BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Penguatan Peran Perempuan dalam Kepemimpinan: Bimbingan Teknis di Desa Galala. Kota Tidore Kepulauan Iriyani Abd. Kadir1*. Nursakina Husen2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Nuku. Tidore. Indonesia *e-mail: iriyaniabdkadir@gmail. ABSTRAK Partisipasi perempuan dalam kepemimpinan desa masih menjadi tantangan di berbagai wilayah perdesaan Indonesia, termasuk di Desa Galala. Kota Tidore Kepulauan. Meskipun perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi desa, keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan formal masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan melalui bimbingan teknis yang komprehensif. Program ini melibatkan pelatihan keterampilan komunikasi, manajemen organisasi, pengambilan keputusan, serta pemahaman tentang regulasi pemerintahan desa. Metode yang digunakan mencakup survei awal untuk analisis kebutuhan, pelatihan dengan pendekatan partisipatif, simulasi kasus, dan pendampingan intensif pasca-pelatihan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam rasa percaya diri, keterampilan komunikasi, dan kemampuan manajerial peserta. Sebanyak 80% peserta melaporkan peningkatan kesiapan untuk terlibat aktif dalam forum-forum desa dan pengambilan Selain itu, terbentuk jaringan perempuan pemimpin desa yang berfungsi sebagai wadah kolaborasi dan advokasi bagi isu-isu yang dihadapi perempuan. Namun, resistensi budaya dan keterbatasan akses terhadap teknologi masih menjadi kendala dalam pengembangan peran perempuan sebagai pemimpin. Oleh karena itu, dibutuhkan sosialisasi dan program lanjutan untuk memastikan keberlanjutan dampak program ini. Program ini berhasil memberdayakan perempuan di Desa Galala dan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan desa, dengan harapan program ini dapat diadopsi lebih luas di wilayah perdesaan lainnya. Kata kunci : kepemimpinan perempuan. bimbingan teknis. ABSTRACT Women's participation in village leadership remains a challenge in many rural areas of Indonesia, including in Galala Village. Tidore Kepulauan. Despite their crucial role in the social and economic life of the village, women's involvement in formal decision-making processes is still limited. This community service program aims to enhance women's leadership capacity through comprehensive technical guidance. The program includes training in communication skills, organizational management, decision-making, and understanding village governance regulations. The methods used include an initial survey for needs analysis, participatory training, case simulations, and intensive post-training mentoring. The results of this activity showed significant improvements in the participants' confidence, communication skills, and managerial abilities. Approximately 80% of the participants reported increased readiness to actively engage in village forums and decision-making processes. Additionally, a network of female village leaders was formed, serving as a platform for collaboration and advocacy on women's issues. However, cultural resistance and limited access to technology remain challenges in advancing women's leadership roles. Thus, further socialization and follow-up programs are needed to ensure the sustainability of the program's impact. This program successfully empowered the women of Galala Village and made a tangible contribution to increasing women's participation in village development, with the hope that similar programs can be adopted more widely in other rural areas. Keywords: women's leadership. technical guidance. Copyright . 2024 Iriyani Abd. Kadir. Nursakina Husen. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Perempuan telah memainkan peran penting dalam pembangunan masyarakat perdesaan di Indonesia (Hayati, 2021. Kurniawanto & Anggraini, 2019. Manembu. Sukesi, 2. Namun, meskipun mereka memiliki pengaruh besar dalam aspek sosial, ekonomi, dan keluarga, partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan, terutama dalam kepemimpinan di desa-desa, masih terbatas (Manembu, 2018. Nurtjahyo, 2020. Rahmawati, 2020. Rizqi et al. , 2. Salah satu penyebabnya adalah adanya kendala struktural, budaya, dan akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang berfokus pada pengembangan kapasitas kepemimpinan perempuan. Di berbagai daerah, termasuk Desa Galala. Kota Tidore Kepulauan, kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh perempuan untuk terlibat aktif dalam struktur formal kepemimpinan di masyarakat. Desa Galala terletak di wilayah perdesaan yang kaya akan potensi alam dan budaya (BPS Kota Tidore Kepulauan, 2. Namun, dalam konteks kepemimpinan, keterlibatan perempuan masih kurang terfasilitasi. Peran perempuan di desa ini seringkali dibatasi pada sektor domestik dan kegiatan informal, seperti usaha mikro dan kegiatan sosial. Kepemimpinan formal di desa cenderung didominasi oleh laki-laki, meskipun perempuan memiliki kapasitas dan potensi yang sama besar. Kondisi ini mendorong adanya kebutuhan untuk memberikan bimbingan teknis dan pelatihan khusus bagi perempuan agar mereka dapat mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan berperan lebih aktif dalam pembangunan desa. Pemberdayaan perempuan dalam kepemimpinan bukan hanya penting untuk mencapai kesetaraan gender, tetapi juga untuk menciptakan pembangunan desa yang lebih inklusif (Anwar et al. , 2023. Liliana, 2024. Sugitanata et al. , 2. Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk memimpin, mereka cenderung membawa perspektif yang berbeda dan lebih holistik dalam pengambilan Keputusan (Aswady. Baiduri et al. , 2023. Chaerudin, 2018. Pronika & Ardhania, 2023. Sihotang. Hal ini dapat menghasilkan kebijakan dan program yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat secara keseluruhan, termasuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Oleh karena itu, penting untuk mendorong peran perempuan dalam kepemimpinan perdesaan melalui bimbingan teknis yang tepat. Bimbingan teknis kepemimpinan bagi perempuan di Desa Galala merupakan salah satu upaya strategis untuk mengatasi kendala yang dihadapi perempuan dalam mengakses peran Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perempuan melalui pelatihan yang meliputi berbagai aspek, seperti keterampilan komunikasi, pengambilan keputusan, manajemen organisasi, dan pemahaman terhadap regulasi pemerintah desa. Dengan bimbingan teknis ini, diharapkan perempuan tidak hanya mampu berpartisipasi lebih aktif dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa, tetapi juga mampu memimpin dengan penuh percaya diri dan kompetensi. Bimbingan teknis ini diinisiasi sebagai respons terhadap kebutuhan yang mendesak untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan di Desa Galala. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan masyarakat setempat, diketahui bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi perempuan adalah kurangnya akses terhadap BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ pelatihan kepemimpinan. Banyak perempuan di desa ini yang memiliki potensi untuk memimpin, namun mereka seringkali merasa kurang percaya diri dan tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana memimpin secara efektif. Program bimbingan teknis ini dirancang untuk mengatasi hambatan tersebut dengan memberikan pelatihan yang komprehensif dan praktis. Selain itu, program ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap peran perempuan dalam kepemimpinan. Di banyak komunitas perdesaan, termasuk Desa Galala, terdapat pandangan tradisional yang menganggap kepemimpinan sebagai domain laki-laki. Pandangan ini seringkali membatasi ruang gerak perempuan untuk tampil sebagai pemimpin. Melalui program bimbingan teknis ini, diharapkan akan terjadi perubahan paradigma di masyarakat, di mana perempuan dapat dilihat sebagai pemimpin yang setara dan mampu membawa perubahan positif bagi komunitasnya. Partisipasi perempuan dalam kepemimpinan desa juga memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan. Perempuan seringkali lebih peka terhadap isuisu kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan, yang merupakan pilar penting dalam pembangunan desa. Dengan melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan, diharapkan kebijakan yang dihasilkan akan lebih inklusif dan memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, meningkatkan partisipasi perempuan dalam kepemimpinan desa melalui bimbingan teknis merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan yang lebih berkelanjutan di Desa Galala. Program bimbingan teknis ini juga didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan, di mana perempuan tidak hanya dilihat sebagai objek yang menerima bantuan, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam proses pembangunan. Pelatihan yang diberikan tidak hanya bersifat top-down, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari para peserta dalam proses belajar dan berbagi pengalaman. Dengan pendekatan ini, diharapkan perempuan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mampu mengembangkan jaringan sosial dan kerjasama yang kuat di antara sesama perempuan pemimpin. Melalui program ini, diharapkan akan terbentuk kader-kader pemimpin perempuan yang mampu berkontribusi secara nyata dalam pembangunan desa. Kader-kader ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa. Lebih jauh lagi, mereka juga dapat menjadi agen perubahan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan kelompok marginal lainnya dalam komunitas. METODE Metode pengabdian kepada masyarakat merupakan pendekatan yang diterapkan oleh dosen perguruan tinggi untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Supriatin et al. , 2. Adapun metode pelaksanaan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini disusun dengan pendekatan partisipatif, di mana masyarakat, khususnya perempuan Desa Galala, dilibatkan secara aktif dalam setiap Pendekatan partisipatif bertujuan untuk memberdayakan peserta melalui serangkaian kegiatan yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan local (Hasan & BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Sangadji, 