Kelola: Journal of Islamic Education Management April 2025. Vol. 10 No. 1 Hal 41 - 54 P-ISSN : 2548 Ae 4052 E-ISSN : 2685 Ae 9939 A2019 Manajemen Pendidikan Islam. https://ejournal. id/index. php/kelola PERAN ORAN TUA DALAM MENANAMKAN NILAINILAI MODERASI BERAGAMA PADA ANAK 1Zulkarnain, 2Firman, 3Syamsu Sanusi Institut Agama Islam Negeri Palopo E-mail: zulkarnain0181_mhs18@iainpalopo. Abstract This research explores the role of parents in instilling religious moderation values in children in Tawakua Village. Angkona District. East Luwu Regency. The research objectives are: . To analyze the values of religious moderation that exist in Tawakua Village. To analyze the role of parents in instilling religious moderation values in children in Tawakua Village. To analyze the supporting and inhibiting factors influencing parents in instilling religious moderation values in children in Tawakua Village This research employs descriptive qualitative approach with data collected using observation, interview, and documentation techniques. The data validity was ensured through triangulation of source and technique. The results indicate: . The values of religious moderation in Tawakua Village have been implemented through the attitudes and approaches of both parents and children in addressing differences both ethnicity and religion. The role of parents in instilling religious moderation values in children can be seen from the efforts of parents so that children can manifest moderate values in the life of religion, nation and state. The role of parents in instilling religious moderation values in children is influenced by both supporting and inhibiting factors that become opportunities and challenges in addressing differences in Tawakua Village. Keywords: parental role, religious moderation, children in Tawakua Village Abstrak Penelitian ini membahas peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak di Desa Tawakua Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur. Adapun tujuan penelitian: . Menganalisis nilai-nilai moderasi beragama yang ada di Desa Tawakua. Menganalisis peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak di Desa Tawakua. Menganalisis faktor pendukung dan penghambat orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak di Desa Tawakua. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan: . Nilai-nilai moderasi beragama di Desa Tawakua telah terimplementasikan melalui sikap dan cara orang tua maupun anak dalam menyikapi perbedaan baik itu etnis maupun agama. Peran orang tua menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak terlihat dari adanya upaya orang tua agar anak dapat memanifestasikan nilai-nilai moderat dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Peran orang tua menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak tidak terlepas dari adanya faktor pendukung dan penghambat yang menjadi peluang maupun tantangan dalam menyikapi perbedaan yang ada di Desa Tawakua. Kata kunci: peran orang tua, moderasi beragama, anak. Vol. No. April 2025 42 | Zulkarnain dkk. PENDAHULUAN Bangsa Indonesia semakin hari menghadapi permasalahan yang semakin kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Hampir semua aspek kehidupan mengalami permasalahan, seperti aspek kehidupan agama, pendidikan, politik, hukum, sosial, budaya, ekonomi dan aspek yang lainnya. Pendidikan sebagai aspek yang fundamental juga tak luput dari permasalahan. Hal di atas diperparah dengan terjadinya degradasi nilai moralitas bangsa yang sangat memprihatinkan. Di samping masih sering terjadinya kerusuhan, tawuran dan tidak kalah pentingnya adalah masalah moderasi beragama yang juga masih perlu diperhatikan. Terdapat enam isu strategis yang dijadikan latar belakang secara umum mengenai moderasi beragama, yakni: . Melemahnya ketahanan budaya dan rendahnya perlindungan hak kebudayaan. Belum mantapnya pendidikan karakter, budi pekerti, kewarganegaraan, dan kebangsaan. Belum optimalnya pemajuan kebudayaan Indonesia. Masih lemahnya pemahaman dan pengamalan nilai agama yang moderat, substantif, inklusif, dan toleran untuk memperkuat kerukunan umat beragama. Belum optimalnya peran keluarga dalam pembangunan karakter bangsa. Masih rendahnya budaya literasi, inovasi dan kreativitas. Adanya sikap dan perilaku intoleran dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat dapat terlihat dari adanya kantong-kantong intoleransi, kerawanan konflik komunal, dan elemen radikal, yang harus terus diperbaiki. Termasuk di dalamnya adalah masalah intoleransi beragama atau dalam aspek yang lebih luas, keharmonisan atau kerukunan hidup beragama. Masa depan toleransi di Indonesia tampaknya masih jauh dari kesempurnaan. Sejumlah penelitian dan kajian menunjukkan masih adanya gejala intoleransi di masyarakat. Kata moderasi sendiri mengandung makna tengah, tidak ekstrim ke kanan ataupun ekstrim ke kiri, jika dikaitkan dengan persoalan agama, maka moderasi itu bersikap yang tidak mengikuti arus ke kanan ataupun ke kiri, melainkan cara beragama hendaknya berorientasi pada aktualisasi dari pemahaman agama di jalur moderat, tidak ekstrem dan tidak berlebihan. Moderasi beragama perlu terus disampaikan kepada seluruh lapisan Mengingat banyaknya konflik yang mengatasnamakan agama. Agama yang hadir untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan justru disalahgunakan untuk merendahkan sesama manusia. Semua agama yang diakui di Indonesia mengenal ajaran moderasi Moderasi beragama dalam ajaran Kristen menjadi cara pandang untuk menengahi ekstremitas tafsir ajaran Kristen. Pada ajaran agama Hindu 1 Lukman Hakim Saifuddin. Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2. , 132. 2 Samsul Arifin. Implementasi Nilai-Nilai Religius Berbasis Moderasi Beragama Terhadap Pendidikan Pondok Pesantren, "Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Darussalam". Vol. No. , 23. 3 Musthofa. Memperkuat Moderasi Islam di Indonesia,"Jurnal Sejahtera". Vol. No. , 5. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . berkaitan dengan moderasi beragama yang terpenting adalah susila, yaitu bagaimana menjaga hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Esensi ajaran moderasi beragama dalam agama Budha dapat dilihat dari pencerahan sang Budha. Ia mengikrarkan empat Prasetya, yaitu menolak keinginan nafsu keduniawian, menolong semua makhluk, mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma, serta berusaha mencapai pencerahan sempurna. Moderasi beragama juga terdapat dalam tradisi agama Khonghucu. Umat Khonghucu yang Junzi . eriman dan berbudi luhu. memandang kehidupan ini dalam kaca mata Yin-Yang. Yin-Yang adalah sikap tengah, bukan sikap Sesuatu yang kurang sama buruknya dengan sesuatu yang lebih. Sedangkan dalam Islam sendiri terdapat konsep Wasathiyah yang memiliki persamaan makna dengan kata Tawassuth . engah-tenga. IAotidal . , dan Tawazun . Tentunya upaya dalam mengaplikasikan beberapa konsep di atas diperlukan wadah yang menjadi tempat dalam menanamkan akan pentingnya untuk mengamalkan sikap tersebut dikehidupan sehari-hari terkhususnya di suatu wilayah yang memiliki tingkat kemajemukan yang tinggi. Salah satu wadah yang memiliki peran penting ialah lingkungan keluarga yang merupakan basis pertama dan paling utama dalam memberikan pendidikan terkhususnya bagi anak. Peran orang tua terhadap pendidikan anak sangat besar, sehingga setiap orang tua dituntut untuk dapat memahami akan pentingnya pendidikan dalam kehidupan ini terutama yang berkaitan dengan pendidikan moderasi beragama, karena pada hakikatnya setiap kegiatan manusia harus didasarkan atas nilai dan ketentuan agama. Peran orang tua terhadap pendidikan moderasi beragama yakni dengan mengajarkan bagaimana anak zaman sekarang dapat menjaga martabat sesama manusia ciptaan Tuhan dan bisa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Namun, bagi orang yang ekstrem tidak jarang terjebak dalam praktik beragama atas nama Tuhan hanya untuk membela keagungannya saja seraya mengenyampingkan aspek kemanusiaan. Orang beragama dengan cara ini rela merendahkan sesama manusia atas nama Tuhan, padahal menjaga kemanusiaan itu sendiri adalah bagian dari inti ajaran agama. Sikap moderasi beragama mengembangkan kebiasaan bersabar, menghargai dan menghormati, ketika melihat adanya perbedaan. Sikap moderasi beragama dianggap sangat penting untuk diteliti, mengingat anak tumbuh didalam kebhinekaan yaitu lingkungan yang menghadirkan berbagai macam perbedaan mulai dari pendapat dan kebiasaan hidup. Anak dibiasakan menyikapi perbedaan dengan baik, seperti belajar menghargai dan tidak memaksakan kehendak. Hal inilah yang menjadi perhatian utama orang tua di Desa Tawakua kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur. 4 Edy Sutrisno. Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan, "Jurnal Bimas Islam". Vol. No. 1, . , 325. 5 Lukman Hakim Saifuddin. Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2. , 8-9. Vol. No. April 2025 44 | Zulkarnain dkk. Berdasarkan observasi awal peneliti bahwa Desa Tawakua merupakan salah satu Desa yang masyarakatnya sangat majemuk. Di Desa Tawakua terdiri dari agama Islam, kristen dan Hindu, serta terdiri dari beberapa suku diantaranya suku Bugis, suku Lombok, suku Bali, suku Jawa dan juga suku Toraja. Kemajemukan inilah yang terkadang menimbulkan terjadinya konflik horizontal terutama di kalangan pemuda. Masyarakat beragama Islam di Desa Tawakua terbilang cukup agamis. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting dalam menanamkan nilainilai moderasi beragama pada anak agar dapat bersikap toleransi serta senantiasa siap menerima perbedaan, hidup dengan damai serta menyelesaikan permasalah dengan musyawarah dan mufakat. Alasan penelitian ini dilakukan karena melihat pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama terhadap anak. Karena itu, penelitian ini menjadi penting dilakukan. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yakni sebuah prosedur dalam penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 6 Dalam penelitian ini penulis akan memberikan pemaparan yang berkaitan dengan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai. moderasi beragama pada anak di Desa Tawakua kabupaten Luwu Timur. Penelitian kualitatif deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran tentang fenomena dan kejadian tentang apa yang dialami subjek penelitian secara faktual dan sitematis. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini yakni terdiri dari data primer yaitu orang tua dan anak di Desa Tawakua kabupaten Luwu Timur. Adapun sumber data sekunder yaitu seperti buku, jurnal, makalah, dokumen serta arsip dan lain-lain. Sumber data dalam bentuk dokumentasi ini khusus dari literatur-literatur secara umum yang tertulis di Desa Tawakua kabupaten Luwu Timur untuk lebih menguatkan hasil penelitian yang nantinya akan diperoleh peneliti. Instrumen dalam penelitian ini yakni penulis sendiri (Human Instrumen. yang nantinya berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan temuannya, sehingga masalah yang diteliti menjadi jelas. Di samping penulis sebagai instrumen utama, terdapat pula instrumen untuk melengkapi datadata dan membandingkan dengan data yang telah didapatkan melalui pedoman wawancara, pedoman observasi dan dokumentasi. Adapun teknik pengumpulan data ialah melalui teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. pemeriksaan keabsahan data yakni menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Sedangkan teknik analisis data yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. 6 Zainal Arifin. Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru (Cet. i: Bandung. Remaja Rosdakarya, 2. , 141. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA Istilah moderasi beragama kerap kali diidentikkan dengan sikap Moderat dapat dipahami sebagai suatu keseimbangan terkait dengan Sikap saling menghormati terhadap orang-orang yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan senantiasa menjaga kerukunan dan menciptakan lingkungan yang toleransi. Di dalam prinsip moderasi beragama Terdapat dua hal yang saling menjaga yakni prinsip adil dan berimbang yang tergambarkan dari cara pandang sikap dan komitmen untuk selalu berpikir pada keadilan kemanusiaan dan persamaan, inilah beberapa sikap yang menggambarkan kondisi moderasi beragama di Desa Tawakua Kabupaten Luwu Timur. Desa Tawakua merupakan daerah transmigrasi yang dihuni oleh beberapa agama dan berbagai suku yang berasal dari wilayah yang berbeda Tentunya perbedaan inilah yang kemudian mendorong orang tua untuk dapat memelihara dan mewariskan kepada anak-anak mereka yang merupakan generasi masa depan dengan tetap memegang teguh arti persatuan dan kebersamaan dari perbedaan yang terdapat di Desa Tawakua. Berdasarkan indikator sikap moderasi beragama sesuai yang tercantum dalam buku moderasi beragama kebenaran yang ditulis oleh Lukmanul Hakim Saifudin. 