Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 Kompetensi Universitas Balikpapan URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER CINTA DAMAI BAGI SISWA SD UNTUK MENCEGAH PERILAKU BULLYING Debi Apriliani1. Uswatun Hasanah2. Petrus Paulus Mbette Suhendro3. Fahrurrozi4 Universitas Negeri Jakarta1,2,3,4 pos-el: debiapriliani04@gmail. com1 , uswatunhasanah@unj. id2 , ppmsdosen@gmail. fahrurrozi@unj. ABSTRAK Perkembangan zaman yang semakin membuat merosotnya etika dan moral sehingga banyaknya kasus perundungan yang terjadi pada para siswa menjadi sebuah isu yang sangat disayangkan di dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah dasar. Bullying di sekolah dasar telah menjadi perhatian serius dalam dunia pendidikan karena dampak negatifnya terhadap perkembangan psikologis dan sosial siswa. Pendidikan karakter cinta damai adalah pendekatan yang diusulkan untuk menanggulangi masalah ini dengan menanamkan nilainilai perdamaian, toleransi, dan empati sejak dini. Dengan demikian penulisan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan urgensi pendidikan karakter cinta damai bagi siswa SD dalam upaya mencegah perilaku Bullying. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan metode kualitatif deskriptif, data yang diambil berasal dari penelitian yang sudah ada di Pendidikan karakter cinta damai memiliki peranan penting dalam mencegah perilaku Bullying. Dengan menerapkan pendidikan karakter cinta damai, harapannya adalah siswa akan menjadi orang yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi, memiliki empati dan toleransi, dan aktif bekerja untuk menciptakan masyarakat yang damai dan adil. Dengan begitu, diharapkan mereka dapat menghindari perilaku Bullying. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter cinta damai bagi siswa SD memiliki urgensi besar dalam mencegah perilaku Bullying. Karakter pendidikan yang mendorong cinta damai dapat membentuk budaya pendidikan yang inklusif dan aman, mengurangi insiden Bullying, dan melindungi siswa yang rentan menjadi korban. Kata kunci : Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter Cinta Damai. Bullying. Pencegahan Bullying. Siswa Sekolah Dasar ABSTRACT The development of the times is increasingly causing the decline in ethics and morals so that the number of cases of Bullying that occur among students has become a very terrible issue in the world of education, especially in elementary schools. Bullying in elementary schools has become a serious concern in the world of education because of its negative impact on psychological development and student social. Peace-loving character education is an approach proposed to overcome this problem by instilling the values of peace, tolerance and empathy from an early age. Thus, this research aims to describe the urgency of peace-loving character education for elementary school students in an effort to prevent Bullying behavior. This research uses a literature study approach with a qualitative descriptive method, the data taken comes from existing research on the Peace-loving character education has an important role in preventing Bullying By implementing peace-loving character education, the hope is that students will become people who have high social awareness, have empathy and tolerance, and actively work to create a peaceful and just society. That way, it is hoped that they can avoid Bullying behavior. The results of this research show that peace-loving character Vol. No. Juni 2024 Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 Kompetensi Universitas Balikpapan education for elementary school students has great urgency in preventing Bullying An educational character that promotes love of peace can form an inclusive and safe educational culture, reduce Bullying incidents, and protect students who are vulnerable to becoming victims. Keywords: Character Education. Peace Love Character Education. Bullying. Bullying Prevention. Elementary School Students PENDAHULUAN Bullying di sekolah adalah masalah perkembangan psikologis dan sosial anak-anak. Tindakan Bullying, yang bisa berupa fisik, verbal, atau relasional, seperti memukul, mengejek, dan trauma dan rasa tidak aman pada korban. Di usia yang sangat rentan ini, anak-anak yang mengalami Bullying mungkin akademik, kehilangan kepercayaan diri, dan kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang sehat. Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk bekerja sama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, serta mengajarkan nilai-nilai seperti empati dan toleransi untuk mencegah dan mengatasi Bullying. Berbagai antarsiswa, seperti Bullying, yang muncul belakangan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia saat ini belum sepenuhnya berfungsi sebagai pranata sosial yang mampu membangun karakter generasi bangsa sesuai dengan nilai-nilai luhur. Kasus Bullying selalu mengalami peningkatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) 381 kasus kekerasan terhadap anak dari tahun 2011 hingga Pada tahun 2022, terdapat 226 laporan terkait kekerasan terhadap anak di institusi pendidikan. Hingga Agustus 2023. KPAI mencatat sebanyak 861 pelanggaran terhadap perlindungan anak di lembaga pendidikan. Salah satu kasus yang menonjol Pondok Vol. No. Juni 2024 Pesantren Tartilul QurAoan (PPTQ) Al Hanifiyyah Kediri. Jawa Timur, yang mengakibatkan kematian seorang anak berusia 14 tahun karena Bullying oleh para seniornya. Kasus ini, yang dijuluki AuDosa Pendidikan yang TerabaikanAy, menunjukkan bahwa bahkan lembaga pendidikan dengan kegiatan keagamaan yang kuat pun tidak menjamin siswa memiliki karakter yang mulia. Kasus ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter cinta damai sangat diperlukan. Bullying kemampuan seseorang untuk menyakiti orang lain. Menurut Fuentes dkk . , bullying adalah jenis perilaku menghina kekuasaan secara sistematis, seperti kekerasan fisik, verbal, pengucilan, dan Bullying dapat berupa fisik, verbal, atau relasional. Bullying fisik berupa memukul, menendang, mencubit, menarik baju atau kerudung orang lain, mengambil barang orang lain secara paksa, dan sebagainya. Bullying selanjutnya yaitu verbal meliputi siswa menyebut teman-temannya dengan nama orang tuanya, mengejek atau menggangu orang lain tentang perbedaan fisik mereka, seperti warna kulit, tinggi badan atau berat badan, dan menghina perbedaan ras atau asal daerah. Perilaku ini sering terjadi pada usia anak sekolah dasar, periode yang sangat penting dalam perkembangan karakter Dalam periode ini, anak-anak cepat meniru apa yang mereka lihat dan Oleh karena itu, pendekatan yang efisien untuk menghentikan tindakan kekerasan di antara siswa sangat diperlukan. Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 Mengajarkan pentingnya cinta damai sejak dini merupakan strategi yang efektif. Karakter cinta damai digambarkan sebagai sikap, ucapan, dan perilaku yang membuat seseorang merasa senang, aman, dan nyaman di lingkungannya (Ramadhanti & Hidayat. Peneliti melihat bahwa lembaga pendidikan seharusnya menjadi tempat tumbuhnya karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Kebudayaan dan Karakter Bangsa, salah satunya cinta damai. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul AuUrgensi Pendidikan Karakter Cinta Damai Bagi Siswa SD Untuk Mencegah Perilaku BullyingAy. Pendidikan karakter cinta damai dipilih sebagai fokus karena bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif seperti empati, toleransi, dan keterampilan penyelesaian konflik pada siswa sejak dini, yang merupakan periode kritis dalam perkembangan karakter mereka. Dengan menumbuhkan sikap cinta damai, siswa diajarkan untuk memahami dan menghargai perbedaan, serta menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, yang diharapkan dapat mengurangi insiden Bullying. Budaya sekolah yang positif dan aman tercipta ketika siswa merasa dihargai dan dilindungi, yang tidak hanya mencegah perilaku Bullying tetapi juga membentuk generasi muda dengan fondasi moral yang kuat dan siap membangun masyarakat yang lebih damai dan METODE PENELITIAN Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dalam