PENDIDIKAN: JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. No. Desember 2025 Hal. 323- 326 e-ISSN: 2774-7921 Upaya Mengenalkan Linguistik Korpus untuk Merancang Pembelajaran Bahasa Inggris yang Berdiferensiasi Rika Mutiara* Universitas Esa Unggul *Email: rika. mutiara@esaunggul. ABSTRACT The community service program aims at introducing the ways to use the data from a corpus to design English learning. The participants of the program are English teachers in Senior High Schools in East Jakarta. The use of a corpus is a part of integrating technology in education. In the previous program, various features of corpus were investigated. Corpus of Contemporary American English and British National Corpus were used. In this program, the participants focused on exploration of concordance lines and discussion. Also, they study how to apply the corpus findings particularly the discourse patterns to English learning materials development. It will be easier to integrate the concept of differentiated instruction due to the various data available in the corpus. Exploring the data in the corpus makes the participants become English teachers who do not depend on textbooks. Instead, they use the source of the data built using language in real life. Keywords: Corpus linguistics. Concordance lines. Discourse. Learning materials. ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan cara menggunakan data yang ada di korpus untuk merancang pembelajaran bahasa Inggris. Peserta kegiatan ini adalah guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas di wilayah Jakarta Timur. Penggunaan korpus merupakan bagian dari pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Dalam sesi awal, berbagai fitur dalam korpus dieksplorasi. Korpus yang digunakan adalah Corpus of Contemporary American English dan British National Corpus. Dalam sesi selanjutnya, fitur yang menjadi fokus adalah baris konkordansi. Peserta kegiatan berpartisipasi aktif dalam mengamati data di korpus dan diskusi. Peserta juga belajar bagaimana temuan pola diskursus di baris konkordasi korpus dapat digunakan sebagai materi ajar bahasa Inggris. Pengembangan materi ajar yang seperti ini juga membuat peserta menjadi lebih mudah untuk membuat materi ajar yang berdiferensiasi karena beragamnya data yang ada di korpus. Pengeksplorasian data di korpus membentuk peserta menjadi guru yang tidak bergantung pada buku teks yang sudah tersedia melainkan memanfaatkan sumber data yang dibangun berdasarkan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Linguistik korpus. Baris konkordansi, diskursus. Materi ajar PENDAHULUAN Kegiatan pengabdian abdimas ini adalah lanjutan dari program kerja sama sebelumnya dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMA Wilayah Jakarta Timur 2 di mana peserta belajar tentang prinsip dasar dan fitur korpus. Peserta sudah pernah mencoba menggunakan Corpus of Contemporary of American English (COCA) dan British National Corpus (BNC). Peserta sudah mempu mencari kata/frase dan mengamati frekuensinya. Peserta juga sudah mampu menemukan Selain itu, peserta juga sudah pernah mengamati baris konkordansi. Penggunaan korpus dalam mata pelajaran bahasa Inggris merupakan sesuatu yang baru bagi guru-guru tersebut. Menindaklanjuti program sebelumnya. MGMP melihat adanya kebutuhan untuk membuat program lanjutan yang memberi kesempatan bagi guru untuk mendalami linguistik korpus dan khususnya menggunakannya dalam rangka menerapkan kurikulum Merdeka Belajar. Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Berdasarkan kondisi tersebut, pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat dan pengurus MGMP memutuskan untuk berfokus pada penggunaan korpus dalam pengembangan materi ajar. Dalam Kurikulum Merdeka Belajar, guru mengembangkan materi ajar sendiri. Pengembangan materi ajar akan dikaitkan dengan konsep pembelajaran berdiferensiasi yang memungkinkan guru untuk menyediakan materi ajar yang beragam bagi peserta didik dengan kemampuan yang berbeda. Guru menemukan kendala untuk mencari teks yang beragam yang dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran yang Peserta didik yang memiliki kemahiran bahasa Inggris yang lebih tinggi akan diberikan materi ajar yang lebih menantang. Dalam linguistik korpus, kata/frase yang frekuensinya lebih tinggi umumnya lebih dikenal oleh peserta didik. Peserta didik yang lebih mahir dapat diberikan input bahasa berupa kata/frase yang lebih jarang muncul. Hal ini juga berguna untuk menambah pengetahuan atau keterampilan peserta didik. Misalnya dalam menayakan kabar, peserta didik yang lebih mahir akan mempelajari frase how are you doing?, whatAos up?, dan howAos your day? karena mereka sudah mahir bercakap-cakap menggunakan how are you?. Dalam merespon pertanyaan menayakan kabar, peserta juga bisa menggunakan ungkapan great dan awesome ketimbang menggunakan fine dan good. Keberagaman ungkapan tersebut dapat dimunculkan dalam teks yang ada di Lembar Kerja Peserta Didik. Teks tersebut didapatkan melalui pencarian baris konkordansi di korpus. Fitur baris konkordansi merupakan fitur dasar yang memberikan banyak manfaat (Friginal. Dye, & Nolen. Teks tersebut merupakan percakapan yang digunakan dalam komunikasi di dunia nyata. Oleh karena itu, menyediakan materi ajar yang demikian sangat berguna untuk menyiapkan peserta didik menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi. Dengan menampilkan teks seperti itu, penggunaan korpus mencapai level diskursus. Hal ini berbeda dengan yang umumnya terjadi. Biasanya penggunaan korpus bagi pembelajaran berfokus pada kata dan tata bahasa. Perlu adanya kajian yang mencapai level diskursus dalam pengembangan materi ajar. METODE Dalam tahapan awal, diskusi dilakukan dengan pengurus MGMP SMA Bahasa Inggris Wilayah Jakarta Timur 2 untuk mengidentifikasi kebutuhan dan harapan pengurus MGMP dari kegiatan pengabdian masyarakat ini. Sebanyak 25 guru dari SMA negeri dan swasta mejadi peserta kegiatan ini. Sebagian besar peserta merupakan peserta dalam kegiatan sebelumnya di mana prinsip dasar linguistik korpus Peserta diminta untuk membawa laptop. Karena korpus yang digunakan bersifat dalam jaringan, koneksi internet juga dibutuhkan. Pengurus MGMP mensosialisasikan kegiatan ini dan juga menyiapkan ruangan beserta sarana penunjang kegiatan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di SMAN 50 Jakarta. Bentuk kegiatan ini adalah demonstrasi, ceramah, dan diskusi. Fitur baris konkordansi yang menjadi fokus kegiatan ini adalah yang muncul dalam bahasa lisan. Gavioli . menyatakan bahwa pencarian baris konkordansi adalah fitur yang amat penting dalam penggunaan Karena peserta kegiatan adalah guru bahasa Inggris SMA, maka ungkapan yang akan dieksplorasi adalah ungkapan yang biasa muncul dalam pelajaran bahasa Inggris di SMA. Selama mengamati data di korpus, guru diminta untuk memperhatikan respon yang diberikan lawan bicara ketika merespon ungkapan yang menjadi target. Selain itu, guru juga diminta untuk mengidentifikasi ungkapan lain yang muncul bersama dengan ungkapan target. Aspek penting yang perlu ditekankan dalam kegiatan ini adalah bagaimana korpus memberikan manfaat dalam menghadirkan penggunaan bahasa dalam konteks yang HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan diawali dengan penyampaian materi. Karena beberapa peserta tidak mengikuti kegiatan sebelumnya, pembicara menyampaikan secara garis besar apa itu korpus. Satu korpus yang bernama Michigan Corpus of Academic Spoken English (MICASE) juga diperkenalkan. Tujuan pengenalan korpus ini adalah agar peserta tahu