2. Proses ini dimulai dengan survei awal dan analisis kebutuhan, pelatihan dan bimbingan teknis, evaluasi, serta monitoring dan tindak lanjut yang bertujuan untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan program. Pada tahap pertama, dilakukan survei awal untuk memahami kondisi sosial, ekonomi, dan potensi kepemimpinan perempuan di Desa Galala. Survei ini menggunakan metode wawancara, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan kuesioner, dengan tujuan untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi perempuan dalam mengakses peran kepemimpinan serta ekspektasi mereka terhadap program pelatihan. Hasil analisis kebutuhan dari survei ini digunakan sebagai dasar dalam merancang materi pelatihan, sehingga dapat disesuaikan dengan konteks lokal dan relevansi terhadap situasi nyata di lapangan. Tahap kedua melibatkan pelatihan dan bimbingan teknis, yang menjadi inti dari program ini. Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa sesi yang berfokus pada peningkatan keterampilan kepemimpinan perempuan. Materi pelatihan mencakup pengembangan keterampilan komunikasi, manajemen organisasi, pengambilan keputusan, dan pemahaman tentang regulasi desa serta tata kelola pemerintahan desa. Peserta diberikan kesempatan untuk mempelajari teknik komunikasi yang efektif, mengelola organisasi, serta mengambil keputusan yang strategis dalam menghadapi berbagai masalah. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi interaktif, serta simulasi kasus, di mana peserta dihadapkan pada skenario yang menggambarkan situasi nyata di desa. Simulasi ini memungkinkan peserta untuk mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari, meningkatkan pemahaman mereka terhadap tantangan yang mungkin dihadapi dalam peran kepemimpinan. Setelah pelatihan, peserta mendapatkan pendampingan secara intensif selama beberapa minggu. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan peserta mampu menerapkan keterampilan kepemimpinan yang telah dipelajari ke dalam kehidupan Fasilitator bertindak sebagai mentor, memberikan bimbingan dan umpan balik yang spesifik bagi peserta. Selain itu, dibentuk pula jaringan perempuan pemimpin desa, yang berfungsi sebagai wadah untuk saling berbagi pengalaman dan dukungan di antara sesama peserta. Jaringan ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan kerjasama perempuan dalam menghadapi tantangan di bidang kepemimpinan. Tahap selanjutnya adalah evaluasi, yang dilakukan untuk menilai efektivitas program ini dalam meningkatkan kapasitas kepemimpinan perempuan di Desa Galala. Evaluasi dilakukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama pelatihan untuk memastikan peserta memahami materi yang disampaikan, sementara evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk mengukur dampak pelatihan terhadap peningkatan kapasitas peserta. Umpan balik peserta dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, serta observasi langsung. Di samping itu, tes praktik dalam bentuk simulasi kepemimpinan digunakan untuk mengevaluasi kemampuan peserta dalam menerapkan keterampilan yang telah dipelajari. Untuk memastikan keberlanjutan program, dilakukan monitoring secara berkala setelah pelatihan. Monitoring ini mencakup pemantauan perkembangan peserta dalam menerapkan keterampilan kepemimpinan mereka di lingkungan desa. Tim pengabdian BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ memberikan dukungan dan saran jika dibutuhkan, serta mengoordinasikan tindak lanjut berupa kolaborasi antara pemerintah desa dan perempuan pemimpin yang telah dilatih. Monitoring ini bertujuan untuk menilai dampak jangka panjang program terhadap perubahan peran perempuan dalam kepemimpinan desa, serta untuk merumuskan program lanjutan yang lebih baik. Dengan pendekatan yang sistematis dan terukur, metode ini diharapkan mampu meningkatkan peran perempuan Desa Galala dalam kepemimpinan dan memastikan keberlanjutan dampak positif dari program ini terhadap pembangunan desa. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan bimbingan teknis kepemimpinan perempuan di Desa Galala telah berhasil dilaksanakan dengan hasil yang cukup signifikan dalam hal peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan. Berdasarkan evaluasi terhadap peserta, terdapat peningkatan yang nyata dalam keterampilan komunikasi, manajemen organisasi, dan pengambilan keputusan, yang merupakan aspek-aspek utama yang ditekankan selama Sebelum program ini dilaksanakan, mayoritas peserta mengaku merasa kurang percaya diri untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan di tingkat Namun, setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan, sekitar 80% peserta melaporkan adanya peningkatan rasa percaya diri dan kesiapan untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan kepemimpinan formal maupun informal di desa. Pada aspek pengembangan keterampilan komunikasi, peserta menunjukkan peningkatan dalam kemampuan berbicara di depan umum, berargumentasi secara konstruktif, dan menyampaikan ide-ide mereka dengan lebih terstruktur. Hal ini