ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 Halaman 30-36 DOI : https://doi. org/10. 31294/abditeknika. ISSN 2775-1694 Transformasi Digital Akuntansi UMKM di Desa Dakiring: Peluang Ekonomi Berkelanjutan di Sektor Pertanian dan Peternakan Achmad Ulul Albab1*. Robiatul Auliyah2 Universitas Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang. Bangkalan. Jawa Timur. Indonesia email korespondensi: ulukuces@gmail. Submit: 17-01-2025 | Revisi : 27-02-2025 | Terima : 07-03-2025 | Terbit Online : 14-03-2025 Abstrak Di era digital, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan yang sangat penting, termasuk bagi pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Kemampuan dalam melakukan pembukuan secara digital dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pencatatan keuangan. Aplikasi BukuKas, yang dapat diakses melalui smartphone, menawarkan solusi praktis dengan fitur pencatatan sederhana dan dukungan dalam penyusunan laporan keuangan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM desa Dakiring, yang sebagian besar belum memiliki pencatatan keuangan atau masih menggunakan metode manual. Sebanyak 22 peserta dari berbagai bidang usaha, seperti pertanian, peternakan, dan olahan produksi pertanian serta peternakan, dilibatkan dalam pelatihan yang menekankan praktik langsung penggunaan aplikasi BukuKas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu mencatat transaksi harian dan memahami laporan keuangan. Pelatihan ini diharapkan dapat mendukung pelaku UMKM dalam mengelola keuangan secara efektif, meningkatkan daya saing usaha, serta memperkuat pemahaman mereka dalam digital akuntansi. Kata Kunci : Transformasi Digital. UMKM. Ekonomi Berkelanjutan Abstract In the digital era, mastering technology has become an essential need, especially for Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. The ability to manage bookkeeping digitally can significantly enhance the efficiency and accuracy of financial records. BukuKas, a smartphone-accessible application, offers a practical solution with user-friendly features for simple financial recording and report preparation. This community engagement initiative aimed to enhance the capacities of MSME operators in Dakiring Village, most of whom either lack financial records or rely on manual methods. A total of 22 participants from various business sectors, including agriculture, livestock, and food & beverage production, took part in a hands-on training focused on using the BukuKas application. The results showed that participants were able to record daily transactions and understand financial reports. The training is expected to help MSME actors manage their finances effectively, enhance business competitiveness, and strengthen their understanding of digital accounting. Keywords : Digital Transformation. MSMEs. Sustainable Economy Pendahuluan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia, menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional. Di pedesaan. UMKM sering kali menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan peternakan yang mendominasi aktivitas ekonomi (Wahyono, 2. , (Habib & Sutopo, 2. Desa Dakiring, sebagai salah satu desa agraris di kecamatan Socah, kabupaten Bangkalan yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor ini. Desa Dakiring merupakan desa yang terletak di kecamatan Socah, kabupaten Bangkalan. Secara geografis, desa ini berada di dekat daerah pesisir, sehingga sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan atau petani. Selain itu, masyarakat desa Dakiring juga mengolah hasil dari sektor pertanian dan perikanan menjadi berbagai produk hasil pertanian dan peternakan yang dijadikan usaha rumahan atau Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) dibandingkan desa yang lain. Berikut merupakan data distribusi pekerjaan beberapa desa di kecamatan Socah. Bangkalan: This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 Gambar 1. Badan Pusat Statistik . Berdasarkan data dari BPS . pada gambar 1, di Desa Dakiring terdapat 1. 