p-ISSN: 2089-2551 e-ISSN: 2615-143X https://journal. Volume 15. Nomor 4. November 2025 KARAKTERISTIK DEMOGRAFI BERDASARKAN KEJADIAN DIABETES MELITUS DI WILAYAH KERJA BLUD UPT PUSKESMAS PONRE KAB. BULUKUMBA Andi Suswani1. Rizky Amaliah2*. Nirmawati1 Program Studi Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panrita Husada Bulukumba Program Studi Kesehatan Masyarakat. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar Alamat Korespondensi: andirizkyamaliah11@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang prevalensinya terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan riwayat keluarga berperan penting dalam kejadian DM. Puskesmas Ponre memiliki peran strategis dalam deteksi dini dan pengendalian DM di masyarakat. Tujuan: Mengetahui hubungan karakteristik demografi dengan kejadian DM di wilayah kerja BLUD UPT Puskesmas Ponre. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan analisis data sekunder. Populasi penelitian adalah seluruh penderita DM di Puskesmas Ponre . Sampel ditentukan dengan metode simple random sampling menggunakan rumus Slovin, dengan 230 responden. Data dikumpulkan melalui wawancara dan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil: Mayoritas responden berada pada kelompok usia >60 tahun . ,5%) dan 51Ae60 tahun . ,6%), berjenis kelamin perempuan . ,6%), berpendidikan SD . ,7%), dan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga . ,6%). Seluruh responden berasal dari suku Bugis, sebagian besar berstatus kawin . ,5%), dan 60% memiliki riwayat keluarga DM. Kesimpulan: Kejadian DM di wilayah kerja Puskesmas Ponre lebih dominan pada usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja formal, dan memiliki riwayat keluarga DM. Intervensi pencegahan dan pengendalian perlu difokuskan pada kelompok berisiko tinggi melalui edukasi kesehatan, peningkatan aktivitas fisik, skrining rutin, dan pendampingan keluarga. Kata Kunci: Diabetes Melitus. Karakteristik Demografi. Penyakit Metabolik PENDAHULUAN Diabetes melitus adalah sekelompok penyakit yang berkaitan dengan metabolisme, ditandai oleh gejala kadar gula tinggi dalam Hal ini disebabkan oleh masalah dalam produksi insulin dan cara kerja insulin. terdiri dari tipe 1 . utoimun, kebanyakan pada ana. dan tipe 2 . ifestyle, mayoritas kasus DM Faktor risiko tidak dapat diubah termasuk usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga, sedangkan faktor modifikasi meliputi obesitas, pola makan tinggi gula/lemak, dan kurang aktivitas fisik. Usia merupakan faktor penting: prevalensi DM rendah pada usia muda dan meningkat drastis pada usia lanjut. Data global menunjukkan prevalensi DM sebesar 4,4% pada usia 15Ae49 tahun, naik menjadi 15% pada usia 50Ae69 tahun, dan 22% pada usia Ou70 Jenis kelamin juga berpengaruh: secara global prevalensi DM sedikit lebih tinggi pada laki-laki, namun di Indonesia data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi DM . iagnosis dokte. lebih tinggi pada perempuan . ,78%) dibanding laki-laki . ,21%) Tingkat pendidikan dan status sosial-ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan serta akses kesehatan (Imogiri et , 2. Menurut Organisasi International Diabetes Federation (IDF) 2021 menunjukkan bahwa 537 juta orang dewasa kini hidup dengan diabetes di seluruh dunia, peningkatan 16% . sejak perkiraan IDF sebelumnya pada Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Laporan terbaru IDF Diabetes Atlas menyebutkan bahwa prevalensi diabetes global telah meningkat menjadi 10,5%, dengan hampir separuh . ,7%) orang dewasa tidak Proyeksi dari IDF menunjukkan bahwa pada tahun 2045, 783 juta orang dewasa akan menderita diabetes Ae setara dengan satu dari delapan orang dewasa. Ini merupakan peningkatan sebesar 46%, lebih dari dua kali lipat perkiraan pertumbuhan populasi . %) selama periode yang sama. Menurut data SKI (Survei Kesehatan Indonesi. pada tahun 2023, menunjukkan bahwa jumlah kasus diabetes melitus yang didiagnosis oleh dokter pada penduduk semua umur di Indonesia sebanyak 7 % atau . 