RADIKALISME DALAM PERSEPEKTIF KALAMA SUTTA Boniran. Sukarman. Yulia Wiriyanti Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna boniranjovi@gmail. com1, sukarman920@gmail. Abstrak Radikalisme adalah tindakan yang sangat merugikan banyak pihak serta membuat resah bagi masyarakat luas dan menjadi musuh umat manusia khusususnya radikalisme yang terjadi di Indonesia. Meskipun akar radikalisme telah muncul sejak lama, namun belakangan ini muncul banyak peristiwa yang membuat negara menjadi tidak aman seperti tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama demi kepentingan golongan sendiri. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dimana peneliti mengkaji dan menelaah keperpustakaan. Hasil penelitian yang didapat adalah dalam agama Buddha radikalisme bisa diatasi dengan memahami kalama sutta, sebab dalam kalama sutta membahas tentang mengingatkan agar tidak selalu mempercayai dirinya, tidak mempercayai kitab suci yang ada, tidak mempercayai guru agamanya tanpa melalui analisa dan observasi mendalam terhadap apa yang diajarkannya. Dalam pandangan masyarakat, radikalisme muncul dari ketidak sependapat terhadap kebijakan politik dan juga terhadap ketidaksukaan dengan pemerintah terutama yang merugikan agamanya Dalam pandangan agama Buddha radikalisme bisa saja terjadi dikarenakan seseorang yang sering melaksanakan ibadah di vihara maupun dimana saja, hafal kitab suci luar dalam, mampu melaksanakan meditasi dengan sungguh-sungguh tapi bila tidak mampu menyelami makna agamanya dengan baik, tetapi tidak mampu menerapkan apa yang dipelajarinya di dalam perilaku kehidupan sehari-hari, maka orang-orang seperti ini hanya menguasi kulit, bukan isinya, sehingga muncul ego merasa paling benar dan paling hebat yang menyebabkan keresahan di dalam masyarakat. Kata kunci : Radikalisme. Kalama Sutta Abstract Radicalism is an action that is very detrimental to many parties and creates anxiety for the wider community and becomes an enemy of humanity, especially radicalism that occurs in Indonesia. Even though the roots of radicalism have appeared for a long time, recently there have been many incidents that have made the country insecure, such as acts of violence in the name of religion for the interests of one's group. This research method uses a descriptive qualitative method in which the researcher examines and examines the literature. The research results obtained are that in Buddhism radicalism can be overcome by understanding the Kalama sutta because the Kalama sutta discusses reminding us not to always believe in oneself, not trust existing scriptures, not trust their religious teacher without going through in-depth analysis and observation of what they teach. In the public's view, radicalism arises from disagreement with political policies and also towards dislike with the government, especially those that harm their religion. In the view of Buddhism, radicalism can occur because someone who often performs worship at monasteries or anywhere, memorizes the holy book inside and out, and can carry out meditation seriously but if he is unable to understand the meaning of his religion properly, he is unable to apply what he learns. in the behavior of everyday life, people like this only control the skin, not the contents, so that the ego appears to feel the truest and greatest which causes unrest in society. Keywords: Radikalisme . Kalama Sutta PENDAHULUAN (Indonesia merupakan negara yang merdeka dengan kekuatan persatuan dari berbagai keberagaman salah satunya keberagaman agama. Dengan adanya perbedaan agama bukan sesuatu yang dihindari, justru menjadikan pondasi penopang bangsa. Namun persatuan tersebut terus mendapat ancaman dari berbagai tindak radikal yang menyerang dengan melalui berbagai aksi, salah satunya seseorang yang merasa paling tau tentang agamanya sehingga dia menentang agama yang lain. Definisi lain dari