134 pekerja di sektor pertanian, menjadikannya sebagai sektor dominan di desa tersebut. Sektor peternakan menempati urutan kedua dengan 542 pekerja, diikuti oleh sektor perkebunan dengan 347 pekerja, sementara sektor nelayan memiliki kontribusi yang lebih kecil dengan hanya 56 pekerja. Distribusi ini mencerminkan karakteristik ekonomi lokal Desa Dakiring yang berbasis pada sumber daya alam, khususnya agribisnis. Dengan jumlah pekerja yang signifikan di sektor pertanian dan peternakan. Desa Dakiring memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Desa Dakiring, seperti banyak desa lainnya, sangat bergantung pada aktivitas pertanian dan peternakan sebagai mata pencaharian utama (Turner, 2. dan (Fauzi & Sheng, 2. Namun, sektor ini cenderung stagnan dan menggunakan metode tradisional yang kurang efisien. Kurangnya akses terhadap informasi pasar yang lebih luas, teknologi pertanian modern, serta pembiayaan yang mudah diakses semakin memperburuk situasi. UMKM di sektor ini sering kali kesulitan dalam memasarkan produk mereka dengan harga yang kompetitif, dan menghadapi kendala dalam hal pengelolaan usaha yang efektif (Alfreda et al. , (Sari et al. , 2. , (Utami et al. , 2. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, pengenalan dan penerapan teknologi digital dalam sektor UMKM pertanian dan peternakan sangat diperlukan (Davis, 1. , (Soejono. F, 2. , dan (Susena. C, 2. Transformasi digital dapat menjadi solusi yang signifikan untuk meningkatkan efisiensi operasional, membuka akses pasar yang lebih luas melalui platform digital, serta memberikan kemudahan dalam pengelolaan usaha (Ariescy et al. , 2. , (Yolanda, 2. , dan (Arjang et al. , 2. Teknologi seperti platform e-commerce, aplikasi untuk manajemen produksi berbasis data, dan penggunaan media sosial untuk pemasaran produk dapat memberikan dampak yang besar bagi para pelaku UMKM di Desa Dakiring (Hendrawan et al. , 2. , (QurAoanisa et al. , 2. Namun, adopsi teknologi digital di kalangan UMKM desa Dakiring masih terhambat oleh rendahnya literasi digital dan terbatasnya infrastruktur teknologi yang memadai. Hal ini menciptakan kesenjangan antara potensi yang ada di desa dengan peluang yang dapat digali melalui digitalisasi. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk memberdayakan UMKM melalui pelatihan teknologi digital menjadi langkah strategis untuk membuka peluang baru bagi perekonomian desa Dakiring. Metode Gambar 2. Metode Pelaksanaan http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2025 di rumah Bapak kepala desa Dakiring. Kecamatan Socah. Kabupaten Bangkalan, di ruang sekretariat desa. Sekitar 22 usaha kecil dan menengah (UMKM) dari desa Dakiring menghadiri pelatihan dan sosialisasi penggunaan software akuntansi BukuKas dengan metode yang Sasaran dari pengabdian ini adalah pelaku UMKM yang jenis usahanya berupa pertanian, peternakan dan olahan produksi pertanian & peternakan, dimana mereka masih melakukan pencatatan keuangannya dengan cara manual dan sederhana. Untuk mencapai tujuan tersebut. Pelatihan ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan. Tahap persiapan, yang meliputi survei awal untuk memahami kondisi pencatatan keuangan peserta, koordinasi dengan perangkat desa, serta penyusunan materi yang relevan. tahap pelaksanaan, peserta diberikan pemaparan materi tentang pentingnya pencatatan keuangan digital, diikuti dengan demonstrasi penggunaan aplikasi BukuKas. peserta melakukan praktik langsung dalam mencatat transaksi usaha mereka dengan didampingi oleh fasilitator. Untuk memastikan pemahaman yang lebih