IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN SISIK NAGA (Pyrrosia piloselloides (L. ) M. Pric. ANTIOXIDANT ACTIVITY OF GEL ETHANOL EXTRACT LEAVES Pyrrosia piloselloides (L. ) M. Price Irwandi*1. Diana Agustin2. Astrina Yulanda3 Fakultas Farmasi Universitas Perintis Indonesia 1,2,3 Email : irwandi. apt@gamail. ABSTRAK Daun Sisik Naga (Pyrrosiapiloselloides (L. ) M. Pric. diketahui memiliki kandungan senyawa flavonoid serta fenolik yang mempunyai aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak daun sisik naga, kemudian diformulasikan dalam bentuk sediaan gel dengan konsentrasi ekstrak yang berbeda untuk mengetahui aktivitas antioksidan terbaik. Metode pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH . ,1difenil-2-pikrihidrazi. yang diukur menggunakan Elisa Reader. Hasil penelitian diperoleh aktivitas antioksidan dari ekstrak daun sisik naga termasuk kategori lemah, dengan perolehan IC50 sebesar 485,55 AAg/mL. Ekstrak etanol daun sisik naga kemudian dibuat menjadi sediaan gel dengan konsentrasi 1%, 1,5%, dan 3%. Evaluasi sediaan gel meliputi pengujian organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan stabilitas, didapatkan hasil memenuhi persyaratan gel. Hasil penelitian aktivitas antioksidan dari sediaan gel ekstrak daun sisik termasuk kategori lemah, dengan perolehan IC50 sebesar 753,0 AAg/mL pada konsentrasi 1%, 703,11 AAg/mL pada konsentrasi 1,5% dan 603,68 AAg/mL pada konsentrasi 3%. Hasil pengujian aktivitas antioksidan baik pada ekstrak maupun gel ekstrak etanol daun sisik naga tergolong dalam kategori lemah. Kata Kunci: Daun sisik naga, gel, antioksidan. DPPH. ABSTRACT Leaves pyrrosia are known to contain flavonoid and phenolic compounds which have antioxidant This research aims to determine the antioxidant activity of ethanol extract of leaves of pyrrosia, then it is formulated in gel dosage form with different extract concentrations to determine the best antioxidant activity. The antioxidant activity testing method was carried out using the DPPH . ,1 diphenyl-2-picrihydrazy. method which was measured using the Elisa Reader. The research results showed that the antioxidant activity of ethanol extract of leaves of pyrrosia was in the weak category, with an IC50 of 485. 55 AAg/mL. The ethanol extract of pyrrosia leaves was then made into a gel preparation with concentrations of 1%, 1. 5% and 3%. Evaluation of the gel preparation includes organoleptic testing, homogeneity, pH, viscosity and stability, the results obtained meet the gel The results of research on the antioxidant activity of ethanol extract of leaves of pyrrosia gel preparations were in the weak category, with an IC50 of 753. 0 AAg/mL at a concentration of 1%, 703. 11 AAg/mL at a concentration of 1. 5% and 603. 68 AAg/mL at a concentration of 3%. The results of testing the antioxidant activity of ethanol extract and ethanol extract gel of leaves of pyrrosia were classified as weak. Keywords: leaves pyrrosia , gel, antioxidants. DPPH JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. PENDAHULUAN Kerusakan menyebabkan masalah kesehatan pada Salah satu penyebab kerusakan kulit adalah sinar ultraviolet. Radiasi sinar ultraviolet yang paling banyak berpengaruh terhadap kulit yaitur adiasi sinar UV B, dimana radiasi tersebut memiliki efek paling perubahan warna pada kulit (Wilson et al. Paparansinar UV dapat menimbulkan efek pada kulit, seperti penuaandini dan penurunan kemampuan respon imun (Jain dan Agrawal, 2. Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan juga dapat merusak DNA dan berkembang menjadi kanker kulit (Makiyah. Radiasi UV juga dapat memicu terbentuknya Reactive oxygen species (ROS) (Gromkowska-Kepka et al, 2. ROS merupakan suatu radikal bebas, sehingga ROS akan mencari pasangan elektronnya agar stabil (Ardhie, 2. Dengan hal tersebut diperlukan antioksidan yang berfungsi untuk menstabilkan radikal bebas (Ayu, 2. Antioksidan banyak ditemukan dalam tumbuhan di sekitar kita, salah satunya adalah tumbuhan sisik naga (Risky, 2. Tumbuhan sisik naga (Pyrrosiapiloselloides (L. ) M. Pric. atau biasa dikenal dengan daun sisik naga telah banyak digunakan masyarakat Masyarakat menggunakan tanaman ini untuk mengobati radang gusi, sariawan, dan pendarahan (Pratiwi, 2. Berdasarkan data dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sitorus . , bahwa ekstrak etanol dauns isik naga memiliki antioksidan yang lebih kuat dibandingkan ekstrak etil asetat dan ekstrak n-heksan dengan nilai lC50 42,62 ppm pada ekstrak etanol. 