JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Analisis Berat Badan terhadap Pergeseran Titik Koordinat X. Z dengan Teknik Volumetric Modulated Arc Therapy pada Kasus Kanker Serviks di Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi Hospital 1,2,3 Zalzah Putri Syafirah1. Nurbaiti2. Retno Prawestri3 Departement of Radiodiagnostics and Radiotherapy Techniques. Poltekkes Kemenkes Jakarta II. Indonesia Corresponding author: Nurbaiti Email: nurbaiti@poltekkesjkt2. ABSTRACT Background: Cervical cancer is one of the most common gynecological malignancies in Indonesia and Radiotherapy is one of the primary treatment modalities for this disease. Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT), when combined with Cone Beam Computed Tomography (CBCT), is widely used to improve the precision of radiation delivery. This combination plays a crucial role in maintaining treatment accuracy, especially when patient position changes due to weight fluctuations. Methods: This study aimed to investigate the correlation between patient weight and positional shifts in X. Y, and Z coordinates during VMAT verification in cervical cancer patients. A descriptive qualitative design with an experimental approach was used. A sample of 10 patients with normal and overweight Body Mass Index (BMI) categories was selected. Data collection included observation of treatment sessions, interviews with radiation staff, and documentation of CBCT verification results. Measurements were performed specifically during the 1st, 11th, and 21st treatment fractions to evaluate positional consistency during Results: This study showed that patients in the overweight BMI group generally experienced greater coordinate shifts compared to those with a normal BMI. All recorded shifts were within acceptable tolerance limits, less than 0. 5 cm. These results demonstrate that body weight affects positional stability during therapy and highlight the importance of careful and ongoing verification before each radiation Conclusions: There were no significant differences in X. Y, and Z coordinate shift values between patients with normal and overweight BMI. Verification of patient position using CBCT before radiation, along with the application of the VMAT technique, has been shown to be accurate and effective in ensuring optimal care delivery. Keyword : Body Mass Index. CBCT. Cervical Cancer. Coordinate Shift. VMAT Pendahuluan Saat ini, kanker serviks adalah kanker paling umum keempat pada wanita di seluruh dunia dan kanker ginekologi paling umum secara global. Menurut Globocan . , kanker serviks menduduki peringkat ke-8 dalam hal kejadian 021 kasus dan peringkat ke-9 dalam hal kematian dengan 348. 189 kematian di seluruh dunia (Zhou et al. , 2. Setiap tahun, lebih dari 500. kasus baru kanker serviks didiagnosis di seluruh dunia dan lebih dari 250. 000 berakibat fatal, kanker serviks menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Di Indonesia, dengan populasi sekitar 200 juta orang, 52 juta perempuan menderita kanker serviks (Low et al. , 2. Kanker serviks merupakan jenis kanker yang berkembang pada area serviks, yaitu bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dengan vagina. Kanker ini umumnya berasal dari epitel, atau lapisan permukaan luar leher rahim. Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 adalah yang paling sering ditemukan pada kanker serviks. Gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien adalah rasa nyeri di perut bagian bawah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Memorial Sloan-Kettering Cancer Center, sekitar 75Ae80% nyeri yang dirasakan pasien disebabkan langsung oleh keberadaan tumor. Sekitar 15Ae19% rasa nyeri muncul sebagai efek samping dari pengobatan kanker, dan sisanya . ekitar 3Ae 5%) tidak berkaitan langsung dengan kanker maupun terapinya. Pada berbagai stadium penyakit kanker, orang yang menderita nyeri kanker mungkin mengalami nyeri yang bersifat jangka panjang, intermiten, atau kronis (Halim & Khayati, 2. JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 HPV ada di sistem reproduksi manusia dan menyebabkan sekitar 95% kasus kanker serviks. HVP tipe 16 dan 18 menyebabkan 50% prakanker stadium tinggi. Studi menunjukkan bahwa 10-30 persen wanita yang berhubungan seksual pada usia 30 hingga 39 tahun pernah menderita infeksi HPV, termasuk infeksi pada daerah vulva. Persentase ini meningkat dengan wanita yang memiliki banyak pasangan seksual. Infeksi HPV biasanya tidak menimbulkan gejala dan hilang (Burd, 2. Radioterapi adalah salah satu dari metode memanfaatkan radiasi pengion yang dapat menghasilkan ion dan menyimpan energi yang dapat membunuh sel-sel kanker (Kodrat & Novirianthy, 2. Radioterapi merupakan salah satu modalitas utama untuk penyembuhan, pengendalian, dan paliatif kanker, dengan 50% pasien yang mendapatkan radioterapi selama pengobatan kanker. Tujuan radioterapi adalah untuk menyembuhkan kanker (Ige et al. , 2. Radioterapi merupakan satu-satunya metode pengobatan untuk beberapa kanker, tetapi kadang kala radioterapi harus ditambahkan ke obat lain untuk membunuh sel kanker yang mungkin tetap ada setelah operasi. Ketika radioterapi diberikan setelah tindakan operasi, maka metode ini dikenal sebagai radioterapi adjuvan. Sebaliknya, jika tujuan radioterapi adalah untuk mengecilkan ukuran tumor sebelum operasi agar lebih mudah diangkat, maka teknik ini disebut sebagai radioterapi neoadjuvan. Dalam beberapa kasus radioterapi dan kemoterapi . engobatan kanker yang menggunakan bahan kimia digunakan bersamaa. (Nurhayati & Lusiyanti, 2. Pengobatan kanker dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi (Suhartono et al. , 2. Radioterapi dapat digunakan untuk pasien stadium lanjut kanker sebagai terapi kuratif . enyembuhkan kanke. atau paliatif . eningkatkan kualitas hidu. Radiasi eksterna dan brakhiterapi adalah dua metode yang dapat digunakan untuk menyaring area kanker (Fitriatuzzakiyyah et al. , 2. Di Indonesia, berbagai macam teknik radiasi eksterna telah diterapkan. Ini termasuk 2 Dimensi Conformal Therapy . D-CRT), 3 Dimensi Conformal Therapy . D-CRT). Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT). Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT), atau juga dikenal sebagai Rapid Arc Therapy (RA) (Xu et al. , 2. Salah satu langkah penting yang harus dilakukan sebelum pemberian radiasi adalah verifikasi. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa penyinaran pada tumor atau target adalah tepat dan radiasi diberikan pada volume tumor yang direncanakan. Seberapa besar variasi yang terjadi dalam pergeseran atau kesalahan pengaturan dapat diketahui selama proses Perubahan berat badan pasien selama menjalani radioterapi merupakan salah satu bentuk kesalahan acak . andom erro. yang dapat berdampak langsung pada ketepatan penyampaian dosis radiasi. Kesalahan acak terjadi antar fraksi terapi, yang tidak dapat diprediksi secara konsisten dari satu sesi ke sesi berikutnya. Selama beberapa minggu terapi berlangsung, pasien berisiko mengalami penurunan