Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: DimaSTIKa e-ISSN: 3109-1148 Vol. No. Tahun 2025. Hal. 237Ae250 Penguatan Moderasi Beragama Di Era Digital: Studi Santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum Nehru Millat Ahmad1. Nadia Karimatur Rohmah2. Yeni Fatiha Firhatun NiAomah3 1,2,3 Sekolah Tinggi Islam Kendal Email Corespondensi: nehrumillatahmad@stikkendal. Abstrak Perkembangan era digital telah membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memahami, mengakses, dan menyebarkan informasi keagamaan. Kondisi ini menghadirkan peluang bagi dakwah dan pendidikan Islam, sekaligus tantangan berupa penyebaran paham intoleran di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat moderasi beragama di kalangan santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum melalui program pendampingan berbasis literasi Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan partisipatif, dilaksanakan selama dua bulan dan melibatkan 30 santri berusia 14Ae22 tahun. Kegiatan meliputi kajian interaktif tentang moderasi beragama, pelatihan produksi konten digital, serta refleksi bersama. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman santri terhadap konsep moderasi beragama yang berorientasi pada sikap adil, seimbang, dan toleran. Selain itu, para santri berhasil memproduksi konten dakwah kreatif di media sosial, seperti video pendek dan poster digital bertema Islam damai. Kendala berupa keterbatasan perangkat dan akses internet diatasi melalui kerja sama dan pembentukan komunitas dakwah digital sebagai strategi keberlanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendampingan literasi digital merupakan strategi efektif untuk menanamkan nilai moderasi beragama, sekaligus membentuk santri sebagai agen dakwah moderat yang adaptif terhadap tantangan era digital. Kata Kunci: moderasi beragama, literasi digital, santri, pesantren, era digital Abstract The digital era has significantly transformed how people understand, access, and disseminate religious This transformation presents opportunities for Islamic education and daAowah, while also posing challenges such as the spread of intolerant ideologies in digital spaces. This study aims to strengthen religious moderation among students at Darul Fikri Islamic Boarding School. Jambearum, through a digital literacyAe based mentoring program. Using a descriptive qualitative method with a participatory approach, the program was conducted over two months and involved 30 students aged 14Ae22. Activities included interactive discussions on religious moderation, digital content creation training, and collective reflection. The results show a significant improvement in studentsAo understanding of religious moderation as an active attitude of justice, balance, and Moreover, participants successfully produced creative daAowah content on social media, such as short videos and digital posters promoting peaceful Islamic messages. Challenges related to limited digital devices and unstable internet connectivity were addressed through collaboration and the formation of a digital daAowah community as a sustainability strategy. The study concludes that digital literacyAebased mentoring is an effective This is an open access article under the CCAeBY-SA license http://creativecommons. org/licenses/bysa/4. Nehru Millat Ahmad, dkk approach to instill the values of religious moderation and empower students as moderate, adaptive digital preachers in the modern information era. Keywords: religious moderation, digital literacy, santri. Islamic boarding school, digital era PENDAHULUAN Era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara manusia memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mengekspresikan keyakinan keagamaannya. Royke Lantupa berpendapat perkembangan era digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan dan keagamaan. 2 Sapta Sari mengungkapkan generasi muda, khususnya santri, merupakan kelompok yang paling intens menggunakan media digital, baik untuk hiburan, pendidikan, maupun interaksi sosial. 