PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Penerapan Discovery Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Belajar Puteri Astina Abi1. Baharullah2. Sulfasyah3 1,2,3 Universitas Muhammadiyah Makassar Email: puteriastinabilingual10@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model discovery learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Centre Mangalli pada kelas IV. C dan IV. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif eksperimen. Desain penelitian quasi experimental design dengan bentuk nonequivalent control group design. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan tes, kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Uji normalitas menggunakan kolmogorov-smirnov dan uji homogenitas menggunakan levene test pada SPSS 25. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan independen sampel t test. Hasil uji independen sampel t test menunjukkan bahwa nilai sig. -taile. 000 < 0,05. Berdasarkan data tersebut, maka disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan model discovery learning pada kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Keywords: discovery learning. kemampuan pemecahan masalah matematika. gaya belajar ABSTRACT This study aims to dtermine the effect of the application of discovery learning models on mathematical problem solving abilities in terms of learning styles of fourth grade students at SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. This research was conducted at SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. This research was conducted at the SD Negeri Centre Mangalli in grades IV. C and IV. This research is an experimental quantitative research. The research design is a quasi-experimental design in the form of a nonequivalent control group design. Data wa collected by conducting tests, questionnaires, obsevations, and documentation. Normality test using Kolmogorov-Smirnov and homogeneity test using Levene test on SPSS 25. Hypothesus testing was carried out using independent sample t test. The results of the independent sample t test showed that the value of sig. -taile. 000 < 0. Based on these data, it can be concluded that there is an effect of the application of the discovery learning model on mathematical problem solving abilities in terms of the learning styles of fourth grade students of SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Keywords: discovery learning. problem solving ability math. learning style A 2025 Puteri Astina Abi. Baharullah. Sulfasyah Under the license CC BY-SA 4. PENDAHULUAN Pendidikan sekarang ini memasuki era abad 21, terdapat empat kecakapan dalam pendidikan abad 21, diantaranya kecakapan pengetahuan, keterampilan, sikap, serta pengaplikasian TIK dalam proses pembelajaran. Salah satu kecakapan yang diharapkan pada pendidikan abad 21 ini, yaitu kecakapan berpikir lebih tinggi atau yang biasa dikenal dengan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 25 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Higher Order Thinking Skill (KOTS). Kecakapan berpikir lebih tinggi diharapkan dapat mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan global. Sebagaimana menurut PBB bahwa tantangan pendidikan abad 21 yaitu membangun masyarakat yang berpengetahuan . nowledgebased societ. yang memiliki . keterampilan melek IT dan media (ICT and media literacy skil. , . keterampilan berpikir kritis . ritical thinking skil. , . keterampilan memecahkan masalah . roblem solvin. , . keterampilan berkomunikasi efektif . ffective communication skil. , dan . keterampilan bekerjasama secara kolaboratif . ollaborative skil. Salah satu dari tantangan abad 21 yang telah disebutkan di atas yaitu keterampilan dalam memecahkan masalah. Berdasarkan keterampilan tersebut kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa yaitu kemampuan dalam memecahkan masalah atau kemampuan pemecahan masalah. Dimana siswa dengan kemampuannya tersebut diharapkan dapat berpikir kritis dan mandiri dalam memecahkan masalah. Dengan kemampuan pemecahan masalah, seseorang diharapkan mampu memahami masalah sehingga tidak mudah terprovokasi dengan berbagai berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Melainkan, menelaah terlebih dahulu kebenaran dari berita tersebut, agar tidak merugikan orang lain. Sebagaimana yang juga dikemukakan oleh Solso yang dikutip oleh Mawaddah dan Anisah . bahwa pemecahan masalah adalah suatu pemikiran yang terarah secara langsung untuk menemukan solusi atau jalan keluar untuk suatu masalah yang spesifik. Berdasarkan