Pembelajaran dengan Layanan Bimbingan Klasikal Teknik Case Method dalam Upaya Meningkatkan Tanggung Jawab Akademik Siswa Intan Arini1*. Sigit Hariyadi1 Program Studi Bimbingan dan Konseling. Universitas Negeri Semarang. Semarang. Indonesia * Korespondensi: intanarini2161@students. ABSTRACT Received: 23 October 2024 Revised: 1 December 2024 Accepted: 20 December 2024 Citation: Arini. , & Hariyadi. Pembelajaran dengan layanan bimbingan klasikal teknik case method dalam upaya meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies, 2. , 116Ae This study is motivated by the low levels of academic responsibility among students, which remains challenging in the educational environment. The study aims to evaluate the effectiveness of classical guidance services using the case method technique to improve students' academic responsibility. The research employed a quantitative approach with a pre-experimental design, specifically a one-group pretest-posttest design. The intervention was conducted in seven sessions over one month, involving 32 eleventh-grade students selected through purposive sampling. Data were collected using an academic responsibility scale developed based on Mergler's . theory, with instrument validity ranging from 323 to 0. 503 and reliability of 0. The analysis results using a t-test showed a t-value 673 with a p-value <0. 001, indicating that classical guidance services using the case method technique effectively enhanced students' academic responsibility. These findings can serve as a reference for developing strategies to improve students' academic responsibility and support teaching and learning activities in schools. Future research will explore different variables, interventions, and methods to broaden insights and compare findings. Keywords: classical guidance, case method, academic responsibility. ABSTRAK Copyright: A 2024 by the authors. Submitted for possible open-access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by-nc-sa/4. 0/). Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat tanggung jawab akademik siswa yang masih menjadi tantangan dalam lingkungan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keefektifan layanan bimbingan klasikal menggunakan teknik case method dalam meningkatkan tanggung jawab akademik Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain preexperimental tipe one group pretest-posttest design. Intervensi dilakukan sebanyak 7 sesi selama satu bulan pada 32 siswa kelas XI yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala tanggung jawab akademik yang dikembangkan berdasarkan teori Mergler . , dengan validitas instrumen pada rentang 0,323Ae0,503 dan reliabilitas 0,778. Hasil analisis menggunakan uji t mendapatkan nilai t sebesar 12,673 dengan p-value <0. 001, yang mengindikasikan bahwa layanan bimbingan klasikal teknik case method efektif meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi untuk mengembangkan strategi peningkatan tanggung jawab akademik siswa serta mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengeksplorasi variabel, intervensi, dan metode yang berbeda untuk memperluas wawasan dan memperbandingkan hasil temuan. Kata kunci: bimbingan klasikal, metode kasus, tanggung jawab akademik. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Pendahuluan Masa remaja adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa, ditandai oleh perkembangan fisik dan mental yang pesat (Diananda, 2. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), rentang usia remaja adalah 10Ae24 tahun bagi individu yang belum menikah. Dengan demikian, siswa sekolah menengah atas (SMA) termasuk dalam kategori usia Pada masa ini, kontrol diri menjadi penting, termasuk dalam pengembangan karakter. Nilai-nilai karakter berperan dalam membentuk cara seseorang berpikir dan berperilaku, yang pada gilirannya menentukan apakah perilaku tersebut positif atau negatif (Fatimah & Nuraninda, 2. Karakter yang dimiliki individu memengaruhi bagaimana ia bersikap terhadap dirinya sendiri maupun Pendidikan menjadi salah satu wadah utama untuk mengembangkan karakter siswa. Oleh karena itu, setiap sekolah umumnya menetapkan aturan atau tata