Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 7 No. 3 Juli 2023 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 58258/jisip. 5233/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju Andi Erlangga Rahmat1. Firdaus W. Suhaeb2 Article Info Article history: Received : 24 May 2023 Publish : 06 July 2023 Universitas Negeri Makassar Abstract This article is entitled AuEmile Durkheim's Perspective on the Division of Labor and Solidarity in Advanced Societies. Ay This type of research is using literature study by examining various sources in processing information. The characteristics of this research are focusing on sources of information from journals, books or other relevant sources. The data collection technique that has been taken by researchers is the documentation technique in data collection. The result of the discussion in this article is that Emile Durkheim's view of the division of labor and solidarity in an advanced society is inseparable from the two types of society, namely, a society with mechanical solidarity . imple societ. and a society with organic solidarity . odern/advanced societ. The division of labor in society with mechanical solidarity does not yet have a complex division of labor. Whereas in a society with organic solidarity it is based on the division of labor. Abstract Artikel ini berjudul AuPerspektif Emile Durkheim tentang Pembagian Kerja dan Solidaritas Masyarakat Maju. Ay Jenis penelitian ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber dalam pengolahan informasi. Ciri-ciri penelitian ini adalah berfokus pada sumber informasi dari jurnal, buku atau sumber lain yang relevan. Teknik pengumpulan data yang telah diambil penelti adalah teknik dokumentasi dalam pengumpulan data. Hasil pembahasan artikel ini adalah pandangan Emile Durkheim mengenai pembagian kerja dan solidaritas masyarakat maju tidak terlepas dari dua bentuk tipe masyarakat yaitu, masyarakat dengan solidaritas mekanik . asyarakat sederhan. dan masyarakat dengan solidaritas organik . asyarakat modern/maj. Pembagian kerja pada masyarakat dengan solidaritas mekanik belum memiliki pembagian kerja yang kompleks. Sedangkan pada masyarakat dengan solidaritas organik di dasarkan pada pembagian This is an open access article under the Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 0 Internasional Keywords: Emile Durkheim Pembagian Kerja Solidaritas Masyarakat Maju Info Artikel Article history: Diterima : 24 Mei 2023 Publis : 06 Juli 2023 Corresponding Author: Andi Erlangga Rahmat Universitas Negeri Makassar Email: astvate@gmail. PENDAHULUAN Di dalam perkembangan khazanah pengetahuan manusia dewasa ini, berbagai hal yang dijadikan sumber acuan atau sudut pandang di dalam pemecahan suatu persoalan kerap juga disebut sebagai paradigma (Wirawan, 2. Paradigma menurut Thomas Khun sebagaimana dikutip oleh (Veeger, 1. adalah pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan di dalam ilmu pengetahuan sosial tertentu. Dalam bahasa Yunani, paradigma berarti membandingkan atau memperlihatkan. Di dalam bidang psikologi, salah satu pengertian paradigma adalah satu model atau pola untuk mendemonstrasikan semua fungsi yang memungkinkan dapat tersajikan. Dalam pengertian lain, paradigma merupakan cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya. Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang diterapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya dalam disiplin intelektual. Dengan demikian, suatu paradigmaberkaitan dengan cara pandang terhadap sesuatu sesuai dengan keyakinan yang dianggapnya benar dan cara pandang tersebut dapat dipengaruhi oleh keadaan dan kondisi lingkungan yang dinamis (Sanjaya & Budimanjaya, 2. 