Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index PENGARUH LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN (FPOK) IKIP MATARAM Subagio Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan IKIP MATARAM ABSTRAK Pesatnya pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan . dan kafe berskala nasional maupun internasional berbanding lurus dengan jumlah pengunjungmya. Selain karena cukup tersedianya fasilitas, gempuran iklan melalui media massa pun semakin membentuk perilaku konsumtif pada Kebutuhan akan konsumsi tidal lagi didasari oleh keperluan namun hanya atas dasar keinginan dan bahkan cenderung memasuki taraf berlebihan. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok sosial dalam masyarakat yang rentan . udah terken. pengaruh faktor lingkugan seperti: gaya hidup . ife styl. , trend, dan mode yang sedang berlaku. Bagi kebanyakan mahasiswa, mode, dan penampilan merupakan hal penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Untuk memenuhi pengaruh faktor lingkungan tersebut, berarti seseorang . akan mengorbankan sejumlah uang yang tidak akan pernah kembali. Apabila hal tersebut terus menerus dilakukan mahasiswa maka akan mengakibatkan munculnya perilaku konsumtif atau tindakan pemborosan yang berujung pada tidak terkontrolnya keuangan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) MataramAy. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) MataramAy. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan angkatan 2017 dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 126 orang. Teknik analisis yang digunakan analisis regresi linier ganda. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan sosial terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FPOK . < 0,. artinya variabel lingkungan sosial (Kel. Anuta. dan lingkungan sosial (Kel. Anutan Primer = Keluarg. secara bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FPOK IKIP Mataram. Kata kunci: lingkungan sosial, dan perilaku konsumtif mahasiswa PENDAHULUAN Perilaku konsumtif merupakan suatu fenomena yang banyak melanda kehidupan masyarakat dewasa ini. Kebiasaan dan gaya hidup . ife styl. sekarang ini cepat mengalami perubahan dalam waktu yang relatif singkat menuju ke arah yang kian mewah dan berlebihan, misalnya dalam hal penampilan yang dapat mendorong pada perilaku Perilaku konsumtif ini cenderung harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi karena bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan saja tetapi lebih mengarah pada pemenuhan tuntutan keinginan. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Menurut Sachati . alam Wahyuni, 2. menjelaskan bahwa sifat konsumtif adalah kecenderungan hidup dengan keinginan membeli barang-barang yang kurang atau tidak Sebagian masyarakat menilai bahwa budaya konsumtif bukan merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan, budaya konsumtif cenderung memiliki stigma negatif lebih banyak dibanding positifnya. Masyarakat yang memiliki sifat konsumtif cenderung tidak akan puas atas apa yang telah ia dapat, sifat ini juga sering menjerumuskan masyarakat untuk bertindak boros. Lebih lanjut dijelaskan bahwa http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 perilaku konsumtif selalu penyesuaian diri dengan lingkungan, pada remaja diduga terkait dengan karakteristik psikologis tertentu yang dimiliki oleh remaja yaitu konsep diri mereka sebagai remaja dan tingkat konformitas terhadap kelompok teman sebaya. Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa sifat konsumtif tidak muncul begitu saja dari dalam diri individu itu semata melainkan sifat ini tumbuh akibat dari pengaruh lingkungan si pemilik sifat. Mereka merasa bahwa melakukan tindakan konsumtif bukan merupakan hal yang salah, bahkan ada sebagian masyarakat yang merasa bahwa memiliki sifat konsumtif merupakan salah satu cara mereka untuk beradaptasi dan bertahan hidup dengan lingkungan mereka. Internet merupakan salah satu pemicu masyarakat berbuat perilaku konsumtif. Melihat postingan AuWahAy dari seseorang bisa membuat orang lain juga ingin melakukan sesuatu yang tidak biasa juga, perilaku seperti inilah yang membuat sifat konsumtif menjadi budaya. Pesatnya pusat-pusat perbelanjaan . dan kafe berskala nasional maupun internasional berbanding lurus dengan jumlah pengunjungmya. Selain karena cukup tersedianya fasilitas, gempuran iklan melalui media massa pun semakin membentuk Kebutuhan akan konsumsi tidal lagi didasari oleh keperluan namun hanya atas dasar keinginan dan bahkan cenderung memasuki taraf berlebihan. Dalam hal ini keinginan yang dimaksud yaitu keinginan untuk tetap up to date, mengikuti mode atau tren terbaru, tidak ingin dianggap ketinggalan jaman dan keinginan untuk meningkatkan prestige . serta status sosial. Menurut Loudon dan Bitta . alam Agustina, 2. , remaja merupakan salah satu contoh kelompok masyarakat yang mudah terpengaruh dengan pola konsumsi yang berlebihan, mempunyai orientasi yang kuat untuk mengkonsumsi suatu produk dan tidak berpikir hemat. Fenomena seperti ini, faktor lingkungan memberikan peranan yang sangat besar terhadap pembentukan perilaku konsumtif seseorang. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Kholilah . , yang menunjukkan bahwa teman-teman sebaya . mur yang sam. merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku Mahasiswa merupakan salah satu kelompok sosial dalam masyarakat yang rentan . udah terken. pengaruh faktor lingkugan seperti: gaya hidup . ife styl. , trend, dan mode yang sedang berlaku. Bagi kebanyakan mahasiswa, mode, dan penampilan merupakan hal penting yang perlu mendapatkan perhatian Untuk memenuhi pengaruh faktor lingkungan tersebut, berarti seseorang . akan mengorbankan sejumlah uang yang tidak akan pernah kembali. Apabila hal tersebut terus menerus dilakukan mahasiswa maka akan mengakibatkan munculnya perilaku konsumtif atau tindakan pemborosan yang berujung pada tidak terkontrolnya keuangan, apabila dilakukan terus menerus dan tidak adanya kontrol pada diri masing-masing . sudah pasti akan merugikan diri sendiri dan terutama orang tua, karena sebagian besar mahasiswa masih bergantung pada orang tua untuk urusan keuangan mereka. Perilaku pembelian secara berlebihan patut dipelajari dan teliti karena dapat memiliki efek negatif pada individu dan juga masyarakat. Menurut Tambunan . , perilaku konsumtif dapat terus mangakar di dalam gaya hidup sekelompok mahasiswa. Dalam perkembangannya mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif, dan gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai, jika tidak didukung dengan kekuatan finansial . emampuan ekonom. yang memadai dapat menimbulkan masalah dalam perjalanan hidupannya dikemudian hari, misalanya menjadi lebih terbebani oleh utang yang berlanjut dapat menimbulkan masalahmasalah sosial di masyarakat. Berdasarkan fenomena, fakta dan pendapat tersebut di atas, maka peneliti penelitian mengenai gambaran perilaku konsumtif pada mahasiswa Fakultas Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Mataram. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index KAJIAN PUSTAKA Pengertian lingkungan sosial Lingkungan sosial yang kita kenal antara: lain lingkungan keluarga, lingkungan teman sebaya, dan lingkungan tetangga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama kali dikenal oleh individu sejak lahir. Selanjutnya Stroz . 7: . menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan sosial adalah Ausemua kondisi-kondisi dalam dunia yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkahlaku seseorang, termasuk pertumbuhan dan perkembangan . ife process. , yang dapat pula dipandang sebagai penyiapan lingkungan . o provide environmen. bagi generasi yang lainAu. Bintarto dan Surastopo . alam Sarah, 2012: . mendefinisikan lingkungan sosial berinteraksi, yang memiliki beberapa aspek yaitu sikap kemasyarakatan, sikap kejiwaan, sikap kerohanian, dan lain sebagainya. Peter dan Olson . menjelaskan juga bahwa lingkungan sosial dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan sosial makro dan lingkungan sosial mikro. Lingkungan sosial makro adalah interaksi sosial tak langsung dan vicarious diantara kelompok kelompok masyarakat manusia yang sangat Lingkungan sosial mikro adalah interaksi sosial langsung diantara kelompok-kelompok masyarakat yang lebih kecil, seperti sebuah keluarga dan kelompok-kelompok referensi. Kelompok yang mempunyai langsung disebut kelompok keanggotaan . embership grou. Beberapa dari kelompok ini merupakan kelompok primer . rimary grou. , dengan siapa seseorang berinteraksi dengan apa adanya secara terus menerus dan tidak resmi, seperti keluarga, teman, ataupun Menurut Yudistira . alam Savira Miranti, 2. bahwa unsur unsur yang dapat dimasukkan ke dalam lingkungan sosial adalah semua manusia yang ada di sekitar seseorang atau di sekitar kelompok. Lingkungan sosial ini dapat berbentuk perorangan maupun dalam bentuk kelompok keluarga, teman sepermainan, tetangga, warga desa, warga kota, bangsa, dan Menurut Vembriarto . 4: . Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 lingkungan keluarga adalah contoh kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Hubungan sosial di antara anggota keluarga relatif tetap yang didasarkan atas ikatan darah, perkawinan, atau adopsi. Hubungan antara anggota keluarga umumnya dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggungjawab, karena itu keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi dan interaksi seseorang. AuLingkungan sosial terdiri dari orangorang, baik individual atau kelompok di sekitar manusiaAu (Soekanto, 1986: . Lingkungan sosial tidak merupakan fungsi yang berdiri sendiri, akan tetapi saling berhubungan dan menghasilkan perilaku manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lingkungan sosial merupakan wadah atau sarana untuk berinteraksi dengan orang lain dan membentuk sebuah pribadi serta mempengaruhi tingkahlaku seseorang. Oleh karena itu lingkungan sosial yang baik akan mempengaruhi pribadi atau perilaku seseorang itu menjadi baik pula. Jenis-jenis Ligkungan Sosial Menurut Dalyono lingkungan sosial terdiri dari: Teman pengaruhnya sangat besar dan lebih cepat masuk dalam jiwa anak, apabila anak suka bergaul dengan mereka yang tidak sekolah maka ia akan malas belajar, sebab cara hidup mereka yang bersekolah berlainan dengan anak yang tidak bersekolah. Lingkungan tetangga, corak kehidupan tetangga, misalnya suka main judi, menganggur, tidak suka belajar, dsb, akan mempengaruhi anak-anak yang bersekolah minimal tidak ada motivasi bagi anak untuk Sebaliknya jika tetangga terdiri dari pelajar, mahasiswa, dokter, insyinyur, akan mendorong semangat belajar anak. Aktivitas dalam masyarakat, terlalu banyak berorganisasi atau berbagai kursuskursus akan menyebabkan belajar anak akan menjadi terbengkalai. Pengaruh lingkungan, terutama lingkungan sosial secara terbuka tidak hanya berupa hal-hal Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index yang positif saja, melainkan juga meliputi efek yang negatif. Efek negatif yang timbul akibat pengaruh lingkungan sosial salah satunya adalah kepribadian yang tidak selaras atau menyimpang dari lingkungan sosial dalam bentuk kenakalan remaja, kejahatan, rendahnya rasa tanggungjawab, dan lain sebagainya yang dapat dilakukan oleh masing-masing individu. Dalam hal ini individu yang dimaksud adalah pemulung anak usia Sekolah Dasar. Pengertian perilaku konsumtif Menurut Lestari . bahwa istilah konsumtif biasanya digunakan pada masalah yang berkaitan perilaku konsumen dalam kehidupan manusia. Dewasa ini salah satu gaya hidup konsumen yang cenderung terjadi di dalam masyarakat adalah gaya hidup yang menganggap materi sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan kepuasan tersendiri, gaya hidup seperti ini konsumtifisme, sedangkan konsumtifisme dapat didefinisikan sebagai pola hidup individu atau masyarakat yang mempunyai menggunakan barang dan jasa yang kurang atau tidak dibutuhkan. Selanjutnya Kartodiharjo . menjelaskan bahwa perilaku konsumtif sebagai social ekonomi yang perkembangannya dipengaruhi oleh faktor kultural, pentingnya peran mode atau trend yang mudah menular. Di samping itu sikap seseorang seperti orang tidak mau ketinggalan dari 10 temannya atau penyakit kultural yang disebut AugengsiAy sering menjadi motivasi dalam memperoleh Dijumpai sosiopsikologis berupa keinginan meniru sehingga remaja berlomba-lomba yang satu ingin lebih baik dari yang lain. Perilaku pembelian produk untuk konsumsi tetapi ada motivasi lain. Konsumtifisme jenis ini cukup banyak contohnya, misalnya berbagai produk dengan merk sarana dan prasarana olahraga terkenal sangat disukai meskipun mahal, seperti sepatu olahraga Adidas. Nike. Puma. Reebok atau kaos olahraga AuBilieve. RipCurl. Adidas. Oragle Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 atau tas Puma. Kawasaki. Techdoo. Naturechike,AdidasAy. Produk bukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia, akan tetapi lebih berfungsi sebagai lambang yang disebut AuSimbol StatusAy. Dahlan . alam Astuti, 2. menyatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap paling mahal dan memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik sebesarbesarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu kesenangan semata-mata. Sebagai gambaran, jika seorang remaja telah memiliki perilaku . konsumtif, maka ia akan terus menerus berkeinginan untuk membeli barang-barang yang ia inginkan. Untuk memenuhi mengeluarkan biaya ekstra yang tidak Biaya ekstra ini berdampak pada kalkulasi pengeluaran bulanan sang ibu yang sebenarnya telah diperhitungkan sejak jauh hari. Bisa jadi, kebutuhan pokok mereka malah tidak terpenuhi. Akibatnya sang ayah pun harus bekerja lebih keras dalam mencari nafkah. Bahkan tak jarang sang ibu terpaksa harus ikut bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan Karena pekerjaan sang ibu menyita waktu, urusan rumah pun jadi tidak terurus sehingga ayah dan anak-anaknya sering kali pulang dengan disambut oleh keadaan rumah yang tidak nyaman. Kehadiran ibu yang biasanya selalu siap mendengarkan cerita keseharian suami dan anak-anaknya pun dirindukan karena sang ibu terlalu lelah setelah seharian bekerja. Keharmonisan rumah tangga berkurang, dan pada akhirnya masalah-masalah lain bermunculan. Akar dari semua permasalahan tersebut hanya satu, yakni sifat konsumtif. Hubungan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Budaya konsumtif dalam suatu masyarakat dapat menjadi penyebab memburuk, dan sebaliknya, perekonomian yang baik ( atau