Jurnal Ilmiah Pamenang - JIP E-ISSN : 2715-6036 P-ISSN : 2716-0483 DOI : 10. Vol. 5 No. Desember 2023, 1 - 8 FAKTOR KEJADIAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS ELLY UYO KOTA JAYAPURA FACTORS OF SEXUALLY TRANSMITTED INFECTIONS (STIS) AMONG PREGNANT WOMEN AT ELLY UYO HEALTH CENTER IN JAYAPURA CITY Gratiaregina Mappa1*. Dolfinus Y. Bouway2. Inriyanti Assa3. Agustina R. Yufuai4. Katarina L. Tuturop5. Konstantina Pariaribo6 1,2,3,5,6 Jurusan Epidemiologi. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Cenderawasih. Papua. Indonesia 4 Jurusan Promosi Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Cenderawasih. Papua. Indonesia *Korespondensi Penulis : gratiareginamappa@gmail. Abstrak Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan infeksi yang ditularkan lewat hubungan intim baik secara vaginal, anal serta oral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura. Jenis penelitian ini bersifat analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional, penelitian ini untuk melihat hubungan variabel independen . mur, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status pernikahan dan suk. terhadap variabel dependen . ejadian IMS). Populasi dalam penelitian ini sebanyak 416 orang dan sampel sebanyak 77 responden yang melakukan pemeriksaan IMS dengan teknik sampling Accidental Sampling. Hasil penelitian di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura terdapat 33 . ,9%) ibu hamil yang positif IMS dan sebanyak 44 . ,1%) ibu hamil yang negatif IMS. Terdapat hubungan antara umur (A-value = 0,000 < 0,. , tingkat pendidikan (A-value = 0,001 < 0,. dengan kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo. Tidak terdapat hubungan pekerjaan ibu (A-value = 0,585 > 0,. , penghasilan (A-value = 0,469 > 0,. , status pernikahan (A-value = 1,000 > 0,. , suku (Avalue = 0,133 > 0,. dengan kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo. Petugas kesehatan disarankan dapat meningkatkan sarana sumber edukasi promosi kesehatan reproduksi dan informasi mengenai infeksi menular seksual bagi masyarakat terutama ibu hamil berdasarkan faktor risiko seperti usia dan pendidikan. Kata kunci : Faktor. Karakteristik. IMS. Ibu Hamil Abstract Sexually transmitted infections (STI. are infections transmitted through vaginal, anal and oral This study aims to determine the factors associated with the incidence of STIs in pregnant women at the Elly Uyo Health Center in Jayapura City. This type of research is quantitative analytic with Cross Sectional approach, this research is to see the relationship of independent variables . ge, education level, occupation, income, marital status and ethnicit. to the dependent variable (STI incidenc. The population in this study were 416 people and a sample of 77 respondents who conducted STI examinations with Accidental Sampling sampling technique. The results of the study at the Elly Uyo Health Center. Jayapura City, there were 33 . 9%) pregnant women who were STI positive and 44 . 1%) pregnant women who were STI negative. There was an association between age (A-value = 0. 000 < 0. , education level (A-value = 0. 001 < 0. with the incidence of STIs in pregnant women at the Elly Uyo Health Center. There was no association between maternal occupation (A-value = 0. 585 > 0. , income (A-value = 0. 469 > 0. , marital status (A-value = 1. 000 > 0. , ethnicity (A-value = 0. 133 > 0. with the incidence of STIs in pregnant women at Elly Uyo Health Center. Health workers are advised to improve educational resources for reproductive health promotion and information about sexually transmitted infections for the community, especially pregnant women based on risk factors such as age and education. Keywords: Factors. Characteristics. STIs. Pregnant Women Submitted Accepted Website : 16 September 2023 : 14 November 2023 : jurnal. id | Email : jurnal. pamenang@gmail. Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. Pendahuluan Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan infeksi yang ditularkan lewat hubungan intim baik secara vaginal, anal serta IMS diakibatkan oleh mikroorganisme lebih dari 30 bakteri, virus, parasit, jamur (WHO, 2. IMS dapat dikelompokkan menjadi 2 berdasarkan penyembuhannya ialah yang dapat disembuhkan seperti Sifilis. Gonore. Klamidia, dan Trikomoniasis serta yang tidak bisa disembuhkan namun bisa diringankan melalui pengobatan seperti Hepatitis B. Herpes. HIV, dan HPV (LITBANG, 2. WHO menyampaikan dalam setiap harinya, ada 1 juta orang lebih yang terinfeksi IMS. Diperkirakan pada tahun 2020 terdapat 374 juta kasus baru, 156 juta kasus Trikomoniasis, 129 juta kasus Klamidia, 82 juta kasus Gonore, dan 7,1 juta Sifilis (WHO. Penyakit IMS memiliki dampak serius bagi kesehatan dan kehidupan anak-anak serta orang dewasa. Lebih dari 350 juta janin mengalami kematian akibat Sifilis setiap tahunnya, bahkan peningkataan risiko kematian dini bertambah pada 200 juta bayi. Menyatakan di negara kawasan Afrika infertilitas banyak terjadi akibat IMS Gonore dan Klamidia (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual Triwulan IV Tahun 2020 Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dilaporkan Pada tahun 2020 IMS paling banyak ditemukan adalah Servisitis 235 diikuti Sifilis Dini yaitu 13. 506 kasus dan Gonore 7. Kasus penyakit infeksi menular seksual juga banyak ditemukan pada ibu hamil dengan laporan sebagai berikut ibu hamil positif HIV sebanyak 6. 094 dan ibu hamil yang positif Sifilis 4. 198 kasus (Kemenkes RI, 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia . menerapkan strategi pencegahan melalui kampanye yang diberi Triple Eliminasi. Dengan penanggulangan secara preventif. WHO berpendapat bahwa angka penularan dapat diturunkan dari 15% menjadi di bawah 5%. Program ini terdiri atas beberapa kegiatan seperti pelaksaan tes HIV. Hepatitis B, dan Sifilis ketika pemeriksaan ibu hamil. Pencegahan tersebut akan lebih baik lekas dicanangkan agar tidak terjadi infeksi ketiga yaitu dari ibu ke bayi akibat dari komplikasi (Gonzalez , 2. IMS berdampak bagi bayi pada gangguan imunitas yang sangat rendah. Hal ini disebabkan bayi telah terjangkit HIV lebih Selain itu, pada kondisi ibu hamil pengidap Hepatitis B dapat mengakibatkan kelahiran prematur, berat badan di bawah ratarata (BBLR), gangguan kongenital, hingga Hal ini juga menyebabkan bayi lebih rentan mengidap penyakit liver ringan sampai berat (Dibba, 2. Pada kasus Ibu hamil terjangkit Sifilis bayi mengalami kematian setelah lahir sekitar 40%. Sifilis kongenital yang diidap bayi lebih berisiko akan kerusakan tulang, pembengkakan liver dan limpa, anemia berat, jaundice hingga gangguan saraf yang berujung pada kebutaan atau tuli serta meningitis atau ruam kulit (CDC, 2. Permasalahan IMS di Kota Jayapura berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua memperlihatkan pada tahun 2021 terdapat 2. 127 kasus ibu hamil yang positif IMS dan pada tahun 2022 mengalami penurunan sebanyak 932 kasus. Sedangkan data dari Dinas Kesehatan Kota Jayapura pada tahun 2022 jumlah kasus IMS pada ibu hamil 139 kasus Puskesmas Elly Uyo merupakan salah satu puskesmas yang memiliki jumlah kasus tertinggi di Kota Jayapura dari 14 puskesmas yang ada. Dengan memperlihatkan jumlah kasus IMS pada ibu hamil yaitu pada tahun 2020 terdapat 24 kasus, dan mengalami penurunan kasus pada tahun 2021 sebanyak 16 kasus dan kembali mengalami peningkatan pada tahun 2022 sebanyak 33 kasus. Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul AuFaktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada Ibu Hamil Puskesmas Elly Uyo Kota JayapuraAy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura. Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang melakukan pemeriksaan IMS di Puskesmas Elly Uyo sebanyak 416 orang. Sedangkan jumlah sampel 77 responden yang Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. melakukan pemeriksaan IMS yang diambil menggunakan teknik sampling Accidental Sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner yang di sebarkan kepada ibu hamil dan melihat rekam medis untuk mengetahui status IMS ibu. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Chi-Square. Hasil Analisis Univariat Tabel 1. Distribusi kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Bulan JuniJuli Tahun 2023 Status IMS n=77 (%) Positif Negatif Berdasarkan tabel 1. di ketahui bahwa 77 ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura didapatkan 33 . ,9%) ibu hamil yang positif IMS, dan sebanyak 44 . ,1%) ibu hamil yang negatif IMS. Tabel 2. Distribusi karakteristik ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura Karakteristik n=77 (%) Umur 17-25 Tahun 26-35 Tahun Tingkat Rendah Pendidikan Tinggi Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Penghasilan < UMR Ou UMR Status Nikah Pernikahan Tidak Nikah Suku Papua Non Papua Berdasarkan tabel 4. 2 menunjukkan bahwa distribusi frekuensi responden menurut umur terbanyak pada kelompok umur 26-35 tahun sebanyak 43 . ,8%) responden, dan pada kelompok umur 17-25 tahun sebanyak 34 . ,2%) responden. Tingkat pendidikan responden yang terbanyak adalah SMA sebanyak 35 . ,5%) responden. S1 sebanyak 29 . ,7%) responden. D3 sebanyak 7 . ,1%) responden. SMP sebanyak 5 . ,5%) responden dan paling sedikit adalah SD sebanyak 1 . ,3%) responden. Pekerjaan responden yang terbanyak yakni tidak bekerja sebanyak 55 . ,4%) responden, yang bekerja sebanyak 22 . ,6%) responden. Penghasilan responden < UMR sebanyak 58 . ,3%) responden, dan Ou UMR sebanyak 19 . ,7%) responden. Status pernikahan responden paling banyak yang menikah sebanyak 62 . ,5%), tidak menikah sebanyak 15 . ,5%) responden. Responden yang memiliki suku Papua sebanyak 42 . ,5%), dan yang memiliki suku Non Papua sebanyak 35 . ,5%) responden. Analisis Bivariat Analisis bivariat menggunakan uji ChiSquare dilakukan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik dengan kejadian IMS. Karakteristik terdiri dari umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status pernikahan, suku. Hasil ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Tabel 3. Hubungan antara variabel dengan kejadian IMS pada ibu hamil di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura Variabel 95% CI (LL-UL) Umur 0,000 6,90 2,51-18,91 Tingkat 0,001 5,46 2,00-14,94 Pendidikan Pekerjaan 0,585 1,50 0,55-4,05 Penghasilan 0,469 0,59 0,20-1,67 Status 1,000 1,15 0,36-3,64 Pernikahan Suku 0,133 2,30 0,89-5,94 Pembahasan Hubungan Umur Dengan Kejadian IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 34 responden pada kelompok umur 17-25 tahun, yang menderita IMS sebanyak 23 . ,6%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 11 . ,4%) responden, namun dari 43 responden pada kelompok umur 26-35 tahun, terdapat 10 . ,3%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 33 . ,7%) responden. Hasil Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu hamil. Responden yang berumur 17-25 tahun berpeluang 6,9 kali Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. terkena IMS dibandingkan responden yang berumur 26-35 tahun. Menurut Simbolon mengemukakan bahwa wanita yang berusia di bawah 23 tahun berisiko lebih tinggi untuk mengalami IMS dibandingkan wanita dengan usia yang lebih dari 25 tahun dengan nilai pvalue 0,000. Wanita yang lebih muda lebih berisiko untuk mengalami IMS karena faktor biologis yang belum matang dan lebih rentan melakukan perilaku berisiko seksual seperti memiliki banyak pasangan dan negosiasi untuk menggunakan kondom rendah. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Refti . mengatakan bahwa ada hubungan secara signifikan antara umur dengan kejadian IMS di klinik VCT dengan nilai p-value 0,001. Umur menjadi salah satu aspek sosial dalam status kesejahteraan individu. Secara keseluruhan memperlihatkan hubungan umur dengan kesehatan, seperti kontrasnya aktivitas seks antara orang dewasa dibandingkan yang lebih muda (Mubarak, 2. Umur yang lebih dari 18 tahun menurut Godwil . merupakan umur yang tepat untuk menikah, karena pada umur ini sudah dapat menyelesaikan sekolahnya sampai SMA, sudah mengantongi melakukan pemeriksaan kehamilan, persalinan dan nifas. Mubarik . alam Dartiwen, 2. , mengatakan umur penting untuk diperhatikan, karena makin muda umur seseorang makin rawan tertular IMS. Pada ibu hamil remaja tergolong berisiko tinggi untuk terinfeksi IMS karena sel-sel organ reproduksi belum matang. Dalam penelitian epidemiologi angka menunjukkan hubungan dengan umur dalam mempelajari masalah kesehatan, salah satu variabel yang penting karena ada kaitannya dengan kebiasaan hidup seseorang, misalnya dalam hal perilaku hubungan seksual akan berbeda antara umur yang dewasa dengan Menurut penelitian Astuti . Umur produktif memiliki risiko tinggi mengalami IMS sebab pada umur ini tengah aktif melakukan berbagai macam aktivitas seksual, tidak terkecuali bagi orang sudah terpapar IMS. Produksi hormone seksual yang telah matang, di umur ini juga menjadi faktor seksual tidak terkontrol aktivitas seks yang dapat berdampak buruk dan dapat menjadi awal penyebaran