7 terdapat beberapa indikator yang mendeskripsikan keberhasilan dalam penerapan moderasi beragama, yaitu: Komitmen kebangsaan Orang tua di Desa Tawakua sepenuhnya mendukung segala bentuk upaya pemerintah dalam menyatukan dan menghindari adanya disintegrasi di bangsa ini. Orang tua di Desa Tawakua menganggap bahwa konsep moderasi beragama yang digaungkan oleh pemerintah merupakan langkah konkrit dan mesti sepenuhnya didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia demi menjaga keutuhan negara. Oleh karenanya, nilai-nilai yang terkandung dalam konsep tersebut harus selalu dipelihara dan diwariskan kepada generasi yang akan Toleransi Adapun bebera sikap toleransi yang ada di Desa Tawakua berdasarkan hasil penlitian, yaitu: Mengakui keberadaan agama lain Mengakui keberadaan agama lain adalah pengakuan terhadap hak setiap individu dalam menjalani hidupnya berdasarkan keyakinannya. Hal yang sama tergambar pada sikap orang tua dan anak di Desa Tawakua yang menerima akan adanya perbedaan baik itu dari segi pola pikir, keyakinan, dan pandangan hidup seseorang, sehingga kesadaran akan pentingnya menghargai hak-hak setiap orang telah terlihat di Desa Tawakua Kabupaten Luwu Timur. Hal ini dibuktikan dengan adanya sikap loyalitas terhadap sesama seperti tidak membatasi pertemanan berdasarkan keyakinan dan adanya partisipasi terhadap tradisi keagamaan yang dilakukan oleh agama lain walaupun terdapat perbedaan dalam pengimplementasiannya. 7 Lukman Hakim Saifuddin. Moderasi Beragama (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2. , 43. Vol. No. April 2025 46 | Zulkarnain dkk. Tidak menghalangi ritual ibadah agama lain Keyakinan merupakan hak otoritas mutlak setiap orang yang tidak dapat diintervensi . oleh siapapun. Penghormatan terhadap keyakinan yang ditunjukkan oleh orang tua dan anak baik itu dari agama Islam. Kristen, dan Hindu di Desa Tawakua Kabupaten Luwu Timur terealisasi dengan baik hal ini ditunjukkan dengan adanya pengakuan terhadap hak setiap orang, tidak adanya sikap menghalangi ritual keagamaan agama lain, serta saling menghormati keyakinan orang lain, dalam hal ini mereka membiarkan pemeluk agama lain untuk melakukan ibadah menurut ajaran, dan ketentuan agama masing-masing, serta tidak merusak benda-benda, rumah ibadah, sesajean ataupun sesuatu yang identik dengan peribadatan. Saling mengunjungi Salah satu sikap yang paling identik dengan keagamaan seperti misalnya pada hari raya idul fitri, takziah, acara pernikahan, belasungkawa, dan hari tertentu lainnya, seperti umat muslim di Desa Tawakua sering kali mengundang umat agama yang lainnya untuk saling bersilaturahmi dan begitu pula sebaliknya, pada hari raya galungan, natal, dan sebagainya, walaupun ada batasan-batasan yang dilarang dalam agama tertentu, namun mereka tetap menunjukkan sikap untuk saling menghormati dan memahami perbedaan satu sama lain. Saling berbaur Sikap toleransi yang dilakukan oleh orang tua dan anak di Desa Tawakua ialah dengan tidak membatasi perbedaan yang ada. Hal ini ditunjukkan dengan tidak bersifat eksklusif . emisahkan dir. terhadap penganut Agama tertentu. Salah satu faktor yang mendorong rasa kebersamaan tersebut ialah tidak adanya sikap merasa sebagai tuan rumah, melainkan mereka adalah pendatang dari daerah luar yang menetap di Desa Tawakua, sehingga kesadaran untuk bersikap kooperasi . selalu dibangun demi kemaslahatan bersama. Hal inilah yang menjadi dasar pergaulan antar umat beragama di Desa Tawakua. Anti kekerasan Maraknya kasus tindakan kekerasan yang terjadi di negeri ini, mengatas namakan agama mulai dari perkelahian, kekerasan, pembataian hingga pembunuhan. Ini terjadi karena sikap ekstremisme dalam beragama yang masih di pegang sebagian orang. Seperti kasus pengeboman gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021 yang dilakukan oleh pasangan suami dan istri, konflik komunal di Poso pada tanggal 24 Desember 1998. Konflik di Maluku pada tanggal 19 Januari 1999 dan masih banyak lagi. Penganut aliran ekstrem menganggap bahwa keyakinannya harus menjadi satu-satunya pedoman kehidupan sehingga menolak dengan tegas ajaran lainnya. Jadi dapat dipahami pentingnya moderasi beragama adalah menjadi upaya untuk mengembalikan praktik beragama agar dapat sesuai dengan hakikatnya, dan agar agama benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya yaitu menjaga harkat dan martabat manusia, bukan sebaliknya. Edelweisia Cristiana. Implementasi Moderasi Beragama dalam Mencegah Radikalisme. AuProsiding Webinar Nasional IAHN-TP Palangka RayaAy. No. : 22. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . Memilih jalan moderasi dengan menolak ekstremisme dalam beragama merupakan kunci keselarasan dan keseimbangan, demi terpeliharannya peradaban dan terciptanya perdamaian. Melalui cara inilah masing-masing umat beragama dapat memberikan perlakuan kepada orang lain dengan cara yang terhormat mampu menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan keharmonisan. Sepertinya halnya yang terjadi di Desa Tawakua yang mana orang tua senantiasa mengajarkan kepada anak mereka agar senantiasa memegang teguh prinsip persatuan dan kesetaraan. Salah satu faktor terpenting yang juga memotivasi orang tua di Desa Tawakua Ialah latar belakang sosial sebagai kaum transmigrasi yang datang dari berbagai daerah, sehingga mereka tidak saling mengklaim sebagai tuan rumah. Namun sebagai pendatang yang bermukim di Desa Tawakua. Hal inilah yang tentunya membangkitkan rasa persatuan yang ditunjukkan dengan penyesuaian diri ketika berkomunikasi dan bersentuhan langsung dengan masyarakat lainnya yang memiliki perbedaan baik dari segi ritual keagamaan, etnik, budaya maupun agama. Sikap inilah yang terus dipegang dan diwariskan kepada anak di Desa Tawakua. Sikap yang ditunjukkan oleh anak di Desa Tawakuwa telah menggambarkan perwujudan dari konsep moderasi beragama dengan menghilangkan adanya sikap fanatisme terhadap golongannya sehingga menjauhkan mereka dari diskriminasi, tindakan kekerasan . dan sikap intoleran yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat. Akomodasi terhadap kebudaan lokal Menurut Budi Sunarso akomodasi adalah usaha nyata manusia untuk meminimalkan pertentangan atau konflik. 9 Berbicara mengenai agama di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, tidak jarang ditemukan adanya gesekan-gesekan sosial dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam memahami masalah keagamaan. Juga terdapat benturan pandangan keagamaan seseorang dengan budaya lokal tertentu atau bahkan dengan keyakinan yang berbeda dengan keyakinan yang dianutnya sehingga sulit menyatukan cara pandang umat beragama yang mejemuk ini. Orang tua di Desa Tawakua menyadari bahwa keyakinan merupakan suatu hal yang sifatnya sakral dan tidak dapat di campur adukkan dengan keyakinan yang lain. Dengan demikian, terdapat upaya dari pemerintah Desa dalam bentuk dialog atau mediasi dengan menghadirkan orang tua dari berbagai agama yang ada di Desa Tawakua sebagai upaya untuk menyatukan cara pandang mereka agar dapat menunjukkan sikap yang dapat saling menerima dan menghargai perbedaan terutama dalam hal pelaksaan ritual keagamaan, tradisi dan sebagainya. Dengan demikian, dialog antar budaya dan agama tentu diperlukan dalam kondisi masyarakat yang multi-etnik dan multiagama sebagai wadah integrasi sosial dan bentuk preventif atau langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya konflik sosial budaya-keagamaan yang meluas, sekalipun pelaksanaan ritual keagamaan dan budaya setiap agama berlangsung secara damai. 9 Budi Sunarso. Resolusi Konflik Sosial (Cet. Indramayu:CV Adanu Abimata,2. , 95. Vol. No. April 2025 48 | Zulkarnain dkk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan kondisi masyarakat yang majemuk di Desa Tawakua terbilang cukup damai. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap kooperasi atau saling bergotong royong dan bahkan tidak jarang ditemukan adanya keterlibatan agama lain terhadap tradisi yang dilakukan oleh agama yang lainnya pula, sekalipun sebagian tentu ada pembatasan-pembatasan tertentu yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka karena sifatnya bertentangan dengan ajaran agama yang Penulis melihat keterlibatan dan pemberbauran antar umat beragama di Desa Tawakua hanya dalam hal sosial tetapi jika berkaitan dengan peribadatan khusus dalam agama tertentu, maka hal ini tentunya dilarang dan cukup bagi mereka menerima dan saling menghormati. Karena itu, disinilah diperlukannya kehadiran moderasi beragama yang menjadi penengah diantara keberagaman, di mana para pemeluk agama dapat mengambil jalan tengah . di tengah keragaman tafsir, bersikap toleran namun tetap berpegang tegung pada hakekat ajaran agamanya. PERAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA Peran orang tua sangat berpengaruh dalam menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak. Tentunya peran ini sangat penting bagi orang tua karena kondisi masyarakat khususnya di Desa Tawakua berlatar belakang yang Berdasarkan data dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, penulis merumuskan bahwa peran orang tua dalam menumbuhkan moderasi beragama pada anak, antara lain: Memberikan pendidikan Orang tua merupakan pendidik paling utama dan pertama bagi seorang Oleh karenanya, mereka harus dapat menerapkan pendidikan moderasi beragama kepada anak yang merupakan sebuah tanggung jawab setiap orang tua. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak, hal ini karena lingkungan pertama yang dilalui anak adalah keluarga yang merupakan basis utama dalam memberikan pendidikan. Adapun bentuk pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anak sebagai upaya dalam menumbuhkan kesadaran moderasi beragama ialah seperti orang tua mengajarkan anak agar menghargai peribadan agama lain seperti yang didapatkan penulis di Desa Tawakua orang tua pada agama Kristen dan Hindu mengajarkan anak-anak mereka ketika azan berkumandang maka aktifitas diberhentikan sejenak guna mengharga umat muslim, kemudian tidak mengganggu sesajean yang dipasang oleh umat Hindu, hal ini diyakini memberikan efek terhadap moral beragama pada anak. Orang tua juga memberikan nasehat, memberikan contoh penerapan sikap saling menghargai antar umat beragama seperti bergotong-royong, dan mengajarkan untuk bersikap toleransi serta menghindarkan diri dari sikap Orientasi dalam mewujudkan sikap orang tua tersebut tentunya memiliki Syamsunardi & Nur Syam. Pendidikan Karakter Keluarga dan Sekolah (Cet. Takalar. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia, 2. , 9. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . perbedaan yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan, karena sikap moderasi esensinya ialah ajaran dari setiap agama. Memelihara dan membesarkannya Orang tua tidak hanya memiliki peran untuk membesarkan anak tetapi juga memelihara yang dalam hal ini tidak hanya sekedar fisik melainkan moral atau sikap keagamaan seorang anak seperti sikap moderat dalam beragama. Orang tua di Desa Tawakua telah berupaya untuk mewujudkan hal tersebut dengan senantiasa mengajarkan agar menjalin komunikasi yang baik terhadap agama lain serta memberikan penghormatan terhadap setiap ritual atau tradisi keagamaan dari setiap Salah satu faktor yang menjadi pendukung kerukunan umat beragama di di Desa Tawakua yakni komunikasi yang baik dan tidak ada rasa fanatisme terhadap etnik ataupun agama yang dianut. Setiap anak diberikan kebebasan untuk bersosialisasi dengan anak yang lainnya sekalipun memiliki latar belakang yang berbeda, selain itu, pada beberapa tradisi keagamaan dan perayaan besar lainnya sering kali ditemukan adanya kerjasama lintas agama, seperti pada prosesi pemakaman baik itu Islam. Kristen ataupun Hindu. Takziah, pernikahan dan di hari raya baik itu Islam. Kristen maupun Hindu serta hari besar lainnya. Melindungi dan menjamin kesehatan anak Seorang anak dengan kesehatan mental yang baik akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki integritas, selaras dengan jati diri, dan mampu menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain. ( Dewi Anggraini, 2. Karena itu, kaitannya dengan kesadaran moderasi beragama tentunya peran orang tua di Desa Tawakua dalam memelihara kesehatan mental anak yakni adalah dengan memberikan teladan terutama dalam ketaatan menjalankan ibadah yang dipercaya dapat memberikan pengaruh terhadap mental anak itu sendiri. Upaya yang juga dilakukan adalah dengan memilihkan lingkungan pendidikan formal seperti pada agama Islam yakni pondok pesantren yang mana orang tua muslim di Desa Tawakua banyak yang menyekolahkan anaknya di pondok pesantren dan juga pada agama Hindu seperti penada atau persantrian yang dijadikan sebagai wadah dalam menjaga anak dari pengaruh lingkungan luar yang dapat merusak moral atau kepribadian seorang anak. Mengajarkan anak dengan ilmu agama Praktek moderasi dalam beragama yang ditunjukkan melalui sikap kerukunan antar umat beragama merupakan bagian dari ajaran agama baik itu Islam. Kristen ataupun Hindu. Hal ini didasari pada ajaran atau tuntunan yang terdapat di dalam masing-masing kitab suci yang menjadi pedoman dalam hidup masing-masing, seperti yang tertuang di bawah ini. Sebagaimana dalam ajaran Islam selain dari Q. Al-Baqarah ayat 143 sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya juga tertuang dalam firman Allah QS. al-Kafirun/109: 1-6. a e a a ea a a a ea a a e a e a ca a e e a a a e a a a e a e a ea aa aoA OE e II aOI Ie A aoA E e I OIA aoACE OON EE aAOIA a a a a a a a ea a ca e a a ea U a aa a A EEI aOIEI OaE aO aO aIAu aA aOE e I eI a eOI aIe aA aoAaOE e I a acI a eIA Vol. No. April 2025 50 | Zulkarnain dkk. Terjemahnya: Au1. Katakanlah (Muhamma. AuWahai orang-orang kafir! 