JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam Maryati1*. Arif Fakih Firdaus1. Agus Novi Wahyudin1. Anis Fauzi1. Neneng Aminah1 Fakultas Manajemen Pendidikan Islam. Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia *Corresponding author email: 242625225. maryati@uinbanten. Article Info Article history: Received Augustus 18, 2025 Approved November 16, 2025 Keywords: Education Policy. Integration of Knowledge. Transformative-Adaptive Model. Global Competitiveness. Islamic Identity ABSTRACT Islamic universities in Indonesia face significant challenges in balancing Islamic values with the needs of modern education and global competition. The dynamics of changes in national higher education policies and the demands of international accreditation create adaptive pressure for these institutions to transform without losing their distinctive identity. This research aims to analyze the effectiveness of Islamic higher education policies in integrating Islamic values with international academic standards, as well as identifying optimal policy models for institutional development in the digital era. How can Islamic universities develop policies that strengthen Islamic identity while increasing global competitiveness? What are the challenges of implementing scientific integration policies in Islamic universities? The research used a qualitative approach with a case study method at five leading Islamic universities. Data were collected using library research method, by analyzing various sources from books and journals related to the theme of the mutual relationship between politics and policy and education in Islamic universities. The study identified three models of effective integration policies: . transformative-adaptive model, . conservative-selective model, and . progressive-innovative Policy implementation is influenced by leadership, organizational culture, and capacity Universities that implement the transformative-adaptive model show an optimal balance between strengthening Islamic values and increasing global competitiveness. ABSTRAK Perguruan tinggi Islam di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam menyeimbangkan nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan pendidikan modern dan persaingan global. Dinamika perubahan kebijakan pendidikan tinggi nasional dan tuntutan akreditasi internasional menciptakan tekanan adaptif bagi institusi-institusi ini untuk bertransformasi tanpa kehilangan identitas khasnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas kebijakan perguruan tinggi Islam dalam mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan standar akademik internasional, serta mengidentifikasi model kebijakan yang optimal untuk pengembangan institusi di era Bagaimana perguruan tinggi Islam dapat mengembangkan kebijakan yang memperkuat identitas keislaman sekaligus meningkatkan daya saing global? Apa tantangan implementasi kebijakan integrasi keilmuan di perguruan tinggi Islam? Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada lima perguruan tinggi Islam terkemuka. Data dikumpulkan menggunakan metode library research atau riset literatur, dengan menganalisis berbagai sumber dari buku dan jurnal yang berkaitan dengan tema hubungan timbal balik politik dan kebijakan dengan Pendidikan di perguruan tinggi islam . Studi mengidentifikasi tiga model kebijakan integrasi yang efektif: . model transformatif-adaptif, . model konservatif-selektif, dan . model progresif-inovatif. Implementasi kebijakan dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan, budaya organisasi, dan kapasitas sumber daya. Perguruan tinggi yang menerapkan model transformatif-adaptif menunjukkan keseimbangan optimal antara penguatan nilai keislaman dan peningkatan daya saing global. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license Analisi Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam A - 2628 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . How to cite: Maryati. Firdaus. Wahyudin. Fauzi. , & Aminah. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam . Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2628Ae2645. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Dalam dua dekade terakhir, pendidikan tinggi Islam di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, baik dalam hal jumlah maupun kualitas institusi. Menurut data dari Kementerian Agama, jumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) meningkat dari 53 institusi pada tahun 2010 menjadi 58 institusi pada tahun 2024, sedangkan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) meningkat dari 629 menjadi 785 institusi (Mesiono. Wasiyem. Zakiyah. Fahrezi. Nursakinah, & Azhari, 2. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan tinggi yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan pengetahuan modern (C. Dewi et al. Meskipun ada pencapaian yang menggembirakan, tantangan besar tetap ada, terutama terkait dengan persaingan global dan tuntutan akreditasi internasional bagi pendidikan tinggi (Sapalakkai, 2. Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, sebuah studi pada tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 12% perguruan tinggi Islam di Indonesia yang tergolong dalam kategori "sangat baik" terkait integrasi nilai keislaman dengan standar akademik internasional (Mukit & Solehodin, 2. Selain itu, data dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menunjukkan bahwa 65% program studi di PTKIN masih berada di peringkat B atau C, dengan hanya 22% yang mencapai peringkat A (Daruhadi, 2. Kesenjangan ini menandakan adanya kekurangan dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi Islam yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, baik secara nasional maupun internasional (Muktapa, 2. Kesenjangan ini sebagian besar disebabkan oleh ketidakselarasan antara visi integrasi keilmuan yang diharapkan dan praktik operasional sehari-hari di perguruan tinggi Islam. satu sisi, ada dorongan untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional keislaman, sementara di sisi lain permintaan untuk modernisasi dan digitalisasi pendidikan tinggi semakin mendesak. Perguruan tinggi Islam dituntut untuk melakukan transformasi fundamental dalam berbagai aspek, seperti kurikulum, metode pembelajaran, dan tata kelola institusional (Juhana et al. Keterbatasan dalam produktivitas penelitian, rendahnya tingkat sitasi akademik, dan minimnya inovasi dalam pembelajaran juga menjadi masalah penting yang perlu diatasi (Febril. Model kebijakan yang diusulkan dalam literatur menunjukkan perlunya pendekatan transformatif-adaptif yang mengintegrasikan tiga dimensi utama: penguatan identitas keislaman, peningkatan daya saing global, dan responsivitas terhadap dinamika era digital (Sani, 2. Pendekatan ini berbeda dari penelitian sebelumnya yang sering kali memisahkan dimensidimensi tersebut. Dengan mengedepankan keselarasan kebijakan, perguruan tinggi Islam diharapkan tidak hanya dapat mempertahankan identitas intelektual keislaman tetapi juga berkontribusi signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan global (Aldianti, 2. Upaya konkret telah dilakukan untuk mengatasi kesenjangan ini, misalnya, melalui program transformasi kelembagaan oleh Kementerian Agama yang telah mengkonversi beberapa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) (Jaudi. Ini dimaksudkan untuk memperluas mandat keilmuan agar lebih komprehensif, mencakup berbagai bidang sains dan teknologi di samping ilmu keagamaan, sehingga posisi perguruan tinggi Islam di tingkat nasional dan global dapat diperkuat (Adinugraha et al. , 2. Kebijakan lain seperti program beasiswa 5000 doktor dan peningkatan kolaborasi penelitian internasional juga telah diterapkan untuk meningkatkan kualitas akademik (Nadhifah et al. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2629 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Meskipun upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif, masih ada tantangan fundamental yang perlu diatasi. Transformasi kelembagaan cenderung menekankan aspek struktural tanpa perubahan paradigmatik yang signifikan, mengakibatkan "kompartmentalisasi" ilmu (Chasanah & Mustaqim, 2. Kebijakan pengembangan akademik yang ada masih sporadis dan tidak terintegrasi dalam kerangka kebijakan yang komprehensif, sehingga belum sepenuhnya mendukung tradisi keilmuan Islam yang distingtif dan berdaya saing (Saputri et al. Selain itu, model-model integrasi keilmuan yang dikembangkan masih menghadapi kendala dalam implementasinya, dengan banyak perguruan tinggi belum mampu menginternalisasi paradigma integrasi keilmuan dalam praktik sehari-hari (Fakhruddin, 2. Analisis lebih lanjut terhadap kebijakan pengembangan perguruan tinggi Islam menunjukkan perlunya reorientasi fundamental, berpijak pada tiga pilar utama: penguatan distingtifitas tradisi keilmuan Islam, pengembangan ekosistem inovasi, dan transformasi digital menyeluruh (Aminuddin et al. , 2. Dengan model kebijakan yang transformatif-adaptif ini, perguruan tinggi Islam diharapkan bisa membangun budaya akademik yang mendorong inovasi dan kolaborasi antardisiplin sambil tetap memegang teguh nilai-nilai inti keislaman (Sapalakkai. Melalui integrasi yang komprehensif ini, diharapkan perguruan tinggi Islam dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan solusi bagi tantangan yang dihadapi masyarakat kontemporer. Penelitian ini memilih lima perguruan tinggi Islam terkemukaAiUIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Alauddin MakassarAisebagai fokus penelitian karena keunikan, keragaman, dan urgensinya dalam konteks pengembangan pendidikan tinggi Islam (Mesiono. Wasiyem. Zakiyah. Fahrezi. Nursakinah, & Taufiq Azhari, 2. Dengan mempelajari kelima institusi ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang mendalam tentang implementasi kebijakan pendidikan tinggi Islam sesuai konteks masing-masing, serta menghasilkan model kebijakan yang dapat diterapkan di tempat lain (Angraini, 2. Temuan dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan wacana akademik dan kebijakan pendidikan tinggi Islam agar lebih berdaya saing global tanpa kehilangan identitas keislamannya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka, memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap fenomena kebijakan perguruan tinggi Islam dalam konteks nyata. Pendekatan kualitatif dipilih karena kesesuaiannya untuk mengkaji kompleksitas implementasi kebijakan, yang melibatkan berbagai dimensi nilai, interpretasi, dan konteks sosial-budaya yang tidak dapat diukur secara kuantitatif (Dian et al. , 2. Studi kasus multipel digunakan untuk memahami variasi implementasi kebijakan pada lima perguruan tinggi Islam terkemukaAiUIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Alauddin MakassarAidengan mempertimbangkan keunikan kontekstual masing-masing institusi (Rahmat & Roqib, 2. Desain penelitian ini juga memungkinkan analisis komparatif untuk mengidentifikasi pola, perbedaan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan perguruan tinggi Islam dalam berbagai konteks (AsAoad, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian pustaka . ibrary researc. , yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengkaji dan menganalisis berbagai literatur yang relevan dengan topik kebijakan perguruan tinggi Islam. Pendekatan kualitatif dipilih karena kesesuaiannya untuk mengkaji kompleksitas implementasi kebijakan, yang melibatkan