi masyarakat urban melalui humor dan idiom populer. Melalui parodi terhadap romansa percintaan dan Yultriani Damat, dkk. : Ekletisisme. Ironi, dan Parodi dalam A kehidupan sosial novel ini menghadirkan humor, sarkasme, dan permainan bahasa yang mencairkan nilai-nilai serius dalam wacana cinta, keluarga, dan masyarakat urban. DAFTAR PUSTAKA Alaslan. Metode Penelitian Kualitatif. Depok: Rajawali Pers. Baihaqi. , & Yuwana. Representasi Budaya Populer Dalam Film Cruella Karya Craig Gillespie: Kajian Postmodernisme J. Lyotard. Sapala, 9. , 13Ae28. https://ejournal. id/index. php/jurnal-sapala/article/view/47634 Endraswara. Metodologi Penelitian Posmodernisme Sastra. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic Publishing Servic. Grenz. Pengantar untuk Memahami Postmodernisme. Yogyakarta: Yayasan ANDI. Hardani. Auliya. Helmina Andriani. Fardani. Ustiawaty. Utami. Sukmana, , & Istiqomah. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.