JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Habituasi Memberi Salam sebagai Strategi Pembentukan Karakter Sopan Santun Siswa di MAN 3 Aceh Besar Cut Alfia Laina1. Ainal Mardhiah2. Rusydi Rusdi3. Rafidhah Hanum4 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Indonesia Email: 251003002@student. ar-araniry. ABSTRACT This study aims to describe how the habituation of greeting functions as a strategic approach in shaping studentsAo polite character at MAN 3 Aceh Besar. Education is not solely focused on cognitive mastery but also carries a moral responsibility to cultivate noble character among students. In this context, greeting others represents a form of habituation with both spiritual and social value, as it conveys prayer, respect, and ethical conduct in interpersonal interactions. This research employed a qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation involving the Islamic Ethics teacher and student activities within the school environment. The findings indicate that teachers implement structured planning and clear guidelines in reinforcing the practice of greeting, including modeling appropriate behavior, providing guidance, and continuously instilling the meaning of greetings. Consistent implementation of this habituation fosters a culture of mutual respect within the school. Its positive impact is reflected in studentsAo increased respectfulness, friendliness, and courtesy toward teachers, peers, and other school members. Thus, the habituation of greeting proves to be an effective strategy for strengthening character education based on Islamic values. Keywords: Habituation. Greeting. Character. Politeness Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana habituasi atau pembiasaan memberi salam berperan sebagai strategi dalam membentuk karakter sopan santun siswa di MAN 3 Aceh Besar. Pendidikan tidak hanya menekankan penguasaan aspek kognitif, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan akhlak mulia pada peserta Dalam konteks tersebut, memberi salam merupakan bentuk habituasi yang bernilai spiritual dan sosial karena mengandung doa, penghormatan, serta etika dalam Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap guru Akidah Akhlak serta aktivitas siswa di lingkungan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menerapkan perencanaan dan aturan yang terstruktur dalam membiasakan salam, antara lain melalui keteladanan, pemberian arahan, serta penanaman makna salam secara Pelaksanaan habituasi yang konsisten mendorong terciptanya budaya saling menghormati di lingkungan sekolah. Dampaknya terlihat melalui meningkatnya sikap hormat, ramah, dan santun siswa dalam berinteraksi dengan guru, teman sebaya, dan warga sekolah. Dengan demikian, habituasi memberi salam terbukti menjadi strategi efektif dalam penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam. Kata kunci: Habituasi. Salam. Karakter. Sopan Santun *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Setiap lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter peserta didik. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berkaitan dengan pencapaian kompetensi kognitif, tetapi juga membina anak agar memiliki kepribadian dan perilaku yang berakhlak mulia. Karakter pada dasarnya mencakup pengetahuan, emosi, serta sikap yang tercermin dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, dirinya sendiri, orang lain, dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Karakter juga berhubungan dengan kemampuan memahami nilai-nilai kebaikan, melakukan kebaikan, mengendalikan diri, serta menjalin relasi yang harmonis dengan sesama (Lerner, 2. Pendidikan sebagai usaha sadar berfungsi mempersiapkan peserta didik untuk mampu berperan secara optimal dalam kehidupan. Proses pendidikan berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah sepanjang hayat melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan. Karena itu, pendidik dituntut memiliki kecakapan profesional, perhatian, serta sikap cinta terhadap perkembangan peserta didik, sekaligus menguasai cara-cara mendidik yang tepat (Anggraini, 2. Sementara itu, pendidikan Islam pada hakikatnya menekankan pembinaan manusia secara utuh, meliputi akal, hati, fisik, perilaku, serta keterampilannya, yang seluruhnya didasarkan pada nilai-nilai moral Islam (Junizar et al. Salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter adalah penanaman spiritual. Penanaman ini dipahami sebagai proses menumbuhkan sisi rohani manusia agar semakin dekat kepada Tuhan. Dalam tradisi Islam, pembiasaan perilaku spiritual telah diperkenalkan