mendalam, peserta juga diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan kendala yang mereka hadapi dalam proses pencatatan keuangan. Evaluasi efektivitas pelatihan dilakukan dalam beberapa cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta terhadap pencatatan keuangan Selain itu, observasi langsung dilakukan saat peserta menggunakan aplikasi BukuKas untuk menilai sejauh mana mereka mampu menerapkan materi yang telah diberikan. Evaluasi juga mencakup pengisian angket dan wawancara dengan peserta untuk mengetahui tingkat kepuasan mereka terhadap pelatihan serta kendala yang masih mereka hadapi. Keberhasilan pelatihan ini diukur melalui beberapa indikator. Salah satu indikator utama adalah peningkatan pemahaman peserta yang dapat dilihat dari hasil perbandingan pre-test dan post-test. Selain itu, keberhasilan juga diukur berdasarkan persentase peserta yang mampu menggunakan aplikasi BukuKas dengan baik, di mana target yang ditetapkan adalah minimal 80% dari total peserta. Indikator lainnya mencakup adopsi pencatatan keuangan digital dalam operasional UMKM setelah pelatihan serta tingkat kepuasan peserta yang dinilai melalui angket umpan balik. Hasil dan Pembahasan Desa Dakiring merupakan desa yang terletak di kecamatan Socah, kabupaten Bangkalan. Secara geografis, desa ini berada di dekat daerah pesisir, sehingga sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan atau petani. Selain itu, masyarakat desa Dakiring juga mengolah hasil dari sektor pertanian dan perikanan menjadi berbagai produk olahan pertanian dan peternakan yang dijadikan usaha rumahan atau Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, minimnya literasi digital di desa ini menyebabkan UMKM mengalami berbagai kendala, di antaranya: Minimnya literasi digitalisasi. Kurangnya pemahaman mengenai digitalisasi menyebabkan para pelaku UMKM di desa Dakiring hanya mengandalkan penjualan di pasar tradisional dan pembeli dari lingkungan sekitar, seperti tetangga atau sanak saudara. Berdasarkan sosialisasi yang telah dilakukan oleh kelompok KKN 15 Universitas Trunojoyo Madura, kendala utama yang menghambat perkembangan UMKM di desa ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap digitalisasi. Pelaku UMKM tidak berfokus pada pengembangan usaha mereka dan cenderung stagnan, tanpa memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar. Tidak adanya pencatatan keuangan. Salah satu kendala utama lainnya adalah tidak adanya pencatatan atau laporan keuangan pada UMKM di Desa Dakiring. Para pelaku UMKM tidak pernah mencatat pemasukan maupun pengeluaran usaha mereka. Mereka hanya menjual produk tanpa menghitung modal dan keuntungan yang diperoleh. Berdasarkan sosialisasi yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sebagian besar pelaku UMKM tidak pernah membuat laporan keuangan, sehingga mereka kesulitan menilai apakah usaha mereka berkembang atau tidak. Selain itu, mereka juga tidak memiliki manajemen keuangan yang baik, di mana penghasilan yang diperoleh langsung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa mengetahui jumlah pendapatan kotor maupun Hal ini menyebabkan UMKM di desa Dakiring sulit berkembang. Kurangnya kesadaran dan pendampingan. Kurangnya kesadaran dalam mengembangkan usaha, ditambah dengan tidak adanya pendampingan dari pihak yang lebih profesional, menyebabkan UMKM di desa Dakiring sulit berkembang. Padahal, beberapa usaha telah berdiri cukup lama. Contohnya, salah satu UMKM di desa ini yang memanfaatkan bahan dari sektor pertanian untuk diolah menjadi obat herbal atau jamu telah berdiri sejak Usaha ini telah berjalan lebih dari 25 tahun dan melibatkan para petani perempuan dalam Namun, hingga saat ini, mereka masih kesulitan dan juga merasa keberatan untuk mencatat laporan keuangan, karena kurangnya pemahaman terhadap