Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Gambaran Nyeri Pasien Terpasang Ventilator Mekanik Overview of Pain for Patients on Mechanical Ventilators Nindi Vika Lestari | 2 Dewi Rachmawati* | 3 Tri Cahyo S 1 Politeknik Kesehatan kemenkes Malang. Blitar. Indonesia, e-mail: nindiveeka4124@gmail. 2 Politeknik Kesehatan kemenkes Malang. Blitar. Indonesia, e-mail: dewi_rachmawati@poltekkes-malang. 3 Politeknik Kesehatan kemenkes Malang. Blitar. Indonesia, e-mail: cahyo_sepdianto@yahoo. *Corresponding Author: dewi_rachmawati@poltekkes-malang. ARTICLE INFO Article Received: February, 2024 Article Accepted: June, 2024 ABSTRAK Latar belakang: Pemasangan ventilator merupakan stressor yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan maupun kecemasan yang dapat mengakibatkan komplikasi dan berdampak serius pada kondisi pasien. Tujuan: untuk mengetahui skala nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik menggunakan CPOT Metode: Desain bersifat deskriptif yang melibatkan sampel sebanyak 30 orang yang memenuhi kriteria sebagai pasien terpasang ventilator pada hari 1 dan termasuk dalam golongan prioritas 1 pasien kritis, sampel diambil menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen adalah skala nyeri CPOT yang terdiri dari lima indikator, yaitu ekspresi wajah, gerakan tubuh, ketegangan otot, kesesuaian dengan ventilator dan vokalisasi . ntuk pasien yang tidak terpasang intubas. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 60% responden mengalami nyeri ringan, 26,6% mengalami nyeri sedang dan 13,3% mengalami nyeri berat. Ada perbedaan nyeri tersebut karena perbedaan intervensi yang diberikan pada pasien yang berdampak pada respon fisiologis berupa tanda-tanda Implikasi: Disarankan kepada perawat untuk mengidentifikasi skala nyeri pada pasien yang terpasang ventilator dan memberikan psikoterapi guna mengurangi nyeri, sehingga pasien dapat terhindar dari komplikasi Kata Kunci: Nyeri. Skala CPOT. Ventilator Mekanik ISSN (Prin. : 2088-6098 ISSN (Onlin. : 2550-0538 Website: https://jurnal. E-mail: jkmmalang@gmail. DOI: https://doi. org/10. 36916/jkm ABSTRACT Background: The installation of a ventilator is a stressor that can cause discomfort and anxiety, potentially leading to complications and having serious impacts on the patient's condition. Objective: To determine the pain scale in patients with mechanical ventilators using the CPOT. Method: The design is descriptive, involving a sample of 30 individuals who meet the criteria of being ventilator-dependent on day 1 and classified as priority 1 critical patients. The sample was taken using an accidental sampling technique. The instrument used is the CPOT pain scale, which consists of four indicators: facial expressions, body movements, muscle tension, and compliance with the ventilator and vocalization . or nonintubated patient. Result: The research results showed that 60% of respondents experienced mild pain, 26. 6% experienced moderate pain, and 13. 3% experienced severe pain. These differences in pain levels are due to the varying interventions provided to the patients, which impacted physiological responses in the form of vital signs. Implication: It is recommended for nurses to identify the pain scale in patients attached to ventilators and provide psychotherapy to reduce pain so that patients can avoid complications. Keywords: CPOT Scale. Mechanical Ventilator. Pain LATAR BELAKANG Copyright A The Author. 