penjelasan di atas, maka kemampuan pemecahan masalah siswa juga sangat perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika. menurut Sarbiyono . , pemecahan masalah merupakan jantung pembelajaran matematika dalam mengatasi permasalahan Belajar tentang matematika dan pemecahan masalah matematika adalah proses yang sangat dipengaruhi oleh keyakinan tentang matematika. Pemecahan masalah . roblem solvin. hendaknya menjadi titik sentral dari kurikulum matematika dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembelajaran matematika. Selain itu, menurut peneliti dengan pengembangan kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika, siswa buka hanya dapat menerapkannya pada pembelajaran matematika, siswa bukan hanya dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan kemampuan pemecahan masalah, siswa dapat memecahkan masalah secara matematis dengan kemampuan nalar yang logis, sistematis, kritis, dan terbuka. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 26 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Namun, pada kenyataannya kemampuan pemecahan masalah siswa di indonesia masih sangat kurang. Hal ini dibuktikan melalui survei yang telah dilakukan oleh Program for International Student (PISA) pada tahun 2018 yang menunjukkan bahwa indonesia berada pada posisi 74 dari 79 negara. Dimana, salah satunya membandingkan kemampuan siswa dalam bidang matematika. Untuk kategori matematika, indonesia berada diperingkat ke 7 dari bawah . dengan skor rata-rata 379. Sangat jauh berbeda dengan China yang memiliki skor rata-rata Survei tersebut juga didukung dari hasil prapenelitian yang telah dilakukan oleh peneliti bahwa di sekolah dasar khususnya SD Negeri Centre Mangalli yang berada di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa ditemukan beberapa siswa yang kurang berminat pada mata pelajaran matematika. mereka beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang rumit, hal tersebut yang membuat mereka kesulitan untuk dapat memahami apa yang diajarkan. Pemilihan model pembelajaran sangat mempengaruhi proses pembelajaran dalam kelas. Dengan model pembelajaran yang tepat diharapkan para siswa dengan berbagai gaya belajar yang dimiliki oleh masing-masing siswa dapat turut aktif dalam proses pembelajaran. Dengan aktifnya para siswa diharapkan kemampua pemecahan masalah matematika pun dapat Dari survei dan hasil pengamatan peneliti, disimpulkan bahwa para pelaku pendidikan baik itu siswa, guru, maupun orangtua harus dapat bekerjasama dalam mendukung berbagai upaya untuk dapat meningkatkan kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa dalam bidang matematika yaitu kemampuan pemecahan masalah. Guru diharapkan dapat melakukan berbagai upaya dalam proses pembelajaran atau menerapkan model pembelajaran inovatif yang dapat mendorong motivasi siswa mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Karena, dengan penerapan model pembelajaran yang tepat akan dapat mempengaruhi kemampuan belajar matematis siswa. Dalam kurikulum 2013 terdapat beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, diantaranya model pembelajaran inquiry based learning, discovery learning, project based learning, dan problem based leaning. Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan sebuag model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, dan juga dapat mengakomodir semua gaya belajar siswa di dalam kelas. Gaya belajar merupakan salah satu faktor yang sangat Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 27 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Siswa dengan gaya belajaranya masingmasing tentu membuat guru harus menyesuaikan model pembelajaran yang akan diterapkan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan sebuah penelitian yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan memperhatikan gaya belajar dari masing-masing siswa tersebut. Peneliti akan melakukan sebuah penelitian dengan menerapkan sebuah model pembelajaran yang inovatif yaitu model pembelajaran discovery learning. Dengan melakukan langkah-langkah yang terdapa dalam model discovery learning, maka diharapkan dapat mengakomodir semua gaya belajar dari dari masing-masing siswa di dalam Dengan model discovery learning, siswa dituntut untuk melakukan berbagai aktivitas, mengintegrasikan, dan menyimpulkan yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa perlu untuk meneliti tentang AyPengaruh Penerapan Discovery Learning Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Dintinjau dari Gaya BelajarAy. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen digunakan karena jenis penelitian ini memiliki teknis pelaksanaan yang cukup sederhana karena hanya melihat apa yang akan terjadi pada kemampuan pemecahan masalah siswa kelas IV dengan masing-masing gaya belajar yang dimilikinya setelah dilakukan perlakuan, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua kelompok kelas, yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang akan diberikan perlakuan yakni menerapkan model pembelajaran discovery learning untuk melihat perkembangan pemecahan masalah siswa kelas IV berdasarkan gaya belajarnya masing-masing. Sedangkan, kelas kontrol merupakan kelas yang menerapkan pembelajaran konvensional dengan memperhatikan gaya belajar dari masing-masing siswa tersebut. Adapun desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan bentuk Nonequivalent Control Group Design. Populasi pada penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa dengan jumlah siswa 130 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling. Dalam teknik cluster random Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 28 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. sampling ini, pengambilan sampel berdasarkan kelas populasi yang telah ditetapkan. Setelah dilakukan cluster random sampling, maka dipilihlah dua kelas yang akan dijadikan sampel penelitian dengan menggunakan purposive sampling. Purposive sampling digunakan dengan pertimbangan masing-masing terdapat dua kelas yang masuk pagi dan siang secara bergantian. Adapun sampel dalam penelitian ini terdiri dari 62 siswa yang terdiri dari kelas IV. C 31 siswa, dan kelas IV. D 31 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan tes, kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Uji normalitas menggunakan kolmogorov-smirnov dan uji homogenitas menggunakan levene test pada SPSS 25. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan independen sampel t test. HASIL DAN PEMBAHASAN Perbandingan Nilai Rata-Rata Pretest dan Posttest Perbandingan Nilai Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Dari data pretest dan posttest dilakukan perbandingan menggunakan diagram. Berikut ini deskripsi perbandingan data mengenai nilai rata-rata pretest dan posttest pada kelas eksperimen melalui grafik diagram batang di bawah ini: 80,65 16,13 Pretest Posttest Pretest Posttest Gambar 1. Diagram Perbandingan Nilai Rata-Rata Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa perbandingan dari nilai rata-rata pretest dan posttest siswa kelas eksperimen atau kelas IV. C SD Negeri Centre Mangalli tampak bahwa nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi nilai posttest dibandingkan nilai pretest. Selanjutnya diagram dari distribusi nilai pretest dan posttest ditinjau dari gaya belajar siswa kelas eksperimen dapat dilihat dalam gambar 2 berikut: Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 29 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. 83,57 19,38 17,22 11,79 Visual Auditori Pretest Kinestetik Posttest Gambar 2. Diagram Perbandingan Nilai Rata-Rata Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Gambar 2 menunjukkan bahwa perbandingan nilai rata-rata pretest dan posttest siswa kelas eksperimen mengelami peningkatatan pada posttest setelah dilakukannya perlakuan menerapkan discovery learning. Berikutnya gambar 3 yaitu diagram perbandingan antara frekuensi hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen, dapat dlihat di bawah: Sangat Baik Baik Kurang Pretest Sangat Kurang Posttest Gambar 3. Diagram Perbandingan Frekuensi Hasil Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen Gambar 3 di atas menunjukkan bahwa pada pretest siswa di kelas eksperimen secara keseluruhan berada pada kategori sangat kurang. Namun, setelah posttest terdapat 5 siswa yang berada pada kategori sangat baik, 23 berada pada kategori baik, dan 3 berada pada kategori Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 30 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Perbandingan Nilai Pretest Dan Posttest Kelas Kontrol Dari data pretest dan posttest dilakukan perbandingan menggunakan diagram. Berikut ini deskripsi perbandingan data mengenai nilai rata-rata pretest dan posttest pada kelas kontrol melalui grafik diagram batang di bawah ini: 64,19 13,39 Pretest Posttest Pretest Posttest Gambar 4. Diagram Perbandingan Nilai Rata-Rata Pretest dan Posttest Kelas Kontrol Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa perbandingan dari nilai rata-rata pretest dan posttest siswa kelas kontrol atau kelas IV. D SD