radikalisme adalah sebuah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan kepada masyarakat lainnya. Pada saat ini radikalisme merupakan wujud proses atau usaha merubah suatu tatanan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat atau oknum tertentu dengan cara kekerasan fisik dan menggunakan aspek keagamaan sebagai tempat aksi dan penyebarannya. Kekerasan atas nama agama sudah bukan hal baru di negera kita, yaitu Indonesia. Kepedihan akibat Perang Salib . hingga bom di Samarinda pada November 2016 menjadi buktinya. Salah satu kenyataan yang miris, karena agama yang sejatinya mengajarkan nilai-nilai luhur diubah menjadi sebuah tindakan yang tidak sejalan dengan norma-norma agama itu sendiri. Beberapa pihak menuduh bahwa kelompok radikalis agama menjadi dalang dibalik semua Sedangkan sebagian pihak lainnya menuduh mereka yang berpaham fundamentalislah yang bertanggungjawab atas semuanya. Radikalisme agama yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu dengan menyebarkan teror dan menggunakan kekerasan demi tercapainya tujuan yang menurut kelompok tersebut benar adalah tindakan yang tidak dibenarkan. Kelompok tersebut beranggapan bahwa dengan menggunakan kekerasan merupakan salah cara tercepat untuk menuju tercapainya tujuan. Kelompok yang memilih untuk menggunakan tindak kekerasan seperti tindak radikal mereka tidak memiliki rasa kasih sayang, tenggang rasa dan perhatian terhadap korban dan keluarga korban atas tindakan yang dilakukan oleh mereka. Karena pada dasarnya, agama maupun negara manapun tidak pernah setuju dengan segala bentuk terror. Oleh karena itu, untuk menghindari sikap radikalisme yang makin marak perlu diadakannya pemahaman lebih tentang Kalama Sutta. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan desain deskriptif, yaitu Menurut Sugiyono . metode deskriptif kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah . ebagai lawannya adalah eksperime. dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci teknik pengumpulan data dilakukan secara trigulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Metode kualitatif dengan desain deskriptif, yaitu penelitian yang memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi (Koentjaraningrat, 1993:. Menurut Bogdan dan Taylor . yang dikutip oleh Moleong . mengemukakan bahwa metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Dalam hal ini peneliti berusaha mempelajari dan memahami tentang radikalisme yang memang menjadi viral bagi masyarakat Indonesia pada khususnya. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari wawancara, diskusi teman sejawat, serta literasi. Peneliti merupakan instrumen utama penelitian, oleh karena itu ada tiga teknik yang digunakan pada penelitian ini, yaitu observasi, dokumen dan wawancara. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Radikalisme Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 1 Paham atau aliran yang radikal dalam politik. 2 Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Sikap ekstrem dalam aliran politik. (Lin. : https://kbbi. id/radikalisme. Radikalisme, berasal dari kata radikal yang memiliki arti secara mendasar. Sedangkan radikalisme adalah sebuah paham atau aliran yang radikal dalam politik maupun dalam hal beragama. paham atau aliran yang menginginkan perubahan dan pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan. Istilah radikalisme ini seperti tertuang dalam kamus bahasa Indonesia, merupakan kata serapan yang terdiri dari dua kata radical dan isme , yang setelah digabungkan bermakna paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Dalam buku AuEnsiklopedia IndonesiaAy diterangkan bahwa AuradikalismeAy adalah semua aliran politik, yang para pengikutnya menghendaki konsekuensi yang ekstrim, setidak-tidaknya konsekuensi yang paling jauh dari pengejawantahan ideologi yang mereka anut. Kedua definisi tersebut pada intinya menghendaki perubahan