DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan dan Sosial p-ISSN: 2809-3585, e-ISSN: 2809-3593 Volume 7, nomor 1, 2026, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/diksi. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah Majapahit dan Relevansinya pada Peserta Didik Masa Kini Rudi Umar Susanto*. Syamsul Ghufron Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Surabaya. Indonesia *Coresponding Author: rudio@unusa. Article history Dikirim: 07-01-2026 Direvisi: 12-01-2026 Diterima: 14-01-2026 Key words: Rekonstruksi. Nilainilai Karakter. Fiksi Sejarah. Kerajaan Majapahit. Pendidikan. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonsiliasi serta analisis karakter tokoh dalam karya fiksi sejarah yang berlatar Kerajaan Majapahit dan mengkaji relevansinya dalam konteks pendidikan peserta didik pada masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks terhadap karya fiksi sejarah Majapahit, didukung oleh kajian literatur yang relevan mengenai pendidikan karakter dan historiografi sastra. Analisis dilakukan dengan menelaah penggambaran tokoh, konflik, serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam alur cerita. Hasil penelitian menunjukkan tokoh-tokoh Majapahit merepresentasikan berbagai nilai karakter utama, antara lain kepemimpinan yang visioner, ketahanan dalam menghadapi tantangan, kesetiaan terhadap nilai dan komitmen, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan pendidikan karakter saat ini, khususnya dalam membentuk peserta didik yang berintegritas, tangguh, dan berkepribadian luhur. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa fiksi sejarah dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran alternatif yang kontekstual dan bermakna. Pendidik dapat menggunakan fiksi sejarah Majapahit sebagai media untuk menanamkan nilai karakter sekaligus memperkaya pemahaman peserta didik terhadap sejarah dan budaya Nusantara. Pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan reflektif. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi pada era globalisasi saat ini membawa pengaruh besar terhadap kehidupan peserta didik. Akses teknologi memang membuka peluang belajar yang luas, namun pada saat yang sama muncul berbagai gejala kemerosotan moral seperti rendahnya empati, tanggung jawab, dan Pendidikan tidak lagi cukup hanya menekankan aspek kognitif, melainkan harus berorientasi pada pembentukan karakter. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan harus Aumembentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabatAy serta memanusiakan manusia sepenuhnya. Dalam konteks ini, karya sastra memiliki peran strategis sebagai media pendidikan karakter. Sastra menghadirkan pengalaman manusia secara imajinatif dan reflektif, sehingga pembaca dapat belajar melalui tokoh dan peristiwa. Sebagaimana dinyatakan oleh para ahli sastra bahwa Aukarya sastra tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga sarat nilai dan pelajaran kehidupanAy (Nurgiyantoro, 2. Fiksi sejarah menjadi salah satu genre yang sangat potensial karena memadukan unsur imajinasi dengan @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA fakta sejarah, menghadirkan nilai-nilai masa lampau yang masih relevan dengan kehidupan masa kini. Majapahit merupakan salah satu puncak peradaban Nusantara yang menyimpan banyak nilai luhur seperti persatuan, keberanian, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Nilai-nilai tersebut direpresentasikan melalui tokoh-tokoh dalam fiksi sejarah yang berlatar Majapahit. Melalui proses rekonstruksi, nilai karakter tokohtokoh tersebut dapat digali, dianalisis, dan ditafsirkan kembali untuk kebutuhan pembinaan karakter peserta didik masa kini. Rekonstruksi di sini dipahami sebagai usaha Aumenghadirkan kembali nilai masa lalu agar bermakna bagi konteks kekinianAy (Setiawan, 2. Penggunaan fiksi sejarah dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia juga relevan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam kurikulum saat ini. Peserta didik tidak hanya membaca cerita, tetapi diajak melakukan refleksi dan internalisasi nilai. Dengan demikian, sastra menjadi jembatan antara Audunia teks dan dunia kehidupan peserta didikAy yang menumbuhkan kepekaan sosial dan moral (Rahmawati, 2. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian tentang rekonstruksi nilai karakter tokoh dalam fiksi sejarah Majapahit dan relevansinya pada peserta didik masa kini menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikasi nilai karakter yang direpresentasikan tokoh dalam fiksi sejarah Majapahit, dan . menjelaskan relevansi nilai tersebut bagi pembentukan karakter peserta didik pada era modern. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran sastra yang integratif dan berorientasi pada pendidikan karakter. Urgensi penelitian ini didasarkan pada kebutuhan mendesak akan penguatan pendidikan karakter peserta didik di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Realitas menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kematangan sikap dan moral peserta didik. Berbagai permasalahan seperti menurunnya empati, tanggung jawab, kedisiplinan, serta melemahnya rasa kebangsaan menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan saat ini. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai karakter secara kontekstual dan bermakna. Penelitian ini menjadi penting karena fiksi sejarah Majapahit memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal dan sejarah Nusantara. Selama ini, pembelajaran sejarah dan sastra cenderung bersifat informatif dan kurang menekankan internalisasi nilai. Melalui rekonstruksi nilai karakter tokoh dalam fiksi sejarah, peserta didik dapat diajak memahami nilai kepemimpinan, persatuan, kebijaksanaan, dan cinta tanah air melalui narasi yang dekat dengan pengalaman emosional mereka. Selain itu, penelitian ini relevan dengan implementasi Kurikulum Merdeka dan penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menuntut integrasi nilai karakter dalam setiap mata pelajaran. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi landasan konseptual dan praktis bagi pendidik dalam memanfaatkan karya sastra sebagai media pembelajaran karakter yang reflektif, humanis, dan berakar pada identitas budaya bangsa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada kajian sastra, tetapi juga pada pengembangan praktik pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter peserta didik masa kini. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA KAJIAN TEORI Nilai-nilai karakter pada hakikatnya dapat diidentifikasi dan dipelajari melalui karya sastra. Karya sastra merupakan sebuah realitas imajinatif yang telah diolah secara sadar oleh pengarang melalui proses kreatif yang panjang. Di dalamnya tidak hanya terdapat rangkaian kata-kata, melainkan juga pemikiran, gagasan, pengalaman batin, dan pandangan hidup yang dirajut menjadi sebuah dunia rekaan. Karya sastra lahir melalui proses pengolahan ide dan perasaan yang kompleks, yang kemudian dituangkan dalam bentuk bahasa yang estetik. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami sebagai realitas kedua, yakni realitas yang dibangun melalui kreativitas pengarang, bukan realitas yang hadir begitu saja. Pengarang menata bahasa, menyusun alur, menciptakan tokoh, dan merancang konflik bukan tanpa tujuan. Melalui semua unsur tersebut, pengarang ingin menyampaikan pesan tertentu kepada pembacanya. Dengan kata lain, karya sastra menjadi medium bagi penulis untuk mengekspresikan berbagai perasaan, gagasan, kritik sosial, harapan, bahkan kegelisahan eksistensial yang ia rasakan. Bentuk ekspresi ini dapat berwujud berbagai genre sastra, seperti cerpen, novel, puisi, drama, maupun bentuk sastra lainnya (Ardiyasa & Paramitha, 2. Setiap genre memiliki cara khas dalam menyampaikan realitas imajinatif tersebut, tetapi keseluruhannya tetap berfungsi sebagai sarana pengungkapan diri pengarang. Oleh sebab itu, setiap karya sastra dapat dipandang sebagai jendela untuk melihat ke dalam dunia batin Melalui karya sastra, pembaca dapat merasakan luapan emosi, kedalaman renungan, serta keluasan imajinasi yang dimiliki penulis. Sebuah puisi, misalnya, seringkali mencerminkan suara hati penyair mengenai keindahan alam, cinta, atau penderitaan manusia. Sementara itu, novel dapat menggambarkan kompleksitas kehidupan sosial, persoalan moral, dan pergulatan psikologis tokohtokohnya. Dengan demikian, sastra tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga menghadirkan makna kehidupan yang lebih luas. Karya sastra pada hakikatnya merupakan kreativitas sastrawan untuk menghadirkan nilai estetika dan makna filosofis bagi pembaca. Di dalamnya terkandung pandangan dunia pengarang yang dapat memperkaya cara pandang pembaca terhadap kehidupan. Selain itu, karya sastra juga berpotensi menanamkan kepekaan ekologis, sosial, dan kemanusiaan (Kurniasih, 2. Melalui karya sastra, pembaca diajak untuk menjelajahi beragam sudut pandang, memahami berbagai pengalaman manusia, serta menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan cara inilah pengalaman membaca sastra dapat menjadi pengalaman yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian. Karya sastra yang mengandung rekonstruksi nilai-nilai karakter dapat menjadi cermin bagi peserta didik dalam pembelajaran. Nilai yang ditampilkan melalui tokoh dan alur cerita dapat diinternalisasikan menjadi pedoman bersikap dan berperilaku. Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan rekonstruksi dan analisis mendalam terhadap nilai karakter tokoh dalam fiksi sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Majapahit serta mengkaji relevansinya dalam konteks peserta didik masa Fiksi sejarah sebagai genre sastra yang memadukan fakta sejarah dengan kreativitas imajinatif pengarang sering kali menggambarkan tokoh-tokoh yang memiliki nilai karakter kuat, seperti kepemimpinan, keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sangat potensial untuk diteladani generasi muda masa kini. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks dan studi pustaka. Sumber data utama berupa karya fiksi sejarah berlatar Majapahit, terutama novel yang mengangkat tokoh, peristiwa, atau suasana kehidupan pada masa kerajaan tersebut. Selain itu, penelitian ini juga didukung oleh literatur yang membahas nilai karakter, pendidikan karakter, serta kajian fiksi sejarah, sehingga analisis yang dihasilkan memiliki dasar teoretis yang kuat. Dengan pendekatan ini, penelitian tidak hanya mengidentifikasi nilai karakter yang hadir, tetapi juga memaknai relevansinya dalam kehidupan peserta didik pada era modern. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa karya sastra memang kaya dengan nilai karakter. Hanah . , misalnya, dalam penelitiannya terhadap cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari menemukan lima nilai karakter, yaitu penyabar, penyayang, peduli, tegas, dan pantang menyerah. Penelitian lain dilakukan oleh Wahdah . yang menelaah cerita rakyat AuNyi Mas Cincin MajalengkaAy dan menemukan nilai karakter tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, kecerdasan, kreativitas, kepedulian, serta gotong royong. Meskipun sama-sama meneliti nilai karakter, objek kajian Wahdah berbeda karena berfokus pada cerita rakyat, bukan fiksi sejarah. Penelitian oleh Simanullang. Sagala, dan Randa . terhadap dongeng AuKakek Tua dan CucunyaAy karya Grimm Brothers mengidentifikasi nilai religius, toleransi, kejujuran, kreativitas, kerja keras, kemandirian, demokrasi, dan rasa ingin tahu. Sementara itu. Lubis dan Tansliova . dalam kajiannya terhadap novel Amelia karya Tere Liye menemukan lima belas nilai karakter bangsa yang tercermin melalui tokoh-tokohnya. Perbedaan penelitian-penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada objek dan genre sastra yang dikaji. Penelitian ini secara khusus memusatkan perhatian pada fiksi sejarah berlatar Majapahit dan relevansi nilai karakter di dalamnya dengan pembentukan karakter peserta didik masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif-kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena relevan untuk mengungkap, memahami, dan mendeskripsikan secara mendalam nilai-nilai karakter yang terkandung dalam karya sastra. Sumber data utama penelitian berupa novel AuRanggalawe: Mendung di Langit MajapahitAy karya Gesta Bayuadhy yang diterbitkan pada tahun 2023 oleh Diva Press. Gambar 1. Novel Ranggalawe: Mendung di Langit Majapahit Karya Gesta Bayuadhy @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Data penelitian berupa satuan lingual, baik kata, kalimat, maupun paragraf yang memuat representasi nilai karakter tokoh dalam teks. Data tersebut dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara membaca objek penelitian secara cermat kemudian mencatat bagian-bagian teks yang relevan dengan fokus kajian (Sudaryanto, 2. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan sistematis. Tahap pertama adalah pembacaan intensif dan berulang terhadap novel AuRanggalawe: Mendung di Langit MajapahitAy untuk memperoleh pemahaman komprehensif terhadap alur, tokoh, dan konteks Tahap kedua adalah identifikasi dan klasifikasi data, yaitu menandai bagianbagian teks yang mengandung nilai karakter, kemudian mengelompokkan sesuai kategori nilai yang muncul. Tahap ketiga adalah pemberian interpretasi, yaitu menganalisis makna nilai karakter yang terkandung dalam tindakan, dialog, maupun narasi pengarang. Tahap keempat adalah penyusunan simpulan sementara dan verifikasi, yaitu menarik temuan serta memeriksa konsistensinya dengan keseluruhan Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif. Teknik ini bertujuan memaparkan data secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai nilai karakter tokoh dalam novel tanpa melakukan manipulasi atau rekayasa data. Analisis deskriptif dilakukan dengan cara menggambarkan temuan apa adanya berdasarkan konteks teks, kemudian menafsirkannya sesuai teori yang digunakan sehingga diperoleh simpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Nilai karakter merupakan seperangkat atribut moral dan sikap positif yang melekat pada individu serta tercermin dalam perilaku, sikap, dan cara berinteraksi dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai ini berperan penting dalam membentuk kepribadian yang baik dan moral yang kuat, sehingga menjadi dasar bagi individu dalam mengambil keputusan etis dan bertanggung jawab. Nilai karakter mencakup berbagai sifat positif seperti kejujuran, integritas, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, kerja keras, kerendahan hati, kebaikan, dan keadilan. Keberadaan nilainilai tersebut tidak hanya menentukan kualitas pribadi seseorang, tetapi juga memengaruhi keharmonisan hubungan sosial dalam masyarakat. Secara teoretis, konsep nilai karakter sejalan dengan pandangan Lickona . yang menyatakan bahwa karakter terdiri atas tiga komponen utama, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Ketiga komponen ini menegaskan bahwa nilai karakter tidak cukup dipahami secara kognitif, tetapi juga harus dihayati secara afektif dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Oleh karena itu, pembentukan karakter menuntut proses pendidikan yang berkesinambungan dan bermakna. Dalam konteks pendidikan, pendidikan karakter dipandang sebagai upaya sistematis untuk menanamkan nilai-nilai moral melalui proses pembelajaran yang terintegrasi (Kemendikbud, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai karakter akan lebih efektif apabila disampaikan melalui media yang kontekstual dan reflektif. Salah satu media yang memiliki potensi besar adalah karya Sastra menghadirkan pengalaman manusia secara imajinatif melalui tokoh, konflik, dan alur cerita yang memungkinkan peserta didik melakukan proses identifikasi, refleksi, serta penafsiran nilai secara mendalam (Nurgiyantoro, 2. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Lebih lanjut, teori sosiokultural Vygotsky menegaskan bahwa pembentukan nilai dan moral individu sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan budaya. Dalam hal ini, karya sastra, khususnya fiksi sejarah, berfungsi sebagai medium kultural yang merepresentasikan nilai-nilai karakter suatu masyarakat atau generasi tertentu. Representasi nilai karakter dalam tokoh-tokoh sastra dapat menjadi cermin sekaligus rujukan bagi generasi muda dalam membangun identitas, sikap, dan pandangan hidup mereka. Penelitian Rahmawati . menunjukkan bahwa penggambaran nilai karakter tokoh dalam karya sastra berperan penting dalam membentuk kesadaran moral dan kepekaan sosial peserta didik. Dengan demikian, nilai karakter dalam sastra tidak hanya berfungsi sebagai pesan moral, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda dalam konteks sosial dan budaya yang lebih Generasi muda kerap menjadi fokus utama dalam pembahasan nilai-nilai karakter karena masa muda merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas, sikap, dan orientasi moral individu. Secara psikologis. Erikson . menyatakan bahwa remaja dan dewasa awal berada pada tahap identity versus role confusion, yaitu fase ketika individu secara aktif membangun nilai, keyakinan, dan komitmen Pada tahap ini, nilai-nilai karakter yang dikembangkan akan menjadi landasan penting bagi perilaku sosial dan pengambilan keputusan di masa dewasa. Selain itu, generasi muda sering dipandang sebagai agen perubahan sosial. Teori perubahan sosial menegaskan bahwa transformasi nilai dan budaya dalam masyarakat kerap dimotori oleh kelompok muda yang lebih adaptif terhadap ide-ide baru (Giddens, 2. Nilai-nilai seperti keadilan sosial, keberagaman, keberlanjutan lingkungan, dan partisipasi aktif dalam kehidupan masyarakat menjadi representasi orientasi moral generasi muda yang responsif terhadap tantangan zaman. Nilai-nilai tersebut kemudian terwujud dalam berbagai bentuk tindakan sosial, seperti aktivisme, keterlibatan dalam gerakan lingkungan, serta partisipasi dalam wacana dan kebijakan publik. Namun demikian, generasi muda tidak bersifat homogen. Teori sosiokultural Vygotsky menegaskan bahwa pembentukan nilai karakter individu sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman personal. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Bennett . yang menunjukkan bahwa nilainilai generasi muda sangat beragam dan dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, lingkungan sosial, serta akses terhadap pendidikan dan media. Oleh karena itu, nilai karakter generasi muda perlu dipahami sebagai konstruksi sosial yang dinamis dan Dalam konteks pendidikan dan sastra, karya sastra termasuk fiksi sejarah dapat berfungsi sebagai ruang reflektif yang merepresentasikan sekaligus membentuk nilai karakter generasi muda. Melalui tokoh dan konflik yang disajikan, generasi muda dapat merefleksikan nilai yang mereka anut serta menegosiasikan identitas moralnya dalam menghadapi realitas sosial dan budaya masa kini. Oleh karena itu, representasi generasi muda dalam hal nilai karakter harus dilihat sebagai gambaran yang beragam dan kompleks. Melalui data yang terdapat dalam novel ini, dapat merepresentasikan nilai karakter yang menjadi cerminan atau pondasi bagi generasi muda, khususnya untuk peserta didik masa kini. Adapun datanya sebagai berikut pada Tabel 1. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Tabel 1. Nilai Karakter pada novel Ranggalawe: Mendung di Langit Majapahit Karya Gesta Bayuadhy Tokoh Raden Wijaya Keterangan Tokoh utama dalam cerita berdirinya Kerajaan Majapahit. Ia adalah pendiri kerajaan ini dan menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Ranggalawe Salah satu tokoh penting yang membantu Raden Wijaya dalam usahanya mendirikan Majapahit. Dia adalah seorang panglima perang yang berperan dalam berbagai pertempuran penting dalam sejarah Majapahit. Halayudha seorang tokoh dalam sejarah Majapahit yang terkenal sebagai seorang brahmana . endeta Hind. dan juga seorang sarjana. Sahasika Tokoh yang misterius dalam cerita ini. meramalkan masa depan Majapahit dengan Ramalannya adalah bagian penting dalam cerita tersebut dan menjadi salah satu "Nagarakretagama". Sahasika kepercayaan pada ilmu gaib dan kekuatan spiritual dalam kerajaan Majapahit. Nilai Karakter Kepemimpinan. Ketahanan dan Keuletan. Kepatriotan. Kecerdasan Diplomatik. Kemampuan Beradaptasi. Kerendahan Hati. Kesetiaan. Kepemimpinan Militer. Kesetiaan. Kedisiplinan. Kecerdasan Taktis. Kesetaraan Sosial. Loyalitas Terhadap Kerajaan. Kemampuan Beradaptasi. Intelektualitas. Kebijaksanaan. Keberagaman Agama. Kebatinan dan Spiritualitas. Kesetiaan terhadap Kerajaan. Keahlian Ilmiah. Kepercayaan pada Ilmu Gaib. Peran Budaya dan Agama. Penghormatan Terhadap. Berdasarkan tabel 1, memperlihatkan nilai karakter dalam masing-masing tokoh yang dapat dijadikan pijakan bagi generasi muda, khususnya peserta didik. Karena peserta didik masa kini, sebagai pilar masa depan bangsa, memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang lebih baik. Untuk mencapai hal ini, mereka harus diberikan landasan moral yang kuat dan nilai-nilai karakter yang Teks di atas mengidentifikasi sejumlah nilai karakter yang mungkin dapat menjadi panduan berharga bagi peserta didik dalam pengembangan diri mereka. Nilai-nilai karakter seperti kepemimpinan, ketahanan, kepatriotan, kecerdasan diplomatik, kemampuan beradaptasi, kerendahan hati, kesetiaan, kedisiplinan, hingga kebijaksanaan merupakan kompetensi esensial yang perlu ditanamkan pada peserta didik untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Secara teoretis, kepemimpinan dipahami tidak hanya sebagai kemampuan memengaruhi orang lain, tetapi juga sebagai proses etis yang menekankan tanggung jawab, keteladanan, dan Northouse . menegaskan bahwa kepemimpinan efektif bertumpu pada nilai moral, visi, dan kemampuan komunikasi, sehingga relevan untuk dikembangkan sejak dini dalam konteks pendidikan. Ketahanan dan keuletan . menjadi nilai penting dalam menghadapi tantangan dan perubahan. Menurut teori resiliensi yang dikemukakan oleh Masten . , individu yang memiliki daya lenting mampu bertahan, bangkit, dan berkembang meskipun berada dalam situasi sulit. Nilai ini sangat relevan bagi peserta didik di era disrupsi yang menuntut kesiapan mental dan adaptif. Sejalan dengan itu, kemampuan beradaptasi @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA juga dipandang sebagai kompetensi kunci abad ke-21 yang memungkinkan individu menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, teknologi, dan budaya (OECD, 2. Kepatriotan dan loyalitas terhadap sistem sosial mencerminkan dimensi kewargaan dalam pendidikan karakter. Pendidikan kewarganegaraan