Negeri Centre Mangalli tampak bahwa nilai rata-rata siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi nilai posttest dibandingkan nilai pretest. Selanjutnya diagram dari distribusi nilai pretest dan posttest ditinjau dari gaya belajar siswa kelas kontrol dapat dilihat dalam gambar 5 berikut: 64,69 16,25 Visual Auditori Pretest Kinestetik Posttest Gambar 5. Diagram Perbandingan Nilai Rata-Rata Pretest dan Posttest Kelas Kontrol Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 31 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Gambar 5 menunjukkan bahwa diagram perbandingan nilai rata-rata pretest dan posttest siswa kelas eksperimen mengelami peningkatan pada posttest. Berikutnya gambar 6 yaitu diagram perbandingan antara frekuensi hasil pretest dan posttest pada kelas kontrol, dapat dlihat di bawah: Sangat Baik Baik Pretest Kurang Sangat Kurang Posttest Gambar 6. Diagram Perbandingan Frekuensi Hasil Pretest dan Posttest Kelas Kontrol Gambar 6 di atas menunjukkan bahwa pada pretest siswa di kelas kontrol secara keseluruhan berada pada kategori sangat kurang. Namun, setelah posttest terdapat 7 siswa yang berada pada kategori baik, 17 berada pada kategori kurang, dan 7 berada pada kategori sangat Uji N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Uji N-Gain dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Uji N-Gain dilakukan dengan menghitung nilai pretest dan posttest kelas Berikut perhitungannya: = ycIycaycuycyceycyycuycyc Oe ycIycaycuycyceycyycyce 100Oe ycIycaycuycyceycyycyce 65Oe16. = 100Oe16. 13 = 83. 87 = 0. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai N-Gain kelas eksperimen yaitu 0. Apabila di interpretasikan ke dalam tabel N-Gain, maka kelas eksperimen berada pada kategori tinggi. Tabel 1. Uji N-Gain Nilai N-Gain g Ou 0,7 0,7> g Ou 0,3 g < 0,3 Pedagogika. fip@ung. Klasifikasi Tinggi Sedang Rendah P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 32 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Sementara, uji N-Gain dilakukan dengan menghitung nilai pretest dan posttest kelas kontrol, yaitu: = ycIycaycuycyceycyycuycyc Oe ycIycaycuycyceycyycyce 100Oe ycIycaycuycyceycyycyce 19Oe13. = 100Oe13. 39 = 86. 61 = 0. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai N-Gain kelas kontrol yaitu 0. Apabila di interpretasikan ke dalam tabel N-Gain, maka kelas kontrol berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil perhitungan uji N-Gain, maka disimpulkan bahwa penerapan discovery learning dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli dan masuk dalam kategori tinggi. Analisis Inferensial Data Hasil Penelitian Uji Normalitas Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan berdistribusi normal atau tidak. Berikut uji normalitas dari nilai pretest-posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Pretest Ae Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tests of Normality Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Kelas Eksperimen & Kelas Kontrol Pretest Kelas Eksperimen Posttest Kelas Eksperimen Pretest Kelas Kontrol Posttest Kelas Kontrol Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Dari uji Kolmogorov-Smirnov yang dilakukan di atas, tampak bahwa data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga yaitu nilai sig. data pretest kelas eksperimen sebesar 0. 067, posttest kelas eksperimen 116, pretest kelas kontrol sebesar 0. 72, dan posttest kelas kontrol sebesar 0. Berdasarkan hasil data sig. di atas baik itu pretest kelas eksperimen, pretest kelas kontrol, posttest kelas eksperimen, dan posttest kelas kontrol, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa data kemampuan pemecahan masalah siswa berdistribusi normal dan memenuhi untuk dilakukan uji statistik parametrik. Selanjutnya uji normalitas dilakukan untuk menguji distribusi nilai pretest dan posttest ditinjau dari gaya belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistrbusi normal. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 33 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Pretest - Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic Sig. Kelas Eksperimen & Kelas Kontrol Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Pretest Kelas Eksperimen Gaya Visual Pretest Kelas Eksperimen Gaya Auditori Pretest Kelas Eksperimen Gaya Kinestetik Posttest Kelas Eksperimen Gaya Visual Posttest Kelas Eksperimen Gaya Auditori Posttest Kelas Eksperimen Gaya Kinestetik Pretest Kelas Kontrol Gaya Visual Pretest Kelas Kontrol Gaya Auditori Pretest Kelas Kontrol Gaya Kinestetik Posttest Kelas Kontrol Gaya Visual Posttest Kelas Kontrol Gaya Auditori Posttest Kelas Kontrol Gaya Kinestetik Dari uji Kolmogorov-Smirnov yang dilakukan, tampak bahwa data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga yaitu nilai sig. data pretest kelas eksperimen gaya visual sebesar 0. 