bahwa ada korpus pemelajar di mana bahasa yang terdapat di dalamnya dihasilkan oleh pemelajar bahasa Inggris. Hal ini bisa menginspirasi guru untuk mengumpulkan hasil karya peserta didik baik secara lisan dan tulisan dan membuat korpus sendiri seperti yang sudah dilakukan peneliti sebelumnya yaitu Araminta . Xu, . Selanjutnya, pembicara memaparkan penggunaan satu fungsi ungkapan dalam komunikasi. Ungkapan yang dipilih adalah how are you dalam talk show televisi. Peserta diminta untuk menonton cuplikan video di mana how are you digunakan. Peserta mengamati bahwa sebagian besar respon yang diberikan terhadap pertanyaan how are you adalah good. Peserta menyadari bahwa dalam pembelajaran bahasa Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 Inggris good bukan ungkapan yang sering digunakan sebagai respon. Peserta mencari ungkapan how are you dan mengamati respon yang muncul dalam baris konkordansi. Tampak terlihat bahwa good juga merupakan respon yang sering muncul. Peserta mengamati frekuensi dari kata yang menjadi respon dan mengetahui bahwa dalam pembelaran ungkapan yang frekuensinya lebih tinggi akan diajarkan terlebih dahulu dibandingkan ungkapan yang frekuensinya lebih rendah. Selanjutnya, guru kembali diminta untuk melakukan eksplorasi dengan mengamati respon penggunaan ungkapan How are you dong? yang digunakan oleh penutur dalam video. Selain itu, yang harus diperhatikan adalah respon yang diberikan terhadap ungkapan tersebut. Peserta diminta untuk mencari ungkapan How are you doing? di korpus. Terlihat bahwa dalam video dan korpus kedua respon yang umum adalah Melalui hal ini, peserta menyadari bahwa bahasa yang ada di korpus mencerminkan penggunaan bahasa sehari-hari. Untuk menemukan bahwa good adalah respon yang sering muncul melalui menonton sejumlah video talk show memakan waktu yang tidak sedikit. Hal ini sangat berbeda jika guru melakukan ekspolorasi korpus yang menghemat waktu. Target ungkapan selanjutnya adalah ungkapan Can I help you?. Karena fokus dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana suatu ungkapan digunakan di dalam diskursus, peserta menyebutkan ungkapan tersebut digunakan dalam konteks yang seperti apa dalam pembelajaran bahasa Inggris di SMA. Umumnya, ungkapan ini digunakan untuk menawarkan bantuan kepada orang lain. Hal ini digunakan berdasarkan materi ajar di buku teks. Peserta diminta untuk mengamati ungkapan tersebut di korpus dan ungkapan selanjutnya yang muncul setelah Can I help you?. Dengan mengamati ungkapan selanjutnya, peserta memperhatikan konteks penggunaan ungkapan. Dalam penggunaan yang sederhana, ungkapan tersebut muncul sebagai satu-satunya ujaran. Namun, dalam penggunaan yang lebih kompleks. Can I help you diikuti oleh pertanyaan lain yang berfungsi untuk menawarkan bantuan misalnya Do you need some help? dan What do you want me to do?. Peserta diminta berdiskusi mengenai fenomena tersebut. Mereka berdiskusi mengapa kedua pertanyaan tersebut muncul bersamaan dan apa tujuan penutur menggunakan kedua pertanyaan tersebut. Mereka menyimpulkan bahwa fenomena tersebut perlu diajarkan kepada peserta didik yang memiliki kemahiran lebih tinggi dibanding peserta didik lain. Melalui eksporasi di korpus, materi pembelajaran berdiferensiasi bagi siswa dengan level kemahiran yang berbeda dapat diidentifikasi. Target ungkapan selanjutnya adalah what about. Peserta menyampaikan bahwa ungkapan ini digunakan untuk menyampaikan berbagai tujuan yaitu mengundang dan memberikan saran/pendapat. Eksplorasi what about di korpus dibuat menjadi spesifik yaitu untuk menyarankan waktu. Peserta kembali mengamati bagaimana lawan bicara memberikan respon terhadap ungkapan what about di Berdasarkan pengamatan peserta di korpus, respon yang muncul lawan bicara menyebutkan waktu, memberikan