Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 Hal. 115 - 123 ISSN 2775-5134 Penguatan Jiwa Kewirausahaan Bagi Ibu Rumah Tangga untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi di Desa Banyubiru. Kabupaten Semarang Karsinah1. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti2. Andryan Setyadharma3. Jeane Fransina Diana Talakua4. Retno Febriyastuti Widyawati5*. Fauzul Adzim6 1,2,3,4,5,6 Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Univeristas Negeri Semarang Jl. Sekaran. Gunungpati. Semarang. Jawa Tengah. Indonesia e-mail: 1iinkarsinah@mail. id, 2dianwisika@mail. andryan@mail. id, 4talakuajeanee@mail. id, 5retnofw@mail. fauzuladzim@mail. Abstrak Peningkatan kemandirian ekonomi keluarga di desa memerlukan peran aktif ibu rumah tangga (IRT) sebagai pelaku ekonomi produktif. Namun, keterbatasan pemahaman kewirausahaan, keterampilan manajerial, dan akses pasar menjadi kendala utama yang dihadapi IRT di Desa Banyubiru. Kabupaten Semarang. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat jiwa kewirausahaan IRT melalui rangkaian kegiatan pelatihan, pendampingan, dan Metode pelaksanaan meliputi pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal, pendampingan pengembangan usaha rumah tangga, serta supervisi berkala untuk memantau keberlanjutan usaha. Kegiatan diikuti oleh 35 IRT, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test, observasi, serta wawancara. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman kewirausahaan, kemampuan menyusun rencana usaha, serta keberanian memulai usaha baru. Terbentuknya komunitas wirausaha menjadi bukti keberlanjutan dampak program, yang juga mendorong pemasaran kolektif dan jejaring usaha. Supervisi menunjukkan sebagian besar peserta mampu menjaga kualitas produk dan konsistensi manajemen usaha, meskipun masih terdapat kendala akses modal dan literasi digital. Secara keseluruhan, kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan jiwa kewirausahaan IRT dan berkontribusi pada kemandirian ekonomi keluarga. Dukungan lanjutan dari pemerintah desa dan mitra usaha diperlukan untuk menjaga kesinambungan hasil program. Kata kunci: Ibu Rumah Tangga. Kemandirian Ekonomi. Kewirausahaan. Pelatihan. Pemberdayaan Masyarakat Abstract Improving the economic independence of rural families requires the active role of homemakers as productive economic actors. However, limited entrepreneurial understanding, managerial skills, and market access are the main obstacles faced by homemakers in Banyubiru Village. Semarang Regency. Through training, mentoring, and supervision, this community service program strengthens homemakers' entrepreneurial spirit. The implementation methods include local potential-based entrepreneurship training, mentoring in home business development, and regular supervision to monitor business sustainability. The program was attended by 35 housewives, with evaluations using pre- and post-tests, observations, and interviews. The program results showed a significant increase in entrepreneurial understanding, the ability to develop business plans, and the courage to start new businesses. Forming an entrepreneurial community is evidence of the program's sustainable impact, encouraging collective marketing This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Publikasi oleh LPPM Universitas Bina Sarana Informatika Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 and business networking. Supervision showed that most participants could maintain product quality and consistent business management, despite access to capital and digital literacy Overall, this program has proven effective in enhancing the entrepreneurial spirit of homemakers and contributing to family economic independence. Continued support from the village government and business partners is