(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. EDUKASI GIZI MEDIA BOOKLET TENTANG AuUPAYA PENCEGAHAN STUNTINGAy TERHADAP KARAKTERISTIK PENGETAHUAN DAN SIKAP CALON IBU DAN IBU BADUTA BOOKLET MEDIA NUTRITION EDUCATION ABOUT AuSTUNTING PREVENTION EFFORTSAy ON THE CHARACTERISTICS OF KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF PROSPECTIVE MOTHERS AND MOTHERS OF CHILDREN UNDER-TWO YEARS Info Artikel Diterima: 27 Agustus 2025 Direvisi: 4 Desember 2025 Disetujui:30 Desember 2025 Nandira Putri Farinda1. Mardiana2. Eliza3. Nurul Salasa Nilawati4. Ahmad Sadiq5. Yulianto6 1,2,3,4,5,6 Poltekkes Kemenkes Palembang. Sumatera Selatan. Indonesia (E-mail penulis korespondensi: mardianaagus42@yahoo. ABSTRAK Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi yang menggambarkan dampak dari defisiensi zat gizi, infeksi, tidak tepatnya stimulasi yang ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai dengan usianya. Protein hewani memiliki peran krusial dalam mencegah stunting karena kandungan asam amino Pengetahuan dan sikap ibu juga menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan stunting. Edukasi menggunakan media visual seperti booklet diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan mendorong perubahan sikap ibu. Penelitian ini bertujuan mengetahui edukasi gizi media booklet tentang Auupaya pencegahan stuntingAy terhadap karakteristik pengetahuan dan sikap calon ibu dan ibu baduta di Puskesmas Merdeka Palembang. Metode : Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif melalui desain one group pre-test and post-test. Sampel 34 responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil : Analisis univariat menunjukkan sebesar 85. 3% ibu berada dalam kategori dewasa awal, pendidikan tinggi 79. 4%, status tidak bekerja 88. Analisis bivariat menunjukkan setelah diberikan penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap karakteristik ibu, umur terhadap pengetahuan . 4% menjadi 2. 9%), umur terhadap sikap . 9% menjadi 0. 0%), pendidikan terhadap pengetahuan . 4% menjadi 2. 9%), pendidikan terhadap sikap . 9% menjadi 0. 0%), pekerjaan terhadap pengetahuan . 4% menjadi 2. 9%), pekerjaan terhadap sikap . 9% menjadi 0. 0%). Kesimpulan : Edukasi menggunakan media booklet menunjukkan adanya peningkatan terhadap pengetahuan dan sikap ibu. Kata kunci : Booklet. Karakteristik. Pengetahuan. Sikap. Stunting ABSTRACT Background : Stunting is a condition that reflects the impact caused by nutritional deficiencies, infections, inappropriate stimulation characterized by height not in accordance with age. Animal protein plays an important role in stunting prevention efforts, this is based on the fact that animal protein contains essential amino acids. Other factors such as the level of knowledge and attitudes of mothers also have a role in preventing stunting. Education using visual media such as booklets is expected to increase understanding and encourage changes in motherAos attitudes. This study aims to determine booklet media nutrition education on AuStunting Prevention EffortsAy on the characteristics of knowledge and attitudes of prospective mothers and mothers of under-fives at the Merdeka Palembang Health Center. Methods : This type of research is descriptive with a one group pre-test and post-test design. Sample of 34 respondents was selected using purposive sampling technique. Results : Univariate analysis showed that 85. 3% of mothers were in the early adulthood category, 4% had higher education, 88. 2% did not work. Bivariate analysis showed that after counseling there was an increase in knowledge and attitudes towards maternal characteristics, age to knowledge (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. 4% to 2. 9%), age to attitude . 9% to 0. 0%), education to knowledge . 4% to 2. 9%), education to attitude . 9% to 0. 0%), work to knowledge . 4% to 2. 9%), work to attitude . 9% to 0. 