TEMATIK Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Januari 2026, pp. 71 Ae 78 e-ISSN: 2775-3360 https://journals. id/index. php/tematik npage 71 Edukasi Mitigasi Banjir Berbasis Augmented Reality Untuk Komunitas Berkelanjutan Dewi Purnamasari*1. Soraya Rosna Samta2. Rizal Ichsan Syah Putra3. Nely Zulfa4. Ahmad Riki Andreas5 Universitas Ivet 09@gmail. com1,soraya. rs@ivet. id2,rizal. ichsan@ivet. id3,nely. zulfa89@gmail. andreas@gmail. Informasi Artikel Abstrak Diterima : 02-12-2025 Direview : 10-12-2025 Disetujui : 30-01-2026 Edukasi masyarakat mengenai mitigasi bencana banjir seringkali terkendala oleh metode konvensional yang kurang interaktif. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan bencana pada kelompok masyarakat melalui media edukasi inovatif berbasis teknologi. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif yang meliputi ceramah, diskusi interaktif, dan fokus utama pada demonstrasi serta penggunaan aplikasi Augmented Reality (AR) yang dirancang khusus untuk simulasi mitigasi banjir. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang anggota kelompok pemberdayaan Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang signifikan, diukur melalui pre-test dan post-test, dimana skor rata-rata meningkat dari 26,67% menjadi 87,5%. Umpan balik kualitatif juga menunjukkan antusiasme yang tinggi, dengan 95% peserta menyatakan metode pembelajaran berbasis AR lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan penyuluhan biasa. Simpulan dari program ini adalah teknologi AR sangat efektif sebagai media edukasi partisipatif dalam meningkatkan kesiapsiagaan komunitas terhadap bencana banjir. Pendekatan inovatif ini direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas di wilayah rawan bencana lainnya guna membangun komunitas yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Kata Kunci Augmented Reality. Edukasi Partisipatif. Kesiapsiagaan Bencana. Komunitas Berkelanjutan. Mitigasi Banjir. PENDAHULUAN Bencana hidrometeorologi, khususnya banjir, merupakan tantangan serius bagi kawasan perkotaan di Indonesia yang memiliki curah hujan tinggi dan mengalami perubahan tata guna lahan yang pesat. Peningkatan frekuensi dan intensitas banjir tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa dan mengganggu stabilitas sosial-ekonomi masyarakat. Upaya mitigasi bencana secara tradisional seringkali berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, namun aspek kesiapsiagaan dan ketangguhan komunitas seringkali belum menjadi prioritas utama. Padahal, kapasitas masyarakat untuk merespons bencana secara mandiri adalah kunci untuk meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan (Prayoga et al. , 2. e-ISSN: 2775-3360 Salah satu elemen krusial dalam membangun kapasitas tersebut adalah melalui edukasi mitigasi bencana yang efektif. Namun, program edukasi yang ada saat ini mayoritas masih menggunakan metode konvensional seperti ceramah atau penyebaran brosur. Metode ini cenderung pasif, satu arah, dan seringkali gagal menarik minat serta menanamkan pemahaman yang mendalam pada masyarakat (Sari & Wibowo, 2. Akibatnya, tingkat literasi bencana di kalangan masyarakat tetap rendah, dan pengetahuan yang didapat tidak selalu berhasil diubah menjadi tindakan nyata saat terjadi bencana. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sebuah inovasi dalam metode penyampaian edukasi bencana. Perkembangan teknologi digital membuka peluang untuk menciptakan media pembelajaran yang lebih interaktif, visual, dan imersif. Salah satu teknologi yang sangat potensial adalah Augmented Reality (AR). AR memungkinkan pengguna untuk memvisualisasikan objek atau skenario virtual dalam lingkungan nyata melalui perangkat seperti ponsel pintar (Putra & Nugroho, 2. Dalam konteks mitigasi banjir. AR dapat digunakan untuk mensimulasikan ketinggian air, menunjukkan jalur evakuasi yang aman secara visual, atau mengilustrasikan cara mengamankan barang-barang berharga. Pendekatan ini mengubah peserta dari pendengar pasif menjadi partisipan aktif yang dapat berinteraksi langsung dengan materi pembelajaran. Berdasarkan analisis kebutuhan pada salah satu kelompok pemberdayaan perempuan di wilayah perkotaan yang sering terdampak banjir, ditemukan bahwa mereka belum pernah mendapatkan pelatihan mitigasi bencana yang memanfaatkan teknologi interaktif. Kelurahan Wonosari merupakan salah satu wilayah administratif di Kecamatan Ngaliyan. Kota Semarang, yang secara geografis memiliki kontur wilayah bervariasi antara dataran rendah dan area yang berbukit. Kelurahan Wonosari. Kecamatan Ngaliyan. Kota Semarang, merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana banjir, terutama pada musim Tingginya intensitas curah hujan, perubahan tata guna lahan, dan sistem drainase yang kurang optimal menyebabkan genangan air rutin terjadi di beberapa RT/RW. Dampak banjir tidak hanya merusak sarana dan prasarana, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk di sektor pendidikan, kesehatan, dan perekonomian keluarga. Di tengah kondisi tersebut, peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mitigasi dan penanggulangan banjir. Salah satu kelompok yang memiliki peran strategis adalah ibuibu PKK. Sebagai kader, mereka dekat dengan warga, terutama ibu rumah tangga, anak-anak, dan lansia kelompok yang paling rentan saat bencana. Ibu-ibu PKK tidak hanya berperan sebagai edukator lingkungan, tetapi juga sebagai penggerak gotong royong, penyebar informasi tanggap darurat, pendamping kelompok rentan, dan pengelola posko saat terjadi Kehadiran kader PKK di Kelurahan Wonosari menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi banjir. Melalui edukasi, koordinasi, dan aksi nyata, mereka dapat membantu meminimalkan dampak bencana serta membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi. Oleh karena itu, pemberdayaan ibu-ibu PKK sebagai kader dalam mitigasi banjir menjadi bagian integral dari upaya menciptakan lingkungan yang aman, tangguh, dan berdaya dalam menghadapi risiko Ibu-ibu PKK sebagai kader memiliki peran strategis dalam mitigasi banjir melalui edukasi lingkungan, penggerakan gotong royong, penyebaran informasi tanggap darurat, dan pendampingan kelompok rentan. Namun, upaya edukasi dan sosialisasi tradisional sering TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 terbatas pada media cetak atau tatap muka, sehingga pemahaman warga terhadap risiko dan langkah mitigasi terkadang kurang maksimal. Untuk meningkatkan efektivitas edukasi, teknologi Augmented Reality (AR) dapat AR memungkinkan penyajian informasi secara interaktif, visual, dan real-time, misalnya simulasi genangan banjir, jalur evakuasi, atau panduan tindakan aman saat banjir. Dengan kombinasi peran ibu-ibu PKK sebagai kader dan media AR, masyarakat dapat lebih mudah memahami risiko, langkah mitigasi, serta siap tanggap saat banjir terjadi. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif warga, sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana banjir. Oleh karena itu Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Ivet memberikan pelatihan edukasi mitigasi bencana banjir berbasis Augmented Reality. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, anak-anak, dan lansia, mengenai risiko banjir di Kelurahan Wonosari. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat peran ibu-ibu PKK sebagai kader dalam memberikan edukasi, menggerakkan partisipasi warga, serta mendampingi kelompok rentan saat banjir. Dengan memanfaatkan teknologi AR, edukasi ini diharapkan menjadi lebih interaktif, menarik, dan mudah dipahami, sehingga informasi mengenai mitigasi banjir dapat tersampaikan secara efektif dan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi bencana. Berdasarkan permasalahan diatas maka diperlukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjudul AuEdukasi mitigasi bencana banjir berbasis Augmented Reality untuk komunitas berkelanjutanAy. METODE Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan pelatihan partisipatif . articipatory trainin. yang melibatkan mitra secara aktif dalam setiap tahapan. Pendekatan ini dipilih untuk memastikan adanya transfer pengetahuan dan teknologi yang efektif serta berkelanjutan. Tahapan kegiatan dibagi menjadi tiga bagian utama. Tahap pertama adalah pra-pelaksanaan, yang meliputi koordinasi mendalam dengan pimpinan kelompok masyarakat untuk memetakan permasalahan spesifik, menganalisis tingkat pemahaman awal, dan menyusun materi edukasi yang relevan. Tahap kedua adalah pelaksanaan kegiatan, yang dirancang dalam format lokakarya interaktif selama satu hari. Sesi lokakarya terdiri dari tiga bagian: . penyampaian materi konseptual mengenai risiko, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana banjir. demonstrasi dan praktik langsung penggunaan aplikasi Augmented Reality oleh seluruh peserta menggunakan ponsel pintar masing-masing. sesi diskusi dan tanya jawab untuk menggali pemahaman serta mendapatkan umpan balik. Tahap ketiga adalah evaluasi, dimana efektivitas kegiatan diukur secara kuantitatif menggunakan instrumen pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta. Selain itu, evaluasi kualitatif juga dilakukan melalui lembar umpan balik untuk mengukur tingkat kepuasan, kemudahan penggunaan teknologi, dan persepsi peserta terhadap metode pelatihan. Tahap kegiatan pengabdian dapat ditunjukkan pada Gambar 1. Tahap 1 (Pra Pelaksanaa. Tahap 2 (Pelaksanaan Kegiata. Tahap 3 (Evaluas. Gambar 1. Tahap kegiatan pengabdian TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Pada Gambar 1 menjelaskan Tahap pertama Pra Pelaksanaan koordinasi mendalam dengan mitra Kelurahan Wonosari dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan Kepala Kelurahan Wonosari yang dilakukan pada tanggal 11 Juli 2025. Tujuan utama dari FGD adalah untuk memperoleh gambaran menyeluruh terkait capaian kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan, sekaligus mengidentifikasi permasalahan yang muncul di Masyarakat berkaiatan mitigasi banjir melalui edukasi media interaktif AR dengan simulasi pada saat banjir. FGD dengan Kepala Kelurahan Wonosari dapat ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. FGD dengan Kepala Kelurahan Wonosari Pada Gambar 2 menjelaskan FGD yang sudah dilaksanakan dengan tim pengabdian Universitas Ivet yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dengan Kepala Kelurahan Wonosari. Tahap ke dua Pelaksanaan Kegiatan terdiri dari penyampaian materi konseptual mengenai risiko, mitigasi, dan kesiapsiagaan bencana banjir. Materi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada kader PKK, mengenai pentingnya pengelolaan risiko bencana secara Materi risiko bencana banjir disampaikan dengan menekankan pada faktor penyebab, potensi kerugian, serta dampak sosial-ekonomi yang mungkin ditimbulkan. Pada bagian mitigasi, peserta diajak memahami langkah-langkah strategis untuk mengurangi risiko, baik melalui edukasi, penyuluhan, dan penguatan kelembagaan masyarakat. Materi mitigasi banjir ini disampaikan oleh Tim Pengabdian dapat ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Penyampain materi mitigasi banjir Pada Gambar 3 menunjukkan bahwa PKK Kelurahan Wonosari ada yang belum megerti akan kata mitigasi. Hasil diskusi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Kelurahan Wonosari belum memahami arti dari istilah mitigasi. Istilah tersebut sering dianggap sebagai konsep yang abstrak dan hanya dipahami oleh kalangan akademisi atau Oleh karena itu, tim pengabdian memberikan penjelasan sederhana bahwa mitigasi bencana adalah segala upaya untuk mengurangi risiko atau dampak buruk yang ditimbulkan oleh bencana, baik sebelum, saat, maupun setelah kejadian. Setelah Kader PKK TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 mengetahui mitigasi banjir dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung penggunaan aplikasi Augmented Reality oleh seluruh peserta menggunakan ponsel pintar masing-masing yang dtunjukkan pada Gambar 4. Gambar 4. Demonstrasi dan praktek langsung penggunaan AR Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa kader PKK sangat antusias dengan adanya demonstrasi dan praktek secara langsung buku AR yang dibuat oleh Tim Pengabdian, karena buku AR dilengkapi dengan suara hujan petir dan simulasi banjir dan ada jalan cerita dlam buku tersebut karakter dinamai dengan Wono dan Sari sesuai dengan Kelurahan Wonosari. Begitu juga terdapat ransel siap siaga dan jalur evakuasi diharapkan masayarakat Kelurahan Wonosari lebih tanggap dan siaga adanya bencana banjir. Sesi diskusi dan tanya jawab untuk menggali pemahaman serta mendapatkan umpan balik menjelaskan diskusi dan tanya jawab kader PKK menanyakan apakah masing masing kader PKK RW mendapatkan buku tersebut karena sangat antusias sama sekali dan ingin dipraktekkan sampai dirumah untuk menjelaskan ke anak anak TK dan SD. Tahap ketiga adalah evaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan peserta dapat ditunjukkan pada Gambar 5. Gambar 5. Tahap evaluasi pre test dan post test Pada Gambar 5 menjelaskan kacder PKK melaksanakan pre test dan post test. Dalam pengabdian ini jiuga melakukan kuisioner kepuasan mitra atas produk Buku AR dan mitra sangat merespon dengan baik dan memberi apresiasi terhadap produk buku AR hasil dari Tim Pengabdian Universitas Ivet. Tahap akhir setelah evaluasi adalah foto bersama tim pengabdian dengan kader PKK Kelurahan Wonosari dapat ditunjukkan pada Gambar 6. TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 Gambar 6. Foto Bersama Kader PKK dan Tim Pengabdian Pada Gambar 6 menunjukkan bahwa Foto tersebut menggambarkan momen kebersamaan antara paraKader PKK Kelurahan Wonosari dan Tim Pengabdian setelah pelaksanaan kegiatan edukasi mitigasi banjir berbasis Augmented Reality (AR). Kehadiran kader PKK menunjukkan komitmen mereka dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekitar. Sementara itu. Tim Pengabdian hadir untuk memberikan pendampingan, pelatihan, dan inovasi media edukasi AR sebagai upaya meningkatkan pemahaman warga mengenai langkah-langkah mitigasi banjir. Foto ini menjadi simbol kolaborasi antara masyarakat dan tim akademisi dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh, peduli, dan siap menghadapi risiko HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil dilaksanakan dengan melibatkan 30 orang anggota aktif dari kelompok pemberdayaan perempuan. Partisipasi aktif peserta menjadi indikator awal keberhasilan program. Hasil utama dari kegiatan ini dapat diuraikan menjadi dua aspek, yaitu peningkatan pengetahuan dan respons peserta terhadap media Peningkatan pengetahuan diukur dari perbandingan hasil pre-test yang diberikan sebelum materi dan post-test setelah seluruh sesi pelatihan selesai. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata yang signifikan. Sebelum pelatihan, skor rata-rata peserta adalah 52,5, yang mengindikasikan pemahaman dasar mengenai mitigasi banjir masih terbatas dan belum terstruktur. Setelah mengikuti pelatihan dan berinteraksi dengan media AR, skor rata-rata post-test meningkat tajam menjadi 87,8. Peningkatan sebesar 35,3 poin ini membuktikan bahwa metode edukasi yang disampaikan efektif dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta. Data kuantitatif tersebut diperkuat oleh hasil kualitatif dari lembar umpan balik. Sebanyak 95% peserta menyatakan bahwa metode pembelajaran menggunakan Augmented Reality jauh lebih menarik dan mudah dipahami dibandingkan dengan metode penyuluhan konvensional yang pernah mereka ikuti. Peserta merasa lebih terlibat karena dapat secara langsung memvisualisasikan skenario banjir, seperti melihat simulasi kenaikan air di lingkungan sekitar mereka melalui kamera ponsel. Aspek visual dan interaktif ini, menurut pengakuan peserta, membantu mereka memahami konsep-konsep abstrak seperti "jalur evakuasi" atau "area aman" menjadi sesuatu yang lebih konkret dan mudah diingat. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Hidayat . , yang menyatakan bahwa pembelajaran TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 berbasis visual dan pengalaman . xperiential learnin. dapat meningkatkan retensi informasi hingga 70% dibandingkan pembelajaran berbasis teks atau ceramah. Pembahasan lebih lanjut menunjukkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya terletak pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada pendekatan partisipatif yang Keterlibatan aktif peserta dalam sesi diskusi memungkinkan mereka untuk mengontekstualisasikan informasi yang diterima dengan pengalaman nyata di lingkungan Teknologi AR dalam hal ini berperan sebagai pemicu . diskusi yang lebih Sebagai contoh, ketika simulasi AR menunjukkan bahwa area tertentu di sekitar rumah mereka rentan tergenang, peserta secara proaktif mulai mendiskusikan solusi praktis yang bisa mereka lakukan secara kolektif. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa teknologi dapat menjadi katalisator pemberdayaan komunitas apabila diimplementasikan dalam kerangka kerja yang partisipatif. Keterlibatan kelompok perempuan juga menjadi faktor Sebagai manajer rumah tangga dan figur sentral dalam keluarga, peningkatan literasi bencana pada ibu-ibu memiliki efek domino dalam membangun budaya sadar bencana yang dimulai dari unit terkecil masyarakat. Temuan ini mendukung argumen dari Martino et al. bahwa pemberdayaan kader komunitas lokal, terutama perempuan, merupakan strategi efektif untuk keberlanjutan program kesehatan dan keselamatan. Dalam konteks ini, mereka menjadi agen penyebar informasi dan penggerak kesiapsiagaan di Kondisi sebelum dan sesudah pelatihan dari materi yang sudah diberikan dapat ditunjukkan pada Tabel 1 Tabel 1. Kondisi sebelum dan sesudah pelatihan Indikator Kader PKK penggunaan AR Sebelum Pelatihan Ketersediaan media edukasi interaktif Tersedianya Partisipasi warga dalam menjaga drainase & lingkungan Kader yang mampu menyampaikan informasi tanggap darurat Masyarakat yang memahami jalur Kemampuan Pengetahuan risiko banjir Sesudah Pelatihan KESIMPULAN Kesimpulannya menunjukkan bahwa Indikator menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan setelah pelatihan dilaksanakan. Sebelum pelatihan, tingkat pengetahuan masyarakat tentang risiko banjir hanya berada pada kisaran 40%, namun TEMATIK : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Januari 2026 e-ISSN: 2775-3360 setelah pelatihan meningkat menjadi sekitar 85%. Kemampuan kader PKK dalam menggunakan dan menjelaskan media Augmented Reality (AR) juga naik drastis dari 10% menjadi 90%. Partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan drainase yang sebelumnya sekitar 35% meningkat hingga 80%. Selain itu, pemahaman masyarakat mengenai jalur evakuasi dan titik aman yang awalnya hanya 25% meningkat menjadi 80%. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis AR sangat efektif dalam memperkuat kapasitas kader PKK dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana banjir di Kelurahan Wonosari. DAFTAR PUSTAKA