531 oran. , dengan daerah tertinggi adalah DKI Jakarta sebesar 3. 552 Oran. dan terendah adalah Papua 2 % . 3 Oran. Prevelensi Diabetes Melitus di Sulawesi Selatan 2 % atau 456 orang . Di antara 7 regional di seluruh dunia. Di kawasan Asia Tenggara. Indonesia berada di posisi ketiga dengan tingkat prevalensi sebesar 11,3%. Dari sepuluh negara yang memiliki jumlah penderita diabetes melitus tertinggi. Indonesia menempati urutan ketujuh dengan total 10,7 juta orang. (SKI Pelayanan kesehatan penderita diabetes melitus (DM) dinas kesehatan kabupaten bulukumba tahun 2024 melaporkan 7280 Penderita DM, di antara 21 Puskesmas Prevelensi DM tertinggi pada Puskesmas Caile 793 Penderita dan terendah Puskesmas Balangtaroang Sedangkan puskesmas Ponre sendiri penderita DM sebanyak 441. Laki-Laki 206 dan perempuan Berbagai rendahnya Tingkat pendidikan. Jenis Kelamin. Usia dan urbanisasi pada pasien tersebut sangat Pada penyakit DM (Arania et al. Prevaalensi DM lebih tinggi pada Pendidikan rendah, (Arania et al. , 2. di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung menemukan bahwa pasien dengan Semakin bertambah usia semakin berisko dengan DM. Hasil penelitian lain yang dilakukan Prevalensi DM perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki . 1,78 % vs 1,21 %), (Simanjuntak et al. , 2. Usia: 3,3 % umur 19Ae39, 39,7 % 40Ae59, dan 57 % > 60 tahun. Jenis Kelamin: 62 % perempuan. Pendidikan: Mayoritas lulusan SMU . ,9 %). (Jayanti & Fitriyani, 2. Usia Paling banyak pada usia 45Ae54 tahun . aling serin. Jenis Kelamin 496 dari 677 kasus adalah perempuan. Distribusi antar wilayah di cakupan Puskesmas cukup bervariasi. Distribusi wilayah juga penting, prevalensi DM umumnya lebih tinggi di daerah perkotaan ketimbang pedesaan. (Mohan et al. melaporkan kasus DM tertinggi di perkotaan . ,3%) versus pedesaan . ,1%) dengan OR 2,48. Kebijakan pengendalian DM perlu mempertimbangkan semua faktor demografi ini . sia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, lokas. dalam strategi pencegahan dan pengobatannya. Puskesmas yang berfungsi sebagai layanan kesehatan pertama, memainkan peran yang krusial dalam mendeteksi lebih awal dan mengendalikan diabetes mellitus. Puskesmas Ponre, sebagai salah satu Puskesmas di wilayah (Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selata. , juga menghadapi tantangan serupa dengan peningkatan jumlah kasus DM dalam beberapa tahun terakhir. Ciri-ciri demografis seperti umur, gender, tingkat pendidikan, dan jenis pekerjaan memiliki dampak yang besar terhadap terjadinya diabetes mellitus. Pemahaman terhadap faktor-faktor ini sangat penting dalam merancang strategi promosi kesehatan yang lebih tepat sasaran. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran lengkap mengenai karakteristik demografi pasien DM yang tercatat di Puskesmas Ponre, sehingga dapat dijadikan Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 dasar bagi intervensi kesehatan masyarakat di masa mendatang. Tujuan penelitian ini Mengetahui Hubungan Karakteristik Demografi dengan Kejadian Diabetes Melitus di wilayah kerja BLUD UPT Puskesmas Ponre METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional Study dan analisis data sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami hubungan antara karakteristik demografi dan kejadian Diabetes Melitus di area kerja BLUD UPT Puskesmas Ponre. Populasi dan Teknik Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menderita penyakit Diabetes Melitus di Puskesmas Ponre Sebanyak 441 Orang. Pengambilan sampel acak sederhana, atau yang dikenal dengan simple random sampling, merupakan metode untuk memilih anggota dari suatu populasi secara acak tanpa melihat adanya strata atau tingkatan di dalam populasi tersebut (Setiawan & Gunawan. Untuk menghitung jumlah sampel yang diperlukan, kita bisa menggunakan Rumus Slovin. Rumus ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel minimum ketika kita tidak mengetahui secara tepat tentang tindakan individu atau kelompok dari populasi. Dengan menggunakan rumus Slovin dan menetapkan standar kesalahan sebesar 5%, jumlah sampel yang diperoleh adalah 229,75 Ini dapat dibulatkan menjadi 230 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang diterapkan dalam kajian ini meliputi dua jenis, yaitu Wawancara dan Kuesioner. Wawancara bertujuan untuk memahami ciri-ciri responden. Kuesioner, di sisi lain, berfungsi untuk mengumpulkan karakteristik demografi dan penyakit diabetes Analisis Data Analisis data dilakukan sesuai dengan ukuran skala dan tujuan penelitian dengan bantuan perangkat lunak komputer. Analisis ini menggunakan metode analisis univariat, yang berfungsi untuk mengamati, mendeskripsikan, serta memahami ciri-ciri pasien dengan DM Tipe 2. HASIL Berdasarkan (Tabel . Responden terbanyak ada pada kelompok umur 51Ae60 tahun sebanyak 68 orang . ,6%). Kelompok umur 41Ae50 tahun menempati urutan kedua dengan 48 orang . ,9%). Sementara kelompok 31Ae40 tahun sebanyak 12 orang . ,2%) dan 20Ae 30 tahun hanya 2 orang . ,9%). Ada kategori yang tertulis Au<60Ay berjumlah 100 orang . ,5%) yang kemungkinan merupakan kelompok usia lanjut di atas 60 tahun. Total responden adalah 230 orang. Berdasarkan (Tabel . Sebagian besar dari responden adalah wanita, dengan jumlah 190 orang yang mencakup 82,6%. Sementara itu, jumlah pria yang berpartisipasi hanya 40 orang, yang berarti 17,4%. Berdasarkan data di Tabel 3, mayoritas dari responden memiliki pendidikan setingkat SD, yaitu sebanyak 151 orang atau 65,7%. Untuk pendidikan setara SLTA tercatat 57 orang, yang merupakan 24,8%. Sedangkan untuk SLTP terdapat 16 orang, yaitu 7%. Lalu untuk pendidikan S1 ada 5 orang, yang sebesar 2,2%, dan pendidikan D3 hanya 1 orang, yaitu 0,4%. Menurut Tabel 4, jumlah terbesar pekerjaan adalah Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan total 183 orang atau 79,6%. Diikuti oleh profesi petani yang terdiri dari 28 orang Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 . ,2%). PNS yang mencapai 16 orang . %), dan wiraswasta dengan 3 orang . ,3%). Berdasarkan tabel diatas Seluruh responden berasal dari suku Bugis sebanyak 230 orang . %). Tidak ada responden dari suku lain. Berdasarkan (Tabel . Hampir semua responden berstatus kawin yaitu 222 orang . ,5%), sedangkan yang cerai sebanyak 8 orang . ,5%). Berdasarkan (Tabel . Sebanyak 138 orang . ,0%) memiliki riwayat genetik . terkait penyakit yang diteliti, sementara 92 orang . ,0%) tidak memiliki riwayat genetik. Berdasarkan (Tabel . Jika dikategorikan menjadi dua kelompok, pendidikan rendah (SD. SLTP. SLTA) mencakup 224 orang . ,4%), sedangkan pendidikan tinggi (D3. hanya 6 orang . ,6%). Berdasarkan (Tabel . Dikelompokkan menjadi tidak bekerja (IRT) sebanyak 183 orang . ,6%) dan bekerja sebanyak 47 orang . ,4%). Berdasarkan (Tabel . Responden tidak bekerja berjumlah 130 orang . %), sedangkan