Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Student Engagement and Understanding in IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. for Grade V at MIN 7 Jembrana: A Classroom Action Research Approach Eva Amalia1. Hosnul Mukarromah2 1 MIN 7 Jembrana 2 MIS Taufiqus Shibyan Correspondence: amaliaeva559@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Classroom Action Research. IPAS, student engagement, interactive learning. Grade V, science and social studies. MIN 7 Jembrana. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to improve the engagement and understanding of Grade V students in the subject of IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosia. at MIN 7 Jembrana. The research focuses on exploring effective teaching strategies that can enhance students' interest and comprehension of science and social studies topics. The study is conducted in two cycles, each consisting of planning, action, observation, and reflection. The first cycle involved the implementation of interactive learning methods, such as group discussions and hands-on activities, to actively involve students in the learning process. In the second cycle, additional strategies like multimedia resources and real-life examples were incorporated to deepen students' understanding. Data was collected through observation, student interviews, and assessments to measure the effectiveness of the intervention. The results indicate significant improvements in students' engagement, participation, and academic performance in IPAS. This research highlights the importance of adapting teaching methods to students' needs and the positive impact of interactive and student-centered learning approaches in enhancing understanding of IPAS topics. A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam membentuk pemahaman dasar siswa tentang dunia sekitar Namun, dalam praktiknya, pelajaran IPAS seringkali kurang diminati oleh siswa karena cara penyampaiannya yang terkesan monoton dan kurang melibatkan partisipasi aktif Hal ini tercermin dari rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran ini, yang berujung pada pemahaman yang kurang mendalam tentang materi yang diajarkan. Penelitian oleh Suryani . menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang tidak menarik dapat mengurangi minat siswa terhadap pelajaran, termasuk IPAS, yang berdampak pada rendahnya hasil belajar mereka. Kondisi ini juga terlihat di MIN 7 Jembrana, di mana pengajaran IPAS masih dilakukan dengan pendekatan yang terfokus pada metode ceramah dan penugasan yang bersifat pasif. Metode ini, meskipun tidak sepenuhnya salah, seringkali mengurangi keterlibatan siswa dalam proses Penelitian oleh Putra . mengungkapkan bahwa pembelajaran yang hanya mengandalkan ceramah cenderung menurunkan minat siswa, terutama dalam mata pelajaran yang membutuhkan keterlibatan praktis dan kontekstual, seperti IPAS. Menggunakan metode yang lebih menarik dan aktif menjadi penting dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Dalam hal ini, pendekatan yang berbasis pada pembelajaran aktif dan partisipatif diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Penelitian yang dilakukan oleh Haryanto . menunjukkan bahwa pembelajaran aktif, yang melibatkan diskusi, percakapan, dan eksplorasi, dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Pendidikan yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah sangat penting untuk menciptakan siswa yang tidak hanya memahami fakta, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu. IPAS harus diajarkan dengan cara yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan keterampilan sosial siswa. Sebagai contoh, menurut Fauzi . , penggunaan studi kasus dan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan keterampilan ini dalam pembelajaran IPAS. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya pemahaman siswa terhadap IPAS adalah kurangnya fasilitas pendukung dalam pembelajaran. Misalnya, di banyak sekolah, khususnya di daerah pedesaan seperti Jembrana, keterbatasan alat peraga dan sumber daya untuk mendukung pembelajaran IPAS masih menjadi masalah yang belum teratasi dengan baik. Penelitian oleh Wulandari . menyatakan bahwa ketersediaan alat peraga yang memadai dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan memudahkan pemahaman materi yang lebih kompleks dalam IPAS. Selain itu, terdapat juga hambatan dalam hal penyampaian materi yang terlalu teoritis tanpa adanya hubungan langsung dengan kehidupan nyata. Penelitian oleh Sari . menunjukkan bahwa siswa cenderung merasa kesulitan dan tidak tertarik pada pelajaran yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, integrasi materi pelajaran IPAS dengan pengalaman sehari-hari siswa sangat penting agar mereka dapat memahami penerapan ilmu pengetahuan dalam konteks yang lebih nyata dan relevan. Di sisi lain, pengajaran IPAS yang menekankan pada penghafalan fakta-fakta yang kurang diimbangi dengan pemahaman konsep dapat menyebabkan siswa hanya memiliki pengetahuan yang dangkal. Berdasarkan penelitian oleh Rachman . , siswa cenderung hanya mengingat informasi untuk ujian tanpa memahami dasar konsep yang mendasarinya. Hal ini mengakibatkan siswa kesulitan untuk mengaitkan pelajaran dengan pengalaman atau masalah kehidupan nyata yang mereka temui. Selain itu, kualitas pengajaran yang bergantung pada kesiapan guru juga memegang peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa di IPAS. Guru yang belum memiliki pemahaman yang kuat mengenai pendekatan pembelajaran aktif dan inovatif sering kali kurang dapat mengelola kelas dengan baik. Penelitian oleh Pratama . menyatakan bahwa pelatihan yang memadai bagi guru dalam hal teknik pengajaran dan penggunaan metode yang beragam dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas, termasuk untuk mata pelajaran IPAS. Tantangan lain yang dihadapi oleh guru adalah kurangnya keberagaman dalam pendekatan pengajaran yang mereka terapkan. Banyak guru yang masih menggunakan metode yang sama sepanjang waktu, yang dapat menurunkan motivasi dan minat siswa. Oleh karena itu, diperlukan variasi dalam metode pembelajaran untuk menarik minat siswa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Amelia . , ditemukan bahwa penggunaan metode yang bervariasi dalam pembelajaran dapat memperbesar peluang siswa untuk lebih terlibat dalam proses belajar mengajar dan meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi. Di MIN 7 Jembrana, kebijakan pengajaran IPAS juga perlu diperbaiki untuk memberikan ruang bagi pendekatan yang lebih inovatif. Sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dan berbasis pada teknologi dapat memberikan dampak positif terhadap cara siswa memahami materi Menurut penelitian oleh Arifin . , integrasi teknologi dalam pembelajaran dapat membantu meningkatkan minat siswa, terutama dalam mengakses informasi yang lebih interaktif dan terkini. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain faktor-faktor tersebut, perlu adanya evaluasi yang lebih mendalam terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPAS. Evaluasi yang hanya mengandalkan ujian tertulis tanpa melibatkan penilaian terhadap keterampilan praktis dan pemahaman konseptual dapat menyesatkan dan tidak memberikan gambaran yang akurat mengenai kemampuan siswa. Penelitian oleh Mulyani . menyebutkan bahwa evaluasi yang holistik dan mencakup berbagai aspek pengetahuan dan keterampilan siswa lebih mampu menggambarkan capaian belajar yang sesungguhnya. Pentingnya melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga diungkapkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Azizah . Pembelajaran berbasis proyek atau berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keterlibatan Dalam konteks IPAS, pendekatan ini memungkinkan siswa untuk lebih memahami konsep-konsep ilmiah dengan cara yang lebih menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Penerapan pembelajaran berbasis proyek di MIN 7 Jembrana dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kualitas pengajaran IPAS. Pembelajaran berbasis proyek tidak hanya memungkinkan siswa untuk lebih memahami materi secara mendalam, tetapi juga mengembangkan keterampilan kerjasama, komunikasi, dan pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Fajar . , yang mengungkapkan bahwa pembelajaran berbasis proyek efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa selain pemahaman terhadap materi pelajaran. Dalam menghadapi tantangan dalam pembelajaran IPAS, peran penting juga dimainkan oleh lingkungan sekolah yang mendukung. Lingkungan yang mendukung kreativitas dan inisiatif siswa dalam belajar dapat mempercepat proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan penelitian oleh Widodo . , lingkungan yang mendukung pembelajaran aktif dan interaktif, dengan dukungan fasilitas dan materi yang sesuai, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Di MIN 7 Jembrana, hal ini menjadi sangat relevan karena lingkungan yang positif dapat membantu siswa merasa lebih nyaman dan antusias dalam Penerapan berbagai pendekatan dalam pembelajaran IPAS yang berbasis pada pengajaran aktif dan interaktif dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan di MIN 7 Jembrana. Dengan melibatkan berbagai metode yang menarik, memanfaatkan teknologi, dan memberikan pengalaman langsung kepada siswa, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi IPAS dan memotivasi mereka untuk terus belajar dengan penuh minat dan semangat (Siti, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa kelas V dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di MIN 7 Jembrana. Penelitian tindakan kelas dipilih karena tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung dengan melibatkan siswa dalam proses yang berkelanjutan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melakukan perbaikan secara bertahap dengan refleksi di setiap siklus, serta memberikan kesempatan untuk evaluasi dan peningkatan berkelanjutan dalam pengajaran IPAS. Metode penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yang masing-masing terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus pertama, peneliti merancang intervensi dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis proyek dan diskusi kelompok. Proyek ini bertujuan untuk melibatkan siswa dalam eksplorasi langsung topik IPAS, sementara diskusi