atau peningkatan berat badan karena berbagai faktor, seperti efek samping pengobatan, perubahan pola makan, status gizi, metabolisme, hingga kondisi psikologis. Penurunan berat badan, misalnya, dapat menyebabkan perubahan kontur tubuh, posisi organ internal, serta distribusi jaringan lunak di sekitar area target Hal ini berisiko menyebabkan pergeseran koordinat X. Y, dan Z, sehingga radiasi tidak lagi optimal mencapai target dan justru dapat mengenai organ sehat di sekitarnya (Izza et al. Teknik radiasi yang disebut VMAT mirip dengan IMRT. Pasien diobati dengan berbaring di atas meja dan melewati mesin yang mengirim Sumber radiasi (Linear Accelerato. yang berputar mengelilingi meja dalam bentuk busur. Komputer mengontrol intensitas pancaran untuk membantu menjaga radiasi fokus pada tumor dan memberikan radiasi dalam jumlah waktu yang lebih sedikit untuk setiap sesi pengobatan (Ghozali. VMAT memungkinkan dosis minimal didistribusikan ke jaringan normal (Afrin & Ahmad. VMAT adalah metode pengobatan terbaik untuk pasien yang tidak dapat mempertahankan posisi stabil untuk waktu yang lama karena ketidaknyamanan fisik atau mental (Ding et al. Untuk penyinaran sehingga dosis yang diterima tepat pada target, maka salah satu upayanya dengan melakukan verifikasi geometri, menggunakan Cone Beam Computer Tomography (CBCT). Dari latar belakang di atas, perlu dilakukan penelitian tentang Analisis Berat Badan Terhadap Pergeseran Titik Koordinat X. Z dengan teknik VMAT pada kasus kanker serviks di Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi Hospital menggunakan Pesawat Linear Accelerator. JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Metode Jenis Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan Metode eksperimen yang dilakukan melalui pengamatan di Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi Hospital PIK Jakarta Utara pada Mei-Juni 2025, dengan melihat secara langsung tahap verifikasi menggunakan CBCT serta melakukan pengukuran IMT pasien. Populasi penelitian mencakup semua hasil verifikasi pasien radioterapi kanker serviks teknik VMAT yang mendapatkan terapi eksterna dengan CBCT. Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dari 10 pasien kanker serviks, dengan 5 pasien IMT normal dan 5 pasien overweight berdasarkan kriteria inklusi, yaitu pasien perempuan usia 50Ae76 tahun, menggunakan teknik VMAT, dan melakukan verifikasi CBCT, serta kriteria eksklusi seperti penggunaan alat verifikasi lain (Portal Image. OBI. EPID) atau ketidaksediaan menjalani radioterapi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara dengan radioterapis, dan eksperimen berupa verifikasi penyinaran serta pengukuran berat badan pasien kanker serviks selama radiasi pada fraksi 1, 11 dan Instrumen penelitian meliputi lembar kerja untuk mencatat hasil observasi dan pedoman wawancara untuk memperoleh informasi terkait penyebab serta upaya penanganan pergeseran lapangan radiasi pada koordinat X. Y, dan Z. Data primer hasil verifikasi diolah dengan menghitung rata-rata dan standar deviasi pergeseran pada tiap sumbu, dianalisis dengan tabulasi silang antara kategori IMT terhadap pergeseran koordinat, dan divisualisasikan dalam grafik batang untuk membandingkan perbedaan rata-rata pergeseran antar kelompok IMT normal dan overweight. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil dari observasi yaitu hasil pergeseran titik koordinat X. Y dan Z untuk menganalisis berat badan pada kasus kanker serviks menggunakan teknik VMAT dengan 10 sample pasien dengan klasifikasi 5 pasien IMT normal dan 5 pasien dengan IMT overweight, didapatkan nilai dan rata-rata pergeseran dan standar deviasi pada Tititk Koordinat X. Y dan Z pada fraksi ke 1, 11 dan Indeks Massa Tubuh Pasien Per Fraksi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Indeks Masa Tubuh Pasien Per Fraksi Indeks Masa Tinggi Berat Badan . Tubuh (IMT) Sampel Badan Ket Fraksi Fraksi Fraksi Fraksi Fraksi Fraksi 22 OW 42 OW 54 OW 27 OW 35 OW Ket: N = Normal. OW = Overweight Berdasarkan Tabel 1 diperoleh nilai IMT untuk 10 sampel pada fraksi ke 1, 11 dan 21 dengan menggunakan perhitungan: Berat Badan . IMT= (Tinggi Badan . 2 ) Diperoleh hasil IMT ke 10 sampel yang masih dalam kategori sama dari fraksi ke 1, 11 dan 21. Kategori tersebut ditentukan dengan mengikuti standar kategori batas ambang IMT Indonesia yaitu underweight < 17. 0 Ae 18. Normal 18. 7 Ae 25. 0, dan overweight > 25. 0 Ae 27. Nilai Pergeseran Titik Koordinat X. Y dan Z dengan menggunakan Teknik Penyinaran VMAT dengan CBCT pada Pasien Kanker Serviks di Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi Hospital Tabel 2 Pergeseran pada Titik Koordinat X Nilai Pergeseran Titik Koordinat X pada fraksi ke 1, 11 dan 21 Pasien Fraks Fraks Fraks BB TB IMT Ket Rerata i 1 i 11 i 21 3 158 23. 8 158 19. 7 158 22. 1 157 20. 64 157 25. 66 155 27. 51 OW 0. OW 0. 8 150 27. 47 OW 0. 57 OW 0. 71 163 26. 72 OW 0. Ket: N = Normal. OW = Overweight JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Berdasarkan data terhadap 10 sampel yang diperoleh dari hasil verifikasi dari Tabel 2 pada 5 sampel dengan kategori Normal pada koordinat X di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . 5 c. Rentang nilai koordinat X kategori Normal yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 adalah 0. 0 Ae 0. Mean dari sampel Normal adalah 0. 1 cm, modus dari 5 sampel tersebut 0. 0 cm dan nilai 1 cm. Untuk 5 sampel dengan kategori Overweight pada koordinat X di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . 5 c. Rentang nilai koordinat X yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 0 Ae 0. 5 cm. Mean dari sampel Overweight 2 cm, modus dari 5 sampel tersebut adalah 0. 0 cm dan nilai mediannya adalah 0. 1 cm. Tabel 3 Hasil Rata-rata dan Rentang Pergeseran Serta Standar Deviasi pada Titik Koordinat X Klasifikasi Tabel 5 Hasil Rata-rata dan Rentang Pergeseran Serta Standar Deviasi pada Titik Koordinat Y Klasifikasi Pergeseran Rata-rata Min Max Normal Overweight Pada Tabel 3 menunjukkan rentang pergeseran pada Titik Koordinat X untuk pasien BMI normal rata-rata sebesar 0. 1 cm dengan standar deviasi (SD) 1 cm. Rentang pergesean minimum 0 cm dan maksimum sebesar 0. 2 cm. Pada pasien dengan IMT overweight rentang pergeseran rata-rata sebesar 0. 2 cm dengan SD sebesar 0. 1 cm. Rentang nilai pergeseran minimum sebesar 0. 1 cm dan maksimum sebesar 0. 4 cm. Tabel 4 Hasil Rata-rata dan Rentang Pergeseran serta Standar Deviasi pada Titik Koordinat Y Pasien Berdasarkan Tabel 4 untuk 5 sampel dengan kategori Normal pada koordinat Y di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . 5 c. nilai koordinat Y yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 adalah 0. 0 Ae 0. 1 cm. Mean dari sampel Normal adalah 0. 0 cm, modus dari 5 sampel tersebut 0 cm dan nilai mediannya adalah 0. 0 cm. Untuk 5 sampel dengan kategori Overweight pada koordinat Y di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . 5 c. rentang nilai koordinat Y yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 adalah 0. 