3 Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa lebih dari 80% pengguna internet Indonesia berusia di bawah 30 tahun. 4 Hal ini berarti era digital telah membawa perubahan besar dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Akses informasi yang cepat dan terbuka melalui internet menghadirkan peluang besar bagi proses pembelajaran, dakwah, dan penguatan nilai-nilai keagamaan. 5 Akan tetapi, ruang digital juga membawa tantangan serius berupa penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, ujaran kebencian, dan konten yang berpotensi menimbulkan polarisasi keagamaan. Muannas menyoroti banyak orang yang menggunakan media sosial tanpa mengetahui aturan dasar dalam berinteraksi secara sopan dan aman. Padahal, etika di dunia maya penting untuk menghargai orang lain, berhati-hati terhadap informasi yang belum tentu benar, serta melindungi diri dari dampak negatif internet. 6 Kondisi ini menuntut adanya kemampuan literasi digital yang kuat agar pengguna, khususnya generasi muda, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan 1 Egi Sukma Baihaki. AuIslam Dalam Merespons Era Digital,Ay SANGKyP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan 3, no. : 185Ae208, https://doi. org/10. 20414/sangkep. 2 Royke Lantupa Kumowal. AuModerasi Beragama Sebagai Tanggapan Disrupsi Era Digital,Ay DAAoAT : Jurnal Teologi Kristen 5, no. : 126Ae50. 3 Sapta Sari. AuLiterasi Media Pada Generasi Milenial Di Era Digital,Ay Profesional: Jurnal Komunikasi Dan Administrasi Publik 6, no. : 30Ae42, https://doi. org/10. 37676/professional. 4 AuApjii-Jumlah-Pengguna-Internet-Indonesia-Tembus-221-Juta-Orang,Ay n. 5 Ahmad Nur Malik Panigoro. AuIslam Digital Dan Negosiasi Otoritas Keagamaan,Ay Alhamra Jurnal Studi Islam 6, no. : 71Ae90, https://doi. org/10. 30595/ajsi. 6 Muannas and Muhammad Mansyur. AuModel Literasi Digital Untuk Melawan Ujaran Kebencian Di Media Sosial Digital Literacy Model to Counter Hate Speech on Social Media,Ay Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Komunikasi 22, no. : 125Ae42, http://dx. org/10. 33164/iptekkom. Penguatan Moderasi Beragama di Era DigitalA. Kemampuan literasi digital yang baik tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis dalam menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, etika berinternet, dan kesadaran dalam menyaring serta menyebarkan informasi. Dalam konteks keagamaan, literasi digital berperan penting agar generasi muda mampu memahami dan menyebarkan nilai-nilai keagamaan yang moderat serta terhindar dari paham ekstrem atau intoleran yang banyak beredar di dunia maya7 Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Arjun Paelani, mengungkapkan bahwa media sosial seringkali menjadi saluran utama penyebaran ideologi ekstrem. 8 Amrullah melalui artikelnya menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi besar dalam membentuk generasi santri yang moderat dan bijak bermedia dan dapat mengendalikan narasi radikal. Konteks ini, media digital juga membuka peluang dakwah kreatif yang lebih luas. Santri dapat menggunakan platform seperti Instagram. TikTok, atau YouTube untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan. Namun, kemampuan teknis dan kesadaran etis menjadi faktor penting agar ruang digital tidak menjadi ajang perdebatan yang memperuncing perbedaan. Santri sebagai bagian dari generasi muda muslim memiliki posisi strategis dalam menghadapi tantangan tersebut. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam yang berakar kuat pada tradisi keilmuan dan moral, perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi dasar pendidikannya. Melalui penguasaan literasi digital, santri diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan agama dengan keterampilan teknologi untuk menyebarkan pesan Islam yang damai dan Dalam hal ini, moderasi beragama menjadi landasan penting dalam membentuk karakter santri di era digital. Konsep ini menekankan keseimbangan dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama, menjauhi sikap ekstrem, serta mengedepankan toleransi dan keadilan 9 Dalam dokumen resmi Kementerian Agama RI . , moderasi beragama didefinisikan sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang selalu mengambil posisi tengah, adil, dan seimbang. Konsep ini relevan untuk menjawab tantangan masyarakat Indonesia yang plural. 