INTAN Jurnal Penelitian Tambang Volume 7, nomor 1, 2024 PERHITUNGAN DEBIT LIMPASAN PADA CV. KLASIGI KABUPATEN SORONG PROVINSI PAPUA BARAT Wilson W. G Ameto 1*). Aldi Fariz Valderama . Jurusan Teknik Pertambangan. Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Universitas Papua Jl. Gunung Salju Amban Manokwari Telp. /Fax. 215661 / . (*) Penulis korespondensi: wilsonameto@gmail. Received: Januari 2024. Accepted: Mei 2024. Published: Mei 2024 Abstract CV. Klasigi is a sirtu mining company located in Klasigi Village. Makbon District. Sorong Regency. West Papua Province. CV. Klasigi conducts mining using an open pit mining system with the quarry method. The mining system method used usually forms a depression, so that when it rains it has the potential to cause flooding in the mining area and mining roads. Based on the results of observations made by researchers in the field, the area that is the problem is the area around the mining road location. This is caused by rainfall that falls and forms uncontrolled surface runoff, so efforts are needed to overcome this problem. The aim to be achieved in this research is to find out how large the cathment area value is and how large the surface runoff discharge value is at this research Based on the results of the analysis of Sorong city rainfall data for the last 10 years, it was found that the standard deviation was 0. 0683, the variance coefficient was 0. 0506, the skewness coefficient was -0. 1645, and the planned rainfall was 13. 59 mm/day, the rain intensity was 4, 7114 mm/hour, the cathment area value is 0. km2, and the runoff discharge is 0. 073 m3/s. Keywords: rainfall, rain intensity, cathment area, discharge. Abstrak CV. Klasigi Merupakan salah satu perusahaan penambangan sirtu yang berada di Kampung Klasigi Distirik Makbon Kabupaten Sorong. Provinsi Papua Barat. CV. Klasigi melakukan penambangan dengan menggunakan sistem tambang terbuka dengan metode quarry. Untuk metode sistem penambangan yang digunakan ini, biasanya akan membentuk suatu cekungan, sehingga ketika terjadinya hujan berpotensi menyebabkan banjir pada area penambangan dan jalan tambang. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, bawasannya daerah yang menjadi masalah yaitu daerah sekitar lokasi jalan tambang. Diakibatkan oleh adanya curah hujan yang jatuh, dan membentuk limpasan permukaan yang tidak terkontrol, untuk itu di perlukan upaya untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar nilai cathment area dan besarnya nilai debit limpasan permukaan pada lokasi penelitian Bersasarkan hasil analisis data curah hujan kota sorong selama 10 tahun terakhir didapatkan standar deviasi sebesar 0,0683, koefisien variansi 0,0506, koefisien skewness -0,1645, dan curah hujan rencana sebesar 13,59 mm/hari, intensitas hujan sebesar 4,7114 mm/jam, nilai cathment area sebesar 0,062 km2, dan debit limpasan 0,073 m3/s. Kata kunci : curah hujan, intensitas hujan, daerah tangkapan hujan, debit. PENDAHULUAN Sistem penyaliran tambang akan berhubungan dengan pengontrolan air baik air permukaan maupun air bawah tanah, yang sering mengganggu aktivitas kegiatan penambangan baik pada tambang terbuka maupun pada tambang bawah tanah pada saat musim Air permukaan dan air bawah tanah merupakan sumber utama air yang akan memasuki wilayah pertambangan sehingga di perlukan upaya atau cara-cara dalam menanggulangi kedua sumber air tersebut. Ada dua metode yang sering digunakan dalam proses penanggulangan sumber air tersebut ialah minedrainage dan minedewatering. merupakan suatu upaya penanggulangan yang dilakukan untuk mencegah masuknya air hujan kedalam area