ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26-38 id/index. php/ACESA PERUBAHAN INTENSITAS PENGGUNAAN RUANG SOSIAL DI APARTEMEN SELAMA PANDEMI COVID-19 (KASUS APARTEMEN BALE HINGGIL SURABAYA) Steven PintonoA. Rully DamayantiA Program Studi Magister Arsitektur. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Kristen Petra Surabaya. Program Studi Magister Arsitektur. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Kristen Petra Surabaya. Email : Stevenpintono9@gmail. comA, rully@petra. Abstract. Pandemi Covid-19 berdampak pada semua aspek kehidupan tak terkecuali ruang sosial apartemen. Penularan yang cepat membuat ruang sosial apartemen yang sebelumnya merupakan tempat yang aman dan nyaman untuk berinteraksi dan beraktifitas mengalami perubahan menjadi ruang yang cenderung dihindari. Hal ini tentu mengakibatkan perununan intensitas penggunaan dan timbul rasa cemas saat berada di ruang sosial. Terdapat beberapa faktor lain yang menyebabkan ruang sosial saat ini umumnya dihindari seperti ventilasi udara dan asupan udara luar yang kurang baik, penggunaan ruang sosial yang terlalu ramai dan tidak dibatasi, aksesbilitas yang susah dan jauh, dan kurang ketatnya protokol kesehatan yang Penelitian ini mengindentifikasi perubahan intensitas pengguna ruang sosial di apartemen sebelum dan selama pandemi Covid-19. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuatitatif korelasional. Penelitian dilakukan di ruang sosial apartemen Bale Hinggil Surabaya yaitu di area lobby, kolam renang, kantor pengelola, minimarket, dan di cafy Bale Hinggil. Hasil penelitian ini menunjukan terjadinya penurunan intensitas penggunaan ruang sosial dan efek psikologi . kenyamanan penghuni terkait prosedur kesehatan di ruang sosial apartemen. Keywords: perubahan, intensitas, apartemen, ruang sosial. COVID-19 Pendahuluan Pandemi COVID-19 dialami oleh hampir seluruh manusia, dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan dalam waktu yang singkat. Penularan pandemi yang cepat khususnya di perkotaan telah mendorong pemerintah untuk melakukan pembatasan aktifitas sosial yang ada. Dengan adanya pembatasan ini, tentu mendatangkan pertanyaan baru mengenai identitas ruang publik yang merupakan ruang sosial yang ada di masyarakat. Pembatasan sosial dan new - normal tentu merubah tatanan dan persepsi masyarakat terhadap ruang publik yang telah menjadi identitas masyarakat penggunanya. Ruang sosial di apartemen sebagai ruang interaksi penghuni yang tinggal di apartemen tidak luput dari dampak pandemi COVID-19. Konsep eco living yang banyak digencarkan oleh pengembang apartemen dengan mewujudkan konsep hunian apartemen dengan suasana hijau dan dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung tidak berjalan dengan maksimal. Padahal belakangan ini pertumbuhan industri properti apartemen sedang banyak diminati oleh masyarakat dan fasilitas pendukung yang merupakan ruang publik merupakan hal yang diminati oleh masyarakat dalam membeli apartemen. Berdasarkan survey dari Colliers Indonesia. Surabaya Timur merupakan teritorial yang menyumbang suplai properti terbanyak . %) dibandingkan Surabaya Barat. Surabaya Utara dan Surabaya Selatan. Jenis properti yang direncanakan bukan hanya rumah tapak saja namun juga apartemen. Dengan adanya pandemi COVID-19 saat ini telah memaksa kita masuk kedalam pembatasan ruang publik yang belum pernah terjadi di semua ruang publik di dunia. Ketidakpastian yang ada didepan mata kita dan ketakutan bahwa rasa tempat dan ruang kita mungkin berubah secara permanen meningkatkan pertanyaan mengenai bagaimana hubungan sosial di ruang publik bisa berubah. Perencana, perancang, arsitek, manajer lanskap dan jurnalis sudah mulai menulis bagaimana krisis ini akan mengubah hubungan kita dengan ruang publik (Alter, 2020. Florida, 2020. Null and Smith, 2020. Roberts, 2020. van der Berg, 2. Penelitian sebagai dasar penulisan artikel ini akan mencoba menjawab dua pertanyaan utama, yaitu: Bagaimana perubahan kehidupan sosial masyarakat apartemen sebelum dan selama pandemi? Bagaimana perubahan intensitas penggunaan ruang sosial oleh penghuni apartemen sebelum dan selama new-normal?. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan kehidupan sosial penghuni apartemen selama pandemi COVID-19 serta mengetahui perubahan intensitas penggunaan ruang sosial di apartemen dan apa yang menjadi faktor perubahan tersebut. 1 Ruang Publik Ruang terbuka publik merupakan salah satu jenis ruang luar yang biasanya digunakan secara bebas oleh masyarakat sekitar untuk beraktivitas dan berinteraksi sosial, sebagai pusat wadah aktivitas luar bagi masyarakat. (Carr, 1. Kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik sebagai sarana melakukan aktifitas sosial secara bersama - sama semakin berkembang dari tahun ke tahun. Saat ini ruang publik sudah menjadi panggung interaksi sosial yang dilakukan antar individu, individu dengan kelompok dan antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Selain itu, adanya ruang publik di tengah kota juga dapat menurukan suhu dari kota tersebut. Di Surabaya pertumbuhan ruang publik terjadi cukup pesat dengan tumbuhnya beberapa taman yang merupakan ruang publik kota, seperti taman bungkul, taman prestasi, taman mundu, taman cahaya dan taman flora bratang. Gambar 1. Kualitas utama ruang publik (Sumber : project for public space. Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 Berdasarkan diagram diatas yang dibuat oleh project for public spaces terdapat 4 kualitas utama yang perlu dimiliki oleh ruang terbuka, yaitu ruang publik yang aksesible, menumbuhkan aktifitas pengunjung, nyaman serta memiliki visual yang baik, dan memiliki nilai sosial dimana setiap individu dapat bertemu satu dengan yang lain. Sedangkan lingkaran lapis kedua merupakan aspek intangibles . idak teruku. , dan bagian terluar dari diagram diatas merupakan aspek kuantitatif yang dapat diukur melalui statistik maupun riset. Stephen Cars dan kawan dalam bukunya yang berjudul Public Spaces mengungkapkan bahwa ruang publik bisa berupa taman umum dari skala nasional seperti monas di kota Jakarta dan skala regional misalnya simpang lima di kota Semarang. 2 Interaksi Sosial Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antar individu, antara individu dengan kelompok maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial. Secara fisik kontak sosial terjadi apabila terjalin kontak secara jasmani, dimana kontak jasmani yang dimaksud tidak saling bersentuhan, namun dengan cara berbicara dengan orang yang bersangkutan. Kontak sosial juga memiliki sifat primer dan sekunder. Kontak primer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka, sedangkan kontak sekunder merupakan kontak yang dibantu oleh sebuah perantara. Tidak semua tindakan dapat dikatakan sebagai sebuah interaksi sosial. Menurut Charles P. Loomis, suatu tindakan dapat dikatakan sebagai interaksi sosial bila memiliki ciri, antara lain adanya pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang, adanya komunikasi antar pelaku baik menggunakan bahasa maupun menggunakan symbol, adanya dimensi waktu yang menentukan aksi yang sedang berlangsung dan adanya tujuan tertentu dari pelaku terlepas dari sama atau berbedanya tujuan Gambar 2. Interaksi sosial diruang publik (Sumber : beritajakarta. 