KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. PENGALAMAN ADAPTASI MAHASISWA ASING DALAM MENGHADAPI CULTURE SHOCK DI UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG Dessy Zaira Safitri Putri1. Mayasari2. Ana Fitriana Poerana3 1,2,3 Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Singaperbangsa Karawang. Indonesia dessyzaira@gmail. com1, mayasarikurniawan@fisip. id2, ana. fitriana@fisip. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman adaptasi mahasiswa asing dalam menghadapi culture shock selama menempuh studi di Universitas Singaperbangsa Karawang. Mahasiswa asing yang datang ke Indonesia berhadapan dengan perbedaan bahasa, kebiasaan sosial, serta pola komunikasi yang memengaruhi proses penyesuaian mereka di lingkungan akademik maupun sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan fenomenologi Alfred Schutz untuk memahami bagaimana pengalaman tersebut dimaknai dan dijalani oleh para informan. Subjek penelitian terdiri dari tujuh mahasiswa asing yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan budaya baru. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan interpretasi makna pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi mahasiswa asing berlangsung melalui proses memahami perbedaan budaya, menghadapi hambatan bahasa, menyesuaikan diri dengan pola interaksi lokal, serta membangun kenyamanan melalui dukungan sosial dari lingkungan kampus. Pengalaman tersebut tidak hanya membantu mereka mengatasi culture shock, tetapi juga membentuk pemahaman baru terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial tempat mereka hidup. Temuan ini menegaskan bahwa adaptasi budaya merupakan proses pemaknaan berkelanjutan yang dipengaruhi oleh interaksi, refleksi, dan dinamika kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Culture shock, adaptasi budaya, mahasiswa asing, fenomenologi AU PENDAHULUAN Kehadiran mahasiswa asing di perguruan tinggi Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di kampus-kampus yang mulai membuka program internasional. Kehadiran mahasiswa asing di Universitas Singaperbangsa Karawang menjadi fenomena yang baru dalam dinamika kampus. Interaksi mereka dengan lingkungan akademik dan sosial yang mayoritas dihuni mahasiswa lokal, ditambah perbedaan bahasa serta pola komunikasi masyarakat Karawang, menjadikan proses adaptasi budaya yang mereka alami penuh tantangan, terutama pada masa awal kedatangan. Universitas Singaperbangsa Karawang mulai menerima mahasiswa asing melalui International Undergraduate Program (IUP) pada tahun 2021. Meskipun demikian, keberadaan mahasiswa asing di UNSIKA belum banyak terekspos secara akademis maupun publik, sehingga pengalaman adaptasi mereka masih jarang terdokumentasi. Berbeda dengan kota-kota pendidikan besar seperti Yogyakarta atau Bandung yang memiliki lingkungan multikultural yang lebih mapan. Karawang merupakan wilayah industri dengan karakter sosial yang khas, penggunaan bahasa daerah KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. yang kuat, serta lingkungan kampus yang sebelumnya tidak terbiasa dengan interaksi lintas budaya Hingga saat ini, belum ditemukan penelitian yang secara khusus mengkaji pengalaman mahasiswa asing peserta IUP UNSIKA, terutama melalui perspektif fenomenologi Alfred Schutz untuk memahami bagaimana mereka memaknai proses adaptasi budaya. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang penting untuk diisi. Mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studinya ke Indonesia umumnya dihadapkan pada lingkungan sosial dan budaya yang berbeda dari negara asal mereka. Perbedaan bahasa, gaya komunikasi, kebiasaan hidup, hingga norma sosial membuat proses penyesuaian diri menjadi salah satu tantangan utama yang mereka hadapi. Pada fase ini, berbagai bentuk ketidaknyamanan sering muncul, khususnya ketika individu belum familiar dengan cara berinteraksi masyarakat setempat. Fenomena ini dikenal sebagai culture shock atau gegar budaya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan secara sistematis oleh antropolog Kalervo Oberg pada awal tahun 1960-an. Oberg . ebagaimana dikutip dalam Dayakisni, 2. menjelaskan bahwa culture shock muncul ketika individu memasuki budaya baru dan kehilangan petunjuk sosial yang selama ini dianggap wajar, sehingga memicu rasa bingung, cemas, atau tidak pasti dalam memahami lingkungan barunya. Menurut Littlejohn . alam Mulyana, 2. menegaskan bahwa ketidaknyamanan tersebut dapat muncul baik secara psikologis maupun fisik ketika individu harus menyesuaikan diri dengan kondisi budaya yang berbeda dari rutinitas dan pengalaman sebelumnya. Fenomena culture shock telah menjadi perhatian dalam berbagai penelitian mengenai mahasiswa asing di Indonesia. Mustofa dan Defiana . menemukan bahwa mahasiswa internasional kerap mengalami keterkejutan budaya karena perbedaan iklim, gaya hidup, kebiasaan sosial, dan kendala komunikasi. Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas akademik dan interaksi sehari-hari. Selain faktor lingkungan, hambatan bahasa menjadi bagian penting dari pengalaman keterkejutan budaya, seperti yang dijelaskan oleh Maizan et al. bahwa perbedaan pelafalan, intonasi, hingga variasi bahasa lokal dapat menimbulkan perasaan terasing dan stres bagi pendatang baru. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa culture shock muncul sebagai respons emosional, kognitif, dan sosial ketika individu berhadapan dengan budaya yang Mahasiswa asing di Universitas Singaperbangsa Karawang berasal dari latar budaya yang beragam dan membawa pengalaman sosial yang berbeda-beda ketika memasuki lingkungan baru. Mereka perlu menyesuaikan diri dengan penggunaan bahasa Indonesia, pola interaksi masyarakat Karawang, serta kebiasaan sosial yang berbeda dari negara asal mereka. Sebagaimana dikemukakan Jefriyanto et al. , mahasiswa yang berasal dari latar budaya berbeda perlu memahami pola komunikasi dan kebiasaan lokal untuk membangun hubungan sosial secara efektif. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses adaptasi di lingkungan kampus memiliki dinamika tersendiri, terlebih bagi mahasiswa asing yang berhadapan dengan perubahan budaya yang lebih kompleks dibandingkan mahasiswa dari daerah lain di Indonesia. Untuk memahami proses tersebut secara lebih mendalam, penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Schutz memandang bahwa tindakan manusia selalu berkaitan dengan makna subjektif yang dibentuk melalui pengalaman hidup dan interaksi sehari-hari (Nindito, 2. Perspektif ini membantu melihat bagaimana mahasiswa asing menafsirkan pengalaman mereka ketika menghadapi perbedaan budaya serta bagaimana pemaknaan tersebut memengaruhi proses adaptasi yang mereka jalani. Berangkat dari pemahaman tersebut, penelitian ini bertujuan menggambarkan pengalaman adaptasi mahasiswa asing dalam menghadapi culture shock selama menjalani kehidupan akademik dan sosial di Universitas Singaperbangsa Karawang. AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan landasan teori fenomenologi Alfred Schutz untuk mengkaji pengalaman adaptasi budaya mahasiswa saat menghadapi culture Schutz menekankan bahwa setiap individu membangun makna subjektif dari pengalaman KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. yang dijalani dalam interaksi sosial sehari-hari, termasuk ketika mereka menyesuaikan diri dengan budaya yang berbeda (Suhaimi, 2. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa asing yang sedang atau pernah menempuh studi di Universitas Singaperbangsa Karawang. Objek penelitian mencakup pengalaman adaptasi mereka dalam menghadapi culture shock di lingkungan akademik maupun sosial kampus. Penelitian dilaksanakan di Universitas Singaperbangsa Karawang sebagai tempat para informan menjalani aktivitas sehari-hari selama masa studi. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman semi-terstruktur yang memberikan ruang bagi informan untuk menceritakan pengalaman secara bebas namun tetap terarah. Wawancara dilakukan melalui tatap muka di lingkungan kampus maupun asrama mahasiswa, serta secara daring melalui Google Meet sesuai ketersediaan informan. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi berupa catatan penelitian, transkrip wawancara, arsip pendukung, serta literatur yang relevan mengenai culture shock, adaptasi budaya, dan fenomenologi. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menerapkan triangulasi sumber dengan membandingkan informasi dari wawancara mendalam dengan transkrip, catatan lapangan, dan dokumen pendukung lainnya. Peneliti juga melakukan member checking dengan mengonfirmasi kembali ringkasan wawancara kepada informan untuk memastikan bahwa interpretasi yang disusun sesuai dengan pengalaman mereka. Selain itu, peneliti mendokumentasikan rekaman wawancara, transkrip, dan catatan analisis sebagai bukti pendukung yang memperkuat konsistensi, transparansi, dan akurasi proses penelitian. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan secara sengaja berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki pengalaman yang paling relevan dengan fokus penelitian. Teknik ini memungkinkan peneliti memperoleh data yang mendalam dari individu yang dianggap paling memahami fenomena yang dikaji (Firmansyah & Dede, 2. Berdasarkan pertimbangan tersebut, informan dipilih menggunakan kriteria tertentu, yaitu: mahasiswa atau mahasiswi asing yang pernah atau masih terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang. memiliki pengalaman langsung menghadapi culture shock dalam proses adaptasi akademik maupun sosial. telah menempuh studi minimal satu semester sehingga memiliki pengalaman adaptasi yang memadai. Proses wawancara dilakukan secara sukarela, tidak memaksa, dan menghargai keputusan informan dalam berbagi pengalaman. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh mahasiswa asing yang sedang atau pernah menempuh studi di Universitas Singaperbangsa Karawang. Mereka berasal dari enam negara, yaitu Mali. Yaman. Myanmar. Kazakhstan. Sri Lanka, dan Pakistan. Pemilihan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling berdasarkan kesesuaian pengalaman mereka dengan fokus penelitian, yaitu pengalaman menghadapi culture shock selama proses adaptasi akademik maupun Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi Alfred Schutz. Karena fenomenologi Schutz berakar pada prinsip fenomenologi, analisis data dalam penelitian ini menerapkan tiga tahapan utama, yaitu intensionalitas kesadaran, epoche, dan reduksi Tahap pertama, intensionalitas kesadaran, digunakan untuk memahami bagaimana perhatian dan pengalaman informan diarahkan pada fenomena culture shock dan proses adaptasi. Tahap kedua, epoche, dilakukan dengan menangguhkan prasangka serta asumsi pribadi agar peneliti dapat memahami pengalaman informan secara objektif dan apa adanya. Tahap ketiga, reduksi fenomenologis, dilakukan dengan menyederhanakan dan mengelompokkan data untuk melihat inti makna yang tercermin dalam pengalaman para informan. Dalam penerapannya, ketiga prinsip tersebut diwujudkan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan perumusan makna inti. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi pernyataan penting dalam transkrip wawancara dan mengelompokkannya ke dalam kategori awal yang relevan. Penyajian data dilakukan dengan menyusun kutipan informan dan penjelasan singkat yang menunjukkan pola pengalaman secara jelas dan runtut. Selanjutnya, perumusan makna inti KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. dilakukan dengan menafsirkan temuan-temuan tersebut guna memperoleh pemahaman mendalam mengenai cara mahasiswa asing membangun makna atas pengalaman adaptasi budaya. Melalui rangkaian tahapan tersebut, analisis tetap selaras dengan prinsip fenomenologi sosial Alfred Schutz yang menekankan pembentukan makna subjektif melalui pengalaman dan interaksi sehari-hari. AU HASIL DAN ANALISIS Dalam pendekatan fenomenologi Alfred Schutz, pengalaman menjadi dasar bagi individu untuk memahami situasi yang mereka hadapi. Schutz menegaskan bahwa makna muncul dari proses seseorang menafsirkan pengalaman dan interaksi sehari-hari, karena Aupengalaman sosial partisipan membentuk maknaAy (Kusumaningrum et al. , 2. Perspektif ini membantu melihat bagaimana mahasiswa asing menata pengalaman mereka ketika berusaha beradaptasi dengan lingkungan budaya baru. Perbedaan budaya yang mereka temui sejak kedatangan membuat mahasiswa asing perlu menyesuaikan diri dengan berbagai kebiasaan dan pola komunikasi yang berbeda dari negara Adaptasi ini tampak dari bagaimana mereka merespons situasi sehari-hari yang terasa asing dan berupaya memahami konteks sosial di sekitar kampus. Hal-hal sederhana seperti gaya berinteraksi, kebiasaan makan, dan ekspresi sosial menjadi bagian dari proses mereka mengenali lingkungan baru dan belajar menempatkan diri di dalamnya. Sebelum memasuki proses adaptasi, penting dipahami bahwa mahasiswa asing terlebih dahulu menghadapi berbagai bentuk culture shock ketika memasuki lingkungan sosial dan akademik di Universitas Singaperbangsa Karawang. Devinta . menjelaskan bahwa culture shock biasanya dipicu oleh perbedaan nilai-nilai, kebiasaan, dan cara hidup, yang menimbulkan rasa bingung dan ketidaknyamanan pada tahap awal berada di budaya baru. Kondisi tersebut tampak pada para informan yang mendapati perbedaan bahasa, ekspresi sosial, hingga gaya hidup yang tidak selalu sesuai dengan pengalaman budaya mereka sebelumnya. Bentuk culture shock ini tidak hanya muncul dari perbedaan besar, tetapi juga dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, cara orang Indonesia berinteraksi, kebiasaan makan yang berbeda, hingga cara menunjukkan ekspresi sosial. Reaksi awal seperti bingung, takut salah, atau merasa tidak tahu harus bersikap bagaimana menjadi pengalaman yang hampir seluruh informan rasakan. Namun, culture shock tersebut kemudian menjadi titik awal bagi mereka untuk memahami konteks budaya baru, melakukan penyesuaian, dan mulai membangun kenyamanan selama menjalani aktivitas sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa asing di Universitas Singaperbangsa Karawang mengalami proses adaptasi yang berjalan dinamis dan dipengaruhi oleh pengalaman sehari-hari mereka di lingkungan sosial dan akademik kampus. Tantangan yang paling banyak mereka hadapi adalah hambatan bahasa. Mahasiswa dari Yaman. Myanmar, dan Pakistan mengungkapkan bahwa pada masa awal kedatangan, mereka kesulitan memahami Bahasa Indonesia sehingga membutuhkan dukungan aplikasi penerjemah dan bantuan teman lokal. Hambatan bahasa menjadi tantangan yang paling sering muncul dalam pengalaman Sarah dan Bian, mahasiswa asal Yaman, mengaku kesulitan memahami Bahasa Indonesia sehingga pada awalnya hanya mengandalkan Google Translate untuk percakapan sederhana. Aung, mahasiswa asal Myanmar juga merasakan hal serupa dan sering mengamati bagaimana teman-temannya berkomunikasi agar memahami konteks interaksi yang terjadi. Proses memahami bahasa ini menjadi cara mereka belajar membaca situasi sosial dan menyesuaikan diri dengan ritme komunikasi yang lebih santai dan ekspresif dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Karawang. Selain bahasa, perbedaan kebiasaan sosial menjadi bagian dari culture shock. Aruzhan dari Kazakhstan mengatakan ia cukup