terlihat jelas selama sesi simulasi kepemimpinan dan diskusi kelompok, di mana para peserta mulai menunjukkan keberanian untuk menyuarakan pendapat mereka, sesuatu yang sebelumnya mereka anggap sulit. Keterampilan komunikasi yang lebih baik ini tidak hanya meningkatkan partisipasi mereka dalam forum-forum resmi desa, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari dengan anggota masyarakat lainnya. Gambar 1. Foto Bersama Peserta Kegiatan BIMTEK BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Dalam hal manajemen organisasi, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana mengelola sebuah organisasi atau kelompok masyarakat dengan lebih sistematis. Peserta yang tergabung dalam organisasi perempuan di desa sekarang memiliki struktur yang lebih baik dalam pengelolaan kegiatan, pembagian tugas, dan evaluasi program. Sebelumnya, banyak dari organisasi perempuan di desa ini yang beroperasi tanpa adanya sistem yang jelas, namun setelah pelatihan, mereka mulai menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang dipelajari, seperti pembagian peran dan tanggung jawab, serta perencanaan kegiatan yang lebih terorganisir. Selain itu, kemampuan dalam pengambilan keputusan peserta juga meningkat. Sebelum pelatihan, banyak peserta yang merasa kurang berani mengambil keputusan, terutama dalam situasi yang melibatkan kepentingan umum. Melalui bimbingan teknis dan simulasi kasus yang diberikan, peserta diajarkan bagaimana menganalisis situasi, mempertimbangkan berbagai opsi, dan mengambil keputusan secara tepat. Dampaknya, mereka menjadi lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi masalah yang memerlukan solusi cepat dan tepat. Salah satu hasil konkret dari pelatihan ini adalah keterlibatan beberapa peserta dalam forum musyawarah desa, di mana mereka berhasil menyampaikan usulan dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan desa. Pembentukan jaringan perempuan pemimpin desa juga menjadi salah satu hasil penting dari program ini. Melalui jaringan ini, para peserta dapat saling mendukung dan berbagi pengalaman dalam menerapkan keterampilan kepemimpinan mereka di Jaringan ini berfungsi sebagai forum diskusi dan advokasi bagi isu-isu yang dihadapi perempuan di Desa Galala, sehingga memperkuat peran perempuan sebagai agen perubahan di komunitas mereka. Keberadaan jaringan ini juga memfasilitasi komunikasi yang lebih baik antara perempuan dan pihak pemerintah desa, sehingga memungkinkan perempuan untuk menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka dengan lebih efektif. Gambar 2. Pelaksanaan Kegiatan BIMTEK BARAKATI: Journal of Community Service Volume 03 Nomor 1 | Agustus 2024: 100-107 e-ISSN: 2961-8207 __________________________________________________________________________________ Meskipun secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini menghasilkan dampak yang positif, namun ada beberapa tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan BIMTEK Salah satunya adalah resistensi budaya dari sebagian masyarakat yang masih menganggap kepemimpinan sebagai peran laki-laki. Meskipun partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan meningkat, masih terdapat pandangan tradisional yang membatasi peran perempuan di ruang publik. Hal ini menjadi tantangan yang harus diatasi melalui sosialisasi lebih lanjut dan upaya advokasi yang berkelanjutan. Untuk mengatasi resistensi ini, diusulkan agar kegiatan bimbingan teknis ini dapat diikuti dengan kampanye kesetaraan gender yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh-tokoh adat dan agama, yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi publik tentang peran perempuan. Selain itu, salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan akses perempuan terhadap sumber daya yang mendukung pengembangan kepemimpinan mereka, seperti akses terhadap pendidikan tambahan dan teknologi. Banyak perempuan di desa ini yang masih terbatas dalam penggunaan teknologi digital, yang semakin penting dalam proses kepemimpinan dan pengelolaan informasi. Oleh karena itu, di masa depan, program ini dapat diperluas dengan memberikan pelatihan keterampilan digital kepada perempuan, agar mereka dapat mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam peran kepemimpinan mereka, seperti dalam pengelolaan program-program desa berbasis teknologi informasi. KESIMPULAN Hasil dari kegiatan bimbingan teknis ini menunjukkan bahwa perempuan Desa Galala memiliki potensi besar untuk berperan aktif dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di tingkat desa. Program ini tidak hanya berhasil meningkatkan kapasitas individu peserta, tetapi juga memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial dan politik desa. Perubahan ini merupakan langkah awal yang penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, di mana perempuan dapat berkontribusi secara penuh dalam pembangunan desa. Namun, keberlanjutan program ini perlu dijaga melalui dukungan lanjutan dan kolaborasi dengan pemerintah desa dan lembaga terkait, agar dampaknya dapat dirasakan secara jangka panjang. REFERENSI