Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 LANDSCAPE AND INTERIOR DESIGN OF PRAYER GARDEN/HOME 1 Felia Srinaga*. Susinety Prakoso. Julia Dewi,Alvar Mensana. Fernitia Richtia Winnerdy Universitas Pelita Harapan. Fakultas Desain. Program Studi Arsitektur. Tangerang. Indonesia e-Mail*: felia. srinaga@uph. Abstract Planning the construction of a prayer home is one of the appropriate steps to enrich studentsAo spirituality at Sekolah Tinggi Teologia Cipanas (STTC). Designing a prayer home that traces STTCs vision and mission, along with its valuable location in Cipanas, will offer a blessed and peaceful touch to the design of the prayer home. On the first stage of this proposal, a preliminary design scheme for a prayer home had been created in the earlier semester. The purpose of the activity in this second stage is to design a Prayer Garden that supports the prayer home, which had been designed in previous stage, by utilizing the land between buildings by developing a concept that is contextual with its surrounding nature. The main site issue in STTC is the underutilized inter-building space, the abandoned open space and the lack of continuous access from the inner building to the outer landscape areas Ae equally from the public space to the more private space . he prayer hom. Through this Prayer Garden design, it is expected that the STTC community can utilize the existing open spaces to the fullest Ae to support the spiritual development for students, the continuing companionship for STTC community and surrounding societies, especially by providing facility for a retreat or similarly religious activities. In this second stage of the proposal, the relationship between outdoor landscape, indoor garden, and the Prayer Home will be simply understood with rendered Additionally, construction working drawing and cost estimation for all construction items will also be produced Ae in order to use the outcome of this proposal immediately applied to construction phase of the development. Keywords: Landscape. Interior. Garden. Prayer Garden/Home Dipresentasikan pada Konferensi Nasional PkM-CSR. Lombok, 23-25 Oktober 2018 Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 PERANCANGAN LANSEKAP TAMAN DAN PENEMPATAN RUMAH DOA Felia Srinaga*. Susinety Prakoso. Julia Dewi. Alvar Mensana. Fernitia Richtia Winnerdy Universitas Pelita Harapan. Fakultas Desain. Program Studi Arsitektur. Tangerang. Indonesia e-Mail*: felia. srinaga@uph. Abstrak Ide rumah/ taman doa merupakan salah satu langkah yang tepat untuk membangun spiritualitas mahasiswa/i di Sekolah Tinggi Teologia Cipanas. Untuk itu perancangan rumah doa yang kontekstual dengan VISI. MISI STTC dan Lokasi yang berada di Cipanas, akan mewarnai desain rumah doa ini. Pada tahap pertama dari kegiatan PkM ini, telah dibuat rancangan awal dari rumah doa tersebut. Permasalahan utama dari lokasi di STT- Cipanas adalah kurang termanfaatkannya ruang antar bangunan yang ada, ruang luar yang kurang terolah dan kurangnya ruang peralihan yang menerus/mengalir dari bangunan dalam ke ruang luar atau dari ruang/tempat publik ke ruang yang lebih privat . umah do. Tujuan kegiatan di tahap kedua ini adalah merancang taman yang mendukung rumah doa yang telah dirancang dalam tahap I dengan memanfaatkan lahan antar bangunan dengan mengembangkan konsep yang kontekstual dengan alam. Dengan terencananya tempat/taman doa ini, diharapkan komunitas STTC dapat memanfaatkan ruang terbuka yang ada dengan maksimal untuk mendukung pengembangan spiritual bagi mahasiswa-i/komunitas STTC dan komunitas sekitar yang membutuhkan tempat retreat/doa. Pada tahap kedua ini, akan diteruskan dengan gambar suasana lansekap dan interior