0 Ae 0. Mean dari sampel overweight adalah 0. 0 cm, modus dari 5 sampel tersebut adalah 0. 0 cm dan nilai mediannya adalah 0. 0 cm. Nilai Pergeseran Titik Koordinat X pada fraksi ke 1, 11 dan 21 Fraksi Fraksi Fraksi BB TB IMT Ket Rerata Pergeseran Rata-rata Min Max Normal Overweight Pada Tabel 5 menunjukkan rentang pergeseran pada titik koordinat Y untuk pasien dengan BMI normal rata-rata sebesar 0. 0 cm dengan standar deviasi (SD) sebesar 0. 0 cm. Rentang pergesean minimum sebesar 0. 0 cm dan maksimum sebesar 1 cm. Pada pasien dengan IMT overweight rentang pergeseran rata-rata sebesar 0. 0 cm dengan SD sebesar 0. 0 cm. Rentang nilai pergeseran minimum sebesar 0. 0 cm dan maksimum sebesar 1 cm. Tabel 6 Pergeseran pada Titik Koordinat Z Pasien Nilai Pergeseran Titik Koordinat Z pada fraksi ke 1, 11 dan 21 Fraksi Fraksi Fraksi BB TB IMT Ket Rerata 3 158 23. 8 158 19. 7 158 22. 1 157 20. 8 150 27. Ket: N = Normal. OW = Overweight Ket: N = Normal. OW = Overweight JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Sedangkan pada Tabel 6 pada 5 sampel dengan kategori Normal pada koordinat Z di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . 5 c. rentang nilai koordinat Z yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 0 Ae 0. 4 cm. Mean dari sampel Normal 1 cm, modus dari 5 sampel tersebut adalah 0 cm dan nilai mediannya adalah 0. 1 cm. Untuk 5 sampel dengan kategori overweight pada koordinat Z di fraksi 1, 11 dan 21 tidak didapatkan sampel yang nilainya melebihi rata-rata batas toleransi . rentang nilai koordinat Z yang diperoleh dari fraksi 1, 11 dan 21 adalah 0. 0 Ae 0. 5 cm. Mean dari sampel overweight adalah 0. 3 cm, modus dari 5 sampel tersebut adalah 0. 3 cm dan nilai mediannya 3 cm. Tabel 7 Hasil Rata-rata dan Rentang Pergeseran Serta Standar Deviasi pada Titik Koordinat Z Klasifikasi Normal Overweight Rata-rata Pergeseran Min Max Pada tabel 7 menunjukkan rentang pergeseran pada titik koordinat Z untuk pasien dengan BMI normal rata-rata sebesar 0. 1 cm dengan standar deviasi (SD) sebesar 0. 1 cm. Rentang pergeseran minimum sebesar 0. 1 cm dan maksimum sebesar 2 cm. Pada pasien dengan IMT overweight rentang pergeseran rata-rata sebesar 0. 3 cm dengan SD sebesar 0. 1 cm. Rentang nilai pergeseran minimum sebesar 0. 1 cm dan maksimum sebesar 4 cm. Analisis Hasil Pergeseran Titik Koordinat X. Y dan Z pada Teknik VMAT pasien Kanker Serviks dengan IMT Berdasarkan data terhadap 10 pasien sampel yang diperoleh dari hasil verifikasi ke 1, 11 dan 21 untuk menganalisis berat badan terhadap pergeseran . , . dan Z . Verifikasi dilakukan dengan tujuan agar penyinaran dapat diberikan secara tepat dan akurat sesuai hasil Sebelum dilakukannya verifikasi petugas harus mengecek apakah alat tersebut layak pakai atau tidak. Menurut hasil penelitian, menunjukkan bahwa pergeseran yang terjadi pada masing-masing Titik Koordinat tidak melebihi dari batas toleransi yang telah ditetapkan oleh departemen Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi hospital yaitu sebesar < 5 cm. Pada data pergeseran terdapat nilai negatif (-) dan positif ( ), hal tersebut bermakna sebagai petunjuk arah pergeseran pada saat dilakukan koreksi atau reposisi. Untuk koordinat X . , apabila nilai yang didapat ( ) maka koreksi dilakukan ke arah kiri pasien atau ke arah kanan pasien bila nilai yang didapat (-). Koreksi arah koordinat Y . , apabila nilai yang didapat ( ) maka koreksi dilakukan ke arah anterior dari pasien, atau ke arah posterior pasien bila nilai yang didapat (-). Koreksi arah koordinat Z . , apabila nilai yang didapat ( ) maka koreksi dilakukan ke arah cranial pasien atau ke arah caudal pasien bila nilai yang didapat (-). Dari 10 sampel yang diambil, pada koordinat X dengan sampel kategori Normal nilai rata-rata pergeserannya adalah 0. 