DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Implementasi Gaya Kepemimpinan Visioner Pada Film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta Nandamar Romadhoni Sasongko, 2Muhammad Fikri, 3Erindah Dimisyqiyani, 4Amaliyah. Rizky Amalia Sinulingga, 6Gagas Gayuh Aji Departemen Bisnis. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya. Indonesia E-mail: 1nandamar. sasongko-2023@vokasi. id, 2muhammad. fikri2023@vokasi. id, 3erindah-dimisyqiyani@vokasi. amaliyah@vokasi. id, 5rizkyamalia@vokasi. aji@vokasi. Abstract Leadership is a factor that can determine the success of an organization in achieving its goals. This study aims to analyze the implementation of visionary leadership in the film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta . , on Sultan AgungAos character as a historical leader with long-term vision, moral courage, and a deep commitment to Javanese cultural values. Using a descriptive qualitative approach, the research examines key scenes that depict Sultan AgungAos political strategies, inspirational communication, and personal sacrifices in resisting VOC colonialism. The film illustrates that visionary leadership is not solely about power, but also about shaping the peopleAos character through education and cultural preservation. Sultan Agung is portrayed as a religious, humanistic, and strategic leader who integrates local wisdom with sustainable development principles, aligning with SDG 16. This analysis affirms that film can serve as an effective educational medium to foster public understanding of leadership that is just, inclusive, and future-oriented. The representation of Sultan Agung also demonstrates how visionary leadership can build collective solidarity and historical awareness in the face of socio-political challenges. Thus, his character becomes a compelling reflection of leadership that remains relevant and inspirational within the contemporary Indonesian context. Keywords: Visionary leadership. Sultan Agung, historical film Abstrak Kepemimpinan merupakan faktor yang dapat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam pencapaian tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi gaya kepemimpinan visioner dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta . , dengan fokus pada karakter Sultan Agung sebagai representasi pemimpin historis yang memiliki visi jangka panjang, keberanian moral, dan komitmen terhadap nilai-nilai budaya Jawa. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengkaji adegan-adegan kunci yang menampilkan strategi politik, komunikasi inspiratif, dan pengorbanan pribadi Sultan Agung dalam menghadapi kolonialisme VOC. Film ini menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada pembangunan karakter rakyat melalui pendidikan dan pelestarian budaya. Sultan Agung digambarkan sebagai pemimpin religius, humanis, dan strategis yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, selaras dengan tujuan SDG 16. Analisis ini menegaskan bahwa media film dapat menjadi sarana edukatif yang efektif dalam membentuk pemahaman publik tentang kepemimpinan yang adil, inklusif, dan berorientasi masa depan. Representasi Sultan Agung dalam film ini juga memper- Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. lihatkan bagaimana kepemimpinan visioner mampu membangun solidaritas kolektif dan kesadaran historis dalam menghadapi tantangan sosial-politik. Dengan demikian, karakter Sultan Agung menjadi refleksi dari kepemimpinan yang relevan dan inspiratif bagi konteks Indonesia masa kini. Kata Kunci: Kepemimpinan visioner. Sultan Agung, film sejarah BAB I PENDAHULUAN Kepemimpinan merupakan faktor penting pada suatu organisasi. Secara umum, kepemimpinan dapat dimaknai sebagai proses mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama melalui komunikasi, motivasi, dan pengambilan keputusan strategis. Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain demi tercapainya tujuan organisasi yang telah ditentukan (Waedoloh et al. Dalam konteks modern, kepemimpinan dituntut untuk adaptif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia sebagai aset utama. Kepemimpinan juga dituntut untuk selalu adil dan berintegritas. Oleh karena itu, pemahaman tentang kepemimpinan menjadi penting dalam membentuk arah dan keberhasilan suatu sistem Keharusan kepemimpinan yang adil dan berintegritas juga selaras dengan Sustainable Development Goals (SDG. , khususnya SDG 16 yang menekankan pentingnya perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang kuat. Pemimpin yang memiliki sifat adil dapat menciptakan kepercayaan di antara anggota organisasi maupun masyarakat luas, sehingga mendorong terciptanya sistem sosial yang stabil dan berkelanjutan. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola tugas dan sumber daya secara efisien, tetapi juga berperan penting dalam menentukan efektivitas organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin yang efektif mampu mengarahkan tim dengan jelas, membangun komunikasi yang terbuka, serta menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi kolaborasi dan inovasi. Efektivitas kepemimpinan tercermin dari kemampuan dan keterampilan seorang pimpinan dalam mempengaruhi perilaku bawahannya agar berpikir dan bertindak secara positif, sehingga kontribusi mereka benar-benar mendukung pencapaian tujuan organisasi (Kusuma, 2. Ketika pemimpin mampu menjalankan peran ini dengan baik, maka organisasi akan lebih adaptif, produktif, dan memiliki daya saing yang kuat. Gaya kepemimpinan merupakan aspek penting dalam memahami karakter dan efektivitas seorang pemimpin. Gaya ini mencerminkan pendekatan khas yang digunakan dalam mengarahkan, memotivasi, dan mengelola pengikut dalam suatu organisasi. Gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin perusahaan sangat berpengaruh terhadap suasana kerja dan semangat karyawan (Pangau, 2. Ketika pemimpin mampu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan apresiasi, serta mendorong partisipasi aktif, maka motivasi kerja karyawan akan meningkat. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan kinerja dan produktivitas, yang pada akhirnya membantu perusahaan mencapai tujuannya. Oleh karena itu, pemilihan dan penerapan gaya kepemimpinan yang tepat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan mendukung pencapaian visi organisasi. Gaya kepemimpinan visioner merupakan salah satu pendekatan yang menonjol dan relevan dalam menghadapi tantangan jangka Kepemimpinan visioner berfokus pada penciptaan dan pelaksanaan visi jangka panjang yang mampu menggerakkan serta membimbing individu maupun organisasi menuju tujuan yang lebih bermakna. Pemimpin dengan gaya ini berpikir secara strategis, kreatif, dan mampu menyampaikan gagasan masa depan dengan cara yang menginspirasi. Tidak hanya menciptakan visi yang menarik, pemimpin visioner juga mampu mengatasi berbagai tantangan dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. proses mewujudkannya. Peran kepemimpinan visioner sangat krusial karena dapat membangkitkan semangat dan motivasi orang-orang di Dengan visi yang kuat, pemimpin membantu timnya menyadari potensi diri dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama. Gaya kepemimpinan ini juga berpengaruh besar dalam menentukan arah organisasi dan mengambil keputusan strategis (Harahap & Fathurrahman, 2. Namun, menjalankan kepemimpinan visioner bukan tanpa tantangan. Mewujudkan visi besar memerlukan komitmen jangka panjang, kesiapan menghadapi ketidakpastian, dan kemampuan untuk tetap fleksibel di tengah perubahan. Film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta adalah karya sinematik yang mengangkat kisah perjuangan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai Raja Mataram. Film ini menyoroti tiga aspek utama: tahta sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi politik, perjuangan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan VOC, dan cinta sebagai pengorbanan pribadi demi stabilitas kerajaan. Representasi kepemimpinan Sultan Agung dalam film ini menunjukkan karakter pemimpin yang visioner, religius, dan humanis, terutama dalam komitmennya terhadap pendidikan dan pelestarian Pendidikan berbasis nilai budaya lokal merupakan strategi penting dalam membangun karakter generasi muda dan memperkuat identitas nasional di tengah tekanan kolonialisme (Supriyanto et al. , 2. Pendekatan Sultan Agung dalam menghidupkan kembali padepokan Jejeran sebagai pusat pendidikan kesastraan mencerminkan visi jangka panjang yang tidak hanya