menekankan pentingnya rasa cinta tanah air, tanggung jawab sosial, dan partisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat (Banks, 2. Nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dalam membentuk warga negara yang demokratis dan berkarakter. Dalam konteks sosial, kecerdasan diplomatik dan kecerdasan taktis berkaitan dengan kemampuan komunikasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan strategis. Goleman . menyatakan bahwa kecerdasan emosional, termasuk empati dan keterampilan sosial, berperan besar dalam membangun hubungan yang harmonis dan menghindari Nilai kerendahan hati dan kesetiaan berkaitan erat dengan integritas moral. Menurut Peterson dan Seligman . , kerendahan hati merupakan salah satu character strengths yang mendukung pembentukan kepribadian prososial dan relasi yang sehat. Kedisiplinan dan kepemimpinan dalam konteks tertentu, termasuk kepemimpinan militer, mencerminkan internalisasi nilai tanggung jawab, ketertiban, dan pengendalian diri yang penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Selanjutnya, intelektualitas dan kebijaksanaan berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Teori perkembangan kognitif menekankan bahwa kebijaksanaan lahir dari integrasi pengetahuan, pengalaman, dan pertimbangan moral (Sternberg, 2. Sementara itu, penghargaan terhadap keberagaman agama, kebatinan, spiritualitas, serta kepercayaan budaya mencerminkan nilai toleransi dan Banks . menegaskan bahwa pendidikan multikultural penting untuk membangun sikap saling menghormati dalam masyarakat yang Keahlian ilmiah serta penghormatan terhadap nilai budaya dan agama menunjukkan pentingnya keseimbangan antara rasionalitas dan kearifan lokal. Dalam konteks ini, pendidikan karakter yang terintegrasi dengan budaya dan tradisi lokal diyakini mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Dengan demikian, nilai-nilai karakter yang tercermin dalam berbagai aspek tersebut memiliki relevansi kuat sebagai landasan pembentukan peserta didik yang beretika, adaptif, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa. Hal tersebut sesuai dengan hakikat nilai itu sendiri. Nilai dapat didefinisikan sebagai sifat atau aspek-aspek yang memiliki pentingnya dalam kehidupan manusia. Nilai ini melibatkan unsur kognitif dan afektif (Najib, 2015. Nilai juga dapat dianggap sebagai norma atau standar yang telah ditetapkan dan diyakini secara psikologis sebagai bagian integral dalam diri individu. Dalam nilai-nilai ini terdapat penilaian tentang apa yang dianggap baik atau buruk dan pengaruhnya terhadap perilaku (Abdul Majid, 2015. Selain itu, nilai, yang sering kali disebut sebagai "value," bisa diartikan sebagai norma-norma yang dianggap baik oleh individu, dan ini akan membimbing individu dalam melaksanakan tugas-tugas mereka seperti nilai kejujuran, kesederhanaan, dan sebagainya (Sanjaya, dalam Noor Yanti 2016. Sementara karakter adalah refleksi dari kepribadian seseorang, mencakup cara berpikir, sikap, dan perilaku (Barnawi 2012. Selain itu, nilai karakter juga dapat dianggap sebagai ide atau konsep yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam berperilaku bagi individu (Solichin, 2015. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Relevansi Nilai Karakter Tokoh dengan Peserta Didik Masa Kini Nilai-nilai karakter yang terkandung dalam tokoh-tokoh karya sastra memiliki peran penting sebagai bahan refleksi dan teladan bagi generasi muda, khususnya peserta didik masa kini. Secara teoretis, sastra dipandang sebagai representasi kehidupan manusia yang sarat dengan nilai moral, etika, dan kemanusiaan. Nurgiyantoro . menegaskan bahwa karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan estetis, tetapi juga sebagai wahana penyampaian nilai-nilai kehidupan yang dapat membentuk sikap dan kepribadian pembacanya. Melalui penggambaran tokoh dan konflik, pembaca diajak memahami konsekuensi moral dari setiap tindakan yang dilakukan tokoh. Dalam perspektif pendidikan karakter. Lickona . menyatakan bahwa internalisasi nilai moral akan lebih efektif apabila peserta didik dilibatkan dalam proses refleksi dan peneladanan. Tokoh-tokoh sastra menyediakan model perilaku yang konkret, baik positif maupun negatif, sehingga peserta didik dapat belajar membedakan tindakan yang patut diteladani dan yang perlu dihindari. Proses ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial Bandura . yang menekankan bahwa individu belajar nilai dan perilaku melalui observasi terhadap model, termasuk tokoh dalam