1 cm artinya nilai rataratanya tidak melebihi batas toleransi. Sedangkan pada koordinat X dengan sampel kategori Overweight nilai rata-rata pergeserannya adalah 0. cm artinya nilai rata-ratanya tidak melebihi batas Untuk koordinat Y dengan sampel kategori Normal nilai rata-rata pergeserannya 0 cm artinya nilai rataratanya tidak melebihi batas toleransi. Sedangkan pada koordinat Y dengan sampel kategori Overweight nilai rata-rata pergeserannya adalah 0. 0 cm artinya nilai rataratanya tidak melebihi batas toleransi. Pada koordinat Z dengan sampel kategori Normal nilai rata-rata pergeserannya adalah 0. 1 cm artinya nilai rataratanya tidak melebihi batas toleransi. Sedangkan pada koordinat Z dengan sampel kategori Overweight nilai rata-rata pergeserannya 3 cm artinya nilai rata-ratanya tidak melebihi batas toleransi 0,5 cm. Berdasarkan radioterapis di RS Tzu Chi Hospital, beliau menjelaskan bahwa verifikasi sangat penting dilakukan, karna teknik VMAT merupakan teknik advance yang memiliki tingkat presisi yang tinggi, untuk di TCH sendiri punya Batasan toleransi yaitu 5 cm. Untuk verifikasi menggunakan CBCT di setiap center radioterapi itu berbeda-beda untuk di RS Tzu Chi Hospital berdasarkan kesepakatan dokter yang dimana dilakukan 3 hari awal . raksi 1Ae . , kemudian setiap kelipatan 5 . raksi ke-6, 11, 16, . Verifikasi dilakukan oleh dokter yang dimana dokter juga dapat mengevaluasi perkembangan hasilnya dari gambaran tersebut. Hasil tersebut sesui dengan hasil penelitian Wongke et al. yang menunjukkan protokol First 5 Weekly memberikan residual error O 0,5 cm secara konsisten pada terapi VMAT area pelvis. Pendekatan serupa juga digunakan dalam JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 radioterapi prostat, yaitu CBCT harian pada 3Ae5 fraksi awal, kemudian diganti dengan verifikasi mingguan untuk menjaga akurasi posisi pasien. Berdasarkan radioterapis beliau menjelaskan faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pergeseran posisi pasien selama radiasi. Faktor utama adalah posisioning, pergerakkan pasien dan laser kemungkinannya kecil namun ada pengaruhnya karna laser di CT Simulator dan di Linac berbeda yang mana dibutukan QC dan QA, kemudian tanda marker ditubuh pasien yang hilang. Hasil tersebut sesui dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Herdiyani yang mengidentifikasi beberapa penyebab pergeseran posisi pasien pada teknik 3DCRT, seperti hilangnya tanda marker di tubuh pasien, kesalahan penempatan posisi . ositioning erro. , serta perubahan berat badan selama radiasi (Herdiyani, 2. Berdasarkan Penurunan berat badan dapat menyebabkan masker imobilisasi menjadi longgar, begitupula dengan kenaikan berat badan dapat membuat masker sulit untuk di kunci karna sesak. Oleh sebab itu harus dilakukan CT ulang untuk menyesuaikan dengan tubuh yang mengalami kenaikan maupun penurunan massa tubuh. Peryataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Zia et al. , pada pasien kanker kepala dan leher menunjukkan bahwa pasien yang mengalami penurunan berat badan lebih dari 5% selama terapi mengalami peningkatan residual setup error, terutama pada sumbu anteriorAeposterior dan superiorAeinferior (AP meningkat dari 2,9 mm menjadi 3,6 m. akibat perubahan kontur tubuh yang tidak lagi sesuai