Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penerapan Parenting Orang Tua dalam Menangani Kenakalan Remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda Nizar Aulia Noor Universitas Islam Negero Sultan Aji Muhammad Idris nizaraulia84@gmail. Abstrak Orang tua memiliki kewajiban utama untuk membimbing anak-anak mereka menuju keberhasilan, dan sangat penting bagi mereka untuk memahami serta mengamati perkembangan anak. Salah satu penyebab utama kerusakan remaja adalah perilaku nakal. Banyak remaja sekarang ini tertarik pada pola hidup Barat, yang disebut "westernisasi", yang menghapus nilai-nilai etis Timur. Pendekatan pengasuhan orang tua di sini menjadi sangat relevan seiring bertambahnya usia. "Implementasi Pengasuhan Orang Tua untuk Menghindari Perilaku Nakal Remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda Periode Akademik 2023/2024" adalah judul studi yang dipilih peneliti. Fokus studi adalah: . Bagaimana pendekatan pengasuhan otoriter orang tua berkontribusi dalam mencegah perilaku nakal remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda tahun pelajaran 2023/2024? . Bagaimana pendekatan pengasuhan demokratis orang tua berkontribusi dalam mencegah perilaku nakal remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda tahun pelajaran 2023/2024? . Bagaimana pendekatan pengasuhan laissez-faire orang tua berkontribusi dalam mencegah perilaku nakal remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda tahun pelajaran 2023/2024? Peneliti melakukan studi kualitatif, tipe studi deskriptif. Data yang dibutuhkan dikumpulkan melalui dokumentasi, wawancara, dan pengamatan. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan meliputi langkah-langkah seperti pengurangan data, presentasi data, penyimpulan, dan verifikasi keabsahan data melalui triangulasi metode dan Studi menunjukkan bahwa . pendekatan pengasuhan otoriter orang tua membuat banyak anak menjadi pemberontak dan kurang akuntabel. Sebaliknya, jika anak di luar pengawasan orang tua, mereka akan bertindak berbeda, seperti bersikap brutal seperti mengganggu teman atau membuat keributan, dan sering berani mencoba hal-hal buruk. Orang tua yang menggunakan pendekatan pengasuhan demokratis pada anak membuat mereka lebih superior, lebih bertanggung jawab, lebih percaya diri, lebih mudah berinteraksi, lebih mampu berkolaborasi, dan lebih baik secara etis. Pendekatan pengasuhan laissezfaire yang diterapkan orang tua pada anak membuat anak manja dan sulit dikontrol, hasil belajar anak tidak konsisten, anak menjadi pemberontak dan lebih senang di luar rumah, anak kurang percaya diri, tidak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan juga dalam menghadapi masalah, dan anak lebih berani melakukan hal-hal negatif. Kata Kunci: Pola Asuh. Kenakalan Remaja. Man 2 Samarinda PENDAHULUAN Orang tua memikul tanggung jawab utama untuk membimbing anak menuju kesuksesan melalui pengasuhan yang tepat serta pemahaman mendalam terhadap tahap perkembangannya (Hurlock, 1. Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah ilahi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, sehingga kesalahan dalam mendidik merupakan bentuk pengkhianatan terhadap janji suci tersebut (Zakiah & Daradjat, 2. Kenakalan remaja menjadi salah satu pemicu utama kehancuran generasi muda. Fenomena seperti Married By Accident (MBA), hubungan seks pranikah, dan adopsi gaya hidup Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Barat . mencerminkan erosi nilai-nilai etika Timur di kalangan remaja (Ditatami. Delinkwensi remaja bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan hasil interaksi kompleks dari disfungsi keluarga, pengaruh lingkungan, dan perubahan sosial-ekonomi yang cepat (Santrock, 2. Keluarga yang retakAibaik secara fisik maupun emosionalAi mendorong anak mencari validasi di luar rumah, sehingga rentan terhadap perilaku menyimpang (Basrowi, 