2138 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Sosiologi sendiri dikenal sebagai ilmu yang berparadigma ganda. Ritzer di dalam bukunya yang berjudul Sociologi: A Multiple Paradigm Science . membagi tiga paradigma di dalam sosiologi: . paradigma fakta sosial, . paradigma definisi sosial, dan . paradigma perilaku sosial (Ritzer, 2. Paradigma fakta sosial adalah paradigma yang memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang sifatnya eksternal dan objektif. Karena sifatnya eksternal dan objektif, maka tindakantindakan individu akan dipengaruhi oleh realitas sosial tersebut. Paradigma fakta sosial juga beranggapan bahwa realitas sosial juga diatur oleh hukum-hukum tertentu. Dan tugas ilmu sosial adalah untuk menemukan hukum-hukum yang mengatur realitas sosial. Dengan ditemukannya hukum-hukum tersebut maka orang bisa menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan sosial agar menjadi lebih baik (Purwanto, 2. Teori-teori besar yang berada dalam lingkup paradigma fakta sosial antara lain adalah teori structural fungsional, teori konflik, teori sistem, dan teori-teori sosiologi makro lainnya. Teoriteori ini pada dasarnya menganalisis peran dan pengaruh dari struktur sosial terhadap individu dalam masyarakat, seperti, pranata-pranata sosial, norma sosial, kelas sosial, social control, atau kekuasaan dan lain-lain yang tampak berada di luar individu, akan tetapi dapat mempengaruhi kelangsungan dan mungkin juga perubahan dalam masyarakat yang bersangkutan (Veeger. Salah satu tokoh dalam paradigma fakta sosial yang menjadi uraian di dalam artikel ini adalah Emile Durkheim dengan teori solidaritas sosialnya. Konsep solidaritas sosial merupakan konsep sentral Emile Durkheim dalam mengembangkan teori sosiologi. Durkheim sebagaimana yang dikutip oleh (Lawang, 1. menyatakan bahwa solidaritas sosial merupakan suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut Bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional Bersama. Solidaritas menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan Bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dari hubungan Bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka. Berkaitan dengan perkembangan masyarakat. Durkheim melihat bahwa masyarakat berkembang dari masyarakat yang sederhana menuju masyarakat modern. Salah satu komponen utama masyarakat yang menjadi pusat perhatian Durkheim dalam memperhatikan perkembangan masyarakat adalah bentuk solidaritas sosialnya. Masyarakat sederhana memiliki bentuk solidaritas sosial yang berbeda dengan bentuk solidaritas sosial pada masyarakat maju/modern. Masyarakat sederhana mengembangkan bentuk solidaritas sosial mekanik, sedangkan masyarakat modern mengembangkan bentuk solidaritas sosial organik (Pramono. Di dalam artikel ini akan diuraikan mengenai pandangan atau perspektif dari tokoh sosiologi kenamaan asal Prancis Emile Durkheim tentang pembagian kerja dan solidaritas pada masyarakat maju serta problem-problem yang dihadapi oleh masyarakat maju/modern. KAJIAN TEORI Biografi Singkat Emile Durkheim Emile Durkheim memiliki nama lengkap David Emile Durkheim (Lukes, 1. Beliau dilahirkan di Epinal. Provinsi Lorraine. Prancis Timur pada 15 April 1858 (Damsar, 2. Ayah Durkheim Bernama Molse Durkheim dan ibunya Melanie nee Isidor. Durkheim terlahir sebagai anak bungsu yang memiliki tiga saudara, yaitu Felix. Rosine, dan Celine. Keluarganya sangat kuat memegang tradisi keyahudian. Hal ini terlihat dari silsilah keluarga Durkheim, di mana ayah dan kakek bahkan buyutnya dicatat pernah menjadi Rabbi. Silsilah keluarga AuRabbiAy membuat Durkheim seperti memiliki takdir untuk menjadi Rabi Pula. AuTakdirAy inilah yang membuat Durkheim sejak kecil tergabung dalam sekolah kerabian (Lukes, 1. Tahun 1887. Durkheim menikah dengan seorang Wanita Bernama Louise Dreyfus dan dikaruniakan dua orang anak. 2139 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Durkheim boleh disebut sebagai sosiolog pertama yang sepanjang hidupnya menempuh jenjang ilmu sosiologi yang paling akademis. Emile Durkheim dipercaya telah memperbaiki metode berpikir sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi sosiologi akan menjadi ilmu pengetahuan yang benar katanya apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi (Suadi, 2. Walaupun Durkheim tertarik dengan sosiologi ilmiah, tetapi disiplin itu belum dikenal. Pada rentang tahun 1882 hingga 1887, ia mengajar filsafat di beberapa sekolah provinsi di sekitar Hasratnya terhadap ilmu pengetahuan semakin besar Ketika ia melakukan perjalanan ke Jerman. Di sana ia berkenalan dengan bidang psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt. Tidak lama setelah kunjungannya ke Jerman. Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya. Publikasi-publikasi ini mendapat pengakuan di Departemen Filsafat Universitas Bordeaux pada tahun 1887. Di sana. Durkheim memberikan kuliah ilmu sosial untuk pertama kalinya di seluruh Prancis. Durkheim sangat antusias ketika mengajar materi tentang moral kepada para calon guru sekolah. Baginya, mengajar pelajaran moral kepada calon pendidik adalah tugas mulia karena dapat membenahi kemerosotan moral yang terjadi di sana. Tahun-tahun berikutnya ditandai dengan kesuksesan bagi Durkheim. Pada tahun 1893, ia menerbitkan tesis doktoral dalam bahasa Prancis berjudul The Division of Labor in Society serta tesis dalam bahsa Latin tentang Montesquieu. Buku metodologis utamanya berjudul The Rule of Sociological Method yang terbit pada tahun 1895. Kemudian, hal itu diikuti penerapan metodemetode tersebut dalam studi empiris pada buku Suicide. Pada tahun 1896, secara resmi ia diangkat menjadi professor di Universitas Bordeaux. Pada tahun 1898. Durkheim mendirikan sebuah jurnal yang sangat berpengaruh, yaitu LAoannee Sociologique. Melalui jurnal itu, sebuah lingkaran intelektual tumbuh dan berkembang di mana Durkheim menjadi pusatnya. Melalui lingkaran ini, ia dan gagasan-gagasannya mempengaruhi bidang-bidang seperti antropologi, sejarah, linguistic, termasuk keilmuan yang sejatinya ia benci, yaitu psikologi. Pada tahun 1902, ia diundang oleh Universitas Sorbonne yang merupakan kampus paling terkenal di Seluruh Prancis. Pada tahun1906, ia menjadi professor resmi untuk ilmu pendidikan (Jatmiko, 2. Kemudian, pada tahun 1913, bidang ilmunya diubah menjadi ilmu pendidikan dan sosiologi. Sebelumnya, ia menerbitkan karya lain yang tidak kalah terkenal berjudul The Ele,emtary Forms of Religious Life pada tahun 1912. Emile Durkheim meninggal dunia pada 15 November 1917 pada usianya yang relatif muda, yakni 59 tahun (Ritzer & Goodman, 2. Teori Solidaritas Sosial Durkheim mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil dari sebuah kebersamaan yang disebut dengan solidaritas sosial yaitu suatu keadaan hubungan antara individu dengan individua tau kelompok dengan kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut Bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional Bersama (Johnson, 1. Perubahan dalam pembagian kerja memiliki implikasi yang sangat besar bagi struktur masyarakat. Durkheim sangat tertarik dengan perubahan cara di mana solidaritas sosial terbentuk, dengan kata lain, perubahan cara-cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini. Durkheim membagi solidaritas menjadi dua, yaitu, solidaritas mekanik dan organik. Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanik menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Sedangkan masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organik adalah bertahan Bersama justru dengan perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa semua orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda (Ritzer & Goodman, 2. Durkheim berpendapat bahwa masyarakat dalam masyarakat primitive memiliki kesadaran kolektif lebih kuat yang melingkupi seluruh masyarakat dan seluruh anggotanya, dia sangat diyakini, sangat rigid, dan isinya sangat bersifat religius, yaitu pemahaman, norma dan 2140 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 kepercayaan Bersama. Peningkatan pembagian kerja menyebabkan kesadaran kolektif. Masyarakat modern lebih mungkin bertahan Bersama dengan pembagian kerja dan membutuhkan fungsi-fungsi yang dimiliki orang lain dari pada bertahan dengan kesadaran kolektif Bersama dan kuat. Kesadaran kolektif dibatasi pada Sebagian kelompok, tidak dirasakan terlalu mengikat, kurang rigid, dan isinya adalah kepentingan individu yang lebih tinggo dari pada pedoman moral. Oleh karena itu, meskipun masyarakat organik memiliki kesadaran kolektif, namun dia adalah bentuk yang lemah yang tidak memungkinkan terjadinya perbedaan individual (Ritzer & Goodman, 2. Solidaritas mekanik merupakan dasar kohesi sosial, di sana tingkat perorangan sangat rendah karena setiap individu merupakan satu mikrokosmos yang bersifat kolektif, maka setiap anggota masyarakat semacam ini kesempatan untuk mengembangkan sifat kepribadian khusus sangat terbatas. Artinya bahwa solidaritas ini diperkuat oleh disiplin suatu komunitas berdasarkan kebersamaan moral dan sosial. Dalam rangka seperti ini, tradisi sangat berkuasa, individualisme sama sekali tidak ada dan keadilan ditujukan kepada tunduknya individu kepada kehidupan bersama karena solidaritas ini lahir dari kesamaan-kesamaan yang ada dalam diri anggota masyarakat, ia timbul dari kenyataan bahwa sejumlah keadaan kesadaran dimiliki bersama oleh semua anggota masyarakat itu (Muhni, 1. Dominasi kolektivitas terhadap perorangan terlihat dalam hukuman-hukuman yang dijatuhkan kepada seseorang yang menyimpang dari aturan-aturan atau kode-kode tingkah laku yang ditetapkan oleh kesadaran Durkheim lebih lanjut mengkaji perbedaan antara hukum dalam masyarakat solidaritas mekanik yang ditandai oleh masyarakat sederhana dan hukum dalam masyarakat solidaritas organik yang ditandai oleh masyarakat modern/maju. Masyarakat solidaritas mekanik yang ditandai oleh masyarakat sederhana dibentuk oleh hukum represif . karena anggota masyarakat jenis ini memiliki kesamaan satu sama lain dan arena mereka cenderung sngat percaya pada moralitas bersama, apapun pelangaran terhadap sistem nilai bersama tidak akan dinilai main-main oleh setiap individu karena setiap orang dapat merasakan pelanggaran itu dan sama-sama meyakini moralitas bersama, maka pelanggaran tersebut akan dihukum atas pelanggarannya terhadap sistem moral kolektif. Sedangkan masyarakat solidaritas organik yang ditandai oleh masyarakat modern dibentuk oleh hukum restitutif, di mana seseorang yang melanggar mesti melakukan restitusi untuk kejahatan mereka. Dalam masyarakat seperti ini, pelanggaran dilihat sebagai serangan terhadap individu tertentuatau segmen tertentu dari masyarakat dan bukannya terhadap sistem moral itu sendiri karena kurangnya moral bersama kebanyakan orang tidak melakukan reaksi secara emosional terhadap pelanggaran hukum (Ritzer dan Godman, 2. Berikut ini disajikan table sebagai bahan perbandingan perbedaan antara solidaritas mekanik dan solidaritas organik (Pramono, 2. SOLIDARITAS MEKANIK SOLIDARITAS ORGANIK Pembagian kerja rendah Pembagian kerja tinggi Kesadaran kolektif kuat Kesadaran kolektif rendah Hukum represif dominan Hukum restitutif dominan Individualisme rendah Individualisme tinggi Secara relatif saling ketergantungan Saling ketergantungan yang tinggi Konsensus terhadap pola-pola Konsensus pada nilai-nilai abstrak, normative penting dan umum penting Keterlibatan komunitas dalam Badan-badan kontrol yang menghukum orang yang menyimpang menghukum orang Bersifat primitive atau pedesaan Bersifat industrial perkotaan Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tentang masyarakat tradisional dengan solidaritas mekanik maupun masyarakat modern dengan solidaritas organik mempunyai 2141 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 eksistensi masing-masing yang berhubungan dengan fakta sosial yang terjadi dalam masyarakatmasyarakat tersebut yaitu yang menyangkut bagian luar dari individu dan mengendalikan individu dalam masyarakat-masyarakat tersebut. Fakta sosial itu terwujud dari tindakantindakan individu untuk membentuk masyarakat tersebut yang turut mengendalikan individu dalam membentuk masyarakat-masyarakat itu melalui eksistensinya masing-masing. Fakta sosia itu pula yang mengikatkan adanya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pemberian hukuman atau sanksi dari suatu keadaan yang menyimpang dari apa yang telah diputuskan dan yang ditentukan oleh masyarakat-masyarakat tersebut. Masyarakat tradisional dengan bentuk solidaritas mekanik memiliki aturan-aturan kolektif yang mengatur bagaimana mereka berperilaku dengan hukum represif. Masyarakat modern dengan bentuk solidaritas organik memiliki peraturan-peraturan dan sanksi-sanksi restitutif. Maka, dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern, kelangsungan hidup perorangan maupun kelangsungan hidup masyarakat dalam kesadaran kolektif itu tergantung pada fakta sosial, yang berhubungan langsung dengan peraturan-peraturan dan sanksi-sanksi