bahkan sangat bai. di kalangan menengah ke atas dapat memicu perilaku konsumtif dalam kelompok masyarakat tersebut. Budaya konsumtif yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari di antaranya adalah kebiasaan berbelanja . kalangan, baik masyarakat di desa maupun di perkotaan. Pada masyarakat pedesaan atau menengah ke bawah, hal ini sering kita jumpai ketika di saat momen Hari Raya Lebaran. Bagaimana pun keadaan ekonomi mereka saat itu, kegiatan berbelanja pakaian baru bagi seluruh anggota keluarga nampaknya telah menjadi suatu keharusan. Lain halnya dengan masyarakat perkotaan atau kalangan menengah ke atas yang juga memiliki budaya konsumtif tersendiri. Kalangan ini lebih senang membelanjakan uangnya pada tempat yang sedang tren. Contohnya ketika ada tempat makan, tempat nongkrong atau tempat berbelanja yang baru-baru terbuka, maka tidak jarang kita akan melihat antrian atau bahkan keramaian, bahkan akan menarik perhatian masyarakat lain untuk ikut. Dengan canggihnya tehnologi seperti sekarang ini, seperti berbagai macam sosial media sehingga memungkinkan menyebar dengan cepat dan menjadi tren atau terkenal. Terbentuknya kelompok masyarakat kelas menengah di negeri ini ternyata tidak melahirkan kelompok masyarakat yang Malah hanya membentuk masyarakat yang labil dan permisif . ikap yang membolehkan/mengizinka. Ciri-cirinya antara lain, mudah terpengaruh, lekas berpuas diri, alergi bernalar, dan suka Semakin hari sikap konsumtif masyarakat Indonesia semakin tidak Apapun yang bisa dibeli, pasti akan mereka beli. Tidak peduli apakah barang tersebut merupakan barang yang benar-benar dibutuhkan atau tidak. Salah satu faktor yang paling mempengaruhi hal Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 tersebut ialah banyaknya bermunculan produk-produk Seperti telepon genggam . , leptop, kosmetik, pakaian, sepatu, tas, kendaraan, dll. Jika kalangan menengah ke atas mungkin mempunyai cukup uang untuk memiliki barang-barang tersebut, tapi bagaimana dengan kalangan bawah?. Mereka yang tidak memiliki uang tetapi memiliki gaya hidup konsumtif, akan menghalalkan segala cara seperti korupsi, mencuri, merampok dan bentuk kejahatan jalanan lainnya, bahkan karena pola hidup seperti ini . juga banyak melahirkan tikus-tikus berdasi . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif. Bila tentang perilaku konsumtif, maka tida lepas dari masalah proses keputusan pembelian. Sigit . alam Lestari, 2. ada dua faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor kedua adalah situasi-situasi yang tidak terduga. Perilaku konsumtif menurut Kotler . dipengaruhi oleh berbagai faktor Faktor Budaya Faktor budaya memiliki pengaruh yang luas dan mendalam terhadap perilaku. Faktor budaya antara lain terdiri dari: Peran budaya. Budaya adalah penentu keinginan dan perilaku yang paling Seorang anak mendapatkan kumpulan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari keluarganya dan lembaga-lembaga penting lain. Sub budaya. Setiap budaya terdiri dari sub budaya yang lebih kecil yang memberikan ciriciri sosialisasi khusus bagi anggotaanggotanya. Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok . , dan daerah geografis. Kelas sosial pembeli. Pada dasarnya semua masyarakat memiliki strata sosial. Strata tersebut biasanya terbentuk system kasta di mana anggota kasta yang berbeda Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index dibesarkan dengan peran tertentu dan tidak dapat mengubah keanggotaan kasta mereka. Stratifikasi lebih sering ditemukan dalam bentuk kelas sosial. Faktor Sosial Sebagi tambahan atas faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial antara lain: Kelompok Anutan. Individu sangat dipengaruhi oleh kelompok anutan mereka sekurangkurangnya dalam tiga hal. Kelompok anutan menghadapkan seseorang pada perilaku dan gaya baru. Mereka juga mempengaruhi perilaku dan konsep peribadi seseorang dan menciptakan tekanan untuk mengetahui apa yang mungkin mempengaruhi pilihan produk dan merk actual seseorang. Tingkat pengaruh kelompok anutan terhadap produk dan merk berbeda-beda, pengaruh utama atas pilihan merk barang-barang perlengkapan olahraga, seperti bola, sepatu, tas, raket maupun Keluarga. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan telah menjadi obyek penelitian yang ekstensif. Anggota keluarga merupakan kelompok anutan primer yang paling berpengaruh. Keluarga primer terdiri dari orang tua dan saudara kandung. Dari orang tua individu mendapatkan orientasi atas agama, politik, ekonomi, ambisi peribadi, harga diri, dan cinta, meskipun pembeli tidak berinteraksi secara intensif dengan keluarganya maka pengaruh keluarga terhadap perilaku pembeli dapat tetap signifikan. Peran dan Status. Peran diharapkan akan dilakukan oleh Setiap Setiap peran memiliki Individu memilih produk yang mengkomunikasikan peran dan status mereka dalam masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Faktor Pribadi Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik pribadi tersebut terdiri dari: Usia dan Tahap Siklus Hidup. Orang membeli barang dan jasa yang berbeda sepanjang hidupnya. Tahap keuangan dan minat produk berbeda-beda dalam masing-masing Pemasar . berdasarkan siklus hidup sebagai pasar sebagai sasaran mereka, beberapa peneliti baru telah mengidentifikasikan tahap siklus hidup psikologis. Orang dewasa Auperjalanan transformasiAy sepanjang perjalanan Pemasar . memberikan perhatian yang besar pada situasi hidupnya. berubah, bercerai dan dampak Pekerjaan. Pekerjaan mempengaruhi pola konsumsinya. Pekerja kerah biru akan membeli pakaian kerja, sepatu kerja. Direktur perusahaan akan membeli pakaian yang mahal, perjalanan dengan pesawat udara. Pemasar . kelompok pekerjaan yang memiliki minat di atas terhadap produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan pekerjaan tertentu. Keadaan Ekonomi. Pilihan produk sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi seseorang. Keadaan ekonomi terdiri dari penghasilan yang dapat dibelanjakan . ingkat, kestabilan, pola, wakt. tabungan dan aktiva . resentase yang lancar atau likui. , hutang, kemampuan untuk meminjam dan sikap atas belanja dan menabung. Pemasar . barang-barang Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index yang peka terhadap harga terus memperhatikan trend penghasilan pribadi, tabungan, dan tingkat bunga. jika indikator ekonomi menandakan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, melakukan penempatan ulang, dan menetapkan kembali harga produk menawarkan nilai pada pelanggan Gaya Hidup. Orang-orang yang berasal dari sub budaya, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama dapat memiliki gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup individu merupakan pola hidup di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opini. Gaya hidup menggambarkan Aukeseluruhan diri seseorangAy, yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar . hubungan antara produk dan gaya hidup kelompok. Misalnya sebuah pabrik computer menemukan sebagian besar pembeli computer berorientasi pada prestasi, sehingga pemasar dapat mengarahkan merk pada gaya hidup. Kepribadian dan Konsep Diri. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda yang mempengaruhi perilaku Kepribadian merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari seseorang yang menyebabkan tanggapan yang relative konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Kepribadian biasanya dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti percaya diri, dominasi otonomi, ketaatan, kemampuan bersosialisasi, daya tahan. Kepribadian dapat menjadi variabel yang berguna dalam menganalisa Jika kepribadian dengan pilihan produk atau kepribadian adalah konsep diri . itra Pemasar . berusaha mengembangkan Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 citra merk yang sesuai dengan citra pribadi sasaran. Faktor Psikologis Pilihan pembelian dipengaruhi oleh enam faktor psikologis utama yaitu: Motivasi. Motivasi berasal dari kata motif, merupakan kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu bertindak atau berbuat. Setiap orang selalu mempunyai motivasi untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginannya, motivasi juga merupakan dasar dorongan pembelian atau penggunaan terhadap suatu produk. Persepsi. Individu yang termotivasi pasti akan siap bereaksi, tapi bagaimana individu yang termotivasi tersebut bertindak? Adalah dipengaruhi oleh persepsi mengenai situasi dan kondisi tempat ia Perbedaan persepsi konsumen akan menciptakan proses pengamatan dalam melakukan pembelian atau penggunaan barang atau jasa. Konsep Diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara bagaimana seseorang dapat melihat dirinya sendiri dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang apa yang Setiap orang memiliki suatu konsep tentang dirinya yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan adanya pandangan-pandangan atau persepsi yang berbeda-beda pula terhadap suatu produk, baik berupa barang ataupun jasa. Kepribadian. Kepribadian dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk dan sifat-sifat yang ada dalam diri individu yang sangat berpengaruh pada perubahan perubahan Kepribadian konsumen sangat ditentukan oleh faktor internal dirinya, seperti motif. IQ . ntelligence quotien. , emosi spiritualitas, maupun persepsi dan faktor-faktor eksternal, seperti lingkungan fisik, keluarga. Pada dasarnya kepribadian Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index mempengaruhi persepsi dan perilaku Pengalaman Belajar. Belajar sebagai suatu proses yang performance sebagai akibat dari latihan atau pengalaman sebelumnya. Jadi perilaku konsumen dapat dipelajari karena sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan proses latihan . Sikap dan Keyakinan . Sikap merupakan suatu penilaian kognitif seseorang terhadap suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu Keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa bisa terjadi karena ingin tampak berbeda dan menonjol dari yang . , karena penampilan pribadinya . ride of personal appearanc. , dan pencapaian terhadap suatu status sosial tertentu . osial achievemen. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk mengungkapkan masalah-masalah menyusun, dan menganalisis. Data yang bersifat kuantitatif yang berwujud angkaangka dalam hasil perhitungannya, kemudian dianalisis dan dideskripsikan untuk memperoleh kesimpulan. Sumber data populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah data primer diperoleh dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga (FPOK) IKIP Mataram, dan data sekunder yang diperoleh dari referensi studi pustaka, artikel, jurnal, internet dan sebagainya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga (FPOK) IKIP Mataram angkatan 2017 sebanyak 126 Lokasi Penelitian Penelitian ini mengambil lokasi di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Mataram, dengan alasan bahwa mahasiswa berpendapat Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 ketersediaan alat . arana pendukun. dalam lomba, bagi seorang atlet sangat olahragawan, karena alat olahraga yang memadai dapat mendorong kemampuan sang atlet bisa tampil dengan maksimal dalama meraih prestasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penawaran-penawaran untuk tampil bagi atlit untuk bisa berprestasi maksimal, seperti dengan penawaran produk sarana olahraga melalui katalog-katalog, melalui media jejaring sosial, penyebaran leaflet-leaflet, serta referensi-referensi teman-teman maupun para sales marketing dari produkproduk alat-alat olahraga. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2019 sampai dengan bulan September 2019 di kampus Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Mataram. Variabel Penelitian Menurut Sugiyono bahwa variabel di dalam penelitian merupakan suatu atribut dari sekelompok obyek yang diteliti yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lain dalam kelompok tersebut. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu: variabel bebas . ndependent variabl. dan variabel terikat . ependent variabl. Variabel bebas . ndependent variabl. , adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen . ariable terika. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah lingkungan sosial. Variabel terikat . ependent variabl. merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga angkatan tahun 2017 IKIP Mataram. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan kuisioner yang disebarkan ke mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) IKIP Mataram, studi dokumentasi, dan studi Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Teknik Sampling Menurut Sugiyono . , dalam penelitian kualitatif teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling, selanjutnya dijelaskan bahwa sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu, misalnya orang tersebut dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan. Sehubungan dengan uraian tersebut, dalam penelitian ini teknik sampling yang digunakan purposive sampling dan yang menjadi sampling penelitian adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga (FPOK) angkatan 2017 sebanyak 126 orang dengan tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan Teknik Analisis Data Untuk mendeskripsikan semua data yang sudah diperolah sehingga bisa dipahami, dan juga untuk membuat kesimpulan atau menarik kesimpulan mengenai karakteristik populasi yang diperoleh dari sampel, maka teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier ganda dengan menggunakan program SPSS ibm 20. Uji pra-syarat analisis yang digunakan adalah: Uji Uji hasil penelitian yang digunakan adalah Uji F dan pengujian Persamaan Garis Regresi Linear Ganda. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebar kuesioner Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan semester IV angkatan 2017 FPOK IKIP Mataram. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 126 orang responden. Adapun hasil penelitian yang diperoleh dari lapangan disajikan sebagai berikut. Deskriptif Karakteristik Responden Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Berdasarkan Jenis Kelamin Hasil penelitian terhadap jenis kelamin seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan semester IV angkatan 2017 FPOK IKIP Mataram yang berjumlah 126 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini disajikan pada tabel berikut: Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah 91,27 8,73 Laki-laki Perempuan Total Sumber: Data primer ( 2019 ) Dari tabel 1 tersebut di atas, diketahui bahwa dari 126 orang responden yang diteliti, ternyata responden lebih didominasi oleh laki-laki yaitu sebanyak 115 orang responden . ,27%), dan 11 orang responden . ,33%) sisanya adalah Menurut Okoroafo et al. bahwa wanita dalam membeli barang lebih dipengaruhi oleh kualitas layanan yang lebih kuat dari pada pria, sedangkan pria dalam membeli barang . lebih dipengaruhi oleh nilai Lebih lanjut Kusumowidagdo . menyatakan bahwa gender . enis kelami. berpengaruh terhadap perilaku umumnya pria merupakan pembelanja utilitarian sedangkan wanita kebanyakan merupakan pebelanja hedonis, sedangkan Apriani . menyatakan bahwa gender adalah sifat yang melekat pada pria dan wanita yang dibentuk oleh faktor sosial maupun budaya sehingga lahirlah anggapan mengenai peran sosial antara pria dan wanita. Deskriptif Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Hasil penelitian terhadap usia seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan semester IV angkatan 2017 FPOK IKIP Mataram yang berjumlah 126 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini disajikan pada tabel Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Tabel 2. Karakteristik Responden berdasarkan Usia USIA Jumlah 19 - 22 tahun 23 - 26 tahun > 26 tahun 4Total 85,12 14,29 1,59 Sumber: Data primer ( 2019 ) Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa dari 126 responden yang diteliti didominasi usia 19 sampai 22 tahun sebanyak 106 orang . ,12%), usia 23 sampai 26 tahun sebanyak 18 orang . ,29%), usia di atas 26 tahun sebanyak 2 orang . ,59%). Menurut Baron dan Byrne . bahwa kelompok yang paling mudah terpengaruh oleh gaya hidup . ife styl. adalah kaum muda, baik laki-laki maupun perempuan dengan tujuan adanya penerimaan . dari lingkungan masyarakat sekitar ataupun kelompok tertentu. Deskripsi Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal Hasil penelitian terhadap usia seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan semester IV angkatan 2017 FPOK IKIP Mataram yang berjumlah 126 orang mahasiswa yang menjadi responden dalam penelitian ini disajikan pada tabel Tabel 3. Karakteristik Responden berdasarkan Tempat Tinggal Tempat Tinggal Jumlah Kos / Kontrak 73,80 Serumah dengan orangtua Total Sumber: Data primer ( 2019 ) Tabel 3 tersebut menunjukkan bahwa dari 126 orang responden mayoritas atau sebanyak 93 orang . ,80%) tinggal di kos / kontrak rumah dan sisanya 33 orang . ,2%) tinggal serumah dengan orang tua. Menurut Kotler . perilaku konsumtif dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor keluarga yang disebut juga sebagai kelompok anutan primer yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung yang sangat berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, sehingga dari 126 orang responden 73,80% . Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 oran. berpotensi memilik perilaku konsumtif. Hasil Analisa Data Penelitian Uji Reliability Uji memastikan apakah kuisioner penelitian yang akan digunakan untuk mengumpulkan data variabel penelitian reliable atau tidak, sehingga jika kuisioner tersebut dilakukan pengukuran ulang akan mendapatkan hasil yang sama . asilnya konsiste. Adapun hasil uji reliability terhadap kuisioner yang penelitian, seperti pada tabel case processing Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah sampel atau responden (N) yang dianalisis sebanyak 126 orang. Karena tidak ada data yang kosong . awaban teriisi semu. maka jumlah valid adalah 100% dengan hasil reliability statisticsnya sebagai berikut. Berdasarkan hasil pengujian reliability di atas, diketahui angka cronbach alpa adalah sebesar 0,637. Artinya, lebih besar dari nilai minimal cronbach alpha sebesar 0,60. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua instrumen penelitian yang digunakan adalah reliabel atau Uji Regresi Uji regresi linier berganda bertujuan untuk mengukur intensitas hubungan antara dua atau lebih variabel independen (X1. X2 X. dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan veriabel dependen apakah masingmasing variabel independen positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau Adapun hasil analisis regresi linear berganda terhadap data yang diperoleh seperti yang terdapat pada tabel Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Data di atas menunjukkan bahwa nilai (Kel. Anuta. adalah sebesar 0,000 . <0,. maka dari itu hipotesis diterima, artinya variabel lingkungan sosial (Kel. Anuta. berpengaruh signifikan terhadap Perilaku Selanjutnya untuk variabel lingkungan sosial (Keluarg. , data di atas menunjukkan nilai Sig. sebesar 0,001 . <0,. maka dari itu hipotesis diterima, artinya variabel lingkungan sosial (Keluarg. berpengaruh signifikan terhadap Perilaku konsumtif. Berdasarkan data di atas, didapatkan nilai Sig. F sebesar 0,000 . <0,. maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima, artinya