Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Pengetahuan Ibu Tentang Upaya Penanganan Kejang Demam Pada Anak Mother's Knowledge of Efforts to Handle Fever Seizures in Children Siti Hajia Rahmani1. Aklima2 . Sri Agustina3 Email: sitihajiarahmani@gmail. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Bagian Keilmuan Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Bagian Keilmuan Keperawatan Anak Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala ABSTRAK Pengetahuan ibu tentang upaya penanganan kejang demam pada anak sangat diperlukan, karena ibu memiliki peran utama dalam memberikan pertolongan pertama kejang demam. Kejang demam merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada bayi dan anakanak, dengan potensi komplikasi serius jika tidak ditangani dengan benar. Tujuan dari penelitian ini untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu . sia 20-30 tahu. mengenai upaya penanganan kejang demam pada anak di kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 189 ibu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner yang telah disesuaikan dengan konsep Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Hasil penelitian menujukkan bahwa mayoritas responden yaitu 179 ibu . ,7%) memiliki pengetahuan yang baik dan sebanyak 10 ibu . ,7%) dengan pengetahuan kurang tentang upaya penanganan kejang demam pada anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun pengetahuan ibu mayoritas berpengatahuan baik, namun masih ada sebagian kecil ibu yang masih berpengetahuan kurang tentang upaya penanganan kejang demam pada anak. Direkomendasikan kepada puskesmas setempat untuk memberikan pelatihan mengenai penatalaksanaan kejang demam di rumah, agar dapat lebih memahami cara yang benar dalam menangani kondisi tersebut dan menghindari tindakan tidak tepat yang berpotensi memperburuk keadaan Kata Kunci: Pengetahuan Ibu. Upaya penanganan Kejang Demam. ABSTRACT A mother's knowledge of efforts to manage febrile seizures in children is essential, as mothers play a primary role in providing first aid for febrile seizures. Febrile seizures are a common health issue among infants and children, with the potential to cause serious complications if not managed properly. This study aimed to describe the level of knowledge among mothers . ged 20-30 year. regarding the management of febrile seizures in children in Baiturrahman District. Banda Aceh. A quantitative descriptive research design was used, with a total sample of 189 mothers selected through purposive Data were collected using a questionnaire distributed directly by the researcher. The questionnaire utilized was designed based on the Indonesian Pediatric Society (IDAI) guidelines for febrile seizure management. The findings revealed that the majority of mothers . mothers, 80. 9%) had good knowledge, while 10 mothers . demonstrated a low level of knowledge regarding febrile seizure management in children. This study concluded that although most mothers had a good understanding, a small Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 proportion still lacked sufficient knowledge about the proper management of febrile It is recommended that local community health centers continue providing training to mothers on managing febrile seizures at home to enhance their understanding and prevent improper actions that could potentially worsen their children condition. Keywords: Mother's Knowledge. Febrile Seizure Management PENDAHULUAN Kejang demam atau febrile convulsion adalah salah satu gangguan neurologis yang sering terjadi pada bayi dan anak-anak, terutama yang berusia antara 6 bulan hingga 5 tahun yang dipicu oleh demam dengan suhu tubuh di atas 38AC yang disebabkan oleh infeksi (Kemenkes, 2. World Health Organization melaporkan bahwa sudah terdapat lebih dari 21,65 juta anak mengalami kejang demam, dengan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal Prevalensi kejang demam pada anak di Indonesia dilaporkan meningkat dari 3,5% pada tahun 2013 naik menjadi 5% pada tahun 2021, dengan persentase sebesar 90% kasus kejang demam disebabkan oleh kasus infeksi saluran pernapasan (Rahayu & Muhsinin, 2. Menurut laporan dari Kemenkes RI tahun 2019, terdapat 14. 