tertib yang mengatur berbagai aspek, seperti kehadiran, penggunaan seragam, perilaku yang diharapkan, serta sanksi atas pelanggaran (Aslamiyah, 2. Tata tertib ini bertujuan membentuk karakter positif pada siswa. Namun, dalam praktiknya, masih banyak siswa yang melanggar aturan sekolah dengan berbagai alasan. Bahkan, beberapa sekolah terpaksa mengambil tindakan tegas, seperti mengeluarkan siswa, akibat pelanggaran tata tertib. Terdapat banyak karakter yang dikembangkan di sekolah, disesuaikan dengan visi dan misi serta pencapaian yang harus dicapai oleh sekolah tersebut menurut peraturan pemerintah. Salah satu karakter penting yang perlu dikembangkan adalah tanggung jawab, yang berkaitan erat dengan kewajiban seseorang untuk melaksanakan tugasnya (Juita et al. , 2. Dengan adanya tanggung jawab dalam diri siswa, mereka akan memiliki kesadaran untuk menerapkan dan melaksanakan tata tertib di sekolah karena mereka merupakan bagian dari warga sekolah. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh dari observasi dan hasil wawancara dengan guru BK di SMKN 4. Semarang, peneliti menemukan bahwa karakter tanggung jawab dalam diri siswa belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga menimbulkan fenomena yang kurang ideal di lingkungan sekolah. Dalam konteks kurikulum merdeka belajar saat ini, pengembangan karakter siswa diarahkan pada profil pelajar Pancasila. Profil ini merepresentasikan pelajar sepanjang hayat yang berperilaku berdasarkan nilai-nilai Pancasila (Sukriyatun, 2. Terdapat enam karakter penting dalam profil pelajar Pancasila menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Karakter tanggung jawab juga tercermin dalam poin mandiri, yang mengharuskan pelajar bertanggung jawab atas proses belajar mereka. Dengan demikian, kesadaran akan tanggung jawab mendukung tidak hanya kepatuhan terhadap tata tertib, tetapi juga proses belajar secara Selain itu. Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD), yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran di kurikulum merdeka belajar, mencakup aspek kesadaran akan tanggung jawab sosial dan kematangan intelektual. Hal ini menegaskan bahwa tanggung jawab merupakan aspek penting dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Namun, mengingat cakupan tanggung jawab yang sangat luas, peneliti memfokuskan pembahasan pada tanggung jawab akademik Hasil observasi dan wawancara di SMKN 4. Semarang, menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang menyadari tata tertib sekolah. Fenomena ini terlihat dari siswa yang tidak memakai seragam dengan lengkap dan rapi, tidak memberikan surat izin ketika tidak masuk sekolah, atau tidak menyelesaikan tugas sesuai batas waktu yang ditentukan. Berdasarkan temuan ini, peneliti menyimpulkan bahwa penanaman karakter tanggung jawab dalam diri siswa belum maksimal, sehingga perlu adanya upaya yang lebih terarah untuk meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya tanggung jawab, khususnya dalam aspek akademik QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Menurut Wiantisa . , tanggung jawab akademik didefinisikan sebagai kesadaran siswa terhadap berbagai peristiwa dalam lingkungan akademiknya. Penurunan karakter tanggung jawab akademik siswa dapat disebabkan oleh pola pikir dan kurangnya kesadaran diri (Kusumadewi et al. Pola pikir yang tidak menganggap tata tertib sekolah sebagai sesuatu yang penting, serta rendahnya kesadaran siswa sebagai bagian dari komunitas sekolah, menjadi faktor utama yang menyebabkan menurunnya tanggung jawab akademik. Sebaliknya, ketika tanggung jawab akademik siswa meningkat, mereka lebih mampu mengenali dan melaksanakan kegiatan yang mendukung proses belajar mereka. Bimbingan dan konseling memiliki peran penting dalam mendukung penguatan karakter siswa, khususnya dalam konteks penguatan profil Pelajar Pancasila. Hal ini sejalan dengan fungsi bimbingan konseling sebagai layanan yang dirancang untuk memahami karakter dan potensi peserta didik (Cahyono, 2. Layanan bimbingan ini tidak hanya membantu pencapaian perkembangan siswa sesuai dengan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD), tetapi juga menyediakan media dan program untuk mendukung perkembangan tersebut (Fajar et al. , 2. Dalam perspektif bimbingan dan konseling, penanaman karakter merupakan elemen integral dalam pendidikan. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling menyatakan bahwa konselor atau guru BK memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan nilai-nilai karakter siswa agar tercapai tujuan pendidikan yang baik dan benar (Rosada et al. , 2. Guru BK sebagai profesional yang kompeten dapat memanfaatkan berbagai layanan, termasuk layanan bimbingan klasikal, untuk membantu siswa mengatasi permasalahan yang Bimbingan klasikal dinilai sebagai pendekatan strategis untuk mendekatkan guru BK dengan siswa secara kelompok, mengidentifikasi karakter unik mereka, dan mengembangkan potensi siswa melalui pencegahan, perbaikan, penyembuhan, pemeliharaan, serta pengembangan (Setyawan, 2. Karena pelaksanaannya dilakukan di kelas, bimbingan ini memungkinkan guru BK untuk lebih mudah memahami masalah siswa dan memberikan solusi yang tepat. Menurut Budiarti & Raifa . , manfaat bimbingan klasikal meliputi perencanaan penyelesaian studi, bimbingan pengembangan karier, pengembangan potensi siswa secara optimal, serta membantu siswa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah dan masyarakat. Pengembangan keilmuan bimbingan konseling juga menghasilkan berbagai teknik, salah satunya adalah case method, yang membantu siswa menemukan solusi efektif untuk masalah kehidupan nyata (Probowati et al. , 2. Teknik ini memastikan bahwa masalah yang dihadapi dapat diselesaikan secara realistis dan diterapkan dalam pembelajaran di kelas . Nakmak & Akgyn dalam Probowati et al. Selain itu, case method juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas siswa (Fauzi et al. , 2. Dengan kemampuan ini, siswa dapat lebih mudah menyelesaikan masalah serta memahami konsekuensi dan tanggung jawabnya dalam lingkungan Sari dan Fauzi . menambahkan bahwa penerapan model case method memungkinkan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, berani mengemukakan pendapat, dan melakukan tanya jawab dengan baik. Teknik ini sangat relevan untuk diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mengingat karakteristik siswa yang sering berhadapan dengan masalah-masalah riil di lingkungan Berdasarkan beberapa kajian, observasi, serta wawancara yang telah dilakukan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan tujuan meningkatkan tanggung jawab akademik siswa dengan layanan bimbingan klasikal teknik case method di SMKN 4 Semarang. Tinjauan Pustaka Tanggung Jawab Akademik Penelitian tentang tanggung jawab akademik telah banyak dilakukan dengan pendekatan dan teknik yang beragam. Salah satunya adalah penelitian oleh Wiantisa et al. , yang menggunakan media website untuk meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Penelitian ini memanfaatkan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. layanan bimbingan klasikal, yang dinyatakan efektif dalam meminimalkan perilaku negatif akibat rendahnya tanggung jawab akademik. Dengan pendekatan research and development, penelitian ini menghasilkan produk berupa website yang berfungsi untuk mengedukasi siswa mengenai tanggung jawab akademik, memberikan akses pada peraturan dan informasi sekolah, serta fitur lainnya. Penelitian ini menjadi referensi penting karena variabel yang diteliti sama, yaitu tanggung jawab akademik, dan layanan yang digunakan juga berupa bimbingan klasikal. Namun, dalam studi ini, peneliti bermaksud menguji efektivitas teknik yang berbeda untuk mengetahui apakah hasilnya sebanding dengan penelitian sebelumnya. Penelitian lain yang membahas tanggung jawab akademik dilakukan oleh Latifah dan Khairul . menggunakan metode quasi-experimental dengan desain pre-test dan post-test. Mereka mengaplikasikan layanan konseling kelompok dengan teknik token economy sebagai intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor tanggung jawab akademik siswa setelah menerima treatment, terutama pada siswa yang awalnya memiliki tanggung jawab akademik rendah. Studi ini relevan sebagai tinjauan pustaka karena menggunakan metode penelitian eksperimen yang sama, meskipun dengan layanan