453,46 ppm pada ektrak etil asetat dan 648,26 ppm pada ekstrak n-heksan. Sementara itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan suatu ekstrak diperankan oleh metabolits ekunder yang terdapat di dalamnya (Safitri, ,2. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sitorus . , hasil skrining fitokimia daun sisik naga mengandung senyawa flavonoid, glikosida, tanin, dan steroid. Flavonoid berperan sebagai antioksidan yang JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 berfungsi memperlambat atau menghambat reaksi oksidatif dari radikal bebas. Selain antioksidan kandugan senyawa pada daun sisik naga juga terbukti memiliki aktivitas antibakteri (Pratiwi, 2. Pada penelitian yang dilakukan oleh Haninah . diketahui bahwa ekstrak daun sisik naga memiliki daya antibakteri terhadap Pada penelitian yang dilakukan Zulwinda . diketahui bahwa salep ekstrak daun sisik naga dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka eksisi, serta mennggunakan daun sisik naga diketahui bahwa ekstrak methanol daun sisik naga mengandung antioksidan dengan nilai lC50 sebesar 74,51 ppm (Erwin et al. , 2. Antioksidan yang berasal dari bahan alam untuk perawatan kulit saat ini semakin diminati karena memiliki keunggulan relative lebih aman meskipun dengan penggunaan jangka panjang. Sediaan perawatan kulit yang beredar di pasaran tersediadalambentukbedak . , salep, gel, krim, dan lotion. (Faramayudaet al. , 2. Denganhalitu, gel yang mengandungantioksidan yang berasal dari bahan alam dapat digunakan sebagai sediaan topical untuk menangkal radikal bebas (Kristianuset al. , 2. Dari uraian di atas, maka dilakukan penelitian dan pengujian aktivitas antioksidan dari ekstrak daun sisik naga, kemudian diformulasi dalam bentuk sediaan gel dengan konsenterasi ekstrak yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menegetahui aktivitas antioksidan dari ekatrak etanol dan juga sedian gel ektak daun sisik naga dengan menggunkan metode DPPH. BAHAN DAN METODE Waktu danTempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli Ae Desember 2023 di Laboratorium Universitas Perintis Indonesia (UPERTIS) Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Andalas (UNAND) Alat Alat yang digunakan pada penelitian ini ialah timbangan analitik (Adventurert. , botol I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. maserasi, kertas saring, gunting, wadah berwarna gelap, rotary evaporator(Buchi Rotavapor R-. , cawan penguap, corong, gegep, erlenmeyer (Pyre. , beaker glass (Iwak. , gelas ukur (Iwak. , gelas arloji, tabung reaksi (Iwak. , pipet tetes, spatel, kertas perkamen, objek glass, cover glass, lumpang, stamfer, pH meter (Jenwa. , krusporselen, tang krus, oven (Memmer. , (Wis. , (Dunca. , viscometer Brookfield (KU-3 Viscomete. , pinset, plat tetes, plat well (Biologi. Elisa Reader (Bio-Ra. , pipet tips 200 AAl (Axyge. , pipet tips 1000 AAl (Biologi. , pipet tips 100 AAl (Biologi. , microtube (Dhruv. , centrifuge (Oname. dan vial. Bahan Bahan penelitianadalahdaunsisik naga, etanol 70%, etanol 96%. Carbopol 940, propilenglikol. DMDM hydantoin, aquadest, kloroform, amoniak, serbuk Mg. FeCl3 1%. HCl 1 N. H2SO4, kloroformamoniak. Pereaksi Mayer, dapar pH 4, dapar pH 7, vitamin C. DPPH. Prosedur Penelitian Pengambilan Sampel Daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L. Price ) diambil di daerah. Batipuh Panjang. Lubuk Buaya Kec. Koto Tangah, kota Padang. Sumatera Barat kemudian sampel ini diidentifikasi di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) Jurusan Biologi FMIPA Universitas Andalas (UNAND) Padang Ekstraksi Sampel Daun sisik naga (Pyrrosiapiloselloides (L. Pric. sebanyak 3 kg dibersihkan dari kotoran yang menempel, serta dicuci bersih lalu dikeringkan sampai kering. Kemudian didapat simplisia kering dari daun sisik naga sebanyak 250gram kemudian dimasukkan ditambahkan etanol 70%. Kemudian ditutup, dimaserasi sambil sesekali diaduk, lalu disaring dengan kertas saring. Perlakuan dilakukan sampai maserat yang didapat Hasil JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 dikumpulkan dan diuapkan menggunakan rotary evaporator, sampai didapatkan ekstrak yang kental. Hasil yang didapat rendemen dari pelarut dan ekstrak yang didapat, kemudian dimasukkan kedalam wadah yang berwarna gelap agar terlindung dari paparan sinar matahari. Pemeriksaan Ekstrak Daun Sisik Naga Organoleptis Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengamati ekstrak etanol daun sisik naga menggunakan panca indra terhadap bentuk, bau, rasa, dan warna (Depkes RI, 2. Rendemen Pemeriksaan rendemen ekstrak etanol dapat dilakukan dengan membandingkan berat ekstrak daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L. ) M. Price ) yang didapat dengan