bertujuan mencerdaskan rakyat, tetapi juga memperkuat fondasi peradaban Mataram melalui literasi dan nilai-nilai kebudayaan. Tindakan Sultan Agung mengajar langsung anak-anak korban perang menunjukkan kepemimpinan yang inklusif dan transformatif, di mana pendidikan menjadi alat perlawanan sekaligus pembangunan sosial. Dengan demikian, film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta menyajikan narasi yang kaya akan nilai-nilai kepemimpinan visioner yang relevan dalam konteks sejarah maupun pembelajaran kepemimpinan masa kini. Melalui karakter Sultan Agung, penonton diajak untuk memahami bahwa kepemimpinan yang Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 efektif tidak hanya ditentukan oleh kekuasaan dan strategi politik, tetapi juga oleh visi jangka panjang, pengorbanan pribadi, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur seperti persatuan, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air. Sultan Agung digambarkan sebagai pemimpin muda yang harus menghadapi tantangan besar, mulai dari menyatukan para adipati yang terpecah akibat politik VOC hingga mengambil keputusan sulit yang mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan rakyat dan negara. Seperti dijelaskan oleh Missuari . , film ini menampilkan pesan moral bahwa kepemimpinan sejati menuntut kapabilitas tinggi, keteguhan hati, dan kemampuan untuk menyeimbangkan antara tuntutan politik dan nilai kemanusiaan. Karakter Sultan Agung menjadi simbol pemimpin yang tidak hanya berpikir taktis, tetapi juga menjunjung tinggi ilmu, budaya, dan tanggung jawab sosial dalam setiap langkahnya. 2 Rumusan Masalah Bagaimana karakter Sultan Agung dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta kepemimpinan visioner? Dalam aspek apa saja Sultan Agung menunjukkan strategi kepemimpinan yang selaras dengan nilai budaya Jawa dan prinsip pembangunan berkelanjutan? Bagaimana sifat kepemimpinan visioner Sultan Agung dalam mempengaruhi para prajurit kerajaan mataram? 3 Tujuan Untuk menganalisis representasi kepemimpinan visioner Sultan Agung dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta Untuk mengetahui integrasi nilai budaya dan spiritual Jawa dalam strategi politik Sultan Agung. Untuk menjelaskan bagaimana sifat kepemimpinan visioner menciptakan pengaruh sosial dalam alur cerita film. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 BAB II LANDASAN TEORI 1 Manajemen Manajemen merupakan proses sistematis yang mencakup serangkaian aktivitas untuk mengarahkan sumber daya manusia dan material guna mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Dalam praktiknya, manajemen berfungsi sebagai fondasi strategis yang memungkinkan organisasi merespons perubahan dan mengoptimalkan potensi internal. Manajemen terdiri dari empat fungsi utama: Planning. Organizing. Actuating and Controlling (POAC) (Ayu, 2. Fungsi tersebut saling berinteraksi dalam membentuk siklus kerja organisasi. antara fungsi-fungsi tersebut, kepemimpinan termasuk pada fungsi pengarahan yang memiliki peran sentral sebagai penggerak untuk menyatukan visi, strategi, dan tindakan kolektif. 2 Kepemimpinan Kepemimpinan tidak hanya berfungsi sebagai alat koordinasi, tetapi juga sebagai kekuatan motivasional yang membentuk budaya mengarahkan tim menuju pencapaian tujuan bersama. Dalam konteks organisasi publik maupun swasta, kepemimpinan yang adaptif dan komunikatif menjadi elemen kunci dalam memastikan keberhasilan manajerial secara berkelanjutan. Kepemimpinan yang berjalan secara efektif dan efisien dapat tercapai apabila pelaksanaannya selaras dengan fungsi serta tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya (Mattayang, 2. Pemimpin yang efektif tidak hanya mengandalkan otoritas formal, tetapi juga membangun hubungan interpersonal yang kuat, menumbuhkan kepercayaan, dan menunjukkan integritas dalam setiap tindakan. Dalam era modern yang ditandai oleh kompleksitas dan tuntutan pelayanan publik yang dinamis, kepemimpinan dituntut untuk adaptif, komunikatif, dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia sebagai aset utama organisasi. DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Gaya ini mencerminkan sejauh mana kemampuan pemimpin dalam mengarahkan, memengaruhi, dan membina hubungan kerja dengan