JURNAL ABDI INSANI Volume 13. Nomor 4. April 2026 http://abdiinsani. e-ISSN : 2828-3155. p-ISSN : 2828-4321 PENDEKATAN KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU DALAM PENINGKATAN POLA ASUH DAN GIZI UNTUK PENCEGAHAN STUNTING DI PUSKESMAS KEMBARAN II KABUPATEN BANYUMAS Behavior Change Communication Approach In Improving Parenting and Nutrition for The Prevention of Stunting at Kembaran II Public Health Center. Banyumas Regency Erna Kusuma Wati1*. Setiyowati Rahardjo2. Dian Anandari2 1Jurusan Ilmu Gizi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah, 2Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah Jalan Dr. Soeparno Karangwangkal Purwokerto Utara Kabupaten Banyumas, kode pos 53122 *Alamat Korespondensi: erna. wati@unsoed. (Tanggal Submission: 16 Desember 2025. Tanggal Accepted : 27 April 2. Kata Kunci : Abstrak : Komunikasi Perubahan Perilaku. Pola Asuh. Gizi. Pencegahan. Stunting Stunting pada baduta masih menjadi salah satu masalah gizi utama di Kabupaten Banyumas, yang berdampak pada kualitas tumbuh kembang anak dan produktivitas sumber daya manusia di masa depan. Salah satu faktor risiko penting adalah pola asuh dan pemenuhan gizi baduta yang belum optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader posyandu dalam pola asuh dan pemberian gizi baduta melalui pendekatan komunikasi perubahan perilaku. Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II. Kabupaten Banyumas. Metode kegiatan meliputi penyuluhan gizi, diskusi kelompok, demonstrasi pembuatan menu bergizi seimbang, serta pendampingan kader. Pengabdian ini melibatkan mitra Puskesmas dan 30 orang Kader Kesehatan di Kecamatan Kembaran. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test serta observasi praktik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan kader posyandu tentang stunting sebesar 22,5 setelah edukasi. Hasil uji statistik t dependen menunjukkan ada perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dengan p value 0. Ketrampilan komunikasi perubahan perilaku kader juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 22,6. Hasil uji statistik menggunakan uji t dependen menunjukkan ada perbedaan keterampilan komunikasi perubahan perilaku sebelum dan sesudah workshop dengan p value 0. Adanya peningkatan signifikan pengetahuan kader mengenai pemberian makan sesuai usia, praktik pola asuh responsif, dan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi. Selain itu, kader kesehatan menjadi lebih aktif dalam mendampingi keluarga baduta. Kesimpulannya, pendekatan komunikasi perubahan perilaku efektif dalam meningkatkan pola Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 290 Key word : Behavior Change Communication. Parenting. Nutrition. Prevention. Stunting asuh dan praktik gizi baduta sebagai upaya pencegahan stunting di tingkat puskesmas dan masyarakat. Abstract : Stunting among toddlers remains a major nutritional problem in Banyumas Regency, affecting child growth, development, and future human resource One of the main risk factors for stunting is inadequate parenting practices and suboptimal nutritional intake for toddlers. This community service activity aimed to improve the knowledge, attitudes, and skills of integrated health post (Posyand. cadres in parenting and toddler nutrition through a behavior change communication approach. The activity was conducted in the working area of Kembaran II Community Health Center. Banyumas Regency, involving 30 health cadres from Kembaran District. The methods included nutrition education, group discussions, demonstrations of balanced nutritious menu preparation, and cadre mentoring. Program evaluation was carried out using pre-test and post-test assessments and observation of participantsAo practical skills. The results showed a significant increase in cadresAo knowledge about stunting, with an average improvement of 22. 5 points after the intervention . = 0. In addition, cadresAo behavior change communication skills increased by 22. 6 points, with a statistically significant difference based on a dependent t-test . = 0. Cadres also demonstrated improved understanding of age-appropriate feeding practices, responsive parenting, and the use of local food resources to support toddler nutrition. Furthermore, cadres became more active in assisting families with toddlers at the community In conclusion, the behavior change communication approach is effective in improving parenting practices and nutritional fulfillment for toddlers, thereby supporting stunting prevention efforts at both community health center and community levels. Panduan sitasi / citation guidance (APPA 7th editio. Wati. Rahardjo. , & Anandari. Pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku Dalam Peningkatan Pola Asuh dan Gizi Untuk Pencegahan Stunting di Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas. Jurnal Abdi Insani, 13. , https://doi. org/10. 29303/abdiinsani. PENDAHULUAN Stunting adalah suatu kondisi kronis pada pertumbuhan linier anak yang buruk, merupakan akumulasi berbagai faktor rendahnya gizi dan kesehatan sebelum dan sesudah kelahiran (Sandra et al. Kejadian stunting dipengaruhi oleh multifaktor kondisi ibu dan anak pada periode 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupa. (Investigators, 2. The 2023 Indonesian Health Survey found that stunting prevalence in Indonesia reached 21. 5% and in Banyumas Regency stunting was 20. (Kementerian Kesehatan RI, 2. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi stunting, masih ditemukan hambatan di masyarakat belum memahami pentingnya pola makan bergizi, kebersihan, dan perawatan anak sakit, adanya kepercayaan atau kebiasaan tradisional, ketimpangan distribusi bantuan sosial atau makanan tambahan di daerah tertentu, lingkungan dengan akses sanitasi buruk, sehingga risiko peyakit infeksi. Untuk itu perlu keterlibatan semua pihak, termasuk perguruan tinggi, pihak swasta, masyarakat dan organisasi non-pemerintah untuk menurunkan prevalensi stunting secara signifikan (Budiastutik & Nugraheni, 2019. Samsudin et al. , 2. Intervensi stunting dilakukan melalui dua jenis, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Salah satu intervensi sensitif adalah mendorong terjadinya perubahan perilaku yang dilakukan melalui Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 291 Komunikasi Perubahan Perilaku atau Behavior Change Communication (BCC) dengan tujuan adanya perubahan perilaku pencegahan Stunting tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan serta sikap dari individu atau kelompok sasaran (Direktor Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Kementerian Kesehatan RI, 2. Komunikasi Perubahan perilaku adalah pendekatan komunikasi strategis dan sistematis untuk mendorong perubahan perilaku positif melalui interaksi interpersonal, pesan persuasif, dan pemberdayaan individu. Penerapan BCC diyakini dapat meningkatkan efektivitas edukasi kader dalam mendukung perubahan perilaku keluarga, terutama mengenai stunting, pola asuh, gizi seimbang dan PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Ana. Pendekatan ini berfokus pada peningkatan motivasi, sikap, dan pengetahuan kader melalui komunikasi kesehatan yang partisipatif, sehingga mereka dapat mengimplementasikan tahapan komunikasi kesehatan secara optimal dalam penanganan stunting di wilayahnya (Irfan et al. , 2. Sasaran PKM berbasis riset tahun 2025 adalah kader posyandu yang memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pencegahan dan penanganan stunting di masyarakat. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa, mereka menjadi penghubung antara fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, dengan masyarakat (Roshinah et al. , 2. Kemampuan kader dalam mengelola posyandu dan tidak hanya sebagai pelaksana penimbangan dan pemberian PMT, namun sudah saatnya kader harus memiliki peran yang lebih sebagai penggerak dan pendamping yang harus dibekali dengan pendidikan gizi, pola asuh dan kesehatan dalam upaya pencegahan stunting pada balita. Pola asuh responsif adalah cara mendidik dan merawat anak yang menekankan pada kepekaan orang tua atau pengasuh terhadap kebutuhan fisik, emosional, dan sosial anak, yang berfokus pada memberikan perhatian yang konsisten, kasih sayang, dan dukungan dalam setiap interaksi dengan anak, sehingga membangun rasa aman, kepercayaan diri, dan keterikatan emosional yang kuat (Fajar et al. , 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan kader posyandu dalam pola asuh dan pemberian gizi baduta melalui pendekatan komunikasi perubahan perilaku di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II. Kabupaten Banyumas. Pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan peningkatan kapasitas kader dalam hal metode komunikasi, pengetahuan dasar gizi, serta teknik konseling keluarga baduta. METODE KEGIATAN Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Riset tahun 2025 dilaksanakan di Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah pada bulan Mei Ae Oktober 2025. Kegiatan Pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan-pendekatan komunikasi perubahan perilaku untuk meningkatkan kompetensi kader posyandu dalam edukasi pola asuh dan pemberian gizi baduta. Pengabdian ini melibatkan mitra Puskesmas dan 30 orang Kader Kesehatan di Kecamatan Kembaran. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah model pelatihan partisipatif dengan tahapan kegiatan . persiapan, . Pelaksanaan kegiatan dan . evaluasi Keberhasilan Program pengabdian masyarakat ini. Tahap persiapan meliputi perijinan dan Forum Group Discussion (FGD) dengan pihak Puskesmas, nutrisionis dan pengabd. , diharapkan akan ada pemecahan masalah dan kesepahaman. Penyusunan media intervensi media intervensi berupa media cetak . odul, flipchar. yang berisi tentang stunting, pola asuh, gizi seimbang dan PMBA. Tahap pelaksanaan kegiatan PKM berbasis riset tahun 2025 meliputi Workshop komunikasi perubahan perilaku pola asuh responsif melalui dua sesi yaitu . Pemberian materi tentang stunting, pola asuh, gizi seimbang PMBA, komunikasi perubahan perilaku, dan demonstrasi PMBA. Diskusi dan curah Pendapat (Brainstormin. untuk membantu kader mengadaptasi pesan komunikasi perubahan perilaku sesuai konteks lokal. Tahap Evaluasi Pelaksanaan PKM berbasis riset dilakukan menggunakan instrumen preAepost test yang terdiri dari 20 soal terkait stunting, pola asuh, gizi seimbang dan PMBA. Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat peningkatan nilai rata-rata dan analisa perbedaan dengan uji statistik t Setelah workshop komunikasi perubahan perilaku pola asuh responsive dilakukan kegiatan Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 292 praktik komunikasi oleh kader dengan mempraktikkan keterampilan mendengar dan mempelajari, mengali dan menunjukan perhatian, berempati serta membangun percaya diri. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Riset dilaksanakan Pada Bulan Mei Ae September 2025 di Wilayah Kerja Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas dengan tahapan: Persiapan Perijinan Persiapan PKM berbasis riset Tahun 2025 ini, pertama kali melakukan perijinan ke Fakultas Ilmuilmu Kesehatan dan DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pint. dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dan Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas tanggal 28 Mei 202. Forum Group Discussion (FGD) Tujuan FGD: Merumuskan pendekatan komunikasi perubahan perilaku untuk meningkatkan pola asuh dan gizi baduta dalam pencegahan stunting dengan memanfaatkan Peran kader posyandu. Peserta adalah nutrisionis dan bidan desa dan kepala puskesmas Kembaran II serta tim pengabdi Hari, tanggal : Selasa, 17 Juli 2025 Waktu : 09. 00 Ae 11. 00 WIB Tempat : Puskesmas Kembaran I Kabupaten Banyumas Kegiatan Mengidentifikasi permasalahan stunting pada baduta terutama pendekatan komunikasi perubahan perilaku untuk meningkatkan pola asuh dan gizi baduta dalam pencegahan stunting Merumuskan Peran kader posyandu dan media intervensi yang akan digunakan Menyusun media intervensi Penyusunan media intervensi media intervensi Pembuatan media intervensi terlebih dahulu dilakukan FGD dan berdasarkan literature terbaru. Pada PKM berbasis riset ini media intervensi berupa Modul Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Responsif sebagai upaya Pencegahan Stunting bagi Kader Posyandu Media cetak . odul dan flipchar. yang berisi tentang. Stunting. Pola Asuh. Gizi Seimbang dan PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Ana. , untuk mempermudah alih teknologi. Gambar 1. Modul Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Responsif sebagai upaya Pencegahan Stunting bagi Kader Posyandu Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 293 Gambar 2. Lembar Balik Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Responsif sebagai upaya Pencegahan Stunting bagi Kader Posyandu Pelaksanaan Pelaksanaan Workshop komunikasi perubahan perilaku pola asuh pada hari Rabu, 20 Agustus 2025, bertempat di Balai Desa Karangtengah Kecamatan Kembaran. Peserta workshop sebanyak 30 orang terdiri dari 24 kader dari 8 desa di wilayah kerja Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas. Sedangkan kegiatan yang dilakukan meliputi: Pemberian edukasi Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang stunting, pola asuh, gizi seimbang PMBA, konsep komunikasi perubahan perilaku dan meningkatkan ketrampilan kader posyandu tentang komunikasi perubahan perilaku pola asuh responsive Demonstrasi PMBA Tujuan untuk meningkatkan ketrampilan kader dalam pengolahan makanan bayi dan anak dengan bahan pangan lokal. Diskusi dan curah Pendapat (Brainstormin. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan kader untuk memberikan pesan komunikasi perubahan perilaku kepada ibu balita Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 294 Gambar 3. Kegiatan Workshop Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Karakteristik peserta Pengabdian Kepada Masyarakat Tabel 1. Karakteristik Peserta Workshop Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Jumlah responden . Persentase (%) Usia Lansia Awal . -55 tahu. Dewasa . -45 tahu. Pendidikan Dasar-Menengah (SD-SMA) Tinggi (D3/D4/S. Lama Menjadi Kader < 5 tahun Ou 5 Tahun Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan dari 30 kader peserta Pengabdian Kepada Masyarakat ini berada pada kelompok usia dewasa . Ae 45 tahu. sebanyak 73,4%. Dari tingkat pendidikan ibu sebagian besar 66,6% mempunyai latar belakang pendidikan dasar hingga menengah. Lama menjadi kader menunjukkan sebagian besar . ,^%) telah memiliki pengalaman Ou 5 Tahun. Kader posyandu yang aktif umumnya berada pada usia produktif, memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah, serta telah menjalani peran sebagai kader selama lebih dari lima tahun. Karakteristik tersebut merupakan modal penting dalam keberhasilan program pengabdian masyarakat, karena kader umumnya telah terbiasa berinteraksi dengan masyarakat dan memahami dinamika sosial keluarga Kondisi ini mendukung kapasitas fisik dan kognitif kader dalam mengikuti kegiatan edukasi serta menerapkan keterampilan komunikasi perubahan perilaku secara efektif dalam upaya pencegahan stunting. Tabel 2. Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Pengetahuan dan Ketrampilan Peserta Workshop Komunikasi Perubahan Perilaku Pola Asuh Variabel Pengetahuan Stunting dan pola Keterampilan Komunikasi Perubahan Perilaku Pretest (Mean A SD) 62,4 A 8,1 Posttest (Mean A SD) 84,9 A 6,7 Selisih Mean p-value 58,7 A 7,9 81,3 A 6,5 Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader posyandu tentang stunting setelah edukasi, dengan peningkatan pengetahuan skor 22,5. Hasil uji statistik menggunakan uji t dependen menunjukkan ada peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dengan p Peningkatan ketrampilan komunikasi perubahan perilaku kader juga mengalami Open access article under the CCAeBY-SA license. Copy right A 2026. Wati et al. , 295 peningkatan rata-rata sebesar 22,6. Hasil uji statistik menggunakan uji t dependen menunjukkan ada peningkatan keterampilan komunikasi perubahan perilaku sebelum dan sesudah workshop dengan p Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa workshop komunikasi perubahan perilaku pola asuh secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader. Kader semakin memahami konsep stunting, pola asuh, gizi seimbang PMBA dan Komunikasi perubahan perilaku dalam pencegahan stunting pada baduta. Hasil pengabdian masyarakat sebelumnya menunjukkan bahwa platihan komunikasi antar pribadi pada kader dan penggerak PKK meningkatkan tingkat pengetahuan dan keterampilan komunikasi interpersonal dalam memberikan informasi mengenai penanganan stunting. Setelah pelatihan, sebagian besar peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan yang baik(Sakinah et al. , 2. Pada pengabdian ini peserta workshop dibagi menjadi kelompok kecil yang berjumlah 10 orang per kelompok. Hal ini sejalan dengan pengabdian sebelumnya yang menyatakan bahwa diskusi kelompok kecil, studi kasus, dan latihan praktik . etode interakti. , kader menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang konseling PMBA dan teknik pengukuran gizi anak (Bertalina et al. , 2. Pada variabel keterampilan komunikasi perubahan perilaku kader juga mengalami peningkatan signifikan, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kader lebih baik dalam menerapkan komunikasi dua arah menggunakan pertanyaan terbuka, menyampaikan pesan secara empatik dan menyesuaikan pesan sesuai dengan kondisi stunting pada baduta. Komunikasi perubahan perilaku dapat mengubah perilaku pengasuhan melalui penguatan interpersonal yang efektif (BKKBN, 2022. UNICEF, 2. Studi pengabdian masyarakat yang menunjukkan pelatihan komunikasi berdampak pada peningkatan kemampuan kader menyampaikan pesan perubahan perilaku kepada target komunitas (Setyarsih et al. , 2. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader posyandu tentang stunting setelah edukasi dan secara statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi dengan p value 0. Ketrampilan komunikasi perubahan perilaku kader juga mengalami peningkatan setelah workshop dan secara statistik menunjukkan ada perbedaan bermakna. Adanya peningkatan signifikan pengetahuan kader mengenai pemberian makan sesuai usia, praktik pola asuh responsif, dan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi. Selain itu, kader kesehatan menjadi lebih aktif dalam mendampingi keluarga baduta. Secara keseluruhan pendekatan komunikasi perubahan perilaku efektif dalam meningkatkan pola asuh dan praktik gizi baduta sebagai upaya pencegahan stunting di tingkat puskesmas dan masyarakat. Hasil Kegiatan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam penyusunan program pencegahan stunting dengan peningkatan peran serta aktif dari kader dan ibu balita. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto, atas dukungan pendanaan BLU di bawah skema pengabdian berbasis Riset Tahun 2025. Puskesmas Kembaran II Kabupaten Banyumas, atas pemberian izin dan kesediaan bermitra dalam pengabdian kepada Masyarakat ini, dan kepada semua lembaga terkait yang mendukung kelancaran kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA