346 Jurnal Info Kesehatan Vol 15. No. Desember 2017, pp. P-ISSN 0216-504X. E-ISSN 2620-536X Journal homepage: http://jurnal. id/index. php/infokes Study of Self-medication Behavior Using Body Fat Medicines by Patient Pharmacy Visitors in Kota Kupang in 2016 Kajian Perilaku Swamedikasi Menggunakan Obat Penggemuk Badan Oleh Pasien Pengunjung Apotek Di Kota Kupang Tahun 2016 Maria Yangsye Lenggu Farmasi. Poltekkes Kemenkes Kupang Email: marialenggu@poltekkeskupang. ARTICLE INFO: Keywords: Self-medication behavior Body fat drug Pharmacy visitor patient ABSTARCT/ABSTRAK Community efforts to treat themselves are known as selfmedication. Self-medication is usually done to treat complaints and minor ailments. The Sudan Journal of Rational Use of Medicine . found 7 categories of drugs most widely used in self-medication, one of which is a body fat drug. Self-medication acts tend to increase. Like whether self-medication behavior uses body fat drug performed by pharmacy visitors in Kupang city? The purpose of this research is to determine the prevalence, behavior and perception of self-medication patients using body fat drug. This research is a descriptive observational study with subject inclusion criteria. Pharmacy visitor patients who buy body fat medicine for self-medication. The study was conducted in August - October 2016. Data collection tools were questionnaires with 60 questions covering 37 Likert scale questions distributed in 10 pharmacies. The questionnaire returned was 108. The study of self-medication behavior with prevalence indicators was 48. 15% had purchased / used the drug in the past 1 month, 32. 41% self-medication for myself, 30% 2 times/ treatment period, 35. 19% used dexametason drugs, livron B plex and pronicy. Study with behavioral indicators, as much as 62. 04% of respondents knew the body fat drug, 37. 96% of respondents got drug information from friends, 45. 37% bought at the pharmacy, complaints that were treated were not ideal body weight . hin / bb dow. and no appetite, experienced complaints for 1 week -> 20 years, 5. 56% do self-medication for reasons that are cost-effective, many friends use and prove and 4. faster to obtain at low cost. A study with perception indicators, 75% said it was important to consider the recommendation of the pharmacist, 92. 59% of patients wanted the drug to be used safely, 68. 52% of respondents did self-medication because they had increased appetite and the body became fat to take the drug. as many as 81. 48% of respondents said that the body's fattening drugs can increase appetite. Kata Kunci: Perilaku swamedikasi Obat penggemuk badan Pasien pengunjung apotek Upaya masyarakat untuk mengobati dirinya sendiri dikenal dengan istilah swamedikasi. Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit Sudan Journal of Rational Use of Medicine . menemukan 7 kategori obat paling banyak digunakan dalam pengobatan sendiri salah satunya adalah Obat penggemuk Tindakan swamedikasi cenderung meningkat. Seperti apakah perilaku swamedikasi menggunakan obat penggemuk badan yang dilakukan oleh pasien pengunjung apotek di kota Kupang?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi, perilaku, dan persepsi pasien Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan kriteria inklusi subjek adalah pasien pengunjung apotek yang membeli obat penggemuk badan untuk swamedikasi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2016. Alat pengambil data berupa kuisioner dengan 60 pertanyaan meliputi 37 pertanyaan skala Likert yang disebarkan di 10 apotek. Kuesioner yang kembali sebanyak 108. Kajian perilaku swamedikasi dengan indicator prevalensi adalah 48. 15% pernah membeli/ menggunakan obat dalam 1 bulan terakhir, 32. swamedikasi untuk diri sendiri, 21. 30% 2 kali/periode pengobatan, 35. 19% menggunakan obat dexametason, livron B plex dan pronicy. Kajian dengan indikator perilaku, 04% responden mengenal obat penggemuk badan, 37. 96% responden mendapatkan informasi obat dari teman, 45. 37% membeli di apotek, keluhan yang diobati adalah berat badan tidak ideal . urus/bb turu. dan tidak nafsu makan, keluhan dialami selama 1 minggu ->20 tahun, 56% melakukan swamedikasi dengan alasan hemat biaya, banyak teman menggunakan dan terbukti dan 4. 63% lebih cepat diperoleh dengan biaya murah. Kajian dengan indikator persepsi, sebanyak 75% menyatakan penting untuk mempertimbangkan anjuran dari apoteker, 92. 59% pasien ingin obat yang digunakan aman, 68. 52% responden melakukan swamedikasi karena punya pengalaman nafsu makan meningkat dan badan menjadi gemuk minum obat 48% responden menyatakan obat penggemuk badan tersebut dapat meningkatkan nafsu CopyrightA2017 Jurnal Info Kesehatan All rights reserved Corresponding Author: Maria Yangsye Lenggu. Farmasi - Poltekkes Kemenkes Kupang - 85111 Email: marialenggu@poltekkeskupang. PENDAHULUAN Kesehatan adalah keadaan sehat. Sesuai Visi Kementerian Kesehatan yaitu Masyarakat Sehat Yang baik secara fisik, mental, spritual maupun Mandiri dan Berkeadilan, dengan sosial yang memungkinkan setiap orang Meningkatkan untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang-Undang No. 36 tahun Misi masyarakat madani. Melindungi kesehatan Rational masyarakat dengan menjamin tersedianya menemukan 7 kategori obat paling banyak upaya kesehatan yang paripurna, merata, digunakan dalam pengobatan sendiri yaitu Antibiotik. Menjamin Use Anti Medicine Anti ketersediaan dan pemerataan sumber daya Analgesik. Obat penggemuk badan dan kesehatan dan Menciptakan tata kelola menurunkan berat badan. Multivitamin dan kepemerintahan yang baik (Kepmenkes RI No. HK. 02/Menkes/52/2. maka masyarakat akan obat dan penggunaannya. diselenggarakan upaya kesehatan dengan Dalam hal ini Apoteker dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada . , pencegahan penyakit . , masyarakat sehingga masyarakat terhindar . Masyarakat pemulihan kesehatan . , yang cenderung hanya tahu merk dagang obat dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu tanpa tahu zat berkhasiatnya (Anonim. Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya kesehatan harus dilakukan secara integral oleh seluruh Oleh karena itu masyarakat harus berperan aktif dalam mengupayakan kesehatannya sendiri (Anonim, 2. swamedikasi bila tidak dilakukan secara benar justru menimbulkan masalah baru yaitu tidak sembuhnya penyakit karena munculnya penyakit baru karena efek samping obat antara lain seperti hipersensitif, serta meningkatnya kejadian Upaya masyarakat untuk mengobati Galato, et al. , . menemukan Swamedikasi Data menunjukkan bahwa 66% Indonesia swamedikasi sebagai usaha pertama dalam pengobatan sendiri merupakan kegiatan pemilihan dan penggunaan obat baik itu obat tersebut cenderung lebih tinggi dibandingkan modern, herbal, maupun obat tradisional 44% penduduk yang langsung berobat jalan oleh seorang individu untuk mengatasi penyakit atau gejala penyakit (WHO, 1. pelaksanaan swamedikasi, diprediksi akan Swamedikasi biasanya banyak terjadi kesalahan penggunaan obat mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit . edication erro. yang disebabkan karena ringan yang banyak dialami masyarakat, keterbatasanpengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya (Depkes, 2. (BPS, influenza, sakit maag, kecacingan, diare. Sesuai dengan penyakit kulit dan lain-lain. Sudan Journal of Kesehatan Nasional Persentase Riset Dasar Tahun II. METODE PENELITIAN swamedikasi di Indonesia masih berjalan tidak rasional (Riskesdas, 2. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Alat pengambil data Sebuah Case Report dari National berupa kuisioner dengan skala Likert yang Journal of Medical Research . yaitu disebarkan selama 1 bulan di 73 Apotek kota Kupang. Populasi penelitian meliputi semua Dexamethasone. pasien pengunjung apotek di kota Kupang. kenyataannya adalah obatanti inflammatory Subjek Penelitian yang digunakan adalah Pasien . rug Cyproheptadines. Penggunaan bebas dan obat . penggunaan obat secara umum, yaitu Apotek swamedikasi obat penggemuk badan. Teknik pengumpulan data Persiapan penggunaan obat secara aman dan rasional. Dilakukan Swamedikasi menggunakan kuesioner dari penelitian membutuhkan produk obat yang sudah terbukti keamanan, khasiat dan kualitasnya. Widayati . Penentuan responden serta membutuhkan pemilihan obat yang Responden tepat sesuai dengan indikasi penyakit dan mengunjungi apotek di Kota kupang selama 3 bulan yaitu Bulan Agustus- meningkatnya kecerdasan masyarakat ini Oktober 2016, yang membeli obat penggemuk badan untuk swamedikasi pengobatan sendiri penyakit yang ringan baik obat modern atau obat tradisional tertentu semakin meningkat. Di Indonesia . riteria maupun di luar negeri penelitian mengenai pengambilan sampel responden secara (Widayati. Dengan Metode sampling Maheswari, 2012. Lamikanra dan Osemene. Jumlah seluruh Apotek di Kota Kupang Jianxian et al. , 2014. Pratiwi dkk. berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Namun belum banyak penelitian yang Kota sehingga responden penelitian akan diambil dari beberapa apotek yang penggemuk badan. Dengan ini diharap disampling secara acak dari 73 apotek. Teknik pengambilan sampel responden penggemuk badan oleh pasien pengunjung Kupang apotek di kota Kupang. Penentuan (Lwanga dan Lemeshow, 1. Oey. OeycE) satu variabel dengan 3 indikator variabel, untuk itu penelitian ini Penelitian ini hanya menggunakan dengan menggunakan teknik analisa ycc2 presentase data rekapitulasi, yakni Keterangan: n: jumlah sampel P: perkiraan proporsi di populasi, bila tidak diketahui proporsinya, ditetapkan 50% . persentase menurut item kuesioner. Adapun rumus persentase adalah d: derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan: 10% . , 5% . atau 1% . sebagai berikut: Z1-/2: nilai Z pada derajat kepercayaan tertentu biasanya 95% =1,. Ket: P = Persentase yce ycu P = ycu 100 % f = frekuensi n = nilai . Jadi, perkiraan sampel bila tidak derajat penyimpangannya 1% adalah 96 responden. 100% = Bilangan pengali (Sibagariang, 2. Definisi operasional variabel penelitian Penyebaran kuisioner Swamedikasi Dilakukan oleh petugas apotek yang sendiri yang dilakukan oleh pasien Pengelola Apotek telah menyatakan bersedia dan telah diberi penjelasan badan, dikaji dengan pertanyaan- perihal kriteria inklusi responden. pertanyaan dalam kuesioner. Apoteker Masing Ae masing apotek menerima Obat penggemuk badan adalah obat Kuisioner bebas, obat bebas terbatas. Obat dikembalikan oleh responden pada Wajib Apotek atau Obat keras dan saat itu juga agar tidak ada masalah obat tradisionalyang dipilih pasien pengunjung apotek sebagai obat responden semuanya kembali. Rekapitulasi, penggemuk badan. Pasien pengunjung apotek adalah pasien dewasa yang datang ke analisis data Apotek sampel pada kurun waktu Rekapitulasi data dilakukan setelah pelaksanaan penelitian yaitu bulan Agustus 2016. Kuesioner adalah alat penelitian diukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam menentukan analisis data dan langkah Prevalensi Prinsip pokok skala likert adalah menentukan lokasi kedudukan seseorang informasi siapa yang menggunakan dalam suatu kontinum sikap terhadap objek obat penggemuk badan, gejala yang sikap, mulai dari sangat negatif sampai sangat positif. Pembuatan alat ukur ini menggunakan skala yakni skala likert yang penggemuk badan yang digunakan, dimodifikasikan menjadi lima . alternatif dosis dan lama penggunaan, alasan jawaban yaitu Sangat Setuju (SS). Setuju menggunakan, sumber obat, dan (S). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak sumber informasi obat. tidak setuju (STS) dan R (Ragu-Rag. Perilaku pengunjung apotek di kota kupang kesehatan menggunakan jenis atau golongan obat tertentu sebagai obat penggemuk badan. Persepsi mengambil data, tidak dilakukan ujicoba/ tryout instrumen, untuk mengetahui tingkat . Hal ini merupakan kelemahan dalam penelitian ini. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mendiskripsikan dan memaknai data dari masing-masing komponen yang dievaluasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik deskriptif yaitu dengan menyajikan hasil perhitungan statistik deskriptif berupa i. HASIL DAN PEMBAHASAN tabel dan persentase yang didapat dari hasil Data penelitian yang dikumpulkan berupa kuesioner dengan butir pertanyaan berjumlah 60 butir meliputi pertanyaanpertanyaan mewakili variabel demografi dan sosial ekonomi, prevalensi swamedikasi, perilaku swamedikasi dan persepsi pasien. Pengumpulan data dilakukan pada sumber data yaitu pasien yang berkunjung ke apotek dan melakukan swamedikasi menggunakan obat penggemuk badan. Sebagian kuesioner Instrumen yang digunakan untuk Skala Dari 73 Apotek di kota Kupang, dilakukan sampling secara acak sehingga setiap apotek mempunyai kesempatan yang sama menjadi apotek tempat responden. Sepuluh . apotek bersedia menjadi tempat pengambilan data responden, setiap apotek dititipkan 10-20 bundel kuesioner sehingga total kuesioner yang dititipkan adalah 120 bundel kuesioner sama dengan 120 responden, jumlah bundel kuesioner Demografi dan karakter sosial ekonomi yang dikumpulkan oleh 10 apotek berjumlah 108 responden sedangkan 12 responden tidak bersedia mengisi kuesioner dengan alasan sibuk sehingga tidak mempunyai waktu mengisi kuesioner. Dengan demikian jumlah sampel 108 responden melebihi perkiraan jumlah sampel sebelumnya 96 Distribusi responden berdasarkan demografi umum meliputi umur, jenis kelamin, status, peran dalam keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan terakhir, pendidikan di bidang bulan yang diteliti dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Distribusi responden swamedikasi menggunakan obat penggemuk badan berdasarkan demografi umum dan sosial ekonomi No. Karakteristik Umur . >54 Jenis Kelamin : Laki-Laki Perempuan Status : Belum menikah Menikah Janda Duda Peran dalam keluarga : Ayah Ibu Anak Family Jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah . alam 1 bulan terakhi. 1 orang 2 orang 3 orang 4 orang 5 orang 6 orang 7 orang 8 orang 9 orang 10 orang 11 orang 12 orang Pendidikan terakhir : SMP Jumlah responden n=108 Persentase (%) SMA Diploma Sarjana Pendidikan di bidang kesehatan : Tidak Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Petani Wiraswata Pegawai Swasta Pegawai Negeri Bekerja di bidang kesehatan : Tidak Penghasilan : < 1. 5 juta 5 juta Ae 3 juta 3 juta Ae 8 juta > 8 juta Asuransi kesehatan: Tidak (Sumber: Data primer penelitian, 2. Berdasarkan data profil demografi umum berhubungan dengan perilaku pengobatan pada gambar 1 diketahui responden adalah Tse, dkk . dalam Syeima pasien yang berkunjung ke apotek selama 3 . , dalam penelitiannya menemukan bulan dengan rentang usia 15-50 tahun, bahwa responden perempuan lebih banyak didominasi usia 25-50 tahun sebesar 45. Menurut Soetjiningsih . di dalam Widayati . Prameshwari . semakin bertambahnya umur seseorang semakin memahami dirinya dan dapat menerima informasi mengenai dengan modalitas lebih tinggi dibandingkan berbagai hal dari berbagai sumber. Syeima pria baik untuk dirinya sendiri maupun untuk . , responden yang berusia di atas atau Peran dalam keluarga Ayah 30 tahun lebih peduli terhadap kesehatan 33 %. Ibu 12. 04 %. Anak 65. 74 %. Family tiap anggota keluarga dan lebih banyaknya Tindakan Pendidikan terakhir responden yaitu Responden didominasi oleh Jenis SD 4. 63 %. SMP 6. 48 %. SMA 48. 15% dan kelamin Perempuan sebanyak 67 responden Sarjana 22. 22 %. Sebanyak 87 % responden . 04 %) dengan status Belum menikah tidak pernah menempuh pendidikan di sebanyak 79 responden . 15 %). Hebeeb bidang kesehatan. Pekerjaan responden dan Gearhart . di dalam Hermawati menunjukan Pegawai Swasta 34. 26 %. Ibu . yang menyatakan jenis kelamin Rumah Tangga 11. 11 %. Wiraswata 1. 85 %, Petani 0. 93 %, dan Pegawai Negeri 0. 93 %, bermakna dengan tindakan swamedikasi pernah bekerja di bidang kesehatan 6. yang sesuai dengan aturan. dan sebanyak 30 % responden mempunyai asuransi kesehatan. Pada penelitian Kristina, dkk 2008 di dalam Prameshwari . lainnya juga diperoleh Penelitian Supardi & Raharni, di hasil bahwa pendidikan, jenis kelamin dan dalam Prameshwari . memperlihatkan Pekerjan berpengaruh terhadap perilaku penggunaan obat yang rasional pada swamedikasi. Akan swamedikasi seseorang. Salah satunya tetapi, faktor pendidikan merupakan faktor hubungan faktor sosiodemografi dengan yang paling besar pengaruhnya karena orang-orang faktor-faktor bersama-sama Indonesia tentang penggunaan obat secara umumnya tidak mudah terpengaruh oleh Faktor iklan dan lebih banyak membaca label pada kemasan obat sebelum mengkonsumsinya. Prevalensi swamedikasi dengan obat penggemuk badan Data prevalensi swamedikasi yang diperoleh dari kuesioner dirangkum pada tabel 2, sebagai Tabel 2. Data Prevalensi Swamedikasi Variabel Indikator Prevalensi Pernah membeli/menggunakan obat dalam 1 bulan terakhir ini: Tidak Siapa yang menggunakan/diobati dengan obat penggemuk badan: Diri sendiri Suami/istri Anak Anggota keluarga lain Teman Lainnya Berapa kali/periode pengobatan . bulan terakhi. 1 kali/periode 2 kali/periode 3 kali/periode 4 kali/periode 10 kali/periode Nama obat Jumlah Persenta si (%) Dexametason Pernah menggunakan sebelumnya Aturan pakai Lama Penggunaan 1 . 3 dd 1 4 hari Harga obat (R. Dexametason. Bodrex. Pronicy Pernah menggunakan sebelumnya Aturan pakai Lama Penggunaan Harga obat Dexametason, livron B plex. Pronicy Pernah menggunakan sebelumnya: Tidak Aturan pakai: 3 dd 1 2 dd 1 1 dd 1 Lama Penggunaan: 3 hari 4 hari 5 hari 1 minggu 8 hari 10 hari 2 minggu 1 bulan 2 bulan 3 bulan 6 bulan Harga obat (R. Kianpi Pernah menggunakan sebelumnya: Tidak Aturan pakai Lama Penggunaan: 5 hari 2 minggu Prn Harga obat (R. Pil gemuk sehat Pernah menggunakan sebelumnya Aturan pakai Lama Penggunaan Harga obat (R. Susu Appeton weight gain Pernah menggunakan sebelumnya Aturan pakai Lama Penggunaan Harga obat (R. Curcuma Pernah menggunakan sebelumnya: Tidak Aturan pakai: 3 dd 1 1 dd 1 1 . Belum 3 dd 1 1 bulan Rp. 000 s/d 3 . 2 dd 1 000 s/d 1 . Tidak 3 dd 1 2 minggu 1 . Tidak 3 dd 1 1 bulan 4 . Lama Penggunaan: 10 hari 3 bulan Harga obat (R. Curcuma, dexametason. Livron B Plex. Pronicy Pernah menggunakan sebelumnya: Aturan pakai Lama Penggunaan Harga obat (R. Livron B plex Pernah menggunakan sebelumnya: Tidak Aturan pakai Lama Penggunaan: 1 bulan 10 hari Harga obat (R. Kapsuma Pernah menggunakan sebelumnya Aturan pakai Lama Penggunaan Harga obat (R. 000 s/d 1 . 1 dd 1 10 hari 3 . 1 dd 1 1 bulan 000 s/d 1 . Tidak 1 dd 1 1 bulan Dari tabel 3 dapat diketahui prevalensi swamedikasi yakni sebanyak 48. 15 % responden pernah membeli/menggunakan obat penggemuk badan dalam 1 bulan terakhir, obat penggemuk badan dibeli untuk digunakan sendiri sebanyak 32. 41 %, oleh anak 0. 93 %, oleh anggota keluarga lain 48%, dan teman 11. 11 %. Obat dibeli atau digunakan dalam 1 bulan terakhir sebanyak 1 kali 96 %, 2 kali 21. 30 %, 3 kali 8. 33 %, 4 kali dan 10 kali 0. 93 %. Jenis obat yang digunakan terdiri dari 9 jenis obat didominasi jenis obat dexametason, livron B plex, dan pronicy yang digunakan oleh 38 responde (Gambar . , meliputi 24 responden yang sebelumnya pernah menggunakan obat tersebut, obat digunakan dengan aturan pakai 3x sehari 1 tablet oleh sebanyak 21 responden, durasi penggunaan obat antara 3 hari Ae 6 bulan, terbanyak 8 responden menggunakan obat selama 10 hari dan 7 responden menggunakan obat selama 1 bulan. Penggunaan Obat Gambar 1. Diagram jenis obat penggemuk badan dalam swamedikasi Swamedikasi alergi, asma, eksim, dan juga penyakit- Lupus. Pelaksanaannya sedapat mungkin harus rheumatoid arthritis, dll, karena efeknya yang memenuhi kriteria penggunaan obat yang bisa menekan