dari taman dan rumah doa. Selain daripada itu, di tahap kedua ini akan dilakukan kegiatan gambar kerja dan perhitungan biaya pembangunan dari seluruh taman dan rumah doa, sehingga hasil kegiatan dapat segera diterapkan dalam pembangunannya. Kata Kunci: Lansekap. Interior. Taman dan Rumah Doa PENDAHULUAN Suatu kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bukanlah semata-mata suatu kegiatan yang dilakukan sebagai salah satu kegiatan Tridarma yang harus dilakukan oleh kami sebagai dosen. Kegiatan PKM ini kami lakukan dalam harapan dapat memberikan sumbangsih bagi mitra di STTC yang seterusnya dapat bersama-sama membangun masyarakat . alam hal ini adalah mahasiswa/i dan civita. yang menggunakan Taman/ Rumah doa yang telah didesain. Doa merupakan AunafasAy kehidupan Kristiani. Berdoa juga merupakan komunikasi dengan Tuhan yang dilakukan setiap waktu dan untuk segala keadaan. Dalam lingkup kampus Teologia, berdoa yang merupakan nafas kehidupan komunitas kampus, perlu diwadahi dengan tempat yang dapat meningkatkan suasana AukekhusukanAy doa. Demikian pula dengan kampus Sekolah Tinggi Teologia Cipanas (STTC) yang terletak di daerah Cipanas, merupakan sekolah Teologia yang sedang meningkatkan spiritual formation mahasiswa/i dan komunitas kampus. Salah satu upaya peningkatan spiritual formation ini adalah dengan membangun tempat doa berupa bangunan kecil dan taman doa yang menyatu dengan penataan landscape (Inge, 2003. Sheldrake, 2. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Permasalahan di tempat ini adalah kurang tertatanya ruang luar diantara bangunan Chapel, bangunan tempat tinggal/rumah dosen, lapangan basket yang sudah ada di kompleks STTC dan kebutuhan tempat doa yang semi tertutup dan menyatu dengan alam. Konsep dari Perancangan rumah/taman doa ini adalah kontektual dengan lingkungan alam sekitar yang merupakan ciptaan Tuhan. Dengan lokasi yang berada di daerah Cipanas yang relatif bersuhu nyaman . -23 derajat celciu. dan berada di daerah yang cukup tinggi, membuat lokasi di sini dapat ditumbuhi dengan pohon-pohon, tanaman dan bunga-bunga dengan subur. Tujuan dari kegiatan ini adalah merancang rumah/taman doa beserta dengan penataan lansekap sekitarnya yang menyatu dengan konteks tempat, alam dan kebutuhan ruang doa bagi mahasiswa/i maupun sebagai tempat retreat saat berdoa dan berkegiatan di STTC. Kegiatan PKM ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu. Tahap 1 . : Perancangan rumah dan taman doa. Tahap 2 . : Perancangan lansekap dan evaluasi penempatan rumah doa. Tulisan hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini lebih ditekankan pada proses ditahap kedua, yaitu penulisan tentang metode perancangan lansekap dan mengadakan evaluasi penempatan rumah doa serta interiornya. Perancangan Tahap I: Perancangan tahap pertama dilakukan melalui serangkaian kegiatan PKM sebagai berikut: . Survey lapangan dengan pengukuran dan dokumentasi lokasi, serta studi pustaka . Mengadakan Interview dengan pihak STTC yang meliputi: Visi, misi, tujuan dan sasaran pengembangan spiritual formation yang hendak dicapai melalui pengadaan fasilitas rumah/taman doa. Mengimplementasikan kebutuhan /program ruang dan visi pengembangan ke dalam penetapan konsep perancangan yang lebih tajam . Merancang rumah/taman doa . Mempresentasikan ke mitra dan mendapatkan input balik . Memperbaiki desain . Pengembangan desain akhir, penggambaran dan pembuatan model/ Tujuan kegiatan ini adalah merancang tempat/taman untuk berdoa dengan memanfaatkan lahan antar bangunan dengan mengembangkan konsep yang kontekstual dengan alam. Permasalahan utama di tempat ini adalah lahan yang terbatas dengan konteks lingkungan yang dikelilingi bangunan yang sudah ada. Untuk menjawab permasalahan lahan yang terbatas, maka rumah doa dibuat tidak terlalu besar, dengan rancangan sederhana yang lebih terbuka untuk bersatu dengan alam, tetapi tetap menjaga kekhusukan dalam berdoa. Kekhusukan ini didapat dengan tempat bersujud yang menghadap ke dinding tertutup yang dapat ditambahkan ornamen patung, lilin, lampu dan sebagainya (Sheldrake. Rumah doa dibuat 1 unit yang besar, yang dapat menampung 4-8 orang dan 2 unit yang kecil untuk digunakan oleh 1 orang, agar tercapai privacy dalam berdoa. Ketiga rumah doa yang dirancang adalah mempertimbangkan sequence yang menerus dari depan chapel, berjalan melewati kolam air dan masuk ke dalam rumah doa (Booth, 2012. Dee, 2001. Weiss, 2. Penataan ruang luar perlu didukung dengan landscape yang sesuai dengan keseluruhan penataan landscape di lokasi (Waterman. Pelaksanaan dengan melakukan: survey pengukuran di Lapangan, interviu, dan menganalisis kebutuhan dan penempatan rumah doa, menetapkan konsep perancangan, dan mengembangkannya dalam desain. Kegiatan perancangan rumah/taman doa ini dengan melihat permasalahan yang ada, maka perancangan rumah/taman doa ini menekankan pada 3 bagian, yaitu: Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Penekanan pada kesatuan pengolahan ruang dalam dan ruang luar dari bangunan-bangunan yang ada di kampus STTC (Gedung kuliah, asrama putra dan putri, ruang dosen, dan kape. Kesatuan ini dapat terjadi dengan pengolahan ruang sirkulasi, ruang terbuka hijau, bukaan, hubungan horizontal dan penataan interior maupun landscape. Penekanan suasana taman doa yang khusuk dan Auprivat/ intimAy. Suasana khusuk ini dicapai dengan pengolahan ruang yang intim dengan alam sekelilingnya . aik ukuran, bentuk maupun material yang digunaka. , penggunaan elemen-elemen pendukung seperti tanda salib, tulisan, seni & ornament lain, dan pencahayaan baik di siang hari maupun malam hari . lami maupun buata. Pendekatan pada arsitektur organik, dengan menggunakan unsur-unsur alam untuk memperkuat design rumah/taman doa ini. Penggunaan unsur-unsur alam ini untuk finishing material bangunan/shelter maupun landscape seluruh kawasan, seperti tanaman-tanaman hias/ bungabunga, pohon, jalur hijau, unsur air dan lain-lain (Donovan, 2015,2018. Hester, 2. Ketiga pendekatan ini menyatu untuk menghasilkan rumah /taman doa di kompleks STTC yang dapat mewadahi kegiatan doa/ berkomunikasi dengan Kristus Sang Pencipta. Hasil Kegiatan ini adalah berupa gambar-gambar perancangan: site plan/denah, potongan, detail dan perspektif bangunan rumah doa dan suasana serta maket perancangan. Gambar 1. Site Plan/Denah Perletakan Rumah/taman Doa Sumber: dokumentasi pribadi/team Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Gambar 2. Perspektif Rumah/taman Doa Sumber: dokumentasi pribadi/team Gambar 3. Perspektif Suasana Rumah/taman Doa Besar dan Kecil Sumber: dokumentasi pribadi/team Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Gambar 4. Maket Rumah Doa Sumber: dokumentasi pribadi/team Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Gambar 5. Maket Rumah Doa Sumber: dokumentasi pribadi/team Perancangan Tahap II: Tahapan dari kegiatan PkM tahap II ini adalah: . Survey dengan melakukan workshop/FGD/wawancara untuk mendapatkan gambaran suasana yang diinginkan oleh pengguna rumah/taman doa ini, baik eksterior / lansekap suasana maupun interior, . Merancang suasana taman/lansekap dan interior, . Membuat gambar kerja untuk pelaksanaan pembangunan rumah dan taman doa. Survey untuk perancangan ditahap kedua ini dimulai dengan melakukan diskusi fokus grup (Focus Group Discussion/FGD). Diskusi ini ditekankan pada desain bersama yang melibatkan mahasiswa/i dan dosen di STT-Cipanas, yang dikenal sebagai kegiatan design thinking/riung desain (Brown & Katz, 2009. Felia. Katoppo & Hidayat, 2. Tujuan kegiatan ini adalah merumuskan masalah dari berbagai perspektif, mendapatkan gambaran keinginan bentuk dan suasana . nterior dan eksterio. dari rumah/taman doa melalui diskusi dan partisipasi pengguna dalam: pemikiran kolaborasi desain/ design thinkin. , mengungkapkan gagasan pengguna melalui proses rancang bersama dalam kegiatan ini. Hasil output dari kegiatan ini adalah berupa gambar hasil gagasan kelompok peserta. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 METODE Kegiatan PKM tahap II ini dilakukan dengan metode partisipatori (Jenkins, 2010. Mikkelsen, 2011. Sanoff, 2000. Simonsen & Robertson, 2. yang dimodifikasi dari metode design thinking . iung desai. yang diperkenalkan oleh Tim Brown dalam bukunya Change By Design (Brown & Katz. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 31 Juli 2018, yang diikuti oleh 32 orang mahasiswa/i yang terbagi menjadi 3 kelompok dan 4 orang dosen dalam 1 kelompok. Pada dasarnya ada 3 tahap dalam Design Thinking, yaitu: tahap discover, tahap ideate dan tahap prototype. Gambar 6. Tahapan Design Thinking Sumber: Change By Design (Brown & Katz, 2. Karena Design Thinking memiliki tujuan menghasilkan inovasi, maka Brown menyediakan 3 ruang yang memastikan hal tersebut, yaitu: RUANG INSPIRASI yaitu ruang untuk mengenali permasalahan & potensi yang mengarahkan kita pada ide-ide untuk memecahkan permasalahan. RUANG IDEASI yaitu ruang dimana ide akan menemukan bentuknya melalui aktivitas membuat PROTOTIPE. RUANG IMPLEMENTASI yaitu ruang untuk mendesain skema komprehensif yang bisa menghantarkan inovasi yang dihasilkan kepada penggunanya. Brown juga memberikan tiga pertimbangan bagaimana sesuatu itu masuk kategori INOVATIF, yaitu: Ia harus DIINGINKAN. BERTAHAN LAMA, & MUNGKIN. Untuk mendapatkan desain inovatif yang diinginkan, maka diharapkan melalui Design Thinking ini dapat diperoleh penggalian ide-ide yang diinginkan bertahan lama dan mungkin dapat dilakukan. Metode yang dikemukakan oleh Brown & Katz . ini dimodifikasi menjadi lebih sederhana dengan beberapa pertimbangan, yaitu: dalam kasus ini bukan pada tahapan merancang dari awal, tetapi hanya dalam tahap mengajak partisipan untuk mendapatkan masukan. Mengingat waktu yang Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 sempit, bahan maket dan gambar-gambar yang diberikan sebagai bahan diskusi dijadikan stimulus untuk mendapatkan gambaran akhir dari desain yang diinginkan oleh partisipan. Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut: Tahap I: Permasalahan dan Potensi Pada Tahap ini, setiap kelompok . kelompok mahasiswa dan 1 kelompok dose. yang dipandu oleh 1 orang fasilitator . osen pelaksana PKM), diminta untuk mengemukakan permasalahan yang ada untuk perancangan, perletakan dan pembangunan rumah/taman doa ini. Peserta juga diminta mengemukakan potensi apa yang dapat dikembangkan dari rumah doa, seperti: fungsinya, pengembangan jumlah dan lain-lain. Pada tahap ini, fasilitator menggali dengan meminta peserta bercerita . tory tellin. dengan mengemukakan topik diskusi. Topik dapat berupa jadual dan kegiatan keseharian dan lain-lain. Dari beberapa permasalahan dan potensi yang ada, dapat dikelompokan menjadi beberapa topik, seperti: topik cuaca, topik perawatan, topik kegiatan dan lainnya. Pendapat peserta di tulis dan ditempel dalam Post it. Gambar 7. Proses menggali permasalahan dan potensi Sumber: dokumentasi pribadi/team Tahap II: Tahap Pengembangan Tema Dari permasalahan dan potensi yang telah dikelompokan dalam topik-topik tertentu, peserta diminta untuk mengkonfirmasikan kembali dan mengemukakan beberapa tema untuk dielaborasi. Satu atau dua tema ini kemudian dikembangkan dengan melihat tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Tema-tema yang dikembangkan peserta, berikut catatan tantangan yang ada ditulis dan ditempel dalam Post it. Gambar 8. Mengelaborasi tema dan melihat tantangan yang ada Sumber: dokumentasi pribadi/team Gambar 9. Mendapatkan dan mengelaborasi tema Sumber: dokumentasi pribadi/team Tahap i: Solusi Kebutuhan Dalam tahap ini, peserta setiap kelompok diminta untuk mengemukakan solusi dari tantangantantangan yang dihadapi untuk setiap permasalahan. Solusi ini dituliskan dan ditempelkan dengan post it ataupun digambarkan dalam gambar denah/siteplan, perspektif yang tersedia. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Hasil akhir dari ketiga tahap ini adalah berupa presentasi hasil kerja dari masing-masing kelompok. Gambar 10. Presentasi hasil Sumber: dokumentasi pribadi/team HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan FGD yang berupa design thinking pada PkM tahap II ini bertujuan untuk mengajak pengguna/mitra kerja . ahasiswa/i dan dosen STTC) untuk mengambil bagian dalam penyempurnaan perancangan rumah/taman doa, penataan lansekap dan juga interiornya. Untuk mencapai tujuan ini, pendekatan partisipasi yang menggunakan modifikasi dari metode design thinking (DT) telah dilaksanakan oleh: 32 orang mahasiswa/i dari beberapa angkatan, termasuk mahasiswa/i angkatan baru . ahun 2018/2. dan 4 orang dosen. Merujuk kepada tiga tahapan design thinking (DT) yang dijelaskan oleh Tim Brown & Barry Katz . , diperoleh beberapa hasil sebagai berikut: Tabel 1. Hasil design thinking (DT) setiap tahapan: Tahap I Permasalahan dan Potensi Permasalahan: Sirkulasi/perletakan. Kebisingan. Privacy. Keamanan. Kapasitas/luasan/jumlah. Elemen pendukung Interior. Elemen pendukung eksterior . Program kegiatan dan jadual. Material/bahan. Kebutuhan Visual Comfort . ermasul estetik. Kebutuhan Audial Comfort Tahap II Tahap Pengembangan Tema Sacred. Alone with God. Bertumbuh dalam Relasi dengan Tuhan dan Sesama. Quality Time with God. Doa mengubahku. Menghadap Allah Menghadap Dunia. Tahap i Solusi & Menggambarkan Penambahan Gashebo. Penambahan rumah doa kecil . ntuk satu oran. Adanya taman besar dan kecil di antara rumah-rumah Penambahan pepohonan, kolam ikan dan lain-lain. Potensi: Pengembangan tempat belajar, tempat baca, diskusi, retreat dan lain-lain. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Sumber: diolah dari hasil design thinking (DT) yang dilaksanakan 31 Juli 2018 Gambar 11. Proses penjelasan kegiatan & penggambaran hasil pemecahan masalah/solusi Sumber: dokumentasi pribadi/team Dari Pelaksanaan kegiatan ini dihasilkan beberapa solusi penataan: Perlunya elemen air baik untuk dilihat maupun untuk didengar. selain itu dapat terlihat refleksi dari rumah doa atau pohon-pohon yang ada. Perlu penambahan gashebo untuk 4-8 orang, lokasi rumah doa yang besar dapat difungsikan untuk tempat belajar, tempat baca, maupun diskusi. Rumah doa besar dapat menampung 4-5 orang sebanyak 1 unit, dan rumah doa kecil perlu ditambah menjadi 4-5 unit @ untuk 1 orang. Ada Taman-taman yang besar dan taman yang mini diantara rumah-rumah doa kecil. Perlu ditata lasekap dengan: penghijauan yang agar rapi, bersih dan memberikan teduhan yang sejuk dan berkesan rileks, ada ruang untuk melepas kelinci dan bermain-main dengan kelincikelinci yang ada, kolam ikan/kolam refleksi, tanaman buah-buahan seperti alpukat dan strawberry, ada tanaman bunga dan wangi agar indah dan alami, perletakan dan rumah doa perlu dipertimbangkan privacy, bersih, ada cahaya di malam hari, audial comfort . uara dari air atau burung-burung atau musik lembu. , dan visual comfort. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 Penataan interior dengan suasana hening, boleh dengan musik lembut, altar, tempat berlutut, dengan dilengkapi bantal untuk duduk rilex, dinding dapat ditambahan ornamen atau gambar/lukisan, rak buku perpustakaan mini di rumah doa yang besar. Perlu dipikirkan penataan jadual pemakaian, kebersihan/perawatan. Perlu adanya CCTV selain untuk keamanan, juga untuk menghindari tempat doa dijadikan tempat untuk berpacaran. SIMPULAN Dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat tahap II dapat disimpulkan beberapa hal yang merupakan hasil kegiatan "riung desain" yang dapat menjadi masukan bagi pelaksana PkM dalam melakukan finalisasi perancangan rumah/taman doa dan penataan lensekap serta interiornya. Hasil dari kegiatan ini dapat pula menjadi masukan bagi pihak mitra dalam membangun, mengembangkan dan memelihara rumah/taman doa, lansekap dan interiornya di kemudian hari. Pelaksanaan PkM yang melibatkan pengguna untuk turut berpartisipasi dalam mendesain, dirasa penting sebagai proses untuk mendapatkan ide bagaimana harus mengatasi permasalahan yang ada di lapangan/lokasi (Srinaga. Katoppo & Hidayat, 2. Beberapa hasil dari "riung desain" selain dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh komunitas/mitra di STTC, juga dapat mempertajam hasil rancangan dengan menampung kebutuhan dari aktifitas keseharian pengguna. Beberapa simpulan yang dihasilkan dari kegiatan PkM tahap II adalah sebagai berikut: Permasalahan yang ada dalam perancangan taman doa bukan saja pada faktor perancangan fisik dan perletakan rumah/taman doa saja, tetapi juga pada faktor elemen-elemen pembentuk dan lingkungan rumah/taman doa. Permasalahan bagaimana meningkatkan suasana yang khusuk sekaligus lingkungan yang nyaman/tenang menjadi penting dalam membangun komunitas yang berdoa dan meningkatan spiritual formation. Potensi pengembangan rumah/taman doa ini, tidak saja sebagai tempat doa, tetapi dapat menjadi tempat belajar luar kelas, tempat diskusi/baca dan lainnya. Tempat ini juga dapat dikembangkan menjadi tempat retreat. Beberapa faktor yang penting diperhatikan dalam perancangan rumah/taman doa, lansekap dan interiornya adalah: . Fungsi/potensi pengembangan . Sirkulasi dan Perletakan yang membutuhkan privacy . Maintenance/pemeliharaan . Security/keamanan . Kapasitas/ jumlah dan besaran . Program dan penjadualan pemakaian . Elemen pendukung interior dan eksterior . Material/bahan. Elemen pendukung interior yang dinyatakan dari hasil kegiatan "Riung Desain" di tahap II ini adalah: bangku untuk berdoa, meja, lilin, tanda-tanda dan gambar-gambar yang dapat mendukung suasana berdoa seperti tanda salib, tempat buku, musik. Elemen pendukung eksterior yang tersampaikan dalam kegiatan ini adalah: elemen visual comfort seperti pohon-pohon hijau dan bunga, penerangan di malam hari dan elemen audial comfort seperti: kolam dengan suara air, daun-daun yang tertiup angin, kicauan burung/suara musik lembut. Kesadaran sebagian besar yang mengikuti design thinking . iung desai. akan keberadaan rumah/taman doa ini dalam kampus mereka adalah sangat tinggi. Baik mahasiswa/i dan dosen yang mengikuti kegiatan ini terlihat mencoba mengatasi permasalahan yang ada dengan berbagai saran. Jurnal Sinergitas PkM & CSR Vol. No. April 2019 p-ISSN: 2528-7052 | e-ISSN:2528-7184 masukan dan ide serta mengemukakan berbagai potensi pengembangan. Hal ini terlihat dari hasil pelaksanaan design thinking yang dapat mencetuskan berbagai ide cemerlang pada penanganan tidak saja pada rumah/taman doa, lansekap dan interiornya saja, tetapi juga pada pengembangan kawasan STTC secara keseluruhan. UCAPAN TERIMA KASIH