STUDI KARAKTERISTIK KOROSI PIPA DISTRIBUSI MINYAK MENTAH DARI TANGKI KE HEAT EXCHANGER PADA KILANG MINYAK PT. PERTAMINA RU. SUNGAI PAKNING Ridho Permadi. Edi Septe S. 1Mahasiswa Prodi Teknik Mesin. Fakultas Teknologi Industri. Universitas Bung Hatta Email : ridhopermadi25@gmail. 2Dosen Prodi Teknik Mesin. Fakultas Teknologi Industri. Univesitas Bung Hatta Email : edi. septe@bunghatta. ABSTRAK Industri perminyakan mengandung berbagai macam lingkungan yang dapat menimbulkan korosi,terutama pada system pemipaan yang berakibat fatal jika terjadi korosi yang menyebabkan Oleh karena itu peneliti melakukan penelitian menggunakan material yang sama dalama sisitem transportasi berupa carbon steel pipe API 5L Grade X42 dan larutan uji berupa crude oil. Pengujian dilakukan selama 144 jam,216 jam,288 jam dan 312 Jam. Setelah melakukan pengujian yang dilakukan selama 144,216,288,360 jam,dapat melihat specimen yang lebih lama terpapar crude oil dengan temperature yang konstan sebesar 40 oC dan semakin tinggi tekanan pada pemaparan maka korosinya juga semakin besar. Waktu sangat mempengaruhi dari laju korosi tersebut,dengan kata lain semakin lama kita lakukan pengujian pada specimen,makal laju korosi nya juga akan lebih besar. Laju korosi yang terjadi pada pipa distribusi minyak mentah untuk specimen A memiliki nilai laju korosi rata-rata 1,15 mmpy,specimen B rata-rata bernilai 1,02 mmpy,specimen C rata-rata bernilai 0,96 mmpy dan specimen D rata-rata bernilai 1,07 mmpy. Dari hasil laju korosi yang didapat berdasarkan tabel 2. 1 maka ketahanan spesimen terhadap laju korosi adalah Fair. Kata Kunci : Korosi pipa, carbon steel pipe API 5L Grade X42,crude oil PENDAHULUAN Indonesia kaya akan sumber daya alam konsumsi energi di Indonesia menunjukkan diantaranya yaitu minyak dan gas bumi. Salah satu penggunaan minyak bumi di Indonesia yaitu sebagai BBM atau bahan konsumsi BBM disemua sector pada tahun bakar minyak. Pemanfaatan minyak dan gas 2006 sedangkan untuk sector industri dan bumi ini terus mengalami peningkatan rumah tangga masing-masing mengkonsumsi BBM sebesar 19% dari total konsumsi. Dari penduduk,hal tersebut dapat dilihat dari 62% BBM yang dikonsumsi oleh sektor banyaknya penggunaan BBM di berbagai transportasi,78% nya adalah BBM yang sektor industry (Salahudin dkk, 2. Data BBM dikonsumsi oleh transportasi jalan (Zulfikri dkk,2. deep pitting. Tanpa adanya air CO2 tidak terjadi korosi (Sari dkk,2. II. TINJAUAN PUSTAKA Sour Corrosion Menurut Sari dkk Pada industri perminyakan dan gas bumi tidak lepas dari peristiwa korosi,baik yang berhubunngan langsung dengan distribusi . minyak maupun air. Pada umum nya korosi ditemukan pada kondisi yang kompleks di produksi,proses dan jaringan pipa minyak dan gas (Zaabi,2. Di bawah ini akan dijelaskan macam-macam kerusakan akibat korosi pada industri pengolahan minyak,diantaranya: corrosion disebabkan oleh adanya karat pada permukaan logam karena Sweet Corrosion Sweer Corrosion adalah jenis korosi yang terjadi tanpa hidrogen sulfida tingkat tinggi atau jenis sulfida Karbon dioksida dan asam karbonat biasanya menjadi penyebab sweet corrosion . Korosi manis . weet hydrogen sulfida (H2S) dan air,jika tidak ada air maka korosi tidak terjadi,jika terdapat air maka H2S akan terionisasi dan menjadi bersifat Korosi asam . our corrosio. adalah degradasi atau pembentukan adanya lingkungan yang sangat asam yang mengandung hidrogen sulfida. Korosi asam dapat menyebabkan pada tingkat tegangan kurang dari kekuatan luluh . com/2017/sour -corrosio. minyak, penyimpanan minyak, dan Crude oil dan gas alam membawa industri transportasi minyak untuk beberapa zat kotor alami seperti karbon membedakan antara korosi yang dioksida (CO. ,hydrogen sulphide (H2S) dan disebabkan oleh bahan bakar fosil air bebas yang membawa sifat korosif yang mengandung sulfida dalam (Zaabi,2. Berikut adalah unsur Ae unsur jumlah tinggi dan yang