PENELITIAN ASLI EDUKASI TENTANG HIV AIDS PADA ANAK REMAJA DI SEKOLAH SMA NEGERI 17 MEDAN Darwita Juniwati Barus1. Henny Arwina Bangun2 . Sadestina Sembiring3. Wilna Zaenab4 1,2,3 Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara. Indonesia Mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Universitas Sari Mutiara Indonesia. Medan. Sumatera Utara. Indonesia Info Artikel Riwayat Artikel: Diterima: 15 Juni 2025 Direvisi: 21 Juni 2025 Diterima: 28 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Kata kunci: Edukasi HIV/AIDS. Remaja. SMA Penulis Korespondensi: Darwita Juniwati Barus Email: darwitabarus24@gmail. Abstrak Berbagai langkah dan upaya dilakukan untuk menurunkan angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit HIV dan virus. Human Immunodeficiency Virus atau yang sering dikenal HIV merupakan salah satu jenis virus yang dapat menyerang ataupun menginfeksi pada sel darah putih yang dimana nantinya dapat menyebabkan kekebalan tubuh manusia Sedangkan Acguired Immune Deficiency Syndrome atau lebih dikenal AIDS merupakan salah satu penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia secara menurun yang disebabkan infeksi pada virus HIVyang menjadi masalah utama kesehatan saat Pada tahun 2023, ada 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV yang meliputi 36 juta perempuan dan 6,2 juta anak berusia < 15 tahun (InfoDATIN, 2. Penyakit menular HIV/AIDS di Indonesia masih menjadi perhatian serius, terutama karena tingkat penyebarannya yang tinggi Kota Medan masuk sebagai 17 besar kasus HIV terbanyak . Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Sumatera Utara ( metrotvnews. mengatakan bahwa sebanyak 297 pengidap HIV/AIDS berstatus pelajar dan mahasiswa dengan faktor penyebab utamanya adalah pergaulan bebas dan penggunaan narkoba suntik (Vicka, 2. Para remaja harus diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang bahaya penyakit HIV/AIDS. Sekolah adalah tempat yang setiap hari dikunjungi oleh pelajar dalam waktu yang lama setiap harinya, sehingga sekolah merupakan wahana yang digunakan untuk menyampaikan informasi/edukasi tentang HIV/AIDS. Dampak yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan remaja sekolah akan bahaya dari penyakit HIV/AIDS. Kegiatan ini juga membantu program pemerintah khususnya Komisi Penanggulangan AIDS dalam mensosialisasikan pencegahan dan pengurangan kasus HIV/AIDS melalui sosialisasi ke seluruh sekolah Aesekolah di kota Medan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) berupa Penyuluhan HIV/AIDS Di Kalangan Remaja siswa/i Sekolah Menegah Atas ini berlangsung pada tanggal 20 Juni 2025 selama lebih kurang 2 jam 30 menit secara langsung. Jumlah peserta atau sasaran penyuluhan sebanyak 47 orang pelajar SMA Negeri 17 Medan. Metode penyampaian informasi dilakukan melalui ceramah dan diskusi, dengan memfokuskan sasaran kepada remaja. Kegiatan dimulai dengan membangun pemahaman awal, diikuti oleh sesi edukasi tentang penyebab penularan dan cara penyebaran HIV/AIDS. Hasil kegiatan edukasi menunjukkan bahwa penyampaian materi berjalan lancar, dan terlihat adanya partisipasi aktif dari remaja yang memperhatikan materi edukasi dengan seksama. Evaluasi kegiatan ini menunjukkan adanya kerjasama yang positif dari remaja, serta keberhasilan dalam meningkatkan pengetahuan mereka terkait HIV/AIDS. Jurnal ABDIMAS Mutiara (JAM) e-ISSN: 2722-7758 Vol. No. 02 Juni, 2025 (P163-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi: Sistem Informasi Fakultas Sain dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Data dari WHO . , jumlah orang yang menderita dan hidup dengan mengidap HIV sebanyak 56,7 juta, sedangkan yang menderita