dan teknik yang berbeda. Bimbingan Klasikal Zulhaldi dan Wahidah . meneliti efektivitas layanan bimbingan klasikal dengan teknik choice theory dalam meningkatkan tanggung jawab anak di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan hasil analisis statistik menunjukkan thitung > ttabel pada tingkat signifikansi Hasil ini mengindikasikan bahwa hipotesis alternatif (H. diterima, sementara hipotesis nol (H. ditolak, yang berarti layanan bimbingan klasikal berbasis choice theory memiliki pengaruh signifikan terhadap tanggung jawab anak asuh di panti asuhan. Penelitian lain oleh Fridaram et al. mengkaji penerapan layanan bimbingan klasikal yang dikombinasikan dengan metode jigsaw untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 71% . mencapai kategori motivasi sangat tinggi, 24% . berada pada kategori tinggi, dan 1% . pada kategori sedang. Penelitian ini digunakan sebagai bahan tinjauan pustaka karena kesamaan pada layanan bimbingan klasikal, meskipun dengan variabel dan metode yang berbeda. Case Method Soehartono . menerapkan case method dalam penelitiannya untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen dengan group pre post-test design dengan hasil terjadi peningkatan hasil belajar mahasiswa setelah diberikan perlakukan berupa case method, sehingga case method berpengaruh signifikan dalam peningkatan hasil belajar Penelitian ini ditinjau dikarenakan penggunaan metode yang sama dengan layanan serta variabel yang berbeda. Beberapa penelitian diatas dijadikan sebagai acuan peneliti dalam melakukan penelitian dikarenakan topik yang diteliti sejenis. Dengan harapan teknik case method yang dipilih peneliti dapat meningkatkan tanggung jawab akademik yang dimiliki siswa. Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dengan mengumpulkan dan menganalisis data secara statistik (Sugiyono, 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen, yaitu penelitian yang memberikan perlakuan tertentu kepada subjek untuk mengamati pengaruhnya terhadap variabel yang diteliti (Jaedun, 2. Penelitian ini dirancang untuk membandingkan kondisi subjek sebelum dan setelah diberikan perlakuan, sehingga memudahkan analisis perubahan yang terjadi. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pre-experimental dengan model one group pretest-posttest design. Dalam desain ini, terdapat satu kelompok eksperimen yang diberi perlakuan berupa pembelajaran dengan teknik case method. Kelompok eksperimen tidak dipilih secara acak, melainkan berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan peneliti. Dengan adanya pre-test dan post-test, peneliti dapat mengevaluasi perubahan yang terjadi sebelum dan sesudah perlakuan Tabel 1. Desain One Group Pre-test Post-test. Kelompok Eksperimen Pre-test Treatment Post-test ycC ycC Keterangan: : perlakuan ycC : hasil pre-test kelompok ekspreimen ycC : hasil post-test kelompok eksperimen Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa di SMKN 4 Semarang. Sampel yang digunakan adalah 32 siswa kelas XI Teknik Mesin, yang dipilih secara purposif sesuai kriteria penelitian. Pengukuran Tingkat Tanggung Jawab Akademik Tingkat tanggung jawab akademik siswa SMKN 4 yang dijadikan kelompok eksperimen diukur menggunakan pre-test dan post-test. Instrumen yang digunakan adalah skala psikologis dengan 14 item yang harus diisi oleh siswa. Skala ini dirancang untuk mengukur pemahaman siswa mengenai tanggung jawab akademik. Selama pengambilan data, peneliti berperan langsung dalam membagikan soal dan lembar jawaban serta mengawasi situasi kelas. Kehadiran peneliti juga memungkinkan siswa untuk bertanya jika ada hal-hal yang tidak dipahami terkait pengisian skala. Pendekatan ini bertujuan memastikan siswa merasa nyaman dan memahami instruksi dengan baik, sehingga hasil pengukuran lebih akurat. Prosedur Penelitian Penelitian berlangsung selama satu bulan dengan tujuh kali pertemuan, di mana setiap pertemuan melibatkan intervensi berupa bimbingan klasikal dengan teknik case method. Berikut tahapan setiap pertemuan sebagaimana diringkaskan dalam Gambar 1. Gambar 1. Langkah Teknik Case Method Peneliti menjelaskan topik yang relevan dengan tujuan penelitian kepada siswa. Siswa diminta untuk menganalisis kasus yang telah disiapkan sesuai dengan topik yang QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil analisisnya di depan kelas. Siswa lain memberikan tanggapan, masukan, atau pertanyaan terkait presentasi tersebut. Setelah sesi tanya jawab, kelompok mencoba menyimpulkan hasil diskusi mereka. Peneliti atau konselor kemudian menyimpulkan pembahasan topik bersama seluruh siswa untuk memastikan pemahaman yang komprehensif. Prosedur ini dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan tanggung jawab mereka selama proses pembelajaran. Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik t-test untuk menguji efektivitas layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method dalam meningkatkan tanggung jawab akademik Sebelum dilakukan uji t-test, data diuji kenormalannya menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov untuk memastikan bahwa data memenuhi asumsi kenormalan. Tingkat signifikansi () yang digunakan adalah 0,05, dengan kriteria penolakan hipotesis nol (H. jika nilai signifikansi . -valu. kurang dari 0,05. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah: H0: Layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method tidak efektif dalam meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Ha: Layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method efektif dalam meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Hasil uji statistik akan menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan post-test, yang mengindikasikan efektivitas layanan bimbingan klasikal dengan teknik case Hasil dan Pembahasan Statistik Deskriptif Tingkat Tanggung Jawab Akademik Sebelum dan Setelah Diberikan Intervensi Berdasarkan Tabel 2, terlihat adanya peningkatan hasil post-test dibandingkan dengan pre-test. Sebelumnya, mayoritas siswa berada pada kategori tingkat tanggung jawab akademik sedang. Setelah intervensi, sebagian besar siswa berpindah ke kategori sangat tinggi. Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan berhasil meningkatkan kesadaran siswa terhadap tanggung jawab akademiknya, baik dalam aspek personal maupun sosial. Siswa menjadi lebih peduli terhadap tanggung jawab mereka sendiri dan saling mendukung untuk menciptakan suasana belajar yang Tabel 2. Frekuensi Pre dan Post Test Presentase Kriteria 85% - 100% 70% - 84% 55% - 69% 40% - 54% 25% - 39% Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Frekuensi Pre Test Post Test Untuk memahami lebih mendalam, analisis per aspek dari hasil peningkatan tanggung jawab akademik disajikan dalam deskripsi berikut. QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. Tabel 3. Sebaran Data Pre- dan Post- Test pada Aspek Tanggung Jawab Akademik Aspek Kesadaran pikiran dan perasaan terhadap tanggung jawab akademik Kesadaran atas pilihan dalam berperilaku di sekolah Kesediaan bertanggungjawab atas perilaku di sekolah Kepedulian terhadap teman/warga sekolah Rerata Pre Test 68 SD 67 SD 63 SD 61 SD 65 SD Post Test Berdasarkan data yang diperoleh dalam Tabel 3, terlihat bahwa keempat aspek tanggung jawab akademik pada pre-test masih berada dalam kategori sedang (SD), sedangkan pada post-test semua aspek naik ke kategori tinggi (T). Jika dianalisis lebih lanjut, setiap aspek tanggung jawab akademik mengalami peningkatan ratarata yang bervariasi. Aspek kesadaran pikiran dan perasaan terhadap tanggung jawab akademik menunjukkan peningkatan sebesar 12%. Peningkatan yang lebih tinggi terlihat pada aspek kesadaran atas pilihan dalam berperilaku di sekolah, yaitu sebesar 15%. Selanjutnya, aspek kesediaan bertanggung jawab atas perilaku di sekolah juga mencatat kenaikan yang signifikan, yakni sebesar 16%. Di antara semua aspek, aspek kepedulian terhadap teman atau warga sekolah mengalami peningkatan paling besar, yaitu sebesar 21%. Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan tidak hanya berhasil meningkatkan kesadaran siswa terhadap tanggung jawab individual mereka, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antar siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan yang paling signifikan pada aspek kepedulian terhadap teman atau warga sekolah, yang menjadi indikator penting dalam menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman dan harmonis. Hasil Pengujian Statistik Hasil analisis data menunjukkan bahwa uji kenormalan menggunakan Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,200, yang memenuhi kriteria . cy>0,. Dengan demikian, data dinyatakan berdistribusi normal. Uji t-test dilakukan untuk menguji perbedaan hasil pre-test dan posttest pada kelompok eksperimen. Hasil uji menunjukkan nilai yc hitung = 12,673 dengan nilai signifikansi ycy < 0,001 yang mengindikasikan penolakan hipotesis nol (HCA). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah perlakuan, yang menunjukkan bahwa layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method efektif dalam meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Pengamatan Kualitatif Selain data-data yang diperoleh dalam analisis deskriptif diatas, peneliti juga melakukan pengamatan lebih jauh selama pelaksanaan penelitian dari pertemuan pertama hingga pertemuan Proses pelaksanaan bimbingan kelas dengan teknik case method dilakukan di kelompok eksperimen, yaitu kelas XI Teknik Mesin 1. Selama pelaksanaan layanan, terlihat beberapa hal yang berbeda dari pertemuan 1 hingga 6. Beberapa perbedaan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut. Pada pertemuan pertama, siswa masih kurang aktif karena masih belum terbiasa dengan bentuk pengajaran bimbingan kelas dengan teknik case method. Beberapa siswa juga enggan masuk kedalam kelompok karena merasa tidak nyaman dengan salah satu teman di kelompok tersebut. Beberapa anak juga masih bermain handphone ketika sedang proses menganalisis di kelompoknya masing-masing. Siswa belum dapat merespon pernyataan dari peneliti dengan cepat, karena fokusnya terpecah. Karena kelas masih kurang kondusif, akibatnya waktu pelaksanaan layanan memakan waktu yang lebih lama dan tidak sesuai dengan RPL yang telah disiapkan. Pada pertemuan kedua, beberapa siswa mulai menjawab pemantik yang disampaikan peneliti. Peneliti juga melaksanakan ice breaking di tengah pelaksanaan layanan agar mengembalikan fokus Pelaksanaan ice breaking tersebut diterima dengan baik oleh siswa. Pada tahap diskusi, siswa QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. juga telah bersama-sama berkumpul dalam kelompoknya, walaupun sesekali ada beberapa anak yang masih berjalan-jalan. Pertemuan ketiga hingga ke lima kondisi kelas sudah mulai kondusif, ketika peneliti menjelaskan materi atau menyampaikan sistematika layanan, semua siswa memperhatikan. Semakin banyak siswa yang aktif dalam menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh peneliti. Peneliti juga terus menggunakan ice breaking dalam membantu siswa fokus dalam pelaksanaan layanan. Pada pertemuan keenam, suasana kelas menjadi semakin kondusif. Siswa mampu memposisikan diri dengan baik sehingga penyampaian materi dapat diterima secara lebih efektif. Siswa yang menjawab pertanyaan pemantik menunjukkan peningkatan dalam berpikir kritis. Dalam diskusi kelompok, siswa dapat menjawab pertanyaan dari teman-temannya dengan baik. Kesimpulan yang disampaikan oleh siswa pada akhir layanan juga menjadi lebih variatif, dengan banyak yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari mereka. Pembahasan Pelaksanaan bimbingan klasikal dengan teknik case method dalam penelitian ini dirancang untuk mendukung pengembangan tanggung jawab akademik siswa. Meskipun case method umumnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, desainnya dapat disesuaikan agar relevan dengan tujuan penelitian. Rowe & Perry . menjelaskan bahwa case method juga dapat membantu individu melepaskan diri dari pola pikir yang kurang tepat, sehingga penggunaannya dapat diperluas untuk mencapai tujuan pembelajaran lain, seperti penguatan tanggung jawab akademik. Dalam penelitian ini, fokus utama adalah pemilihan kasus yang relevan dengan berbagai isu tanggung jawab akademik, seperti prokrastinasi akademik, plagiarisme, kecurangan dalam lingkup akademik, dan pelanggaran tata tertib. Kasus-kasus ini dipilih untuk memancing siswa menyadari bahwa kelalaian dalam tanggung jawab akademik dapat menimbulkan konsekuensi tertentu. Selain