Jurnal Pena Sains Vol. No. April 2017 p-ISSN: 2407-2311 e-ISSN: 2527-7634 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATERI GERAK DI KELAS VII SMP NEGERI 1 PUCUK Heny Ekawati Haryono Pendidikan Matematika. Universitas Islam Darul Ulum Lamongan hennyekawati1991@gmail. Abstrak Metode pusat guru lebih banyak digunakan dalam proses pembelajaran namun pengetahuan siswa kurang maksimal. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk melakukan proses pembelajaran yang membimbing para siswa menemukan konsepnya melalui perilaku mereka sendiri sehingga hasilnya lebih bermakna dan diharapkan bisa meningkatkan prestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penerapan model Discovery Terpimpin terhadap prestasi belajar siswa, baik afektif . ikap ilmia. , psikomotor, dan kognitif, serta untuk mengetahui keterkaitan antara aspek-aspek ini. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan "True Experimental Design" yang dilakukan di SMP Negeri 1 Pucuk. Data yang diperoleh adalah pre-test, post-test, dan skor kemampuan psikomotor dan afektif. Selanjutnya data dianalisis dengan statistik yang terdiri dari uji normalitas, homogenitas, dan pengujian hipotesis, dan analisis regresi dan korelasi. Hasil post-test dianalisis dengan uji-t. Hasil uji-t yang diperoleh oleh kedua pihak Aettable ttabel dengan kriteria pengujian adalah thitung > t. -) berarti rata-rata nilai kognitif antara kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol. Dengan demikian bahwa penerapan model Guided Discovery berpengaruh positif terhadap prestasi kognitif siswa pada materi gerak di SMP Negeri 1 Pucuk. Tabel 3. Hasil Analisis Uji-t Dua Pihak Kelas VII-2 dengan VII3 VII-4 dengan VII3 VII-5 dengan VII3 3,84 2,02 Hipotesis 5,74 2,02 5,65 2,02 Kemampuan kognitif siswa dilihat dari hasil nilai post-test dengan menggunakan uji-t dua pihak yaitu untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan nilai kognitif antara siswa yang menggunakan model Guided Discovery dibandingkan dengan metode biasa yang digunakan di sekolah tersebut, maka diperoleh nilai thitung pada kelas eksperimen I terhadap kelas kontrol= 3, eksperimen II terhadap kelas kontrol = 5,74 dan eksperimen i terhadap kelas kontrol = 5,65, sedangkan pada daftar distribusi t di dapat untuk kelas eksperimen I, eksperimen II, dan eksperimen i adalah 2,02. Nilai thitung > ttabel dengan kriteria pengujian adalahAet. A) . < t < t. -A) . , berarti rata-rata nilai kognitif antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak sama. Tabel 5. Nilai rata-rata pre-test dan post-test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Pre-test Post-test t hit t tabel Hipotesis VII-2 dengan VII-3 VII-4 dengan VII-3 VII-5 dengan VII-3 3,84 5,74 5,65 1,68 1,68 1,68 Eksperimen I (VII-. 33,196 67,891 Eksperimen II (VII-. 46,739 72,591 Eksperimen i (VII. Kontrol (VII-. 42,091 72,046 45,413 59,139 Jika dikaitkan antara hasil analisis uji homogenitas . re-tes. dengan uji-t . ost-tes. diketahui bahwa dengan kemampuan awal siswa seluruh kelas sama, setelah mengalami treatment nilai akhir yang diperoleh antara siswa kelas eksperimen lebih baik daripada nilai dari kelas kontrol. Hal serupa bisa dilihat pula pada tabel 1, di sana bisa dilihat bahwa nilai rata-rata pre-test kelas eksperimen adalah cenderung sama dengan kelas kontrol, bahkan pada kelas VII-2 yang merupakan kelas eksperimen rata-rata kelasnya rendah, namun nilai post-test yang di peroleh kelas eksperimen adalah lebih baik dari kelas kontrol. Hal ini membuktikan bahwa melalui belajar mengajar menggunakan model Guided Discovery siswa lebih merasa aman, terbuka terhadap pengalamanpengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan menjelajahi kesempatan yang ada, dan tentunya siswa Tabel 4. Hasil Analisis Uji-t Satu Pihak Kelas p-ISSN: 2407-2311 e-ISSN: 2527-7634 Kemudian dilakukan uji-t satu pihak untuk mengetahui apakah penerapan model Guided Discovery mempunyai nilai kognitif lebih baik dibandingkan dengan metode biasa yang digunakan di sekolah tersebut. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai thitung pada kelas Jurnal Pena Sains Vol. No. April 2017 lebih kreatif. Selain itu hasil belajar yang diperoleh lebih bermakna karena siswa lebih memahami apa yang dia pelajari melalui eksperimen yang di dalamnya terdapat unsur-unsur penemuan yang terbimbing, tidak sekedar eksperimen yang hanya melakukan apa yang tercantum dalam LKS. kemampuan siswa dari pertemuan pertama ke pertamuan kedua adalah menurun, hal ini diakibatkan oleh jadwal mengajar yang hampir bersamaan dengan kegiatan ekstrakurikuler siswa, sehingga pada berkonsentrasi dalam belajar di kelas. Sedangkan mengenai kemampuan afektif siswa dari setiap pertemuan dan perbandingan kemampuan afektif siswa antara kelas kontrol dan kelas eksperimen ditunjukkan oleh gambar Tabel 6. Nilai rata-rata aspek psikomotor dan afektif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Psikomotor Afektif Eksperimen I (VII-. 66,848 53,804 Eksperimen II (VII-. 73,098 57,645 Eksperimen i (VII. Kontrol (VII-. 69,241 56,868 67,150 52,331 p-ISSN: 2407-2311 e-ISSN: 2527-7634 Nilai rata-rata aspek psikomotor dan afektif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 2. Grafik perkembangan kemampuan afektif setiap pertemuan di semua Dari gambar 2 di atas juga dapat dilihat bahwa grafik perkembangan nilai afektif siswa baik di kelas eksperimen (VII-2. VII-4, dan VII-. maupun kelas kontrol (VII-. adalah meningkat dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua, hal ini terjadi karena guru juga membimbing siswa dalam melakukan sikap-sikap ilmiah selama proses belajar mengajar di kelas. Gambar 1. Grafik perkembangan kemampuan psikomotor setiap pertemuan di semua kelas Tabel 7. Rata-rata nilai kemampuan psikomotor dan afektif setiap kelas Dari gambar 1 mengenai grafik perkembangan kemampuan psikomotor siswa di atas dapat dilihat bahwa perkembangan nilai psikomotor siswa di kelas eksperimen (VII-2. VII-4, dan VII-. maupun kelas kontrol (VII-. cenderung meningkat, kecuali di kelas VII-2. Kelas VII-2 VII-4 VII-5 VII-3 Psikomotor Ratarata Afektif Ratarata Jurnal Pena Sains Vol. No. April 2017 Dari tabel di atas menyatakan bahwa nilai kemampuan psikomotor dan afektif antara kelas eksperimen (VII-2. VII-4, dan VII-. dan kelas kontrol (VII. meningkat dari setiap pertemuan, hal ini menyatakan bahwa bimbingan guru mengenai keterampilan . emampuan psikomoto. siswa dan juga sikap . emampuan afekti. siswa direspon baik dan bisa dilakukan dengan baik oleh Dari segi rata-rata, bisa dilihat bahwa kemampuan siswa di kelas eksperimen, baik kemampuan psikomotor maupun afektif adalah lebih baik jika dibandingkan di kelas kontrol, hal ini menunjukkan bahwa proses pengajaran menggunakan model Guided Discovery keterampilan dan sikap siswa, begitu pula Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibuat keterampilan dan sikap ilmiah mampu melatih membimbing siswa dalam eksperimennya maupun dalam proses Beberapa sikap tersebut adalah flexibility . uwes dalam menerima gagasan bar. , curiosity . ikap ingin tah. , open minded . erfikir terbuk. , criticality . erfikir kriti. , dan responsibility . Sedangkan keterampilan yang dilatihkan dan dinilai adalah mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam eksperimen, mengecek fungsi setiap alat yang akan digunakan, merangkai susunan alat sesuai dengan prosedur yang telah ditulis dalam LKS, menggunakan thermometer dengan baik dan benar, menimbang massa bahan yang akan dipanaskan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan diajukan oleh pengamat. Namun pada kelas eksperimen I (VII-. rata-rata nilai psikomotor siswa di bawah