berat sampel awal dan dihitung Kelarutan Pada pengerjaannya dilakukan di dalam pelarut aquadest dan etanol 96%. Ditimbang 10 mg ekstrak etanol daun sisik naga lalu dilarutkan ke dalam aquadest dan dalam etanol 96% Pada pemeriksaan pH terhadap ekstrak etanol dilakukan dengan langkah awal yaitu mengkalibrasi alat pH meter menggunakan dapar pH 4 dan pH 7. Selanjutnya, ditimbang 10 mg sediaan lalu diencerkan dengan 10 mL aquadest dan diaduk sampai homogen. Dicelupkan elektroda pH ke dalam wadah yang berisi sediaan yang dilarutkan tadi dan dibiarkan hingga angka bergerak sampai posisi Skrining Fitokimia Daun Sisik Naga Analisis fitokimia dari ekstrak etanol daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L. ) M. Price ) yang dilakukan meliputi uji alkaloid, fenolik, flavonoid, saponin, steroid dan terpenoid. Ditimbang sebanyak 10 mg ekstrak etanol daun sisik naga ditambah 5 mL aquadest dan 5 mL kloroform asetat di dalam tabung reaksi. I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Selanjutnya dipisahkan menggunakan corong pisah, dibiarkan hingga terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan air dan lapisan Lapisan kloroform terdapat di bagian bawah yang dipakai untuk memeriksa senyawa alkaloid, terpenoid, serta steroid. Pada lapisan air yang terlihat pada bagian atas digunakan untuk flavonoid, serta saponin. Uji Flavonoid (Metode-Sianin Tes. Sebanyak 1-2 tetes lapisan air pada ekstrak etanol daun sisik naga diteteskan ke plat tetes, selanjutnya ditambahkan 1-2 butir logam Mg serta 2-3 tetes HCl . Sampel yang mengandung flavonoid ditandai dengan terbentuknya warna merah pada hasil pengujian. Uji Fenolik Sebanyak 1-2 tetes lapisan air dari ekstrak etanol daun sisik naga diteteskan ke atas plat tetes, kemudian ditambahkan FeCl3. Sampel yang mengandung fenolik ditandai kehitaman pada hasil pengujian. Uji Saponin Sebanyak 1-2 tetes lapisan air dari ekstrak etanol daun sisik naga dimasukkan ke dalam tabung reaksi, selanjutnya tabung reaksi tersebut dikocok kuat Ae kuat. Sampel yang mengandung saponin ditunjukkan saat busa yang terbentuk tetap stabil selama A 15 menit. Uji Terpenoid dan Steroid (Metode Liebermen Burcha. Pada pengujian ini menggunakan sedikit lapisan kloroform pada ekstrak etanol daun sisik naga, selanjutnya ditambahkan norit dan kemudian disaring. Hasil saringan yang didapat diteteskan ke atas plat tetes sampai kering, ditambahkan asam asetat anhidrat serta H2SO4. Sampel yang mengandung steroid ditandai dengan terbentuknya warna biru atau Sedangkan dengan terbentuknya warna merah pada hasil pengujian. Uji Alkaloid (Metode CulvenoreFritzgeral. JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Diambil sedikit lapisan kloroform pada ekstrak etanol daun sisik naga kemudian ditambahkan 10 mL kloroform amoniak 0,05 N, lalu perlahan diaduk dan ditambahkan beberapa tetes H2SO4 2 N kemudian dikocok perlahan dan campuran ekstrak dibiarkan Pada lapisan asam ditambahkan beberapa tetes pereaksi Mayer. Sampel yang mengandung alkaloid ditandai dengan terbentuknya warna putih pada hasil pengujian yang dilakukan. Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga Pembuatan Larutan Larutan Kontrol DPPH Ditimbang 5 mg DPPH, kemudian dilarutkan dengan methanol hingga 25 ml, sehingga didapat konsentrasi DPPH 0,5 mM . onsentrasi 200 pp. Larutan DPPH 0,5 mM dipipet sebanyak 20 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu 100 ml dan dicukupkan sampai tanda batas, sehingga DPPH . onsentrasi 40 pp. Larutan Vitamin C sebagai kontrol Vitamin C ditimbang 0,5 mg lalu ditambahkan pelarut metanol PA ad 2 mL dengan konsentrasi larutan induk 250 AAg/mL. Dari larutan induk dipipet masingmasing 16. 80 AAL dan di larutkan hingga 1 mL. sehingga didapat seri konsentrasi 4, 8 12, 16, dan 20 AAg/mL. Larutan Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga Ekstrak etanol daun sisik naga ditimbang 5 mg kemudian dilarutkan dengan metanol pa hingga 5 mL. Sehingga didapatkan konsentrasi larutan induk 1000 AAg/mL. Dari larutan induk dipipet masing-masing 800 AAL dan di larutkan hingga 1 mL sehingga didapat seri konsentrasi 100, 200, 400, 600 dan 800 AAg/mL. I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A Prosedur Kerja Sebanyak 50 AAL dari larutan uji yang dibuat dengan berbagai konsentrasi dimasukkan ke dalam masing-masing Kemudian ditambahkan 200 AAL larutan DPPH ke dalam masingmasing well, disimpan di tempat gelap dan dijauhkan dari cahaya selama 30 Sebagai blangko digunakan larutan DPPH sebanyak 250 AAL. Diukur serapan maksimum pada panjang gelombang 517 nm. Persentase inhibisi dapat dihitung dengan cara berikut: Dibuat grafik konsentrasi dengan persentase inhibisi, kemudian hitung nilai IC50 dari sampel. IC50 dihitung dengan menggunakan persamaan regresi linier, nilai konsentrasi sebagai sumbu x dan persentase inhibisi sebagai sumbu y. Dari persamaan y = a bx dapat dihitung nilai IC50. Formulasi Sediaan Gel Pemeriksaan Bahan Baku Bahan Carbopol dan DMDM hydantoin diperiksa sesuai dengan Pharmaceutical Exipient 6th Ed Bahan TEA dan propilenglikol diperiksa sesuai dengan Farmakope Indonesia edisi VI (Depkes RI. Formulasi Sediaan Tabel 1. Formula sediaan gel ekstrak daun sisik naga Bahan Jumlah (%) Fungsi Ekstrak etanol daun sisik Carbopol 940 Propilenglikol TEA 1,5% Zat aktif Gelling Agent Humektan Alkalizing DMDM Hydantoin Pengawet Aquadest ad Pelarut Pembuatan Gel Ekstrak daun sisik naga Carbopol 940 dimasukkan ke dalam air sebanyak 20 ml ditunggu hingga mengembang. Lalu dilakukan pengadukan menggunakan magnetic stirer, kemudian ditambahkan TEA sedikit demi sedikit, serta diaduk sampai membentuk massa Setelah propilenglikol dan DMDM hydantoin dan diaduk hingga homogen, lalu dicukupkan dengan aquadest. Carbopol 940 dimasukkan ke dalam air sebanyak 20 ml ditunggu hingga mengembang. Lalu dilakukan pengadukan menggunakan magnetic stirer, kemudian JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 ditambahkan TEA sedikit demi sedikit, serta diaduk sampai membentuk massa Setelah propilenglikol dan DMDM hydantoin dan diaduk hingga homogen, lalu dicukupkan dengan aquadest. Untuk F1 ditambahkan 1% ekstrak etanol daun sisik naga ke dalam massa gel lalu diaduk dengan stirer hingga homogen. Carbopol 940 dimasukkan ke dalam air sebanyak 20 ml ditunggu hingga mengembang. Lalu dilakukan pengadukan menggunakan magnetic stirer, kemudian ditambahkan TEA sedikit demi sedikit, serta diaduk sampai membentuk massa I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Setelah propilenglikol dan DMDM hydantoin dan diaduk hingga homogen, lalu dicukupkan dengan aquadest. Untuk F2 ditambahkan 1,5% ekstrak etanol daun sisik naga ke dalam massa gel lalu diaduk dengan stirer hingga homogen. Carbopol 940 dimasukkan ke dalam air sebanyak 20 ml ditunggu hingga mengembang. Lalu dilakukan pengadukan menggunakan magnetic stirer, kemudian ditambahkan TEA sedikit demi sedikit, serta diaduk sampai membentuk massa Setelah propilenglikol dan DMDM hydantoin dan diaduk hingga homogen, lalu dicukupkan dengan aquadest. Untuk F3 ditambahkan 3% ekstrak etanol daun sisik naga ke dalam massa gel lalu diaduk dengan stirer hingga homogen. e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Evaluasi Sediaan Gel Uji Organoleptis Pemeriksaan dengan memperhatikan tampilan fisik dari sediaan yang diperoleh mulai dari pemeriksaan bentuk, warna, dan bau. Pengujian ini dapat dilakukan selama 6 Uji Homogenitas Sebanyak 0,1 g dari sediaan gel ditimbang dan dioleskan secara merata dan tipis pada kaca objek, sediaan dianggap homogen jika tidak terlihat adanya butiran kasar dan pengamatan dilakukan tiap minggu selama 6 minggu (Kumesan, dkk, 2. Uji pH Pengujian pH dilakukan dengan cara mengkalibrasi alat pH meter menggunakan dapar pH 4 dan pH 7. Sebanyak 10 mg sediaan diencerkan dengan aquadest hingga 10 mL, lalu diaduk hingga Elektroda pH dicelupkan ke dalam wadah tersebut dan dibiarkan angka bergerak sampai posisi konstan (Naibaho. Uji Viskositas JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 Sebanyak 100 g sediaan ditempatkan dalam wadah. Kemudian dilakukan pengamatan pada angka stabil yang ditunjukkan pada viskometer Brookfield, kemudian hasilnya dicatat. Pengukuran sediaan dilakukan pada minggu ke-1, minggu ke-3 lalu pada minggu ke-6 (Zulkarnain, 2. Pengujian stabilitas Pada pengujian stabilitas ini dilakukan menggunakan Metode Freeze and Thaw dengan cara sediaan gel ditimbang sebanyak 5 g lalu dimasukkan kedalam wadah yang ditutup rapat pada suhu 4 0C selama 24 jam, lalu dikeluarkan dan ditempatkan pada suhu 400C selama 24 Sediaan dikatakan stabil jika melewati 12 hari, dan tidak terjadi perubahan organoleptis. Penentuan Aktivitas Antioksidan Gel Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga Pembuatan Larutan Larutan Kontrol DPPH Ditimbang 5 mg DPPH, kemudian dilarutkan dengan methanol hingga 25 ml, sehingga didapat konsentrasi DPPH 0,5 mM . onsentrasi 200 pp. Larutan DPPH 0,5 mM dipipet sebanyak 20 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu 100 ml dan dicukupkan sampai tanda batas, sehingga DPPH . onsentrasi 40 pp. Larutan Gel Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga F0 dan Pembanding Gel Gel ekstrak etanol daun sisik naga ditimbang 5 mg kemudian dilarutkan dengan metanol pa hingga 5 mL. Sehingga didapatkan konsentrasi larutan induk 1000 AAg/mL. Dari larutan induk dipipet 800 AAL dan di larutkan hingga 1 mL sehingga didapat seri konsentrasi 100, 200, 400, 600 dan 800 AAg/mL. Larutan Gel Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga F1. F2. F3 Gel ekstrak etanol daun sisik naga masingmasing ditimbang 500 mg. 333,33 mg. I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A mg kemudian dilarutkan dengan metanol pa hingga 500 mL. 333,33 mL. 167 mL. Sehingga didapatkan konsentrasi larutan induk 1000 AAg/mL. Dari larutan induk dipipet masing-masing 100. 800 AAL dan di larutkan hingga 1 mL sehingga didapat seri konsentrasi 100, 200, 400, 600 dan 800 AAg/mL. Prosedur Kerja Sebanyak 50 AAL dari larutan uji yang dibuat dengan berbagai konsentrasi dimasukkan ke dalam masing-masing Kemudian ditambahkan 200 AAL larutan DPPH ke dalam masingmasing well, disimpan di tempat gelap dan dijauhkan dari cahaya selama 30 Sebagai blangko digunakan larutan DPPH sebanyak 250 AAL. Diukur serapan maksimum pada panjang gelombang 517 nm. Persentase inhibisi dapat dihitung dengan cara berikut: Dibuat grafik konsentrasi dengan persentase inhibisi, kemudian hitung nilai IC50 dari sampel. Analisa data Pengukuran aktivitas antioksidan pada sediaan gel ekstrak daun sisik naga diamati menggunakan uji statistic ANOVA satu arah dengan nilai p O 0,05 dinyatakan sebagai data yang bersifat signifikan. Adanya perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji lanjutan Duncan. HASIL Hasil proses ekstraksi terhadap tanaman daun sisik naga sebanyak 250 g daun sisik naga dengan pelarut etanol didapatkan ekstrak kental sebanyak 41, 1787 Tabel 2. Hasil pemeriksaan terhadap ekstrak etanol daun sisik naga Pemeriksaan Organoleptis Oe Bentuk Oe Warna Oe Bau Oe Rasa Rendemen Kelarutan Oe Dalam air Oe Dalam etanol 96% Hasil Pengamatan Ekstrakkental CoklatKehitaman Khas Pahit 16,47148 % Agak SukarLarut . Agak SukarLarut . : 92,. 4,70A 0,02 Tabel 3. Hasil pemeriksaan skrining fitokimia ektrak etanol daun sisk naga UjiFitokimia Flavonoid Hasil erbentuk warna mera. Fenolik Saponin Terpenoid Steroid erbentuk warna hijau kehitama. erbentuk warna hijau kebirua. Alkaloid JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 I ILM Jurnal Kesehatan Medika Saintika AT A N S EKO L SY E D Z A SA I e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. NT I K A Tabel 4. Hasil Rekapitulasi Evaluasi Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Sisik Naga Evaluasi Organoleptis - bentuk - warna A padat Bening - bau Khas A padat Kuning Khas Uji homogenitas Uji pH Uji Viskosit Uji Stabilitas Aktivitas Antioksidan 5,34 0,02 32,87 4625,21 AAg/mL 5,18 0,04 25,26 753,05 AAg/mL A padat Kuning kecoklatan Khas 5,07 0,06 19,70 703,11 AAg/mL A padat Coklatpek A padat Putih Khas Khas 4,74 0,03 26,72 603,68 AAg/mL 5,21 0,01 24,95 547,72 AAg/mL H = Homgen. TM = Tidak memisah PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah daun sisik naga dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan gel kemudian dilakukan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan ELISA reader. Pemilihan Daun sisik naga sebagai sampel pada penelitian ini berdasarkan penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa ekstrak etanol daun sisik naga memiliki kadar antioksidan kategori kuat, dengan nilai Ic50 sebesar 42,62 ppm (Sitorus, 2. Daun sisik naga sebanyak 3 kg lalu dijadikan simplika kering. Simplisia kering yang didapat sebanyak 250 g, selanjutnya simplisia yang didapat diekstraksi dengan cara maserasi dengan menggunakan pelarut etanol Strategi maserasi dipilih karena merupakan strategi yang sederhana, mudah dilakukan, cukup efektif untuk melepaskan zat yang dibutuhkan tanpa melakukan langkah pemanasan sehingga dapat menghindari kerusakan pada zat aktif akibat suhu tinggi Prinsip metode maserasi yaitu mengeksresikan zat aktif yang teradapat pada tanaman dengan melakukan perendaman menggunakan pelarut atau cairan penyari yang sesuai pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2. Pelarut Etanol 70% dapat mengekstraksi dengan baik golongan senyawa JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan karena memiliki kepolaran yang sesuai. Maserat yang diperoleh dari hasil maserasi kemudian dipekatkan, proses pemekatan merupakan penguapan dari pelarut yang bertujuan agar konsentrasi senyawa lebih besar dan memudahkan dalam penyimpanan, serta untuk memisahkan ekstrak dengan pelarut etanol 70% (Marjoni, 2. Proses pemekatan ini dilakukan dengan menggunakan alat yaitu rotary evaporator pada suhu yang rendah, yaitu berkisar 40 oC