Volume 6 No. Tahun 2026 Halaman 34 Ae 44 Available online : https://ejournal. id/index. php/PENIPS/index Upaya Guru Dalam Pengintegrasian Profil Pelajar Pancasila Pada Pembelajaran IPS (Materi: Kemajemukan Masyarakat Indonesi. Sheilvitia Agustin Khusdiyanto . Sarmini. Niswatin. Dian Ayu Larasati. , . , . , . Program Studi S1 Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Negeri Surabaya Abstrak Dalam proses pendidikan, penerapan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk membentuk karakter siswa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Implementasi nilai-nilai ini adalah tindakan yang direncanakan dan dilaksanakan dengan cermat sesuai dengan pedoman yang berlaku. Kurikulum baru pasti menjadi tantangan bagi guru untuk menerapkannya, terutama bagi guru IPS di SMP. Karena guru adalah orang yang bertanggung jawab untuk menerapkan kurikulum di sekolah untuk memaksimalkan hasil belajar peserta didik. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis bagaimana upaya guru IPS dalam pengintegrasian Profil Pelajar Pancasila pada Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 32 Surabaya dengan dua guru IPS. Berdasarkan hasil penelitian, dalam perencanaan pengintegrasian profil pelajar pancasila guru menyusun modul ajar terdapat lima indikator yakni: penyusunan modul ajar secara bersama dengan tim, pemilihan materi, pengintegrasian elemen profil pelajar pancasila, metode pembelajaran, pembelajaran yang aktif. Dalam pelaksanan pembelajaran terdapat lima indikator yakni: penguatan nilai-nilai profil pelajar pancasila, interkasi guru dan siswa, pembiasaan, media pembelajaran, dan pemberian tugas. Pada tahap terakhir yakni penilaian dalam tahap ini terdapat tiga penilaian yakni: formatif, sumatif, dan penilaian sikap. dari sisi perencanaan tidak ada yang berbeda dari kedua narasumber, yang membedakan pada saat pelaksanaan pembelajaran dikelas narasumber ADE . peserta didik lebih aktif. Kata Kunci: Integrasi nilai karakter. Peran guru. Pembelajaran IPS Abstract In the educational process, the application of Pancasila Student Profile values aims to shape students' character based on Pancasila values. The implementation of these values is a carefully planned and executed action in accordance with applicable guidelines. The new curriculum will certainly be a challenge for teachers to implement, especially for social studies teachers in junior high schools. This is because teachers are responsible for implementing the curriculum in schools to maximize student learning outcomes. The purpose of this study is to analyze how social studies teachers integrate the Pancasila Student Profile into their teaching. The method used in this study is descriptive qualitative. This study was conducted at SMP Negeri 32 Surabaya with two social studies teachers. Based on the research results, in planning the integration of the Pancasila Student Profile, teachers developed teaching modules with five indicators, namely: developing teaching modules collaboratively with the team, selecting materials, integrating elements of the Pancasila Student Profile, teaching methods, and active learning. In the implementation of learning, there are five indicators, namely: strengthening the values of the Pancasila Student Profile, teacher-student interaction, habit formation, learning media, and assignment of tasks. In the final stage, which is assessment, there are three types of assessment: formative, summative, and attitude In terms of planning, there is no difference between the two informants, but what distinguishes them is that during classroom instruction, informant ADE . years ol. has more active students. Keywords: Integration of character values. Role of teachers. Social studies learning How to Cite: Khusdiyanto. A . Sarmini. Niswatin. Larasati. Upaya Guru Dalam Pengintegrasian Profil Pelajar Pancasila Pada Pembelajaran IPS (Materi: Kemajemukan Masyarakat Indonesi. Dialektika Pendidikan IPS. Vol 6 . : halaman 34 - 44 