berbagai dimensi nilai, interpretasi, dan konteks sosial-budaya yang tidak dapat diukur secara kuantitatif (Dian et al. , 2. Metode penelitian pustaka memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap fenomena kebijakan perguruan tinggi Islam melalui analisis Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2630 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . komprehensif terhadap berbagai sumber literatur yang telah dipublikasikan (Rahmat & Roqib. Penelitian pustaka ini berfokus pada analisis komparatif kebijakan perguruan tinggi Islam di Indonesia dengan mengkaji berbagai dokumen kebijakan, hasil penelitian terdahulu, dan publikasi ilmiah yang membahas implementasi kebijakan pada perguruan tinggi Islam terkemuka seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan UIN Alauddin Makassar. Desain penelitian ini memungkinkan identifikasi pola, perbedaan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan perguruan tinggi Islam dalam berbagai konteks melalui sintesis literatur yang komprehensif (As'ad, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini mengidentifikasi tiga model kebijakan integrasi keilmuan yang diterapkan di lima perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia, yang mencakup: . model transformatif-adaptif, . model konservatif-selektif, dan . model progresif-inovatif (Baharuddin, 2. Model-model ini menggambarkan keragaman pendekatan dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, yang masing-masing memiliki karakteristik dan mekanisme implementasi yang berbeda-beda (Manajemen et al. , 2. Model transformatif-adaptif, yang tercermin dari pemikiran Ibnu Sina tentang integrasi ilmu agama dan umum, menekankan pentingnya harmonisasi antara dua domain tersebut untuk menghindari dikotomi keilmuan (Mesiono. Wasiyem. Zakiyah. Fahrezi. Nursakinah, & Taufiq Azhari, 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa pendekatan inovatif dalam pendidikan dapat sangat efektif ketika institusi mampu menyesuaikan kurikulumnya dengan dinamika perubahan zaman, terutama di era digital (Majeed et al. , 2. Dengan demikian, model ini memungkinkan pendidikan menjadi lebih relevan dan responsif terhadap kebutuhan Model transformatif-adaptif, yang diterapkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Alauddin Makassar, menekankan pada transformasi paradigma keilmuan melalui dialog dan sintesis antara tradisi keilmuan Islam dan sains modern, yang responsif terhadap perubahan eksternal (Azzahra & Arif, 2021. Mellyan & Inayatillah, 2022. Mustopa et al. , 2. Sementara itu, model konservatif-selektif yang diterapkan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh berfokus pada pemeliharaan tradisi keilmuan Islam dengan seleksi ketat terhadap unsur-unsur keilmuan modern (Hamidah et al. , 2. Di sisi lain, model progresif-inovatif yang diterapkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencerminkan keterbukaan yang lebih besar terhadap paradigma keilmuan global, menekankan inovasi, dan kontribusi orisinal dalam penelitian dan pengembangan ilmu (Sururi et al. , 2. Dalam implementasi model kebijakan integrasi keilmuan, model transformatif-adaptif berfungsi untuk menciptakan desain kurikulum yang interdisipliner dan menggalakkan kolaborasi penelitian yang melibatkan perspektif keislaman dan sains modern (Zikrawahyu, 2. Model konservatif-selektif menegaskan pentingnya keorisinalan tradisi keilmuan Islam, mengembangkan pendekatan selektif untuk mengintegrasikan ilmu modern yang dianggap relevan dengan prinsip-prinsip Islam. Penerapan ini berfokus pada penguatan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran dan pengembangan pusat kajian yang mendukung Islamisasi ilmu pengetahuan (Sitorus, 2. Model progresif-inovatif, di sisi lain, memfasilitasi pengembangan wawasan yang lebih luas dengan mengintervensi berbagai bidang keilmuan, serta menjalin kerjasama internasional yang mendalam untuk meningkatkan produktivitas penelitian dan publikasi internasional (Lestari & Pujiastuti, 2. Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi efektivitas implementasi kebijakan integrasi keilmuan: . kepemimpinan, . budaya organisasi, dan . kapasitas sumber daya. Faktor kepemimpinan sangat menentukan dalam menciptakan visi integrasi keilmuan dan mendorong partisipasi seluruh elemen institusi untuk mewujudkannya (Fitriani et al. , 2. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2631 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Budaya organisasi yang mendukung keterbukaan intelektual dan inovasi juga berperan penting, seperti terlihat pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memiliki karakter budaya akademik yang kuat (Ulum et al. , 2. Selanjutnya, kapasitas sumber daya, baik itu sumber daya manusia, finansial, dan infrastruktur, juga kritikal dalam memastikan keberhasilan implementasi kebijakan, mengingat perlunya dukungan yang memadai untuk pengembangan kurikulum dan riset (Moh. Nasir 1. Ady Alfan Mahmudinata2. Hafidulloh3. Miftah Ulya4, n. Evaluasi terhadap dampak model kebijakan menunjukkan bahwa meskipun ada variasi dalam hasil, ketiga model tersebut bersama-sama berkontribusi pada transformasi positif pendidikan tinggi Islam(Nasir et al. , 2. Model transformatif-adaptif cenderung menunjukkan keseimbangan antara penguatan identitas keislaman dan daya saing global, sedangkan model konservatif-selektif lebih fokus pada identitas dan pembentukan karakter, meskipun dengan keterbatasan dalam aspek penelitian (Hendra & Hakim, 2. Model progresif-inovatif mencatat hasil yang baik dalam penelitian dan pengakuan internasional, tetapi menghadapi tantangan dalam hal kesinambungan internal dan identitas keislaman yang kuat (Mesiono, at. al, 2. Temuan