200, gaya auditori 184, dan gaya kinestetik sebesar 0. Nilai sig. data pretest kelas kontrol gaya visual 199, gaya auditori sebesar 0. 200, dan gaya kinestetik sebesar 0. Nilai sig. posttest kelas eksperimen gaya visual sebesar 0. 166, gaya auditori sebesar 0. 109, dan gaya kinestetik sebesar 0. Nil sig. data posttest kelas kontrol gaya visual sebesar 0. 200, gaya auditori sebesar 0. 200, dan gaya kinestetik sebesar 0. Berdasarkan hasil data sig. diatas baik itu pretest kelas eksperimen, pretest kelas kontrol, posttest kelas eksperimen, dan posttest kelas kontrol yang masing-masing ditinjau dari gaya belajar, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa data kemampuan pemecahan masalah siswa berdistribusi normal dan memenuhi untuk dilakukan uji statistik parametrik. Uji Homogenitas Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian dari data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Berikut data hasil uji homogenitas kemampuan pemecahan masalah matematika siswa: Tabel 4. Hasil Uji Homogenitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Test of Homogeneity of Variances Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Levene Statistic Sig. Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 34 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. Dari data di atas, nilai sig. 408 hal ini dapat dikatakan bahwa data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa bersifat homogen sehingga memenuhi syarat untuk dilakukan uji statistik parametrik. Tabel 5. Hasil Uji Homogenitas Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Ditinjau Dari Gaya Belajar Test of Homogeneity of Variances Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Levene Statistic Sig. Dari data di atas, nilai sig. 621 hal ini dapat dikatakan bahwa data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya belajar kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa bersifat homogen. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan untuk menganalisis hipotesis penelitian mengenai kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV. C sebagai kelas eksperimen melalui penerapan discovery learning dan kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV. D sebagai kelas kontrol tanpa penerapan discovery learning. Secara statistik dirumuskan sebagai berikut. Ho : AA1 = AA2 AA1 = kemampuan pemecahan masalah matematika kelas eksperimen H1 : AA1 > AA2 AA2 = kemampuan pemecahan masalah matematika kelas kontrol Hipotesis tersebut diuji menggunakan independen sample t test. Adapun dasar keputusan dari hipotesis ini yaitu: Jika nilai sig. > 0,05, maka hipotesis ditolak. Hipotesis ditolak mempunyai arti bahwa tidak terdapat pengaruh penerapan discovery learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Jika nilai sig. < 0,05, maka hipotesis diterima. Hipotesis diterima mempunyai arti bahwa terdapat pengaruh penerapan discovery learning terhadap kemampuan pemecahan Pedagogika. fip@ung. P-ISSN: 2086-4469 E-ISSN: 2716-0580 | 35 PEDAGOGIKA Volume 06 (Nomor . 2025 HaL. masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Tabel 6. Hasil Uji Independent Sample t Test Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Equal Equal Kemampua n Berpikir Kreatif t-test for Equality of Means Sig. Sig. Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Berdasarkan tabel 4. 27 bagian Equal variances assumed, dapat dilihat bahwa nilai sig. -taile. Sebagaimana dasar pengambilan keputusan dalam uji independen sampel t test, nilai sig. -taile. 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan discovery learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan discovery learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya belajar siswa kelas IV SD Negeri Centre Mangalli Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Hal tersebut dibuktikan dari uji independen sampel t test dengan nilai sig. -taile. 0,000 < 0,05. Pada penerapan model discovery learning sebaiknya guru senantiasa mengkondisikan sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa, agar proses pembelajaran dapat berjalan maksimal. Kepada peneliti berikutnya, jika ingin menerapkan model discovery learning pada kelas yang diteliti, sebaiknya memaksimalkan kegiatan kelompok belajar. REFERENSI