kelas kontrol hal ini disebabkan oleh keterampilan awal siswa mengenai penggunaan beberapa alat eksperimen kurang baik, sehingga mempengaruhi nilai rata-ratanya, namun p-ISSN: 2407-2311 e-ISSN: 2527-7634 peningkatan dengan adanya bimbingan dari guru maupun dari LKS. Dari hasil pengamatan dan analisis, diketahui bahwa kemampuan siswa yang tergabung dalam las eksperimen adalah lebih baik Hal membuktikan bahwa dengan proses pembelajaran penemuan, siswa lebih mampu mengembangkan keterampilan dan sikapnya daripada siswa yang menggunakan metode eksperimen dengan mengikuti alur LKS kelas kontrol dan metode ceramah oleh guru karena siswa pada kelas eksperimen lebih bebas dalam mengeksploitasi diri dan kemampuannya, dan lebih leluasa memanfaatkan segala sumber belajar. Melalui analisis keterkaitan antara aspek psikomotor terhadap kognitif dan aspek afektif terhadap kognitif terbukti bahwa aspek-aspek prestasi tersebut mempunyai keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan, karena siswa yang sikap baik, terampil dalam eksperimennya, tentu pemahaman yang diperoleh juga baik. Kemudian dari analisis lembar mengajar menggunakan model Guided Discovery diperoleh bahwa rata-rata tiap aspek mendapat skor yang baik. Namun terdapat aspek yang mendapat nilai cukup, antar lain yaitu pengelolaan waktu dan tentu saja akan berakibat pada aspek Pengkondisian waktu mengalami sedikit hambatan karena dalam proses tahap eksperimen masih ada siswa yang kurang disiplin, begitu pula pada saat presentasi terdapat beberapa kelompok yang malu untuk menyampaikan hasil eksperimennya di depan kelas, hal ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang dijadwalkan. Selain itu terdapat siswa yang cenderung menyukai metode belajar penjelasan/ceramah dari guru dan tidak menyukai eksperimen sehingga Jurnal Pena Sains Vol. No. April 2017 terkadang guru harus memberikan penjelasan yang lebih banyak. p-ISSN: 2407-2311 e-ISSN: 2527-7634 mengamati semua aktifitas siswa secara lengkap, . Model Guided Discovery banyak memberikan kebebasan kepada siswa, dan terkadang kebebasan tersebut digunakan untuk bermain-main dan kurang disiplin, maka perlu kemampuan yang baik oleh guru dalam pengelolaan kelas, . Perlu penelitian lebih mendalam tentang metode eksperimen dengan model Guided Discovery dalam materi lain. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis data penelitian, dapat d ituliskan simpulan bahwa kemampuan kognitif siswa setelah proses pembelajaran dengan menerapkan metode eksperimen dengan model Guided Discovery pada kelas eksperimen adalah lebih baik daripada kelas kontrol yang menerapkan proses belajar sesuai yang dilakukan di sekolah. Hasil tersebut diperoleh melalui analisis uji-t dua pihak dan uji-t satu pihak. Kemampuan aspek psikomotor dan afektif siswa berpengaruh pada kemampuan kognitif siswa yaitu melalui analisis keterkaitan setiap variable . diperoleh hubungan nilai psikomotor yang berpengaruh terhadap nilai kognitif, yaitu dengan kenaikan ratarata satu nilai psikomotor, nilai kognitifnya meningkat sebesar 1,46. Sedangkan pada hubungan nilai afektif dan kognitif, pada setiap kenaikan satu nilai afektif, nilai kognitifnya meningkat sebesar 2,29. Saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah : . Tidak eksperimen, sehingga siswa cenderung pasif pada tahap tersebut. Perlu difikirkan untuk mengatasi keadaan tersebut, sehingga siswa yang tergabung dalam proses belajar menggunakan metode eksperimen dan tentunya model Guided Discovery agar siswa seperti itu juga bisa merasa nyaman dan tertarik, . Karena menggunakan banyak pengamat yang mampu mengakibatkan kondisi belajar kurang kondusif sedangkan setiap pengamat hanya mengamati pada waktu terbatas di setiap individu, maka perlu diadakan penelitian yang lebih efisien dengan sedikit pengamat, namun mampu Daftar Pustaka