perkembangan digitalisasi. Tidak adanya BUMDes yang menaungi UMKM. Belum adanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. yang menaungi UMKM di desa Dakiring menjadi salah satu kendala utama dalam pengembangan usaha. Idealnya, pelaku UMKM mendapatkan pendampingan dalam menghadapi perubahan digitalisasi. Peran perangkat desa. BUMDes, atau tenaga profesional sangat penting dalam mendukung perkembangan UMKM. BUMDes diharapkan dapat memberikan bimbingan serta pendampingan terkait regulasi pembuatan laporan keuangan bagi para pelaku UMKM, sehingga mereka dapat lebih terstruktur dalam mengelola usaha. Setelah mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi UMKM di desa Dakiring, solusi yang ditawarkan adalah memberikan pelatihan dan pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan. Pelatihan ini mencakup pemahaman mengenai pencatatan transaksi keuangan, pembuatan laporan arus kas, serta penyusunan http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 catatan atas laporan keuangan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada hari Jumat, 3 Januari 2025, di posko Bapak kepala desa Dakiring, mulai pukul 08. 30 hingga 11. 30 WIB. Pelatihan bertempat di halaman sekretariat desa dan dihadiri oleh sekitar 22 pelaku UMKM yang memiliki berbagai jenis usaha, seperti pertanian, peternakan, dan produksi olahan pertanian dan peternakan. Kegiatan dibuka oleh Bapak Kepala Desa Abd. Rochman Gambar 3. Pembukaan Kepala Desa . Metode pelatihan yang dilaksanakan dengan memberikan penjelasan pentingnya pengelolaan usaha terutama dalam pencatatan keuangan yang nantinya akan menjadi faktor penting dalam perhitungan laba atau ruginya usaha yang dijalankan. Untuk mempermudahkan dalam pencatatan keuangan, mereka di perkenalkan dengan aplikasi BukuKas solusi permasalahan pencatatan keuangan bagi UMKM. Pada kesempatan ini pemateri memberikan materi tentang digitalisasi akuntansi dengan menggunakan aplikasi BukuKas dan langsung mempraktekkan cara pengunaan aplikasi tersebut yang di mulai dari input data usaha sampai dengan input transaksi keuangan dan membaca laporan keuangan. Peserta juga di bekali dengan bagaimana cara pemasaran online, sosialisasi ini digelar karena banyaknya masyarakat yang memiliki potensi usaha yang mampu untuk berkembang lebih baik lagi, namun terkendala dari pelaku UMKM nya yang masih awam dengan laporan keuangan usaha serta pemasaran produk melalui platform media sosial, untuk mempermudah mencatat keuangan dalam UMKM ini, kami mengadakan sosialisasi untuk mengenalkan aplikasi laporan keuangan yang diharapkan dapat membantu masyarakat pelaku UMKM mencatat laporan keuangan tanpa menggunakan cara manual untuk meminimalisir kesalahan input atau pencatatan keuangannya. Gambar 4. Pelatihan UMKM . Kegiatan pelatihan ini dimanfaatkan oleh seluruh peserta untuk belajar menggunakan aplikasi BukuKas dan interaksi peserta dengan narasumber terlaksana dengan baik dan semangat. Gambar 5. Dokumentasi http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 Kegiatan pengabdian ini dapat dipahami oleh para Pelaku UMKM. Hal ini terbukti bahwa ada peningkatan pemahaman sebelum dan sesudah pelatihan. Tabel 1 dibawah menunjukkan informasi yang ditampilkan dalam angket, yang dapat memberikan gambaran yang jelas tentang peningkatan pemahaman yang sebelumnya rata-rata 38,96% menjadi 92. 