2024 | Page 47 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Intensive care unit (ICU) adalah unit perawatan intensif yang dipergunakan untuk memberikan perawatan medis dan terspesialisasi untuk mempertahankan kehidupan Di ICU pasien mempunyai tingkat resiko kematian tinggi sehingga memerlukan pemantauan secara intensif selama periode tertentu. ICU dirancang khusus untuk menyediakan pelayanan perawatan kepada pasien kritis dengan pendekatan multidisiplin (Jackson & Cairns, 2. ICU adalah tempat yang memberikan perawatan secara komprehensif pada pasien dengan kondisi mengancam nyawa atau mempunyai kegagalan sistem organ seperti paru-paru, jantung dan ginjal yang memerlukan pengawasan ketat dan peralatan khusus (Marshall et al. , 2. Perawatan yang diberikan di ICU adalah perawatan yang komplek dan terintegrasi serta dilakukan bersama-sama untuk memperbaiki kondisi pasien antara lain airway dan breathing support, cardiovascular support, monitoring hemodinamik, manajemen cairan, prinsip penggunaan obat vasoaktif. CNS, renal support. Gastrointestinal support, nutrisi, kontrol infeksi dan end of life care. Salah satu peralatan yang biasa digunakan untuk airway dan breathing support di ICU adalah ventilator mekanik (Jackson & Cairns, 2. (Iklima et al. , 2. Ventilator mekanik adalah intervensi paling umum di perawatan intensif dan dapat menyelamatkan nyawa pasien. Tujuan terapi ventilasi ini adalah untuk mengurangi kerja pernapasan dan pertukaran gas di paru-paru sehingga tubuh mampu mempertahankan atau mengembalikan pasokan oksigen yang cukup ke jaringan tubuh. Ventilator ini dapat diberikan dengan berbagai mode untuk menghindari terjadinya kerusakan paru-paru pada pasien (Spieth et al. , 2. (Purnawan et al. , 2. Berdasarkan studi cohort di USA ditemukan 35% pasien yang dirawat di intensive care menggunakan ventilator dengan jumlah pasien rata-rata pertahun yang menggunakan adalah 790. 000 orang dan beban biaya sebesar $ 27 juta (Spieth et al. , 2. Di Indonesia, jumlah pasien kritis yang menggunakan ventilator mencapai dua pertiga dari seluruh pasien ICU (LINKAGES, 2. (Widiyono, 2. Ventilator mekanik diperlukan pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum, intubasi serta pada pasien yang tidak dapat bernapas secara spontan karena alasan apa pun, dengan tujuan membantu mempertahankan hidup pasien. Ventilator mekanik digunakan karena dua alasan yaitu gagal nafas akut dan dukungan suportif pasca operasi. Ventilator mekanik juga diperlukan untuk merelaksasikan organ tubuh dengan menyuplai oksigen sesuai kebutuhan dan mengurangi upaya nafas berlebih yang dapat menyebabkan kelelahan pasien. Ventilator mekanik harus digunakan secara konsisten sesuai dengan petunjuk yang diharapkan dapat memberikan hasil yang baik Copyright A The Author. 2024 | Page 48 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. (Spieth et al. , 2. (Veterini et al. , 2. Ventilator mekanik ini salah satu penyebab nyeri yang dirasakan pasien kritis di ICU (Al Sutari et al. , 2. Nyeri adalah pengalaman tidak menyenangkan yang paling sering terjadi pada pasien yang terpasang ventilator mekanik di ICU (Yamashita et al. , 2. Nyeri ini dirasakan pada 71% pasien kritis. Menurut Al Sutari et al. , . nyeri merupakan stressor terbanyak kedua yang dirasakan pasien yang mendapatkan perawatan kritis. Nyeri ini dirasakan diperparah oleh beberapa faktor antara lain level keparahan penyakit pasien, berbagai prosedur invasif dan tindakan pembedahan. Selain itu nyeri juga bisa disebabkan karena intervensi keperawatan intensif seperti perubahan posisi, latihan nafas dan batuk, suction atau penghisapan lendir di jalan nafas, pemasangan infus dan chest tube, dan perawatan luka (Al Sutari et al. , 2. (Nazari et al. , 2. Tingkat nyeri yang semakin bertambah, tidak terdiagnosa dan dilakukan manajemen yang tepat akan menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi antara lain penurunan fungsi jantung dan paru-paru, meningkatkan morbiditas dan mortalitas, memperpanjang waktu pemulihan