orang-orang yang dipimpinnya. Terdapat beberapa gaya kepemimpinan, antara lain: Visioner Pemimpin yang visioner berarti memiliki pandangan yang jelas tentang tujuan organisasi. Kepemimpinan visioner adalah kemampuan seorang pemimpin dalam menciptakan, merumuskan, mengkomunikasikan, dan mengimplementasikan gagasan-gagasan ideal yang bersumber dari pemikiran pribadi maupun hasil interaksi sosial dengan anggota organisasi dan para pemangku kepentingan (Rismanto, 2. Demokratis Gaya kepemimpinan demokratis merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam memengaruhi individu lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. Proses pencapaian tujuan dilakukan melalui berbagai aktivitas yang dirancang secara kolektif antara pemimpin dan bawahan. Ciri khas dari kepemimpinan ini adalah tidak adanya dominasi mutlak dari pemimpin, melainkan adanya pelimpahan sebagian kewenangan kepada bawahan. Selain itu, pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan dilakukan secara bersama-sama, serta komunikasi berlangsung secara timbal balik, baik dari pemimpin kepada bawahan maupun sebaliknya (Mustika, 2. Kharismatik Gaya kepemimpinan kharismatik merupakan kombinasi antara pesona pribadi dan daya tarik yang melekat pada seorang pemimpin, yang berperan mempengaruhi orang lain agar secara sukarela dan antusias mendukung visi serta tujuan yang telah ditetapkan (Gunawan, 2. 3 Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan pada dasarnya merujuk pada bentuk perilaku khas yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan peran kepemimpinannya (Salsabilla. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. BAB i Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam melalui perspektif subjek yang diteliti, bukan sekadar mengukur variabel secara Pendekatan kualitatif berakar pada paradigma konstruktivisme yang menekankan analisis induktif, data naratif, dan pemahaman kontekstual terhadap realitas sosial (Nurhaswinda et al. , 2. Penelitian kualitatif bersifat fleksibel dan terbuka terhadap dinamika lapangan, sehingga sangat cocok digunakan untuk mengkaji representasi gaya kepemimpinan visioner dalam film sebagai objek budaya dan naratif. Rokhamah et al. juga menegaskan bahwa penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk menggali makna simbolik dan nilai-nilai yang terkandung dalam teks visual secara mendalam dan kontekstual. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh utama dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang dianalisis sebagai representasi pemimpin visioner. Objek penelitian berupa film itu sendiri, yang dianalisis sebagai teks naratif dan visual yang mengandung nilai-nilai kepemimpinan. Dalam penelitian kualitatif, subjek dipilih berdasarkan keterlibatan dan relevansi mereka terhadap fenomena yang dikaji, bukan berdasarkan representasi statistik (Suyitno. Penentuan subjek ini memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam karakteristik kepemimpinan Sultan Agung dalam konteks historis dan budaya Jawa. Dengan demikian, analisis dapat menghasilkan pemahaman yang lebih kaya dan kontekstual mengenai visi dan strategi kepemimpinan yang ditampilkan dalam narasi film. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Observasi dilakukan terhadap adegan-adegan kunci dalam film yang menunjukkan tindakan kepemimpinan Sultan Agung, seperti pengambilan keputusan strategis, interaksi dengan rakyat dan pejabat, serta pengorbanan pribadi demi visi politik. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa transkrip dialog, sinopsis film, serta referensi Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 visual yang mendukung analisis. Teknik observasi dan dokumentasi merupakan metode utama dalam penelitian kualitatif karena mampu menangkap dinamika perilaku dan simbol yang tidak dapat dijelaskan secara numerik (Yusra et , 2. Selain itu, triangulasi data dilakukan dengan membandingkan hasil observasi dengan kajian pustaka dari jurnal dan sumber akademik lain untuk meningkatkan validitas dan kredibilitas temuan. BAB IV Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Berdasarkan penelitian penulis terhadap film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta . , kepemimpinan Sultan Agung sebagai tokoh utama mencerminkan nilai-nilai dari teori kepemimpinan visioner, yang menekankan pentingnya pemimpin memiliki visi jangka panjang, komitmen terhadap nilai-nilai luhur, serta kemampuan untuk menginspirasi dan menggerakkan pengikut menuju tujuan kolektif. Dalam film tersebut. Sultan Agung menunjukkan karakteristik visioner melalui keputusan strategis, pengorbanan pribadi, dan keberanian dalam menghadapi kekuasaan kolonial. Dalam film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta, karakter Sultan Agung digambarkan memiliki visi besar untuk menyatukan seluruh wilayah Jawa dan menolak dominasi bangsa asing, khususnya VOC (Beland. Salah satu adegan penting yang menggambarkan hal ini terjadi saat Sultan Agung berdiskusi mengenai masa depan Mataram dan tujuan kekuasaannya yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan tahta. Gambar 1 Sultan Agung naik tahta menjadi raja mataram P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Sultan Agung: Tahtaku adalah amanah dari kanjeng Sunan Kalijaga untuk melindungi rakyat Jawa. Sejak runtuhnya Majapahit, adipati-adipati di timur, utara, dan barat yang tercerai berai, akan aku satukan dibawah panji-panji mataram. Sultan Agung juga menunjukkan kecerdasannya dalam membaca situasi geopolitik dan mengambil langkah strategis dengan tegas namun penuh perhitungan. Dalam sebuah adegan ketika utusan VOC datang untuk bernegosiasi. Sultan Agung menanggapi dengan sangat cerdas. Gambar 2 Sultan Agung meminta mahar pengenaan pajak 60% pada setiap transaksi VOC Sultan Agung: Saya tidak keberatan kalian berdagang di tanah kami. Tapi kalian harus membayar pajak sebesar 60 persen dari setiap Perwakilan VOC: Tawaran dari baginda akan kami bahas bersama pemimpin kami dahulu Kemampuan Sultan Agung dalam membangkitkan semangat rakyat dan pasukannya juga sangat menonjol. Dalam momen persiapan serangan ke Batavia, ia menyampaikan pidato menyatukan kekuatan dari berbagai wilayah di Jawa. Gambar 3 Sultan Agung memotivasi prajurit yang akan berangkat berperang Sultan Agung: randu! tegak kan kepalamu, sebentar lagi namamu akan dikenang sebagai pah- DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. lawan mataram. Prajurit-prajurit ku yang gagah dengan berat hati aku harus menitipkan perjuangan ini kepada kalian. Perang ini bukan untuk ingsun, ini perang suci untuk meneruskan perjuangan mahapatih Gajah Mada dalam menyatukan nusantara. Dengan menyebut asma gusti kang akaryo jagad aku titah kan kalian untuk mukti utowo mati ning sunda kelapa! Pada film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta menampilkan bagaimana tokoh Sultan Agung menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan visioner yang tetap relevan dalam konteks kepemimpinan masa kini. Dalam film tersebut. Sultan Agung menunjukkan arah kepemimpinan yang berlandaskan visi jangka panjang, keberanian moral, dan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan. Ia tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga ideologis, dengan keputusan-keputusan strategis yang mencerminkan pandangan jauh ke depan. Misalnya, penolakannya terhadap dominasi VOC menunjukkan keberanian untuk mempertahankan menghadapi risiko besar. Selain itu, pengorbanan cinta demi tanggung jawab negara memperlihatkan bahwa pemimpin visioner mampu menempatkan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks modern, kepemimpinan visioner seperti ini sangat penting dalam berbagai bidang seperti pemerintahan, pendidikan, dan organisasi sosial, di mana pemimpin dituntut untuk memiliki arah yang jelas, mampu menginspirasi, dan membangun strategi Dengan menerapkan prinsipprinsip ini, para pemimpin masa kini dapat membentuk perubahan yang bermakna dan membawa organisasi atau komunitas menuju masa depan yang lebih baik. 2 Pembahasan Perumusan Visi Besar untuk Menyatukan Nusantara Berdasarkan cuplikan dalam film, tampak jelas beberapa aspek yang merepresentasikan kepemimpinan visioner yang berorientasi pada masa depan dan perubahan sistemik. Dalam teori kepemimpinan visioner, pemimpin tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merumuskan visi jangka panjang yang mampu Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. menginspirasi dan menggerakkan pengikutnya menuju tujuan kolektif. Kepemimpinan visioner mencakup karakteristik transformasional yang memungkinkan pemimpin untuk membentuk arah strategis yang berkelanjutan melalui nilainilai budaya dan moral yang tertanam dalam organisasi (Sulistiyanto, 2. Sultan Agung tidak hanya memimpin secara birokratis, tetapi juga membangun narasi kebangsaan yang berakar pada warisan leluhur dan nilai-nilai spiritual Jawa. Dalam konteks film, visi Sultan Agung untuk menyatukan tanah Jawa bukan sekadar ambisi politik, melainkan bentuk tanggung jawab historis dan moral terhadap masa depan Hal ini diperkuat oleh Lestari et al. dalam Innovative: Journal of Social Science Research, yang menekankan bahwa pemimpin visioner memiliki kemampuan untuk merumuskan visi inspiratif yang mampu membawa perubahan positif dan membimbing masyarakat menuju tujuan jangka panjang. Pendekatan Sultan Agung mencerminkan kepemimpinan yang tidak hanya strategis, tetapi juga sarat dengan etika dan tanggung jawab sosial, menjadikannya figur visioner yang melampaui Dengan menjadikan penyatuan Nusantara sebagai misi utama. Sultan Agung menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak Ia mampu mengintegrasikan nilai budaya, sejarah, dan strategi politik dalam satu arah perjuangan yang jelas dan inspiratif bagi rakyatnya, menjadikan visinya sebagai kekuatan pemersatu di tengah ancaman eksternal. Perumusan visi besar ini selaras dengan Sustainable Development Goal (SDG) 16 yang menekankan pentingnya institusi yang kuat, adil, dan inklusif. Pemimpin yang memiliki visi jangka panjang berperan penting dalam membangun tatanan politik yang berkeadilan dan mendorong terciptanya perdamaian serta kepercayaan publik terhadap kepemimpinan. Ketegasan Strategis terhadap Ancaman Penjajah Dalam adegan saat Sultan Agung menghadapi utusan VOC, sikap tegas namun penuh perhitungan yang ditunjukkan menggambarkan kepemimpinan visioner yang tidak hanya Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 berfokus pada visi besar, tetapi juga pada implementasi strategis yang cermat dalam menghadapi realitas politik yang kompleks. Dengan menetapkan pajak 60 persen atas setiap transaksi dan mengambil senjata dari utusan VOC. Sultan Agung menegaskan kedaulatan dan batasan kekuasaan kerajaannya tanpa harus menolak secara total kehadiran kekuatan asing. Hal itu memperlihatkan bahwa Sultan Agung tidak hanya memiliki visi besar, tetapi juga kemampuan eksekusi yang cermat dan penuh perhitungan. Dalam kepemimpinan visioner, kemampuan untuk menyeimbangkan idealisme dengan realitas politik merupakan elemen krusial yang menentukan efektivitas arah perjuangan. Pemimpin visioner harus mampu menetapkan batas interaksi eksternal secara strategis agar arah perjuangan tetap konsisten dan tidak terpengaruh oleh tekanan eksternal yang merusak integritas Pemimpin visioner memiliki peran penting dalam memberi arah, menjadi agen perubahan, dan menetapkan pola interaksi yang mendukung karakter dan kemandirian institusi yang dipimpinnya (Adriansyah et al. Sultan Agung menunjukkan bahwa ia tidak anti terhadap kehadiran asing, tetapi ia menetapkan aturan main yang melindungi kedaulatan dan integritas kerajaannya. Langkah strategis ini juga menunjukkan bahwa Sultan Agung memahami pentingnya diplomasi dalam konteks geopolitik yang kompleks. Ia tidak memilih konfrontasi langsung, tetapi menggunakan simbol dan tindakan elegan untuk menegaskan posisi politiknya. Ketegasan yang ditunjukkan dalam adegan ini memperkuat citra Sultan Agung sebagai pemimpin yang tidak hanya memiliki visi, tetapi juga mampu menjaga martabat dan kedaulatan melalui tindakan yang bijaksana dan terukur. Kepemimpinan visioner dalam konteks ini menuntut pemimpin untuk tidak hanya berpikir besar, tetapi juga mampu mengelola risiko dan membangun sistem pertahanan politik yang adaptif terhadap tekanan Tindakan Sultan Agung bukan hanya refleksi dari kepemimpinan visioner, tetapi juga representasi konkret dari bagaimana nilai-nilai global Sustainable Development Goal (SDG) 16 seperti perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh dapat diwujudkan melalui strategi lokal yang cermat dan berakar pada budaya. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 menjadi contoh historis bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya soal ekonomi dan lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana pemimpin membangun sistem politik yang adil, adaptif, dan bermartabat. Menginspirasi dan Menggerakkan Kolektif Dalam adegan pidato Sultan Agung menjelang penyerangan ke Batavia, tampak jelas bentuk komunikasi visioner yang bertujuan membangkitkan semangat kolektif dan memperkuat komitmen moral pasukan. Dalam teori kepemimpinan visioner, kemampuan untuk menginspirasi pengikut melalui komunikasi yang simbolik dan emosional merupakan elemen Komunikasi internal yang efektif merupakan saluran utama bagi pemimpin visioner untuk menyampaikan visi strategis dan membentuk kesatuan arah dalam tim kerja (Nst et al. Pendekatan Sultan Agung dalam pidatonya mencerminkan strategi komunikasi yang tidak hanya retoris, tetapi juga sarat makna simbolik yang menyentuh identitas kolektif rakyat Jawa. Sultan Agung menggunakan bahasa yang menggugah emosi, menanamkan nilai patriotisme dan pengorbanan sebagai landasan perjuangan. Pidato tersebut menjadi titik balik dalam film, di mana semangat kolektif rakyat dan pasukan Jawa mulai menyatu dalam satu visi Hal ini diperkuat oleh Jabir et al. yang menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner dan komunikasi yang menyentuh nilainilai terdalam pengikut mampu meningkatkan motivasi kerja dan loyalitas secara signifikan. Kekuatan pidato Sultan Agung bukan hanya pada isi pesannya, tetapi pada kemampuannya membangun narasi historis yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu semangat perjuangan. Lebih dari sekadar pernyataan, pidato tersebut menunjukkan bahwa Sultan Agung memahami pentingnya membangun identitas kolektif dalam menghadapi ancaman Dengan menyatukan pasukan dari berbagai wilayah dan menyampaikan pesan yang kuat. Sultan Agung berhasil menciptakan solidaritas dan semangat juang yang tinggi. Pidato Sultan Agung bukan hanya titik balik naratif dalam film, tetapi juga representasi konkret dari bagaimana komunikasi visioner dapat berkontribusi pada pembangunan kelembagaan yang kuat. DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. inklusif, dan berakar pada nilai-nilai lokalAi sejalan dengan tujuan SDG 16. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya mengandalkan strategi militer, tetapi juga pada kemampuan membentuk kesadaran kolektif yang menjadi pondasi perdamaian dan keadilan berkelanjutan. BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis terhadap film Sultan Agung: Tahta. Perjuangan. Cinta . karakter Sultan Agung tampil sebagai representasi ideal pemimpin visioner yang mampu merumuskan arah perjuangan jangka panjang, mengelola tantangan eksternal secara strategis. Visi besar untuk menyatukan Nusantara bukan sekadar ambisi politik, melainkan manifestasi tanggung jawab historis dan moral yang berakar pada nilai-nilai budaya dan spiritual Jawa. Melalui pendekatan yang transformasional. Sultan Agung mengintegrasikan warisan leluhur dengan strategi politik modern, menjadikan visinya sebagai kekuatan pemersatu di tengah ancaman kolonialisme. Ketegasan strategis dalam menghadapi VOC menunjukkan kematangan diplomasi dan kemampuan eksekusi yang Ia tidak hanya menetapkan batas interaksi eksternal, tetapi juga menjaga martabat dan kedaulatan kerajaannya melalui tindakan simbolik yang penuh makna. Pendekatan ini mencerminkan kepemimpinan yang adaptif, berani, dan berorientasi pada keberlanjutan politik serta identitas budaya. Melalui komunikasi yang menggugah dan sarat makna simbolik. Sultan Agung berhasil menginspirasi dan menggerakkan kolektif rakyat Jawa menuju satu visi perjuangan. Pidatonya menjadi katalisator solidaritas dan semangat juang, memperlihatkan bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya terletak pada strategi, tetapi juga pada kemampuan membentuk kesadaran kolektif yang berakar pada nilainilai luhur. Secara keseluruhan, kepemimpinan Sultan Agung dalam film ini selaras dengan prinsip-prinsip SDG 16, yakni membangun institusi yang kuat, adil, dan inklusif. Ia menjadi figur pemimpin visioner yang tidak hanya Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. melampaui zamannya, tetapi juga relevan dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan transformasi sosial-politik masa kini. Daftar Pustaka