https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 DOI: https://doi. org/10. 38035/jgpp. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Analisis Resiko Usaha Cabai Rawit (Capsicum Frutescen. di Kabupaten Garut Dety Sukmawati1. Ida Marina2. Ida Sundari3 Universitas Winaya Mukti. Bandung. Indonesia detysukmawati@gmail. Universitas Winaya Mukti. Bandung. Indonesia Dinas Ketahanan Pangan,Garut. Indonesia Corresponding Author: detysukmawati@gmail. Abstract: Risk is the possibility of an event that could harm a business activity. The risk itself can occur due to uncertainty about future conditions or deviations that occur that are not in line with expectations. Given the dynamic nature of risk, farmers need to anticipate when facing This research was conducted in Garut Regency. A survey was conducted on cayenne pepper farmers in production center areas in the districts of Pasirwangi. Cikajang. Samarang. Banyuresmi. Tarogong Kaler and Sucinaraga, survey data to determine the costs of cayenne farming and the risk of farming income. Production data was obtained from the Garut Agriculture Service to determine the production risks of red chili and cayenne pepper farming. Price data was obtained from the Garut Regency Food Security Service to determine the price risk for cayenne peppers, curly chilies and large red chilies. All price coefficients for cayenne peppers, curly chilies and large chilies show O 0. 5, meaning that farmers' chili farming has a small price risk. With a lower limit above 0. 5, the business is profitable with the highest ranking being cayenne pepper. Analysis of the production risk of red chilies and cayenne peppers, the coefficient of variation shows O 0. 5, meaning that farmers' chili farming has a small production With a lower limit above 0. 5, the highest is cayenne pepper. The income risk analysis for cayenne pepper has a coefficient of variation Ou 0. 5, indicating that cayenne pepper farming has potential risks, with the lower limit (L) being negative, this means the farming is not Judging from the R/C profit ratio for cayenne pepper, it is 1. 4, meaning that farming is very profitable compared to the profit ratio for other commodities. Keywords: Risk Analysis. Chili Farming Business. Chili Production and Price. Farmers' Income. Garut Regency. Abstrak: Risiko merupakan kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang dapat merugikan suatu kegiatan usaha. Risiko sendiri dapat terjadi karena adanya ketidakpastian kondisi di masa mendatang atau penyimpangan yang terjadi yang tidak sesuai dengan harapan. Mengingat sifat risiko yang dinamis, maka petani perlu melakukan antisipasi ketika menghadapi risiko. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut. Survei dilakukan terhadap petani cabai rawit di daerah sentra produksi di Kecamatan Pasirwangi. Cikajang. Samarang. Banyuresmi. Tarogong Kaler dan Sucinaraga, data survei untuk mengetahui biaya usahatani cabai rawit dan risiko pendapatan usahatani. Data produksi diperoleh dari Dinas Pertanian Garut untuk mengetahui 174 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 risiko produksi usahatani cabai merah dan cabai rawit. Data harga diperoleh dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut untuk mengetahui risiko harga cabai rawit, cabai keriting dan cabai merah besar. Semua koefisien harga cabai rawit, cabai keriting dan cabai besar menunjukkan O 0,5 yang berarti usahatani cabai petani memiliki risiko harga yang kecil. Dengan batas bawah di atas 0,5 maka usaha tersebut menguntungkan dengan peringkat tertinggi adalah cabai rawit. Analisis risiko produksi cabai merah dan cabai rawit, nilai koefisien variasi menunjukkan O 0,5 artinya usahatani cabai petani memiliki risiko produksi yang kecil. Dengan batas bawah di atas 0,5 maka yang tertinggi adalah cabai rawit. Analisis risiko pendapatan cabai rawit memiliki koefisien variasi Ou 0,5 yang menunjukkan bahwa usahatani cabai rawit memiliki potensi risiko, dengan batas bawah (L) bernilai negatif, ini berarti usahatani tersebut tidak menguntungkan. Dilihat dari rasio keuntungan R/C cabai rawit sebesar 1,4 artinya usahatani tersebut sangat menguntungkan dibandingkan dengan rasio keuntungan komoditas lainnya. Kata Kunci: Analisis Risiko. Usahatani Cabai. Produksi dan Harga Cabai. Pendapatan Petani. Kabupaten Garut. PENDAHULUAN Tanaman cabai rawit berasal dari daerah tropika dan subtropika Benua Amerika, khususnya Colombia. Amerika Selatan, dan terus menyebar ke Amerika Latin. Bukti budidaya cabai rawit pertama kali ditemukan dalam tapak galian sejarah Peru dan sisaan biji yang telah berumur lebih dari 5000 tahun SM didalam gua di Tehuacan. Meksiko. Penyebaran cabai rawit ke seluruh dunia termasuk negara- negara di Asia, seperti Indonesia dilakukan oleh pedagang Spanyol dan Portugis (Dermawan, 2. Selain mempunyai banyak kandungan, buah cabai rawit ini juga mempunyai banyak manfaat terutama sebagai bumbu masakan untuk memberikan sensasi pedas. Selain itu, buah tanaman ini juga berkhasiat untuk menambah nafsu makan, menguatkan kembali tangan dan kaki yang lemas, melegakan hidung tersumbat pada penyakit sinusitis, serta mengobati migraine . akit kepala sebela. Sebagai obat luar, cabai rawit rawit juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit rematik, sakit perut, dan Selain sebagai tanaman bahan makanan dan obat, cabai rawit sering digunakan sebagai tanaman hias (Mumu et al. , 2. Tanaman cabai, mendapatkan porsi intervensi pemerintah yang relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan intervensi pada komoditas hortikultur lainnya (Sukmawati. , dkk. Tidak ada kebijakan pemerintah membuat harga cabai yang terjadi menjadi sangat bergantung pada mekanisme harga pasar (Sukmawati. Hal ini tentu saja membuat harga cabai berfluktuatif seiring dengan produktivitas dan ketersediaan cabai di sentra Fluktuatif harga cabai yang cukup besar ini bahkan mampu mempengaruhi inflasi (Saidah, 2. Menurut (Sukmawati. Usahatani cabai rawit tidak terlepas dari adanya risiko. Pertanian dihadapkan pada risiko dan ketidakpastian, sebab kegiatan pertanian rentan terhadap perubahan iklim seperti yang terjadi saat ini, adanya serangan hama dan penyakit serta fluktuasi harga produk pertanian (Debertin, 1. Risiko adalah kemungkinan peristiwa yang dapat merugikan suatu kegiatan usaha. Risiko sendiri dapat terjadi karena adanya suatu ketidakpastian kondisi di masa mendatang atau suatu penyimpangan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Mengingat sifat dinamisnya risiko, perlu adanya antisipasi bagi petani dalam menghadapi risiko (Marina. , dkk. Menurut Ali . , ada beberapa hal penyebab risiko, yaitu ketidakpastian produksi, tingkat produksi dan tingkat harga. Risiko produksi adalah risiko yang bersumber dari kegiatan produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan pada tanaman 175 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, ataupun karena kesalahan sumberdaya manusia (Marina. , dkk. Risiko harga dapat dipengaruh oleh perubahan harga produksi atau input yang digunakan. Risiko ini muncul ketika proses produksi sudah berjalan. (Marina. , dkk 2. Hal ini lebih disebabkan kepada proses produksi dalam jangka waktu lama pada pertanian. Dalam berusahatani, petani tidak dapat menentukan sendiri harga produknya maupun inputnya sehingga berpeluang menghadapi risiko harga (Rianti & Maula, 2. METODE Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Garut dalam rangka mengetahui bagaimana mengalisis resiko harga, produksi, dan pendapatan, dilakukan untuk meninjau sejauhmana keuntungan dan keamanan usahatani cabai merah yang dilakukan petani yang bisa digunakan untuk kebijakan pemerintah dalam usahatani cabai merah dalam memenuhi kebutuhan pangan kabupaten Garut. Survey dilakukan pada petani cabai rawit pada daerah sentra produksi di Kecamatan Pasirwangi. Cikajang. Samarang,Banyuresmi. Tarogong Kaler dan Sucinaraga, data survey untuk mengetahui ongkos usahatani cabai rawit dan resiko pendapatan uasahatani. Data produksi didapat dari Dinas Pertanian Garut untuk mengetahui resiko produksi usahatani cabai merah dan cabai rawit. Data Harga didapat dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut untuk mengetahui Resiko Harga cabai rawit, cabai keriting, cabai merah besar. Dalam rangka mencapai tujuan penelitian telah dikumpulkan berbagai data, informasi, dan pengetahuan yang berasal dari sumber data primer dan skunder. Data, informasi, dan pengetahuan primer dikumpulkan berdasarkan observasi, diskusi, dan FGD (Focus Grup Discussio. dan wawancara mendalam . epth intervie. , dengan responden yang merupakan sebagai pelaku dalam produksi cabai rawit, petani yang mengusahakan usahatani cabai dan data-data yang berkaitan dengan petani cabai dikawasan sentra produksi petani cabai rawit di Kabupaten Garut (Marina. , dkk. Sedangkan data sekunder, misalnya arsip-arsip data lembaga atau instansi , diperoleh melalui studi kepustakaan dari berbagai sumber literatur, buku, jurnal ilmiah, serta hasil penelitian maupun publikasi (Marina & Sukmawati, 2. Analisis tingkat risiko harga dan pendapatan usahatani cabai rawit dianalisis dengan menggunakan Koefisien Variasi (KV). Penentuan besarnya koefisien variasi (KV) dilakukan menggunakan data produksi (Sukmawati. , & Dasipah. harga input dan pendapatan yang diperoleh dari usahatani cabai rawit. Koefisien variasi (KV) merupakan ukuran risiko relatif yangdiperoleh dengan membagi standardeviasi dengan nilai yang diharapkan (Misqi & Karyani, 2. Secara matematis risiko harga dan risiko pendapatan dapat ditulis sebagai berikut: risiko harga : KV= E/C risiko pendapatan : KV= E /Y Keterangan: KV = Koefisien Variasi E = Standar Deviasi Q = Rata-rata Produksi (K. C = Rata-rata Harga (R. Y = Rata-rata Pendapatan (R. Jika nilai Koefisien Variasi (KV) diketahui, maka kita dapat mengetahui besarnya risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan yang harus ditanggung petani dalam berusahatani (Sukmawati. Nilai KV berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi petani, artinya semakin besar nilai KV yang didapat maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung 176 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 Begitu pula sebaliknya, semakin rendah nilai KV yang diperoleh maka resiko yang ditanggung petani semakin kecil. (Marina. , dkk. Marc. Batas bawah produksi, harga dan pendapatan (L) menunjukkan nilai terendah yang mungkin diterima oleh petani cabai rawit (Sukmawati, dkk. Apabila nilainya kurang dari nol, maka kemungkinan besar akan mengalami kerugian. Rumus batas bawah produksi, harga, dan pendapatan adalah (Kadarsan, 1995 dalam Heriani et al, 2. Batas Bawah Harga : L = C Ae 2E . Batas Bawah Pendapatan : L = Y Ae 2E Keterangan: L = Batas bawah Q = Rata-rata Produksi (K. C = Rata-rata Harga (R. Y = Rata-rata Pendapatan (R. E = Standar Deviasi Berdasarkan rumus diatas dapat diperoleh suatu hubungan antara nilai batas bawah produksi, harga dan pendapatan dengan nilai koefisien variasi. Apabila nilai KV > 0,5 maka nilai L < 0, begitu pula bila nilai KV < 0,5 maka nilai L > 0. Nilai koefisien variasi dan batas bawah produksi, harga dan pendapatan (L) secara tidak langsung menyatakan aman tidaknya modal yang ditanam dari kemungkinan mendapatkan kerugian. Menurut Hermanto . apabila KV > 0,5 maka risiko usahatani yang ditanggung semakin besar, jika nilai KV O 0,5 maka petani akan selalu untung (Rianti & Maula, 2. Berdasarkan (Sukmawati. , & Dasipah. Apri. suatu hubungan antara nilai batas bawah poduksi, biaya dan pendapatan (L) dengan nilai koefisien variasi. Apabila nilai KV O 0,5 maka nilai L Ou 0, begitu pula bila KV > 0,5 maka nilai L < 0. Hal ini menunjukkan: Jika KV O 0,5 maka petani terhindar dari risiko dalam melaksanakan usahatani cabai merah besar. Jika KV > 0,5 maka ada peluang risiko bagi petani dalam melaksanakan usahatani cabai merah besar. (Misqi & Karyani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara Ketahanan pangan mempunyai 3 indikator penting yaitu ketersediaan pangan, akses pangan serta mutu pangan. Ketersediaan pangan artinya pangan harus tersedia dari sumber alami baik melalui produksi pangan, penggarapan lahan atau peternakan, atau dengan cara lain untuk memperoleh pangan, seperti memancing, berburu atau mengumpulkan Akses pangan artinya akses ekonomi dan fisik kepada pangan harus dijamin. Aksesibilitas ekonomi berarti harga pangan harus terjangkau. Mutu pangan artinya pangan tersebut harus bergizi dan kondisi masyarakatnya yang dapat menyerap gizi dari pangan itu sendiri. Kabupaten Bandung Barat. Kabupaten Pangandaran. Kota Bandung. Kota Cimahi. Kota Tasikmalaya dan Kota Banjar. Namun jika ditilik lebih dalam, masih banyak variabel Ae variabel dari daerah Ae daerah tersebut yang masih butuh penanganan dan strategi untuk menunjang ketahanan pangan. Ketahanan pangan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik 177 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (Pertanian, 2. Kabupaten Garut sebagai sentra produksi utama komoditas cabai dengan jumlah produksi tertinggi di Jawa Barat membutuhkan strategi dalam menciptakan komoditas cabai yang berdaya saing. Oleh karena itu, perlunya strategi peningkatan daya saing komoditas cabai di Kabupaten Garut untuk mewujudkan komoditas cabai yang berdaya saing secara secara berkelanjutan (Tsurayya & Kartika, 2. Garut merupakan sentra produksi cabai di Jawa Barat, baik cabai merah, cabai kerting dan cabai rawit dengan harga kedua tertinggi setelah pangan hewan, hal itu ditunjukkan pada tabel A. Harga pangan cabai merah masih menduduki tertinggi dari 14 komoditas pangan di Kabupaten Garut. Pentingnya mengetahui dinamika harga terutama resiko harga cabai rawit yang paling banyak ditanam oleh petani dan resiko produksi serta resiko pendapatan untuk mengetahui sejauhmana batas aman harga,produksi dan pendapatan , bisa terjadi ketiganya aman dalam artian menguntungkan usahataninya , atau pendapatan usahatani nya bisa rugi dan resiko pendapatannya termasuk resiko tinggi Gambar 1. Harga Pangan di Kabupaten Garut. Sumber : Dinas Ketahanan Pangan Garut, 2022 Budidaya cabai merah memang tergolong berisiko tinggi, namun resiko tersebut dibayar seimbang dengan keuntungan yang dijanjikan. (Marina. , dkk. Strategi dan pengetahuan teknis di lapangan menjadi hal yang sangat penting untuk dikuasai,guna mencapai hasil yang maksimal serta menekan resiko, terutama pada musim hujan dan dalam pemasaran Pemasaran hasil yang tidak cermat, biasanya menjadi kendala dilapangan yang bermuara pada penurunan kualitas cabai merah. (Marina. , dkk. Hal ini diakibatkan lamanya proses pengangkutan dan penyimpanan yang terjadi ditingkat petani. Tanaman cabai yang baik sangat tergantung pada jenis bibit, iklim, dan ketinggian tempat dari permukaan laut yang berpengaruh terhadap perkembangan produksi, termasuk perkembangan hama dan penyakit tanaman (Sarina et al. , 2. Adapun resiko harga cabai merah di kabupaten Garut seperti pada tabel dibawah ini. 178 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 Tabel 1. Analisis Resiko Harga Cabai Merah Uraian Cabai Rawit Cabai Keriting Rata-rata Harga ST deviasi Koefisien Variasi (KV) 0,373 0,395 Batas Bawah (L) Cabai Merah 0,431 Menurut keputusan analisis Jika nilai Koefisien Variasi (KV) diketahui, maka kita dapat mengetahui besarnya risiko produksi, risiko harga dan risiko pendapatan yang harus ditanggung petani dalam berusahatani. Nilai KV berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi petani, artinya semakin besar nilai KV yang didapat maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung petani. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah nilai KV yang diperoleh maka resiko yang ditanggung petani semakin kecil. Batas bawah produksi, harga dan pendapatan (L) menunjukkan nilai terendah yang mungkin diterima oleh petani cabai rawit. Apabila nilainya kurang dari nol, maka kemungkinan besar akan mengalami kerugian. Semua koefisien harga cabai rawit, cabai keriting dan cabai besar menunjukkan O 0,5 artinya usahatani cabai petani mempunyai resiko harga kecil. Dengan batas bawah diatas 0,5 usahanya menguntungkan dengan tertinngi urutannya cabai rawit. Tabel 2. Analisis Resiko Produksi Cabai Merah Uraian Cabai Merah Cabai Rawit Rata-rata Produksi ST deviasi Koefisien Variasi (KV) 0,353 0,200 Batas Bawah (L) Analisis resiko produksi cabai merah dan cabai rawit koefisien variasi menunjukkan O 0,5 artinya usahatani cabai petani mempunyai resiko produksi kecil. Dengan batas bawah diatas 0,5 yang tertinggi cabai rawit. Tabel 3. Analisis Resiko Pendapatan Cabai Rawit Uraian Cabai Rawit Rata-rata Pendapatan ST deviasi Koefisien Variasi (KV) Batas Bawah (L) 129 juta 112 juta Analisis resiko pendapatan cabai rawit koefisien variasi nya Ou 0,5 menunjukkan usahatani cabai rawit mempunyai peluang resiko, dengan batas bawah (L) nya negative hal ini usahatani tidak menguntungkan . dilihat dari rasio keuntungan R/C untuk cabai rawit 1,4 artinya usahatani menguntungkan sangat kecil disbanding dengan rasio keuntungan komoditas Mayoritas risiko produksi disebabkan oleh cuaca, serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman cabai merah besar sehingga produksi dan kualitas cabai merah besar menjadi berkurang bahkan petani terancam gagal panen karena tanaman mati. Hama yang paling sering menyerang tanaman cabai merah besar adalah ulat gerayak. Ulat gerayak 179 | P a g e https://greenationpublisher. org/JGPP. Vol. No. November 2023 menyerang bersama-sama dalam jumlah besar pada malam hari dengan cara memakan daun tanaman hingga gundul dan tersisa hanya tulang-tulang daun atau daun berlubang-lubang yang mengakibatkan pertumbuhan tanaman cabai menjadi terhambat. (MARINA. , & DINAR. Selain hama, penyakit yang paling sering menyerang tanaman cabai adalah busuk buah antraknosa(Collectrotichum gloeospoiroide. atau patek. Hal yang paling merugikan adalah pada saat musim panen buah cabai yang sudah besar dan siap untuk dipanen terserang penyakit antraknosa sehingga buah menjadi busuk dan mengering yang menjadikan petani gagal panen (Misqi & Karyani, 2. Hasil analisis resiko cabai rawit sesuai dengan penelitian yang dilakukan Misqi dan Karyani 2019. Risiko biaya cabai merah besar di Desa Sukalaksana memiliki koefisien variasi (CV) lebih dari 0,5 yaitu 1,25 sedangkan batas bawah produksi (L) kurang dari 0 yaitu 19434664,01. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peluang risiko biaya dalam melakukan usahatani cabai merah besar. Penyebab adanya risiko tersebut karena banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam hal penggunaan input seperti benih, pupuk, nutrisi tanaman, pestisida, tenaga kerja yang cukup mahal hal ini sesuai dengan keadaan usahatani cabai rawit di Kabupaten Garut (Misqi & Karyani, 2. KESIMPULAN Semua koefisien harga cabai rawit, cabai keriting dan cabai besar menunjukkan O 0,5 artinya usahatani cabai petani mempunyai resiko harga kecil. Dengan batas bawah diatas 0,5 usahanya menguntungkan dengan tertinngi urutannya cabai rawit. Analisis resiko produksi cabai merah dan cabai rawit koefisien variasi menunjukkan O 0,5 artinya usahatani cabai petani mempunyai resiko produksi kecil. Dengan batas bawah diatas 0,5 yang tertinggi cabai rawit. Analisis resiko pendapatan cabai rawit koefisien variasi nya Ou 0,5 menunjukkan usahatani cabai rawit mempunyai peluang resiko, dengan batas bawah (L) nya negative hal ini usahatani tidak dilihat dari rasio keuntungan R/C untuk cabai rawit 1,4 artinya usahatani menguntungkan sangat kecil dibanding dengan rasio keuntungan komoditas lainnya. REFERENSI