pasien dan meningkatkan biaya perawatan pasien (Al Sutari et al. , 2. Pasien di ICU yang sebagian besar mengalami penurunan kesadaran tersebut tidak dapat melaporkan tingkat nyerinya baik secara verbal maupun dengan menunjuk skala nyeri yang telah disediakan. Sehingga, pengkajian nyeri di ICU sangatlah penting untuk dilakukan untuk pasien yang tidak bisa berkomunikasi secara verbal sehingga dapat diketahui skala nyeri yang dialami pasien dan juga sebagai bentuk peran perawat dalam merawat pasien Untuk melakukan manajemen nyeri yang tepat maka diperlukan instrumen pengkajian yang akurat. Instrumen ini dapat melaporkan nyeri yang dirasakan baik pada pasien penurunan kesadaran, terpasang ventilator mekanik maupun disedasi. Pengkajian nyeri pada pasien tersebut dapat menggunakan instrumen CPOT (Agastiya, 2. (Nazari et al. Critical-Care Pain Observation Tool (CPOT) adalah instrumen yang dikembangkan untuk mengidentifikasi nyeri pada pasien kondisi kritis. Instrumen ini mengidentifikasi perubahan perilaku pasien sebagai respons terhadap rangsangan nosiseptif maka disebut behavioral pain assessment instrument (Nazari et al. , 2. (Rijkenberg & van der Voort. CPOT ini terdiri atas 4 domain perilaku yaitu ekspresi wajah, gerakan tubuh, ketegangan otot dan kesesuaian dengan ventilator untuk pasien yang diintubasi dan vokalisasi . ntuk pasien yang tidak terpasang intubas. Setiap domain perilaku akan mendapatkan skor mulai 0 sampai 2, dengan kemungkinan jumlah total skor keseluruhan Copyright A The Author. 2024 | Page 49 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. domain adalah 0 sampai 8 (Rijkenberg & van der Voort, 2. Instrumen ini memiliki nilai validitas dan reabilitas yang lebih tinggi untuk menilai nyeri pada pasien yang sedang dilakukan prosedur invasif, bedah maupun prosedur lain maupun saat tidak dilakukan tindakan (Wahyuningsih et al. , 2. Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian Wahyuningsih, . ada 40 pasien pasca bedah dengan ventilator didapatkan hasil instrumen CPOT memiliki sensitifitas 77% dan spesifitas 40%yang artinya instrumen CPOT baik untuk mengidentifikasi nyeri pasien kritis. Berdasarkan pengalaman saat praktik yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 8 Oktober sampai dengan 13 Oktober tahun 2022 di Ruang ICU RSUD Soedono Madiun dengan metode pengamatan secara langsung, keseluruhan pasien kritis berjumlah kurang lebih 10 pasien, dengan lama perawatan sekitar 1 sampai 2 minggu bahkan bisa lebih. Peneliti mendapatkan temuan bahwa belum dilaksanakannya pengkajian nyeri. Dari uraian diatas maka akan diteliti Gambaran Nyeri pada Pasien Kritis Terpasang Ventilator Mekanik di ICU RSUD dr. Soedono Madiun sebagai upaya mengetahui tingkatan nyeri. METODE Desain adalah deskriptif kuantitatif, populasinya pasien kritis yang terpasang ventilator mekanik pada bulan Februari sampai bulan Maret 2023. Sampel adalah 30 orang pasien kritis yang terpasang ventilator mekanik dengan kriteria inklusi yaitu pasien kritis yang terpasang ventilator mekanik hari pertama di ruang ICU, pasien kritis golongan prioritas 1 yaitu kelompok pasien tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, dan pasien dewasa berumur Ou 18 tahun. Sedangkan, untuk kriteria eksklusi adalah pasien yang mengalami kelumpuhan seluruh anggota badan. Sampel diambil dengan teknik Accidental Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa lembar observasi skala CPOT yang berisi 5 indikator yaitu ekspresi wajah, gerakan tubuh, kesesuaian dengan ventilator, vokalisasi . ntuk pasien tidak terpasang intubas. dan ketegangan otot dengan masingmasing indikator mendapatkan skor mulai 0 sampai 2. Pengambilan data dilakukan setelah mendapatkan Surat Keterangan Kelayakan Etik Penelitian (Ethical Clearanc. dari RSUD Soedono Madiun Nomor: 070/9. 