needed to sustain the program's results. Keywords: Community Housewives. Training Empowerment. Economic Independence. Entrepreneurship. Pendahuluan Desa Banyubiru merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Desa Banyubiru memiliki 9 . Dusun yaitu Krajan. Kampung Rapet. Randusari. Tegalwuni. Cerbonan. Demakan. Pancuran. Dongkel, dan Tawang Rejo. Topografi wilayah Desa Bayubiru berada pada ketinggan 450 meter diatas permukaan laut . Desa ini menjadi salah satu desa penyangga kecamatan Banyubiru yang sudah ada sejak jaman Kerajaan Islam Demak. Desa Banyubiru ini terletak pada posisi 110 derajat bujur timur dan 7 derajat lintang Selatan dan terdapat 9 (Sembila. dusun, 14 . mpat bela. RW dan 51 . ima puluh sat. RT. Desa Banyubiru berada 450 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan kondisi tersebut Desa Banyubiru di klasifikasikan ke dalam 3 . kelompok wilayah yakni wilayah pegunungan, wilayah pemukiman dan wilayah rawa-rawa. Kondisi seperti ini mengakibatkan Desa Banyubiru tergolong jenis tanah andosol berwarna coklat tua yang dapat dimanfaatkan untuk menanam padi, sayuran, buah dan kopi. Kondisi tanah tersebut mayoritas masyarakat Desa Banyubiru bermata pencaharian sebagai petani, perdagangan kecil, dan jasa informal. Sebagian besar pendapatan keluarga juga masih bergantung pada suami sebagai kepala rumah tangga, sementara peran Ibu Rumah Tangga (IRT) dalam ekonomi keluarga sering kali belum Berdasarkan data dari SMARD Desa Banyubiru pada Tahun 2023, jumlah penduduk berdasarkan pekerjaan yaitu berjumlah 3. 980 jiwa terdiri laki-laki sebanyak 1. 731 jiwa dan perempuan sebanyak 2. 249 jiwa. Tabel 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan No. Pekerjaan Laki-Laki Perempuan Jumlah Belum/tidak bekerja Mengurus rumah tangga 0 Wiraswasta Petani/pekebun Pensiunan Sumber: Badan Pusat Statistik . Tabel 1 menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan pekerjaan. Berdasarkan jenis pekerjaannya. Desa Banyubiru mayoritas belum/tidak bekerja baik laki-laki maupun Jumlah laki-laki yang tidak bekerja sebanyak 996 orang dan jumlah perempuan tidak bekerja sebanyak 896 orang. Penduduk yang belum/tidak bekerja ini sebenarnya bisa diberikan peran selain peran domestik, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan. Purwantini et al. , . menjelaskan bahwa di era yang modern ini perempuan mempunyai peran penting untuk meningkatkan kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup yang meningkat ini menyebabkan peran perempuan bukan hanya menjadi ibu rumah tangga, melainkan dituntut untuk ikut serta http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 berperan dalam berbagai kehidupan sosial kemasyarakatan seperti bekerja untuk mencukupi kebutuhan serta meningkatkan ekonomi keluarga (Karya et al. , 2. Sebagai upaya dalam meningkatkan pendapatan keluarga perempuan di Desa Banyubiru bisa memulai dengan berwirausaha atau entrpreneurship seperti membuka UMKM lokal dan merintis usaha mikro. Zulfaidah . menjelaskan bahwa perempuan dinilai bisa menjadi perilaku ekonomi yang berpotensi untuk dapat mengembangkan usaha mikro melalui kewirausahaan. Kewirausahaan merupakan sebuah sikap, semangat dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat berharga dan berguna untuk diri mereka sendiri dan orang lain (Hastuti et al. , 2. Kewirausahaan bukan sekedar aktivitas ekonomi, tetapi sebuah pola pikir . yang mendorong individu untuk kreatif, inovatif, berani mengambil risiko, dan mandiri dalam mengelola sumber daya yang ada (Palaon & Dewi, 2. Hastuti et al. , . menyatakan bahwa pelatihan kewirausahaan adalah sebuah tahapan penting dalam proses pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Kewirausahaan juga memiliki pengaruh dalam mengembangkan keterampilan bisnis dan menumbuhkan jiwa kewirauhaan, serta menciptakan kemandirian baik dalam sikap maupun usaha. Keterlibatan perempuan atau ibu rumah tangga dalam melakukan wirausaha dapat meningkatkan ekonomi keluarga atau kemandirian ekonomi di dalam keluarga (Soelistyowati et al. , 2. Bagi IRT di Desa Banyubiru, penguatan jiwa kewirausahaan sangat penting untuk membantu IRT menggali potensi diri, memanfaatkan peluang usaha, dan mengembangkan kegiatan ekonomi produktif. Jiwa kewirausahaan yang kuat. IRT dapat menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus dapat berkontribusi pada pembangunan desa (Setiawati & Rozinah, 2. Kondisi perempuan belum/tidak berkerja di Desa Banyubiru sebanyak 896 orang, dapat diberikan pelatihan penguatan kewirausahaan. Kegiatan pelatihan penguatan jiwa kewirausahaan bagi IRT untuk meningkatkan kemandirian ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan secara hardskill dan softskill, dimana diharapkan perempuan di Desa Banyubiru mampu menghasilkan produk usaha. Program pemberdayaan yang difokuskan pada penguatan kewirausahaan diharapkan mampu mengatasi berbagai hambatan klasik seperti keterbatasan modal, keterampilan dan jaringan pemasaran (Dewi & Sairun, 2. Melalui pelatihan yang tepat. IRT dapat memahami strategi pemasaran digital, manajemen keuangan sederhana, dan inovasi produk yang sesuai dengan potensi lokal (Aryanti, 2. Desa Banyubiru memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, khususnya pada sektor pertanian, olahan pangan, dan kerajinan tangan. Produk-produk lokal seperti keripik singkong, olahan salak, kopi, dan berbagai souvenir berbasis bambu memiliki peluang untuk dapat dikembangkan menjadi usaha mikro yang bernilai tambah tinggi. Namun, potensi tersebut belum tergarap maksimal akibat dari minimnya pengetahuan tentang pengolahan produk, pengemasan yang menarik, dan pemasaran melalui platform digital. Adanya pelatihan kewirausahaan ini, diharapkan IRT dapat mengoptimalkan potensi tersebut menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga (Wijayanti et al. , 2. Program pengabdian masyarakat ini menjadi penting karena bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pendampingan praktis bagi IRT agar mampu memanfaatkan potensi lokal secara optimal. Melalui pendekatan partisipatif, diharapkan kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat wirausaha yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mendukung kemandirian ekonomi desa. http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Metode Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Desa Bayubiru. Kabupaten Semarang. Provinsi Jawa Tengah seperti yang terlihat pada Gambar 1 berikut Gambar 1. Lokasi Desa Banyubiru. Kabupaten Semarang. Provinsi Jawa Tengah Metode pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di Desa Banyubiru yaitu: Tabel 2. Metode Pemecahan Masalah No. Solusi Rencana Kegiatan Aktivitas Partisipasi Mitra Menyediakan Pelatihan dan A Diskusi tentang A Mitra pelatihan dan tempat untuk yang berfokus A Mitra bisnis, manajemen, dan pemasaran bagi perempuan Mendorong Pembentukan A Diskusi A Mitra kelompok usaha mengenai cara kelompok usaha perempuan untuk tempat untuk saling berbagai kelompok usaha untuk saling A Mitra sumber daya, dan dukungan moral sumber daya, dan dukungan perempuan dapat usaha bersama Menyediakan Menyediakan A Diskusi A Mitra tempat untuk A Mitra perempuan dalam mengembangkan usaha http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Pengabdian ini berlangsung selama delapan bulan yang terdiri dari pelatihan dan Metode Aksi Kegiatan Pelatihan dimulai dari langkah awal yang dilakukan oleh tim aksi ekonomi yakni mengidenfitikasi berbagai aspirasi dan temuan di lapangan yang relevan dan sejalan dengan keadaan di Desa Banyubiru. Langkah yang akan dilakukan selanjutnya yakni sebagai Menghubungi