variabel lingkungan sosial (Kel. Anuta. dan lingkungan sosial (Keluarg. berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap perilaku konsumtif. Pembahasan Dasar penggunaan uji F dalam penelitian ini adalah nilai signifikansi. Jika nilai signifikasi < 0,05, maka variabel independen secara bersamasama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Jika signifikansi > 0,05 , maka variabel independen secara bersma-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hasil uji F pada tabel Anova yang dibantu menggunakan program SPSS 20 menunjukkan nilai signifikansi pada kolom Sig adalah 0,001, nilai ini jauh lebih kecil dari nilai 0,05. Nilai signifikansi 0,001< 0,05 . <0,. tersebut sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji F, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel lingkungan sosial Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 (Kel. Anuta. dan lingkungan sosial (Keluarg. berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Berdasarkan hasil analisa data tersebut di atas, diketahui bahwa lingkungan sosial signifikan terhadap terhadap perilaku konsumtif mahasiswa program studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan FPOK IKIP Mataram, hal ini sejalan dengan pendapat Kotler . yang dikemukakan oleh Simamora . 4: . bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi seseorang diantaranya faktor kebudayaan, sosial, personal dan psikologi. Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kanserina . , dalam lingkungan sosial memiliki pengaruh yang perilaku konsumtif Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa lingkungan sosial berpengaruh pada perilaku konsumsi mahasiswa. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa akan berperilaku konsumsi semakin rasional jika lingkungannya memberi keteladanan untuk berperilaku konsumsi secara disiplin dan Dengan demikian, adanya pengaruh positif dari lingkungannya mahasiswa akan dapat menjadi lebih rasional, terutama dalam berperilaku konsumtif. Lingkungan sosial yang berasal dari luar atau eksternal . ering disebut sebagai kelompok Anuta. Menurut Bennet dan Kassarjian . alam Sutisna, 2. bahwa kelompok anutan, terutama dari kelompok teman sebaya atau sejawat (Peer Group Influenc. merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam berprilaku konsumtif. Salah satu penyebabnya adalah adanya anggapan bahwa teman dekatnya . eman sebay. telah membeli produk tersebut terlebih dahulu. Lebih jauh Kartodiharjo . menjelaskan bahwa perilaku konsumtif sebagai social ekonomi yang perkembangannya dipengaruhi oleh faktor cultural . , pentingnya peran mode . yang mudah menular. Di samping itu adanya sikap seseorang seperti orang tidak mau ketinggalan dari 10 temannya atau penyakit kultural yang disebut AugengsiAy sering menjadi Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan http://ejournal. org/index. php/JISIP/index motivasi dalam membeli produk barang atau berperilaku konsumtif. Hasil penelitian ini logis karena lingkungan sosial teladan dan masukan yang baik dan benar pada seseorang dalam berperilaku berkonsumsi akan meningkatkan perilaku konsumsi orang tersebut semakin Demikian juga gaya hidup . ife styl. mahasiswa, semakin baik gaya hidup . ife styl. seseorang, jauh dari hedonisme, semakin baik pula perilaku konsumsi mahasiswa. Hal ini berarti bahwa lingkungan social, khususnya anggota keluarga terdiri dari orang tua dan saudara kandung . ering disebut kelompok anutan prime. signifikan terhadap perilaku konsumtif . dari mahasiswa. Simpulan Berdasarkan hasis analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa Program Studi Olahraga dan Kesehatan FPOK IKIP Mataram. Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai signifikansi . <0,. artinya variabel lingkungan sosial (Kel. Anuta. dan lingkungan sosial (Keluarg. berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap perilaku konsumtif mahasiswa. Saran Berdasarkan analisis data penelitian dan hasil pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu: Mahasiswa hendaknya belajar membuat rencana anggaran untuk adanya pembelanjaan di luar kebutuhan, dan menyesuaikan alokasi pengeluaran kebutuhan dengan anggaran yang dimiliki serta membiasakan diri melakukan pembelian barang atas dasar kebutuhan bukan keinginan. Selain itu, hendaknya mahasiswa mampu membentengi diri dengan prinsip hidup yang kuat dan keyakinan terhadap mana hal yang baik dan mana yang buruk, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar terutama dari pengaruh buruk yang membawa pada perilaku menyimpang. Mahasiswa juga perlu mempertahankan gaya hidup sederhana dan sebisa mungkin Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol. No. 3 November 2019 p-ISSN: 2598-9944 e-ISSN: 2656-6753 menjauhkan diri dari gaya hidup hedonis hanya karena gengsi atau mengharapkan pujian DAFTAR PUSTAKA