terkejut dengan kebiasaan makan masyarakat Indonesia yang selalu mengonsumsi nasi sehari-hari, merupakan sesuatu yang tidak umum bagi dirinya. Sementara itu. Oumar dari Mali menghadapi situasi yang berbeda dari norma sosial yang ia kenal, terutama ketika melihat perempuan atau anak-anak yang merokok di ruang publik, yang dianggap tidak biasa di negara asalnya. Pengalaman-pengalaman ini pada awalnya menimbulkan kebingungan, namun perlahan dipahami sebagai bagian dari pola hidup masyarakat Indonesia yang perlu ia terima dan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Devinta et al. menyebut proses ini sebagai bagian dari upaya penyesuaian terhadap Auaturan tak tertulisAy dalam budaya baru. Interaksi sosial juga menjadi ruang penting bagi para mahasiswa ini untuk membangun pemahaman terhadap budaya lokal. Kalani dari Sri Lanka menyampaikan bahwa dukungan sosial dari teman-teman di kampus membuatnya merasa diterima dan lebih berani berinteraksi. Hal serupa dialami Hamdan dari Pakistan yang belajar memahami gaya komunikasi lokal, terutama ketika melihat interaksi antara laki-laki dan perempuan yang lebih terbuka dibandingkan negaranya. Keramahan dan keterbukaan mahasiswa lokal memberi ruang bagi mereka untuk merasa nyaman, mengurangi kecanggungan, dan membantu mengatasi rasa asing pada masa-masa awal tinggal di Karawang. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa asing mulai menunjukkan kemampuan adaptasi yang lebih stabil. Setelah melewati masa awal yang penuh culture shock, mereka mulai melihat kebiasaan atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat secara bijaksana dan tidak lagi hanya fokus pada Beberapa informan mengakui bahwa proses adaptasi membuat mereka menjadi lebih sabar, lebih terbuka, serta mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi sosial yang sebelumnya terasa asing. Adaptasi tidak lagi dimaknai semata sebagai upaya menyesuaikan diri, tetapi sebagai proses reflektif yang memperluas cara pandang mereka terhadap diri sendiri dan kehidupan sosial yang mereka temui di Karawang. Jika dilihat melalui perspektif fenomenologi Schutz, pengalaman adaptasi mahasiswa asing di Universitas Singaperbangsa Karawang tidak terjadi secara linier, melainkan melalui proses pemaknaan yang terus berkembang. Mahasiswa asing menafsirkan pengalaman budaya baru berdasarkan interaksi, refleksi, dan kebiasaan sehari-hari yang mereka alami. Dengan demikian, adaptasi budaya dapat dipahami sebagai proses konstruksi makna yang berkelanjutan, yang memungkinkan individu memahami dan menempatkan diri dengan lebih nyaman di lingkungan budaya yang berbeda. AU KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman adaptasi mahasiswa asing dalam menghadapi culture shock di Universitas Singaperbangsa Karawang berlangsung melalui proses pemahaman terhadap perbedaan budaya yang mereka temui sejak kedatangan hingga mereka mulai merasa nyaman berada dalam lingkungan baru. Hambatan bahasa, perbedaan kebiasaan sosial, dan pola komunikasi lokal menjadi tantangan awal yang memengaruhi cara mereka berinteraksi dan memahami situasi sehari-hari. Meskipun demikian, dukungan dari teman-teman lokal, keterlibatan dalam aktivitas kampus, serta proses observasi dan pembelajaran mandiri membantu mahasiswa asing menata strategi adaptasi yang lebih efektif. Sejalan dengan perspektif fenomenologi Alfred Schutz, pengalaman adaptasi tersebut merupakan proses pemaknaan yang dibentuk melalui interaksi, refleksi, dan interpretasi individu terhadap dunia kehidupan yang baru bagi mereka. Maka, dapat disimpulkan bahwa adaptasi bukan hanya upaya mengatasi culture shock, tetapi juga proses membangun pemahaman baru yang memperkaya pengalaman sosial, memperluas wawasan budaya, serta meningkatkan kemampuan mereka untuk hidup dan belajar di tengah keberagaman. REFERENSI