PASTORALIA STIPAS Keuskupan Agung Kupang P-ISSN: 2579-9355 E-ISSN: 2797-2216 Jurnal Penelitian Dosen Volume: 6 Nomor: 1. Edisi: Juni 2025 PENGUATAN NILAI-NILAI AGAMA DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA SEBAGAI UPAYA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Anna Maria Milo Nono, 2Siprianus Soleman Senda, 3Maria Roswita Boe 1-3 Universitas Katolik Widya Mandira. Kupang 1 Annamarianono@gmail. com, 2sendasiprianus@gmail. com, roswitaboe@gmail. Abstrak Kekerasan dalam rumah tangga sering kali dipicu oleh kurangnya komunikasi, ketidaksetaraan peran, dan lemahnya penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga. Terkait kurangnya penerapan nilai-nilai agama dalam keluarga, fenomena kekerasan dalam rumah tangga memperlihatkan bahwa ada kesenjangan antara nilai agama yang dianut dan praksis penghayatannya dalam kehidupan rumah tangga. Penelitian ini berfokus pada aspek lemahnya penerapan nilai agama dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dengan memanfaatkan sumber tertulis seperti buku, jurnal, dan dokumen lain sebagai data utama untuk menganalisis faktor penyebab dan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, khususnya pada aspek nilai-nilai agama yang dianut dan penerapannya dalam kehidupan rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi solusi pencegahan kekerasan dalam rumah tangga melalui penguatan nilai-nilai agama dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilainilai agama seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, solidaritas, kebaikan, kebenaran, kebebasan, ketulusan, dan penghormatan memiliki peran penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Kata Kunci Keluarga. Kekerasan dalam rumah tangga. Nilai Agama Abstract Domestic violence is often triggered by a lack of communication, role inequality, and the weak application of religious values within the family. Regarding the lack of application of religious values within the family, the phenomenon of domestic violence demonstrates a gap between religious values held and their practical application in domestic life. This study focuses on the weak application of religious values in family life. This study uses a literature review method, utilizing written sources such as books, journals, and other documents as primary data to analyze the causes and prevention of domestic violence, particularly regarding the aspects of religious values held and their application in domestic life. The purpose of this study is to identify solutions to prevent domestic violence by strengthening religious values within the family. The results show that the application of religious values such as love, justice, forgiveness, solidarity, kindness, truth, freedom, sincerity, and respect plays a crucial role in creating harmonious families and preventing domestic violence. Keywords Family. Domestic Violence. Religious Values Pastoralia Vol. 6 No 1. Edisi Juni 2025 PENDAHULUAN Rumah tangga mencerminkan suatu konsep yang melibatkan tempat tinggal serta seluruh penghuninya, dan di dalamnya, keluarga adalah inti yang tak terpisahkan (Junaidi 2017:. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak sebagai unit sosial terkecil yang mempengaruhi kehidupan satu sama lain. Sebagai bagian dari rumah tangga, keluarga bertugas menciptakan lingkungan yang harmonis dan sehat demi kesejahteraan bersama (Noffiyanti 2020:. Keharmonisan dalam keluarga bergantung pada kejujuran, penghargaan atas hak serta kewajiban tiap anggota, dan penerapan nilai-nilai agama seperti cinta kasih, keadilan, pengampunan, solidaritas, kebebasan, kebaikan, kebenaran, dan ketulusan. Kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk memimpin, menjaga kerukunan, serta menyelesaikan konflik melalui komunikasi dan pengertian emosional (Hilal 2023:. Sayangnya, bila konflik tidak dikelola dengan baik, ketidakharmonisan bisa terjadi dan berujung pada kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ketidakharmonisan ini kerap kali dipicu oleh kurangnya komunikasi efektif, ketidaksetaraan peran, serta lemahnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari (Rasdiana 2022:. Selain itu, tekanan ekonomi, perselingkuhan, dan budaya patriarki yang masih dominan memperparah kondisi dan menciptakan ketegangan. Pada akhirnya, ketegangan yang tidak terselesaikan ini dapat menyebabkan KDRT, yang bisa berupa kekerasan verbal, fisik, psikis, seksual, ekonomi, maupun spiritual. Hal ini bukan hanya merusak martabat anggota keluarga, tetapi juga melanggar hak asasi manusia, terutama pada perempuan yang sering menjadi korban utama. Pencegahan KDRT memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk penegakan hukum yang tegas, dukungan sosial, dan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai keluarga (Alfariszi and Ahsan 2024:. , termasuk di dalamnya penguatan nilai-nilai agama seperti cinta kasih, pengampunan, kebenaran, kebaikan, solidaritas dan penghormatan terhadap martabat pribadi. Hal ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan rumah tangga yang harmonis, yang pada akhirnya akan menjaga kesehatan mental, fisik, serta martabat setiap anggota keluarga. Penelitian-penelitian terdahulu telah banyak membahas tentang masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam keluarga. Alfariszi, dkk meneliti tentang pelanggaran hak asasi dalam rumah tangga menurut hukum keluarga Islam dan hukum positif Indonesia, dengan fokus pada kekerasan serta perlindungan hak individu (Alfariszi and Ahsan 2. Santoso dalam penelitiannya menganalisis kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan peran pekerja sosial dalam mendampingi korban untuk mengurangi trauma serta memberikan rasa aman (Santoso 2019:. Ramadani, dkk mengidentifikasi hubungan antara riwayat kekerasan masa lalu dan pola asuh suami sewaktu kecil dengan kejadian KDRT terhadap istri (Ramadani and Yuliani 2017:. Pastoralia Vol. 6 No 1. Edisi Juni 2025 Penelitian terdahulu belum secara mendalam menyoroti peran nilai-nilai agama sebagai pendekatan preventif dalam mengatasi KDRT, khususnya dalam konteks penguatan komunikasi, kesetaraan peran, dan nilai spiritual di keluarga. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekurangan tersebut dengan menelaah bagaimana penerapan nilai-nilai agama dapat menjadi strategi efektif dalam menciptakan keharmonisan dan mencegah kekerasan dalam rumah tangga. METODE Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kajian pustaka, yaitu metode yang memanfaatkan sumber tertulis sebagai data utama. Metode ini diterapkan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyimpulkan informasi dari berbagai referensi, seperti buku, jurnal, dan dokumen Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk memahami topik secara mendalam melalui analisis teori yang ada serta mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan, tanpa perlu melakukan pengumpulan data secara langsung di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai-Nilai Agama sebagai Solusi Kekerasan dalam Rumah Tangga Nilai-nilai agama memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan perilaku individu agar sesuai dengan norma-norma kebaikan yang dijunjung tinggi dalam masyarakat, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan kepribadian yang matang dan bertanggung jawab (Ananda 2017:. Dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) agama, sebagai benteng moral dan etika, memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan dengan menekankan nilai-nilai cinta kasih, keadilan, dan kesetaraan (Waruwu et al. Dalam konteks sosial, agama dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan ketimpangan yang ada melalui ajaran tentang pentingnya keadilan sosial, solidaritas, dan kasih sayang. Agama juga berpotensi menjadi agen perubahan, misalnya melalui gereja yang menyediakan ruang bagi komunitas inklusif dan program bantuan sosial yang bertujuan mengurangi ketimpangan (Heni Maria et al 2023:. Pemimpin agama dapat menggunakan otoritas moral mereka untuk mengadvokasi kebijakan yang berpihak pada kaum marginal dan mendorong perubahan sosial positif. Pendidikan agama juga berperan penting sebagai sarana transformasi, dengan mengajarkan nilai-nilai keadilan sosial dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai agama seperti cinta kasih, keadilan, solidaritas, kebaikan, kebenaran, dan kebebasan, menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi dalam rumah tangga, dan mendorong perlindungan serta penghormatan terhadap setiap anggota keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak (Sampai and Post 2024:3Ae. Pendidikan agama yang tepat di lingkungan Pastoralia Vol. 6 No 1. Edisi Juni 2025 rumah, sekolah, dan komunitas keagamaan dapat membangun kesadaran akan pentingnya keharmonisan keluarga dan cara menyelesaikan konflik secara damai. Selain itu, pemuka agama dan lembaga keagamaan berperan sebagai mediator dan penyedia dukungan bagi korban KDRT, melalui layanan konseling, advokasi, dan program rehabilitasi (Praditia and Muhtadi 2020:81Ae. Pendekatan yang berbasis agama ini membantu menciptakan lingkungan keluarga yang aman dan penuh kasih serta mendorong masyarakat untuk menjalankan nilai-nilai agama dalam upaya melawan KDRT. KDRT sebagai Tantangan dalam Penerapan Nilai-Nilai Agama Pada hakekatnya, nilai-nilai agama menekankan cinta kasih dan menolak segala bentuk Namun, kenyataannya, penerapan prinsip-prinsip ini dalam memerangi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menghadapi tantangan serius. Salah satu tantangan tersebut adalah penafsiran ajaran agama yang keliru. Beberapa individu sering kali salah memahami peran gender, sehingga kontrol berlebihan dan tindakan kekerasan terhadap pasangan dianggap sah (Tambunan 2020:28Ae. Dalam beberapa kasus, teks-teks agama diinterpretasikan secara bias untuk membenarkan kekuasaan sepihak suami atas istri, yang jelas bertentangan dengan prinsip kasih dan keadilan yang diajarkan dalam agama. Selain itu, budaya patriarki memperkuat pandangan bahwa laki-laki memiliki otoritas penuh dalam keluarga, sehingga kekerasan terhadap perempuan sering kali dianggap normal atau diperlukan demi AuketertibanAy keluarga (Hanapi and Juismaidar 2024:. Tantangan lainnya adalah minimnya pendidikan agama yang komprehensif mengenai hak-hak dalam perkawinan. Banyak orang tidak memahami bahwa ajaran agama sesungguhnya menjunjung tinggi kesetaraan dan melarang kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap perempuan maupun anak (Mauludi 2023:. Adat istiadat yang lebih mengutamakan tradisi daripada ajaran agama yang benar juga menjadi hambatan dalam menerapkan nilai-nilai agama secara utuh. Selain itu, tantangan struktural dalam sistem hukum dan sosial memperburuk situasi ini, di mana dukungan hukum bagi korban KDRT sering kali terbatas dan kesetaraan gender belum sepenuhnya diterima dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan upaya terpadu untuk mengedukasi masyarakat mengenai ajaran agama yang benar, menghapus stereotip gender, dan mendorong komunitas agama untuk aktif menentang kekerasan dalam rumah tangga (Sri Maya. Bakhtiar Abbas 2024:1. Penguatan Nilai Agama dan Pencegahan Kekerasan dalam Rumah Tangga Penguatan nilai-nilai agama memiliki potensi besar dalam mencegah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Nilai-nilai inti seperti cinta kasih atau kasih sayang, keadilan, pengampunan, kebaikan, kebenaran, solidaritas, ketulusan, dan penghormatan terhadap sesama yang diajarkan dalam Pastoralia Vol. 6 No 1. Edisi Juni 2025 berbagai agama menjadi landasan yang kuat untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis dalam keluarga (Gunawan, 2020: 59Ae. Ajaran agama mendorong keseimbangan dan kesetaraan, khususnya dalam hubungan antara suami dan istri, yang berfungsi sebagai panduan moral untuk menghindari tindakan kekerasan. Selain itu, tokoh agama dan komunitas berperan penting sebagai agen perubahan, menyuarakan pentingnya menolak KDRT dan mempromosikan nilai-nilai cinta kasih dalam relasi keluarga. Pendidikan agama yang memperhatikan isu hak-hak perempuan, keadilan gender, serta perlindungan korban kekerasan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam kepada masyarakat mengenai pentingnya peran serta tanggung jawab setiap anggota keluarga dalam menciptakan kedamaian di rumah (Kusnadi and Wulandari 2024:. Selain itu, dukungan spiritual dari komunitas agama membantu korban KDRT mendapatkan kekuatan psikologis untuk pulih dan melindungi diri Kolaborasi antara komunitas agama, organisasi sosial, dan pemerintah juga dapat mengoptimalkan upaya pencegahan KDRT, melalui program-program edukatif dan kampanye publik yang melibatkan media keagamaan (Saragi. Sanjaya, and Simanjuntak 2022:. Penafsiran ulang yang inklusif terhadap ajaran agama memungkinkan pengaplikasian nilai-nilai agama dalam menghadapi tantangan sosial modern, sehingga agama dapat lebih berperan dalam upaya pengentasan kekerasan dalam rumah tangga dan menciptakan generasi yang lebih peduli akan isu-isu kemanusiaan. Hal-hal praktis yang dapat dilakukan untuk penguatan dan penerapan nilai agama dalam keluarga adalah penataan kehidupan rohani rumah tangga melalui doa bersama, ibadat bersama, pembacaan kitab suci bersama yang dilanjutkan dengan sharing pengalaman iman bersama untuk memperteguh satu sama lain. Aktivitas rohani yang dilaksanakan intensif dalam keluarga akan semakin menguatkan tata nilai agama dalam keluarga, dan bermuara pada kehidupan yang rukun, harmonis, saling menghargai, saling mengasihi dan saling menghormati antar anggota rumah tangga. Pada gilirannya kekerasan dalam rumah tangga dapat diminimalisir. KESIMPULAN Nilai-nilai agama memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan dalam rumah tangga dengan mengajarkan cinta kasih, keadilan, solidaritas, pengampuan, ketulusan, kebaikan, kebenaran, kebebasan, dan saling menghormati sebagai dasar hubungan keluarga yang harmonis. Melalui pendidikan agama yang mencakup keadilan gender dan perlindungan bagi korban, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya kesejahteraan setiap anggota keluarga. Selain itu, kolaborasi antara komunitas agama, organisasi sosial, dan pemerintah memperkuat upaya menolak KDRT dan mendorong terciptanya generasi yang lebih peduli terhadap keadilan dan kemanusiaan. Pastoralia Vol. 6 No 1. Edisi Juni 2025 Saran kepada lembaga agama, agar memperhatikan penanaman nilai-nilai agama dalam keluarga melalui pelbagai kegiatan keagamaan berbasis keluarga. Saran kepada pemerintah, agar dalam implementasi kebijakan pemerintah, perhatian kepada keluarga sejahtera mendapat porsi yang Saran kepada keluarga-keluarga, agar memberi perhatian kepada nilai-nilai agama dan menghayatinya dalam kehidupan berkeluarga. DAFTAR PUSTAKA