sejak masa kanak-kanak, mulai dari mengucapkan Alhamdulillah ketika bersin, membaca doa sebelum makan dan tidur, hingga membiasakan memberi salam. Kebiasaan ini terus ditanamkan baik di rumah maupun di sekolah, sehingga menjadi bagian dari pembentukan karakter positif siswa hingga mereka memasuki usia remaja. (E. Rahmah, 2. Pendidikan karakter juga dipahami sebagai proses penanaman nilai melalui pembiasaan, penyuluhan, pendidikan, dan pengajaran agar nilai tersebut terwujud dalam perilaku sehari-hari. Dalam pendidikan karakter, peserta didik tidak hanya diajarkan cara berperilaku baik, tetapi juga memahami nilai-nilai positif dan mampu mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Pendidikan abad ke-21 sangat menekankan pengembangan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. kepribadian yang utuh agar peserta didik menjadi individu yang bertanggung jawab, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat (Dahlan, 2. Namun demikian, perkembangan era digital dan pengaruh media sosial sering kali berdampak negatif terhadap karakter siswa. Fenomena seperti kurangnya perhatian saat doa bersama, kebiasaan tidak mengucapkan salam saat memasuki atau meninggalkan kelas, serta penggunaan bahasa kasar menunjukkan adanya tantangan besar dalam pembinaan karakter di sekolah. Kebiasaan memberi salam yang seharusnya menjadi tradisi sopan santun justru mulai ditinggalkan oleh sebagian siswa karena dianggap kuno, tidak mengikuti tren pergaulan, atau tergeser oleh budaya populer yang diadopsi dari media sosial dan pertemanan. Padahal, habituasi memberi salam merupakan strategi penting dalam membentuk karakter moral dan spiritual siswa. Salam bukan hanya bentuk sapaan, tetapi juga mengandung doa, penghormatan, dan etika interaksi. Dalam konteks pendidikan, pembiasaan salam berarti mengajak siswa membumikan nilai-nilai spiritual dalam tindakan nyata. Melalui kebiasaan memberi salam, siswa diajarkan untuk menghargai orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta menjalin hubungan yang baik dengan sesama. Penerapan yang konsisten mampu membangun karakter sopan santun yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam (R. Rahmah, 2. Di lingkungan keluarga, siswa umumnya telah diperkenalkan dengan kebiasaan salam sejak dini. Namun, pengaruh lingkungan luar seperti game online, media sosial, dan pergaulan sering kali melemahkan nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, sekolah berperan penting sebagai benteng kedua setelah keluarga untuk menjaga, melanjutkan, dan memperkuat nilai-nilai tersebut. Dalam konteks ini. MAN 3 Aceh Besar memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan habituasi salam berjalan secara terencana, konsisten, dan bermakna. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk memahami urgensi habituasi memberi salam dalam membentuk karakter sopan santun siswa di MAN 3 Aceh Besar. Penelitian ini juga bertujuan mengkaji bagaimana implementasi habituasi salam yang telah berjalan serta sejauh mana kebiasaan tersebut berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam bagaimana habituasi memberi salam diterapkan sebagai strategi pembentukan karakter sopan santun siswa di MAN 3 Aceh Besar. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu menggambarkan fenomena secara naturalistis serta mengungkap makna di balik tindakan yang dilakukan guru dan siswa dalam konteks kehidupan sekolah. Populasi penelitian mencakup seluruh guru Akidah Akhlak yang mengajar di kelas XII MAN 3 Aceh Besar. Populasi merupakan kelompok subjek yang memiliki karakteristik tertentu dan menjadi sasaran generalisasi hasil penelitian. Penentuan populasi yang spesifik ini membantu peneliti memusatkan perhatian pada kelompok yang relevan sehingga data yang diperoleh benar-benar mendukung tujuan penelitian. Sampel penelitian dipilih dari bagian populasi yang dianggap paling mewakili keseluruhan. Berdasarkan pendapat Arikunto, apabila populasi berjumlah kurang dari 100 orang maka seluruhnya dapat dijadikan sampel. namun dalam penelitian ini peneliti hanya melibatkan guru Akidah Akhlak yang aktif memberikan dorongan motivasi kepada siswa agar penelitian tetap valid dan efisien. Pemilihan sampel menggunakan metode convenience sampling, yaitu memilih responden yang paling mudah dijangkau dan relevan dengan fokus penelitian sehingga data yang diperoleh benar-benar berasal dari guru yang terlibat langsung dalam pembiasaan salam di MAN 3 Aceh Besar. (Hasnunidah, 2017. Komariah & Satori, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif pasif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk melihat secara langsung bagaimana habituasi salam diterapkan dalam aktivitas harian siswa dan guru. Wawancara semi-terstruktur digali untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan, serta dampak pembiasaan salam dari sudut pandang guru Akidah Akhlak. Dokumentasi meliputi pengumpulan berbagai arsip atau catatan sekolah yang mendukung kebutuhan Seluruh data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan memfokuskan dan menyederhanakan data mentah dari lapangan, kemudian disajikan dalam bentuk uraian naratif agar hubungan antar data dapat dipahami secara jelas. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan yang diverifikasi kembali melalui triangulasi dan member checking untuk memastikan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. keabsahan data. Pendekatan analisis ini dipilih karena mampu menghasilkan temuan yang akurat, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Wahab, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan dan Aturan Guru dalam Pembiasaan Memberi Salam Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Sopan Santun Siswa di MAN 3 Aceh Besar Perencanaan merupakan tahap penting dalam setiap proses pendidikan, termasuk dalam penerapan habituasi memberi salam sebagai strategi pembentukan karakter siswa. Erly Suandy . menjelaskan bahwa perencanaan adalah proses menentukan tujuan organisasi dan merumuskan strategi, taktik, serta operasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut secara optimal. Sejalan dengan itu. Alder . alam Rustiadi, 2008:. menegaskan bahwa perencanaan merupakan proses menetapkan apa yang ingin dicapai di masa depan sekaligus menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya. Dalam konteks pendidikan karakter, perencanaan menjadi fondasi bagi guru dalam menyiapkan langkah-langkah pembiasaan yang terarah, sistematis, dan Habituasi memberi salam merupakan salah satu bentuk pembiasaan sederhana namun sarat makna, baik secara spiritual maupun sosial. Memberi salam telah diajarkan sejak kecil sebagai bagian dari etika Islam, namun pada era modern kebiasaan ini mulai diabaikan oleh sebagian siswa. Dalam lingkungan sekolah, memberi salam saat memasuki atau meninggalkan kelas bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang bertujuan membangun sikap hormat, sopan santun, serta kesadaran etis siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, perencanaan dan aturan yang dibuat guru menjadi sangat penting agar kebiasaan ini tidak sekadar dilakukan, tetapi juga dipahami maknanya oleh siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru FI di MAN 3 Aceh Besar, pembiasaan memberi salam terbukti memberikan pengaruh positif terhadap karakter siswa. Guru FI menyatakan: AuPembiasaan memberi salam dalam pembentukan karakter sopan santun pada siswa ini menjadikan siswa lebih memiliki rasa hormat pada guru, terutama pada guru Agama. Alhamdulillah siswa-siswa di MAN 3 ini lebih dominan patuh pada aturan pembiasaan memberi salam. Pada siswa yang kurang patuh, biasanya hanya sesekali melakukan pelanggaran ringan seperti meninggikan suara. Dalam situasi demikian, kami JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. menegur dan mengingatkan bahwa hal tersebut tidak mencerminkan akhlak sopan santun sebagai seorang pelajar. Ay (FI, n. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembiasaan salam bukan hanya sebuah tindakan ritual, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai penghormatan dan pembentukan disiplin diri. Dalam perencanaan pembiasaan salam, guru menerapkan strategi keteladanan sebagai pendekatan utama. Guru secara langsung memberikan contoh dengan mengucapkan salam kepada siswa, sekaligus menegur siswa yang lupa atau lalai Selain itu, guru memberikan motivasi dan penjelasan mengenai makna salam, bahwa salam bukan sekadar sapaan, tetapi juga doa untuk keselamatan orang lain. Penjelasan ini diberikan agar siswa memahami bahwa memberi salam memiliki makna mendalam yang berpengaruh pada hubungan sosial dan spiritual mereka. (Al-Baihaqi et , 2. Aturan memberi salam sesungguhnya telah ditanamkan sejak tingkat pendidikan usia dini hingga menengah, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga. Kebiasaan memberi salam kepada yang lebih tua dan menyapa yang lebih muda merupakan bagian dari karakter sopan santun yang ditanamkan melalui pembiasaan sehari-hari. Di MAN 3 Aceh Besar, pembiasaan salam dipertahankan sebagai upaya untuk membangun karakter siswa yang berakhlak mulia. Kehadiran aturan ini membantu siswa menyadari bahwa ketika mereka memberi salam, secara