2. Pada hakikatnya, delinkwensi anak-anak bukanlah masalah sosial yang hadir secara mandiri di masyarakat. Sebaliknya, masalah ini muncul sebagai akibat dari berbagai situasi yang terkait, bahkan yang mendukung kenakalan. Kehidupan keluarganya yang hancur-luluh, baik rumah yang hancur atau hampir hancur, mendorongnya untuk menjadi anak nakal. Di era modernisasi, pola asuh orang tua menjadi penentu utama dalam membentuk karakter anak. Pendidikan keluarga merupakan fondasi pertama dan terpenting (Gunarsa. Orang tua memiliki kesempatan emas untuk mengarahkan, memotivasi, dan menanamkan nilai melalui tiga pola asuh utama: otoriter, demokratis, dan laissez-faire (Ormrod, 2. Ketiga pola ini memengaruhi perkembangan emosi, tanggung jawab, dan perilaku sosial anak secara signifikan (Baumrind, 1967 dalam Prawira, 2. Hal ini sejalan dengan GBHN 1978 (Ketetapan MPR No. IV/MPR/1. yang menyatakan bahwa pendidikan bersifat abadi dan dilaksanakan secara terpadu di rumah, sekolah, dan masyarakat. Keluarga, sekolah, dan pemerintah bertanggung jawab bersama membentuk generasi berkualitas. Di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Samarinda, kasus kenakalan remaja semakin mengkhawatirkan. Jenis perilaku menyimpang meliputi perkelahian, perundungan, merokok, seks bebas, hingga tindak kriminal . bservasi peneliti. Menurut Ibu Putri, guru Bimbingan Konseling, " Masa remaja sangat rentan. Siswa mulai mencoba hal baru dan mengikuti tren negatif yang marak di pergaulan. , hal tersebut berbau negatif. " Hal ini juga dilakukan oleh siswa MAN 2 Samarinda. Fenomena ini dominan pada siswa kelas XI dan XII, yang sering membawa pengaruh pergaulan negatif dari luar Anak yang kurang mendapat perhatian orang tua cenderung menolak aturan melalui perilaku destruktif (Fatchurahman, 2. Variasi pola asuh yang diterapkan orang tua menjadi faktor kunci yang memicu pertanyaan penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji AuPenerapan Pola Asuh Orang Tua dalam Menangkal Kenakalan Remaja di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda Tahun Pelajaran 2023/2024" METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif untuk menggambarkan secara mendalam kontribusi pola asuh orang tua dalam mencegah kenakalan remaja (Sugiyono, 2. Lokasi penelitian adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Samarinda pada tahun pelajaran 2023/2024. Subjek penelitian dipilih secara purposive sampling dengan kriteria: dua orang tua siswa yang mewakili pola asuh otoriter, demokratis, dan laissezfaire berdasarkan observasi awal, serta satu guru bimbingan konseling (BK) sebagai key Total informan utama berjumlah tiga orang. Data dikumpulkan melalui tiga teknik triangulasi untuk memastikan keabsahan (Miles & Huberman, 2. Pertama, observasi partisipan dilakukan untuk mengamati interaksi orang tuaAeanak di rumah dan perilaku siswa Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 di sekolah dengan menggunakan pedoman observasi berupa checklist perilaku dan catatan Prosedur observasi meliputi dua kunjungan ke rumah tangga masing-masing informan selama total empat jam per informan, serta tiga sesi observasi di sekolah selama tiga jam per sesi dengan fokus pada siswa kelas XIAeXII. Observasi dilaksanakan pada SeptemberAeOktober 2023, di mana peneliti berperan sebagai observer as participant dengan interaksi minimal. Kedua, wawancara mendalam semi-terstruktur bertujuan mendalami persepsi orang tua tentang pola asuh dan dampaknya terhadap kenakalan remaja. Instrumen wawancara berupa pedoman dengan sepuluh pertanyaan terbuka yang disesuaikan per pola asuh. Wawancara dilakukan terhadap dua orang tua masing-masing selama 60 menit dan satu guru BK selama 45 menit, direkam audio dengan izin, serta ditranskrip verbatim dalam 24 jam pasca-wawancara. Lokasi wawancara adalah rumah informan dan ruang BK sekolah. Ketiga, dokumentasi digunakan untuk