0%). Conclusion: Education Using Booklet Media Shows an Increase in Mother's Knowledge and Attitude. Keywords : Attitude. Booklet. Characteristics. Knowledge. Stunting PENDAHULUAN Stunting merupakan suatu kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan nutrisi, terpapar infeksi, dan stimulasi yang tidak Selain terhambatnya pertumbuhan terutama tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya, anak dibawah usia 2 tahun yang menderita stunting akan mengalami penghambatan perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasannya tidak 2 Stunting merupakan suatu kondisi dimana balita mengalami defisiensi nutrisi berkepanjangan yang menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan fisik, terutama tinggi badan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebesar 21,5% anak di Indonesia mengalami stunting, angka prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,5%, dengan penurunan yang relatif kecil yaitu 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini masih sangat tinggi, namun pemerintah terus berkomitmen menuju target prevalensi stunting 14% pada tahun 2024. Angka stunting di Sumatera Selatan tercatat 20,3% pada tahun 2023 berdasarkan data Survey Kesehatan Indonesia (SKI). Pesentase ini berada dibawah rata-rata stunting secara nasional. Kurangnya mutu protein hewani yang dikonsumsi menjadi salah satu alasan anak mengalami stunting. Namun faktanya, proporsi konsumsi sumber protein hewani dalam pola makan sehari-hari masyarakat Indonesia masih 5 Penelitian menunjukkan bahwa dengan mengonsumsi protein dari sumber hewani dapat mendorong pertumbuhan berdasarkan usia. Oleh sebab itu, konsumsi protein hewani yang memadai pada anak sangat penting untuk mencegah terjadinya Sumber makanan yang terbuat dari protein hewani mengandung asam amino essensial yang sangat dibutuhkan, tubuh lebih efektif dalam menyerap protein hewani daripada protein nabati. Asupan protein hewani perlu diperhatikan pada masa awal pertumbuhan anak. Kandungan zat mikro dalam sumber protein hewani, seperti zat besi, zinc, selenium, dan vitamin B12, dapat membantu mencegah stunting pada anak. Intervensi spesifik pemberian protein hewani pada ibu hamil dan anak usia 6-23 bulan dapat menjadi strategi efektif dalam upaya percepatan penurunan stunting. 8 Ibu yang memahami gejala, dampak, dan cara pencegahan stunting dapat mengambil sikap dan perilaku yang tepat untuk menjaga menurunkan angka kejadian stunting. Stunting menggambarkan adanya masalah gizi kronis, karakteristik ibu seperti umur, pendidikan, dan pekerjaan, juga dapat mempengaruhi status gizi anak. Ibu memiliki peran vital dalam proses tumbuh kembang anak karena kedekatan emosional dan interaksi sehari-hari, melalui kandungan gizi pada makanan yang diberikan. Oleh sebab itu karakteristik ibu juga berkontribusi dalam penentu status gizi anak. Media edukasi pada penyuluhan ini adalah booklet, dari hasil penelitian didapatkan bahwa media booklet berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap setelah dilakukan edukasi, salah satunya adalah penelitian (Raodah et al. , 2. yang mengatakan terjadi perubahan terhadap pengetahuan dan sikap ibu sebelum dan setelah mendapatkan edukasi menggunakan media booklet. Berdasarkan data e-PPGBM Dinas Kesehatan Kota Palembang Tahun 2022. Puskesmas Merdeka berada diurutan ke 4 stunting terbanyak dengan anak yang menderita stunting berjumlah 25 orang dengan persentase 1,7%. 12 Karena hal tersebut, maka Puskesmas Merdeka Palembang sebagai tempat penelitian. METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif melalui desain one group pre-test and post-test dan dilaksanakan di Puskesmas Merdeka Palembang, pengambilan data dilakukan pada 27 April- 10 Mei 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 34 orang. Teknik pengambilan sampel, sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Instrumen yang (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. digunakan yaitu formulir kesediaan menjadi responden, formulir identitas responden, booklet, kuesioner Pre Test dan Post Test, aplikasi komputerisasi. Pengolahan data mencakup editing, coding, entry, cleaning. Analisis data terdiri dari analisis univariat yang memaparkan distribusi frekuensi dalam tabel, dan analisis bivariat yang menggunakan hubungan antar variabel. HASIL Karakteristik Ibu Tabel 1. Karakteristik Ibu Variabel Karakteristik Ibu Umur (Tahu. - Dewasa Awal . - Dewasa Akhir . Total Jumlah Persentase % Pendidikan Terakhir - Pendidikan Rendah - Pendidikan Tinggi Total Pekerjaan - Tidak Bekerja - Bekerja Total Merujuk pada tabel 1, proporsi terbanyak ibu termasuk kategori umur dewasa awal yaitu 29 orang . 