tambang. Sedangkan mine dewatering mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam area Air limpasan . un of. adalah air yang mengalir melewati jenis-jenis permukaan tanah akibat dari turunnya hujan yang tidak dapat ditahan oleh tanah, vegetasi, atau cekungan yang dilaluinya. INTAN Jurnal Penelitian Tambang Ameto dan Valderama INTAN Volume 7. Nomor 1, 2024 sehingga dapat mengalir secara langsung menuju daerah yang lebih rendah seperti sungai-sungai dan Air limpasan yang sudah terlanjut masuk ke dalam area tambang perlu ditanggulangi dengan cara pembuatan sump atau kolam penampungan sementara sehingga air dapat ditampung. Selanjutnya air tampungan ini akan dikeluarkan dengan menggunakan bantuan pompa-pompa yang nantinya akan menyedot dan mengeluarkan air tersebut. Sehingga kedua metode yang digunakan dapat meminimalisir tingkat kecelakaan di area pertambangan seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, kerusakan peralatan tambang, kerusakan jalan tambang, dan lainnya. Sehingga kegiatan penambangan dapat berjalan dengan baik. CV. Klasigi penambangan sirtu yang berada di Kampung Klasigi Distrik Makbon Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat. Dengan bahan galian yang di tambang adalah sirtu, sistem penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka . urface Minin. dengan metode Quarry. Alasan peneliti mengambil penelitian ini di CV. Klasigi karena pada salah satu lokasi pertambangan khususnya di area jalan tambang mulai mengalami kerusakan, akibat dari curah hujan limpasan permukaan yang tidak terkontrol, sehingga diperlukan upaya dalam menanggulangi ermasalahan Untuk itu perlu untuk diketahui besarnya nilai debit limpasan, sehingga bisa dijadikan acuan dalam merangcang saluran drainase, sump, dan kolam pengendapan di sekitaran jalan tambang dan lokasi penambangan. XT merupakan nilai rata-rata dari curah hujan yang diukur dalam satuan milimeter . , memberikan gambaran umum mengenai jumlah hujan yang jatuh selama periode pengamatan. Log xi merujuk pada logaritma dari nilai curah hujan yang tercatat setiap tahun, membantu mereduksi rentang variabilitas data dan mengidentifikasi tren serta pola. K adalah jumlah total data curah hujan yang dikumpulkan, di mana semakin besar nilai K, semakin representatif analisis yang dapat dilakukan. S adalah koefisien skewness yang mengukur kemencengan distribusi data curah hujan, menunjukkan simetri distribusi dan membantu dalam memahami karakteristik serta variabilitas data Intensitas Curah hujan Derajat curah hujan biasanya dinyatakan oleh jumlah curah hujan dalam satuan waktu dan disebut intensitas hujan. jadi intensitas hujan yaitu jumlah hujan per satuan waktu yang relatif singkat, biasanya satuan yang digunakan adalah mm/jam. Penentuan intensitas curah hujan dengan menggunakan rumus mononobe, karena menggunakan data curah hujan ( ) I adalah intensitas hujan yang diukur dalam satuan milimeter per jam . m/ja. , menunjukkan seberapa cepat hujan turun dalam periode waktu R24 merujuk pada curah hujan maksimum harian, yaitu jumlah maksimum hujan yang tercatat dalam satu hari, memberikan gambaran mengenai potensi kejadian hujan ekstrem. tc adalah lamanya hujan yang diukur dalam jam, menggambarkan durasi waktu hujan berlangsung dan berpengaruh pada total curah hujan yang diterima suatu area. METODOLOGI PENELITIAN Adapaun metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini ialah metode penelian kuntitatif dengan pendekatan deskriptif. Data yang diperlukan dalam penelitian ini, mencakup data primer dan data Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara pengambilan data dilapangan adapun