tidak terdapat yang dibawa oleh crude oil yang dapat menyebabkan korosi: com/2017/swe et-corrosio. Karbon dioksida dapat Oksigen Menurut Al-Janabi,. minyak,serangan terjadi karena oksigen yang sangat Normalnya,oksigen tidak ada pada kedalaman 100 m . dibawah permukaan. Kontaminasi oksigen seperti yang terjadi pada fasilitas yang digunakan untuk proses minyak yang beroperasi dari tekanan Masuknya oksigen bisa bocor,kerusakan selongsong. dan pada penanganan mud pits selama Oksigen memiliki sifat unik,seperti Karbondioksida (CO. Pada saat karbondioksida berada didalam air maka akan terbentuk asam karbonta (H2CO. yang dapat mengakibatkan penurunan pH air dan meningkatkan korosifitas, biasanya dalam air maka akan terbentuk asam (H2CO. secara umum reaksinya adalah: CO2 H2O IeH2CO3Fe H2CO3 IeFeCO3 H2 . Korosi yang dihadapi pada produksi minyak dan gas secara tidak langsung dapat Oksigen memiliki kelarutan yang rendah dalam air dan air garam,ini menjelaskan mengapa pada transport pembatas laju korosi dalam reaksi korosi karbon dan baja paduan pada lingkungan yang tidak asam. bentuk korosi nya berupa pitting yang meningkatkan korositifitas,biasanya O2 H2O 2e- Ie2OH- . jika karbondioksida dilarutkan berikut,sebagai contoh: (Ramadhan,2. Menurut Tiurlina dengan reduksi kinetic yang relatif waktu,perbaikan kontruksi dan berkaitan dengan manajemen korosi yang dilakukan oleh personil seta konsekuensi keselamatan dan lingkugnan (Al-Janabi,2. METODOLOGI PENELITIAN Waktu pelaksaan dilakukan di ruangan pendingin Universitas Bung Hatta perubahan berat . dengan waktu yang telah di tetapkan. Waktu Density Kehilangan Luas Spesimen Perendaman Spesimen Berat Permukaan . ( Ja. r/cm. Laju Korosi . A Perhitungan Laju Korosi Laju korosi specimen A Diketahui data yang didapatkan: yow : 0,01 Gram ya : 8,76 x 104 . Diagram Alir penelitian ya : 7,86 g/cm3 i. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan tahap percobaan akan perlengkapan sebelum dilaksanakannya penelitian laju korosi pada pipa. Alat dan bahan yang dibutuhkan yaitu . carbon steel pipe API 5L Grade X42, hot plate stirrer,jangka sorong,gelas ukur,gerinda potong,crude oil dan bor tangan. Data hasil pengujian carbon steel pipe API 5L Grade x42 yang dipakai sebagai pipa distribusi crude oil pada larutan uji berupa crude oil dengan suhu 40 oC. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilaksanakan dengan memfariasikan waktu ,maka dapat diperoleh data sebagaimana diperlihatkan pada tabel data hasil pengujian. Dari data tersebut didapatkan hasil selisih antara yayc : P x L ( 2x1= 2 CM2 ) yc : 144 jam yow. ya yaycEycI = ya. yc ycoycoycyyc yaycEycI = 0,01 yciycycayco. 8,76ycu104 ycoycoycyyc yci 7,86 AEycayco3 . 144 ycycayco yaycEycI = 2263. 68 = 0,38 ycoycoycyyc Laju korosi specimen B yow. ya Diketahui data yang didapatkan: yaycEycI = ya. yc ycoycoycyyc . yow : 0,03 Gram ya : 8,76 x 104 . yaycEycI = 0,06 yciycycayco. 8,76ycu104 ycoycoycyyc yci 7,86 AEycayco3 . 288 ycycayco ya : 7,86 g/cm3 yayc : P x L ( 2x1= 2 CM2 ) yc : 216 jam yaycEycI = = 1,16 ycoycoycyyc 4527,36 Laju korosi specimen D Diketahui data yang didapatkan: yow : 0,07 Gram yow. ya yaycEycI = ya. yc ycoycoycyyc ya : 8,76 x 104 . yaycEycI = 0,03 yciycycayco. 8,76ycu104 ya : 7,86 g/cm3 ycoycoycyyc yci 7,86 AEycayco3 . 216 ycycayco yayc : P x L ( 2x1= 2 CM2 ) yaycEycI = 3395,52 = 0,77 ycoycoycyyc yc : 312 jam Laju korosi specimen C Diketahui data yang didapatkan: yow : 0,06 Gram yow. ya yaycEycI = ya. yc ycoycoycyyc . ya : 8,76 x 104 . ya : 7,86 g/cm3 yayc : P x L ( 2x1= 2 CM2 ) yaycEycI = 0,07 yciycycayco. 8,76ycu104 ycoycoycyyc yci 7,86 AEycayco3 . 