3 Pandemi dan Ruang Publik Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi satu dengan yang lain, baik secara luring maupun daring. Namun, dengan adanya pandemi COVID-19 yang terjadi telah merubah ruang kota dan ruang publik yang ada di masyarakat. Ruang publik seperti jalan dan alunalun yang sebelumnya ramai dikunjungi menjadi kosong dan interaksi dari masyarakat pun saat ini berpindah menjadi daring. Tutupnya ruang publik dan isolasi sosial yang dilakukan oleh pemerintah menyebabkan ketidakjelasan peran ruang publik yang ada di masyarakat. Padahal di negara modern, ruang publik mewakili nilai - nilai masyarakat dan merupakan aset masyarakat yang dijaga di dipelihara bersama-sama (Rosmasrin, 2. Gambar 3. Ruang public saat pandemic (Sumber : w. Pandemi Covid memiliki dampak positif dan negatif tentang bagaimana orang berinteraksi di depan umum. Menurut. Tahj Rosmarin . , dampak lockdown pada beberapa tempat menyebabkan Xenophobia yang menyebabkan perilaku publik anti sosial. Namun di beberapa tempat khususnya di Italia, dampak lockdown memaksa masyarakat untuk keluar ke balkon dan menikmati musik bersama. Hal ini tentu mengingatkan bahwa interaksi merupakan bagian dari intergral masyarakat kita bahkan disaat terjadinya krisis (Rosmasrin, 2. Gambar 4. Interaksi sosial saat pandemi melalui balkon (Sumber: indiatoday. Selama belum adanya vaksin maka jarak fisik menjadi cara untuk menghindari penyebaran dari pandemi COVID-19 ini (Gehl, 2. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada ruang sebagai tempat interaksi sosial. Menurutnya, dunia dan interaksi yang ada didalamnya tidak akan kembali ke keadaan normal, tetapi mengalami pembaharuan akibat adanya pandemi. Interaksi sosial yang ada di masyarakat pun tetap terjadi karena didorong dengan adanya sense of community dan rasa kelekatan secara sosial, untuk itulah banyak bermunculan gerakan untuk saling membantu satu sama lain di masa pandemi COVID-19 ini. Beberapa temuan dari Gehl lainnya adalah pandemi ini membuat orang lebih merasakan manfaat ruang publik yang ada, baik untuk kesehatan mentalnya maupun untuk berolahraga dan mencari udara segar. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini adalah metode kuatitatif Penelitian dilakukan di ruang sosial apartemen Bale Hinggil seperti area lobby, area kolam renang, minimarket, kantor pengelola dan kedai Bale Hinggil. Data dan informasi dikumpulkan melalui kegiatan survei, pengamatan, kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 Menurut Farida Nugrahani . , informasi yang didapatkan akan dianggap valid apabila verifikasi dari jawaban respoden mencapai tahap jenuh, yaitu peneliti mendapatkan jawaban yang sama atau mirip dari jawaban informan dan narasumber atas pertanyaan yang sama. Data dan informasi yang didapat dilapangan berdasarkan survei, pengamatan, kuesioner, wawancara dan dokumentasi dipaparkan dalam bentuk laporan survei dan laporan wawancara. Informasi yang didapatkan akan di reduksi yang merupakan penyederhanaan, penggolongan dan membuang data yang tidak perlu. Setelah direduksi maka data tersebut akan disusun secara sistematis dalam bentuk susunan yang mudah dibaca dan dipahami. Melalui cara ini dapat ditemukan konsep - konsep pemikiran dari respoden sehingga peneliti dapat mengetahui perubahan kehidupan sosial masyarakat selama pandemi COVID-19 dan bagaimana perubahan intensitas penggunaan ruang sosial selama pandemi ini. Gambar 5. Apartemen Bale Hinggil Surabaya (Sumber : sewa-apartemen. Hasil dan Pembahasan Kenyamanan dan keamanan merupakan salah satu faktor keberhasilan dari sebuah ruang sosial. Ruang sosial di apartemen merupakan sebuah hal yang penting, karena disitulah penghuni yang satu dan yang lain saling berinteraksi. Banyak apartemen yang saat ini menawarkan konsep one stop living, yang merupakan konsep agar apartemen yang dirancang mendukung fungsi penghuninya agar tidak hanya tinggal dan menikmati hidup namun juga dapat bersosialisasi dengan komunitasnya dan melakukan aktifitasnya di ruang sosial yang ada. Gambar 6. Ruang sosial apartemen Bale Hinggil Surabaya (Sumber: dokumentasi pribad. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan kuesioner dan wawancara terhadap 15 orang respoden yang merupakan penghuni dari apartemen Bale Hinggil Surabaya. Rata Ae rata responden yang mengisi kuesioner dan melakukan wawancara telah tinggal selama 1 Ae 2 tahun di apartemen Responden diberikan pertanyaan terkait seberapa sering responden melakukan aktifitas diruang sosial dan dari apartemen sebelum dan selama new Aenormal dan bagaimana perasaan mereka selama berada di ruang sosial apartemen saat ini. Gambar 7. Grafik penggunaan ruang sosial apartemen Bale Hinggil Surabaya. Gambar 8. Grafik durasi penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di ruang sosial apartemen. Hasil dari pertanyaan tersebut dapat terlihat penurunan pada grafik aktifitas yag ada di ruang sosial sebelum dan selama new-normal. Sebelum pandemi jawaban dari responden terdiri dari sangat sering . , cukup sering . , jarang . , dan tidak pernah . sedangkan jawaban dari responden untuk menanggapi pertanyaan selama newnormal terdiri dari sangat sering . , cukup sering . , jarang . dan tidak pernah . Dari hasil grafik tersebut (Gambar . dapat terlihat terjadi kenaikan hampir 50% dari jawaban tidak pernah dan jarang sedangkan terjadi penurunan hampir 50% pada jawaban cukup sering dan sangat sering. Responden juga diminta untuk mengisi lama waktu yang mereka habiskan saat berada di ruang sosial sebelum dan selama new normal. Hasil penelitian (Gambar . menunjukan bahwa sebelum pandemi, responden menghabiskan rata-rata waktu dibawah 30 menit sebanyak 20% . , 30 menit hingga 1 jam sebanyak 26. 7% . , 1 jam hingga 2 jam sebanyak 7% . dan lebih dari 2 jam sebanyak 26. 7% . Sedangkan jawaban responden terhadap waktu yang mereka habiskan diruang pubik selama new Aenormal mengalami kenaikan pada waktu dibawah 30 menit dari 20% . 7% . , 1 jam hingga 2 jam mengalami persentase jawaban yang sama yaitu 26,7% . , dan penurunan pada jawaban 1 jam hingga 2 jam dari 26. 6% . menjadi 13,3% . dan jawaban diatas 2 jam juga mengalami penurunan yang sama dari 26. 6% . menjadi 13,3% . Gambar 9. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di ruang sosial selama new-normal. Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 Setelah menjawab pertanyaan tersebut responden juga diminta untuk menjawab perasaan mereka saat berada dalam ruang sosial selama new-normal dengan jawaban dominan waspada 7% . , diikuti oleh jawaban biasa saja sebanyak 26. 7% . , takut dan gelisah sebanyak 6. 7% . dan tidak ada yang menjawab nyaman. Selain pertanyaan diatas digali juga informasi dari responden tentang bersama siapa mereka ke ruang sosial apartemen, penilaian ruang sosial yang ada di apartemen Bale Hinggil dan area publik mana yang sering mereka kunjungi pada apartemen Bale Hinggil Surabaya. Setelah responden mengisi pertanyaan mengenai intensitas penggunaan ruang sosial dan perasaan mereka saat berada di ruang sosial di apartemen Bale Hinggil Surabaya secara umum, maka dilakukan penelitian dan wawancara terhadap masing-masing ruang sosial yang ada di apartemen Bale Hinggil Surabaya. 1 Area Lobby Lobby Bale Hinggil merupakan tempat yang cukup sering dikunjungi. Dari hasil kuesioner juga diketahui bahwa sebagian besar responden menghabiskan waktu kurang dari 30 menit saat berada di area lobby. Saat berada di area ini sebanyak 66,7% . menjawab merasa waspada dan 20% . menjawab biasa saja, namun ada 13,3% . yang menjawab bahwa mereka merasa nyaman saat berada di lobby. Gambar 10. Lobby Bale Hinggil. Sumber : dokumentasi pribadi. Gambar 11. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil berkunjung ke area Gambar 12. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di area lobby. Gambar 13. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di area Berdasarkan hasil wawancara didapatkan informasi bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kenyamanan dari orang yang mengunjungi lobby hall disaat pandemi ini, seperti lobby yang semi terbuka dan memiliki penghawaan yang baik, pengecekan suhu yang bagi orang yang berkunjung secara ketat, pemberian penyekat tempat duduk, material tempat duduk yang sebaiknya merupakan bahan yang mudah untuk dibersihkan, penyediaan handsanitizer yang merata dan penyemprotan disinfektan berkala. 