kelompok memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi ide dan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 memperdalam pemahaman mereka. Setelah setiap siklus, data dari observasi dan wawancara siswa dikumpulkan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran. Dalam pelaksanaan setiap siklus, observasi dilakukan untuk mengidentifikasi perkembangan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Peneliti menggunakan lembar observasi yang memuat indikator-indikator terkait partisipasi siswa, respon terhadap pertanyaan, serta keterlibatan dalam diskusi kelompok. Selain itu, wawancara mendalam dengan siswa dan guru dilakukan untuk mengungkap persepsi mereka mengenai metode pembelajaran yang diterapkan dan pengaruhnya terhadap pemahaman mereka terhadap materi. Observasi dan wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data yang lebih kaya dan mendalam mengenai perubahan yang terjadi selama penelitian. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman Lembar observasi digunakan untuk mengamati partisipasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, serta untuk mengevaluasi proses interaksi di kelas. Pedoman wawancara digunakan untuk menggali pendapat siswa dan guru mengenai efektivitas metode pembelajaran yang diterapkan. Peneliti juga menggunakan dokumentasi berupa catatan lapangan yang mencatat dinamika pembelajaran selama berlangsungnya setiap siklus, yang akan digunakan untuk mendukung analisis data. Setelah pengumpulan data, analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi perubahan dalam sikap dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi dianalisis untuk mengidentifikasi pola-pola yang berkaitan dengan peningkatan pemahaman siswa, perubahan sikap, serta keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Hasil analisis ini digunakan untuk merencanakan siklus berikutnya dan menyempurnakan metode yang diterapkan, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa di kelas V MIN 7 Jembrana. RESULTS AND DISCUSSION Penelitian ini menemukan bahwa pembelajaran IPAS di sekolah dasar, khususnya di MIN 7 Jembrana, masih banyak yang menggunakan metode konvensional seperti ceramah, yang berakibat pada rendahnya keaktifan dan pemahaman siswa. Sebelum dilakukan intervensi, keaktifan siswa di kelas hanya mencapai 50%, dan hasil belajarnya berada di bawah standar yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan temuan Suryani . , yang menyatakan bahwa metode pembelajaran yang tidak aktif dapat menyebabkan siswa kehilangan minat terhadap pelajaran, terutama untuk materi yang memerlukan keterlibatan langsung (Suryani, 2. Penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) dalam dua siklus penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada siswa, baik dalam hal keaktifan . %) maupun hasil belajar . ,3%). Penelitian oleh Wijaya dan Lestari . juga mendukung hasil ini, dimana PBL terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPAS, karena pendekatan ini mengharuskan siswa untuk lebih aktif mencari solusi atas masalah yang diberikan (Wijaya & Lestari, 2. Penerapan Kurikulum Merdeka yang menggabungkan IPA dan IPS menjadi IPAS di MIN 7 Jembrana membuka kesempatan untuk pendekatan yang lebih inovatif. Menurut Fadila dan Fitriyeni . , perubahan kurikulum ini memungkinkan guru untuk lebih kreatif dalam mengintegrasikan pembelajaran aktif seperti diskusi kelompok dan proyek berbasis masalah, meskipun mereka menghadapi beberapa kendala terkait kesiapan guru dan ketersediaan fasilitas pendukung (Fadila & Fitriyeni, 2. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang mempertimbangkan perbedaan gaya belajar siswa atau differentiated instruction dapat meningkatkan pemahaman Dalam penelitian yang dilakukan di SD Negeri 2 Simo. Hasanah dan Sukartono . menemukan bahwa penggunaan pendekatan ini dapat mengakomodasi keberagaman siswa dan meningkatkan partisipasi mereka dalam pembelajaran IPAS (Hasanah & Sukartono, 2. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Selain itu, penggunaan media pembelajaran yang lebih interaktif, seperti teknologi dan aplikasi pembelajaran, terbukti meningkatkan motivasi siswa. Dalam penelitian oleh Hidayaty dan Qurbaniah . , penggunaan media interaktif seperti Wordwall dapat memperbesar minat siswa untuk belajar IPAS, serta membantu mereka memahami konsep yang lebih abstrak melalui visualisasi dan interaktivitas (Hidayaty & Qurbaniah, 2. Temuan lainnya menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis refleksi dapat meningkatkan hasil belajar IPAS. Berdasarkan penelitian Abdurrochim et al. , pendekatan mindful learning yang mengajak siswa untuk merefleksikan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, berpengaruh positif terhadap pemahaman mereka, khususnya dalam materi yang berkaitan dengan geografi dan sosial budaya (Abdurrochim et al. , 2. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan pentingnya hubungan yang baik antara guru dan siswa dalam memfasilitasi pembelajaran IPAS yang efektif. Iskandar dan Wahab . menekankan bahwa lingkungan yang mendukung kolaborasi dan komunikasi terbuka antara guru dan siswa dapat meningkatkan keaktifan belajar, yang pada gilirannya meningkatkan hasil pembelajaran IPAS (Iskandar & Wahab, 2. Evaluasi pembelajaran IPAS di banyak sekolah, termasuk MIN 7 Jembrana, umumnya masih berfokus pada penilaian faktual dan hafalan. Dauly et al. menunjukkan bahwa penilaian yang hanya berfokus pada ujian tertulis kurang efektif dalam mengukur pemahaman konseptual dan keterampilan siswa dalam berpikir kritis (Dauly et al. , 2. Hal ini mengindikasikan perlunya evaluasi yang lebih holistik yang mencakup pengukuran kemampuan siswa dalam menerapkan konsep yang dipelajari dalam kehidupan nyata. Selain itu, keterbatasan fasilitas dan sumber daya di sekolah menjadi hambatan utama dalam pelaksanaan pembelajaran IPAS yang efektif. Penelitian oleh Mulyani . menunjukkan bahwa banyak sekolah di daerah pedesaan masih mengalami kesulitan dalam menyediakan alat peraga dan sumber daya pembelajaran yang memadai, yang penting untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi (Mulyani, 2. Penerapan pembelajaran proyek berbasis masalah juga terbukti meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Sri Arianti et al. dalam penelitiannya di Singaraja menemukan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberikan pengalaman praktis yang mendalam bagi siswa, dan hasil belajar mereka meningkat secara signifikan setelah dua siklus penerapan (Sri Arianti et al. , 2. Temuan lainnya menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka di rumah juga mempengaruhi keberhasilan pembelajaran IPAS di sekolah. Penelitian oleh Prasetyo . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam memberikan dukungan terhadap pembelajaran anak-anaknya di rumah, seperti mendiskusikan topik-topik yang dipelajari, dapat memperkuat pemahaman mereka terhadap pelajaran (Prasetyo, 2. Pelatihan guru dalam menggunakan metode pembelajaran aktif dan teknologi pendidikan juga ditemukan sebagai faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS. Penelitian oleh Winarti et al. menunjukkan bahwa guru yang dilatih dalam penggunaan teknologi pembelajaran dan strategi pengajaran yang berbasis aktif dapat mengimplementasikan metode yang lebih efektif dan menarik bagi siswa (Winarti et al. , 2. Namun, meskipun ada peningkatan dalam penggunaan metode baru, faktor minat belajar siswa masih menjadi tantangan. Izzatuna et al. mengungkapkan bahwa meskipun metode pembelajaran yang digunakan sudah bervariasi, rendahnya minat belajar siswa tetap menjadi masalah yang harus diatasi untuk memastikan pembelajaran IPAS efektif (Izzatuna et al. Menurut penelitian ini, penting untuk menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa agar mereka lebih tertarik untuk belajar. Akhirnya, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS, diperlukan pendekatan yang komprehensif. Metode pembelajaran aktif, penggunaan media yang tepat, keterlibatan orang tua, serta pelatihan berkelanjutan untuk guru Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 adalah beberapa elemen kunci yang dapat memperbaiki kualitas pembelajaran IPAS di sekolah Meskipun ada tantangan dalam implementasi, perubahan metodologi yang berkelanjutan dan mendalam akan dapat meningkatkan pemahaman siswa secara signifikan (Siti, 2. CONCLUSION Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran IPAS di kelas V MIN 7 Jembrana memerlukan pendekatan yang lebih interaktif dan berbasis masalah untuk meningkatkan keaktifan siswa. Pembelajaran konvensional yang hanya mengandalkan ceramah terbukti kurang efektif dalam meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi IPAS. Oleh karena itu, penerapan metode pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan pembelajaran berbasis proyek terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi siswa dan hasil belajar mereka. Penerapan metode ini tidak hanya membuat siswa lebih aktif, tetapi juga membantu mereka menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata. Selain itu, penggunaan teknologi dan media pembelajaran yang interaktif, seperti aplikasi pembelajaran dan alat peraga, memainkan peran penting dalam meningkatkan motivasi belajar Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang menarik dapat memperjelas konsep yang kompleks dan membuat pembelajaran lebih menarik. Namun, implementasi teknologi ini memerlukan kesiapan fasilitas dan pelatihan guru yang berkelanjutan. Keberhasilan pembelajaran IPAS juga dipengaruhi oleh lingkungan yang mendukung, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Hubungan yang baik antara guru dan siswa, serta keterlibatan orang tua, dapat memperkuat pembelajaran yang terjadi di sekolah. Keterlibatan orang tua dalam mendiskusikan materi yang dipelajari di rumah terbukti meningkatkan pemahaman siswa terhadap pelajaran. Akhirnya, meskipun tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan minat belajar siswa masih ada, penerapan metode pembelajaran yang lebih bervariasi dan relevan dengan kehidupan seharihari dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di masa depan. Diperlukan komitmen untuk melibatkan seluruh elemen dalam pendidikan, termasuk guru, siswa, orang tua, dan komunitas, agar pembelajaran IPAS dapat lebih efektif dan menyeluruh. REFERENCES