instruktur untuk memastikan kesediaan, penyiapan modul atau panduan pelatihan, serta penentuan waktu pelatihan Berkoordinasi dengan Kepala Desa Banyubiru dan masyarakat setempat mengenai persetujuan waktu, tanggal, dan tempat pelatihan, serta melakukan penjaringan peserta Memperbanyak modul pelatihan. pengadaan alat dan bahan akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap jenis pelatihan Peserta pelatihan yang terlibat dalam kegiatan ini yakni seluruh perempuan yang ada di Desa Banybiru. Metode pelatihan yang digunakan mencakup pemberian materi yang diikuti oleh instruktur di lapangan. Dalam pelaksanaan pelatihan serta penyuluhan, anggota yang terlibat terdiri dari pembicara, pelatih atau instruktur lokal maupun yang didatangkan, tenaga ahli tim ekonomi, asisten tim, asisten lokal, pendampingan, panitia lokal dan peserta pelatihan dan penyuluhan. Kegiatan Pendampingan Untuk mendukung masyarakat Desa Banyubiru dalam mengembangkan langkah-langkah penguatan perekonomian, jiwa kewirausahaan serta untuk mengevaluasi sejauh mana hasil dari pelatihan diterapkan di tingkat masyarakat lokal, dilakukan kegiatan pendampingan serta menyuluhan ini. Dalam konteks ini penyuluhan serta pendampingan berfungsi sebagai alat penelitian bagi pendamping, dengan fokus para proses yang berlangsung di masyarakat, bukan hanya pada hasil pelatihan saja. Penyuluhan serta pelatihan ini diupayakan untuk memberikan respon terhadap keluhan yang muncul dan mencari solusi atas berbagai tantangan yang di hadapkan dapat terungkap informasi mengenai kendala yang dihadapkan oleh masyarakat serta faktor-faktor yang mendorong keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan aksi. Kegiatan Supervisi Selama kegiatan penyuluhan serta pendampingan di Desa Banyubiru, pendamping secara aktif berkomuniksi dan berkoordinasi dengan tim aksi atau tenaga ahli. Berbagai temuan masalah yang muncul di lapangan di konsultasikan untuk menentukan langkah tindakan Tim dan tenaga ahli akan turun kelapangan untuk mengevaluasi perkembangan yang terjadi, serta memberikan pengarahan terkait kegiatan yang dilakukan oleh Setelah kegiatan penyuluhan serta pelatihan selesai, supervisi tetap melakukan pemantauan berkelanjutan program yang dijalankan berdasarkan inisiatif masyarakat. Pada http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 tahap ini juga akan menjelaskan manfaat, nilai ekonomi serta pembangunan jiwa kewirausaha untuk ibu-ibu rumah tangga di Desa Banyubiru. Hasil dan Pembahasan Kegiatan pelatihan dilakukan pada tanggal 08 Juli 2025 di Balai Desa Banyubiru. Pelatihan ini dihadiri oleh 35 peserta Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Desa Banyubiru. Materi pelatihan ini mencakup pengenalan konsep kewirausahaan, identifikasi potensi lokal UMKM, manajemen usaha sederhana, dan pemanfaatan pemasaran digital. Pengenalan konsep kewirausahaan yaitu menerangkan cara membangun pola pikir . ntrepreneurial mindse. , motivasi, dan pentingnya kemandirian ekonomi keluarga. Identifikasi potensi lokal yaitu mengajak semua peserta memetakan sumber daya yang tersedia di Desa Banyubiru, seperti hasil pertanian . alak dan singkon. , kopi, kerajinan bambu, dan berbagai produk olahan pangan. Tim pengabdian juga memberikan pelatihan tentang manajemen usaha sederhana yang mencakup penyusunan rencana usaha, pencatatan keuangan, dan strategi pemasaran digital menggunakan berbagai macam media sosial seperti WhatsApp. Instagram. Facebook Marketplace, tiktok, dll untuk memasarkan produknya. Perbandingan kondisi pra dan pasca kegiatan pengabdian ini dijelaskan dalam grafik batang di bawah ini: Pemahaman Kewirausahaan Motivasi Kemampuan rencana usaha Pra Kegiatan Jumlah usaha Pendapatan ratarumah tangga rata keluarga Pasca Kegiatan Gambar 2. Kondisi Ibu Rumah Tangga Pra dan Pasca Kegiatan