2 Area Kolam Renang Area kolam renang Bale Hinggil merupakan tempat yang cukup sering di kunjungi saat newnormal. Dari hasil kuesioner, diketahui 33,3% . responden yang mengisi kuesioner menjawab mereka datang ke area kolam renang selama kurun waktu dibawah 30 menit. Sebanyak 7% . responden menjawab mereka menghabiskan waktu selama 30 menit Ae 1 jam di area kolam renang. 3% . dari responden juga menjawab mereka menghabiskan waktu di area kolam renang selama 1 Ae 2 jam sedangkan 6. 7% . responden menjawab mereka menghabiskan rata-rata waktu di area kolam renang selama 2 jam. Rata Ae rata responden merasa waspada . , namun ada juga yang merasa biasa saja . dan merasa nyaman . saat berada di kolam renang. Gambar 14. Area kolam renang apartemen Bale Hinggil Surabaya. Sumber : dokumentasi pribadi. Gambar 15. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil berkunjung ke area kolam renang. Gambar 16. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di area kolam renang. Gambar 17. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di area kolam renang. Berdasarkan hasil wawancara didapatkan informasi bahwa area kolam renang merupakan area dimana penghuni merasa paling nyaman saat berada disana. Hal ini terjadi karena area kolam renang merupakan area yang terbuka dan memiliki sirkulasi udara yang baik, namun terkadang adanya pengguna fasilitas yang terlalu banyak penyebabkan penghuni yang lain merasa tidak nyaman sehingga perlu adanya pembatasan orang yang menggunakan fasilitas kolam renang dan sering untuk dilakukan pembersihan secara berkala. Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 3 Minimarket Minimarket bale hinggil merupakan tempat yang cukup jarang dikunjungi oleh responden. Sebanyak 93. 3% . responden menjawab bahwa mereka menghabiskan waktu kurang dari 30 menit untuk berbelanja di area minimarket, namun di area minimarket ini juga terdapat area yang dapat digunakan untuk bersantai dan sering digunakan untuk area bermain game. Saat berada di minimarket Bale Hinggil, sebanyak 46. 7% . responden merasa waspada, 26,7% . responden merasa biasa saja, 13. 3% . responden merasa nyaman, dan 13. 3% . responden merasa takut dan gelisah. Gambar 18. Minimarket apartemen Bale Hinggil Surabaya. Sumber : dokumentasi Gambar 19. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil berkunjung ke area Gambar 20. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di area minimarket. Gambar 21. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di area Pada area minimarket terdapat bukaan dan ventilasi yang baik, sehingga penghuni merasa nyaman untuk menghabiskan waktu disana. Namun, lokasi yang berada dibasement dan akses yang cukup jauh dari kamar merupakan hal yang menyebabkan area tersebut jarang untuk di 4 Area Pengelola Area pengelola merupakan area yang jarang dikunjungi oleh responden. Rata Ae rata responden menghabiskan waktu kurang dari 30 menit di area ini. Penghuni yang datang disini hanya bertujuan untuk melakukan adminitrasi. Rata Ae rata responden merasa waspada . , lalu biasa saja . , nyaman . , biasa saja . dan tidak pernah kesana . saat berada di area pengelola Bale Hinggil. Hal yang menyebabkan kurang nyamannya penghuni saat berada di area pengelola karena ruangnya yang ber AC dan tertutup sehingga orang yang datang merasa waspada Gambar 22. Area pengelola apartemen Bale Hinggil Surabaya. Sumber : dokumentasi Gambar 23. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil berkunjung ke area kantor pengelola. Gambar 24. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di area kantor pengelola. Gambar 25. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di area kantor pengelola. Pada area minimarket terdapat bukaan dan ventilasi yang baik, sehingga penghuni merasa nyaman untuk menghabiskan waktu disana. Namun, lokasi yang berada dibasement dan akses yang cukup jauh dari kamar merupakan hal yang menyebabkan area tersebut jarang untuk di 5 Kedai Bale Hinggil Area kedai kopi Bale Hinggil merupakan area yang sangat jarang dikunjungi saat new-normal. Beberapa responden tidak pernah mengunjungi area tersebut saat new-normal dikarenakan areanya yang cukup jauh dan tidak terlalu sering dilewati. Rata- rata orang yang datang menghabiskan waktu dibawah 30 menit untuk order and go. Penghuni yang lain juga menginformasikan bahwa selama pandemi, mereka memilih untuk memesan makanan secara online dan mengambilnya di Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 Gambar 26. Kedai kopi apartemen Bale Hinggil Surabaya. Sumber : dokumentasi Gambar 27. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil berkunjung ke kedai Bale Hinggil. Gambar 28. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil menghabiskan waktu di kedai Bale Hinggil. Gambar 29. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di kedai Bale Hinggil. 6 Pembahasan Dari data hasil kuesioner yang dibagi kepada penghuni juga dibandingkan antara satu ruang sosial dengan ruang sosial lainnya. Perbandingan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai ruang sosial mana yang paling banyak dikunjungi, ruang sosial mana yang paling lama dikunjungi serta perasaan penghuni saat berada ruang sosial apartemen tersebut. Gambar 30. Grafik intensitas penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di ruang sosial Pada grafik perbandingan diatas dapat disimpulkan bahwa ruang sosial lobby komersial dan kolam renang merupakan ruang publik yang sering dikunjungi dan ruang publik minimarket, area pengelola, dan kedai kopi merupakan ruang publik yang jarang dikunjungi. Lobby komersial dan kolam renang sendiri merupakan ruang publik yang bersifat dinamis . otak hija. sedangkan minimarket, area pengelola dan kedai kopi merupakan ruang publik yang bersifat statis . otak Gambar 31. Grafik lama penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di ruang sosial Pada grafik perbandingan diatas dapat disimpulkan bahwa ruang publik yang bersifat statis . inimarket, area pengelola dan kedai kop. merupakan area yang sebagian besar responden tidak menghabiskan waktu lama di area tersebut. Sebagian besar responden hanya menghabiskan kurang dari 30 menit di area yang bersifat statis ( kotak mera. dan area publik yang bersifat dinamis . otak hija. dapat dikunjungi responden dalam kurun waktu kurang dari 30 menit hingga 2 jam. Gambar 32. Grafik perasaan penghuni apartemen Bale Hinggil saat berada di ruang sosial Pada tabel perbandingan diatas dapat disimpulkan bahwa responden merasakan waspada baik di ruang publik yang bersifat statis maupun dinamis. Kesimpulan Masyarakat apartemen Bale Hinggil sebagian besar sudah menyadari pentingnya ruang sosial yang ada di apartemen. Namun dengan adanya pandemi COVID-19, terjadi penurunan hampir 50% pada intensitas pengguna ruang sosial apartemen yang ada. Penurunan intensitas pengguna juga diikuti dengan perasaan penghuni apartemen yang merasa waspada saat berada diruang sosial Pintono et al. / Perubahan / ACESA. Vol. No. Maret 2021, 26Ae38 apartemen, khususnya ruang sosial apartemen yang tidak memiliki ventilasi udara dan protokol kesehatan yang baik. Protokol kesehatan secara ketat seperti pengecekan suhu terhadap semua tamu, pembatasan jumlah orang pada suatu tempat, penyedia hand sanitizer di titik yang ramai merupakan cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman saat berada di ruang sosial Selain itu, letak lokasi dari ruang sosial juga akan berpengaruh terhadap intensitas penghuni yang beraktifitas disana. Hal ini terjadi karena masyarakat apartemen cenderung untuk lebih mengurangi waktu mereka saat berada diluar unit mereka dan mengurangi untuk mengunjungi ruang sosial yang memiliki aksesbilitas yang jauh dan letaknya kurang strategi. Ruang sosial di apartemen yang bersifat statis merupakan ruang sosial yang lebih sering dikunjungi disaat new normal dibandingkan ruang sosial yang bersifat dinamis. Daftar Pustaka