492/102. 9/2023 tanggal 21 Februari 2023 dengan menerapkan prinsip etik Anonymity, confidentiality dan justice. Analisis data dilakukan dengan menjumlahkan semua skor yang diperoleh dari masing-masing indikator kemudian Copyright A The Author. 2024 | Page 50 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. dikategorikan menjadi tidak nyeri, nyeri ringan, nyeri sedang, nyeri berat dan nyeri sangat HASIL Berdasarkan Tabel 1 dibawah ini dapat diinterpretasikan usia pasien kritis yang terpasang ventilator paling banyak pada rentang usia 41-60 tahun sebanyak 50% . dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 53,5% . , semua dilakukan pemasangan ventilator pada hari pertama masuk rumah sakit dan terbanyak menggunakan mode CPAP sebanyak 50% . Tabel 1. Karakteristik Pasien Kritis di ICU RSUD dr. Soedono Madiun Karakteristik Usia 12-20 tahun 21-40 tahun 16,6% 41-60 tahun 61-80 tahun Jenis Kelamin Laki-laki 53,3% 46,6% Mode pemasangan SIMV 36,6% BIPAP 6,6% CPAP dualPAP 3,3% CMV 3,3% Sumber: Data primer . N= 30 Dari tabel 2 dapat diinterpretasikan 20% pasien yang terpasang ventilator terdiagnosa CVA Tabel 2. Diagnosa Pasien Kritis Terpasang Ventilator Mekanik di Ruang ICU RSUD dr. Soedono Madiun Karakteristik Jumlah Diagnosa Pneumonia 6,6% CVA CKD 6,6% Oedem pulmo 6,6% Post op laparatomy 16,6% Gagal nafas 6,6% Post op trepanasi 6,6% ICH 3,3% KAD 3,3% Post op craniotomy 6,6% Tumor otak 3,3% ARDS 6,6% Tetanus 3,3% Combustion 3,3% Sumber: Data primer . N= 30 Dari tabel 3 dapat diinterpretasikan bahwa obat anti nyeri yang paling sering diberikan adalah paracetamol sebanyak 43,3% . Tabel 3. Obat Anti Nyeri Yang diberikan Pada Pasien Kritis di ICU RSUD dr. Soedono Madiun Karakteristik Jumlah Obat Anti Nyeri Metamizole 13,3% Antrain 13,3% Copyright A The Author. 2024 | Page 51 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Asam Mefenamat Ketorolac Analsik Paracetamol Sumber: Data primer . N= 30 6,6% 16,6% 6,6% 43,3% Dari tabel 4 dapat diinterpretasikan ekspresi wajah rileks atau netral sebanyak 80% . Selanjutnya indikator gerakan tubuh pasien dengan kriteria perlindungan sebagian terdapat 50% . Sebagian besar kesesuaian ventilator pada pasien di ruang ICU yaitu dapat mentoleransi ventilator dengan jumlah 76,6% . Ketegangan otot pada pasien sebagian besar yaitu rileks sebanyak 80% . Tabel 4. Hasil Pengkajian Nyeri Pada Pasien Kritis Yang Terpasang Ventilator Mekanik di ICU RSUD Soedono Madiun Karakteristik data Khusus Skala CPOT Jumlah Ekspresi wajah Rileks/netral Tegang 13,3% Meringis Gerakan tubuh Tidak bergerak 13,3% Perlindungan Resah/gelisah 36,6% Kesesuaian dengan Dapat 76,6% terpasang ventilator Batuk, tetapi dapat mentoleransi 23,3% Melawan ventilator Ketegangan otot Rileks Tegang dan kaku 13,3% Sangat tegang Sumber: Data primer . N= 30 Dari tabel 5. menunjukkan bahwa skala karakteristik pemeriksaan fisik pada pasien kritis terpasang ventilator mekanik yaitu tekanan darah prehipertensi sebanyak 60% . , dengan Respiratory Rate normal 66,6% . , saturasi oksigen pada pasien di ruang ICU semua normal 100% . , dengan nadi sebagian takikardia sebanyak 66,6% . , suhu pada pasien di ruang ICU semua normal 100% . , dan Glasgow Coma Scale pada pasien di ruang ICU semua stupor 100% . Tabel 5. Karakteristik Pemeriksaan TTV dan Kesadaran Responden di ICU RSUD dr. Soedono Madiun pada Bulan Februari-Maret 2023 Karakteristik Responden Tekanan Darah Hipotensi Normal Pre-hipertensi Hipertensi stage 1 Hipertensi stage 2 Sistole <90 Diastole <60 Sistole 90-120 Diastole 60-80 Sistole Diastole Sistole Diastole Sistole Diastole Jumlah Respiratory Rate Copyright A The Author. 