dengan alat imobilisasi yang telah dibuat di awal terapi. Untuk mengatasi dan meminimalkan pergeseran posisi selama penyinaran radioterapi, beberapa langkah yang telah diterapkan di Instalasi Onkologi Radiasi Tzu Chi Hospital. Salah satu metode adalah penggunaan masker termoplastik secara konsisten sebagai alat imobilisasi untuk memastikan stabilitas posisi pasien pada setiap sesi radiasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ganavadiya et al. yang menyatakan bahwa penggunaan masker termoplastik dapat menurunkan set up error pada pasien kanker dengan lokasi penyinaran pelvis. Pasien juga diminta untuk mengisi kandung kemih sebelum radiasi, sebagai upaya untuk menstabilkan posisi organ dalam, terutama di area pelvis dan Menurut studi oleh Chen et al. menunjukkan bahwa variasi volume kandung kemih yang besar (A30%) dapat mengubah distribusi dosis dan berdampak langsung terhadap posisi organ dalam, sehingga protokol pengisian kandung kemih sangat disarankan dalam terapi kanker pelvis, termasuk serviks. Evaluasi Hasil Analisis Pergeseran Titik Koordinat X. Y dan Z Pada Teknik VMAT Pasien Kanker Serviks dengan IMT Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh diatas, pergeseran posisi pasien pada Titik Koordinat X. Y, dan Z, diketahui baik pada kelompok pasien dengan IMT normal maupun IMT overweight bahwa tidak terdapat pergeseran yang melebihi batas toleransi yang ditetapkan oleh Instalasi Onkologi Radiasi RS Tzu Chi Hospital, yaitu < 0. 5 cm. Batas toleransi ini juga sejalan dengan The Royal College of Radiologists . merekomendasikan toleransi pergeseran sebesar 3Ae 5 mm untuk verifikasi posisi pada terapi ginekologi. Selain itu. International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam Human Health Series No. 31 Tahun 2016 juga menetapkan nilai toleransi pergeseran setup sebesar O 0. 3 cm untuk menjamin akurasi penyinaran . an der Merwe et al. , 2. Dengan demikian, pergeseran yang terjadi pada penelitian ini masih berada dalam batas toleransi. Hal ini menunjukkan bahwa protokol imobilisasi, verifikasi CBCT, dan teknik penyinaran VMAT telah dilakukan secara efektif dan akurat. Salah satu faktor utama yang mendukung hasil penelitian ini adalah penggunaan masker termoplastik sebagai alat imobilisasi. Penggunaan alat imobilisasi, seperti masker termoplastik, mampu mengurangi pergerakan pasien selama Berdasarkan artikel jurnal ilmiah berjudul AuESTRO ACROP Guidelines for Positioning. Immobilisation Position Verification of Head and Neck Patients for RTTsAy yang diterbitkan dalam Technical Innovations & Patient Support in Radiation Oncology, disebutkan bahwa semua perangkat imobilisasi harus diindeks dan dipasang dengan kokoh pada meja terapi untuk meminimalkan kesalahan rotasional maupun translasi selama radioterapi. Penelitian ini juga menegaskan bahwa penggunaan alat imobilisasi seperti masker termoplastik sangat penting dalam mengurangi ketidakpastian posisi, terutama pada area kepala-leher dan pelvis, yang sangat rentan terhadap pergerakan akibat pernapasan atau perubahan posisi organ internal (Leech et al. , 2. JURNAL RADIOGRAFER INDONESIA p-ISSN 2620-9950 Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua pergeseran pada pasien normal dan overweight berada dalam batas toleransi. Hasil evaluasi menegaskan bahwa pendekatan yang diterapkan di RS Tzu Chi Hospital menghasilkan rata-rata pergeseran yang tidak melebihi batas toleransi yang ditetapkan oleh The Royal College of Radiologists . , yaitu 0. 3 cm - 0. 5 cm. Daftar Pustaka