cerita. Selain itu, karya sastra sering mengangkat isu sosial, budaya, dan moral yang relevan dengan kehidupan nyata. Hal ini memungkinkan peserta didik mengembangkan empati dan pemahaman terhadap berbagai sudut Penelitian Ratna . menunjukkan bahwa pembelajaran sastra dapat meningkatkan kepekaan sosial dan kesadaran moral peserta didik karena sastra menghadirkan pengalaman manusia secara mendalam dan reflektif. Dalam konteks fiksi sejarah, nilai karakter tokoh juga berfungsi sebagai jembatan antara pemahaman sejarah dan pembentukan karakter. Lebih lanjut, keterkaitan antara kurikulum pembelajaran dan nilai karakter dalam karya sastra sejarah menjadi sangat penting. Kurikulum yang mengintegrasikan sastra sebagai media pendidikan karakter sejalan dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menekankan nilai beriman, gotong royong, bernalar kritis, dan berkebinekaan global (Kemendikbud, 2. Dengan demikian, pendidikan sastra berperan strategis dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bermoral, beretika, dan mampu berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Tabel 2. Hubungan Aktivitas Peserta Didik dengan Nilai Karakter Tokoh Karya Sastra Hubungan Penyelidikan Sejarah Analisis Karakter dalam Sastra Sejarah Diskusi Moral Aktivitas Kurikulum pembelajaran yang mencakup mata pelajaran sejarah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami konteks historis di mana karya sastra tersebut ditulis. Ini membantu mereka memahami nilai-nilai yang mungkin berbeda pada masa itu dan membandingkannya dengan nilai-nilai kontemporer. Misalnya, pemahaman tentang perbedaan dalam nilai-nilai moral dan etika pada masa lalu dapat membantu peserta didik merenungkan perkembangan nilai-nilai karakter seiring waktu. Sastra sejarah sering kali memiliki tokoh-tokoh yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang relevan untuk masa itu. Melalui analisis karakter ini, peserta didik dapat memahami bagaimana karakteristik seperti keberanian, keteguhan hati, empati, atau integritas tercermin dalam karya sastra sejarah. Ini memungkinkan mereka untuk merenungkan nilai-nilai ini dan memikirkan bagaimana mereka dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran karya sastra sejarah juga menciptakan peluang untuk berbicara @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA dan Etika Pengembangan Empati Refleksi Identifikasi Diri tentang isu-isu moral dan etika yang muncul dalam konteks sejarah. Peserta didik dapat mempertimbangkan tindakan dan keputusan tokoh-tokoh dalam karya sastra tersebut dan mengidentifikasi dilema moral yang mereka hadapi. Diskusi semacam itu memungkinkan peserta didik untuk memikirkan nilai-nilai karakter seperti integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Sastra sejarah juga dapat membantu dalam pengembangan empati. Melalui membaca tentang pengalaman tokoh-tokoh dalam konteks sejarah yang berbeda, peserta didik dapat memahami perspektif orang-orang dari masa lalu. Ini dapat membantu mereka mengembangkan empati terhadap orang-orang dengan latar belakang yang berbeda dan memahami kompleksitas nilai-nilai karakter dalam konteks yang beragam. Pembelajaran sastra sejarah dapat menjadi alat untuk merangsang refleksi pribadi pada peserta didik. Mereka dapat bertanya pada diri sendiri bagaimana nilai-nilai karakter yang mereka temukan dalam karya sastra tersebut dapat diterapkan dalam hidup mereka sendiri. Ini membantu dalam pengembangan diri dan pemahaman pribadi akan nilai-nilai karakter. Melalui kurikulum pembelajaran yang mencakup karya sastra sejarah dapat menjadi sarana yang kuat untuk membentuk karakter dan nilai-nilai moral peserta Ini tidak hanya mengajarkan mereka tentang sejarah, tetapi juga membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai karakter yang penting dalam membangun individu yang etis dan bertanggung jawab dalam masyarakat. Berdasarkan kajian tersebut. Kementerian pendidikan nasional tahun 2010 telah mengidentifikasi nilainilai yang akan diinternalisasikan terhadap generasi bangsa melalui pendidikan Berikut 18 nilai-nilai karakter yang dimaksud . Tabel 3. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Pembelajaran Nilai karakter Religius Jujur Toleransi Disiplin Kerja Keras Kreatif Mandiri Demokratis Rasa ingintahu Semangat Kebangsaan Cinta tanah air Deskripsi Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Strategi yang dapat dilakukan sekolah seperti pengembangan kebudayaan religius Perilaku yang di dasarkan pada upaya yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat di percaya dalam perkataan, tindakan, dan Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku , etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas, dengan sebaik-baiknya. Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Cara berfikir, bersikap,dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan di Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan Cara berfikir, bersikap,dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Menghargai Prestasi Bersahabat/ Berkomunikasi Cinta Damai Gemar membaca Peduli Lingkungan Peduli Sosial Tanggung Jawab fisik, social, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Sikap dan tindakanyang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. Tindakan yang memeperlihatkan tindakan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain. Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyrakat yang membutuhkan. Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan . lam, sosial dan buday. , negara dan Tuhan yang Maha Esa. Beberapa pandangan menjelaskan konsep nilai-nilai karakter, termasuk disiplin, kemampuan berkomunikasi dan bersahabat, kejujuran, kerja keras, cinta tanah air, dan religius. Disiplin, menurut Ngainun Naim . , adalah perilaku yang mencakup kepatuhan terhadap peraturan tanpa pamrih, pengendalian waktu yang efisien, tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dan kesungguhan. Novan Ardy . juga mengemukakan bahwa kemampuan berkomunikasi dan bersahabat adalah penting karena manusia sebagai makhluk sosial harus memiliki keterampilan berkomunikasi untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Selanjutnya, nilai karakter kejujuran melibatkan perilaku jujur berdasarkan pemahaman diri yang mencakup kelebihan dan kekurangan (Barnawi & M. Arifin. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter memiliki akar dalam budaya Indonesia yang terkandung dalam tokoh-tokoh karya sastra sejarah dan telah dianalisis dalam berbagai aspek positif. Kaitannya dengan pendidikan karakter di sekolah bertujuan untuk mengajarkan nilainilai karakter ini kepada peserta didik. KESIMPULAN Membentuk kembali serta merekonstruksi nilai karakter yang tercermin pada tokoh-tokoh dalam cerita sejarah fiksi Majapahit merupakan langkah yang sangat berarti dalam konteks pendidikan bagi peserta didik masa kini. Tindakan ini bukan hanya berperan dalam meningkatkan pemahaman mereka terhadap periode sejarah tersebut, namun juga memberikan dasar yang kokoh bagi pembentukan dan penguatan nilai-nilai moral dan karakter yang sangat relevan dan diperlukan dalam menghadapi dinamika dan kompleksitas tantangan zaman modern yang terus Adanya keterlibatan peserta didik dalam analisis karakter tokoh-tokoh ini menghadirkan peluang untuk merenungkan aspek-aspek moral, etika, dan kepribadian yang tercermin dalam cerita sejarah tersebut. Hal ini, pada gilirannya, dapat memberikan landasan kuat untuk memahami bagaimana nilai-nilai seperti keberanian, kejujuran, kesetiaan, kepemimpinan, dan semangat berjuang telah menjadi bagian integral dalam pembentukan tokoh-tokoh sejarah. @2026 DIKSI . ttps://jurnal. com/index. php/diks. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Susanto & Ghufron. Rekonstruksi Nilai Karakter Tokoh dalam Fiksi Sejarah MajapahitA Lebih jauh lagi, rekonstruksi nilai-nilai karakter ini dapat memberikan peserta didik alat bermanfaat dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas dunia modern. Ketika mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral seperti kejujuran, integritas, dan empati, peserta didik akan lebih siap untuk menghadapi berbagai situasi yang memerlukan keteguhan karakter. Ini termasuk mengatasi konflik, mengambil keputusan etis, dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Penggunaan karya sastra sejarah sebagai alat untuk membentuk karakter dalam pendidikan memiliki dampak positif yang signifikan. Selain menyediakan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah, hal ini membantu dalam membentuk generasi muda yang lebih berkualitas, dengan moral yang kuat dan kemampuan karakter yang baik, sehingga mereka dapat menjadi pemimpin dan warga masyarakat yang bertanggung jawab dan beretika di era yang terus berubah dan beradaptasi ini. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih yang tak terhingga kepada semua yang telah mendukung dan berkontribusi pada penelitian ini, khususnya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unus. , kepada Keluarga, dan rekan sejawat. DAFTAR PUSTAKA