dengan cara ekstrem, kekerasan dan Sebab dari Radikalisme Radikalisme muncul sudah dari lama dan muncul dalam pemikiran maupun Radikalisme pemikiran didasarkan pada keyakinan pada nilai, ide, dan pandangan yang dimiliki oleh seseorang yang dinilainya paling benar dan menganggap yang lain salah. (Achmad Jainuri, 2016:1 Radikalisme terjadi akibat banyak faktor yang mendukung terjadinya sikap radikalisme tersebut, yang paling banyak persoalan ideologi agama. Dalam agama buddha, radikalisme merupakan sebuah perilaku yang kurang tepat karena hal itu bertolak belakang dengan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha. Radikalisme muncul bisa disebabkan oleh beberapa hal, sebagai berikut: Adanya pandangan salah yang menganggap bahwa agama atau ajaran yang dianut adalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Adanya pemahaman yang salah terhadap isi dari sebuah kitab suci suatu ajaran. Adanya keinginan untuk balas dendam ketika dari salah satu individu atau dari kelompok serta organisasi masyarakat mempunyai masalah dengan organisasi masyarakat lain apalagi yang memiliki agama . Tidak seiring dengan kebijakan politik pada saat ini terutama yang merugikan agamanya. Hal itu dapat memicu kelompok atau organisasi tertentu untuk mengambil tindak radikalisme apabila kebijakan dari pemerintah tidak segera dibenahi. Selain itu, radikalisme bisa dikatakan sebagai kefanatikan yang ditunjukkan secara berlebihan. Sedangkan fanatik pada satu kepercayaan atau agama harus diawali dengan ketekunan, lalu mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari, bukan menghakimi orang lain atau ajaran agama lain. Radikalisme muncul dari pandangan agama manusia yang kurang memahami tentang agama sehingga mereka mudah terprovokasi dan salah. Menurut kompas. com ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan sikap radikalisme, yaitu. Faktor Ekonomi Radikalisme bisa dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Karena sebagian manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk menyebarkan suatu paham atau ideologi dengan cara kekerasan. Selain itu, banyak dari beberapa kelompok yang mengataskan namakan agama untuk mengambil kesempatan dengan cara meminta sumbangan. Faktor Politik Faktor politik bisa mejadi faktor yang mempengaruhi munculnya sikap radikalisme karena sekelompok orang merasa negara tidak adil kepada rakyatnya atau hanya memperhatikan segelintir kelompok saja. Sehingga kelompok tersebut meminta keadilan kepada negara dengan cara . Faktor Social Faktor sosial dapat memunculkan sikap radikalisme pada diri seseorang. Terlebih lagi jika orang tersebut memiliki pikiran yang sempit dan mudah percaya kepada pihak yang dianggap membawa perubahan ke dalam Padahal pihak tersebut menyebarkan suatu paham yang bertentangan dengan ideologi negaranya. Faktor Psikologis Faktor psikologis bisa mempengaruhi sikap radikalisme, karena hal itu dapat tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang yang memiliki berbagai permasalahan, rasa benci, serta dendam. Sehingga berpotensi menjadi radikalisme dan mudah dipengaruhi orang lain. Faktor Pendidikan Faktor pendidikan menjadi dasar munculnya sikap radikalisme. Ideologi radikalisme bisa dengan mudah disisipkan dalam pengajaran. Jika seseorang atau sekelompok tersebut memiliki pendidikan yang cukup baik, maka kelompok tersebut bisa mengatasi sikap radikalisme yang akan terjadi. Akibat dari Radikalisme Fenomena sosial yang terjadi pada saat ini menjadi suatu keresahan di masyarakat, termasuk adanya perilaku radikal. Perilaku itu dapat mengganggu stabilitas masyarakat (Puspita, 1. Kehadiran gerakan radikal yang dilakukan oleh suatu kelompok. Kelompok ini biasanya menginginkan perubahan pada sistem nilai dan sosial. Radikalisme dapat diklasifikasikan ke dalam Ilmu Sosial. Dalam konteks itu, agama sebagai berfungsi sebagai kenyataan sosial. Radikalisme juga dipengaruhi