data primer pada penelitian ini ialah data kordinat lokasi, data panjang lantai kerja, data curah hujan. Sedangkan data sekunder ialah peta geologi, peta topografi, dan pustaka-pustaka terkait penelitian. Debit Puncak Air Limpasan (Qpunca. Air limpasan adalah air yang mengalir akibat hujan dan bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah sebelum mencapai saluran Debit limpasan yang akan masuk ke pit dihitung dengan menggunakan parameter intensitas curah hujan, waktu konsentrasi, catchment area dan koefisien air limpasan. Perhitungan debit air limpasan menggunakan persamaan rasional untuk mengetahui besarnya debit air limpasan. Waktu konsentrasi adalah jumlah waktu pengaliran di permukaan yang diperlukan air untuk mencapai debit maksimum dari titik saluran terjauh sampai titik yang ditinjau, waktu konsentrasi dapat dihitung dengan rumus kirpich. catchment area ditentukan dengan pengamatan lapangan dan peta Koefisien air limpasan adalah angka yang menunjukan perbandingan antara jumlah air hujan yang mengalir diatas permukaan tanah dan curah Koefisien limpasan dapar ditentukan berdasarkan pengamatan di lapangan tergantung pada keadaan tanah, jenis tanaman dan vegetasi. Penentuan DASAR TEORI Curah Hujan Rencana Curah Hujan adalah jumlah atau volume air hujan yang jatuh pada satu satuan luas, dinyatakan dalam satuan mm. Sumber utama air permukaan pada suatu tambang terbuka adalah air hujan. Penentuan data curah hujan dimaksudkan untuk mendapat nilai curah hujan rencana. Curah hujan rencana tersebut dapat menjadi dasar dalam merancang sistem penyaliran tambang. Data curah hujan yang akan dianalisa adalah curah hujan maksimum dalam 10 tahun terakhir. Dengan menggunakan metode distribusi Log Person i. XT = Log x (K x S) R24 24 2/3 . INTAN Jurnal Penelitian Tambang Ameto dan Valderama INTAN Volume 7. Nomor 1, 2024 debit limpasan dapat menggunakan persamaan Q = 0,278 . C . membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. (Fuady dan Azizah 2. Daerah aliran sungai dalam bahasa inggris disebut watershead atau dalam skala luasan kecil disebut catchment area adalah suatu daratan yang dibatasi oleh punggung bukit atau batas-batas pemisah topografi, yang berfungsi menerima, menyimpan, dan mengalirkan curah hujan diatasnya ke alur-alur sungai dan terus mengalir ke anak sungai dan ke sungai utama, dan berakhir di danau, muara atau lautan. Daerah tangkapan hujan . atchment are. adalah luasnya permukaan yang apabila terjadinya hujan, maka air hujan tersebut akan mengalir ke daerah yang lebih rendah menuju titik pengaliran. Air yang jatuh ke permukaan sebagian akan meresap ke dalam tanah . , sebagian ditahan oleh tumbuhan . , dan sebagian lagi akan mengisi liku-liku permukaan bumi dan akan mengalir ke tempat yang lebih rendah (Septriawan, 2. Q adalah debit limpasan yang diukur dalam meter kubik per detik . A/. , menunjukkan volume air yang mengalir di permukaan suatu area dalam satu C merupakan koefisien limpasan, yang menggambarkan proporsi air hujan yang berubah menjadi limpasan permukaan, dipengaruhi oleh karakteristik tanah dan penutup lahan. A adalah luasan area yang diukur dalam meter persegi . A), menggambarkan ukuran wilayah yang menjadi sumber limpasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa . sungai yang menjadi alur pengatus . Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin, drainage area, atau river basin. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah . atchment are. yang HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun hasil dan pada proses pengolahan data curah hujan di lokasi daerah penelitian dapat di llihat pada tabel berikut. Tabel 1 Data curah hujan Tahun Bulan Curah Hujan Hari Hujan Curah Hujan Harian Rata-rata . Juli 455,60 22,78 Mei 23,61 Mei 22,00 Juni 22,12 Juli 22,89 September 26,21 Juni 15,36 April 333,90 25,68 Juli 25,76 September 19,97 Tabel 2 Perhitungan Curah Hujan Rencana Curah Hujan Rencana Distribusi Log Person i Oc Log xi- log xr2 Log xi- log xr3 i-1 n 0,0681 0,00464292 0,00031636 Log xi- log xr4 LOG XI 26,21 1,418 25,76 1,411 0,0606 0,00367452 0,00022274 0,00001350 25,68 1,410 0,0593 0,00351257 0,00020818 0,00001234 23,61 1,373 0,0228 0,00051838 0,00001180 0,00000027 22,89 1,360 0,0093 0,00008682 0,00000081 0,00000001 22,78 1,358 0,0072 0,00005221 0,00000038 0,00000000 22,12 1,345 -0,0055 0,00003072 -0,00000017 0,00000000 1,350 INTAN Jurnal Penelitian Tambang 0,00002156 Ameto dan Valderama INTAN Volume 7. Nomor 1, 2024 Curah Hujan Rencana Distribusi Log Person i Oc Log xi- log xr2 Log xi- log xr3 i-1 n -0,0079 0,00006249 -0,00000049 Log xi- log xr4 LOG XI 22,00 1,342 19,97 1,300 -0,0499 0,00249500 -0,00012463 0,00000623 15,36 1,186 -0,1639 0,02687529 -0,00440585 0,00072228 0,04195093 -0,00377087 0,00077619 Oc 226,38 13,503 Untuk mendapatkan nilai debit limpasan (Qpunca. maka ada beberapa parameter yang perlu diketahui diantaranya nilai coefisien limpasan, nilai intensitas curah hujan, dan luasan area tangkapan Namun sebelum mendapatkan nilai debit, ada beberapa parameter yang perlu diketahui seperti curah hujan maksimum harian pertahun, rata-rata nilai curah hujan, nilai standar deviasi, nilai koefisien variansi, nilai koefisien skewness, dan perhitungan nilai curah hujan rencana, dimana curah hujan rencana akan digunakan untuk mencari nilai intensitas curah hujan. Data curah hujan yang digunakan selama 10 tahun terakhir terhitung dari tahun 2012-2021 didapat dari (BMKG) Kota Sorong. Mengapa Metode Perhitungan Distribusi Log Person i karena sudah dilakukan pengujian pemilihan terhadap dua para meter pengujian seperti Uji Chi Kuadrat dan Uji Smirnov Kolmogorof terhadap setiap hasil hitung curah hujan dan persyaratan pada setiap distribusi. Sehingga didapat distibusi yang sesuia untuk digunakan dalam perhitungan curah hujan rencana ini, distribusi yang sering digunakan seperti distribusi normal, disrtibusi log normal, distribusi Log Person i dan dirtibusi gumbel. Dan setelah diuji didapatkan hasil bahwa distribusi Log Person i yang sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Dan untuk perhitungannya akan dijabarkan sebagai berikut dengan mengunakan bantuan microsoft excel. curah hujan yang digunakan akan semakin seragam, dan sebaliknya data hitung yang digunakan semakin besar maka data curah hujan yang digunakan tidak Oc ( log xi- log xr )2 SLog CV = 0,068273085 13,50 CV = 0,00506 CV = Koefisien Skewness (C lo. Penggunaan menggunakan koefisien variansi yaitu digunakan untuk melihat tingkat kenormalan data-data curah hujan yang digunakan dan biasanya digambar dalam bentuk grafik kenormalan. (CsLog ) = Oc Log Xi- Log X. S3 ( -0, 003770. (CsLog ) = . 0,06882730853 (CsLog ) = - 0,164573519 Curah Hujan Rencana Perhitungan curah hujan rencana ini bertujuan untuk mengetahui curah hujan rata-rata pada daerah Standar Deviasi (S lo. Pengguanaan menggunakan standar deviasi yaitu digunakan untuk melihat tingkat penyebaran data terhadap nilai ratarata dari data curah hujan yang digunakan untuk mengetahui apakah ada penyimpangan data. Slog = Oo 0,00000000 = Log x (K x S) = 13,50 . ,27 x 0,06. = 13, 59 mm/hari . Adapun hasil yang didapatkan pada setiap perhitungan yang didapat yaitu, rata-rata curah hujan sebesar 13,59 mm/hari, standar deviasi 0,0682, koefisien variansi 0,0050, koefisien skewness 0,1645, dan curah hujan rencana sebesar 13,59 mm/hari. Oc . ,04195. 