IMS. Secara biologis, hal ini dapat terjadi selama aktivitas seksual dengan cairan sprema terinfeksi IMS. Meskipun hanya bagian terluar yang bersentuhan, hal tersebut dapat membuat perempuan terinfeksi IMS. Hasil penelitian didapatkan responden pada kelompok umur 15-19 tahun menurut kategori umur Badan Pusat Statistik . remaja yang melalukan hubungan seksual diluar pernikahan yang mengakibatkan kehamilan diusia dini dan dapat membawa risiko yang sangat signifikan terhadap kejadian IMS. Tingkat kesadaran dan pemahaman remaja perlu mengetahui dengan baik tentang pentingnya untuk menghindari pergaulan bebas terutama seks bebas yang juga memicu terjadinya penularan penyakit seksual, hamil diluar pernikahan (Eby, 2. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Kejadian IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 41 responden pada kelompok tingkat pendidikan rendah, yang menderita IMS sebanyak 25 . ,0%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 16 . ,0%) responden, namun dari 36 responden pada kelompok tingkat pendidikan tinggi, terdapat 8 . ,2%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 28 . ,8%) Hasil penelitian di Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu Responden yang memiliki pendidikan rendah berpeluang 5,46 kali terkena IMS dibandingkan responden yang memiliki pendidikan tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dartiwen . , menyatakan bahwa ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian IMS dengan nilai p-value 0,034. Ibu hamil dengan pendidikan rendah berisiko untuk terkena IMS dibandingkan dengan ibu hamil yang berpendidikan tinggi semakin tinggi pendidikan maka semakin luas wawasannya untuk memperoleh informasi tentang IMS. Dari hasil penelitian tingkat pendidikan ibu yang terendah adalah SD sebanyak 1 responden . ,3%). SMP sebanyak 5 responden . ,5%). SMA sebanyak 33 responden . ,5%). D3 sebanyak 7 responden . ,1%). S1 sebanyak 29 responden . ,7%). Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. Menurut penelitian Refti . , ada hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian IMS dengan nilai p-value 0,006. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku seksual seseorang sehingga sangat berasosiasi kuat dengan kejadian IMS. Kerentanan seseorang karena rendahnya tingkat pendidikan membuat seseorang mengalami defisit informasi tentang IMS Padahal tanpa tahu cara penularan dan pencegahan yang tepat, mustahil seseorang dapat melindungi diri dari risiko tertular IMS. Pendidikan menjadi salah satu aspek penting untuk seseorang dapat menentukan Terlebih banyaknya informasi di masa Sekolah menjadi salah satu sarana dalam memperoleh informasi dan wawasan. Hal tersebut menyampaikan semakin tingginya suatu pendidikan, daya muat penyerapan informasinya juga semakin baik (Aryani. Penerimaan informasi pada seseorang yang berpendidikan rendah dirasa sedikit sulit, sehingga pengetahuan mengenai dampak suatu permasalahan yang dihadapi kurang khususnya penyakit IMS. Pada kalangan berpendidikan rendah lebih condong menganggap penyakit tersebut sebagai penyakit biasa yang dapat membiarkannya begitu saja. Berbeda dengan seseorang berpendidikan tinggi, dimana cakupan memperoleh pengetahuan dan informasi lebih luas dan dapat mengubah perilaku untuk menghindari perilaku seksual yang berisiko (Askhori, 2. Faktor pendidikan kesehatan dalam bidang medis, masuk dalam klasifikasi faktor predisposisi individu yang berguna dalam memanfaatakan fasilitas kesehatan karena terdapat komparasi wawasan mengenai kesehatan, sikap juga nilai dari suatu individu (Notoatmodjo, 2. Hal tersebut sesuai banyaknya pengetahuan yang didapat oleh seseorang juga berdampak pada pola perilaku Risiko terjangkitnya seseorang akibat tingkat pendidikan rendah yang didapat mengenai IMS baik dari cara penularan hingga penanggulangannya (Suwandani, 2. Hubungan Pekerjaan Dengan Kejadian IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 22 responden pada kelompok bekerja, yang menderita IMS sebanyak 11 . ,0%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 11 . ,0%) responden, namun dari 55 responden pada kelompok tidak berkerja, terdapat 22 . ,0%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 33 . ,0%) responden. Hasil penelitian di Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pekerjaan dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu hamil. Responden yang bekerja berpeluang 1,5 kali terkena IMS dibandingkan responden yang tidak bekerja. Hasil penelitian Dartiwen . , juga menyatakan tidak menemukannya hubungan pekerjaan dengan insiden infeksi menular seksual pada ibu hamil. Faktor tersebut disebabkan pekerjaan ibu rumah tangga tidak terlalu berisiko tinggi terjangkit IMS, karenanya tidak ditemukan hubungan yang Sedangkan menurut Refti . , pekerjaan seseorang dapat menjadikan dirinya pada posisi atau kelompok yang memiliki risiko terhadap penularan IMS salah satu hal yang melatarbelakangi perempuan bekerja dengan risiko tinggi seperti pekerja seks komersial disebabkan persaingan pekerjaan yang semakin ketat kelompok orang-orang yang suka berganti-ganti pasangan seks, berisiko tinggi untuk tertular IMS. Peran pekerjaan cukup berpengaruh guna melihat tingkatan pendidikan individu. Pekerjaan lebih condong membuka informasi yang lebih luas baik secara cetak maupun Termasuk informasi yang menjadi sebuah pengalaman baru dari rekan sebaya (Utami, 2. Setiap pekerjaan membutuhkan sebuah dedikasi bagi pelakunya, mengingat pekerjaan membutuhkan waktu, tenaga, dan pikiran guna memenuhi target yang dicapai Namun pada pekerjaan tertentu terdapat pekerjaan memiliki risiko tinggi terjangkit IMS seperti pekerja seks komersial, yang (Carmelita, 2. Hubungan Penghasilan Dengan Kejadian IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 58 responden pada kelompok penghasilan < UMR, yang menderita IMS sebanyak 23 Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. ,7%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 35 . ,3%) responden, namun dari 19 responden pada kelompok penghasilan Ou UMR, terdapat 10 . ,6%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 9 . ,4%) responden. Hasil Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan ibu dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu Hasil penelitian yang dilakukan oleh Masni . , mengatakan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara sosial ekonomi dengan kejadian IMS dengan nilai pvalue 0,480. Sosial ekonomi tidak berisiko terhadap kejadian IMS, artinya kurangnya status ekonomi tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian infeksi menular seksual. IMS sering ditemukan pula pada kelompok dengan status sosial ekonomi rendah atau Ekonomi yang rendah membuat seseorang merasa terdorong untuk melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan ratarata keluarga dari suatu keluarga yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan seluruh anggota keluarga tersebut. Pendapatan yang dimaksud adalah suatu tingkat penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan. Penghasilan keluarga merupakan faktor memanfaatkan pelayanan Kesehatan. Tingkatan seseorang dalam masyarakat dapat dilihat dari status ekonominya. Hal tersebut mengacu pada unsur kekayaan dalam upaya pemenuhan kehidupan sehari-hari. Menurut pemaparan Masni, status ekonomi memiliki risiko atas insiden IMS. Juga dijelaskan bahwa cukup banyak pula dijumpai di kalangan rendah. Bahwa kondisi tersebut mengharuskan mereka berusaha lebih dalam memenuhi keperluan hidupnya (Masni, 2. Tingkat pendapatan menurut House . , berkaitan dengan proses pemutusan kesehatan dan kekuasaan dalam menggunakan perawatan dan pelayanan kesehatan ibu dengan kontribusi pelayanan kesehatan yang ada. Rendahnya suatu pendapataan juga menjadi faktor terabainya sebuah perawatan bagi Sehingga hal tersebut dapat meningkatkan peluang kematian ketika mengandung atau persalinan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Askhori . , mengataksn tidak signifikan antara status ekonomi dengan kejadian IMS disebab variabel ekonomi lebih merujuk pada Sedangkan penelitian Askhori tidak memasukkan pekerjaan wanita dalam Sehingga cukup sulit memberikan simpulan berdasarkan sumber ekonomi wanita. Negara Indonesia sendiri temasuk dalam negara yang berpengasilan menengah Dengan kondisi ekonomi dalam bidang pelayanan kesehatan masih belum dikatakan baik, tidak hanya karena meningkatnya risiko penularan penyakit IMS namun kurang maksimalnya akses pelayanan kesehatan juga menjadi penyebab terbatasnya pengobatan dan penanggulangan terhadap penyakit IMS (Askhori, 2021. Dini, 2. Hubungan Status Pernikahan Dengan IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 62 responden pada kelompok nikah, yang menderita IMS sebanyak 27 . ,5%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 35 . ,5%) responden, namun dari 15 responden pada kelompok tidak menikah, terdapat 6 . ,0,2%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 9 . ,0%) responden. Hasil Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status pernikahan dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu hamil. Responden yang sudah menikah 1,15 IMS dibandingkan responden yang belum nikah. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dachlia . , mengatakan bahwa tidak ada hubungan dari kejadian IMS dengan status Pasangan status pernikahan tentu berbeda dengan pasangan yang belum Status pernikahan memberikan keuntungan pada pola perilaku aman aktivitas Hanya saja lebih memperhatikan mengenai pemakaian alat pengaman . terlebih jika masing-masing pasangan cukup terbuka dalam kompromi seksual. Puspita . , berpendapat bahwa pengidap IMS lebih didominasi oleh individu yang belum menikah. Penyebabnya adalah pemenuhan hasrat seksual bagi individu yang tidak menikah lebih tinggi daripada yang telah Hal tersebut dapat menimbulkan pola Faktor Kejadian Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada . (Gratiaregina Mappa, dk. perilaku seks berisiko tinggi dan dapat menjadi sumber penularan IMS. Menurut Refti . , penularan penyakit IMS biasanya terjadi karena seringnya seseorang melakukan hubungan seksual, ikatan perkawinan yang dilakukan seseorang seharusnya dianggap sebagai ikatan agung yang harus dijaga, oleh karenanya status menikah menjadi penghalang seseorang untuk melakukan hubungan seksual secara bebas, namun jika statusnya tidak menikah dapat lebih mudah membawanya kepada perilaku seksual yang tidak mempertimbangkan risiko tertular IMS. Pemerintah mengajurkan pemakaian alat pengaman . guna menanggulangi dan menurunkan persebaran IMS. Namun kondom sendiri tidak terlalu efektif dalam menghambat IMS. Kondom menurunkan peluang terinfeksi penularan IMS. Pencegahan yang lebih baik adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan termasuk pada pasangan suami istri (Fitriani, 2. perbedaan budaya antara di desa dan perkotaan sehingga dapat mempengaruhi sikap dalam menerima informasi (Efren, 2. Risiko yang lebih rentan terjadi pada umur produktif dibanding umur lansia. Hal ini diakibatkan kurangnya pencegahan dalam pola perilaku seks yang tidak aman. Namun, ditemukan juga beberapa kasus pada umur lansia atas aktivitas seksual berisiko (Mustamu, 2. Hubungan Suku Dengan Kejadian IMS Berdasarkan Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura, diketahui 45 responden yang berasal dari suku Papua, yang menderita IMS sebanyak 23 . ,1%) responden dan yang tidak menderita IMS sebanyak 22 . ,9%) responden, namun dari 32 responden yang berasal dari suku Non Papua, terdapat 10 . ,2%) responden yang menderita IMS dan tidak menderita IMS sebanyak 22 . ,8%) responden. Hasil Puskesmas Elly Uyo menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara suku dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu hamil. Responden yang berasal dari suku Papua berpeluang 2,3 kali terkena IMS dibandingkan responden yang berasal dari suku Non Papua. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuslana . , yang mengatakan bahwa suku tidak ada pengaruhnya terhadap niat ibu hamil untuk berkunjung ke klinik VCT dengan hasil uji statistik diperoleh p-value 0,179. Tradisi dan sosial budaya sangat berkaitan erat dengan sebuah suku. Tingkatan pengetahuan yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi sosial budayanya. Peran sebuah suku/kebudayaan cukup tinggi pembentukan pola perilaku. Aturan yang telah melekat dalam masyarakat dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya, seperti Ucapan Terima Kasih Ucapan Terima kasih kami sampaikan kepada pihak yang membantu terlaksananya penelitian ini yaitu Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di Puskesmas Elly Uyo Kota Jayapura tentang faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi menular seksual (IMS) pada ibu hamil dapat di simpulkan bahwa terdapat hubungan antara umur dengan nilai p-value = 0,000 < 0,05. RP= 6,90 . % CI: 2,51-18,. , tingkat pendidikan dengan nilai p-value = 0,001 < 0,05. RP= 5,46 . % CI: 2,00-14,. dengan kejadian infeksi menular seksual pada ibu hamil. Daftar Pustaka