antropologi yang muncul dari perilaku keagamaan yang berasal dari proses akulturasi atau inkulturasi budaya. Permasalahan radikalisme harus diselesaikan dengan cara melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat (Ummah, 2. Menurut Nurkholis Majid, radikalisme terbagi menjadi empat bagian, yaitu . Deprivasi relative. Yang dimaksudkan adalah perasaan teringkari, tersisihkan atau tertinggal dari orang lain atau kalangan tertentu dalam Hal ini terjadi karena seseorang tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Dislokasi atau perasaan tidak mempunyai bagian dalam tatanan sosial yang sedang berkembang. Dislokasi dapat dilihat pada krisis yang dialami kaum marginal atau orang pinggiran di kota besar akibat urbanisasi. Disorientasi. Kondisi ini dapat diibaratkan seseorang yang tidak mempunyai pegangan hidup. Akibatnya, ia sulit mengenal diri sendiri. Negativism. Yang dimaksudkan adalah menaruh kecurigaan terhadap seseorang atau negara. Radikalisme menyebabkan terbentuknya politisasi dalam agama. Politisasi ini untuk melakukan berbagai tindakan kekerasan, baik dalam kehidupan sosial antar individu maupun kelompok, sehingga terbentuk kelompok radikal (Sosiologi et al. , 2. Radikalisme menjadi masalah sosial karena paham ini memaksudkan munculnya perubahan pada suatu sistem sosial. Pemahaman Kalama Sutta Kalama Sutta merupakan kerangka dasar Dhamma. Empat penghiburan yang diajarkan di sutta itu menyebutkan batasan yang diizinkan Sang Buddha untuk meragukan penilaian mengenai hal-hal di luar kognisi normalnya. Kalama Sutta memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti oleh pencari kebenaran dan berisikan standar yang digunakan untuk menilai segala sesuatu. Instruksi pada Suku Kalama (Kalama Sutt. memang pantas terkenal karena memberikan dorongan bagi penyelidikan bebas. Sang Buddha memulai dengan meyakinkan para Kalama bahwa dalam situasi seperti demikian adalah hal yang wajar bagi mereka untuk bimbang, sebuah ketenangan yang membangkitkan kebebasan menyelidik. Beliau selanjutnya membabarkan pesan yang telah disampaikan di atas, menasihati para Kalama untuk meninggalkan hal-hal yang mereka ketahui sendiri adalah buruk dan mengambil hal-hal yang mereka ketahui sendiri adalah baik. Nasihat ini dapat jadi sangat berbahaya bila diberikan kepada mereka yang nilai-nilai moralnya belum berkembang, dan karenanya kita dapat mengasumsikan bahwa sang Buddha menilai para Kalama sebagai orang-orang dengan sensitivitas moral yang baik. Dalam beragam peristiwa. Beliau tidak membiarkan mereka . orang awa. sepenuhnya sendiri, namun dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada mereka. Beliau membimbing mereka untuk melihat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang akan mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain, agar dan sebaliknya, hal-hal yang menguntungkan bagi semua makhluk, agar dikembangkan. Dalam Kalama Sutta pesan yang telah kerap kali diulang adalah sebagai berikut: AuMarilah, para Kalama. Janganlah percaya terhadap apa yang diterima melalui apa yang didengar berulang kali, atau karena tradisi, atau karena isu, atau karena naskah, atau karena dugaan/prasangka, atau karena aksioma, atau karena alasan yang baik, atau karena kebingungan terhadap gagasan yang berkembang, atau karena kemampuan seseorang, atau karena pertimbangan 'Sang bhikkhu adalah guru kita. ' Saat diri Anda sendiri mengetahui: 'Hal-hal ini adalah buruk, patut disalahkan, dicela para bijaksana. diambil dan diamati, hal-hal ini membawa kerugian dan penderitaan,' tinggalkan merekaA Saat diri Anda sendiri mengetahui: 'Hal-hal ini baik, tidak patut disalahkan, dipuji para bijaksana. diambil dan diamati, hal-hal ini membawa keuntungan dan kebahagiaan,' ambillah dan patuhilah mereka. Ay Dalam agama Buddha sangat menghargai adanya suatu perbedaan yang terjadi dan berusaha untuk menjaga kerukunan antara yang lain