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 PENDAHULUAN (Safitri. Wulandari, & Herlambang, 2. Perkembangan kurikulum adalah salah satu dari banyak proses perkembangan yang telah dialami pendidikan di Indonesia. Kurikulum di Indonesia telah berubah sejak sebelum merdeka dan telah diubah beberapa kali. Di Indonesia, istilah "ganti menteri ganti kurikulum" adalah stigma yang melekat pada perkembangan kurikulum. (Hartawati & Karim, 2. Nadiem Makarim mengubah kurikulum 13 menjadi kurikulum merdeka sebagai upaya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, perubahan ini didasarkan pada proyek pelajar Literasi, kemampuan, dan karakter adalah sifat yang diharapkan. Kurikulum 13 dan kurikulum merdeka mengalami perubahan yang signifikan. Pendidik menghadapi banyak tantangan dan kesulitan karena perubahan dalam pembelajaran selain perubahan dalam perangkat Terdapat proyek profil pancasila dalam kurikulum merdeka, yang tentunya akan mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan untuk belajar teori. Proyek ini juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak yang ada di sekolah. (Ayubi. Muhajir, & Suardi, 2. Enam atribut utama dari Profil Pelajar Pancasila adalah: kerja sama, kemandirian, berpikir kritis, kreativitas, menghargai keragaman global, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. (Sukatin. Munawwaroh. Emilia, & Sulistyowati, 2. Pengembangan karakter harus diintegrasikan dengan pertumbuhan kognitif, fisik, sosialemosional, kreatifitas, dan spiritual anak dalam pendidikan yang dibutuhkan saat ini. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membentuk anak-anak menjadi manusia seutuhnya. Sebagai hasilnya, siswa memiliki moral yang kuat selain keunggulan intelektual. Siswa dengan prinsip moral yang kuat akan mampu mengatasi berbagai rintangan dalam hidup dan berkembang menjadi pembelajar seumur hidup. (Juangga, et al. , 2. Dengan demikian pendidikan harus memperkuat karakter kebangsaan di tengah perkembangan globalisasi dan tantangan yang semakin kompleks. Melalui penerapan profil pelajar pancasila di sekolah adalah salah satu bentuk untuk membangun karakter kebangsaan yang Profil pelajar pancasila menggambarkan karakteristik peserta didik yang tercermin dalam penerapan prinsip-prinsip pancasila. Profil ini mencakup elemen etika, moral, nasionalisme, dan tanggung jawab sosial peserta didik. (Basri & Rahmi, 2. Kurikulum baru pasti menjadi tantangan bagi guru untuk menerapkannya, terutama bagi guru IPS di SMP. Karena guru adalah orang yang bertanggung jawab untuk menerapkan kurikulum di sekolah, guru untuk memaksimalkan hasil belajar anak-anak mereka. (Sahira, et al. , 2. Peran guru dan keadaan peserta didik selalu menjadi perhatian utama dalam pembelajaran IPS. Peserta didik hanya mengikuti arahan guru, dan guru tetap memegang kendali utama atas pembelajaran. Ironisnya, peserta didik hanya diberikan metode pembelajaran hapalhapalan, yang membuat mereka jenuh saat belajar. Proses pembelajaran ini menunjukkan bahwa pembelajar ips masih belum dapat meningkatkan dan meningkatkan karakter diri mereka sepenuhnya, terutama dalam hal penerapan nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian penelitian ini penting dilakukan karena berdasarkan penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya mengenai pengintegrasian profil pelajar pancasila pada pembelajaran (Inayah, 2. Integrasi Dimensi Profil Pelajar Pancasila dalam Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Menghadapi Era 4. 0 di SMK Negeri Tambakboyo (Khofifah. Pratiwi, & Ilmi, 2. Peran Guru Pendidikan Agama Islam Pada Integrasi Nilai-Nilai Profil Pelajar Pancasila di Madrasah Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis bagaimana upaya guru IPS dalam pengintegrasian Profil Pelajar Pancasila pada pembelajaran. Selain itu, melalui penelitian ini juga dapat diharapkan dapat digunakan untuk memperkaya sumber belajar pada pembelajaran IPS terkait materi kemajemukan masyarakat Indonesia. Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mengkaji mengenai strategi, upaya, atau pemahaman yang telah dilakukan oleh subjek. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan analisis terkait upaya guru dalam pengintegrasian profil pelajar pancasila dalam pembelajaran IPS. Lokasi penelitian yang dilakukan pada satuan jenjang pendidikan sekolah menengah pertama yang berada di SMP Negeri 32 Surabaya di jenjang kelas Vi. Subjek dalam penelitian ini yakni guru IPS yang sedang mengajar dikelas delapan yang melaksanakan pembelajaran profil pelajar pancasila. Data primer akan diperoleh dalam penelitian dengan menggunakan teknik wawancara terkait upaya guru dalam pengintegrasian profil pelajar pancasila pada pembelajaran IPS, serta melakukan observasi pada proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui pengintegrasian profil pelajar pancasila pada pembelajaran. Sedangkan Data sekunder dalam penelitian berupa informasi dan bukti pendukung yang didapat dari proses dokumentasi. Proses dokumentasi ini meliputi: . daftar nama guru IPS, . dokumentasi observasi kegiatan pembelajaran, . dokumentasi profil sekolah, . dokumentasi modul ajar, . dokumentasi hasil pembelajaran meliputi nilai formatif, sumatif, dan penilaian sikap. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian menggunakan konsep Miles dan Huberman, pengambilan informasi data yang telah dilakukan diklasifikasikan dengan tahap pengumpulan data, penyajian data, reduksi data dan verifikasi data atau kesimpulan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan pengintegrasian elemen profil pelajar pancasila pada pembelajaran Karakteristik kurikulum merdeka ini memiliki ciri khas yakni pada penyusunann atau perencanaan kegiatan pembelajaran guru diberikan kebebasan, dan kreativitas guru dalam menentukan modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran nantinya, sebelum memulai pembelajaran guru memiliki peran penting dalam menyusun kegiatan perencanaan pembelajaran. Pada tahap perencanaan yang dilakukan oleh guru ini didasari dengan pemahaman pengetahuan guru yang berpedoman pada kebijakan kurikulum merdeka dan ketentuan KOSP. Yang telah dirumuskan oleh stakeholder sebagai pegangan dalam melakukan analisis beberapa faktor terhadap penyusunan modul ajar. Perencanaan dalam pembelajaran memegang peranan penting dalam memastikan efektivitas dan kesuksesan proses pendidikan, hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh (Kurniawati, 2. Perencanaan pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru untuk memfasilitasi, mendukung, dan mengarahkan siswa agar memperoleh pengalaman belajar yang optimal dan mencapai tujuan pembelajaran. Perencanaan ini meliputi penyusunan materi pembelajaran, pemilihan media pembelajaran, penerapan metode dan pendekatan pengajaran, serta penilaian dalam jangka waktu tertentu. Penyusunan modul ajar Penyusunan modul ajar dikerjakan secara bersama dengan tim, modul ajar yang disusun harus sesuai dengan standar dan kebutuhan. Di sekolah SMP Negeri 32 Surabaya guru yang mengampu mata pelajaran IPS membuat modul ajar secara bersama-sama dalam kegiatan MGMP IPS dalam forum tersebut para pendidik bertukar ide, saran, dan masukan terkait perencanaan pembelajaran IPS. MGMP memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang masalah yang dihadapi guru dan berbagi ide tentang masalah yang dihadapi dalam kelas selama proses pembelajaran. (Ambarita. Sihole. Panjaitan. Napitu, & Sinurat, 2. musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) seharusnya berfungsi sebagai wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan profesi guru, tetapi terkesan tidak melakukannya. Perannya adalah untuk mendorong guru untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam merencanakan, melaksanakan, dan menilai program pembelajaran, dan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 meningkatkan keyakinan mereka sebagai guru profesional. Selain itu, banyak guru yang tidak menyadari pentingnya kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi Dalam pembelajaran IPS di sekolah SMP Negeri 32 Surabaya sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat pendidik menerapkan atau mengimplementasikan pada siswa cara berpikir kritis, berpikir kreatif, karena dalam model pembelajaran mereka dituntut untuk dapat berpikir kritis. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Gunartha, 2. kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif adalah kemampuan yang dikenal sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). HOTS mencakup kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan membuat ide-ide baru. Potensi HOTS untuk membantu siswa belajar berpikir kritis. Dengan kata lain. HOTS adalah proses berpikir di mana siswa diminta untuk memikirkan ide-ide dengan cara tertentu sehingga mereka mendapatkan pemahaman dan makna baru. Penggunaan metode pembelajaran Dalam modul ajar metode yang kami gunakan yaitu menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) yang terintegrasi pada pembelajaran berbasis Social Emtional Learning (SEL). Dengan menggunakan model PBL yang dimana berpusat pada siswa, berbasis masalah, mengembangkan keterampilan berpikir kritis,komunkasi, dan guru sebagai fasilitator dengan diintegrasiaknnya dengan model Social Emtional Learning (SEL) siswa dapat mengatur emosial masing-masing mulai dari membuat keputusan yang etis dan bertanggungjawab, membangun hubungan yang positif. Para pendidik menerapakan metode tersebut pada proses pembelajaran dengan cara mereka dibentuk sebuah kelompok dan disuguhkan suatu permasalahan lalu mereka mempresentasikannya didepan kelas secara bergantian setelah presentasi dari kelompok lain diberikan kesmepatan untuk bertanya hal itu menggambarkan bahwa dapat mengembangkan komunikasi mereka, mengatur emosiaonal mereka seperti saling menghargai pendapat dari orang lain dan berpikir kritis. Mengintegrasikan elemen profil pelajar pancasila dengan tujuan pembelajaran Dalam rancangan pembelajaran terdapat tujuan pembelajaran dan elemen-elemen profil pelajar pancasila dalam hal ini para pendidik mata pelajarn IPS mengintegrasikannya kedua hal tersebut. Elemen profil pelajar pancasila yang diintegrasikan yakni beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, bergotong royong, bernalar kritis, kreatif, mandiri, berkebhinekaan global dengan tujuan pembelajaran mendeskripsikan perkembangan kerajaan islam di Indonesia dan mengidentifikasi kerajaan-kerajaan islam yang berkembang di Indonesia. Pemilihan materi Para pendidik memilih materi yang relevan dengan kehidupan, kesesuaian dengan capaian pembelajaran, ketersediaan sumber dan media, integrasi nilai-nilai profil pelajar pancasila dan karakter, kebutuhan dan minat peserta didik, potensi untuk pendekatan pembelajaran yang aktif maka dari itu dalam penelitian ini guru mengajar materi tentang AuKemajemukan Masyarakat IndonesiaAy. Pemilihan materi (Cahyono, 2. untuk mencapai tujuan pembelajaran, bahan ajar adalah segala sesuatu yang pendidik berikan secara langsung kepada siswa. Materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan, sesuai dengan tingkat perkembangan siswa, dan terintegrasi. Pelaksanaan pembelajaran IPS di integrasikan pada profil pelajar pancasila Pada kegiatan pelaksanaan ini guru memiliki upaya dalam mengelola pembelajaran didalam kelas dengan menyusun model pembelajaran, metode pembelajaran dalam mengintegrasikan profil pelajar pancasila yang dikemas dalam modul ajar yang akan kemudian di implementasikan pada berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Penguatan elemen-elemen profil pelajar pancasila dalam kegiatan pembelajaran Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, guru menerapkan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran. penelitian (Pakiding. Arnida, & Amir, 2. Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia adalah mereka yang memahami dan mengamalkan ajaran agama serta keyakinannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menunjukkan akhlak mulia dalam hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Berkebhinekaan global, siswa mempertahankan budaya asli, lingkungan, dan identitas mereka sambil tetap terbuka ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya lain. Sikap ini mendorong rasa saling menghormati dan memungkinkan terciptanya budaya baru yang positif tanpa bertentangan dengan budaya asli negara. Pembelajaran IPS guru menerapkan dan mengajari mereka agar saling meghargai satu sama lain dari perbedaan agama, warna kulit, dan lain-lain. Agar tidak terjadi pembulian. Gotong royong, kemampuan untuk berkolaborasi dengan orang lain untuk melakukan kegiatan bersama-sama agar kegiatan dapat berjalan lancar, mudah, dan ringan. Dimensi ini guru IPS menerapkan pembelajaran dengan metode kerja kelompok yang dimana mereka slaing membantu, bertukar pikiran untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya. Kemandirian, siswa mampu bertanggung jawab atas pendidikan dan sumber daya mereka Kemampuan untuk menghadapi situasi saat ini, kesadaran diri, dan pengaturan diri adalah tiga komponen utama yang mendorong kemandirian ini. Pada dimensi ini guru IPS memberikan siswa tanggung jawab tugas sekolah agar mereka dapat melatih kemnadirian mereka dan bertanggungjawab atas pekerjaannya mereka sendiri tanpa bantuan dari orang Bernalar kritis, kemampuan untuk mengumpulkan dan menyerap informasi dan ide, menganalisis dan menilai penalaran, merefleksikan proses berpikir sendiri selama pengambilan keputusan, dan mengkritik pemikiran sendiri adalah elemen penting dari penalaran kritis. Dalam materi ini siswa dapat belajar berpikir kritis dengan cara memberikan sebuah masalah pada tugas sekolah. Kreatif, memiliki kemampuan untuk mengubah dan membuat sesuatu yang unik, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Implementasinya guru IPS memberikan tugas berupa mind mapping yang dimana kreatifnya mereka keluar. Interaksi guru dan siswa Guru memberikan ice breaking agar interaksi antar guru dan siswa tetap terjaga tidak ada keadaan dalam kelas yang kaku dan tidak terlalu monoton dalam pembelajaran sehingga suasana dapat cair. Dalam hal ini naarsumber ADE . lebih dekat dengan peserta Hal ini diperkuat dengan penelitian dari (Wea, et al. , 2. dalam proses pembelajaran di kelas, siswa terkadang kurang fokus dan merasa bosan. Untuk menyelesaikan masalah ini, guru mengadakan ice breaking untuk membuat suasana baru dan mendorong siswa untuk bekerja sama. Pembiasaan Pola atau kegiatan yang dilakukan secara terus menerus hingga menjadi sebuah kebiasaan bagi peserta didik. Kedua narasumber dari guru IPS memberikan penguatan kepada peserta didik setiap harinya secara berulang mulai dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran agar menjadi sebuah pembiasaan. Pemberian tugas Pendidik memberikan tugas kepada peserta didik baik tugas individu maupun kelompok dan tugas tersebut dapat dikerjakan di sekolah maupun dirumah. Hal ini mendorong peserta didik untuk kreatif dan berpikir kritis, meningkatkan pemahaman materi, menumbuhkan sikap tanggungjawab dan kemandirian, dan menjadi alat evaluasi. Penelitian (Santoso, 2. Pemberian tugas . adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa membuat catatan penting setiap meteri pelajaran untuk kemudian dipelajari. Catatan-catatan ini berfungsi sebagai ringkasan materi yang dipelajari secara keseluruhan dan mendorong siswa untuk Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 berpartisipasi dalam belajar secara individual dan kelompok. Metode ini juga membantu siswa menjadi lebih berani dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Penelitian (Gusti & Rahayuningtyas, 2. terbukti bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis proyek berhasil meningkatkan kreativitas siswa kelas Vi E dalam pembelajaran seni budaya, khususnya seni rupa. Media pembelajaran Media yang digunakan oleh guru IPS yaitu LCD. Buku Siswa. Video documenter, gambar tokoh-tokoh kerajaan islam, papan tulis, dan laptop. Penelitian (Fitria. Anggara, & Randy, 