7 Mohammad Suhud et al. Kultur Budaya Dan Digital : Perspektif Baru Dalam Moderasi Beragama, 2025. 8 Arjun Paelani Setia, dkk. Kampanye Moderasi Beragama: Dari Tradisional Menuju Digital. Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2021. 9 Yesi Arikarani et al. AuKonsep Pendidikan Islam Dalam Penguatan Moderasi Beragama,Ay Ej 7, no. : 71Ae88, https://doi. org/10. 37092/ej. Nehru Millat Ahmad, dkk Kajian mengenai moderasi beragama sebagai pelatihan banyak dilakukan oleh peneliti Pertama yang berkaitan dengan media digital sebagai literasi moderasi beragama yang dilakukan oleh Suheri dan Nurrahmawati yang menanamkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah perubahan sosial akibat perkembangan teknologi digital. 10 Muhammad Hendri yang mengkaji revitalisasi moderasi beragama di era digital dengan hasil Era digital membuka peluang bagi penguatan moderasi beragama melalui penyebaran dakwah moderat, kemudahan akses literatur keagamaan, dan pemanfaatan media digital untuk menanamkan nilai toleransi serta keberagaman. 11 Lebih lanjut kajian Arya Fenda Ibnu Shina yang meneliti peran moderasi beragama terhadap pengaruh literasi digital pada adiksi internet mahasiswa di kampus moderat. Hasil penelitian menunjukkan literasi digital berpengaruh signifikan positif terhadap moderasi beragama dan berpengaruh signifikan negative terhadap adiksi internet. Kedua penelitian tentang moderasi beragama yang di lingkungan pesantren dilakukan oleh Amrullah dengan hasil bahwa bahwa pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam membentengi santri dari ideologi radikal melalui kurikulum terintegrasi, penguatan kompetensi literasi digital, dan penanaman nilai- nilai Islam. 13 Sigit Raharja yang mengkaji implementasi nilai-nilai moderasi beragama pada santri sebagai upaya menangkal faham dengan hasil penangkalan terhadap paham radikalisme dilakukan dengan memperkuat nilai-nilai moderasi seperti keseimbangan . , keadilan . Aotida. , toleransi . , dialog . , perbaikan . , nasionalisme . , penolakan kekerasan . l-la Aoun. , dan penghargaan terhadap budaya lokal . Aotiraf bil Aour. 14 Hal yang sama juga dilakukan oleh Dedi Ardiansyah yang mengkaji pentingnya peran pesantren untuk membentuk santri yang bersikap 10 Suheri Suheri and Yeni Tri Nurrahmawati. Moderasi Beragama Di Era Disrupsi Digital. Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars, vol. 6, 2022, https://doi. org/10. 36835/ancoms. 11 Muhammad Hendri and Sandy Aulia Rahman. AuRevitalisasi Moderasi Beragama Di Era Digital,Ay HORIZONS : Journal of Education and Social Humaniora 1, no. : 56Ae67. 12 Arya Fendha Ibnu Shina. Ferra Puspito Sari, and ShofiAounnafi. AuPeran Moderasi Beragama Terhadap Pengaruh Literasi Digital Pada Adiksi Internet: Studi Pada Mahasiswa Di Kampus Moderat,Ay Jurnal Manajemen Dakwah 10, no. : 27Ae50, https://ejournal. uin-suka. id/dakwah/JMD/article/view/2923. 13 Amrullah. AuPeran Pesantren Dalam Merangkal Radikalisme Digital : Studi Terhadap Santri Era Media Sosial,Ay Modeling: Jurnal Program Studi PGMI 12, no. : 183Ae96. 14 Sigit Raharja. Andi Arif RifaAoi, and Fitri Wulandari. AuInternalisasi Moderasi Beragama Di Pondok Pesantren Tahfidzul Wa TaAolimul QurAoan Masjid Agung Surakarta Menangkal Radikalisme,Ay Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian Dan Kajian Sosial Keagamaan 20, no. : 160Ae72, https://doi. org/10. 46781/almutharahah. Penguatan Moderasi Beragama di Era DigitalA. moderat, toleran, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren memiliki peran utama dalam internalisasi nilai-nilai moderasi beragama. Meskipun banyak penelitian membahas moderasi beragama melalui media digital maupun di pesantren, belum ada kajian yang meneliti secara mendalam bagaimana pendampingan interaktif dan literasi digital membentuk pemahaman dan internalisasi nilai moderasi santri. Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan: Bagaimana proses pendampingan berbasis dialog dan literasi digital membentuk pola pikir moderat di kalangan santri, serta bagaimana pemahaman tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku keagamaan sehari-hari?. Melalui kegiatan pembinaan dan pendampingan, pesantren mendorong santri agar tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berperan aktif sebagai agen penyebar nilai-nilai keagamaan yang damai di ruang digital. Dengan demikian, santri diharapkan dapat menjadi teladan dalam mengembangkan praktik keagamaan yang moderat dan beretika di tengah tantangan era digital yang terus berkembang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan 16 Artinya, santri Pondok Pesantren Darul Fikri Desa Jambearum tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai mitra aktif. Seluruh tahap kegiatan dirancang secara kolaboratif agar sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Fikri Desa Jambearum dilaksanakan pada tanggal 23-35 Januari. Peserta terdiri atas 30 santri berusia 14Ae22 tahun. Tim pengabdian melibatkan 1 dosen dan 2 mahasiswa yang berperan sebagai fasilitator dan pendamping teknis. Proses kegiatan dibagi dalam tiga tahap. Pertama, tahap persiapan: koordinasi dengan pengurus pondok pesantren, identifikasi kebutuhan peserta, serta penyusunan materi. Kedua, tahap pelaksanaan: kajian interaktif tentang moderasi beragama, diskusi studi kasus, pelatihan produksi konten digital, dan simulasi menghadapi ujaran kebencian. Ketiga, tahap evaluasi: dilakukan melalui observasi partisipatif, dokumentasi kegiatan, serta refleksi bersama. Pemilihan metode partisipatif dilator belakangi keyakinan bahwa perubahan sikap dan keterampilan akan lebih efektif bila peserta 15 Dedi Ardiansyah. AuInternalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Di Pondok Pesantren Sebagai Upaya Menghadapi Era Society 5. 0,Ay Jurnal 12 Waiheru 9, no. : 114Ae25. 16 Sugiyono and Sutopo. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R Dan D. Ed. Cet (Bandung: Alfabeta, 2. Nehru Millat Ahmad, dkk terlibat langsung. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter dan praktik nyata. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Pemahaman Moderasi Beragama Salah satu capaian penting dari program ini adalah meningkatnya pemahaman santri mengenai konsep moderasi beragama. Sebelum kegiatan, mayoritas peserta memahami moderasi hanya sebatas Autidak fanatikAy atau Aubersikap netralAy. Pemahaman yang sempit ini berpotensi menimbulkan salah kaprah, karena moderasi seolah dipandang sebagai sikap pasif tanpa keberpihakan terhadap nilai tertentu. Setelah melalui kajian interaktif, santri mulai memahami bahwa moderasi beragama adalah sikap aktif yang berorientasi pada keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan17 Peserta juga belajar bahwa moderasi bukan kompromi buta, melainkan kesadaran untuk menolak dua kutub ekstrem: fanatisme berlebihan maupun liberalisme kebablasan. 18 Dalam salah satu diskusi, ketika ditanyakan bagaimana sikap terhadap perbedaan bacaan doa qunut, seorang peserta menjawab: AuKalau ada yang qunut atau tidak qunut, sama-sama benar. Yang penting kita saling menghormati. Ay Jawaban sederhana ini menunjukkan pergeseran dari pola pikir eksklusif menuju inklusif. Peningkatan pemahaman ini mengindikasikan bahwa santri dapat menerima nilai moderasi jika diberikan ruang dialog yang terbuka. Hal ini sejalan dengan pendapat Ramadhan yang menegaskan bahwa moderasi beragama hanya bermakna apabila diwujudkan dalam praktik sehari-hari, bukan hanya jargon. 19 Dengan demikian, proses pendampingan berfungsi sebagai media internalisasi nilai yang lebih efektif daripada sekadar ceramah satu arah. Kesuksesan program dalam mengembangkan pemahaman moderisasi beragama yang lebih menyeluruh dan proaktif di antara para santri. Dari pandangan yang terbatas dan pasif, mereka berkembang menjadi individu yang dapat menolak ekstremisme segaligus menghargai keberagaman, ini bukan hanya pencapaian intelektual melainkan juga social yang mampu mendukung harmoni keagamaan. 17 Jamaluddin Jamaluddin. AuImplementasi Moderasi Beragama Di Tengah Multikulturalitas Indonesia (Analisis Kebijakan Implementatif Pada Kementerian Agam. ,Ay AS-SALAM Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman 7, 1 . : 1Ae13, https://journal. stai-yamisa. id/index. php/assalam/issue/view/10. 18 Dudy Imanuddin Effendi. AuNew Normal Dalam Sudut Pandang Pemikiran Moderasi Beragama,Ay 19 Sayid Ahmad Ramadhan. AuModerasi Islam: Membentuk Idealitas Pemahaman Keagamaan Antar Sesama Umat Islam Dalam Dunia Pendidikan,Ay Adiba: Journal of Education 4, no. : 1Ae21, https://wikep. net/index. php/ADIBA/article/view/183. Penguatan Moderasi Beragama di Era DigitalA. Hasil wawancara dengan beberapa santri menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pemahaman mereka terhadap konsep moderasi beragama setelah mengikuti kegiatan pendampingan. Sebelum kegiatan, sebagian besar santri memahami moderasi sebatas sikap Autidak fanatikAy atau Aunetral terhadap perbedaan. Ay Namun setelah melalui proses dialog dan refleksi bersama, pemahaman mereka berkembang menjadi lebih mendalam dan Hasil wawancara dengan santri dengan jawaban bahwa sebelumnya menganggap moderasi berarti mengambil jalan tengah agar aman, tetapi kemudian menyadari bahwa moderasi justru mengajarkan keadilan dan empati dalam memahami alasan orang lain 20 Sementara itu, seorang santri menuturkan bahwa kegiatan ini membuatnya memahami pentingnya keseimbangan, karena bersikap terlalu longgar bisa salah, tapi keras juga bisa salah. 21 Adapun santri yang lain menambahkan bahwa sikap moderat perlu diterapkan dalam hubungan sosial, terutama dalam menghadapi perbedaan praktik ibadah, seperti qunut dan tidak qunut, yang menurutnya hal itu tidak perlu diperdebatkan karena bukan hal yang membuat kita pecah. Lebih lanjut, wawancara dengan santri yang beranggapan bahwa moderasi bukan sekadar teori, tetapi cara menata hati agar tidak mudah menghakimi orang lain karena perbedaan pendapat terkait praktek atau hal yang diyakini dan dijalani dalam kehidupan. 23 Dari wawancara tersebut tampak bahwa santri tidak hanya memahami moderasi secara konseptual, tetapi mulai menghayatinya sebagai nilai hidup yang memandu cara berpikir dan bersikap. Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran dari pola pikir yang kaku menuju kesadaran moderat yang lebih terbuka dan adaptif terhadap keragaman sosial, sekaligus menegaskan bahwa pendekatan dialogis lebih efektif dalam menumbuhkan nilai moderasi dibandingkan dengan penyampaian materi satu arah. Penguatan Literasi Digital dalam Dakwah Selain memahami konsep moderasi, peserta juga memperoleh keterampilan teknis dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah. Sebelum program, sebagian besar 20 Wawancara dengan Dini Anjani, santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum, diakses pada 25 Januari 2025. 21 Wawancara dengan Nizar Zulmi, santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum, diakses pada 25 Januari 2025. 22 Wawancara dengan Ziyaddin al-Faruq, santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum, diakses pada 26 Januari 2025. 23 Wawancara dengan Dewi Astuti, santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum, diakses pada 26 Januari 2025. Nehru Millat Ahmad, dkk santri menggunakan media sosial hanya untuk hiburan. Setelah pelatihan, mereka mampu menghasilkan konten dakwah sederhana namun kreatif. Pelatihan video pendek menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati. Peserta belajar menulis naskah, melakukan pengambilan gambar, hingga mengedit dengan aplikasi ponsel. Hasilnya, mereka memproduksi video berdurasi satu menit dengan pesan seperti AuTabayyun sebelum Sebar BeritaAy atau AuIslam Ramah. Bukan Marah. Ay Video ini kemudian dipublikasikan di akun Instagram santri Pondok Pesantren Darul Fikri dan mendapat tanggapan positif dari para santri sekitar. Selain video, peserta juga menghasilkan poster digital