2 Slog =Oo Intensitas Curah Hujan Slog = 0,068273085 Koefisien Variansi (CV) Pengguanaa menggunakan koefisien variansi yaitu digunakan untuk melihat keseragaman data-data curah hujan, dengan cara membandingkan standar deviasi terhadap nilai rata-rata curah hujan dimana semakin kecil data hitung koefisien variansinya maka data R24 24 2/3 ( ) 13,50 24 ( ) = 4, 7114 mm/jam = 40. 706,496 mm/tahun Untuk nilai intensitas hujan didapatkan 4,7114 mm/jam dan dikonversi kedalam satuan INTAN Jurnal Penelitian Tambang Ameto dan Valderama INTAN Volume 7. Nomor 1, 2024 tahun didapatkan nilai sebesar 40. 706,496 mm/tahun. Maka nilai intensitas hujan di daerah perusahaan dikategorikan sebagai hujan deras. Sehingga dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas penambangan yang dilakukan di Sedangkan mendapatkan nilai luasan daerah tangkapan hujan atau cathment area didapat secara otomatis dengan menggunakan bantuan Software Civil 3D 2018 yang mana luasan dan area tangkapan hujan yang direncakan akan di tampilkan secara otomatis pada topografi yang dimasukan pada software ini. Sehingga nantinya akan digunakan untuk menghitung nilai debit limpasan. Dengan nilai luasan daerah tangkapan hujan yaitu sebesar 0,062 km 2. Penggunaan Software Arcgis 10. Digunakan untuk membantu dalam pembuatan peta topografi dan penanda setiap titik-titik genangan yang berada disekitar jalan tambang. Gambar 1 Daerah Tangkapan Hujan Debit Puncak Limpasan (Qpunca. Adapun data-data yang digunakan untuk menghitung debit puncak limpasan atau air permukaan ialah koefisien limpasan, intensitas curah hujan, dan luasan area tangkapan hujan. limpasan digunakan 0,9 karena lokasi penelitian berada di area penambangan. Dengan menggunakan persamaan dibawah ini. INTAN Jurnal Penelitian Tambang Ameto dan Valderama INTAN Volume 7. Nomor 1, 2024 Q = 0,278 . C . I . Q = 0,278 x 0,9 x 4,7114 mm/jam x 0,062 Km2 Q = 0,073 m3/detik Departemen Pekerjaan Umum 2005. Dasar-Dasar Perencanaan Drainase Jalan Gautama Sayoga Rudy, 1999. Diktat Kuliah Penirisan Tambang TA-352 Sistem Penyaliran Tambang. Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung. Hidayat A Dan Luahambowo. Analisa Perencanaan Dimensi Saluran Drainase Pada Perumahan Griya Sartika Recidence Kalidoni Palembang. Jurusan Teknik Sipil. Universitas Palembang. Mutia S. Daerah Aliran Sungai. https:// com/document/401132130/bab-ii das-anwil das. Novndy Rizki Ary dan Ramli Ahmad. Pengamatan Sistem Penyaliran Pada Tambang Terbuka Batubara Pa Batubara Pada PT. Jhonlin Baratama. Fakultas Teknik. Program Studi Teknik Pertambangan Banjarbaru. Septriawan Bayu, 2018. Perencanaan Sistem Penyaliran Pada Kemajuan Tambang Sebelah Barat PT. Daya Bambu Sejahtera. Desa Mangupeh. Kabupaten Tebo. Provinsi Jambi. Tugas Akhir jurusan teknik pertambangan. Yayasan Muhammad Yamin Sekolah Tinggi Teknologi Industri (Settin. Padang. Jadi nilai debit puncak limpasan yang di peroleh pada perhitungan ini sebesar 0. 073m 3/s. dalam waktu satu detik total volume air limpasan yang masuk sebesar angka diatas. jika dikonversi ke menit maka didapatkan volume sebesar 4,38 m3/menit. KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang diperoleh pada penelitian ini adalah sebagi berikut. besarnya nilai luasan catchment area y a n g didapat dengan menggunakan bantuan software Civil3D 2018 sebesar 0,062 km2. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa debit puncak Q mak sebesar 0,073 m3/s dimana volume tersebut jika di konversi ke menit maka didapatkan volume sebesar 4,38 m3/menit. DAFTAR PUSTAKA