2. Salah satu manfaat penggunaan media pembelajaran adalah dapat disesuaikan dengan gaya belajar siswa, dapat membuat konsep yang abstrak menjadi lebih nyata dan lebih mudah dipahami siswa, dan dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam proses Media kreatif, seperti video interaktif, aplikasi digital, dan alat bantu visual lainnya, memiliki potensi untuk memengaruhi minat, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam Penilaian Pembelajaran Pada penilaian pembelajaran IPS di integrasikan pada profil pelajar pancasila melalui beberapa cara atau strategi yaitu Guru IPS membuat asesmen penilaian formatif, sumatif, dan sikap, . Penilaian Formatif Penilaian pengetahuan dilakukan dengan tes dan nontes penilaian melalui tugas dan kuis, penilaian proyek. Penelitian dari (Mufti. Sabri, & Remiswal, 2. penilaian formatif. Guru Dirosah melakukan tugas harian, menilai doa dan hadist, dan mengamati perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari. Menurut wawancara dengan Guru Dirosah, evaluasi formatif dilakukan untuk memberikan umpan balik langsung kepada siswa tentang perkembangan karakter religius mereka. Hasil penilaian ini juga memberikan dasar bagi Guru Dirosah untuk meningkatkan pembelajaran, baik dalam materi ajar maupun cara penyampaiannya. Penilaian Sumatif Penilaian ini dilaksanakan setelah semester, atau tahun pelajaran berakhir, guru IPS melaksanakan penilaian sumatif dengan berupa uts dan uas. Penelitian (Putri & Zakir, 2. Dalam kurikulum merdeka, evaluasi sumatif digunakan sebagai pelaporan setelah suatu fase pembelajaran berakhir. Hasil evaluasi ini, atau sumatif, dapat digunakan untuk mengukur perkembangan siswa, membantu guru merencanakan aktivitas lanjutan, dan mengetahui apakah tujuan pembelajaran telah dicapai atau tidak. Penilaian Sikap Penilaian sikap ini dilaksanakan dengan membutuhkan waktu yang lama dan memerlukan kegiatan observasi dan jurnal penilaian sikap. Dalam melakukan observasi Guru melihat bagaimana siswa berperilaku selama kelas. Mereka melakukan hal-hal seperti berbicara, bekerja kelompok, atau menyampaikan pendapat. Penelitian (Faisal & Lazwardi, 2. Sikap seseorang terhadap sesuatu dapat dipengaruhi oleh apa yang mereka ketahui tentang hal itu. Oleh karena itu, pengetahuan dan sikap saling mempengaruhi dan sangat terkait. Ranah afektif terdiri dari sifat perilaku seperti perasaan, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga domain tersebut merupakan aspek manusia yang dipelajari melalui pendidikan. Kemampuan afektif adalah minat dan sikap yang berkaitan dengan tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri. Faktor Penghambat Pada faktor penghambat ini segala sesuatu yang dapat menghalangi, memperlambat, atau mengganggu tercapainya suatu tujuan atau pelaksanaan suatu kegiatan. Hal ini dibagi menjadi 3 yakni perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Perencanaan Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 Pada kegiatan perencanaan dalam faktor penghambat ini guru mengalami beberapa kendala yakni sebagai berikut: Kurangnya pemahaman terkait profil pelajar pancasila Berdasarkan ahsil wawnacara dengan narasumber yaitu kami masih belum memahami mengenai pembelajaran profil pelajar pancasila dalam kurikulum merdeka saat ini sehingga hal ini berhubungan dengan modul ajar yang dimana kita mendapatkannya dari MGMP IPS. Dengan ketidak pemahaman tersebut guru dapat mengikuti webinar dari online maupun offline agar menambah pemahaman mengenai pembelajaran di kurikulum saat ini. Hal ini selaras dengan penelitian dari (Nabila. Andriana, & Rokmanah, 2. Guru juga harus berusaha mencari informasi tentang pelaksanaan pelatihan implementasi kurikulum merdeka. Karena pelatihan ini diselenggarakan secara daring, guru dapat mencarinya melalui internet. Pelatihan akan membantu guru menerapkan program P5 di sekolah. Pelaksanaan . Sikap siswa yang beragam Hal yang wajar dan bahkan positif dalam dunia pendidikan karena menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, pengalaman, minat, dan kepribadian yang berbeda. Oleh karena itu yang dapat dilakukan oleh guru IPS dengan menggunakan pendekatan diskusi kelompok hal ini menyebabkan peserta didik lebih aktif meskipun pada pelaksanaan masih ada peserta didik yang tidak aktif, guru IPS juga memberikan penguatan dan pembinaan kepada peserta didik, guru IPS harus mmeiliki hubungan yang positif dengan siswa dapat mengenali peserta didik secara pribadi dan dapat menjadi figure yang aman secara emosional. Pembelajaran berpusat pada guru Pembelajaran berpusat pada guru ini pendekatan pembelajaran di mana guru bertindak sebagai sumber informasi utama, pengambil keputusan utama, dan siswa bertindak sebagai penerima pasif. Hal ini sejalan dengan penelitian (Maulani. Maison. Kurniawan, & Jumiarti, 2. model pembelajaran konvensional, seperti ceramah dan tanya jawab, tidak mempengaruhi kemampuan analisis siswa secara signifika . Penilaian . Sulit mengukur karakter secara objektif Salah satu masalah besar dalam dunia pendidikan adalah mengevaluasi karakter secara Karakter seperti tanggung jawab, integritas, gotong royong, atau empati bukanlah hal yang dapat dinilai dengan angka atau pilihan ganda, seperti halnya kemampuan kognitif. Hal ini diperkuat oleh penelitian (Setiawan, 2. pengamatan dan laporan diri adalah dua cara yang dapat digunakan untuk menilai karakter seseorang. Data kuantatif diperoleh melalui pengukuran, data kualitatif diperoleh melalui kegiatan pengamatan, dan data laporan diri diperoleh melalui instrumen angket. Oleh karena itu, instrumen diperlukan untuk melakukan pengukuran dan pengamatan. Faktor Pendukung Pada faktor ini sesuatu yang membantu atau memperlancar tercapainya suatu tujuan, keberhasilan, atau keberlangsungan suatu kegiatan, program, atau proses. Perencanaan . Tersedianya modul ajar Dokumen perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru sebagai pedoman untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas. Modul ajar ini bertujuan untuk mmebantu guru dalam merancang pembelajaran, meningkatkan kualitas pembelajaran, mmeberikan arah yang jelas, dan menyediakan fleksibilitas agar guru bisa menyesuaikan materi, metode, dan asesmen sesuai dengan kondisi siswa. Pada modul ini guru mendapatkan dari MGMP IPS Hal ini juga diperkuat oleh penelitian dari (Arinie & Azmah, 2. guru Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 sangat penting dalam modul ajar ini untuk membuat pembelajaran efektif dan menarik di kelas. Komponen-komponen modul ajar ini memiliki banyak manfaat untuk pembelajaran dan guru di kelas, termasuk sarana dan prasarana. Sarana dan prasaran memiliki banyak manfaat, bahkan menjadi faktor pendorong hasil belajar. Mereka juga membantu guru belajar dengan lebih baik, terutama dalam pembelajaran modern, di mana guru dapat mengajar siswa mereka dengan cara yang inovatif dan kreatif. Pelatihan dan workshop kurikulum merdeka Pihak sekolah menyediakan workshop dan pelatihan bagi guru-guru disekolahan tersebut agar dapat memudahkan para pendidik memahami mengenai kurikulum merdeka dan konsep pembelajaran di kuruikulum saat ini dapat dikatakan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan dalam memahami dan menerapkan Kurikulum Merdeka secara efektif. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari (Wibawa. Legawa. Wena. Seloka, & Laksmi, 2. pelatihan guru tentang pelaksanaan kurikulum merdeka belajar yang diberikan melalui kantor investigasi langsung sangat efektif dan meningkatkan 87 pemahaman guru tentang kurikulum Selain itu, para guru merasa lebih termotivasi untuk menerapkan kurikulum merdeka dalam proses pembelajaran di kelas. Pelaksanaan . Dukungan kepala sekolah dan tim kurikulum Dukungan kepala sekolah dalam kurikulum merdeka di SMP negeri 32 Surabaya, pihak kepala sekolah menjadi kepemimpinan visioner memahami filosofi Kurikulum Merdeka . erdeka belajar, diferensiasi. Menjadi agen perubahan untuk mendorong transformasi pembelajaran. menyediakan sarana