mengenai berbagai model kebijakan integrasi keilmuan ini sejalan dengan pendekatan teori hibridisasi kelembagaan yang dikembangkan oleh Burch dan Spillane, di mana institusi pendidikan mengonfigurasi elemen tradisional dan modern untuk membentuk identitas institusional yang responsif pada tuntutan luar (Staff & Improvement, n. Model transformatif-adaptif, sesuai dengan pengembangan selektif yang diutarakan oleh Lubis, menunjukkan bahwa institusi berupaya melakukan transformasi, bukan sekadar seleksi pasif terhadap unsur modernitas sambil mempertahankan nilai-nilai inti dari tradisi keislaman (Lubis et al. , n. Pendekatan ini menciptakan dialektika yang produktif, mengandalkan pemahaman historis dan aplikasi kontemporer dari teks-teks keislaman demi relevansi di era modern (Ohtsuka et al. , 2. Keterbatasan penelitian ini diakui dalam beberapa aspek, termasuk fokus pada lima perguruan tinggi besar yang mungkin tidak mencakup keragaman institusi secara keseluruhan (Muqarramah Sulaiman Kurdi, 2. Oleh karena itu, riset lanjutan perlu dilakukan dengan melibatkan lebih banyak perguruan tinggi di berbagai lokasi dan konteks (Rahmadi Fitri Imam. Penelitian longitudinal juga disarankan untuk mengeksplorasi evolusi model kebijakan dari waktu ke waktu. Selain itu, studi kuantitatif dengan sampel yang lebih besar dapat memperkaya data dan untuk meningkatkan generalisasi hasil-hasil penelitian ini(Dawis et al. Model Transformatif-Adaptif dalam Pengembangan Perguruan Tinggi Islam Model transformatif-adaptif merupakan kerangka konseptual dan strategis yang semakin relevan dalam pengembangan perguruan tinggi Islam kontemporer (F. Kurniawan et , n. Model ini menawarkan pendekatan yang dinamis dan responsif terhadap tantangan modernitas, tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai keislaman yang fundamental. Model transformatif-adaptif menggabungkan dua orientasi utama. Dalam dimensi Transformatif melibatkan perubahan fundamental dan sistemik yang mengubah struktur, orientasi, dan kapasitas kelembagaan. Transformasi ini tidak sekadar perubahan kosmetik, tetapi merupakan pembaruan substantif yang menyentuh aspek epistemologis, pedagogis, dan institusional pendidikan tinggi Islam (M. Kurniawan, 2. Dimensi Adaptif mencakup kemampuan untuk beradaptasi secara selektif dan kritis terhadap perkembangan pengetahuan, teknologi, dan tuntutan sosio-ekonomi, tanpa kehilangan identitas dan misi distingtif sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam (Sumartono & Kunci, 2. Perpaduan kedua dimensi ini menciptakan model yang memungkinkan perguruan tinggi Islam menjadi agen perubahan . sekaligus memiliki ketahanan dan relevansi dalam menghadapi perubahan zaman . Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2632 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Karakteristik Utama Model Transformatif-Adaptif . Integrasi Epistemologis Integrasi epistemologis bertujuan untuk mengatasi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum dengan melakukan rekonstruksi paradigma keilmuan, yang meliputi pengembangan pendekatan inter dan transdisipliner yang melampaui sekatsekat keilmuan konvensional serta perumusan epistemologi Islam kontemporer yang responsif terhadap perkembangan sains dan teknologi (Munir, 2. Inovasi Pedagogis Inovasi pedagogis mencakup transformasi metode pembelajaran yang bergeser dari model transmisi pengetahuan ke model konstruksi dan produksi pengetahuan, mengembangkan pedagogik kritis untuk mendorong mahasiswa menjadi pemikir independen, secara selektif dan bermakna mengadopsi teknologi pendidikan, serta memadukan tradisi halaqah dan bahtsul masail dengan metode pembelajaran kontemporer (Fachrial et al. , 2. Reformasi Institusional Pembaruan struktur dan tata kelola yang Reformasi institusional melibatkan pembaruan struktur dan tata kelola yang bertujuan untuk meningkatkan otonomi akademik sambil tetap mempertahankan akuntabilitas, mengembangkan model kepemimpinan kolektif yang partisipatif, membangun sistem penjaminan mutu yang sesuai dengan kekhasan institusi Islam, serta menciptakan struktur yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan industry (Tambaip & Tjilen, 2. Kontekstualisasi Kurikulum Kontekstualisasi kurikulum mencakup pengembangan kurikulum yang menjembatani tradisi klasik dengan kebutuhan kontemporer, mengakar pada khazanah intelektual Islam sembari berdialog dengan disiplin modern, responsif terhadap isu-isu global seperti keberlanjutan, keadilan sosial, dan perkembangan teknologi, serta mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi global tanpa kehilangan identitas keislaman (Madura & Undang-undang, n. Implementasi Kebijakan Model Transformatif-Adaptif . Transformasi IAIN menjadi UIN Transformasi IAIN menjadi UIN di Indonesia merupakan contoh nyata penerapan model transformatif-adaptif, di mana perluasan mandat dari studi keislaman menjadi universitas komprehensif dilakukan dengan tetap mempertahankan distingsi kelembagaan, pengembangan fakultas-fakultas baru dalam bidang sains, teknologi, dan sosial-humaniora dilandasi paradigma integrasi keilmuan, serta reformasi kurikulum yang mengintegrasikan kompetensi keislaman ke dalam disiplin "umum. "(Mesiono, at. al, 2. Pengembangan Paradigma Keilmuan Distingtif Paradigma-paradigma ini berfungsi sebagai kerangka konseptual yang mengarahkan transformasi epistemologis dan institusional Berbagai UIN mengembangkan paradigma keilmuan distingtif sebagai manifestasi model transformatif-adaptif: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan "Integrasi Ilmu" UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan "Integrasi-Interkoneksi" . aring labalab. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan "Pohon Ilmu" UIN Alauddin Makassar dengan "Menara Ilmu"(Ridwan et al. , 2. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2633 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Pengembangan Pusat Keunggulan Penelitian Model transformatif-adaptif mendorong pengembangan riset unggulan yang: Menggali khazanah klasik Islam untuk merespons tantangan kontemporer Mengembangkan kajian interdisipliner yang memadukan perspektif Islam dengan pendekatan modern Menghasilkan inovasi yang berkontribusi pada pengembangan ilmu dan memecahkan problematika masyarakat (Urip et al. , 2. Program-program Inovatif Implementasi model ini melahirkan program-program inovatif seperti: Ma'had al-Jami'ah . esantren kampu. sebagai model integrasi tradisi pesantren dalam sistem universitas modern Program kaderisasi ulama berbasis universitas yang mengkombinasikan kedalaman tradisi dengan wawasan kontemporer Entrepreneurship Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai dan prinsip ekonomi Islam dengan kewirausahaan modern (Herayati, 2. Tantangan dan Strategi Pengembangan . Tantangan Internal Dalam implementasi paradigma integratif sering kali muncul dari resistensi kelompok tradisionalis. Mereka khawatir bahwa upaya untuk mengadopsi pendekatan baru dapat mengikis identitas keislaman yang telah ada (Mahmud, 2. Kekhawatiran ini menciptakan ketegangan yang signifikan dalam proses transformasi, di mana nilai-nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh kelompok tersebut perlu diakomodasi tanpa menghilangkan esensi budaya dan agama yang mereka anut (BAHAGIA, 2. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam menghadapi tantangan ini. Tanpa adanya pelatihan dan pemahaman yang memadai, implementasi paradigma integratif dapat terhambat (Handayani, 2. Di sisi lain, terdapat ketegangan antara tuntutan standardisasi nasional atau global dengan kekhasan institusi yang ada. Hal ini memerlukan pendekatan yang cermat agar institusi dapat tetap mempertahankan karakteristik uniknya sambil memenuhi standar yang ditetapkan (Bloom & Reenen, 2. Tantangan Eksternal Tantangan eksternal yang dihadapi institusi pendidikan semakin kompleks, terutama dengan persaingan global yang menuntut penerapan standar internasional dalam penelitian dan pembelajaran. Institusi harus mampu beradaptasi dengan tuntutan ini agar tetap relevan dan kompetitif di kancah global(Widiyanto et al. , 2. Hal ini memerlukan peningkatan kualitas pendidikan dan penelitian yang tidak hanya memenuhi standar lokal, tetapi juga diakui secara internasional(Basuki et al. , 2. Selain itu, ekspektasi pemangku kepentingan yang beragam, termasuk pemerintah, masyarakat, dan industri, menambah lapisan kompleksitas dalam pengambilan keputusan . Setiap kelompok memiliki kebutuhan dan harapan yang berbeda, sehingga institusi harus mampu menjembatani perbedaan tersebut (Sari et al. Ditambah lagi, perubahan teknologi dan pasar kerja yang cepat menuntut institusi untuk terus berinovasi dan memperbarui kurikulum agar lulusan dapat bersaing di dunia kerja yang dinamis (Hukum & Malikussaleh, 2. Strategi Pengembangan Untuk mengatasi tantangan yang ada, model transformatif-adaptif menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara berkelanjutan melalui program-program capacity building. Investasi dalam pelatihan dan pengembangan Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2634 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . keterampilan akan memastikan bahwa tenaga pengajar dan staf mampu beradaptasi dengan perubahan dan tuntutan baru (Afifah et al. , 2. Dengan meningkatkan kapasitas SDM, institusi tidak hanya dapat memperkuat kualitas pendidikan, tetapi juga membangun budaya inovasi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global(Kesehatan et al. , 2. Kolaborasi strategis dengan institusi global dan lokal, baik yang bersifat tradisional maupun modern, juga menjadi kunci dalam strategi pengembangan ini. Melalui kemitraan yang saling menguntungkan, institusi dapat berbagi sumber daya, pengetahuan, dan pengalaman (Lubis et al. , n. Kolaborasi ini akan membuka peluang bagi penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan kurikulum yang lebih relevan, yang pada akhirnya dapat memperkuat posisi institusi di kancah internasional (Nasir et al. , 2. Selain itu, penguatan posisi sebagai pusat dialog peradaban sangat penting untuk menghubungkan tradisi Islam dengan modernitas. Dengan menciptakan ruang untuk diskusi dan kolaborasi antarbudaya, institusi dapat menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dapat sejalan dengan perkembangan zaman (Hendra & Hakim, 2. Penerapan tata kelola yang baik dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas juga perlu diutamakan. Model Konservatif-Selektif dalam Pengembangan Perguruan Tinggi Islam Model konservatif-selektif merupakan pendekatan distingtif dalam pengembangan perguruan tinggi Islam yang menekankan pelestarian nilai-nilai inti dan tradisi keilmuan Islam, sambil melakukan seleksi hati-hati terhadap unsur-unsur modernitas yang akan Berbeda dengan model transformatif-adaptif yang lebih terbuka terhadap perubahan mendasar, model ini mengutamakan kontinuitas tradisi dengan penyesuaian selektif (Marzuki et al. , 2. Model konservatif-selektif menggabungkan dua orientasi utama. Dimensi Konservatif menekankan pelestarian dan pengembangan tradisi keilmuan Islam klasik sebagai fondasi Konservatif dalam konteks ini bukan berarti anti-perubahan, melainkan komitmen untuk mempertahankan khazanah intelektual Islam dan menjaga kesinambungan historisnya (Yunus et al. , 2. Dimensi Selektif: Melakukan penyaringan . secara ketat terhadap pengetahuan, metodologi, dan teknologi modern yang akan diadopsi, berdasarkan