2024 | Page 52 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Bradipnea (<16 x/meni. Normal . -20x/meni. Takipnea (>20x/meni. Normal . -100%) Kekurangan O2 (<80%) Bradikardia (<60x/meni. Normal . -80 x/meni. Takikardi (>100x/meni. Hipotermia (<36AC) Normal . ,6AC-37,2AC) Hipertermi (>40AC) Compos mentis . Apatis . Somnolen . Delirium . Stupor . Koma . Sumber: Data primer . N= 30 Saturasi Oksigen Frekuensi Nadi Suhu Tubuh Kesadaran Dari tabel 6. menunjukkan bahwa sebagian responden dengan skala nyeri ringan sebanyak 60% . , sedangkan untuk sebagian kecil responden dengan skala nyeri berat sebanyak 13,3% . Tabel 6. Gambaran Nyeri Pasien Kritis Terpasang Ventilator Mekanik di ICU RSUD dr. Soedono Madiun pada Bulan Februari-Maret 2023 Skala Nyeri Tidak Nyeri Nyeri Ringan Nyeri Sedang Nyeri Berat Nyeri Sangat Berat Skor Jumlah . Sumber: Data primer . N= 30 26,6% 13,3% PEMBAHASAN Nyeri Ringan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 60% responden mengalami nyeri ringan dengan rentang skor . Stressor penyebab nyeri ini tergantung pada beratnya penyakit, banyaknya tindakan invasif yang didapatkan dan intervensi pembedahan. Nyeri tersebut semakin berat dengan adanya intervensi perawatan intensif lainnya seperti perubahan posisi, latihan pernafasan dan batuk, tindakan suction dan pembuatan jalan nafas buatan (Al Sutari et al. , 2. (Dewi & Anggraeni, 2. Nyeri ini apabila tidak segera teratasi dapat menimbulkan dampak fisiologis yang merugikan kesehatan bahkan bisa meningkatkan kematian maupun kecacatan dan kegagalan fungsi organ (Widiyastuti & Wulan, 2. (Yamashita et al. , 2. Copyright A The Author. 2024 | Page 53 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. Hasil penelitian menyatakan 60% pasien yang terpasang ventilator mekanik mengalami nyeri ringan karena pasien tidak dalam kondisi mendapatkan intervensi keperawatan, yang dibuktikan dengan 86,6% pasien mempunyai tekanan darah sistolik normal dan kategori prehipertensi serta mempunyai kecepatan pernafasan normal. Berdasarkan Al Sutari et . menyatakan adanya intervensi perawatan intensif semakin meningkatkan nyeri yang apabila tidak teratasi dapat meningkatkan hormon katekolamin dan kortisol yang akan meningkatkan tekanan darah, frekuensi nadi dan pernafasan. Diperkuat Berman & Snyder . dengan seseorang dengan nyeri yang meningkat maka akan terjadi peningkatan tanda-tanda vital juga Hal tersebut terjadi karena tanda-tanda vital dapat mempengaruhi aktivitas sistem saraf sehingga dapat mempengaruhi persepsi nyeri Dibuktikan dengan pasien yang rutin mendapatkan intervensi keperawatan mempunyai skala nyeri lebih tinggi . ean=7,1. SD=2,. dibandingkan pasien yang beristirahat atau tidak mendapat intervensi . ean=3,69. SD=0,. dan hasil analisis menyatakan ada perbedaan yang signifikan terkait skala nyeri tersebut. Kemungkinan pasien mengalami nyeri ringan juga dipengaruhi faktor Menurut Wijaya . semakin bertambah usia maka respon terhadap nyeri semakin Pasien dengan lansia mempunyai pemikiran bahwa nyeri yang dirasakan dapat diatasi tanpa minum obat untuk mengurangi efek samping dan ketergantungan sehingga tidak melaporkan nyeri yang dirasakan atau menanyakan obat untuk menghilangkan nyeri. Diperkuat oleh Al Sutari et al . yang menyatakan bahwa pasien yang lebih tua kecil kemungkinan merasakan nyeri dibandingkan yang lebih muda baik selama diberi tindakan keperawatan maupun saat beristirahat. Dengan demikian sesuai dengan hasil penelitian bahwa 33,3% pasien berusia 61-80 tahun dan 50% pasien berusia 41-60 tahun. Selain itu kemungkinan mengalami nyeri ringan karena 53,3% responden mempunyai jenis kelamin laki-laki. Menurut Wijaya . seorang laki-laki mempunyai sensitivitas terhadap nyeri lebih rendah daripada wanita karena mempunyai ambang batas yang