tersebut, di mana dengan penerapan dari peraturan-peraturan dan sanksi-sanksi tersebut terwujud solidaritas-solidaritas sosial karena masing-masing konsisten denga napa yang telah diputuskan dan yang ditentukan oleh masyarakat tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini berfokus mengenai perspektif Emile Durheim tentang pembagian kerja dan solidaritas masyarakat maju. Jenis penelitian ini adalah menggunakan studi kepustakaan dengan menelaah berbagai sumber dalam pengolahan informasi. Ciri-ciri penelitian ini adalah berfokus pada sumber informasi dari jurnal, buku atau sumber lain yang relevan. Teknik pengumpulan data yang telah diambil penelti adalah teknik dokumentasi dalam pengumpulan data. PEMBAHASAN Emile Durkheim sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap permasalahan masyarakat maju. Durkheim membedakan dua bentuk masyarakat berdasarkan bentuk solidaritasnya, yaitu masyarakat dengan solidaritas mekanik dan dengan masyarakat dengan solidaritas organik. Masyarakat dengan solidaritas mekanik adalah masyarakat yang belum memiliki pembagian kerja yang kompleks. Pembagian kerja yang ada hanya atas dasar jenis kelamin dan atas dasar umur. Misalnya laki-laki bekerja berat di luar rumah dan perempuan melakukan pekerjaan rumah dan pekerjaan ringan di sekitar rumah, anak-anak membantu orang tua dan orang yang tua melakukan pekerjaan yang utama. Masyarakat dengan solidaritas mekanik solidaritasnya mendasarkan pada kesamaan, terutama kesamaan pekerjaan. Karena kesamaan pekerjaan inilah maka warga masyarakat juga memiliki kesamaan dalam cara bertindak, berperasaan dan berpikir. Kesamaan-kesamaan inilah yang menyebabkan mereka menjadi solider atau menyatu. Masyarakat dengan solidaritas organik adalah masyarakat yang solidaritasnya didasarkan pada pembagian pekerjaan, jadi dalam masyarakat ada spesialisasi Perbedaan-perbedaan pekerjaan menyebabkan mereka saling tergantung satu dengan yang lain karena masing-masing masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Saling ketergantungan inilah yang menyebabkan mereka menjadi solider atau menjadi satu. Masyarakat dengan industri yang telah maju merupakan masyarakat dengan bentuk solidaritas Pembagian kerja dalam masyarakat dengan solidaritas organik tidak hanya terjadi dalam pabrik atau perusahaan tetapi juga dalam masyarakat secara keseluruhan. Misalnya, dalam masyarakat ada kelompok orang yang bekerja sebagai pedagang, sebagai pegawai, sopir mobil dan sebagainya. Antara pedagang dan sopir mobil ada saling ketergantungan, pedagang membutuhkan jasa angkutan dan sopir mobil membutuhkan barang kebutuhan saehari-hari yang disediakan oleh pedagang. Pedagang dan sopir mobil tergantung pada pelayanan yang diberikan oleh pegawai pemerintah atau pegawai bank (Purwanto, 2. Durkheim mengatakan bahwa dalam masyarakat industri yang telah maju bisa menyebabkan para anggotanya menjadi individualis karena tidak lagi memiliki kesadaran bersama. 2142 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Individualisme inilah yang bisa menyebabkan terjadinya tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma sosial. Kalau banyak orang yang melanggar norma akan tercipta keadaan anomie, yaitu keadaan tanpa norma yang pada akhirnya bisa menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Hal inilah yang menimbulkan kekhawatiran Durkheim. Meski demikian. Durkheim juga memiliki perasaan optimis bahwa dalam masyarakat industri yang maju akan muncul kelompok-kelompok di mana para anggota masyarakat menjadi anggotanya. Kelompokkelompok dalam masyarakat industri maju bisa berupa kelompok-kelompok yang berdasarkan kesamaan pekerjaan. Misalnya kelompok buruh, kelompok pekerja angkutan, kelompok pedagang, kelompok yang memiliki minat yang sama dan sebagainya. Dengan menjadi anggota kelompok maka individu dalam masyarakat industri akan merasa lebih aman, mendapat perlindungan, mendapatkan kekuatan, dan individu tidak merasa hidup sendiri. Lewat kelompok-kelompok kecil yang ada di masyarakat norma-norma sosial dapat ditegakkan dan lewat kelompok itu pula sanksi sosial diberikan pada yang melakukan penyimpangan. Dalam kelompok-kelompok kecil inilah maka