AIDS yang meninggal sebanyak 1,2 juta Kemenkes RI 2. melaporkan data jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia Triwulan I tahun 2022 dari bulan Januari-Maret 2022, jumlah infeksi HIV sebanyak 376 orang, sedangkan kasus AIDS dilaporkan 873 orang. (Reci H, 2. Menurut Infodatin kasus HIV/AIDS di Indonesia paling banyak diderita oleh usia produktif 25Ae49 tahun, dan usia remaja 15-19 tahun menduduki posisi kelima. Untuk setiap harinya diperkirakan sekitar 2000 anak di bawah 15 tahun tertular HIV dan sekitar 1400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal dunia, serta menginfeksi lebih dari 6000 orang berusia produktif (Lenny Octavianty. Atikah Rahayu. Fauzie Rahman, 2. Faktor resiko penularan HIV/AIDS sampai tahun 2020 terjadi pada heteroseksual . ,7%). IDU . ,7%), homoseksual . ,7%), perinatal . ,6%) dan transfusi . ,1%). Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus HIV/AIDS didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun . ,0%), 30-39 tahun . ,4%), 40-49 tahun . ,8%), 50-59 tahun . ,9%) kemudian 15-19 tahun . %). Saat ini HIV/AIDS menginfeksi secara besar berjenis kelamin perempuan, secara kumulatif sampai tahun 2020 terdapat 61,5% dan laki-laki 38,50% (Marlinda. Usia remaja merupakan usia yang sangat rentan untuk terinfeksi HIV. Lebih dari setengah infeksi baru HIV di dunia ditemukan pada usia 15-19 tahun, dan mayoritas remaja terinfeksi karena hubungan seksual, hal ini sangat besar dipengaruhi karena pergaulan bebas. Sasaran penyuluhan HIV/AIDS adalah usia 15-19 tahun. Sebab pada usia sekolah ataupun usia remaja, sangat rentan sekali dengan tertularnya virus HIV/AIDS. Hal ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyebarkan pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV/AIDS kepada seluruh kaum muda sejak dini, khususnya para siswa SMA Negeri 17 Medan . Melalui penyuluhan ini mereka akan lebih mengerti dan berhati-hati di dalam pergaulan, menghindari bahaya dan resiko tertular HIV, tidak diskriminatif kepada penderita HIV/AIDS, bagi yang berperilaku beresiko akan menyadari kondisinya, memeriksakan diri untuk mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan, bagi yang tertular akan mendapatkan pertolongan, sehingga dapat menjalani kehidupan normal dan tetap berkarya, serta ilmu pengetahuan yang mereka terima dapat disampaikan kepada keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Target UNAIDS 2025 yang baru menempatkan pengidap HIV dan komunitasnya pada risiko pusat respons dan menyerukan agar 95% dari semua orang yang hidup dengan HIV mengetahui status HIV mereka 95% yang mengetahui status HIV-positifnya memulai pengobatan dan 95% dari mereka yang menerima pengobatan. Kecenderungan jumlah infeksi HIV baru di Indonesia sudah semakin menurun. Pada penghitungan estimasi Kemenkes pada tahun 2020, jumlah ODHIV di tahun 2020 adalah sebanyak 543. Lebih rendah dari pada penghitungan estimasi sebelumnya yang dilakukan pada tahun Prevalensi HIV di Indonesia sangat bervariasi menurut populasi 25,8 persen di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, 28,8 persen di antara orang yang menyuntikkan narkoba . , 24,8 persen di antara populasi waria, dan 5,3 persen di antara pekerja seks Perempuan (KEMENKES RI, 2. Meningkatnya prevalensi HIV/AIDS di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dan dampak akibat penyebaran infeksi virus HIV, maka masalah HIV/AIDS dianggap bukan hanya masalah medik dari penyakit menular semata, akan tetapi sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menyangkut semua aspek kehidupan manusia baik medik, psikologik, sosial dan budaya. Pengetahuan tentang HIV AIDS sangat perlu disebarluaskan