yang berisi kutipan ayat atau hadis dengan desain menarik. Seorang peserta mengungkapkan: AuSaya baru tahu kalau berdakwah bisa lewat Instagram, bukan hanya di majlis. Ay Testimoni ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dakwah dari ruang fisik menuju ruang digital. Hasil ini sejalan dengan Maulida Ulfa yang menekankan bahwa literasi digital berbasis nilai agama dapat menjadi benteng ideologis bagi generasi muda. Dengan bekal keterampilan digital, santri tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen narasi damai yang mampu bersaing dengan konten intoleran. Pelatihan literasi digital berbasis moderasi beragama memberikan pengaruh yang besar terhadap perubahan pola pikir dan perilaku santri dalam menggunakan media sosial. Jika sebelumnya media sosial hanya dimanfaatkan sebagai sarana hiburan, melalui program ini para santri mulai melihatnya sebagai ruang yang produktif untuk berdakwah. Kegiatan pelatihan yang mencakup penulisan naskah, pengambilan gambar, dan proses penyuntingan video menggunakan perangkat sederhana berhasil meningkatkan kemampuan teknis mereka dalam memproduksi konten dakwah yang kreatif dan bermakna. Selain peningkatan keterampilan, pelatihan ini juga menumbuhkan semangat dan kesadaran baru di kalangan santri untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang damai, santun, dan berlandaskan prinsip moderasi. Respon positif dari masyarakat terhadap karya-karya dakwah digital para santri menunjukkan adanya dampak sosial yang nyata. Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya memperkuat peran santri sebagai agen penyebar pesan perdamaian, tetapi juga menegaskan identitas mereka sebagai pelopor dakwah digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan zaman. Selain itu, program literasi ini diharapkan 24 Maulida Ulfa. AuMenjaga Moderasi Beragama Di Era Digital: Tantangan Dan Strategi Menghadapi Teknologi Maintaining Religious Moderation in the Digital Age: Challenges and Strategies for Facing Technology,Ay Book Chapter of Proceedings Journey-Liaison Academia and Society 3, no. : 43Ae63. Penguatan Moderasi Beragama di Era DigitalA. mampu menumbuhkan karakter santri yang bertanggung jawab, kritis, dan inklusif. dapat menggunakan media digital sebagai sarana efektif untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Kendala dan Strategi Keberlanjutan Meski menghasilkan capaian positif, program ini juga menghadapi beberapa kendala. Pertama, keterbatasan perangkat digital. Tidak semua peserta memiliki ponsel dengan spesifikasi mendukung untuk editing video. Akibatnya, praktik dilakukan secara bergantian. Kedua, akses internet di Desa Jambearum masih tidak stabil, sehingga proses unggah konten sering terhambat. Ketiga, perbedaan keterampilan antar peserta cukup lebar. Ada peserta yang mahir menggunakan aplikasi, tetapi ada pula yang baru pertama kali mencoba. Untuk mengatasi kendala ini, peserta menunjukkan kreativitas dan solidaritas. Mereka berbagi perangkat, belajar berkelompok, dan saling mengajari. Mahasiswa pendamping juga membantu dengan meminjamkan laptop untuk mempermudah proses. Suasana ini memperlihatkan bahwa keterbatasan justru mendorong kolaborasi yang lebih erat. Sebagai strategi keberlanjutan, dibentuk komunitas dakwah digital santri Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum. Komunitas ini bertugas mengelola akun media sosial resmi Pondok Pesantren secara kolektif. Dengan adanya struktur organisasi kecil, tanggung jawab menjadi lebih jelas, dan keterampilan yang diperoleh dapat terus diasah. Selain itu, tim pengabdian merekomendasikan kerja sama dengan pemerintah desa untuk menyediakan WiFi publik, sehingga akses internet tidak lagi menjadi kendala utama. Kendala ini mencerminkan apa yang disebut digital divide atau kesenjangan digital. 