Ae 50 oC dan dilengkapi dengan alat vakum evaporator. Alat vakum evaporator dapat menurunkan tekanan sehingga pelarut dapat menguap di bawah titik didihnya. Penggunaan suhu yang rendah bertujuan untuk mencegah terjadinya penguraian senyawa yang tidak tahan terhadap pemanasan (Hanani et al. , 2. Setelah itu diuapkan lagi diatas waterbath pada suhu 60 oC untuk mendapatkan ekstrak kental, didapatkan ekstrak kental sebanyak 41,1787 g. Kemudian dilakukan pemeriksaan parameter spesifik terhadap ekstrak daun sisik meliputi pengujian organoleptis, randemen, uji pH, dan pengujian kelarutan. Pemeriksaan organoleptis bertujuan agar mengetahui bentuk, bau, warna secara sederhana serta memudahan dalam mengenali Pada pemeriksaan pH dilakukan untuk mengetahui pH dari ekstrak daun sisik I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. naga, didapatkan hasil yang stabil yaitu 4,70 yang masih dalam rentang asam lemah yang cocok dengan pH kulit yaitu pada rentang 4,56,5. Pada pemeriksaan kelarutan bertujuan untuk mencari tingkat kelarutan dari ekstrak etanol daun sisik naga dalam air dan etanol, pada pengujian yang dilakukan diketahui bahwa ekstrak etanol daun sisik naga agak sukar larut dalam aquadest dan etanol 96%. Selanjutnya dilakukan pengujian skrining fitokimia pada ekstrak daun sisik naga dengan tujuan untuk mengetahui kandungan senyawa aktif metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman ini. Kandungan senyawa aktif metabolit sekunder yang diujikan meliputi flavonoid, alkaloid, fenolik, terpenoid, saponin, dan steroid. Didapatkan hasil bahwa daun sisik naga mengandung senyawa flavonoid, fenolik dan steroid. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sisik naga memiliki kandungan senyawa aktif, senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan yaitu flavonoid. Flavonoid dikenal dengan senyawa polifenol, yang berperan sebagai antioksidan yang bekerja dengan cara melindungi sel dari kerusakan DNA dengan membersihkan sel dari radikal bebas (Ramadhan, 2. Ekstrak etanol daun sisik naga selanjutnya diuji aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH . ,1-diphenyl-2picrylhydrazy. Metode DPPH merupakan metode yang sederhana mudah, cepat, dan peka serta hanya memerlukan sedikit sampel untuk pengujian aktivitas antioksidan dari senyawa bahan alam. DPPH merupakan radikal sintetik yang stabil serta larut dalam pelarut polar seperti metanol dan etanol. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ini berdasarkan prinsip hilangnya warna ungu akibat tereduksinya DPPH oleh antioksidan, yang mengakibatkan warna ungu memudar menjadi warna kuning. Perubahan warna tersebut memberikan absorbansi yang diukur dengan alat ELISA reeder pada panjang gelombang 517 nm. Pemilihan panjang gelombang tersebut didasari dengan literatur pengujian yang dilakukan oleh Prasetyo . yang mengukur aktivitas antioksidan menggunakan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 ELISA reeder dengan panjang gelombang 517 nm, dan diukur pada panjang gelombang 517 nm, karena pada panjang gelombang tersebut larutan DPPH dapat memberi serapan secara maksimal dan akan menurun secara stoikiometri ketika elektronnya menjadi berpasangan, karena Ketika elektronnya berpasangan akan memberikan serapan yang kecil (Dehpour et al. , 2. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan 96 well microplate reader dipilih karena instrumen ini dapat mendeteksi banyak sampel dalam waktu yang bersamaan, serta waktu yang diperlukan lebih cepat, dan jumlah sampel yang digunakan lebih sedikit. Menurut Gandjar dan Rohman . , penentuan panjang gelombang pada suatu rangkaian pengujian harus dilakukan karena salah satu alasannya adalah bahwa pada lengkungan serapannya rata dan pada kondisi tersebut berlaku hukum Lambert-Beer. khususnya serapannya antara 0,2 hingga 0,8. Pengujian dilakukan terhadap 5 susunan pengujian konsentrasi yaitu 100 ppm, 200 ppm, 400 ppm, 600 ppm dan 800 ppm yang direaksikan dengan radikal bebas DPPH dengan waktu masing-masing konsentrasi 30 Semakin tinggi konsentrasi larutan uji, semakin kuning warna yang dihasilkan. Berkurangnya peningkatan warna ungu larutan DPPH dapat dihitung secara kuantitatif dari berkurangnya serapan larutan tersebut. Semakin tinggi konsentrasi larutan uji maka semakin kecil pula serapan yang dihasilkan, yang berarti kemampuan larutan uji dalam menghilangkan radikal DPPH semakin besar. Pengujian aktivitas antioksidan dari eksrak daun sisik naga dianalisis dengan mengitung nilai IC50 dan menggunakan vitamin C sebagai kontrol positif. Digunakan sebagai kontrol positif karena vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang pembanding dalam pengujian aktivitas antioksidan alami yang relatif aman dan tidak menimbulkan toksisitas, mudah diperoleh serta vitamin C lebih polar dari vitamin yang lain (Lung dan Destiani, 2. I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. Nilai IC50 dapat dihitung dari persamaan kurva hubungan antara % inhibisi . ebagai sumbu . dan sampel . ebagai sumbu Berdasarkan hasil yang didapat nilai IC 50 pada ekstrak etanol daun sisik naga lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sitorus, 2. yang mendapatkan nilai IC50 sebesar 42,62 AAg/mL, dari nilai IC50 dapat dilihat bahwa vitamin C yang digunakan sebagai pembanding aktivitas antioksidan lebih kuat di bandingkan dengan ekstrak yang memiliki aktivitas antioksidan lemah, namun nilai aktivitas antioksidan vitamin C yang didapat lebih lemah dibanding penelitian yang dilakukan oleh (Sitorus, 2. yang mendapatkan nilai IC50 sebesar 4,16 AAg/mL. Untuk antioksidan yang sama dengan vitamin C perlu peningkatan konsentrasi yang besar pada ekstrak yang dibuat. Pergerakan antioksidan yang lemah ini diduga disebabkan oleh perbedaan dalam kandungan, kondisi alam di mana ia berkembang, namun juga dapat disebabkan oleh metabolit sekunder suatu tanaman yang dipengaruhi oleh faktor alami. komponen seperti iklim, cahaya matahari, suhu, lingkungan barometrik (CO2. O2, dan kelengketa. , lingkungan akar . ifat kimia dan fisik tana. , dan ketersediaan air dalam tanah (Nitisapto et al. , 2. Selain itu, lemahnya aksi antioksidan ekstrak etanol daun sisik naga diduga disebabkan oleh ketidaksempurnaan reagen DPPH dan korosif askorbat, karena kontaminan dapat mempengaruhi ketepatan pembacaan serapan dan senyawa yang terkandung masih dalam keadaan tercemar atau tidak murni, sehingga penting untuk mendapatkan nilai IC50 yang lebih besar. Berdasarkan nilai IC50, kemudian ekstrak diformulasikan dalam bentuk sediaan Formulasi sediaan bentuk gel dipilih dikarenakan bentuk gel punya potensi yang lebih baik, tidak lengket di kulit, stabil, tidak memerlukan usaha yang besar untuk memformulasikan serta bagus dari segi estetika bagi sediaan topical (Madan & Singh. Pada penelitiaan ini menggunakan Carbopol 940 sebagai gelling agent, kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap bahan JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 tambahan dengan hasil telah memenuhi persyaratan yang meliputi pemeriksaan organoleptis dan kelarutan. Gel yang telah diformulasikan pengamatan organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas serta uji stabilitas. Pemeriksaan organoleptis gel bertujuan untuk mengamati sifat fisik setiap formula. Didapatkan hasil organoleptis setiap formula sama selama 6 minggu. Adanya perbedaan warna pada setiap formula dikarenakan perbedaan variasi konsentrasi ekstrak yang Pada uji homogenitas terhadap sediaan gel dilakukan dengan tujuan mengamati tercampur merata atau tidaknya semua bahan dalam sediaan dari proses pembuatan hingga Didapatkan hasil evaluasi homogenitas bahwa semua sediaan gel ekstrak etanol kulit daun sisik naga homogen selama 6 minggu ditandai dengan tidak terdapatnya butir-butir kasar saat sediaan dioleskan pada kaca objek transparan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1. Kemudian dilakukan evaluasi pH pada sediaan gel yang bertujuan untuk mengetahui apakah sediaan gel yang dibuat telah sesuai dengan pH fisiologis kulit yaitu pada rentang 4,5- 6,5 sehingga tidak menimbulkan iritasi dan kerusakan pada kulit selama pemakaian. Didapatkan hasil setelah pengukuran pH selama 6 minggu bahwa nilai rata-rata pH masih dalam rentang pH kulit. Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa antara kelima formula maka formula i memiliki pH yang lebih rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh nilai pH dari zat aktif, yaitu kandungan flavonoid dalam ekstrak daun sisik naga dimana senyawa ini bersifat asam sehingga mampu menurunkan nilai pH. Konsentrasi trietanolamin yang lebih rendah pada gel dengan konsentrasi ekstrak yang tinggi juga menurunkan pH gel. Kesesuaian pH kulit dengan pH sediaan topikal mempengaruhi penerimaan kulit terhadap sediaan. Sediaan topikal yang ideal adalah tidak mengiritasi Kemungkinan iritasi kulit akan sangat besar apabila sediaan terlalu asam atau terlalu basa (Susilowati dan Wahyuningsih, 2. Perubahan nilai pH setiap minggu dikarenakan IN I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. suhu dan Kemudian viskositas pada sediaan gel bertujuan untuk mengetahui berapa tingkat kekentalan sediaan brookfiled selama minggu ke 1, 3 dan 6. Semakin tinggi nilai viskositas yang