3%), sebagian besar ibu berpendidikan tinggi yaitu 27 orang . 4%), pada kategori pekerjaan, mayoritas merupakan ibu berstatus tidak bekerja yaitu 30 orang . 2%). Analisis Univariat Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan10 Pengetahuan Kurang Cukup Baik Total Sebelum Penyuluhan Jumlah Setelah Jumlah Berdasarkan tabel 2, bahwa dari 34 ibu yang menjadi responden sebelum intervensi, terdapat ibu dengan kategori tingkat pengetahuan kurang sebanyak 11 orang . 4%) dengan nilai minimal 26. 6 dan nilai Setelah intervensi, ibu dengan kategori tingkat pengetahuan kurang sebanyak 1 orang . 9%) dengan nilai minimal 53. 3 dan nilai maksimal 100. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Sikap Sebelum Penyuluhan Jumlah Sikap Kurang Cukup Baik Total Setelah Jumlah Mengacu pada tabel 3, bahwa dari 34 ibu yang menjadi responden sebelum intervensi, terdapat ibu dengan kategori sikap kurang sebanyak 1 orang . 9%) dengan nilai 0 dan nilai maksimal 86. Setelah intervensi, tidak terdapat ibu dengan kategori sikap kurang. Nilai minimal sikap setelah penyuluhan yaitu 62. 6 dan nilai maksimal Analisis Bivariat Tabel 4. Distribusi Frekuensi Umur Ibu dengan Tingkat Pengetahuan Setelah Penyuluhan (Post-tes. Kategori Umur Ibu Dewasa Awal Dewasa Akhir Total Pengetahuan Setelah Penyuluhan Kurang Cukup Baik Jml. % Jml. Jml Jml Total Mengacu pada tabel 4, ibu dengan tingkat pengetahuan kurang setelah diberikan penyuluhan dengan kategori dewasa awal yaitu sebanyak 1 orang . 4%), sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan kurang sebelum diberikan penyuluhan dengan kategori umur dewasa akhir sebanyak 0 orang . 0%). Tabel 5. Distribusi Frekuensi Umur Ibu dengan Sikap Setelah Penyuluhan (Posttes. Kategori Umur Ibu Dewasa Awal Dewasa Akhir Total Sikap Setelah Penyuluhan Cukup Baik Jml. Jml. Jml. Total (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori dewasa awal yaitu sebanyak 7 orang . 1%), sedangkan ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori umur dewasa akhir sebanyak 3 orang . 0%). Tabel 6. Distribusi Frekuensi Pendidikan Terakhir dengan Tingkat Pengetahuan Setelah Penyuluhan (Post-tes. Kategori Pendidikan Tabel 9. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu dengan SikapSetelah Penyuluhan (Post-tes. Pengetahuan Setelah Penyuluhan Kurang Cukup Baik Jml Jml Jml Jml Pendidikan Rendah Pendidikan Tinggi Total Merujuk pada tabel 8, ibu dengan tingkat pengetahuan kurang setelah intervensi dengan kategori tidak bekerja yaitu sebanyak 1 orang . 3%), sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan kurang setelah intervensi dengan kategori bekerja sebanyak 0 orang . 0%). Total Klasifikasi Pekerjaan Ibu Tidak Bekerja Bekerja Total Sikap Setelah Penyuluhan Cukup Baik Jml Jml Jml Total Merujuk pada tabel 6, ibu dengan tingkat pengetahuan kurang setelah intervensi dengan kategori pendidikan rendah yaitu sebanyak 1 orang . 3%), sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan kurang setelah intervensi dengan kategori pendidikan tinggi sebanyak 0 orang . 0%). Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori tidak bekerja yaitu sebanyak 9 orang . 0%), sedangkan ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori bekerja sebanyak 1 orang . 0%). Tabel 7. Distribusi Frekuensi Pendidikan Terakhir dengan Sikap Setelah Penyuluhan (Post-tes. PEMBAHASAN Kategori Pendidikan Pendidikan Rendah Pendidikan Tinggi Total Sikap Setelah Penyuluhan Cukup Baik Jml Jml Jml Total Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori pendidikan rendah yaitu sebanyak 3 orang . 9%), sedangkan ibu dengan sikap cukup setelah diberikan penyuluhan dengan kategori pendidikan tinggi sebanyak 7 orang . 9%). Tabel 8. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu dengan Tingkat Pengetahuan Setelah Penyuluhan (Post-tes. Kategori Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Total Pengetahuan Setelah Penyuluhan Kurang Cukup Baik Jml % Jml Jml Jml Total Ibu dengan tingkat pengetahuan tertinggi terdapat pada masa dewasa akhir, kategori umur ini cenderung memiliki kematangan berpikir, pengalaman hidup yang luas, dan kemampuan dalam mengambil keputusan yang baik. Dengan bertambahnya umur semakin banyak pengalaman yang diperoleh, sehingga meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dan merespon perubahan perilaku dengan lebih baik. Bertambahnya umur akan berpengaruh terhadap penambahan pengetahuan yang diperoleh. Semakin dewasa seseorang, maka semakin banyak peluang untuk mendapatkan pengetahuan, baik dari pendidikan, pelatihan, maupun pengalaman Cara berpikir dan daya tangkap seseorang akan semakin baik. Penelitian ini diperkuat oleh penelitian (NursaAoiidah et al. , 2. yang menemukan hasil bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan cukup paling banyak ditemukan pada kategori umur dewasa awal sebanyak 16 orang . %). Umur berpengaruh terhadap sikap ibu, pada umur produktif, seseorang biasanya memiliki potensi maksimal untuk menerima dan menyerap informasi baru sehingga dapat memperluas pengetahuan dan berdampak pada (JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang Vol. No. Desember 2025, e ISSN 2654-3427 DOI: https://doi. org/10. 36086/jpp. Dengan bertambahnya umur, seseorang pengalaman dan pengetahuan, yang dapat mempengaruhi sikapnya dalam menghadapi berbagi permasalahan. 15 Temuan ini selaras dengan temuan (Umamah et al. , 2. yang mengatakan bahwa ibu dengan sikap cukup paling banyak ditemukan pada kategori umur dewasa akhir sebanyak 2 orang . 66%). Pendidikan pengembangan kemampuan dan sikap individu melalui pengetahuan. Kemampuan seseorang dalam mengolah informasi meningkat seiring dengan peningkatan tingkat memperoleh pengalaman yang lebih banyak dan berkualitas. 17 Penelitian terdahulu oleh (Rahmah et al. , 2. yang menemukan hasil bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan kurang mayoritas ditemukan pada kategori pendidikan rendah sebanyak 14 orang . 2%). Pendidikan membuka akses pada lebih banyak informasi yang berpotensi membentuk perspektif baru dan mempengaruhi sikap terhadap berbagai Pendidikan merupakan hasil usaha yang disengaja, maka hal tersebut akan tampak pada sikap atau tingkah laku seseorang dalam menentukan pilihannya serta bertanggung jawab dalam segala hal. 19 Ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang gizi, kesehatan, dan pola asuh anak, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup anak. Hasil penelitian serupa ditemukan pada penelitian (Umamah et al. , 2. yang menemukan hasil bahwa ibu dengan sikap baik paling banyak ditemukan pada ibu yang berpendidikan SMA sebanyak 12 orang . ,67%). Jenjang SMA merupakan salah satu kategori dari pendidikan Pekerjaan memudahkan akses seseorang terhadap informasi yang relevan berdampak pada Ibu yang memiliki aktivitas di luar rumah dan interaksi sosial dapat menambah wawasan mereka. Hal ini terjadi karena ibu memiliki akses ke berbagai sumber informasi dan relasi yang luas. 21 Temuan ini konsisten dengan studi (NursaAoiidah et al. yang menemukan hasil bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan cukup paling banyak ditemukan pada kategori ibu tidak bekerja sebanyak 27 orang . 9%). Pengalaman dapat mempengaruhi sikap seseorang. Pengalaman kerja yang terus pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam membuat keputusan yang tepat. Ibu yang bekerja cenderung memiliki sikap yang lebih positif karena mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri melalui hasil dari interaksi dengan banyak orang dan situasi di lingkungan kerja. 22 Hasil lain ditemukan oleh (Umamah et al. , 2. yang mengatakan bahwa ibu dengan sikap cukup paling banyak ditemukan pada kategori karyawan swasta . sebanyak 3 orang . %). KESIMPULAN DAN SARAN Edukasi gizi menggunakan media booklet di Puskesmas Merdeka Palembang mendapatkan penyuluhan. Penelitian pengembangan variabel untuk penelitian Bagi pihak Puskesmas Merdeka Palembang diharapkan lebih rutin memberikan konsultasi dan penyuhan gizi terutama pada daerah rawan yang kurang terpapar informasi terkait gizi. Bagi Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Palembang, hasil temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan materi edukasi gizi. DAFTAR PUSTAKA