e-ISSN : x-x HUBUNGAN KEMAMPUAN KOPING DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA DI SMK SANJIWANI GIANYAR Ni Putu Lila Ananda1. I Gede Nyoman Ardi Supartha2. Desak Made Firsia Sastra Putri 3. Desak Gede Yenny Apriani4 1,2,3,4 Program Studi S1 Keperawatan Ners. STIKES Advaita Medika Tabanan Korespondensi penulis: lilaananda19@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan kematangan secara fisik maupun mental. Gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah kejiwaan yang rentan terjadi pada remaja. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk Mengetahui Hubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja Di SMK Sanjiwani Gianyar. Metode: Menggunakan metode kuantitatif dengan desain Cross-Sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 166 orang dengan Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probability Sampling yaitu Stratified Random Sampling. Jenis alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner kemampuan koping dan kesehatan mental. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagia besar responden memiliki kemampuan koping dengan kategori baik yaitu 80 orang dengan Kesehatan Mental normal 48,2%, sedangkan 38 orang responden memiliki Kemampuan Koping yang kurang baik dengan Kesehatan Mental abnormal 22,9%. Hasil Uji Statistik di dapatkan nilai p-value 0,000 <0,05 yang berarti Ada Hubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja Di SMK Sanjiwani Gianyar. Simpulan: Adanya hubungan kemampuan koping dengan kesehatan mental pada remaja di SMK Sanjiwani Gianyar. Kata kunci: Kesehatan Mental. Kemampuan Koping. Remaja PENDAHULUAN Remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan kematangan secara fisik maupun mental. Masa remaja adalah Ketidakseimbangan remaja dapat terpicu karena lingkungan, diri sendiri dan stresor lainnya sehingga remaja tersebut merasa tidak dapat mengendalikan dirinya dan juga dapat bertindak secara agresif. Stres pada remaja dapat mengganggu fungsi kognitif, keputusan yang nantinya berfungsi Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 sebagai pengendali diri (Wilujeng et al. Melindungi remaja dari kesulitan, mendorong pembelajaran sosio-emosional dan kesejahteraan psikologis, serta memastikan akses terhadap perawatan kesehatan mental sangat penting untuk kesehatan dan kesejahteraan remaja menuju dewasa. Kondisi yang mencakup gejala psikosis paling sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa Gejalanya halusinasi atau delusi. Pengalamanpengalaman ini dapat mengganggu kemampuan remaja untuk berpartisipasi sehari-hari e-ISSN : x-x pendidikan, dan sering kali menyebabkan stigma atau pelanggaran hak asasi Remaja kesehatan mental sangat rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, stigma . ang mempengaruhi kesiapan untuk mencari bantua. , kesulitan pendidikan, perilaku pengambilan risiko, kesehatan fisik, dan pelanggaran hak asasi manusia. Secara global, diperkirakan 1 dari 7 . %) remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, namun sebagian besar masih belum dikenali dan tidak diobati (Word Health Organisation. Gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah kejiwaan yang rentan terjadi pada remaja. Data di Indonesia menunjukkan sebanyak 6,1 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental (Kemenkes Republik Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2022, diestimasikan ODGJ Berat sejumlah 7. 780 orang. Kondisi ini perlu mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan. Setiap Kabupaten/Kota pelayanan kesehatan pada ODGJ Berat dengan kondisi sesuai data dari sumber (Seksi P2PTM Dikes Prov Bali Th 2. yaitu di Buleleng sejumlah 105,8%. Badung sejumlah 100,0%. Gianyar sejumlah 100,0%. Klungkung sejumlah 100,0%. Kota Denpasar sejumlah 100,0%. Karangasem sejumlah 92,1%. Bangli sejumlah 73,7%. Tabanan sejumlah 70,8%, dan Jembrana sejumlah 69,9% (Dinkes Bali, 2. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Provinsi Bali Tahun 2022, diestimasikan gangguan mental pada remaja rentang umur 15 Ae 24 tahun mencapai 5,35% (Riskesdas Provinsi Bali, 2. Kesehatan mental memiliki arti penting dalam kehidupan seseorang, dengan mental yang sehat maka seseorang dapat melakukan aktifitas sebagai mahluk Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 Kesehatan mental adalah keadaan dimana seseorang mampu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat beraktivitas secara produktif dan mampu Kesehatan mental menurut undang Ae undang nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan mental merupakan kondisi dimana seseorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat beraktivitas secara produktif, dan mampu memberikan Kesehatan mental harus dijaga baik lahir maupun batin, saat ini yang menjadi perhatian lebih, baik yang masyarakat dewasa bahkan remaja termasuk golongan yang mudah mengalami gangungan mental atau depresi cukup tinggi. Banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan mental seperti faktor genetik, perubahan hormon, hingga pertemanan, keluarga maupun tekanan Gejala yang timbul yaitu mudah marah, merasa putus asa, rendah diri, merasa cemas dan khawatir yang Kesadaran akan kesehatan mental perlu disadari setiap individu untuk mencegah berbagai dampak negatif yang terjadi (Ayu et al. , 2. Remaja memiliki mekanisme koping yang berbeda-beda, mekanisme koping dapat dibagi menjadi 2 yaitu mekanisme koping adaptif dan mekanisme koping Mekanisme koping adaptif yaitu dapat menimbulkan respon positif yang membuat individu dapat mencapai keadaan seimbang dan memperkuat kesehatan fisik serta Mekanisme koping maladaptif yaitu mekanisme koping yang dapat menghambat fungsi integrasi dan e-ISSN : x-x Koping mempengaruhi fungsi intergitas, menurunkan otonom dan cenderung mengalami dominan lingkungan. Mekanisme koping yang dilakukan remaja dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor yang berasal dari dalam diri meliputi usia, jenis kelamin, emosi, dan kognitif. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri meliputi lingkungan, tingkat pendidikan, dan keadaan ekonomi. Faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh pada remaja dalam Kemampuan mengontrol emosi dan prilaku merupakan salah satu adaptasi penting yang harus dimiliki oleh remaja (Ihsan dan Wahyuni, 2. Masa remaja mengalami banyak perubahan emosi, dan kontrol diri yang belum sempurna menyebabkan masalah kesehatan mental. Emosi remaja meledak dan berkobar. Kurangnya kontrol emosi pada masa ini akan memunculkan masalah mental emosional seperti masalah konsep diri, masalah dengan teman sebaya, dan Sosialisasi kesehatan mental perlu diterapkan baik di desa, sekolah dan tempat layanan publik. Pendampingan terhadap masyarakat yang membutuhkan harus dilakukan dengan maksimal untuk menekan angka penderita ganguan kesehatan. Dengan berbagai peran tersebut diharapkan masyarakat dewasa serta remaja dapat mengetahui pentingnya menjaga kesehatan mental (Ayu et al. , 2. Kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, salah Kecenderungan saat ini adalah remaja menjadi lebih pasif. Akibat perkembangan teknologi di era modern ini, remaja lebih suka bermain game, memegang gadget, dan menonton televisi yang menyebabkan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 mereka malas bergerak (Desak Made et , 2. Berdasarkan penelitian dari (Wilujeng et al. , 2. yang berjudul Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kategori Stres pada Remaja di SMP Brawijaya Smart School dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 129 siswa SMP Brawijaya Smart School (BSS), sebanyak 51,9% kategori stressnya adalah normal. Tetapi terdapat 14,0% termasuk kategori stress ringan, 14,0% termasuk kategori stress sedang, 17,8% termasuk kategori stress berat dan 2,3% termasuk kategori stress sangat berat. Hasil uji Chi square menunjukkan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kategori stress . =0,. Dengan kesimpulan sebagian besar tingkat stress remaja adalah pada kategori normal baik pada siswa laki-laki maupun perempuan. Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan kategori stress Kesehatan mental pada remaja mendapatkan perhatian khusus dari Bimbingan Konseling (BK) dan edukasi melalui guru Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Berdasarkan penelitian dari (Nugraha et , 2. yang berjudul Hubungan antara struktur keluarga dengan kesehatan mental menunjukkan sebagian besar responden memiliki struktur keluarga dengan kategori cukup yaitu sebanyak 65 responden . ,0%). Sebagian besar kesehatan mental remaja berada dalam kategori sedang yaitu sebanyak 66 responden . ,9%). Dengan bermakna antara struktur keluarga dengan kesehatan mental remaja . value = 0,. ho = 0,. Berdasarkan penelitian dari (Silvia, 2. yang berjudul Kesehatan Mental Pada Remaja dengan hasil ditemukan terbanyak usia responden 19-24 tahun sebanyak 117 . ,2%) dan jenis kelamin e-ISSN : x-x didominasi perempuan sebanyak 138 . ,1%). Hubungan teman sejawat didominasi baik sebanyak 245 . ,5%), tingkat stres didominasi dengan stres ringan sebanyak 196 . %) dan penindasan/penindasan didominasi netral sebanyak 110 . ,5%). Remaja yang memiliki Gangguan Mental Emosional (GME) sebanyak 124 . ,8%), tidak ada penggunaan zat psikoaktif pada remaja, psikotik/psikosis sebanyak 13 . ,9%), dan remaja yang memiliki indikasi gejala PostTraumatic Stress Disorder (PTSD) sebanyak 20 . ,5%). Kesimpulannya yaitu adanya pengaruh faktor karakteristik dengan terjadinya gangguan mental, diantaranya usia, jenis kelamin, stress. Penting bagi remaja untuk menjaga kesehatan mental. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksankana pada tanggal 06 April 2024 di SMK Sanjiwani Gianyar, didapatkan jumlah keseluruhan siswa dari kelas X,XI,XII yaitu 284 orang. Hasil wawancara dengan 10 siswa, didapatkan bahwa 8 dari 10 siswa belum mengetahui pengertian dari kesehatan mental, 6 dari 10 siswa belum mengetahui tanda gejala dari kesehatan mental, 5 dari 10 siswa belum mengetahui pencegahan dari terjadinya masalah kesehatan mental dan 10 siswa menyebutkan apa saja yang mempengaruhi dan menyebabkan adanya masalah kesehatan mental pada remaja. Berdasarkan fenomena dan uraian pada latar belakang diatas, peneliti memiliki ketertarikan untuk melakukan penelitian mengenai AuHubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental RemajaAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross-Sectional yaitu penelitian dimana pengambilan data terhadap beberapa variabel penelitian dilakukan pada satu Pada penelitian ini peneliti tidak Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 berdasarkan perjalanan waktu (Kusuma Dharma, 2. Peneliti tidak melakukan intervensi dalam penelitian ini, tetapi hanya mengumpulkan data tentang kemampuan koping remaja dan status kesehatan mental remaja serta mencari hubungan antara kemampuan koping dengan kesehatan mental pada remaja. Penelitian ini dilakukan bulan Mei 2024 yang bertempat di SMK Sanjiwani Gianyar. Variabel independen . dalam penelitian ini adalah kemampuan koping sedangkan variabel dependen . pada penelitian ini adalah kesehatan mental pada remaja. Instrumen dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden secara offline/online. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran umum lokasi penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMK Sanjiwani Gianyar yang berlokasi di jalan Dalem Rai Abianbase Gianyar. SMK Sanjiwani memiliki luas tanah 3,335 M2 . SMK Sanjiwani Gianyar merupakan salah satu SMK Swasta unggulan di Kabupaten Gianyar yang sudah terakreditasi A Auamat baikAy yang berdiri sejak 22 November 2011 dengan SK pendirian 420/252/DISDIKPORA. Sekolah ini terlihat di rawat dengan cukup baik, terlihat bersih dan fasilitas yang menunjang proses pembelajaran. Dilihat dari jumlah tenaga kerja di SMK Sanjiwani Gianyar terdiri dari 1 orang Kepala Sekolah dan 28 orang Guru. Pada tahun ajaran 2023/2024 SMK Sanjiwani Gianyar memiliki jumlah siswa-siswi sebanyak 284 orang yang terdiri dari kelas X sebanyak 14 siswa dan 100 siswi, kelas XI sebanyak 21 siswa dan 93 siswi, kelas XII sebanyak 7 siswa dan 54 siswi yang dibagi ke dalam empat jurusan unggulan yaitu Asisten Keperawatan. Farmasi Klinis. Perhotelan dan Kuliner. SMK e-ISSN : x-x Sanjiwani Gianyar memiliki fasilitas 15 ruang kelas untuk belajar, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan, 3 ruang laboratorium, 1 ruang UKS, 1 ruang TU, 2 kantin dan 1 Selain kegiatan akademik siswa-siswi SMK Sanjiwani Gianyar juga memiliki beberapa ekstrakulikuler berupa PMR (Palang Merah Remaj. , karate, basket, futsal dan menari. Ruang UKS yang dimiliki oleh SMK Sanjiwani Gianyar saat ini dikelola oleh 1 orang guru Keperawatan dan para siswi yang mengikuti ekstrakurikuler PMR, dimana yang setiap harinya ada 3 orang siswi yang bertugas secara bergantian. Ruang UKS cukup bersih dan bagus, fasilitas yang dimiliki ruang UKS cukup lengkap seperti 1 toilet, terdapat 1 bed, 1 sofa, kotak P3K, tensimeter, alat timbangan berat badan dan pengukur tinggi Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru yang ditugaskan untuk mengelola UKS, bahwa pada setiap hari jumat seluruh siswa-siswi rutin melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa dari 166 responden karakteristik responden terbanyak berjenis kelamin Perempuan yaitu 143 orang . ,1%). Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa dari 166 terbanyak berdasarkan Kelas yaitu Kelas XI yaitu sebanyak 56 orang . ,7%). Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa dari 166 responden diperoleh hasil Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 terbanyak berdasarkan kemampuan koping pada remaja masuk dalam kategori baik sebanyak 80 orang . ,2%), sedangkan kategori kurang baik sebanyak 38 orang . Berdasarkan tabel 4 menunjukan bahwa dari 166 responden berdasarkan kesehatan mental pada remaja terbanyak masuk dalam kategori normal yaitu 128 orang . ,1%) sedangkan kategori abnormal sebanyak 38 orang . Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa dari 166 %) terdapat 48 orang responden memiliki Kemampuan Koping sangat baik dengan Kesehatan Mental normal 28,9% dan 80 orang dengan Kemampuan Koping Kesehatan Mental 48,2%, sedangkan 38 orang responden memiliki Kemampuan Koping yang kurang baik dengan Kesehatan Mental abnormal 22,9%. Untuk mengetahui hubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar, komputerisasi SPSS dengan uji berupa Spearman-Rho, uji ini berguna untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan antara kedua variabel. Hasil Uji Statistik di dapatkan nilai pvalue 0,000 yang berarti kurang dari nilai = 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti Ada Hubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja Di SMK Sanjiwani Gianyar. e-ISSN : x-x Tabel 1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di SMK Sanjiwani Gianyar Tahun 2024 Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-laki Perempuan Jumlah Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas di SMK Sanjiwani Gianyar Tahun 2024 Kelas Frekuensi . Persentase (%) XII Jumlah Tabel 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kemampuan Koping di SMK Sanjiwani Gianyar Tahun Kemampuan Koping Frekuensi . Persentase (%) Sangat Baik Baik Kurang Baik Jumlah Tabel 4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesehatan Mental Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar Tahun 2024 Kesehatan Mental Frekuensi . Persentase (%) Normal Abnormal Jumlah Tabel 5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kesehatan Mental Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar Tahun 2024 Normal Kemampuan Koping p-value Sangat Baik 28,9% 0,0% Total 28,9% Baik 48,2% 0,0% . ,1%) 0,0% 22,9% . ,9%) 48,2% 22,9% . %) Kurang Baik Total Kesehatan Mental Abnormal Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 0,000 e-ISSN : x-x Kemampuan Koping Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar Berdasarkan data yang di dapat di atas diketahui bahwa 166 responden yang mengikuti penelitian ini, dari 166 responden di dapatkan bahwa sebanyak 22,9% memiliki kemampuan koping yang kurang baik yaitu , tidak bisa mengolah menyelesaikan masalah dengan baik, lebih menunda-nunda untuk menyelesaikan masalah, kemampuan personalnya kurang, kurangnya ekonomi dan dukungan sosial (Rasmun,2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh (Lidwina at. all, 2. Berdasarkan hasil penelitian Menunjukkan responden terbanyak pada Rentang usia 19-21 . emaja akhi. sebagian besar responden dalam Penelitian ini adalah laki-laki yakni 22 orang . 2%). Berdasarkan mekanisme koping. Diketahui responden yang cenderung berpusat Pada problem focus sebanyak 23 orang . 5%), responden yang cenderung berpusat Pada emosi sebanyak 18 orang . 9%). Sedangkan responden yang berpusat pada less Useful dan mix coping sama nilainya yakni 1 Orang . 3%). Mekanisme koping dapat terbagi menjadi dua dengan fokus yang berbeda yaitu fokus pada masalah dan fokus pada Kemampuan koping dapat sering dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pengalaman dalam menghadapi masalah, faktor lingkungan, kepribadian, konsep diri, faktor sosial dan lain- lain sangat berpengaruh pada kemampuan individu (Maryam,2. Kesehatan Mental Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar Berdasarkan data yang di dapat di atas di ketahui bahwa dari 166 responden yang mengikuti penelitian ini sebanyak 128 responden . ,1%) memiliki kesehatan Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 mental yang normal dan 38 responden . ,9%) memiliki kesehatan mental yang Di mana depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku merupakan salah satu penyebab utama penyakit serta gangguan mental di kalangan remaja (Siloam,2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Lubis Mahendika,2. Betdasarkan penelitian Kesehatan Mental pada Remaja Indonesia di Jawa Barat, mendapat hasil yaitu menunjukkan bahwa pola asuh, tekanan teman sebaya, dan harga diri berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental mahasiswa. Gaya pengasuhan otoritatif dan harga diri yang tinggi ditemukan memiliki efek positif pada kesehatan mental, sedangkan tekanan teman sebaya memiliki efek negatif. Studi ini menunjukkan bahwa intervensi yang ditujukan untuk mempromosikan gaya pengasuhan otoritatif, hubungan teman sebaya yang sehat, dan harga diri dapat berguna dalam meningkatkan hasil kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Penelitian ini menyoroti pentingnya gaya pengasuhan, tekanan teman sebaya, dan harga diri dalam kesehatan mental mahasiswa Indonesia di Jawa Barat. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara gaya pengasuhan, tekanan teman sebaya, harga diri, dan kesehatan mental di kalangan mahasiswa Indonesia di Jawa Barat. Hasil dari studi menunjukkan bahwa gaya pengasuhan, tekanan teman sebaya, dan harga diri memiliki efek signifikan pada kesehatan mental di kalangan mahasiswa. Kesehatan mental yang baik membantu remaja merasa lebih bahagia dan positif tentang diri mereka sendiri serta menikmati hidup dengan lebih baik. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat sisi terang dari setiap situasi, menghargai hal-hal kecil dalam hidup, dan bersyukur atas apa yang mereka miliki. Saat kesehatan mental terjaga, seseorang akan lebih mudah dalam e-ISSN : x-x menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan. Dalam setiap tahap kehidupan, kesehatan mental penting untuk terus dijaga, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa (Prudential,2. Hubungan Kemampuan Koping Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja di SMK Sanjiwani Gianyar Hasil uji statistik yang dilakukan peneliti menggunakan bantuan program komputerisasi SPSS menggunakan uji spearman-rho yang dicantumkan pada 5 didapatkan bahwa terdapat hubungan kemampuan koping dengan jesehatan mental pada remaja di SMK Sanjiwani Gianyar dimana didapatkan bahwa remaja memiliki kemampuan koping sangat baik 28,9% , baik 48,2%, kurang baik 22,9% dengan kesehatan mental normal 77,1% dan abnormal 22,9%. Dari analisis di dapatkan bahwa kemampuan koping yang kurang baik bisa menyebabkan gangguan kesehatan mental kemampuan pada saat penyelesaian Hasil uji statistik di dapatkan nilai pvalue sebesar 0,000 yang berarti kurang dari nilai = 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan antara kemampuan koping dengan kesehatan mental pada remaja di SMK Sanjiwani Gianyar. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner kemampuan koping dan kuesioner kesehatan mental. Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Spearman-Rho. Kemampuan koping yang dilakukan remaja dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor yang berasal dari dalam diri meliputi usia, jenis kelamin, emosi, dan kognitif. Sedangkan faktor yang berasal dari luar diri meliputi lingkungan, tingkat pendidikan, dan keadaan ekonomi. Faktor-faktor tersebut Jurnal Nawacita Usada | Volume 1 | Nomor 1 | Maret 2025 memiliki pengaruh pada remaja dalam melakukan mekanisme koping. Kesehatan mental pada remaja bisa terganggu remaja dalam mengatasi masalah yang di Kemampuan mengontrol emosi dan prilaku merupakan salah satu adaptasi penting yang harus dimiliki oleh remaja (Ihsan dan Wahyuni, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Haniyah et al. , 2. yang mendapat hasil yaitu nilai p-value antara pola asuh orang tua dengan kesehatan mental remaja adalah 0,029 < 0,05. Hasil nilai p-value antara teman sebaya dengan kesehatan mental remaja adalah 0,006 < 0,05. Hasil nilai pvalue antara lingkungan tempat tinggal dengan kesehatan mental remaja adalah 0,042 < 0,05. Dan hasil nilai p-value antara sosial ekonomi dengan kesehatan mental remaja adalah 0,044 < 0,05. Ditemukan bahwa beberapa remaja yang kemampuan koping kurang baik juga memiliki gangguan terhadap kesehatan Hal ini daoat terjadi karena adanya faktor yang berasal dari dalam diri dan luar diri. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan kemampuan koping dengan kesehatan mental pada remaja di SMK Sanjiwani Gianyar maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Hasil kemampuan koping pada remaja di dapatkan hasil dari 166 responden 38 orang . ,9%) mengalami kemampuan koping yang kurang baik. Hasil penelitian berdasarkan kesehatan mental pada remaja di dapatkan hasil dari 166 responden 38 orang . ,9%) mengalami kesehatan mental yang Ada kemampuan koping dengan kesehatan e-ISSN : x-x mental pada remaja di SMK Sanjiwani Gianyar. REFERENSI