didapat maka semakin tinggi tingkat kekentalan pada sediaan tersebut (Ardana dkk, 2. Viskositas sediaan berhubungan terhadap kemudahan sediaan dari pemakaian suatu Viskositas sangat berpengaruh penggunaan sehingga tidak boleh terlalu kental dan terlalu encer. Viskositas gel yang terlalu encer akan menurunkan daya lekat gel pada kulit sehingga efektivitas penghantaran zat aktif menjadi rendah, sedangkan apabila viskositas sediaan terlalu kental dapat memberikan ketidaknyamanan saat sediaan Pada tabel 16 menunjukan semakin tinggi jumlah ekstrak daun sisik naga dalam formula maka viskositas sediaan semakin dipengaruhi oleh sifat basis gel dan karakteristik zat aktif. Hasil pengujian viskositas sediaan gel masih dalam rentang standar persyaratan viskositas gel yang baik yaitu 2000-4000 cP (Voight,1. Uji stabilitas sediaan gel ekstrak etanol daun sisik naga dilakukan dengan tujuan untuk melihat kestabilan dari sediaan setelah disimpan dalam dua suhu yang berbeda yaitu suhu . C) dan pada suhu . C) selama 24 jam dilakukan sebanyak 6 siklus. Hasil pemeriksaan stabilitas menunjukkan bahwa sediaan stabil secara fisik selama penyimpanan dan tidak ada pemisahan serta perubahan fisik sampai siklus ke-6. Kemudian aktivitas antioksidan pada sediaan gel ekstrak etanol daun sisik naga yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak etanol daun sisik naga, dengan menggunakan konsentrasi yang berbeda terhadap aktivitas antioksidan. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya daya penghambatan yang terdapat pada gel ekstrak etanol daun sisik naga. Didapatkan hasil JURNAL KESEHATAN MEDIKA SAINTIKA JUNI 2024 |VOL 15 NOMOR 1 pengujian aktivitas antioksidan pada gel ekstrak etanol daun sisik naga dengan nilai persentase inhibisi yang menunjukkan kapasitas antioksidan tertinggi diperoleh pada kontrol positif yaitu dengan nilai IC50 sebesar 547,72 ppm, lalu diikuti dengan F3 sebesar 603,68 ppm. F2 sebesar 703,11 ppm. F1 sebesar 753,05 ppm dan F0 sebesar 4625,21 Aktivitas antioksidan gel dari ekstrak daun sisik naga dengan berbagai macam konsentrasi ekstrak diperoleh hasil yang termasuk dalam kategori lemah. Pada hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa antioksidan maka semakin tinggi pula aktivitas sampel sebagai antioksidan (Haeria et al. Analisis data menggunakan one way ANOVA dengan menggunakan software SPSS 22 bertujuan untuk melihat perbedaan yang nyata dan bermakna di setiap formula terhadap nilai absorbansi dan persen inhibisi, hasil yang didapatkan dengan p = 0,000, yang berarti terdapatnya perbedaan yang signifikan pada setiap formula gel, kemudian dilanjutkan dengan uji test Duncan. Pada formula terhadap nilai absorbansi F0 memiliki perbedaan yang signifikan diantara semua formula sedangakan F1. F2. F3, dan Kp tidak adanya perberdaan yang signifikan. Pada analisis data formula terhadap persen inhibisi F0 memiliki perbedaan yang signifikan diantara semua formula sedangakan F1. F2. F3, dan Kp tidak adanya perberdaan yang signifikan. Ekstrak mempunyai nilai yang paling bagus dalam aktivitas sebagai antioksidan dibandingkan basis gel (F. dan sediaan gel yang terdapat ekstrak didalamnya (F1. F2 dan F. gel mempengaruhi aktivitas antioksidan dari ekstrak daun sisik naga (Pyrrosia piloselloides (L. ) M. Price ), dimana gel dapat menurunkan aktivitas antioksidan dari Kapasitas antioksidan gel ekstrak etanol daun sisik naga yang lemah ini diduga disebabkan oleh, sifat bahan pembawa. Hal tersebut diduga terjadi karena Carbopol dan triethanolamine yang dapat meningkatkan viskositas sediaan dan meningkatkan afinitas pembawa terhadap bahan aktif sehingga bahan aktif lebih sulit lepas dari basis dan menunjukkan aktivitas yang lebih rendah I ILM AT A N S EKO L SY E D Z A SA I NT I K A Jurnal Kesehatan Medika Saintika e-ISSN:2540-9611 p-ISSN:2087-8508 Volume 15 nomor 1 (Juni 2. | https://jurnal. DOI: https://dx. org/10. 30633/jkms. (Agustin. Sari & Zaini, 2. Namun dari hasil uji in vitro yang didapatkan diketahui bahwa hasil uji in vitro tidak selalu relevan dengan hasil uji in vivo, disebabkan oleh faktor-faktor menentukan keberhasilan uji in vivo (Trifena. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian mengenai formulasi gel ekstrak daun sisik naga sebagai antioksidan dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sisik naga dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan gel. Aktivitas ekstrak etanol dan sediaan gel ekstrak etanol daun sisik naga sebagai antioksidan masuk dalam kategori Saran Disarankan untuk melakukan penelitian mengenai formulasi gel fraksi daun sisik naga sebagai antioksidan DAFTAR PUSTAKA