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, 3. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, 4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5. dan kamu tidak pernah . menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Ay Adapun dalam ajaran agama Kristen yang berkaitan dengan moderasi beragama tertuang dalam Matius 22:37-39. AuJawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan. Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu Ay Adapula dasar tentang moderasi beragama dalam ajaran agama Hindu terdapat dalam dalam Kitab Bhawadgita XVI-2, yang isinya. AuTidak menyakiti, benar, bebas dari nafsu amarah, tanpa keterikatan, tenang, tidak memfitnah, kasih sayang kepada sesama mahluk, tidak dibingungkan oleh keinginan, lemah lembut, sopan dan berketetepan hatiAy. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa setiap agama mengajarkan tentang pentingnya untuk saling bertoleransi dan menunjukkan Respon yang baik terhadap perbedaan. Hal inilah yang terlihat di Desa Tawakua yang mana kondisi masyarakat yang heterogen mendorong orang tua untuk memberikan pendidikan toleransi dan sikap sopan santun serta menghargai agama lain, yang mana hal itu diyakini sebagai bagian dari ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang dianut. FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT ORANG TUA YANG DALAM MENUMBUHKAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA PADA ANAK Berdasarkan pengamatan lapangan yang disertai dengan wawancara mendalam terhadap beberapa informan, menunjukkan beberapa faktor yang memengaruhi peran orang tua dalam menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak. Faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat yang dapat memengaruhi peran orang tua dalam menumbuhkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak tersebut, yaitu: Faktor penghambat . Kurangnya pemahaman tentang konsep moderasi beragama Pemahaman orang tua tentang makna dari konsep moderasi beragama masih terbilang sangat minim. Tidak semua orang tua di Desa Tawakua memahami makna dari konsep moderasi beragama melainkan hanya sebagian orang tua saja seperti mereka yang berprofesi sebagai guru ataupun pegawai pemerintahan dan sebagian orang tua pada profesi yang lain walaupun di Desa Tawakua seringkali diadakan dialog yang menghadirkan tokoh-tokoh setiap agama. Karena itu, penulis merasa upaya mempromosikan tentang konsep moderasi beragama ini tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah ataupun kampus-kampus, melainkan juga kepada masyarakat peDesaan. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . sehingga masyarakat mampu memahami arah dan maksud dari adanya konsep moderasi beragama yang digaungkan oleh pemerintah. Pengaruh lingkungan luar Adanya pergaulan bebas menjadi salah satu faktor yang menghambat upaya orang tua di Desa Tawakua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak. Hal ini disebabkan karena pergaulan bebas terkhususnya ketika anak bersekolah ke kota ataupun bekerja dan sebagainya yang mana tidak berada pada pengawasan orang tua secara langsung dapat menjadikan anak berubah dari segi kepribadian seperti mulai malas beribadah, mengenakan pakaian bebas dan menjadi sulit untuk diberikan pemahaman ataupun nasehat. Pengaruh teknologi Hadirnya media handphone yang menjadi alat yang sangat dekat dengan anak juga tidak luput dari salah satu faktor yang dapat memengaruhi anak seperti adanya tontonan yang tidak mendidik, adanya slogan-slogan yang memberikan pengajaran agama yang ekstrim ataupun radikal, dan adanya pengaruh budaya luar seperti cara berpakaian yang bebas dimana semua itu menjadi faktor yang menghambat orang tua dalam menumbuhkan sikap moderasi pada diri anak. Adanya perbedaan Zona Adanya perbedaan wilayah yang ada di Desa Tawakua membatasi interaksi antar satu suku dengan suku yang lain, sehingga keterbatasan inilah yang terkadang membuat orang tua terbatasi untuk mengenalkan kepada anak tradisi atau ritual keagamaan agama tertentu karena kurangnya bersentuhan secara langsung. Seperti misalnya dalam satu wilayah atau dusun tertentu di dominasi oleh suku Lombok begitupun ada satu Dusun yang lainnya di dominasi oleh suku Bali dan begitu pula dengan suku yang lainnya. Faktor yang mendukung . Adanya komunikasi umat beragama Fenomena terjadinya konflik sosial merupakan indikasi bahwa ada kemacetan komunikasi antarberbagai golongan dalam masyarakat yang Karena komunikasi merupakan bagian dari proses budaya, maka komunikasi dengan berbagai kiat dan pendekatannya bisa dipercaya untuk berperan meredam atau sekurang-kurangnya mengantisipasi datangnya Komunikasi sebagai suatu alat yang dapat menjembatani konflik sosial yang terjadi. Intinya adalah mencari titik temu dengan modal musyawarah, negosiasi, dan atau dialog. Meskipun kenyataannya kondisi sosial masyarakat Desa Tawakua relatif harmonis, tetapi dialog antar budaya dan agama tetap diperlukan dalam kondisi masyarakat yang multietnik dan multi agama sebagai bentuk preventif atau langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya konflik sosial budaya-keagamaan. Kerjasama lintas agama Thoha Hamim et al. Resolusi Konflik Islam Indonesia (Cet. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara, 2. , 297. Vol. No. April 2025 52 | Zulkarnain dkk. Komunikasi dialogis dan kerjasama adalah dua hal yang Tidak ada kerjasama tanpa didahului oleh suatu dialog. Dialog yang tidak berlanjut ke tahap kerjasama merupakan dialog yang parsial dan verbalisme. Jadi kerjasama lintas agama merupakan kesinambungan dari komunikasi dialogis antar umat beragama. Konsep kerjasama lintas agama dipahami sebagai aksi bersama-sama mentransformasikan masyarakat agar menjadi lebih adil, merdeka dan manusiawi. Gambar 1. 1 Momen Roadshow di Desa Tawakua memperlihatkan anak-anak dari berbagai suku diajarkan mencintai budaya. Gambar 1. 3 Momen Roadshow di Desa Tawakua memperlihatkan kerjasama lintas etnik dan agama antar orang tua. Gambar di atas merupakan salah satu tradisi yang dilakukan setiap tahunnya oleh pemerintah dan masyarakat Desa Tawakua saat menjelang hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dari perayaan tersebut terlihat jelas adanya komunikasi antar budaya dan agama yang diharapkan mampu menjaga kerukunan dan kebersamaan antar etnik dan agama yang ada di Desa Tawakua serta momentum untuk mengajarkan kepada generasi selanjutnya akan pentingnya membangun kebersamaan. Kelola: Journal of Islamic Education Management Peran Orang Tua . KESIMPULAN Nilai-nilai moderasi beragama yang dibangun orang tua kepada anak di Desa Tawakua adalah komitmen kebangsaan, menolak segala bentuk tindakan kekerasan dalam artian orang tua di Desa Tawakua mengecam keras aksi kekerasan apalagi yang berbau SARA, menunjukkan sikap toleransi seperti mengakui keberadaan agama lain, tidak menghalangi ritual ibadah agama lain, saling mengunjungi pada hari-hari biasanya ataupun momen tertentu, dan berbaur dengan yang lainnya, dan mengakomodasi kebudayaan lokal dengan menjaga tradisi kebudayaan yang telah di bawah dari kampung halaman Peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak di Desa Tawakua, antara lain: Memberikan pendidikan dengan menjadi teladan bagi anak. Memelihara dan membesarkan anak dalam artian senantiasa menanamkan sikap keagamaan yang moderat sejak dini. Melindungi dan menjamin kesehatan anak yang dalam hal ini kesehatan mental . Mengajarkan anak dengan ilmu agama, orang tua berupaya menumbuhkan kesadaran anak untuk menjalankan ajaran agamanya dengan benar. Faktor yang mendukung dan menghambat peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama pada anak antara lain: Faktor prnghambat seperti. kurangnya pemahaman Sebagian besar orang tua tentang konsep moderasi beragama sehingga pengaplikasiannya tidak secara menyeluruh, adanya pengaruh lingkungan luar, pengaruh teknologi dan faktor internal Desa Tawakua sendiri yakni perbedaan zona antar etnis dan agama. Adapun faktor pendukung. adanya komunikasi antar umat beragama dan adanya kerjasama lintas agama yang melibatkan orang tua dan anak. DAFTAR PUSTAKA