berbeda. Nyeri Sedang Berdasarkan hasil penelitian 26,6% . memiliki skala nyeri sedang dengan rentang skor . Faktor yang mempengaruhi berbedanya tingkat nyeri seperti obat yang Berdasarkan hasil penelitian 43,3% pasien mendapatkan obat anti nyeri paracetamol dan sisanya mendapat anti nyeri seperti ketorolac, asam mefenamat dan Menurut teori Said & Agustina . mengatakan bahwa parasetamol akan menghambat sintesis prostaglandin (PG) sehingga prostaglandin tidak terbentuk sehingga nyeri yang dirasakan berkurang. Paracetamol merupakan anti nyeri yang paling sering Copyright A The Author. 2024 | Page 54 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. diberikan dan mempunyai tingkat keamanan serta toleransi yang tinggi. Obat ini merupakan obat golongan NSAID yang dapat mengurangi inflamasi dan tidak berdampak pada sistem Paracetamol ini merupakan obat pilihan pertama atau kedua untuk menangani nyeri akut pada pasien. Obat ini akan menghambat sintesis prostaglandin di Prostaglandin yang merupakan mediator nyeri apabila dihambat maka peradangan tidak terjadi dan nyeri akan berkurang (Freo et al. , 2. (Hidayati & Kustriyani, 2. Nyeri Berat Berdasarkan hasil penelitian 13,3% . memiliki skala nyeri berat dengan rentang skor . kemungkinan terjadinya nyeri berat pada pasien tersebut karena tindakan intervensi keperawatan rutin yang dilakukan pada pasien. Menurut Al Sutari et al . intervensi rutin yang dilakukan pada pasien dapat meningkatkan level skala nyeri yang dibuktikan dengan peningkatan tekanan darah dan denyut jantung. Dapat dilihat dari hasil penelitian tersebut rentang tekanan darah meningkat dari 0,21 menjadi 0,36 selama Sesuai dengan hasil penelitian pada pasien yang mengalami nyeri berat kategori tekanan darahnya 9,9% pada level hipertensi stage 1 dan 2 serta hanya 1 orang yang dalam kategori prehipertensi, didukung juga 66,6% pasien mempunyai denyut nadi lebih dari 100x/menit. Selain itu kemungkinan pasien mengalami nyeri berat juga karena mendapatkan tindakan invasif, tindakan suction maupun perubahan posisi. Menurut Al Sutari et al . menyatakan ada perbedaan signifikan tingkat nyeri pada pasien yang rutin mendapatkan intervensi keperawatan yang dapat dilihat dari pada pasien yang dilakukan perubahan posisi mempunyai rata-rata skor nyeri 9,13, untuk tindakan suction rata-rata skor nyeri 8,29, prosedur invasif dengan rata-rata 6,24 dan oral hygiene adalah 5,24. Selain itu juga kemungkinan dipengaruhi oleh status emosional. Status emosional ini berpengaruh pada respon fisiologis pasien yang pada akhirnya meningkatkan level nyeri (Wijaya, 2. Penting untuk diingat bahwa persepsi nyeri dapat bervariasi antara individu. Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri seperti toleransi nyeri, pengalaman sebelumnya, dan faktor psikologis. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah 60% responden memiliki skala nyeri ringan dan 39,9% memiliki skala nyeri sedang dan berat. Perbedaan skala nyeri ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien sehingga terjadi perbedaan respon fisiologis terutama pada tanda-tanda vital yang Copyright A The Author. 2024 | Page 55 Jurnal Keperawatan Malang (JKM) Vol. No. June 2024, pg. dipengaruhi oleh aktivitas sistem saraf sehingga skala atau skor nyerinya berbeda. Selain itu juga terdapat perbedaan jenis intervensi rutin yang diberikan pada pasien. Pasien yang sering dilakukan perubahan posisi merasakan tingkat nyeri lebih tinggi daripada pasien yang dilakukan suction, prosedur invasif maupun oral hygiene. Disarankan kepada perawat untuk mengidentifikasi nyeri pasien yang terpasang ventilasi mekanik dan segera dilakukan manajemen nyeri terutama dengan psikoterapi untuk meningkatkan outcome pasien. DAFTAR PUSTAKA