25 Santri di daerah pedesaan cenderung memiliki keterbatasan infrastruktur dibandingkan dengan di kota. Oleh karena itu, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga dukungan struktural dari lingkungan sekitar. Analisis Penguatan Moderasi Beragama melalui Pendampingan Digital Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan berbasis literasi digital merupakan strategi yang efektif untuk menguatkan moderasi beragama di kalangan santri Pondok Pesantren Darul Fikri. Ada tiga hal penting yang dapat ditarik sebagai analisis: Pertama, pendampingan menjadi sarana internalisasi nilai yang efektif. Melalui dialog, diskusi kasus, dan simulasi, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mempraktikkannya 25 Cendy Lestari et al. AuKesenjangan Digital Dan Dampaknya Terhadap Pendidikan,Ay Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan 3, no. : 1Ae16. Nehru Millat Ahmad, dkk dalam situasi nyata. Hal ini sejalan dengan Miles & Huberman yang menekankan pentingnya pembelajaran partisipatif dalam mengubah pola pikir. Kedua, literasi digital berfungsi sebagai media transformasi dakwah. Dengan keterampilan membuat konten, santri tidak lagi sekadar objek yang mudah terpengaruh, melainkan subjek yang aktif menyebarkan narasi damai. Hal ini relevan dengan pendekatan UNESCO tentang literasi digital sebagai kemampuan kritis yang harus dibekali dengan nilai etis. 26 Ketiga, integrasi nilai moderasi dengan media digital melahirkan strategi dakwah baru yang relevan di era digital. Jika santri Pondok Pesantren Darul Fikri tidak didampingi, ruang digital bisa dikuasai oleh narasi intoleran. Namun dengan pendampingan, mereka mampu menjadi agen perubahan yang menyebarkan pesan Islam rahmatan lil Aoalamin. Program ini tidak hanya berdampak pada individu peserta, tetapi juga berpotensi menciptakan ekosistem dakwah digital yang lebih sehat. Analisis ini sekaligus menjawab pertanyaan pokok artikel: Bagaimana proses pendampingan berbasis dialog dan literasi digital membentuk pola pikir moderat di kalangan santri, serta bagaimana pemahaman tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku keagamaan sehari-hari. Program pendampingan santri Pondok Pesantren Darul Fikri di Desa Jambearum memberikan gambaran nyata bahwa penguatan moderasi beragama di era digital bukanlah konsep yang abstrak, tetapi dapat diwujudkan melalui kegiatan yang sistematis, partisipatif, dan kontekstual. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa santri Pondok Pesantren Darul Fikri mampu berkembang baik secara pemahaman maupun keterampilan ketika mereka didampingi dengan metode yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Dari sisi pemahaman keagamaan, pendampingan ini berhasil membawa peserta pada pemahaman yang lebih utuh tentang moderasi. Jika pada awalnya moderasi dipersepsikan hanya sebagai sikap Autidak fanatikAy, melalui kajian interaktif peserta mulai memahami bahwa moderasi beragama adalah sikap aktif yang menekankan keadilan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap perbedaan. Perubahan pola pikir ini terlihat jelas dari cara peserta merespons isu-isu keagamaan sehari-hari, misalnya terkait perbedaan praktik ibadah atau interaksi dengan teman yang berbeda agama. Mereka belajar bahwa perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk dihormati sebagai bagian dari kekayaan bangsa yang 26 Arif Budiyanto. AuLiterasi Dan Etika Menguatkan Profil Pelajar,Ay Literasiana: Jurnal Literasi Informasi Perpustakaan 1, no. September . : 1Ae8. Penguatan Moderasi Beragama di Era DigitalA. Dari sisi keterampilan digital, pendampingan ini membekali peserta dengan kemampuan baru yang sebelumnya belum pernah mereka kuasai. Mereka belajar menulis naskah, mengambil gambar, mengedit video, hingga mendesain poster digital dengan pesan dakwah damai. Proses ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah cara pandang mereka tentang dakwah. Santri menyadari bahwa dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar masjid, melainkan dapat menjangkau audiens lebih luas melalui media sosial. Kesadaran ini melahirkan rasa percaya diri baru: bahwa mereka, meski masih santri, memiliki peran penting sebagai agen penyebar pesan toleransi di dunia maya. Dari sisi kelembagaan dan sosial, pendampingan ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan justru dapat menjadi pemicu solidaritas. Keterbatasan perangkat digital dan akses internet yang dialami peserta tidak menyurutkan semangat mereka. Sebaliknya, mereka belajar bekerja sama, berbagi perangkat, dan saling membantu mengatasi kesulitan teknis. Kebersamaan ini kemudian menjadi dasar terbentuknya komunitas dakwah digital santri Pondok Pesantren Darul Fikri. Komunitas ini berfungsi bukan hanya sebagai wadah mengelola media sosial, tetapi juga sebagai ruang belajar berkelanjutan yang menumbuhkan kepemimpinan, tanggung jawab, dan kreativitas di kalangan santri Pondok Pesantren Darul Fikri. Analisis global dari program ini menunjukkan bahwa pendampingan berbasis literasi digital merupakan strategi efektif untuk penguatan moderasi beragama. 27 Nilai-nilai moderasi dapat lebih mudah dipahami dan dipraktikkan ketika disampaikan dengan pendekatan partisipatif yang menyentuh kehidupan nyata peserta. Di sisi lain, keterampilan digital memberikan medium yang relevan untuk mengekspresikan nilai tersebut dalam bentuk yang kreatif, menarik, dan sesuai dengan budaya generasi muda. Kombinasi antara konten moderasi dan media digital inilah yang menjadi kunci keberhasilan program. Kegiatan serupa perlu dijadikan agenda rutin dengan cakupan yang lebih luas. Pemerintah desa dan lembaga pendidikan diharapkan dapat berkolaborasi dalam menyediakan dukungan infrastruktur, seperti akses internet yang stabil dan fasilitas teknologi sederhana. Dengan dukungan tersebut, santri Pondok Pesantren Darul Fikri dapat terus mengembangkan keterampilan dan menjaga konsistensi dakwah digitalnya. Secara keseluruhan, dapat 27 Ahmadi FN Abdul Shomad. Galuh Indah Zatadini, and Kata KUNCI Pendampingan Literasi Digital Moderasi Beragama. AuPendampingan Literasi Digital Pada Generasi Milenial Sebagai Penguatan Moderasi Beragama,Ay Jurnal Pengabdian Masyarakat A 5, no. , https://doi. org/10. 59818/jpm. Nehru Millat Ahmad, dkk disimpulkan bahwa pendampingan santri Pondok Pesantren Darul Fikri di era digital tidak hanya menghasilkan peningkatan individu, tetapi juga membangun ekosistem sosial baru di mana santri berperan sebagai agen perubahan. Mereka bukan lagi penerima pasif arus informasi, melainkan produsen narasi damai yang mampu menandingi wacana intoleran. Dengan demikian, penguatan moderasi beragama melalui pendampingan digital merupakan langkah strategis untuk menyiapkan generasi muda yang moderat, kritis, dan siap menghadapi tantangan globalisasi informasi. SIMPULAN Program pendampingan berbasis literasi digital di Pondok Pesantren Darul Fikri Jambearum terbukti efektif dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di kalangan Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman teoretis, tetapi juga mendorong praktik nyata dalam kehidupan keagamaan dan bermedia. Pertama, santri mengalami peningkatan signifikan dalam memahami konsep moderasi beragama sebagai sikap aktif yang berorientasi pada keadilan, keseimbangan, dan toleransi, bukan sekadar sikap netral atau menghindari konflik. Kedua, kemampuan literasi digital para santri meningkat melalui pelatihan pembuatan konten dakwah kreatif, seperti video pendek dan poster digital bertema Islam damai, yang kemudian dipublikasikan di media sosial. Ketiga, kendala teknis seperti keterbatasan perangkat dan akses internet justru memperkuat solidaritas dan kolaborasi antarsantri, yang pada akhirnya melahirkan komunitas dakwah digital sebagai wadah keberlanjutan program. Pendampingan literasi digital dapat menjadi strategi konkret untuk menanamkan nilainilai moderasi beragama dan membentuk santri sebagai agen dakwah moderat yang adaptif terhadap tantangan era digital. Program ini menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui model pembelajaran kolaboratif yang mengintegrasikan nilai agama, etika bermedia, dan kreativitas digital. Kegiatan serupa kedepannya perlu diperluas dengan dukungan infrastruktur dan jejaring kolaboratif agar santri semakin berperan dalam menyebarkan narasi Islam yang damai dan inklusif di ruang Daftar Pustaka