penulisan artikel ini. Studi literatur adalah jenis proyek penelitian dimana data sekunder dari berbagai penyelidikan perpustakaan atau literatur yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian dikumpulkan dari buku, makalah, atau jurnal. Data yang didapat dikumpulkan lalu dibaca, meninjau kajian pustaka yang relevan Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan dan berkaitan dengan judul, kemudian dicatat serta mengelola bahan penelitian Pengumpulan data kajian literatur menggunakan tiga database, yaitu Google Schoolar. ERIC (Education Resources Information Cente. , dan Scopus. Adapun kebaharuan artikel yang dicari memiliki rentang waktu 5 tahun kebelakang yaitu 2020 sampai dengan 2024 sedangkan buku rentang waktu 10 tahun kebelakang yaitu 2015 sampai dengan 2024. Dalam penelitian ini diperoleh pengumpulan data dengan cara menelaah artikelartikel jurnal maupun buku yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu AuUrgensi Pendidikan Karakter Cinta Damai Bagi Siswa SD Untuk Mencegah Perilaku BullyingAy. HASIL DAN PEMBAHASAN Bullying Bullying atau dapat disebut juga perundungan sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di setiap lapisan masyarakat dan hal itu tidak terlepas dari tingkat usia maupun lingkungan sosial. Perundungan atau Bullying pada masa kanak-kanak merupakan suatu masalah di lingkungan masyarakat yang dapat meningkatkan risiko buruknya hasil kesehatan . ental healt. , sosial, dan pendidikan di usia muda (Armitage. Bahkan sekolah dasar yang merupakan tempat awal terbentuknya pendidikan norma dan etika sudah terdapat kasus yang disebabkan atas perilaku Bullying. Kasus Bullying yang semakin meningkat dan seiring perkembangan zaman di Indonesia ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hampir seluruh lapisan masyarakat seperti anakanak, remaja, bahkan orang dewasa pun mengetahui apa itu Bullying. Perihal Bullying yang terjadi tidak hanya dilakukan secara fisik seperti memukul, menendang, dll melainkan memanggil teman dengan nama orangtua, mengejek perbedaan fisiknya, dan menyebarkan Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 berita kebohongan (Dewantari et al. Jenis Bullying yang dapat dialami oleh anak-anak dapat berupa fisik, verbal, dan relasional. Jenis tindakan yang agresif, kekerasan, dan terus menyakiti orang lain dikenal sebagai tindakan Bullying (Junindra et al. , 2. Pendapat Septiyuni. Budimansyah. , & Wilodati . dalam (Junindra et al. , 2. mengungkapkan bahwa perundungan atau Bullying merupakan suatu perilaku kasar dan perilaku negatif yang dilakukan secara berulang-ulang yang menimbulkan rasa trauma, ketakutan, dan ketidaknyamanan bagi korban Bullying. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Bullying atau perundungan merupakan suatu perilaku negatif yang bertujuan menyakiti orang lain baik secara fisik, verbal ataupun relasional dengan dilakukan secara berulang-ulang dan memberikan dampak yang buruk bagi korban yang mengalami tindakan Bullying. Bullying menjadi salah satu kasus permasalahan yang berbahaya yang meresahkan dunia pendidikan. Perilaku Bullying ini memerlukan perhatian lebih khususnya pada tingkat sekolah dasar pembentukan karakter bagi para generasi bangsa kita, sebab itu guru perlu faktor-faktor perilaku Bullying bisa terjadi. Perbedaan ras, etnis, pengaruh media atau Bullying (Karliani et al. , 2. Adapun beberapa faktor yang dapat tindakan Bullying dapat diklasifikasikan sebagai berikut : . Faktor orang tua, pola asuh orang tua merupakan contoh yang utama bagi anak dalam membentuk karakter yang baik. Keluarga atau orang tua diharapkan memberikan kasih Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan sayang dan perhatian kepada anak serta menciptakan suasana yang damai. Faktor lingkungan, termasuk lingkungan masyarakat dan sekolah dimana tempat anak bersosialisasi. Faktor teman sebaya, perilaku dan kebiasaan teman sebaya yang tidak mengarah pada kebiasaan positif maka akan berdampak buruk bagi perilaku anak. Faktor media massa, media televisi, youtube dan game online yang