tidak langsung mereka telah mendoakan keselamatan bagi orang lain, bahkan ketika dilakukan dalam suasana santai atau bercanda bersama teman. (Pitaloka et al. , 2. Maka dari itu, perencanaan dan aturan yang diterapkan guru dalam pembiasaan memberi salam bukan hanya bertujuan membangun kebiasaan positif, tetapi juga menjadi strategi penting dalam pembentukan karakter sopan santun siswa. Pembiasaan ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan etika sehingga siswa tidak hanya mempraktikkan salam sebagai rutinitas, tetapi benar-benar menginternalisasikannya sebagai bagian dari akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Guru dalam Menerapkan Pembiasaan Memberi Salam pada Siswa MAN 3 Aceh Besar Pelaksanaan habituasi memberi salam merupakan bagian penting dari strategi pembentukan karakter sopan santun di MAN 3 Aceh Besar. Setelah proses perencanaan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. yang matang dilakukan oleh guru dan pihak sekolah, tahap implementasi menjadi kunci untuk memastikan nilai-nilai kesantunan benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta Sebagaimana dijelaskan dalam teori manajemen pendidikan, pelaksanaan yang baik selalu berangkat dari perencanaan yang terarah. Terry . alam Sri Larasat. menyebutkan bahwa perencanaan merupakan serangkaian keputusan mengenai pekerjaan yang harus dikerjakan oleh sebuah kelompok untuk mencapai tujuan tertentu, sehingga diperlukan kemampuan melihat ke depan dalam menetapkan pola tindakan yang tepat. (Maghfiroh, 2. Prinsip inilah yang menjadi dasar bagi guru dalam menjalankan pembiasaan salam sebagai bagian dari pendidikan karakter. Di lingkungan MAN 3 Aceh Besar, pelaksanaan habituasi memberi salam tidak hanya menjadi tugas guru, tetapi juga melibatkan seluruh unsur sekolah, mulai dari tenaga pendidik, staf tata usaha, hingga siswa itu sendiri. Praktik memberi salam diterapkan dalam berbagai situasi, baik ketika guru memasuki kelas, saat siswa keluar-masuk ruangan, maupun ketika terjadi interaksi informal di lingkungan Guru diposisikan sebagai role model utama, sehingga setiap interaksi yang dilakukan selalu diawali dengan salam, termasuk ketika guru menegur siswa yang melakukan pelanggaran ringan. Pada kondisi tertentu ketika siswa terlibat masalah, guru tetap dianjurkan untuk menegur dengan penuh kesabaran, mendahului sapaan dengan salam, dan mendoakan kebaikan bagi siswa, sehingga aspek pembinaan karakter tetap terjaga dalam proses tersebut. Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Aqidah Akhlak di MAN 3 Aceh Besar mempertegas bahwa pelaksanaan pembiasaan ini relatif berjalan dengan baik. Guru tersebut menjelaskan bahwa: AuPelaksanaan contoh dari sikap spiritual yaitu memberi salam pada lingkungan sekolah tidak memiliki kendala yang rumit atau besar, sebab kebiasaan ini memang sudah melekat pada siswa karena kebiasaan yang dilakukan dari Hanya beberapa murid saja mungkin yang kurang sopan santun dengan tidak memberi salam ketika keluar masuk kelas. Tetapi masalah tersebut masih bisa diatasi dengan cara menegur dan memberitahu lebih intens hal yang disepelekan barusan juga berpengaruh pada diri anak, dan merupakan adab yang harus dijaga. Ay. (FI, n. Pernyataan ini menunjukkan bahwa karakter sopan santun sebenarnya sudah menjadi bagian dari latar budaya siswa, namun tetap membutuhkan penguatan dan pengawasan melalui praktik harian. Pelaksanaan pembiasaan salam secara konsisten JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. memberi dampak positif terhadap perilaku siswa. Melalui kegiatan sederhana seperti menyapa dengan salam, tumbuh rasa hormat dan segan dalam diri peserta didik terhadap guru maupun sesama siswa. (Anggraini, 2. menjelaskan bahwa habituasi semacam ini dapat memperkuat dimensi kesopanan dan mengurangi potensi perilaku kurang terpuji karena siswa merasa diawasi secara moral melalui praktik etika yang dilakukan secara Dengan demikian, pelaksanaan pembiasaan salam bukan hanya sekadar rutinitas verbal, tetapi menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai kesantunan, menumbuhkan kesadaran spiritual, dan membentuk karakter sosial yang beradab. Implementasi yang dilakukan oleh guru-guru di MAN 3 Aceh Besar membuktikan bahwa strategi habituasi memberi salam mampu menciptakan suasana sekolah yang lebih harmonis dan penuh penghargaan. Pelaksanaan yang konsisten, disertai keteladanan guru serta penjelasan mengenai makna salam, turut memperkuat internalisasi nilai-nilai akhlak mulia dalam diri siswa. Dengan demikian, habituasi memberi salam menjadi salah satu praktik nyata pendidikan karakter yang efektif dan relevan bagi pembinaan etika dan sopan santun di lingkungan pendidikan. Pengaruh Pembiasaan Memberi Salam terhadap Pembentukan Karakter Sopan Santun pada Siswa MAN 3 Aceh Besar Pembiasaan memberi salam sebagai bagian dari strategi habituasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter sopan santun siswa di MAN 3 Aceh Besar. Kebiasaan ini tidak hanya mengajarkan siswa untuk menyapa orang lain secara sopan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa salam merupakan doa keselamatan bagi sesama. Praktik salam yang dilakukan secara konsisten menciptakan suasana sekolah yang harmonis, mempererat hubungan sosial, serta menumbuhkan rasa hormat antara siswa dan guru. Dengan demikian, habituasi salam turut memperkuat nilainilai kesantunan yang menjadi fondasi etika pergaulan di lingkungan pendidikan. Di MAN 3 Aceh Besar, budaya sekolah yang menerapkan konsep 5S (Senyum. Sapa. Salam. Sopan. Santu. menjadi landasan penting dalam pembentukan karakter Melalui aturan ini, kegiatan memberi salam tidak hanya dilakukan ketika siswa bertemu guru, tetapi juga saat memasuki dan meninggalkan kelas, ketika pulang sekolah, serta dalam berbagai interaksi sehari-hari. Siswa dibiasakan untuk mengucapkan salam dan bersalaman, termasuk ketika datang terlambat atau setelah selesai belajar. Guru dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. tenaga pendidik pun memberikan teladan yang sama dengan menyambut atau melepas siswa dengan salam dan doa kebaikan. (Pramono et al. , 2. Rutinitas ini memperlihatkan bagaimana pembiasaan memberi salam bukan sekadar formalitas, melainkan praktik nyata pembinaan akhlak yang terintegrasi dalam budaya sekolah. Manfaat dari pembiasaan ini tampak jelas dalam perilaku siswa yang semakin menunjukkan sikap hormat, sopan, dan santun terhadap guru maupun sesama warga sekolah. Pembiasaan salam mampu menekan kecenderungan perilaku negatif, seperti berbicara kasar atau bertindak tidak hormat, karena siswa terbiasa dengan etika komunikasi yang baik. Hal ini diperkuat oleh pernyataan guru Aqidah Akhlak MAN 3 Aceh Besar yang menyebutkan bahwa: Aupengaruh yang ditimbulkan dengan adanya pembiasaan memberi salam dalam membentuk karakter sopan santun pada siswa memberi pencerahan dengan menyadarkan bagi setiap siswa bahwasanya kita saling mendoakan dengan ucapan salam, mendoakan keselamatan dan keberkahan di antara kitaAy. (FI, n. ) Pernyataan ini menunjukkan bahwa habituasi salam tidak hanya berdampak pada aspek sosial, tetapi juga pada pembinaan kesadaran spiritual siswa. Oleh sebab itu, pembiasaan memberi salam di MAN 3 Aceh Besar berperan penting dalam membentuk karakter sopan santun siswa melalui penguatan budaya positif, keteladanan guru, dan penginternalisasian nilai-nilai moral yang dilakukan secara Praktik salam yang sederhana namun penuh makna ini menjadi salah satu strategi efektif dalam upaya mewujudkan peserta didik yang berakhlak mulia, beretika tinggi, dan memiliki penghargaan terhadap sesama. KESIMPULAN Habituasi memberi salam terbukti menjadi strategi yang efektif dalam membentuk karakter sopan santun siswa di MAN 3 Aceh Besar. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten baik oleh guru maupun siswa menjadikan salam sebagai bagian integral dari budaya sekolah, sehingga nilai-nilai kesantunan dapat diinternalisasi secara alami dalam diri peserta didik. Melalui perencanaan yang jelas, keteladanan guru, serta penerapan aturan 5S (Senyum. Sapa. Salam. Sopan. Santu. , siswa dibimbing untuk menunjukkan sikap hormat, ramah, dan menghargai sesama dalam setiap interaksi. Penerapan habituasi salam tidak hanya menguatkan etika komunikasi dan perilaku sosial siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa salam merupakan doa JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. dan wujud kasih sayang antar sesama. Dampak positifnya tampak pada perubahan perilaku siswa yang semakin menunjukkan akhlak mulia, seperti menghindari perkataan kasar, menunjukkan rasa segan kepada guru, serta menjaga tata krama baik di dalam maupun luar kelas. Dengan demikian, pembiasaan memberi salam di MAN 3 Aceh Besar tidak sekadar menjadi ritual sehari-hari, tetapi berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter yang komprehensif. Habituasi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai sederhana yang dilakukan secara berulang mampu membentuk karakter peserta didik secara berkelanjutan, relevan, dan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan akhlak sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian. *** DAFTAR PUSTAKA