252 anak di Indonesia pernah mengalami kejadian kejang demam (Aziza & Adimayanti, 2. Daerah Aceh sendiri, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damar et , . , terdapat 129 anak yang pernah dirawat di RSU Cut Mutia Lhoksumawe antara tahun 2019 hingga Januari 2020 karena mengalami kejang Kemudian, berdasarkan data yang diambil dari RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh pada tahun 2020, ada sebanyak 23 anak . 5%) mengalami kejang demam sederhana dan 21 anak . 5%) mengalami kejang demam kompleks (Anidar et al. , 2. Kejang demam memiliki potensi timbulnya banyak komplikasi seperti epilepsi, hemiparesis, trauma otak, retradasi mental akibat kerusakan otak yang parah, mengakibatkan cacat fisik, gangguan perilaku, gangguan belajar, dan bahkan sampai meninggal. Kejang demam yang tidak ditangani segera dan berlangsung lama . ebih dari 15 meni. biasanya akan disertai dengan munculnya apnea dan resiko tersedak yang tinggi (Silviyani et al. , 2. Orang tua merupakan orang yang paling dekat dan mengetahui perkembangan anak. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mencegah terjadinya resiko dan komplikasi akibat kejang demam. Tingkat pengetahuan orang tua yang berbeda dapat mempengaruhi penanganan awal kejang demam pada saat anak mengalami kejang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa banyak ibu usia dewasa awal . -30 tahu. memiliki pengetahuan sedang hingga rendah terkait dengan penanganan kejang demam pada anak (Pratiwi, 2. (Shahiba & Sinaga, 2. (Siregar et al. , 2. Selain itu. Resti et al. melaporkan beberapa ibu masih melakukan tindakan yang keliru, seperti memasukkan sendok ke mulut anak dan memberikan kopi. Oleh sebab itu, pengetahuan ibu tentang kejang demam pada anak sangat penting untuk mengurangi hal-hal yang memperparah keadaan anak. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 METODE Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah ibu usia dewasa awal . -30 tahu. yang memiliki anak berusia 0-5 tahun di kecamatan Baiturrahman. Banda Aceh. Pengambilan sampel dilakukan dengan Teknik purposive sampling dengan total 189 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Selain itu, penelitian ini telah lulus uji etik dari Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala. HASIL Karakteristik sampel Tabel 5. 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Ibu di Kecamatan Baiturrahman . Data Demografi Usia Usia dewasa awal . Pendidikan terakhir Perguruan tinggi SMA/SMU SMP Pekerjaan Wirausaha/Wiraswasta Honorer IRT PNS Jumlah anak Pengalaman mengalami situasi anak Kejang Tidak Frekuensi anak mengalami kejang demam Belum Pernah Pernah 1 kali Pernah 2-3 kali Mengikuti penyuluhan kesehatan anak Tidak Mendapat informasi penanganan kejang demam Belum Pernah Berdasarkan table 5. 1, seluruh responden adalah ibu usia dewasa awal 189 ibu . %). Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Mayoritas lulusan SMA/SMU 114 ibu . ,3%) dan bekerja sebagai IRT sebanyak 157 ibu . ,1%). Sebanyak 133 ibu . ,4%) baru memiliki satu anak, ada 178 ibu . ,2%) tidak memiliki pengalaman menghadapi kejang demam dan anak belum pernah mengalami kejang demam. Sebagian besar belum mengikuti penyuluhan yaitu 134 ibu . ,9%), namun 102 ibu . ,0%) telah memperoleh informasi mengenai penanganan kejang Pengetahuan Ibu Tabel 5. 2 Pengetahuan Ibu tentang Upaya Penanganan Kejang Demam pada Anak . Pengetahuan Kurang Cukup Baik Bersadarkan table diatas, menunjukkan bahwa mayoritas ibu berpengtahuan baik sebanyak 153 ibu . ,9%), berpengetahuan cukup ada 26 ibu . ,8%), dan ada 10 ibu . ,3%) berpengetahuan kurang. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengetahuan ibu tentang upaya pertolongan pertama kejang demam pada anak, didapatkan bahwa 80,9% dari jumlah responden yang diteliti memiliki pengetahuan baik. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang dihasilkan melalui proses sensori, terutama mata dan telinga terhadap objek tertentu (Donsu, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Telaumbanua . , dimana 24 responden . ,7%) juga menunjukkan pengetahuan baik terkait upaya pertolongan pertama kejang demam pada anak. Menurut peneliti, pengetahuan yang baik dipengaruhi oleh usia ibu yang dimana pada penelitian ini keseluruhan responden merupakan ibu usia dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Dewasa awal sering dianggap sebagai periode penyesuaian terhadap kehidupan baru dan tuntutan sosial yang berbeda. Pada tahap ini, individu harus beradaptasi dengan peran baru seperti menjadi suami, istri, orangtua, pekerja, mencari nafkah serta mengembangkan keinginan, sikap, dan nilai-nilai yang sesuai dengan tanggung jawab baru yang dimiliki (Putri, 2. Hal ini selaras dengan penelitian Resti et al . yang menyatakan bahwa kemampuan seseorang dalam menerima informasi dan cara mereka berpikir tentang informasi yang diterima dapat dipengaruhi oleh usia. Berdasarkan asumsi peneliti, orang tua yang masih tergolong muda juga memiliki potensi pengetahuan dan kemampuan yang lebih baik, termasuk dalam memberikan upaya pertolongan pertama kejang demam pada anak. Hal ini disebabkan oleh kemampuan usia muda dalam menangkap informasi dengan cepat, kemampuan mereka untuk belajar dari pengalaman mereka sendiri serta pengaruh lingkungan dan perkembangan zaman. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Tingkat Pendidikan juga mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman terhadap informasi yang didapatkan. Menurut Darsini et al . pengetahuan memiliki kaitan erat dengan tingkat pendidikan, dimana diharapkan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin luas pula wawasan yang dimilikinya. Namun, perlu ditekankan bahwa memiliki tingkat pendidikan yang rendah tidak selalu berarti seseorang memiliki pengetahuan yang terbatas. Seiring dengan berjalannya waktu informasi semakin mudah diakses sehingga siapapun bisa memiliki pengetahuan terkait informasi yang diperoleh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan mayoritas ibu berpendidikan menengah atas dengan jumlah 114 . ,3%). Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Souhuwat et al . , yaitu sebanyak 59,0% ibu yang menjadi responden berpendidikan menengah atas. Tingkat pengetahuan juga dipengaruhi oleh informasi yang didapatkan. Diketahui mayoritas responden yaitu 102 ibu . ,0%) sudah pernah mendapatkan informasi tantang kejang demam pada anak. Sumber informasi yang dapat diakses oleh orang tua sekarang sangat beragam, antara lain melalui media massa, media sosial, keluarga, masyarakat, tetangga, sekolah, dan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat, kini memperoleh informasi menjadi lebih cepat dan mudah, sehingga memungkinkan orang tua untuk mengakses pengetahuan dengan lebih efektif dan efisien (Sumantri et al. , 2. Hasil dari penelitian juga menunjukkan bahwa masih ada sebagaian kecil ibu berpengetahuan kurang yaitu 10 ibu . ,3%). Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendidikan, usia, dan pekerjaan, sementara faktor eksternal mencakup lingkungan serta sosial budaya. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh individu dapat beragam tergantung pada faktor-faktor tersebut (Darsini et al. , 2. Oleh karena itu, peneliti menduga bahwa rendahnya pengetahuan pada 5,3% ibu yang menjadi responden disebabkan oleh faktor sosial budaya, karena sebagian kecil ibu masih mempercayakan budaya-budaya terdahulu dalam memberikan tindakan upaya penanganan kejang demam pada anak. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang upaya penanganan pertama kejang demam pada anak yaitu sebanyak 153 ibu . ,0%), berpengetahuan cukup 26 ibu . ,8%), dan berpengetahuan kurang 10 ibu . ,3%). Penelitian ini merekomendasikan kepada puskesmas setempat untuk tetap memberikan pelatihan kepada ibu mengenai penatalaksanaan kejang demam di rumah, agar ibu dapat lebih memahami tata cara yang benar dan tepat dalam menangani kondisi tersebut serta menghindari tindakan yang tidak tepat yang berpotensi memperburuk keadaan anak. DAFTAR PUSTAKA