Pengabdian Gambar 2 menunjukkan hasil pelatihan bahwa dari 35 peserta, 25 peserta menunjukkan pemahaman tentang konsep kewirausahaan yang diukur melalui pre-test dan post-test. Sebanyak 20 peserta juga mampu menyusun rencana usaha sederhana berbasis potensi lokal sehingga diharapkan terjadi peningkatan motivasi dan kepercayaan diri IRT dalam memenuhi usaha mikro. Peserta juga yang awalnya ragu untuk memulai usaha merasa lebih percaya diri setelah memahami bahwa usaha dapat dimulai dengan modal kecil dan memanfaatkan sumber daya lokal. Konsep pemasaran digital juga mendapatkan respon positif, meskipun sebagian peserta masih memerlukan pendampingan dalam penggunaan teknologi. http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 Gambar 3. Pelatihan Penguatan Jiwa Kewirausahaan Gambar 3 menunjukkan kegiatan pendampingan yang dilakukan setelah diadakan Pendekatan yang digunakan adalah mentoring individu dan kelompok, yang meliputi beberapa hal, misalnya bimbingan pembuatan produk, pendampingan manajemen usaha untuk membantu peserta UMKM mencatat transaksi keuangan, menghitung biaya produksi, dan menentukan harga jual, pemasaran kolektif dengan cara membentuk komunitas untuk memasarkan produk secara bersama-sama dan memperluas jaringan pasar. Hasil pendampingan yaitu beberapa perserta mulai aktif memasarkan produk melalui media sosial dan memperoleh pelanggan tetap dan terbentuk komunitas wirausaha yang menjadi wadah untuk berbagi pengalaman dan pemasaran yang kolektif. Pendampingan yang dilakukan secara intensif ini membantu peserta dalam mengatasi hambatan praktis. Pembentukan komunitas terbukti meningkatkan semangat belajar bersama dan memperluas jangkauan pemasaran. Gambar 4. Tanya Jawab dan Pendampingan Pelatihan Gambar 4 menunjukkan kegiatan bahwa supervisi dilakukan melalui kunjungan lapangan selama masa pendampingan untuk memantau perkembangan usaha peserta dan memberikan umpan balik. Aspek yang diawasi mencakup beberapa hal, yaitu konsistensi produksi dan kualitas produk, penerapan pencatatan keuangan sederhana, dan perkembangan pemasaran, baik secara offline maupun online. Hasil supervise menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menjaga kualitas produk sesuai standar pelatihan. Supervisi ini juga berperan penting dalam menjaga komiten peserta dan mencegah penurunan semangat bagi IRT. Supervisi juga memberikan pemahaman bahwa keberlanjutan unsaha memerlukan disiplin, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Secara umum, penguatan jiwa kewirausahaan berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan IRT http://jurnal. id/index. php/abdi-ekbis Jurnal Abdimas Ekonomi dan Bisnis Vol. 5 No. 2 November 2025 ISSN 2775-5134 di Desa Banyubiru, mampu memotivasi dan keberanian memulai usaha, dan terbentuknya komunitas wirausaha yang menjadi wadah dukungan dan pemasaran kolektif. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu pelatihan, pendampingan, dan supervisi berhasil memberikan dampak positif terhadap peningkatan jiwa kewirausahaan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Desa Banyubiru. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman dan motivasi kewirausahaan, sementara pendampingan intensif membantu peserta dalam mempraktikkan keterampilan baru dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Supervisi berkala memastikan kualitas produk dan keberlanjutan yang dirintis oleh IRT. Sebagian besar peserta juga berhasil memulai atau mengembangkan usaha rumah tangga baru, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Selain itu juga, peserta mampu membentuk komunitas wirausaha sebagai wadah belajar bersama dan pemasaran kolektif. Program ini juga memperkuat kepercayaan diri IRT untuk dapat berperan aktif dalam ekonomi keluarga dan mendukung pembangunan desa. Daftar Pustaka