mendukung data primer dengan bukti tertulis, meliputi laporan kasus kenakalan siswa dari BK MAN 2 Samarinda tahun 2023, catatan akademik dan absensi siswa semester ganjil 2023/2024, foto interaksi keluarga dengan izin tertulis, serta jurnal harian orang tua jika tersedia. Pengumpulan dokumen resmi disetujui oleh kepala madrasah. Analisis data mengikuti model interaktif Miles & Huberman . , yaitu reduksi data melalui pemilihan, pemfokusan, dan penyederhanaan data mentah dengan coding tematik . toriter, demokratis, laissez-faire, kenakala. penyajian data dalam bentuk matriks, tabel, dan narasi tematik. serta penarikan kesimpulan berdasarkan pola temuan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dengan membandingkan data dari orang tua, siswa via orang tua, dan guru BK. triangulasi metode antara observasi, wawancara, dan dokumentasi. serta member check dengan memverifikasi ulang hasil wawancara kepada HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menyajikan temuan empiris dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, diikuti pembahasan dengan merujuk riset sebelumnya termasuk studi terbaru pasca-2020 untuk memperkuat interpretasi. Temuan pola asuh otoriter diperoleh dari wawancara dengan siswa . nisial A) yang mengungkap pengalaman tekanan pergaulan: AuSaya dulu pernah diajak merokok sama teman sekolah, diancam kalau enggak mau ikutan merokok nanti pas pulang sekolah diajak berantem di luar sekolah, akhirnya saya mengiyakan ajakan itu. Terus saya juga pernah mencoba merokok sendirian di kamar tetapi ketahuan oleh orang tua. Ay Karena itu, orang tua sangat marah pada saat itu. Observasi menunjukkan anak dengan pola otoriter cenderung pendiam dan takut berbicara di rumah, namun pemberani, suka membuat gaduh, bertengkar, atau jahil kepada teman saat di luar pengawasan. Dokumentasi laporan BK mencatat prestasi akademik rendah, ketidakbertanggungjawaban, dan kesulitan pengaturan diri pada siswa Temuan ini selaras dengan Baumrind . 7 dalam Prawira, 2. yang menyatakan pola asuh otoriter ditandai kontrol tinggi, minim dialog, dan hukuman ketat . isik/verbal seperti pukulan atau bentaka. , menghasilkan kepatuhan berbasis ketakutan. Santrock . menambahkan bahwa anak otoriter sering pemberontak saat tidak diawasi karena nilai tidak Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Fatchurahman . menemukan korelasi negatif antara pengasuhan otoriter dengan tanggung jawab dan prestasi akademik. Studi terbaru oleh Lestariningrum & Wijaya . di konteks sekolah ramah anak juga mengonfirmasi bahwa pengasuhan otoriter meningkatkan risiko bullying dan penurunan motivasi belajar. Dengan demikian, pola otoriter efektif jangka pendek, namun memicu resistensi jangka panjang. Temuan pola asuh demokratis berasal dari wawancara dengan ibu . nisial E): AuKalau masalah mengaji saya dan anak sudah ada peraturan tersendiri, biasanya sehabis maghrib anak saya wajib mengaji dulu kemudian lanjutkan belajar. Ay Setelah mengetahui anak mulai menyukai lawan jenis, ibu bertanya, mendengar alasan . enasaran karena teman berpacara. , lalu mengingatkan batasan agama tanpa kekerasan. Observasi mengungkap anak (Khans. aktif berdiskusi di rumah, bertanggung jawab, mudah bersosialisasi, nyaman dengan keluarga, dan berprestasi tinggi di akademik serta non-akademik. Dokumentasi rapor menunjukkan nilai stabil dan perilaku baik. Temuan ini mendukung Ormrod . yang mendefinisikan pola demokratis sebagai kombinasi aturan jelas, kasih sayang, komunikasi terbuka, panduan saat kesulitan, dan keterlibatan anak dalam keputusan. Baumrind . alam Prawira, 2. menemukan anak demokratis memiliki kematangan emosi, tanggung jawab, dan kemampuan sosial tinggi. Fatchurahman . secara empiris membuktikan hubungan positif antara pola demokratis dengan kepercayaan diri dan pencegahan kenakalan. Penelitian terbaru oleh Marisa et al. pada remaja Indonesia menunjukkan bahwa pola demokratis secara signifikan menurunkan intensitas kenakalan melalui peningkatan regulasi diri emosional. Pola ini menciptakan internalisasi nilai melalui dialog, bukan paksaan. Temuan pola asuh laissez-faire diperoleh dari wawancara dengan ibu . nisial R): AuSaya tidak terlalu mengekang dengan apa yang dia lakukan, kalau masalah bermain bersama temantemannya tidak apa-apa asalkan dia masih mengingat jam bermain yang sudah ditentukan dan juga masalah pertemanannya saya juga tidak memberi syarat seperti apa dia harus memilih Ay Anaknya (Raf. menyatakan: AuKalau di rumah itu biasa saja, tidak terlalu banyak aturan yang diterapkan di dalam rumah. Jadi, di malam hari, saya sering bermain dengan teman, biasanya teman luar sekolah atau teman sekolah. Mereka tidak dimarahi jika saya bermain, tetapi mereka harus ingat waktu pulang, dan saya terkadang suka telat pulang. Ay Observasi menunjukkan minim interaksi orang tuaAeanak. anak manja, sulit dikontrol, prestasi fluktuatif, pembangkang, lebih betah di luar rumah, kurang percaya diri, tidak bertanggung jawab, dan berani melakukan hal negatif. Dokumentasi BK mencatat keterlambatan dan pergaulan berisiko. Temuan ini konsisten dengan Hurlock . yang menyatakan pola laissez-faire menyebabkan anak manja, kurang disiplin, dan rentan pengaruh negatif akibat minim arahan. Savitri . menemukan korelasi positif antara pengasuhan permisif dengan kenakalan remaja, termasuk ketidakstabilan prestasi. Santrock . menegaskan anak laissez-faire kesulitan adaptasi sosial karena tidak belajar konsekuensi. Studi terkini oleh Putri & Rahman . di kalangan remaja perkotaan Indonesia mengungkap bahwa pola laissezfaire berkorelasi kuat dengan penggunaan gadget berlebih dan paparan konten negatif, memperburuk risiko delinkwensi digital. Pola ini berpotensi memperburuk kenakalan di era Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 KESIMPULAN Penerapan Pola Asuh Otoriter Orang Tua untuk Mencegah Kenakalan Remaja dalam tipe pengasuhan otoriter, orang tua menerapkan kedisiplinan yang ketat serta kontrol yang tinggi terhadap perilaku anak. Kebebasan anak untuk bergaul dibatasi, dan setiap pelanggaran terhadap aturan sering direspons dengan hukuman. Pola asuh semacam ini dapat menimbulkan dampak negatif, di antaranya anak menjadi penentang, kurang bertanggung jawab, dan cenderung patuh hanya karena rasa takut. Namun, ketika anak berada di luar pengawasan orang tuanya, mereka sering menunjukkan perilaku berbeda. Anak dapat bertindak agresif, bercanda secara berlebihan, bahkan berani mencoba perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai norma sosial. Penerapan pola asuh demokratis oleh orang tua memberikan ruang dialog antara anak dan orang tua. Orang tua bersikap terbuka, memberi kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat, serta melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan di Lingkungan keluarga yang demikian memungkinkan anak berkembang menjadi pribadi mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan sosialnya. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokratis umumnya memiliki rasa percaya diri tinggi, mudah berinteraksi dengan orang lain, mampu bekerja sama, dan menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter. Pada pola asuh laissez-faire, orang tua cenderung memberikan kebebasan penuh kepada anak tanpa adanya batasan atau pengawasan yang jelas. Anak diberi keleluasaan dalam bertindak dan mengambil keputusan sendiri, sementara keterlibatan orang tua dalam mengarahkan perilaku anak sangat minim. Akibatnya, anak sering kali tumbuh menjadi pribadi yang manja, sulit diatur, serta kurang memiliki kontrol diri. Kondisi ini juga dapat berdampak pada ketidakstabilan prestasi belajar, menurunnya rasa tanggung jawab, dan meningkatnya kecenderungan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai norma sosial. DAFTAR PUSTAKA