312 ycycayco : 288 jam yaycEycI = 4904,64 = 1,25 ycoycoycyyc Grafik Kehilangan Berat Sepsimen terhadap Waktu Perendaman corrosion rate, mmpy weight loss, gr immersion time, hr Laju Korosi per Tahun berdasarkan Waktu Perendaman immersion time, hr Data hasil pengujian korosi pipa dalam larutan minyak mentah memperlihatkan bahwa pengujian yang dilakukan selama waktu yang sama untuk tiga spesimen bervariasi, seperti terlihat pada grafik. Berdasarkan data kehilangan berat spesimen terhadap waktu perendaman, dapat dianalisis laju korosi specimen selama satu tahun. Hasil perhitungan yang dilakukan A Tabel Hasil Pengolahan Data dan Grafik dengan persamaan: Dari Analisa yang telah dilakukan dengan menggunakan persamaan Corrosion Rate ( Laju Koros. didapatkan hasil yang dapat dilihat pada tabel dibwah ini. Corrotion Rate = (AEw. K) / (D. , mmpy Dimana: Dari tabel diatas dapat kita lihat specimen A dan B merupakan pengujian yang dilakukan dalam satu wadah dan terkena suhu konstan dari temperature titik beku crude oil hingga mencapai temperature titik tuang . our poin. pada crude oil. Didapatkan sebuah grafik perbandingan dari laju korosi dengan waktu seperti gambar dibawah ini. AEw = kehilangan berat, gram = konstanta: 8,76X104 = Density Spesimen: 7,86 gr/cm3 = Luas permukaan specimen, cm2 = waktu perendaman, jam corrosion rate, mmpy immersion time, hr Tampak akhir dari specimen B dengan paparan selama 216 jam pasca pengujian. berdasarkan waktu perendaman , seperti diperlihatkan pada Gambar Rata-rata laju Pada specimen C diperlakukan pengujian selama 288 jam dan nilai laju korosi paling rendah. Pada specimen C rata-rata penurunan berat specimen adalah sebesar 0,05 gr. Morfologi Spesimen Pasca Pengujian A Pada specimen A terpapar selama 144 jam dan mendapatkan temperature konstan,oleh sebab itu laju korosi yang dihasilkan sangat besar. Pada specimen A rata-rata pengurangan berat specimen adalah sebesar 0,03 gr. Tampak akhir dari specimen C dengan paparan selama 288 jam pasca pengujian. Pada specimen D diperlakukan pengujian selama 312 jam dan nilai laju korosi kembali naik. Pada specimen D rata-rata penurunan berat specimen adalah sebesar 0,06 gr. Tampak akhir dari specimen A dengan paparan selama 144 jam pasca pengujian. Pada specimen B diperlakukan pengujian selama 216 jam dan nilai laju korosi turun. Pada specimen B rata-rata penurunan berat specimen adalah sebesar 0,03 gr. Tampak akhir dari specimen D dengan paparan selama 312 jam pasca pengujian. V KESIMPULAN Setelah melakukan pengujian yang dilakukan selama 144,216,288,360 jam,dapat melihat specimen yang lebih A A A A lama terpapar crude oil dengan temperature yang konstan sebesar 40 oC dan semakin tinggi tekanan pada pemaparan maka korosinya juga Waktu tersebut,dengan kata lain semakin lama specimen,makal laju korosi nya juga akan lebih besar. Berdasarkan hasil pengujian,jenis korosi yang terjadi pada pipa distribusi minyak mentah adalah korosi sumuran dan korosi aliran. Laju korosi yang terjadi pada pipa distribusi minyak mentah untuk specimen A memiliki nilai laju korosi rata-rata 1,15 mmpy,specimen B ratarata bernilai 1,02 mmpy,specimen C ratarata bernilai 0,96 mmpy dan specimen D rata-rata bernilai 1,07 mmpy. Dari hasil laju korosi yang didapat berdasarkan 1 maka ketahanan spesimen terhadap laju korosi adalah Fair Metode pengendalian korosi yang diterapkan dengancara menambahkan coating pada dinding pipa distribusi minyak mentah. Pada pengujian yang dilakukan terlihat terjadi pengurangan ketebalan dinding Pengurangan specimen tersebut akibat adanya kontak antara pipa dengan larutan crude oil yang disimulasikan mengalir. Afandi. Arief. , & Amiadji. Analisa Laju Korosi pada pelat baja Karbon dengan Variasi ketebalan Jurnal Teknik ITS, 4. G1G5. AGUSTIN. Perbandingan Karbon Aktif dari Ampas Tebu dan Tongkol Jagung sebagai Adsorben Logam Cu pada Limbah Tumpahan Minyak Mentah (Crude (Doctoral Oi. Politeknik Negeri Sriwijay. Al-Janabi. An overview of corrosion in oil and gas industry: Corrosion Inhibitors in the Oil and Gas Industry, . Al-Jaroudi. Ul-Hamid. , & AlGahtani. Failure of crude oil pipeline due to microbiologically Engineering. DAFTAR PUSTAKA