khususnya dikalangan muda. Dampak dari pemakaian IT yang meningkat membuat semakin mudah setiap orang mengakses tentang tentang banyak hal yang akhirnya dapat membawa membawa remaja ke penggunaan obat dan pergaulan bebas, khususnya kota Medan yang memiliki jumlah penduduk muda yang cukup tinggi. Solusi Permasalahan Mitra HIV-AIDS termasuk salah satu penyakit yang sangat ditakuti, karena hingga saat ini belum ditemukan obatnya, sehingga orang yang terkena penyakit tersebut dapat dikatakan tidak memiliki harapan hidup panjang. Fenomena orang dengan HIV-AIDS jumlahnya cenderung meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Dari beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa orang dengan HIVAIDS tidak hanya terdapat di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta. Bandung maupun Denpasar, tetapi juga terdapat di Pulau lainnya seperti Pulau Papua. Sulawesi. Kasus HIV-AIDS pertama kali ditemukan di Bali pada tahun 1987, jumlah kasus terns bertambah dan menyebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan. Data tentang jumlah sebenarnya orang hidup dengan HIVAIDS (ODHA) di Indonesia sulit untuk didapat. Seringkali dikemukakan bahwa jumlah penderita yang berhasil dihimpun hanyalah puncak dari sebuah gunung es yang di bawahnya menyimpan petaka yang sangat mengerikan. Setiap kasus yang dilaporkan diperkirakan ada 1000 orang lainnya yang sudah terinfeksi HIV, namun tidak terdeteksi. Sehubungan dengan itu, untuk memprediksi perkembangan epidemi di Indonesia telah dibuat beberapa proyeksi. Menurut laporan Bappenas virus HIV diperkirakan telah menginfeksi antara 172. 000- 219. 000 orang di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan RI hingga 2020 remaja yang terinfeksi HIV berjumlah 28. ,2 perse. Sebanyak 2089 orang . di antaranya sudah dengan AIDS. Remaja selalu berisiko tinggi karena mereka memiliki hubungan yang singkat dan pasangan yang banyak, atau pacar atau tunangan dengan perilaku berisiko. Penularan HIV terjadi dinilai salah satunya karena kurangnya pengetahuan terkait HIV/AIDS di kalangan para remaja. Pengetahuan remaja tentang HIV-AID merupakan bagian dari indikator Suistinable Development Goals (SDG. , dan harus dipantau secara berkala oleh semua negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, pengabdian masyarakat ini untuk memberikan pengetahuan dan sikap remaja yang benar terhadap HIV-AIDS. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat penyuluhan edukasi HIV AIDS pada remaja SMA terlaksana pada tanggal 20 Juni 2024 pukul 09. 00 Ae 11. 30 WIB yang bertempat di Kelas XI SMA Negeri 17 Medan yang dihadiri oleh 47 siswa/siswi dengan tujuan adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa/siswi tentang penyakit HIV/AIDS dan penyebarannya, dengan metode ceramah dan diskusi. Hal-hal teknis yang disiapkan diantaranya : laptop, infocus. leaflet dan angket untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa/siswi. Adapun tahap-tahap dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai berikut : Tahap Pertama Tahap pertama kegiatan ini adalah menyusun rencana kegiatan untuk dilakukan, yaitu pembagian tugas anggota pengabdian masyarakat dan berkoordinasi dengan Kepala Sekolah dan dewan guru mengenai ijin pelaksanaan kegiatan mulai dari kesiapan peserta dan fasilitas ruangan. Selanjutnya tim pengabdian masyarakat merancang kegiatan dan bahan/materi serta soal pretest dan posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa/siswi kelas XI. Tahap Kedua Tahap kedua merupakan tahap pelaksanaan kegiatan sosialisasi, monitoring dan evaluasi keseluruhan dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Monitoring meliputi proses