kerja sistem imun yang rasional, antara lain ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis obat, tidak adanya AukelihatanAy gemuk karena memiliki efek efek samping, tidak adanya kontraindikasi, menahan air dalam tubuh, sehingga berat tidak adanya interaksi obat, dan tidak adanya polifarmasi (Kristina, dkk 2008 di mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dalam Prameshwari, 2. dan distribusinya, sehingga menyebabkan Gambar 1 menunjukan kesalahan Obat Kemudian bagian-bagian . adi ternyata masih terjadi, terutama karena membula. , bahu, dan perut. Wajah bulat ketidaktepatan obat dan dosis obat. Apabila akibat penggunaan steroid sering disebut Aumoon faceAy. waktu yang lama, dikhawatirkan dapat Pada terus-menerus (Supardi & Notosiswoyo, 2006 di dalam tampak membulat. Orang yang ingin gemuk Prameshwari, mungkin akan merasa senang dengan efek . Tetapi gemuk yang dihasilkan bukanlah aksi farmakologi yang luas, sehingga sering gemuk yang sehat. Selain itu, masih banyak digunakan dalam berbagai penyakit atau pula efek samping yang bisa timbul dari Auobat dewaAy, obat segala penyakit. Tapi di pemakaian kortikosteroid, yaitu Penekanan sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sistem pertahanan tubuh. Meningkatkan sampingnya pun luas dan tidak kurang Obat ini tergolong sebagai obat anti radang yang poten, dan sering osteoporosis/keropos digunakan untuk gangguan radang seperti syndrome, yaitu efek-efek yang terjadi akibat Obat Meningkatkan Meningkatkan Cushing obat Auoff-labelAy, di mana obat digunakan dalam tubuh, dengan tanda-tanda: terjadi dengan tujuan/indikasi di luar indikasi yang garis-garis kemerahan di kulit terutama perut resmi dan disetujui oleh badan otoritas di dan paha . isebut stria. , jerawat, kumpulan bidang pengawasan obat, seperti FDA di lemak seperti punuk sapi/kerbau di bahu Amerika atau Badan POM di Indonesia. uffalo Perilaku tindakan pengobatan sendiri pada masyarakat Indonesia yang dianjurkan oleh akumulasi/penumpukan kulit/lebam, perdarahan lambung, keropos tulang, dll (Http://w. gov/ Drugs/ DrugSafety/ ketepatan golongan obat, ketepatan obat, ketepatan dosis dan lama penggunaan obat yang terbatas (Ditjen POM, 1. Namun Obat WHO sebenarnya ditujukan untuk penggunaan obat secara rasional oleh mengatasi gangguan alergi, baik alergi kulit, masyarakat didasarkan pada aspek klinik, saluran nafas, atau bagian tubuh lain. kebutuhan individu dan kecukupan period of Namun efek samping obat ini adalah time serta harga yang terjangkau. Definisi meningkatkan nafsu makan, sehingga juga tersebut fokus pada 4 aspek penting dalam pengobatan rasional yaitu ketepatan obat. AudisalahgunakanAy meningkatkan nafsu makan pada anak-anak pengobatan dan ketepatan biaya (WHO, dicampurkan pada jamu penggemuk badan. Penggunaan peningkat nafsu makan pada anak-anak dapat digolongkan sebagai penggunaan Perilaku swamedikasi menggunakan obat penggemuk badan Data perilaku swamedikasi diuraikan pada tabel 3, sebagai berikut: Tabel 3. Data Perilaku Swamedikasi Variabel Indikator Perilaku Tahu/familier/mengenal obat swamedikas penggemuk badan: Tidak Cara memperoleh obat Dari sisa obat yang disimpan Langsung membeli tanpa periksa Diberi keluarga/teman Periksa ke dokter/RS/Puskesmas Lainnya Tempat membeli obat Toko obat Apotek Jumlah Persenta si (%) Toko/warung kelontong Warung obat tradisional Lainnya Pemberi info obat penggemuk badan yang dibeli: Assisten Apt Teman Tetangga Brosur obat Keluhan yang diobati Bb tidak ideal . Bb turun, tidak nafsu makan Lama keluhan dialami: 1 minggu 3 minggu 1 bulan 2 bulan 3 bulan 5 bulan 6 bulan 7 bulan 1 tahun 5 tahun 2 tahun >10 tahun >20 tahun Lama Alasan mengobati tanpa resep/periksa dokter Ada yang beritahu . erita oran. Agar gemuk Biaya murah dan lebih cepat Cepat diperoleh Harga murah Mencoba-coba Efek didapat lebih cepat Hemat biaya BB turun dan tidak ada waktu periksa Banyak teman menggunakan obat itu dan Sudah biasa Tidak punya biaya periksa ke dokter (Sumber : Data primer penelitian, 2. Perilaku Dexametason pengunjung apotek yang diperoleh adalah responde. Dexametason. Livron B Plex, pasien yang sudah tahu/familier/mengenal Pronicy dan Obat Cina . , obat penggemuk badan sebanyak 62. 04 %, Kapsuma contoh obat penggemuk badan yang dikenal responde. Livron B Plex dan Curcuma . pasien adalah Livron B Plex . , responde. Livron B Plex dan Pronicy . Auvitamin 3 macamAy yaitu Dexametason. Responde. Caviplex dan Curcuma . Livron B Plex dan Pronicy . , responde. Curcuma. Dexametason. Livron Pil Gemuk Sehat . Curcuma Plex. Pronicy Kianpi Dexametason ideal . 44 %), bb turun dan tidak responde. Livron B Plex. Heptasan dan nafsu makan . 70 %). Keluhan tersebut Dexametason . dialami pasien antara 1 minggu hingga lama Pasien Livron Plex atau >20 tahun. langsung membeli tanpa periksa . 19 %), Persepsi swamedikasi diberi keluarga/teman . 19 %), dan dari Perilaku pengobatan sendiri oleh sisa obat yang disimpan . 78 %), alasan pasien mengobati tanpa resep bervariasi pemeliharaan kesehatan. Perilaku pemilihan yakni banyak teman menggunakan obat dan penggunaan obat yang dilakukan oleh tersebut dan telah terbukti, hemat biaya, seseorang, dapat dijelaskan bahwa faktor biaya murah dan lebih cepat berefek, cepat predisposisi . aktor yang terdapat dalam dir. diperoleh tanpa antri, ada yang beritahu, agar gemuk, efek didapat lebih cepat, sudah biasa, tidak punya biaya periksa dokter dan pengalaman, kemudian faktor pemungkin mencoba-coba. Hanya 2. 78 % diperoleh seperti adanya informasi dari media massa, dan faktor penguat seperti dukungan tenaga swamedikasi didasari oleh pemikiran bahwa ketiganya saling mempengaruhi terjadinya pengobatan sendiri cukup untuk mengobati masalah kesehatan yang dialami tanpa Persepsi swamedikasi diwakili oleh 38 butir dokter/RS/Puskesmas, karena pelaksanaan (Septyowati, (Fleckenstein, dkk 2011 didalam Hermawati. Alasan lain adalah karena semakin penggemuk badan. Hasil yang diperoleh, mahalnya biaya pengobatan ke dokter, tidak sebagai berikut : cukupnya waktu yang dimiliki untuk berobat Terkait dengan penggunaan obat dan kurangnya akses ke fasilitas-fasilitas penggemuk badan, penting bagi pasien kesehatan (Atmoko & Kurniawati, 2009 di dalam Hermawati, 2. apoteker/assisten apoteker/petugas apotek Pasien membeli obat tersebut di . %), dokter . 15%), paramedis . idan, apotek . 96 %), di toko/warung kelontong . 78 %), dan warung obat tradisional . 04%) dan penjual obat . elain %). Dalam . 67%), 81%). 96%), Pelaksanaan mendapatkan info obat swamedikasi dari swamedikasi didasari oleh pemikiran bahwa teman . 96 %), keluarga . 56 %), dari pengobatan sendiri cukup untuk mengobati assisten apoteker,brosur obat dan tetangga masalah kesehatan yang dialami tanpa . 93 %). Keluhan yang diobati dengan obat tersebut adalah berat badan . yang tidak (Fleckenstein,dkk 2011 didalam Hermawati, tanpa periksa . 11%). Penjual obat . elain di apote. menganjurkan langsung membeli Ketika tanpa periksa . 63%), dan Paramedis penggemuk badan maka pasien ingin obat . idan,perawa. penggemuk badan yang digunakan pasien tanpa resep . 78%). 59 %), pasien ingin obat yang Menurut responden, menggunakan . 96%), obat penggemuk badan tanpa resep . anpa periksa dahul. Menghindari banyaknya . 96%), pasien ingin keluhannya segera jenis obat yang biasa diresepkan . 37%), menghemat waktu . 37%), lebih hemat sesuai/benar . 41%), 70%), dan pasien ingin mendapatkan obat penggemuk badan tersebut tanpa antri memilih obat penggemuk badan . 89%), 85%). Penggunaan obat tanpa resep untuk swamedikasi menuntut kepastian . 16%), memungkinkan keluhan menjadi lebih parah . 41%), dan memungkinkan berkualitas dan memberikan efikasi sesuai obat menjadi tidak efektif . 78%). yang diharapkan (Holtand Hall, 1990 di dalam Widayati, 2. 59%), Kehendak pasien untuk langsung membeli obat penggemuk badan tanpa Ketika pasien mengalami keluhan berat badan tidak ideal . dan nafsu apoteker/ass. makan berkurang dan menurut pasien butuh kehendak yang cukup kuat . 15%), ada obat penggemuk badan, maka pasien akan sedikit kehendak . 44%), punya kehendak membeli obat tanpa periksa karena punya yang sangat kuat . 59%), dan tidak punya pengalamam nafsu makan meningkat dan kehendak sama sekali . 96%). badan menjadi gemuk minum obat tersebut Obat penggemuk badan mencegah . 52%), mudah dibeli di apotek . 81%), jika diperiksa ke dokter/RS cenderung meningkat dan akan cepat gemuk . 85%), tidak menimbulkan efek samping/merugikan sama/sejenis . 26%), karena untuk orang dewasa . 63%). diperlukan setiap merasa kurang nafsu resep/tanpa . 70%), 56%), dan membeli obat tanpa periksa Terkait ragu-ragu makan dan bb tidak ideal . 59%), obat periksa, dokter melarang membeli obat . 48%), dapat mengalami pengeroposan penggemuk badan tanpa periksa . 56%), teman/tetangga . ragu-ragu . tanpa resep . 74%), anggota keluarga berfungsi menggemukan badan . 07%), Jika digunakan tanpa indikasi yang tepat apoteker/ass,apoteker/petugas menyebabkan ketergantungan dan berbagai apotek menganjurkan langsung membeli efek samping . 26%), ragu-ragu . 81%), 96 %). Keluhan yang diobati KESIMPULAN dengan obat tersebut adalah berat Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan badan . yang tidak ideal . maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 44 %). Keluhan tersebut dialami Prevalensi swamedikasi yakni sebanyak pasien antara 1 minggu hingga lama atau >20 tahun. membeli/menggunakan obat penggemuk Persepsi terkait dengan penggunaan badan dalam 1 bulan terakhir sebanyak obat penggemuk badan, penting bagi 2 kali, untuk digunakan sendiri . 41 %). Jenis obat yang digunakan terdiri dari 9 apoteker/assisten apoteker/petugas apotek . %). Ketika dexametason, livron B plex, dan pronicy menggunakan obat penggemuk badan yang digunakan oleh 38 responden obat maka pasien ingin obat penggemuk digunakan dengan aturan pakai 3x sehari badan yang digunakan pasien aman 1, durasi penggunaan obat terbanyak . 59 %). Ketika pasien mengalami menggunakan obat selama 10 hari. keluhan berat badan tidak ideal . Perilaku dan nafsu makan berkurang dan menurut pasien butuh obat penggemuk badan, tahu/familier/mengenal obat penggemuk swamedikasi karena punya pengalaman badan sebanyak 62. 04 %, contoh obat nafsu makan meningkat dan badan penggemuk badan yang banyak dikenal menjadi gemuk minum obat tersebut pasien adalah Auvitamin 3 macamAy yaitu . 52%) dan mudah dibeli di apotek Dexametason. Livron B Plex dan Pronicy . 81%). Pasien memperoleh melarang membeli obat penggemuk obat penggemuk badan tersebut dengan langsung membeli tanpa periksa . swamedikasi dilakukan degan tujuan %), menghindari banyaknya jenis obat yang Menurut . 56%), swamedikasi bervariasi yakni banyak teman menggunakan obat tersebut dan menghemat waktu . 37%). Kehendak pasien untuk melakukan swamedikasi diperoleh tanpa antri, ada yang beritahu, adalah punya kehendak yang cukup kuat agar gemuk, efek didapat lebih cepat, . 15%). Obat penggemuk badan akan sudah biasa, tidak punya biaya periksa meningkatkan nafsu makan dan akan Pasien cepat gemuk . 85%), jika digunakan membeli obat tersebut di apotek . tanpa indikasi yang tepat menyebabkan %), mencoba-coba. mendapatkan info obat swamedikasi dari samping . 26%). Saran Bagi Dinas Kesehatan Provinsi NTT, hasil penelitian ini dapat digunakan penyusunan program promosi kesehatan yang berkaitan dengan penggunaan obat untuk swamedikasi bagi masyarakat Bagi profesi apoteker, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pelecut semangat dalam meningkatkan peran dalam hal pemberian informasi dan sendiri yang rasional. Bagi masyarakat luas agar semakin melek pengobatan sendiri yang rasional di masyarakat. Bagi peneliti lain dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk melanjutkan penelitian dengan tema pengobatan sendiri. REFERENCES