21% dan hasil pre-test dan post -test: Tabel 1. Data Hasil Pengolahan Angket Sosialisasi UMKM Sebelum Sesudah Pertanyaan Pelatihan Pelatihan Tidak Tidak Apakah Anda Sudah Memiliki Sistem 19 Pencatatan Keuangan Sebelum Mengikuti Pelatihan ini ? Apakah Anda mampu menginput transaksi 20 harian menggunakan aplikasi BukuKas setelah pelatihan ini ? Apakah Anda memahami cara membaca 11 laporan keuangan setelah pelatihan ini ? Apakah laporan keuangan membantu Anda 17 dalam mengambil keputusan usaha ? Apakah pelatihan ini membantu Anda 6 memahami cara memanfaatkan media masa untuk pencatatan transaksi ? Apakah Anda merasa aplikasi BukuKas 14 memudahkan pencatatan keuangan Anda ? Apakah Anda merasa pelatihan ini dapat 7 meningkatkan daya saing usaha Anda ? RataRata Peningkatan Pengetahuan Sebelum Sesudah 13,64% 100% 9,09% 86,36% 72,73% 22,73% 72,73% 90,91% 36,36% 95,45% 68,18% 38,96% 92,21% Gambar 6. Grafik Perbandingan Hasil Pre-Test dan Post-Test Pencatatan keuangan menjadi hal penting dalam menjalankan usaha untuk menghitung keuntungan dan Banyak UMKM merasa usaha mereka tidak berkembang dan mengalami kesulitan dalam pembukuan. Melalui pelatihan yang diberikan, para pelaku UMKM di desa Dakiring telah diperkenalkan dengan aplikasi BukuKas sebagai alat pencatatan keuangan digital yang lebih sistematis. Para peserta tidak hanya diberikan teori mengenai pentingnya pencatatan keuangan, tetapi juga dilatih secara langsung dalam menginput jenis usaha, mencatat persediaan, melakukan transaksi pembelian dan penjualan, serta membaca laporan keuangan. Dengan http://jurnal. id/index. php/abditeknika ABDITEKNIKA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 1 April 2025 adanya pendampingan selama pelatihan, para pelaku UMKM yang sebelumnya tidak melakukan pencatatan keuangan kini mulai menerapkan sistem pencatatan digital dalam usaha mereka. Meskipun hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman dan penerapan pencatatan keuangan digital, akan tetapi masih terdapat tantangan yang perlu diantisipasi ke depannya. Salah satu tantangan utama adalah konsistensi pelaku UMKM dalam menerapkan pencatatan digital secara berkelanjutan. Banyak UMKM yang masih terbiasa dengan pencatatan manual atau bahkan tidak mencatat keuangan sama sekali, sehingga perlu adanya strategi untuk memastikan bahwa pencatatan digital tetap dilakukan setelah pelatihan berakhir. Solusi jangka panjang yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi tantangan ini mencakup program pendampingan berkala bagi pelaku UMKM, baik dalam bentuk monitoring maupun pelatihan lanjutan. Selain itu, pembentukan komunitas dan kelompok diskusi antar-UMKM juga dapat menjadi langkah efektif untuk saling berbagi pengalaman serta meningkatkan motivasi dalam menerapkan pencatatan keuangan digital. Keberlanjutan program ini juga dapat didukung oleh kolaborasi dengan perangkat desa agar literasi keuangan digital UMKM di desa Dakiring semakin berkembang dan berdaya saing tinggi. Kesimpulan Dengan adanya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa pelatihan pencatatan keuangan digital menggunakan aplikasi BukuKas berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan pelaku UMKM dalam mengelola keuangan usaha mereka. Sebelumnya, para pelaku UMKM hanya mengandalkan pencatatan manual di kertas, yang sering kali hilang atau tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga menyulitkan mereka dalam menghitung harga pokok penjualan dan menentukan harga jual yang sesuai. Dengan adanya pelatihan ini, mereka kini dapat mencatat pemasukan dan pengeluaran secara lebih sistematis serta memahami laporan keuangan usaha mereka. Untuk memperkuat dampak program ini di masa mendatang, diperlukan langkah lanjutan yang dapat memastikan keberlanjutan penerapan pencatatan keuangan digital oleh para pelaku UMKM. Salah satu langkah strategis adalah membangun sistem pendampingan berkala yang melibatkan perangkat desa dan komunitas UMKM agar para pelaku usaha tetap konsisten dalam menerapkan pencatatan digital. Dengan adanya dukungan berkelanjutan, diharapkan UMKM di desa Dakiring dapat semakin berkembang dan memiliki sistem manajemen keuangan yang lebih baik, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka secara berkelanjutan. Referensi