selama kegiatan berlangsung dan dilaksanakan oleh tim pengabdian Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melaksanakan pretest dan posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan setelah diberikan edukasi tentang HIV AIDS. Hasil Dan Pembahasan Pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan tentang pengetahuan HIV AIDS. Penyuluhan dilakukan di SMA Negeri 17 Medan. Pelaksanaan dilakukan pada tanggal 20 Juni 2025. Kegiatan penyuluhan pada pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Laboratorium kesehatan sekolah. Anak-anak yang mendapat penyuluhan adalah anak-anak SMA Kelas Xi dari jurusan IPA dan IPS. Informasi tentang tentang edukasi HIV AIDS disampaikan dengan metode story telling. Saat diberikan penjelasan tentang HIV AIDS kepada murid-murid dibantu dengan adanya gambar atau leaflet yang membuat murid-murid menjadi lebih paham dengan materi yang dijelaskan tersebut. Berikut ini adalah dokumentasi dan bahan penyuluhan yang diberikan saat story feeling : Gambar 1. Dokumentasi kegiatan edukasi dan bahan sajian edukasi tentang HIV AIDS Informasi yang disampaikan dalam penyuluhan ini adalah edukasi tentang HIV AIDS ini dapat dilakukan dengan melaksanakan prinsip-prinsip menjaga pergaulan jangan sampai terjerumus kedalam pergaulan bebas dan pemakaian obat-obat terlarang . Anak-anak sangat antusias mengikuti penyuluhan pada kegiatan pengabdian masyarakat Informasi yang disampaikan pada mereka juga terkait jenis-jenis HIV AIDS dimana selama ini mereka menganggap bahwa menjauhi orang dengan HIV AIDS dapat mencegah tertular penyakit ini, namun dengan konsep ABCDE dan dengan keimanan yang kuat terhadap Tuhan Yang Maha Esa maka akan dapat terhindar dari bahaya penyakit HIV AIDS. Kegiatan pengabdian masyaakat ini berlangsung dengan baik dan lancar. Total anak yang diberikan penyuluhan tentang edukasi HIV AIDS ada sebanyak 47 murid. Mereka sangat antusias mendengarkan edukasi ini. Bagi anak-anak sekolah, informasi tentang HIV AIDS sudah sering didengar tapi bagaimana cara mencegahnya masih belum jelas pemahamannya, sehingga memunculkan Stigma yang kurang baik terhadap ODHA. Anakanak sekolah menyampaikan akan menerapkan pencegahan HIV AIDS pada kehidupan mereka sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah dengan konsep tidak melakukan pergaulan bebas dan meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mengikuti berbagai jenis kegiatan keagamaan agar terhindar dari perilaku yang tidak baik dan beresiko terkena HIV AIDS. Kesimpulan Dan Saran Pengabdian masyarakat dilakukan sesuai dengan yang telah direncanakan. Ada peningkatan pengetahuan anak-anak sekolah tentang edukasi HIv AIDS sebelum dan sesudah dilakukan pengabdian masyarkat ini. Hal ini terlihat dari keterlibatan mereka dalam penyuluhan dan mayoritas mampu menyebutkan kembali definisi HIV/AIDS. Disarankan untuk pihak sekolah agar selalu dilakukan pemantauan terhadap perilaku anak dalam bergaul dan berteman disekolah dan meminta peran serta orang tua dalam bergaul dan berinteraksi dengan lawan jenis untuk mencegah terjadinya pergaulan Perlu ada kerjasa dengan petugas kesehatan agar dapat menyebarkan informassi tentang HIV AIDS mengingat masih ada masyarakat sekolah yang kurang mengetahui informasi ini. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberkati kegiatan pengabdian masyarakat ini. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Pimpinan dan staf dari SMA Negeri 17 Medan Sumatera Utara yang telah memberikan ijin pelaksanaan dari kegiatan ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada murid-murid remaja sekolah SMA Negeri 17 Medan yang telah terlibat dari kegiatan ini. Referensi