itu, analisis kasus dirancang untuk membantu siswa memahami penyebab utama dari masalah-masalah Pendekatan ini sejalan dengan Yalyinkaya et al. , yang menyatakan bahwa case method merupakan pembelajaran berbasis kasus yang melibatkan siswa dalam diskusi ide atau gagasan berdasarkan kasus yang disajikan. Melalui proses ini, siswa tidak hanya belajar mengidentifikasi masalah tetapi juga menganalisis dan memberikan solusi yang relevan. Selain pemilihan kasus yang dirancang untuk memantik siswa meningkatkan tanggung jawab akademik. NurAoaini . menyatakan bahwa salah satu karakteristik utama dalam case method adalah menjelaskan hubungan sebab-akibat serta pengembangan kasus dalam fase desain penelitian. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menyusun model lembar kerja peserta didik (LKPD) yang dirancang khusus untuk mendukung peningkatan sikap tanggung jawab akademik. LKPD ini tidak hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang menguji pemahaman siswa tentang tanggung jawab akademik, tetapi juga dilengkapi dengan panduan analisis yang terstruktur. Panduan ini mencakup identifikasi hal-hal positif dalam kasus, hal-hal negatif, alternatif penyelesaian masalah, serta pelajaran positif yang dapat diambil dari kasus tersebut. Dengan pendekatan ini, siswa dilatih untuk memahami bahwa setiap tindakan yang mereka ambil memiliki konsekuensi yang merupakan bagian dari tanggung jawab mereka, terutama dalam konteks akademik. Desain LKPD yang demikian diharapkan dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai tanggung jawab akademik melalui proses refleksi yang mendalam, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis, menyelesaikan masalah, dan memahami implikasi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Penelitian ini tentang tanggung jawab akademik melalui intervensi bimbingan klasikal dengan teknik case method memiliki kesamaan dengan penelitian Wiantisa et al. , yang juga meneliti variabel tanggung jawab akademik siswa. Namun, terdapat perbedaan pada hasil yang diperoleh. Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi bimbingan klasikal dengan metode kasus yang dirancang mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait tanggung jawab akademiknya. Sebaliknya, penelitian Wiantisa et al. menekankan keefektifan media website sebagai alat bantu siswa dalam mengakses informasi yang relevan dengan QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. tugas mereka. Media tersebut memudahkan siswa menyelesaikan tugas, sehingga tanggung jawab akademik mereka meningkat. Penelitian Latifah dan Khairul . yang menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan teknik token economy juga menunjukkan hasil peningkatan tanggung jawab akademik. Penelitian ini relevan untuk mendukung penelitian ini, meskipun terdapat perbedaan fokus. Dalam penelitian Latifah dan Khairul . , peningkatan tanggung jawab siswa lebih terlihat pada aspek minat dan semangat siswa yang dipengaruhi oleh reward yang sesuai dengan kebutuhan populasi. Siswa menjadi lebih bersemangat menyelesaikan tugas karena adanya penghargaan tersebut. Sementara itu, dalam penelitian ini, peningkatan tanggung jawab akademik ditunjukkan melalui sikap siswa yang lebih aktif bertanya dan berpartisipasi dalam diskusi selama layanan berlangsung. Selama layanan, peneliti juga mengamati adanya peningkatan kondisi kelas yang semakin kondusif di setiap pertemuan. Siswa menunjukkan kepedulian terhadap satu sama lain, menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Hasil ini berbeda dengan penelitian Soehartono . , yang menggunakan teknik case method untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Dalam penelitian tersebut, hasil belajar meningkat karena pengaruh faktor internal dan eksternal dari populasi yang diteliti, seperti motivasi dan dukungan lingkungan belajar. Penelitian lain oleh Fridaram et al. juga mengkaji efektivitas layanan bimbingan klasikal, yang menunjukkan bahwa bimbingan klasikal efektif dalam meningkatkan konsentrasi siswa selama diskusi topik. Penelitian Zulhaldi dan Wahidah . menambahkan bahwa bimbingan klasikal mampu merangsang anak asuh menjadi lebih aktif dalam proses layanan dan mampu beradaptasi dalam kelompok. Berbeda dengan kedua penelitian tersebut, penelitian ini menemukan bahwa layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method tidak hanya meningkatkan keaktifan siswa dalam diskusi, tetapi juga memperkuat kemampuan analisis mereka. Analisis tugas yang dilakukan oleh siswa menjadi lebih kritis dan variatif, mencerminkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap tanggung jawab akademik mereka. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Salah satu keterbatasan utama adalah pendekatan penelitian yang digunakan, yaitu pendekatan kuantitatif. Meskipun pendekatan ini efektif untuk menganalisis perubahan berdasarkan data numerik, hasil yang diperoleh akan lebih kaya dan mendalam jika dikombinasikan dengan analisis kualitatif. Pendekatan kualitatif dapat menggali pandangan dan pengalaman siswa secara langsung, sehingga memberikan dimensi tambahan yang tidak hanya berbasis angka, tetapi juga memperlihatkan konteks dan makna yang lebih kompleks. Selain itu, penelitian ini dilakukan berdasarkan fenomena yang terjadi di SMKN 4 Semarang, sehingga temuan yang diperoleh bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasi untuk sekolahsekolah lain. Karakteristik siswa, budaya sekolah, serta lingkungan belajar yang berbeda di tempat lain mungkin menghasilkan hasil yang berbeda pula. Oleh karena itu, penelitian di lokasi yang lebih beragam dengan populasi yang memiliki karakteristik berbeda perlu dilakukan untuk memperkuat validitas temuan ini. Keterbatasan lain adalah penggunaan skala psikologis sebagai instrumen pengumpulan data. Meskipun skala ini dirancang untuk mengukur tanggung jawab akademik secara objektif, hasilnya dapat dipengaruhi oleh bias. Responden mungkin mengisi skala secara normatif atau dipengaruhi oleh kondisi fisik dan emosional mereka pada saat pengisian. Misalnya, jika seorang siswa berada dalam kondisi fisik atau emosional yang kurang baik, jawabannya mungkin tidak mencerminkan kondisi Hal ini dapat memengaruhi akurasi hasil penelitian. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method efektif dalam meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Hasil analisis data memperlihatkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan sikap siswa terhadap tanggung jawab QOMARUNA Journal of Multidisciplinary Studies 2024. Vol. No. 01, pp. akademik setelah menerima intervensi. Melalui layanan ini, siswa menjadi lebih memahami tindakan yang sesuai atau tidak sesuai dengan tanggung jawab akademik mereka, menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif, dan mendorong partisipasi aktif dalam diskusi serta analisis tugas. Pengamatan selama proses penelitian juga menunjukkan perkembangan positif dari waktu ke Pada awalnya, siswa cenderung kurang aktif dan fokus dalam kegiatan pembelajaran. Namun, seiring berjalannya layanan, keaktifan, kerja sama, dan kepedulian siswa terhadap lingkungan belajar mereka meningkat secara bertahap. Pada akhir layanan, siswa mampu menghasilkan kesimpulan yang lebih variatif dan relevan dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan keberhasilan, terdapat beberapa keterbatasan. Data yang diperoleh bersifat kontekstual, sehingga tidak dapat digeneralisasi untuk semua lingkungan Penggunaan skala psikologis sebagai instrumen pengumpulan data juga memiliki potensi bias, terutama jika pengisian dipengaruhi oleh kondisi fisik atau emosional siswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, yang meskipun memberikan hasil yang terukur, akan lebih komprehensif jika dikombinasikan dengan analisis kualitatif untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengembangkan layanan bimbingan klasikal dengan teknik case method sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan tanggung jawab akademik siswa. Diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan konteks yang lebih beragam untuk memperkuat temuan ini serta memberikan pemahaman yang lebih luas. Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan tidak ada potensi konflik kepentingan terkait dengan penelitian, penulisan, dan/atau publikasi dari artikel ini. Daftar Pustaka