dengan mengedepankan toleransi dan cinta damai. Hal itu dapat dilihat dalam ajaran Buddha, yang terdapat dalam pilar asoka. AuJanganlah kita menghormati agama kita sendiri dengan mencela agama lain. Sebaliknya agama lainpun hendaknya dihormati atas dasar-dasar tertentu. Dengan berbuat demikian kita membuat agama kita sendiri berkembang, selain menguntungkan pula agama lain. Jika kita berbuat sebaliknya, kita akan merugikan agama kita sendiri selain merugikan agama lain. Oleh karena itu. Barangsiapa menghormati agamanya sendiri dan mencela agama lain, semata-mata terdorong oleh rasa bakti kepada agamanya sendiri dengan pikiran AoBagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiriAo, justru ia akan merugikan agamanya sendiri. Karena itu kerukunan dianjurkan dengan pengertian biarlah semua orang mendengar dan menghormati ajaran yang dianut orang lain. Ay Dengan adanya pemahaman tentang Kalama Sutta yang sudah dijelaskan oleh Sang Buddha bahwa agama Buddha tidak mengiyakan atau menyetujui tindak radikalisme yang terjadi, karena hal itu tidak mengajarkan kebaikan. Sehingga hal itu dapat diatasi dengan tidak langsung mempercayai agama yang kita dapat, jangan langsung membuat huru-hara bahwa agama lain salah. Lebih lanjut. Buddha juga mengajarkan hal-hal yang dapat dikembangkan untuk memelihara kerukunan, berupa AuEnam Faktor yang Membawa KeharmonisanAy (Saraniyadhamm. , yaitu: . cinta kasih diwujudkan dalam perbuatan. cinta kasih diwujudkan dalam tutur kata. cinta kasih diwujudkan dalam pikiran dan pemikiran, dengan memiliki itikad baik terhadap orang lain. memberi kesempatan kepada sesamanya untuk ikut menikmati apa yang diperoleh secara halal. di depan umum ataupun pribadi ia menjalankan kehidupan bermoral, tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang lain. di depan umum ataupun pribadi memiliki pandangan yang sama, yang bersifat membebaskan dari penderitaan dan membawanya berbuat sesuai dengan pandang tersebut, hidup harmonis, tidak bertengkar karena perbedaan pandangan (A. KESIMPULAN Radikalisme adalah suatu paham yang menggunakan cara kekerasan untuk mencapai tujuannya. Radikalisme dan radikal adalah suatu hal yang bertolak belakang. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya atau muculnya Radikalisme, baik itu dari faktor internal maupun faktor eksternal. Meskipun begitu, ada banyak cara untuk mencegah dan mengatasi radikalisme, seperti memperkuat pemahaman Pendidikan Kewarganegaraan, menghabiskan waktu luang untuk kegiatan yang berkualitas, memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran, dan yang lainnya. Radikalisme merupakan suatu tindakan yang merugikan banyak pihak serta membuat resah bagi masyarakat luas dan menjadi musuh semua kalangan di masyarakat. Radikalisme disebabkan oleh kefanatikan pada suatu kepercayaan atau agama yang dianut, lalu mengaplikasikan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara berlebihan. Di dalam buddhisme radikalisme terjadi karena adanya pandangan salah, adanya pemahaman yang salah terhadap suatu ajaran, adanya keinginan untuk balas dendam kepada agama yang lain, dan tidak sejalannya kebijakan politik dengan agama yang ada. Sehingga mengakibatkan terpecah belahnya suatu ajaran dan mengakibatkan terjadinya peperangan antara agama satu dengan agama yang lain. Oleh karena itu dalam buddhis diperlukan pemahaman kalama sutta yang mengajarkan tentang jangan mudah percaya terhadap apa yang diterima melalui apa yang didengar berulang kali, atau karena isu/tradisi/prasangka/alasan yang baik, karena jika terlalu percaya tanpa membuktikan sendiri akan menjadi boomerang kepada kita dan terjadi sikap radikalisme UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada Jurnal DharmaEd. Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna, telah mempublish artikel jurnal. Sehingga dapat menambah referensi dan menjadi rujukan bagi para peneliti REFERENSI