keinginan-keinginan egois individu bisa ditekan atau Lewat kelompok-kelompok inilah norma-norma masyarakat terjaga keutuhannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok-kelompok inilah yang menjamin adanya keutuhan Terjadinya perubahan sosial yang ditandai oleh meningkatnya pembagian kerja dan kompleksitas sosial dapat juga dilihat sebagai perkembangan evolusi model linear (Lawang. Kecenderungan sejarah pada umumnya dalam masyarakat Barat adalah ke arah bertambahnya spesialisasi dan kompleksitas dalam pembagian kerja. Perkembangan ini mempunyai dua akibat penting. Pertama, dia merombak kesadaran kolektif yang memungkinkan berkembangnya individualitas. Kedua, dia meningkatkan solidaritas organik yang didasarkan pada saling ketergantungan fungsional. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang maju ini sebagai perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Ikatan yang mempersatukan individupada solidaritas mekanik adalah adanya kesadaran Kepribadian individu diserap sebagai kepribadian kolektif sehingga individu saling menyerupai satu sama lain. Pada solidaritas organik, ditandai oleh heterogenitas dan individualitas yang semakin tinggi, bahwa individu berbeda satu sam alain. Masing-masing pribadi mempunyai ruang gerak tersendiri untuk dirinya, di mana solidaritas organik mengakui adanya kepribadian masing-masing orang. Karena sudah terspesialisasi dan bersifat individualistik, maka kesadaran kolektif semakin kurang. Integrasi sosial akan terancam jika kepentingan-kepentingan individu atau kelompok merugikan masyarakat secara keseluruhan dan kemungkinan konflik dapat terjadi (Pramono, 2. Durkheim melihat bahaya lain yang mungkin muncul dalam masyarakat industri maju, yaitu bahaya dari apa yang disebut Durkheim sebagai pembagian kerja paksaan. Pembagian kerja paksaan adalah pembagian kerja di mana orang atau pekerja menduduki posisi pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Hal seperti ini bisa menyebabkan individu tidak bisa menghasilkan hasil kerja yang terbaik. Pembagian kerja paksaan ini bisa terjadi karena kesulitan individu untuk mendapatkan pekerjaan atau karena praktik kolusi (Purwanto, 2. Hal inilah yang melatarbelakangi munculnya teori Emile Durkheim ini. Durkheim melihat bahwa masyarakat tidaklah selalu homogen dan juga tidak drastis dalam perkembangannya. Dari sini. Durkheim melihat bahwa pecah dan berkembangnya kesatuan-kesatuan sosial merupakan akibat langsung dari berkembangnya pembagian kerja dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebagaimana diceritakan di bagian awal bukunya. Durkheim risau dengan banyaknya fenomena bunuh diri, sementara opini yang ada dalam masyarakat pada saat itu berkeyakinan bahwa Aubunuh diri itu akibat penyakit kejiwaanAy (Wirawan, 2. Kesimpulan Pandangan Emile Durkheim mengenai pembagian kerja dan solidaritas masyarakat maju tidak terlepas dari dua bentuk tipe masyarakat yaitu, masyarakat dengan solidaritas mekanik . asyarakat sederhan. dan masyarakat dengan solidaritas organik . asyarakat modern/maj. 2143 | Perspektif Emile Durkheim Tentang Pembagian Kerja Dan Solidaritas Masyarakat Maju (Andi Erlangga Rahma. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Pembagian kerja pada masyarakat dengan solidaritas mekanik belum memiliki pembagian kerja yang kompleks. Sedangkan pada masyarakat dengan solidaritas organik di dasarkan pada pembagian pekerjaan. Masyarakat maju dengan solidaritas organiknya serta pembagian pekerjaan dilihat oleh Emile Durkheim sebagai bahaya yang disebutnya sebagai pembagian kerja paksaan. Yang dimaksud dengan pembagian kerja paksaan adalah pembagian kerja di mana orang atau individu menduduki posisi pekerjaan tidak sesuai dengan bakat dan minat orang tersebut yang pada tahap serius yang juga dikhawatirkan Emile Durkheim adalah munculnya orang yang bunuh diri. UCAPAN TERIMAKASIH Dalam penyusunan jurnal ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: Dr. Firdaus W. Suhaeb. Si. sebagai dosen pengampu mata kuliah analisis perubahan . Penulis juga berterimakasih kepada dewan redaksi jurnal mandala yang membantu dalam mereview artikel ini, sehingga dapat dipublikasikan. DAFTAR PUSTAKA