kriteria kesesuaian dengan prinsip-prinsip dasar Islam(Marzuki et al. , 2. Selektif berarti tidak menolak modernitas secara total, tetapi menerimanya secara hati-hati dan kritis. Perpaduan kedua dimensi ini menciptakan model yang tetap menjaga otentisitas tradisi dengan membuka ruang terbatas bagi inovasi yang tidak mengganggu esensi identitas keislaman Lembaga (Muqarramah Sulaiman Kurdi, 2. Karakteristik Utama Model Konservatif-Selektif . Prioritas pada Tradisi Keilmuan Islam Model ini memprioritaskan penguasaan mendalam terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik,seperti tafsir, hadits, fiqh, dan ushul fiqh (Lubis et al. , n. Pendekatan ini berfokus pada pelestarian metode pengajaran tradisional yang telah teruji, yang memfasilitasi pemahaman yang lebih baik terhadap teks-teks keagamaan. Dengan demikian, siswa dapat menghayati kedalaman ilmu yang diwariskan oleh para ulama klasik (Rahmadi Fitri Imam, 2. Sistem talaqqi, ijazah, dan isnad menjadi fondasi penting dalam proses Melalui sistem ini, siswa tidak hanya belajar dari teks, tetapi juga mendapatkan bimbingan langsung dari para guru yang berpengalaman. Hal ini menjamin bahwa pengetahuan yang disampaikan tetap otentik dan sesuai dengan tradisi keilmuan Islam(Nadhifah et al. , 2. Penekanan pada otoritas teks dan figur otoritatif dalam tradisi Islam menjadi kajian utama dalam model ini. Dengan memperhatikan warisan intelektual ulama klasik, pengembangan keilmuan dapat dilakukan dengan cara yang sesuai dan Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2635 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . diterima baik. Ini menjadikan model ini sebagai ciri khas yang memperkuat identitas keilmuan dalam konteks Islam (Adam, 2. Pendekatan Selektif terhadap Modernitas Pendekatan selektif terhadap modernitas menekankan penggunaan parameter syariah dan maqasid sebagai filter utama dalam memahami ilmu dan metodologi Dalam konteks ini, prinsip "al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa alakhdzu bi al-jadid al-ashlah" diterapkan dengan penekanan pada pelestarian tradisi yang baik, sambil tetap terbuka terhadap inovasi yang lebih baik (Jaudi, 2. Hal ini penting untuk memastikan bahwa adopsi unsur modern tetap selaras dengan nilainilai yang dianut(Febril, 2. Selain itu, pendekatan ini juga membedakan antara aspek teknologi dan nilainilai yang terkandung dalam ilmu modern(Daruhadi, 2. Dengan mengutamakan maslahah dan menghindari mafsadah, proses adopsi unsur modern dilakukan dengan hati-hati, memastikan bahwa kemaslahatan masyarakat menjadi prioritas utama. Sebagai hasilnya, modernitas dapat diintegrasikan tanpa mengorbankan prinsipprinsip moral dan etika yang menjadi landasan masyarakat (Juhana et al. , 2. Hirarkisasi Ilmu Pengetahuan Hirarkisasi ilmu pengetahuan mengorganisasikan ilmu-ilmu keislaman pada tingkat tertinggi sebagai "fardhu 'ain," yang wajib dipelajari oleh setiap individu Muslim. Di sisi lain, ilmu-ilmu modern diposisikan sebagai "fardhu kifayah," yang dipelajari untuk memenuhi kebutuhan praktis umat (Angraini, 2. Dengan pengembangan kurikulum berjenjang, model ini memastikan bahwa penguasaan ilmu-ilmu dasar keislaman menjadi landasan sebelum mempelajari disiplin lain. Selain itu, penekanan pada adab . dalam pencarian ilmu menjadi aspek integral dalam pendidikan. Hal ini menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya fokus pada akumulasi pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter dan moralitas (Sapalakkai, 2. Dengan demikian, hirarkisasi ilmu pengetahuan ini berkontribusi pada pembentukan individu yang seimbang antara pengetahuan dan etika dalam kehidupan sehari-hari (Meke et al. , 2. Kelembagaan Distingtif Pengembangan struktur kelembagaan yang distingtif mempertahankan model kepemimpinan berbasis kewibawaan keilmuan dan spiritual. Dalam konteks ini, keteladanan . menjadi prioritas dalam proses pendidikan, di mana para pemimpin dan pengajar berperan sebagai contoh yang baik bagi siswa(Mellyan & Inayatillah, 2. Hal ini menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan karakter dan keilmuan secara bersamaan (Ali et al. , 2. Selain itu, kelembagaan ini mengembangkan komunitas akademik yang menjunjung tinggi nilai-nilai adab islami (Jenita et al. , 2. Dengan menjaga jarak dari tekanan pasar dan industrialisasi pendidikan, lembaga ini berupaya menghindari pengikisan nilai-nilai inti yang seharusnya menjadi landasan pendidikan. Dengan cara ini, pendidikan dapat tetap relevan dan bermakna tanpa kehilangan esensi spiritual dan moralnya (Yunus et al. , 2. Implementasi Model dalam Perguruan Tinggi Islam . Pengembangan Kurikulum Berbasis Turats Pengembangan kurikulum berbasis turats di institusi dengan model konservatif-selektif menekankan pengkajian kitab-kitab klasik sebagai porsi dominan. Dengan fokus pada karya-karya yang telah teruji, kurikulum ini memberikan landasan yang kuat dalam ilmu-ilmu keislaman. Program-program unggulan, seperti tahfizh Al-Qur'an, hadits, dan fiqh muqaran, menjadi inti dari pendidikan yang ditawarkan(Muhibuddin, 2. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2636 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Selain itu, institusi ini juga menawarkan mata kuliah ilmu-ilmu modern yang diajarkan dengan perspektif Islam, yang dikenal sebagai Islamisasi (Rahim et al. Pendekatan ini bertujuan untuk mengintegrasikan pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam, sehingga siswa dapat memahami konteks yang lebih luas. Hal ini menciptakan jembatan antara tradisi dan modernitas dalam pembelajaran (Jenita et al. , 2. Pendekatan pengajaran yang dipilih mempertahankan hubungan guru-murid tradisional, di mana interaksi langsung dan bimbingan personal menjadi kunci (Bakar et al. , 2. Melalui hubungan ini, siswa bukan hanya menerima pengetahuan, tetapi juga mendapatkan bimbingan moral dan spiritual dari para guru. Dengan demikian, kurikulum berbasis turats ini berusaha menciptakan pendidikan yang holistik dan bermakna (Harini et al. , 2. Pesantren Tinggi sebagai Model Institusional Pengembangan model pesantren tinggi mengintegrasikan sistem pesantren tradisional dengan pendidikan tinggi formal, menciptakan sinergi antara dua pendekatan pendidikan. Dengan menggabungkan nilai-nilai keislaman yang kuat dengan kurikulum akademik, model ini memberikan landasan yang kokoh bagi siswa untuk berkembang. Hal ini memungkinkan siswa untuk mendapatkan pengetahuan yang komprehensif dalam lingkungan yang mendukung (Linnaja, 2. Pola kehidupan komunal yang dipertahankan di pesantren tinggi menciptakan suasana kondusif untuk pembentukan karakter. Interaksi antara siswa dan guru dalam konteks komunitas ini membantu mereka mengembangkan sifat-sifat positif dan nilai-nilai Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga tumbuh sebagai individu yang beretika (Samad et al. , 2. Kurikulum 24 jam yang diterapkan mencakup aspek akademik dan spiritual, memastikan keseimbangan antara keduanya (Bakar et al. , 2. Dalam model ini, kyai atau ulama dijadikan figur sentral dalam kepemimpinan akademik, memberikan bimbingan dan inspirasi kepada siswa. Dengan pendekatan ini, pesantren tinggi berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam iman dan akhlak (Muqorrobin & Sofa, 2. Seleksi Ketat Terhadap Program-program Baru Penerapan kriteria ketat dalam pembukaan program studi baru memastikan bahwa setiap program memiliki landasan yang jelas dalam tradisi keilmuan Islam. Dengan demikian, institusi dapat menjaga integritas dan konsistensi pendidikan yang ditawarkan, sehingga setiap disiplin ilmu yang diajarkan tetap sejalan dengan nilainilai keislaman (Rahim et al. , 2. Hal ini juga mendorong pengembangan akademik yang relevan dan bermakna. Adopsi teknologi pembelajaran dilakukan dengan seleksi yang cermat, berdasarkan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam. Teknologi yang dipilih harus mendukung proses pembelajaran tanpa mengorbankan nilai-nilai moral dan spiritual yang penting dalam pendidikan keislaman (Harini et al. , 2. Dengan pendekatan ini, institusi berupaya memanfaatkan inovasi modern secara efektif dan etis (Khasanah et al. , 2. Kerjasama dengan institusi luar dibatasi pada pihak-pihak yang selaras dengan visi keislaman lembaga, menjaga konsistensi nilai-nilai pendidikan. Selain itu, pengembangan riset diprioritaskan pada penguatan studi keislaman dan pemecahan masalah umat (Yemmardotillah et al. , 2. Dengan fokus ini, lembaga dapat berkontribusi secara signifikan terhadap solusi isu-isu yang dihadapi masyarakat, sekaligus mendalami ilmu yang relevan dengan konteks keislaman (Widodo et al. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2637 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Model Progresif-Inovatif dalam Pengembangan Perguruan Tinggi Islam Model progresif-inovatif merupakan paradigma pengembangan perguruan tinggi Islam yang berorientasi pada pembaruan, inovasi, dan responsivitas proaktif terhadap tantangan kontemporer. Dalam konteks ini, model ini mengedepankan reinterpretasi kreatif tradisi keislaman untuk menghasilkan sintesis baru yang relevan dengan tuntutan zaman (Rakhmah et al. , 2. Dengan tetap berpijak pada nilai-nilai inti Islam, model ini berusaha untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern (Khomsinnudin, 2. Model ini menggabungkan dua orientasi utama, dimensi progresif dan dimensi Dimensi progresif menekankan kemajuan dan perubahan konstruktif, dengan kesiapan untuk melakukan reinterpretasi tradisi dan membuka ruang diskursus baru. Ini berarti bahwa lembaga pendidikan harus berorientasi pada masa depan dan bersedia mengkaji ulang pemahaman tradisional bila diperlukan untuk menghadapi tantangan kontemporer (Ilham et al. , 2. Sementara itu, dimensi inovatif menekankan kreativitas dan penciptaan pendekatan baru dalam berbagai aspek pendidikan tinggi Islam. Ini mencakup metodologi penelitian, pedagogi, hingga tata kelola institusional, di mana inovasi menjadi etos utama yang mendorong eksperimen dan pengembangan model-model baru. Dengan demikian, institusi pendidikan dapat terus beradaptasi dan relevan di tengah perubahan yang cepat (Nurhaliza et al. , 2. Perpaduan kedua dimensi ini menciptakan model yang dinamis, berorientasi pada pembaruan berkelanjutan, dan proaktif dalam merespons perubahan sosial, teknologi, dan Dengan pendekatan ini, perguruan tinggi Islam tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat inovasi yang berkontribusi pada kemajuan umat. Model progresifinovatif ini berpotensi untuk menciptakan generasi yang mampu menghadapi tantangan global dengan pemahaman yang mendalam dan relevan terhadap nilai-nilai Islam (Chairudin & Widodo, 2. Karakteristik Utama Model Progresif-Inovatif . Reinterpretasi Tekstual-Kontekstual Model reinterpretasi tekstual-kontekstual mengedepankan pendekatan hermeneutis kontemporer dalam mengkaji teks-teks keislaman. Dengan metodologi tafsir kontekstual, model ini mempertimbangkan realitas sosio-historis masa kini untuk menghasilkan pemahaman yang lebih relevan. Hal ini memungkinkan penafsiran yang tidak hanya akurat secara tekstual, tetapi juga sesuai dengan dinamika masyarakat modern (Ahmad, 2. Selain itu, model ini juga fokus pada pengembangan fikih kontemporer yang responsif terhadap isu-isu global, seperti bioetika, teknologi digital, dan Dengan merespons tantangan-tantangan ini, institusi pendidikan dapat memberikan solusi yang berbasis pada nilai-nilai Islam sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman. Pendekatan ini menciptakan ruang untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip Islam dapat diterapkan dalam konteks modern (IstiAoana, . Paradigma Keilmuan Post-Dikotomis Pengembangan paradigma keilmuan post-dikotomis melampaui dikotomi tradisional antara ilmu agama dan ilmu umum, menciptakan integrasi yang lebih Dengan cara ini, pengetahuan tidak lagi terkotak-kotak, tetapi saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap realitas yang kompleks di dunia modern (Sholicha & El-Yunusi, 2. Selain itu, paradigma ini mengembangkan epistemologi Islam kontemporer yang berdialog dengan tradisi filosofis global. Dengan membuka ruang untuk diskusi lintas budaya dan tradisi, model ini memperkaya perspektif keilmuan yang ada. Hal ini juga mendorong transdisiplinaritas, di mana berbagai disiplin ilmu dapat dipadukan untuk menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan efektif (Faqihuddin. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2638 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Pengakuan terhadap pluralitas metodologi dalam produksi pengetahuan menjadi aspek penting dalam paradigma ini. Dengan mengakui bahwa berbagai pendekatan dapat memberikan wawasan yang berharga, institusi pendidikan dapat menciptakan lingkungan yang inklusif dan dinamis. Dengan demikian, paradigma keilmuan post-dikotomis berkontribusi pada pengembangan pengetahuan yang lebih komprehensif dan relevan dengan tantangan masa kini(Iqbal & Muslim, 2. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan tiga model kebijakan integrasi keilmuan yang diterapkan oleh perguruan tinggi Islam di Indonesia. Model transformatif-adaptif yang diterapkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Alauddin Makassar menunjukkan pendekatan yang seimbang antara transformasi paradigma keilmuan dan adaptasi terhadap perubahan eksternal. Model konservatif-selektif yang diterapkan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh menekankan kehati-hatian dalam adopsi keilmuan Barat dengan mempertahankan orisinalitas tradisi Islam. Model progresif-inovatif yang diterapkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dicirikan oleh keterbukaan terhadap paradigma keilmuan global dengan orientasi inovasi dan kontribusi internasional. Efektivitas implementasi ketiga model tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor utama: kepemimpinan, budaya organisasi, dan kapasitas sumber daya. Model transformatif-adaptif menunjukkan keseimbangan optimal dalam berbagai indikator kinerja institusional, mencerminkan keberhasilannya menciptakan koherensi antara perubahan struktural, pengembangan budaya akademik, dan transformasi mindset komunitas akademik. Model konservatif-selektif unggul dalam penguatan identitas keislaman dan pembentukan karakter, sementara model progresif-inovatif menunjukkan keunggulan dalam produktivitas penelitian dan rekognisi internasional. Temuan ini memiliki konsekuensi logis bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Pertama, diperlukan pergeseran dari pendekatan dikotomis yang memisahkan tradisi keilmuan Islam dan sains modern menuju paradigma integratif yang mengakui komplementaritas keduanya. Kedua, pengembangan epistemologi Islam kontemporer perlu mengakomodasi keragaman pendekatan integrasi keilmuan yang telah berkembang, bukan mencari model tunggal yang universal. Ketiga, kajian interdisipliner yang memadukan perspektif keislaman dengan metodologi ilmiah modern perlu diperkuat untuk menghasilkan sintesis keilmuan yang orisinal dan kontributif. Keempat, perlu pengembangan metodologi penelitian yang memungkinkan dialog konstruktif antara tradisi hermeneutik Islam dan pendekatan empiris-analitis. Dalam konteks praksis pendidikan, temuan penelitian berimplikasi pada kebutuhan reorientasi kebijakan nasional pengembangan perguruan tinggi Islam. Kementerian Agama perlu mengembangkan kerangka regulasi yang lebih fleksibel dan diferensiatif, mengakomodasi keragaman model kebijakan yang telah berkembang di berbagai institusi. Program pengembangan kepemimpinan transformatif perlu diperkuat untuk melahirkan pemimpin perguruan tinggi yang mampu mengartikulasikan visi integrasi keilmuan dan menggerakkan perubahan institusional. Pengembangan kurikulum integratif perlu didukung dengan peningkatan kapasitas dosen dalam mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan metodologi pengajaran Transformasi perguruan tinggi Islam memerlukan pendekatan ekosistemik yang mencakup penguatan sistem tata kelola, pengembangan budaya akademik, dan peningkatan kapasitas sumber daya. Kolaborasi strategis antar perguruan tinggi Islam dengan model kebijakan berbeda perlu difasilitasi untuk pembelajaran bersama dan pengembangan inovasi dalam integrasi keilmuan. Dalam era disrupsi digital, perguruan tinggi Islam perlu mengembangkan kapasitas adaptif yang memungkinkan mereka merespons berbagai perubahan eksternal sambil mempertahankan nilai-nilai inti keislaman sebagai basis identitas institusional. Analisis Politik dan Kebijakan Perguruan Tinggi Islam - 2639 Maryati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Akhirnya, model transformatif-adaptif yang teridentifikasi dalam penelitian ini menawarkan pendekatan yang menjanjikan bagi perguruan tinggi Islam dalam menyeimbangkan komitmen terhadap tradisi keilmuan Islam dengan partisipasi aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan global. Model ini memungkinkan perguruan tinggi Islam tidak hanya menjadi penerima pasif modernisasi pendidikan, melainkan kontributor aktif yang memperkaya khazanah keilmuan dunia dengan perspektif keislaman yang distingtif dan relevan dengan tantangan REFERENSI