menayangkan tayangan mengandung kekerasaan dapat menjadi salah satu pengaruh negatif dan anak cenderung mencontoh apabila anak tidak didampingi ataupun tidak difilter . Faktor keadaan sosial, kemiskinan yang dimiliki dapat membuat anak melakukan pemalakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya (Hijrawatil Aswat, 2. Pemerintah Indonesia tentunya telah membuat suatu kebijakan terkait larangan Bullying yang diatur pada Undang-undang Pasal 54 Nomor 23 tahun 2002 yang berbunyi. AuAnak-anak di lingkungan sekolah harus dilindungi dari segala tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau temannya di sekolah dan lembaga pendidikan lainnyaAy. Akan tetapi sangat disayangkan, kebijakan tersebut belum terlaksana dengan baik sebab masyarakat masih minim pengetahuan terkait undangundang tersebut. Bahkan masyarakat mengabaikan faktor-faktor yang dapat memicunya tindakan Bullying karena menganggap hal tersebut yang biasa terjadi dalam hubungan pertemanan anak-anak maka dari itu lah masih adanya perilaku Bullying yang ada di sekitar kita hingga saat ini. Sangat penting untuk memberikan perhatian terhadap perilaku Bullying agar mereka berkurang atau bahkan tidak terjadi lagi. Jika tidak terselesaikan, masalah ini akan berdampak pada korban dan dapat menjadi kebiasaan buruk yang berulang. Sebagian siswa menganggap Bullying sebagai hal yang Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 biasa dan tidak mempertimbangkan dampak dan konsekuensi dari perilaku Maka dari itu, pencegahan dapat dilakukan oleh seorang guru terhadap Bullying mengetahui karakteristik siswa yang terlibat dalam Bullying dan sasaran atau korban dari pelaku Bullying agar tindakan buruk tersebut dapat dicegah ataupun dihentikan. Karakteristik dari pelaku Bullying dapat ditunjukkan sebagai berikut: merasa memiliki kekuasaan, tidak sabar atau mudah marah, agresif, tidak empati, kuat, dan suka mengganggu teman. Sedangkan karakteristik dari korban Bullying dapat dilihat seperti pemalu, pendiam, kurang bersosialisasi, mudah menangis, mudah cemas, merasa tidak memiliki harga diri, dan fisik yang berbeda dari pelaku Bullying. Dalam mencegah Bullying pada anak usia dini, keterlibatan guru sangat berperan (Despa Ayuni, 2. Menurut Jayadi dkk. dampak yang akan dialami anak usia 5-12 tahun berdampak negatif. Pelaku yaitu anakanak yang menikmati tindakan Bullying memiliki kemungkinan untuk terlibat dalam waktu jangka panjang tindakan kekerasan atau perilaku lainnya yang berisiko seiring mereka bertambah perkelahian, tindakan kriminal, dan berpotensi menyakiti keluarga terdekat dengan melakukan tindakan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangg. Anak-anak Bullying cenderung tidak memiliki empati dan memiliki interaksi sosial yang buruk. Pelaku Bullying juga berpotensi akan mengalami gangguan kesehatan mental, terutama gejala emosional yang lebih parah daripada Emosional yang tidak dapat terkontrol dengan baik sehingga mudah marah dan tersinggung. Sementara korban Bullying mungkin mengalami Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan kekerasan fisik atau non-fisik, korban juga mungkin merasa dikucilkan oleh sekitarnya, memiliki sedikit teman dekat atau bahkan tidak ada, hubungan yang kurang baik dengan orang tua mereka, gangguan kesehatan mental, dan yang paling parah, depresi, yang berpotensi menyebabkan ingin bunuh diri. Sehingga tindakan Bullying ini akan membuat berkepanjangan (Lusiana. , & Arifin. , 2. Maka dilihat dari pernyataan di atas, tidak hanya korban yang merasakan dampak Bullying, namun pelaku juga merasakan dampak dari perbuatannya. Penindasan dibenarkan karena tindakan tersebut akan memiliki konsekuensi yang signifikan di masa depan. Di usia anakanak sekolah dasar seharusnya dipenuhi dengan rasa senang dan bahagia bermain bersama teman bukan dipenuhi oleh rasa tekanan yang timbul dari lingkungan Oleh karena itu, untuk menghentikan perundungan terhadap anak, dapat dimulai dengan memberikan lebih banyak kasih sayang dan kepercayaan serta melibatkan pelaku dan korban dalam kegiatan positif. Selain itu, untuk memerangi Bullying terhadap anak dengan menanamkan karakter pendidikan, sekolah, guru, dan orang tua harus bekerja sama. Pendidikan Karakter Cinta Damai Setiap siswa perlu memiliki bekal dalam bersosialisasi dan berinteraksi pendidikan yang berperan dalam membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter adalah cara terbaik untuk melihat kemajuan suatu negara. Hal ini karena pendidikan karakter akan menghasilkan sumber daya manusia yang mengenal jati dirinya, membentuk sifat-sifat yang baik, mendorong kreativitas, kepedulian, dan bakat (Hijrawatil Aswat. Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 Sekolah merupakan lingkungan memperkenalkan dan menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa selaku generasi penerus bangsa. Tentunya membangun pendidikan karakter di sekolah memerlukan peran serta seluruh warga sekolah termasuk wali murid atau orangtua dan dilakukan dengan bertahap dari waktu ke waktu. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua anak, terlepas pendidikan formal atau nonformal. Dalam dunia pendidikan, sekolah memiliki tanggung jawab lebih dari hanya memberikan pengetahuan kepada Mereka juga harus membantu sehingga mereka menjadi individu yang Suatu mengembangkan karakter yang baik dapat melalui pendidikan. Sekolah dasar merupakan pendidikan formal pertama yang bisa didapat oleh setiap siswa dan mereka juga akan menyelesaikan pendidikan dasar tersebut selama 6 Selama waktu tersebut mereka mengembangkan karakter yang baik Karakter seringkali disamakan oleh moralitas, yaitu cara berpikir atau berperilaku seorang manusia sebagai nilai yang ada dalam diri individu tersebut. Pendidikan karakter harus diajarkan kepada anak sejak usia dini untuk membangun kepribadian yang baik. Ini harus diterapkan dalam kebiasaan yang baik saat anak menjadi dewasa dan menjadi baligh (Amaliati, 2. Karakter seseorang dapat berubah oleh kebiasaan yang dilakukan oleh individu Langkah pertama dalam melakukan perubahan diri dari seorang siswa baik secara sadar maupun tidak sadar dapat dilakukan melalui kegiatan Dengan belajar, siswa dapat menambah intensitas aktivitas jasmani Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan maupun rohani mereka. Akan tetapi, jika seorang siswa mengalami gangguan dalam proses pembelajarannya, maka pelaksanaan dari pembelajarannya juga dapat terganggu. Salah satu gangguan dalam proses belajar siswa bisa terjadi karena mengalami Bullying (Ririn Nurlafika Dewi & LuAolulil Maknum. Dalam hal tersebut maka dapat dilihat bahwa tindakan Bullying itu sangat dilarang dan tidak diperbolehkan memengaruhi pendidikan moral dan nilai karakter pada diri seseorang, perkembangan seorang anak. Konflik, tawuran antarsekolah, dan perundungan di lingkungan siswa tingkat sekolah dasar menjadi masalah serius yang memerlukan tindakan cepat. Jika siswa tidak memahami pentingnya sifat seperti rasa hormat, empati, dan keberanian, mereka dapat menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan konflik secara bijaksana, sehingga mereka cenderung memilih kekerasan sebagai Dengan pendekatan yang luas dan bekerja sama antara seluruh stakeholder sekolah, orangtua, dan masyarakat, masalah tersebut diharapkan dapat diminimalisir, menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi siswa SD. Menurut Rekomendasi Kementerian Pendidikan Nasional, 2010. Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, siswa harus memiliki sifat-sifat berikut: . kerja keras. rasa ingin tahu. cinta kebangsaan. cinta tanah air. cinta damai. peduli lingkungan. peduli sosial. bertanggung Penanaman beberapa nilai karakter yang disebutkan di atas tidak terlepas dari peran orangtua dan pendidik yang Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 harus memberikan teladan bagi siswa. Salah satu karakter yang harus dipelajari adalah karakter cinta damai. Menurut Babuta. Yoddie Y & Wahyurini. dalam artikel Ramadhanti & Vinayastri . karakter cinta yang damai pada anakanak dapat membantu mereka menjadi mengendalikan perasaan mereka, dan lebih terbiasa menjadi sabar. Beberapa tanda menumbuhkan atau menanamkan karakter ini adalah sebagai berikut: . merasa senang bekerja dalam kelompok. suka sharing dengan teman. memiliki sikap yang menghormati pendapat orang lain. memiliki rasa . tidak egois. tidak suka membuat keributan dan mengganggu teman. memerlukan bantuan. mampu menjadi penengah saat orang lain mengalami kesulitan. Dengan siswa yang memperlakukan orang lain dengan rasa empati, menghormati perbedaan, terlepas dari latar belakang budaya, ras, agama atau etnis serta ketika seseorang memiliki sikap toleransi, mereka dapat menerima keberagaman dan menghormati hak asasi manusia setiap orang. Maka dari itu, dalam mengatasi permasalahan Bullying yang sering terjadi di lembaga pendidikan dapat kita usahakan dengan menanamkan pendidikan karakter cinta Pendidikan karakter yang membangun masyarakat yang adil dan menerima semua orang di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh. Tentunya menumbuhkan karakter cinta yang damai membutuhkan usaha, yaitu dengan memperlihatkan sikap yang teladan kepada siswa kehidupan mereka sehari-hari. Vol. No. Juni 2024 Kompetensi Universitas Balikpapan Mengimplementasikan pendidi-kan karakter cinta damai di sekolah dapat dilakukan melalui pendekatan holistik terintegrasi, kegiatan rutin, dan keteladanan dari guru. Contoh konkret adalah dengan mengintegrasikan nilainilai cinta damai dalam mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia melalui cerita dan diskusi tentang toleransi, serta dalam pelajaran PPKn dengan simulasi pemecahan konflik secara damai. Selain itu, sekolah dapat mengadakan kegiatan harian seperti "circle time" dimana siswa berbagi pengalaman dan perasaan mereka dalam suasana yang aman dan mendukung, serta melibatkan siswa dalam proyek layanan masyarakat yang mengajarkan kerjasama dan empati. Guru juga berperan penting sebagai teladan dengan menunjukkan perilaku damai dan adil dalam interaksi seharihari. Melalui metode ini, pendidikan karakter cinta damai dapat ditanamkan secara efektif dan konsisten dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Membangun budaya sekolah yang inklusif dimana semua siswa dihargai dan diterima juga dapat meningkatkan pendidikan karakter yang didasarkan pada cinta damai. Melalui pendidikan karakter yang didasarkan pada cinta damai, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang kuat dan terpercaya dengan mempelajari nilai-nilai dan prinsip-prinsip kepribadian dan identitas mereka. Mereka akan belajar cara berinteraksi dengan baik, menyelesaikan konflik dengan damai, dan menciptakan hubungan yang positif dengan teman sebaya dan orang lain di lingkungan (Santoso Mendorong siswa untuk menghargai dan menanamkan nilai-nilai positif seperti altruisme, kejujuran, kerja keras, dan rasa hormat dalam kehidupan seharihari. Hal ini dapat membantu membangun karakter yang bermoral dan kuat, yang merupakan dasar bagi sikap Debi Apriliani 1. Uswatun Hasanah 2. Petrus Paulus Mbette Suhendro 3. Fahrurrozi 4 cinta yang damai. Dengan menerapkan prinsip-prinsip pendidikan karakter, diharapkan siswa menjadi individu yang memiliki empati dan toleransi, memiliki kesadaran yang tinggi akan sosial, serta mampu membantu menciptakan perdamaian dan keadilan di masyarakat. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan karakter cinta damai sangat penting bagi siswa SD untuk mencegah perilaku Bullying. Melalui pendidikan ini, siswa mempelajari dan nilai-nilai toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan dalam kehidupan sehari-hari, yang membantu mereka menyadari menyelesaikan konflik secara damai. Karakter cinta damai membentuk budaya sekolah yang ramah dan aman, mengurangi insiden Bullying, dan melindungi siswa yang rentan. Implikasi praktisnya adalah sekolah harus mengintegrasikan nilai-nilai cinta damai dalam kurikulum, kegiatan harian, dan keteladanan dari guru. Untuk penelitian mengeksplorasi metode efektif dalam penerapan pendidikan karakter cinta damai dan mengukur dampaknya terhadap pengurangan Bullying di berbagai konteks sekolah. DAFTAR PUSTAKA