yang bekerja 100 orang . %). PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian Diabetes Melitus (DM) di wilayah kerja BLUD UPT Puskesmas Ponre didominasi oleh kelompok usia lanjut, perempuan, pendidikan rendah, dan responden yang tidak bekerja secara formal. Penelitian ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan berperan dalam terjadinya diabetes mellitus (Indrahadi, 2021. Jayanti & Fitriyani, 2021. Tambunan dkk. , 2. Sebagian besar responden berada pada kelompok usia >60 tahun . ,5%) dan 51Ae60 tahun . ,6%). Peningkatan risiko DM pada usia lanjut terkait dengan proses penuaan yang menyebabkan penurunan sensitivitas insulin dan penurunan fungsi sel pankreas (Arania et , 2. Data ini konsisten dengan hasil penelitian (Simanjuntak et al. , 2. yang melaporkan prevalensi tertinggi pada kelompok usia Ou60 tahun. Mayoritas perempuan . ,6%). Tingginya proporsi ini dapat dipengaruhi oleh faktor hormonal, distribusi lemak tubuh, serta kecenderungan aktivitas fisik yang lebih rendah pada perempuan usia lanjut di daerah pedesaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Temuan ini sesuai dengan laporan Riskesdas 2018 yang menunjukkan bahwa terdiagnosis yang lebih tinggi . ,78%) daripada laki-laki . ,21%). Sebagian besar responden memiliki pendidikan rendah, khususnya lulusan SD . ,7%). Pendidikan memengaruhi pengetahuan tentang pencegahan DM dan keterampilan mengelola pola makan maupun aktivitas fisik (Indrahadi, 2. Penelitian Mohan dkk. juga menegaskan bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam mengurangi risiko DM melalui peningkatan literasi kesehatan. Pekerjaan terbanyak adalah Ibu Rumah Tangga . ,6%), diikuti petani . ,2%). Rendahnya aktivitas fisik pada kelompok tidak bekerja secara formal dapat meningkatkan risiko resistensi insulin (Mohan dkk. , 2. Hal ini menunjukkan perlunya intervensi berbasis komunitas untuk meningkatkan aktivitas fisik, khususnya pada kelompok ini. Sebanyak 60% responden memiliki riwayat keluarga dengan DM, yang mengindikasikan adanya kontribusi faktor genetik terhadap kejadian penyakit. Faktor genetik berperan dalam predisposisi terjadinya resistensi insulin maupun disfungsi sel pankreas (Tambunan dkk. , 2. Temuan ini menegaskan bahwa program pencegahan dan pengendalian DM di Jurnal Mitrasehat Volume 15 Nomor 4. November 2025 Puskesmas Ponre perlu difokuskan pada kelompok berisiko tinggi: usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, tidak bekerja formal, dan memiliki riwayat keluarga DM. Strategi yang dapat dilakukan meliputi edukasi gizi, peningkatan aktivitas fisik, skrining rutin, dan pendampingan keluarga. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita Diabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Ponre didominasi oleh kelompok usia 51 tahun ke atas, berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, dan mayoritas bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Selain itu, sebagian besar memiliki riwayat keluarga dengan DM, yang menandakan kuatnya peran faktor genetik. Rendahnya aktivitas fisik akibat jenis pekerjaan yang tidak formal serta keterbatasan pengetahuan kesehatan turut berkontribusi terhadap tingginya kejadian DM di wilayah ini. Rekomendasi penelitan ini, diperlukan penguatan program edukasi kesehatan, peningkatan skrining dini terutama bagi individu dengan riwayat keluarga DM, serta pengembangan kegiatan aktivitas fisik berbasis komunitas untuk menurunkan risiko DM. Upaya promotif dan preventif yang lebih berkesinambungan agar dapat mengurangi beban penyakit dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. DAFTAR PUSTAKA