kemungkinan, persetujuan, dan saran. Variasi respon tersebut dapat dimunculkan ketika materi ajar dikembangkan. Respon yang makin beragam dapat disajikan kepada peserta didik dengan kemahiran yang lebih tinggi. Target ungkapan yang terakhir adalah I suggest. Peserta menyampaikan bahwa ungkapan ini sangat umum digunakan. Sama seperti di ungkapan sebelumnya, guru diminta untuk mengamati tindak tutur lain yang muncul setelah I suggest. Berdasarkan investigasi, kata because sering muncul setelah I Setelah berdiskusi, peserta menyimpulkan bahwa fenomena I suggest yang diikuti because muncul karena penutur ingin menguatkan saran yang diberikan sehingga kemungkinan untuk saran tersebut diterima menjadi lebih besar. Hal seperti ini merupakan bagian dari keterampilan Penutur bersifat persuasif dalam menyampaikan saranya. Hasil diskusi ini menunjukan bahwa peserta mampu mengeksplorasi ungkapan sampai ke tahap diskursus. Pembicara mendorong peserta untuk mengintegrasikan hal tersebut ke dalam pembelajaran di kelas. Peserta didik yang kemahirannya standar bisa hanya belajar tentang I suggest. Namun, peserta didik dengan kemahiran yang lebih tinggi dapat diminta untuk menggunakan I suggest dengan because. Dengan demikian, peserta didik belajar tentang strategi komunikasi. SIMPULAN Penggunaan korpus dalam kaitannya dengan pengembangan materi ajar dapat dilakukan dengan efektif oleh peserta. Hal ini sejalan dengan pandangan Xu . bahwa korpus dapat memberikan banyak mafaat dalam pengembangan materi ajar. Peserta dapat menganalisa data baris konkordansi di korpus melalui diskusi. Ungkapan-ungkapan tidak hanya diajarkan sebagai aturan kebahasaan yang berpusat Jumat Pendidikan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 3 Desember 2025 pada tata bahasa. Strategi komunikasi juga menjadi topik yang merupakan bahan diskusi. Peserta menyadari bahwa keterampilan berbahasa tidak hanya tentang mengikuti aturan tetapi juga tentang bagaimana bahasa digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu ketika berkomunikasi. Jika hal seperti ini diaplikasikan dalam materi ajar di kelas, pembelajaran akan menjadi berguna dan melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik. Selanjutnya, kemampuan peserta untuk menemukan berbagai pola diskursus dalam korpus dapat ditindaklanjuti dengan pengembangan materi ajar yang mendukung pembelajaran Pembahasan lebih lanjut mengenai analisa diskursus yang menyoroti strategi komunikasi perlu dilakukan lebih dalam sehingga nantinya peserta terbiasa untuk melihat tata bahasa dalam level diskursus yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah komunikasi. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh bahwa korpus membantu peserta didik untuk siap berkomunikasi dalam dunia nyata Ashkan & Seyyedrezaei . Hal ini akan berjalan lebih baik jika pemanfaatan korpus juga dituliskan di dokumen rencana pembelajaran seperti silabus (Zaki, 2. DAFTAR RUJUKAN Araminta. Integrating learner corpus analysis into the teaching of English academic writing. Saga 1. doi: 10. 21460/saga. Ashkan. L & Seyyedrezaei. Seyyed. The effect of corpus-based language teaching on Iranian EFL learnersAo vocabulary learning and retention. International Journal of English Linguistics, 6 . Friginal. Dye. P, & Nolen. Corpus-based approaches in language teaching: Outcomes, observations, and teacher perspectives. Boaziyi University Journal of Education, 37 . , 43-68. Gavioli. Exploring corpora for ESP learning. Amsterdam: John Benjamins. Xu. Qi. Application of learner corpora to second language learning and teaching: An overview. English Language Teaching, 9 . , 46-52. Zaki. Corpus-based language teaching and learning: Applications and implications. International Journal of Applied Linguistics, 169-172. doi: 10. 1111/ijal.