dan prasarana, fasilitas dan penguatan kompetensi guru dengan memebrikan pelatihan-pelatihan kepada para pendidik, dan monitoring serta evaluasi. Sedangkan tim kurikulum meberikan dukungan berupa membimbing guru dalam menyusun modul ajar, menyusun pernecanaan kurikulum sekolah, kolaborasi, dan evaluais berkala. Hal ini diperkuat oleh penelitian dari (Umami & Wahyudi, 2. kepala sekolah juga membantu membangun budaya kerja sama dan inovasi di sekolah. Pelatihan intensif juga dimanfaatkan oleh kepala sekolah untuk membantu mereka mengelola perubahan ini. Penguasaan teknik bukanlah satu-satunya tujuan dari pelatihan ini untuk membantu guru menjadi lebih adaptif terhadap Sangat penting bagi guru untuk memahami pentingnya perubahan kurikulum dan bagaimana mereka dapat membantu melaksanakannya. Kesesuaian materi dengan nilai profil pelajar pancasila Materi pelajaran tidak hanya berfokus pada kognitif, atau pengetahuan, tetapi juga membantu siswa membangun karakter dan kemampuan mereka sesuai dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Pada materi ini Kemajemukan Masyrakat Indonesia selaras dengan elemen-elemen profil pelajar pancasila seperti: Berkebhinekaan global, kreatif, dan bernalar kritis. Akan tetapi guru IPS menggunakan semua elemen profil pelajar pancasila pada materi ini. Penilaian . Penilaian karakter Mengamati, mencatat, dan merefleksikan perilaku, sikap, dan nilai siswa selama kegiatan belajar, proyek, dan interaksi sosial. Hal ini selaras dengan penelitian dari (Armini, 2. penilaian perkembangan siswa dalam konteks pembelajaran menekankan betapa pentingnya memprioritaskan kemajuan dan potensi setiap siswa. Dengan menggunakan pendekatan penilaian yang lebih luas, pertumbuhan pribadi siswa didukung dengan baik. Pendidikan karakter dibangun melalui tugas sehari-hari dan interaksi di sekolah. Ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka berkomitmen untuk memastikan bahwa nilai41 Dialektika Pendidikan IPS. Volume 6 . : 34 -44 nilai moral, etika, dan perilaku positif menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari Panduan umum dari kemendikbud ristek Pada panduan pembelajaran assessment tahun 2024 Dokumen ini menjelaskan prinsip penilaian formatif dan sumatif yang saling berkesinambungan dalam pembelajaran. Menegaskan bahwa penilaian karakter bersifat kualitatif, menggunakan rubrik dan deskripsi, bukan angka mutlak. Mendorong penggunaan rubrik yang memetakan tahaptahap pencapaian siswa . isal: baru berkembang mahi. serta interval nilai berdasarkan KESIMPULAN Pengintegrasian profil pelajar pancasila di SMP Negeri 32 Surabaya dilakuakakn beberapa tahap yakni perencaan, guru menerapkan lima strategi dalam menysuun modul ajar. Penyusunan modul ajar dikerjakan secara bersama dengan tim, modul ajar yang disusun harus sesuai dengan standar dan kebutuhan, pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam modul ajar metode yang saya gunakan yaitu menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) terintegrasi pembelajaran berbasis Social Emtional Learning (SEL). Mengintegrasikan nilai elemen profil pelajar pancasila sesuai dengan tujuan pembelajaran, pemilihan materi dalam penyusunan modul ajar. Dalam pelaksanaan pengintegrasian profil pelajar panacsila guru menerapkan beberapa cara yakni, penguatan nilai-nilai profil pelajar pancasila dalam kegiatan pembelajaran, interaksi guru dan siswa, pemberian tugas, metode pembelajaran, dan pembiasaan. Sedangkan dalam penilaian guru mengintegrasikan beberapa cara dalam pembelajaran IPS yaitu, penilaian pengetahuan dilakukan dengan tes dan nontes penilaian melalui tugas dan kuis, penilaian proyek, uts dan uas, serta penilaian sikap. Berdasarkan hasil penellitian peneliti mendapatkan bahwa kedua guru IPS tersebut dalam upaya pengintegrasian profil pelajar pancasila tidak ada yang membedakan melainkan hanya pada pelaksanaan pembelajaran ada yang berbeda. Dalam pelaksanaan di kelas narasumber ADE . peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA