VOCAT : Jurnal Pendidikan Katolik Vol. No. Tahun 2024. Hal. 12 - 24 Website: https://ejournal. id/index. php/vocat MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PAK SMP VII SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA DENGAN MODEL CORE Mariana Siregar1. Din Oloan Sihotang2* STP St. Bonaventura Keuskupan Agung Medan Email : mariana05siregar@gmail. com1, oloansihotang08@gmail. Abstrak : Berdasarkan penelitian ini hasil belajar Pendidikan Agama Katolik (PAK) siswa kelas VII di SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan akan dievaluasi keefektifannya dengan Model Pembelajaran CORE. Dalam dua siklus penelitian, penelitian ini diikuti oleh 26 siswa dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Selain melacak proses pembelajaran, data dikumpulkan melalui tes sebelum dan Bukti empiris menunjukkan bahwa Model Pembelajaran CORE dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Siklus I memperoleh rata-rata nilai postes sebesar 88,2, namun Siklus II memperoleh rata-rata nilai postes sebesar 96,3. Jika dibandingkan dengan rata-rata nilai pre-test sebelumnya sebesar 63,3 dan 89, angka-angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan. Temuan ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas Model Pembelajaran CORE dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan kinerja akademik. Penelitian ini menjelaskan bahwa Model Pembelajaran CORE dapat berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan hasil belajar siswa PAK dan mendorong pengembangan strategi pengajaran yang lebih menarik dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk membantu akademisi dan pendidik mengembangkan metode pengajaran yang inovatif dan efektif. Kata kunci: Model CORE. Hasil. Pemahaman. PAK Abstract : Based on this study, the learning outcomes of Catholic Religious Education (PAK) for seventh-grade students at SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan will be evaluated for its effectiveness using the CORE Learning Model. Over two research cycles, 26 students participated in this action research using the Classroom Action Research (CAR) method. In addition to tracking the learning process, data were collected through pre- and post-tests. Empirical evidence shows that the CORE Learning Model can significantly improve student learning outcomes. Cycle I obtained an average post-test score of 88. while Cycle II obtained an average post-test score of 96. Compared to the previous average pre-test scores of 63. 3 and 89, these figures indicate progress. These findings are consistent with previous research showing the effectiveness of the CORE Learning Model in increasing student engagement and academic performance. The conclusion of this study is that the CORE Learning Model can serve as a tool to enhance student learning outcomes in PAK and promote the development of more engaging and effective teaching strategies. This research aims to assist academics and educators in developing innovative and effective teaching methods. Key words: CORE model, outcomes, understanding. PAK PENDAHULUAN Komponen penting dari pertumbuhan suatu negara adalah pendidikannya. Hasil belajar siswa menjadi indikator utama dalam mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, penting bagi pendidik untuk menggunakan model pembelajaran yang mutakhir dan Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui proses belajar. Kemampuan tersebut meliputi informasi, sikap, dan keterampilan. Informasi, sikap, dan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui proses pembelajaran disebut dengan hasil belajar. Hal tersebut merupakan hasil interaksi, proses pembelajaran, dan penilaian yang dilakukan guru dan siswa sepanjang kegiatan pembelajaran. Hasil belajar tidak hanya mencerminkan pencapaian akademis, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, dan keterampilan hidup siswa (Febryan et al. , 2. Proses ini dipengaruhi oleh interaksi, proses belajar, evaluasi, serta suasana kelas yang dibuat oleh pendidik (Syachtiyani & Trisnawati, 2. Lingkungan kelas yang dibangun guru selama pengajaran dan keterampilan yang diperoleh siswa dengan menyelesaikan kegiatan pembelajaran dapat berdampak pada hasil belajar, atau tujuan pembelajaran (Aini et al. , 2022. Sihotang dkk, 2. Peran penting hasil belajar mencakup pengukuran kemampuan siswa, merefleksikan interaksi dan proses pembelajaran, menentukan tujuan pembelajaran, memengaruhi suasana kelas, menjadi hasil evaluasi, dan menjadi pengukuran kemampuan siswa. Sebagai indikator utama kesuksesan pembelajaran, hasil belajar memberikan gambaran menyeluruh tentang pencapaian siswa dan efektivitas model pembelajaran (Eka & Prastiwi, 2023. Sihotang, 2. Sejalan dengan penelitian Safitri dan Sontani yang menunjukkan bahwa hasil belajar merupakan bagian penting dalam reformasi pendidikan (Safitri & Sontani, 2. Ini menunjukkan bahwa hasil belajar berperan dalam mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan. Hasil belajar sebagian besar dipengaruhi oleh dua jenis unsur, yaitu pengaruh internal dan pengaruh eksternal. Unsur internal adalah unsur yang muncul dari dalam diri seseorang dan berdampak pada hasil belajar. Contohnya adalah faktor psikologis, yang meliputi kedewasaan, kesiapan, bakat, perhatian, kecerdasan, dan rasa ingin tahu. Sebaliknya, faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri individu dan berdampak pada hasil belajar. Contohnya adalah faktor keluarga yang meliputi pendidikan orang tua, hubungan dalam keluarga, dan kondisi ekonomi dalam keluarga, serta faktor sekolah yang meliputi kondisi bangunan, hubungan siswa-guru, model pembelajaran, alat pembelajaran, dan metode pembelajaran (Damayanti, 2. Keterampilan guru memegang peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswanya. Ketika pendidik memiliki kemampuan yang diperlukan, mereka dapat membangun kelas yang produktif dan memberi semangat yang meningkatkan hasil pembelajaran bagi siswa. Kemampuan mengajar sama pentingnya dengan keterampilan dasar mengajar, yang meliputi: . membuka dan menutup pelajaran. membimbing diskusi dalam kelompok kecil. pengelolaan kelas. memberikan penguatan. memberikan variasi. mengajar kelompok kecil dan individu (Andriyani, 2. Hal ini ditegaskan Fitriani dkk, bahwa guru harus memiliki delapan keterampilan dasar, termasuk didalamnya kemampuan untuk mengadakan model pembelajaran yang bervariasi (Fitriani et al. , 2022. Sihotang, dkk, 2. Dalam meningkatkan hasil belajar, guru bisa menggunakan berbagai model pembelajaran seperti Inquiry. Kontekstual. PAIKEM, dan CORE. Model-model ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Sutarningsih, 2022. Yanti & Masitoh, 2022. Matulessy et al. , 2021. Sampurna & Rodiyana 2. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil pembelajaran IPA bagi siswa Sekolah Dasar (Sutarningsih, 2. Di tingkat Sekolah Dasar, pendekatan pembelajaran kontekstual juga berhasil meningkatkan prestasi belajar bidang Pendidikan Jasmani. Olahraga dan Kesehatan (Puspawati, 2. Selanjutnya prestasi belajar siswa SMA dipengaruhi secara positif oleh model pembelajaran PAIKEM (Herawati, 2. Penerapan model pembelajaran CORE juga berpengaruh positif terhadap hasil belajar matematika siswa SMA (Trisnowali & Aswina, 2. Namun, di SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan, pembelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) masih menggunakan model PBL, yang membuat siswa merasa tidak menarik. Hasil studi awal menunjukkan perbandingan rata-rata nilai siswa kelas VII Tahun Ajaran 2023/2024 Semester Ganjil. Tabel 1. Nilai PAK SMP Kelas VII Tahun Pelajaran 2023/2024 Semester I di Santo Antonius Bangun Mulia Medan Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik IPA Matematika Bahasa Inggris Nilai Nilai Kelas VII Pendidikan Agama Katolik (PAK) dan berbagai mata pelajaran lainnya di SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan dapat dilihat pada tabel di atas. Terlihat dari tabel di atas, nilai PAK siswa sebesar . lebih rendah dibandingkan nilai mata pelajaran lainnya seperti IPA . Matematika . , dan Bahasa Inggris . Oleh karena itu, mata pelajaran PAK masih berpeluang untuk ditingkatkan. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan, penelitian ini akan meneliti seberapa efektif model pembelajaran CORE dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Katolik (PAK) siswa kelas VII di SMP tersebut, terutama pada materi yang berjudul 'Yesus Sang Pengampun'. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui meningkat atau tidaknya hasil belajar PAK siswa dengan penggunaan pembelajaran CORE di SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan. Hal ini dimaksudkan agar penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan taktik pengajaran yang lebih ampuh, khususnya dalam konteks pembelajaran PAK, guna meningkatkan hasil belajar siswa. METODE Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian PTK berupaya mengatasi hambatan belajar, meningkatkan kualitas hasil belajar, dan melakukan eksperimen pembelajaran untuk meningkatkan tolak ukur pembelajaran. Dua tujuan PTK adalah untuk mendukung pendidik dalam mengambil sikap meneliti dan meningkatkan materi, masukan, prosedur, dan hasil Tujuan utama dari proyek ini adalah menggunakan paradigma pembelajaran CORE untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Model Kurt Lewin yang meliputi persiapan, tindakan, observasi, dan refleksi merupakan pendekatan yang digunakan untuk jenis penelitian tindakan kelas ini, seperti terlihat pada Gambar 1. Gambar 1. Model Kurt Lewin Dua siklus penelitian ini akan berfokus pada satu kompetensi mendasar "Yesus Sang Pengampun" untuk materi khusus ini. Penelitian yang melibatkan 26 siswa kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan ini akan berlangsung pada Semester Genap tahun ajaran 2023Ae2024. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, penelitian ini akan menerapkan teknik pembelajaran CORE. Penelitian ini akan mengadopsi uji pre-test dan post-test dalam setiap tahapnya. Instrumen untuk pre-test dan post-test telah diverifikasi oleh ahli. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menghilangkan hambatan belajar guna meningkatkan standar pengajaran bagi siswa. Melalui kolaborasi antara peneliti dan guru, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas penelitian tenaga pendidik dan kependidikan, serta meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di kelas. Prosedur penelitian dimulai dengan perencanaan, di mana peneliti bersama guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tahap tindakan melibatkan pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun. Selama tahap ini, observasi dilakukan terhadap interaksi antara guru dan siswa, serta penggunaan model pembelajaran CORE dalam pembelajaran. Peneliti mengamati bagaimana instruktur melakukan aktivitasnya dan bagaimana siswa merespon apa yang telah mereka pelajari selama tahap observasi. Dengan memanfaatkan lembar observasi yang telah dibuat sebelumnya, dilakukan observasi. Hal-hal yang diamati antara lain adalah persiapan guru sebelum pembelajaran, penyampaian tujuan pembelajaran, pengorganisasian siswa dalam kelompok belajar, dan evaluasi pembelajaran. Setelah itu, ada periode refleksi dimana pendidik dan peneliti mendiskusikan kegiatan dan tujuan pembelajaran siswa. Untuk menilai tindakan yang telah dilakukan dan memastikan apakah tujuan penelitian telah tercapai maka dilakukan refleksi. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan selama penelitian. Dalam penelitian ini, dokumentasi, ujian pilihan ganda, dan observasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif digunakan untuk menguji data hasil belajar siswa. Untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang bagaimana penerapan model pembelajaran CORE dapat meningkatkan hasil belajar siswa, temuan analisis data kemudian ditampilkan dalam bentuk rata-rata, ketuntasan belajar, dan presentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Model Pembelajaran Kerangka konseptual dan langkah-langkah metodologis yang digunakan untuk mengorganisasikan pengalaman belajar ke dalam kelompok-kelompok yang berorientasi pada tujuan pembelajaran disebut model pembelajaran. Guru dan perancang pembelajaran dapat menggunakan model ini sebagai acuan dalam menciptakan kegiatan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran memudahkan penyusunan kegiatan belajar mengajar secara sistematis, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran. Menurut beberapa sudut pandang para pakar pendidikan, model pembelajaran juga merupakan suatu skema atau pola yang berfungsi sebagai peta jalan untuk mengatur pembelajaran dalam tutorial atau kelas dan untuk memilih sumber daya pendidikan seperti komputer, buku, film, dan kurikulum. Menurut Guntarsih, model pembelajaran adalah suatu pola yang berfungsi sebagai peta jalan penyelenggaraan pembelajaran di kelas (Guntarsih, 2. Menurut Kasmuddin, model pembelajaran adalah suatu skema atau pola yang dapat diterapkan pada penciptaan tutorial dan pengalaman belajar di kelas, serta pada pemilihan sumber daya pendidikan dan instrumen tambahan (Kasmuddin, 2. Menurut Saefudin, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menguraikan prosedur metodis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi instruktur atau perancang pendidikan ketika mengatur dan melaksanakan kegiatan pembelajaran (Saefudin. Pengetahuan tersebut membawa kita pada kesimpulan bahwa model pembelajaran adalah suatu cara atau teknik yang digunakan pengajar untuk memberikan petunjuk kepada peserta didik selama proses pembelajaran. Model pembelajaran hadir dalam berbagai bentuk dan dapat disesuaikan dengan isi mata pelajaran, tujuan pembelajaran, dan sifat individu siswa. Pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar dan keterlibatan siswa. Model Pembelajaran CORE Proses pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pemahaman siswa, penerapan, dan pengorganisasian pengetahuan yang diberikan kepada mereka. Model Pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) merupakan salah satu model pembelajaran yang mutakhir. Pendekatan pembelajaran yang disebut CORE (Connecting. Organizing. Reflecting. Extendin. memanfaatkan teknik percakapan yang berpotensi mempengaruhi Organizing. Reflecting, dan Extending. Pencipta buku AuCORE Learning ModelAy. Calfee dkk, menciptakan model ini (Saefudin. Model ini memiliki empat tahapan utama, yaitu Connecting. Organizing. Reflecting, dan Extending, yang mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan sosial melalui kerja sama dalam kelompok. Menurut Muria & Budianti . Siswa dapat membuat hubungan antara apa yang dipelajarinya dengan apa yang telah diketahuinya dengan melalui tahap Connecting pada model CORE. Hal ini memperkuat pembelajaran bermakna karena siswa dapat mengaitkan konsep-konsep baru dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah ada. Selanjutnya, tahapan Organizing, seperti yang dikemukakan oleh Widyanti . , membantu siswa dalam mengatur pikirannya sehingga mereka dapat memahami materi pelajaran dengan lebih lengkap. Melalui kegiatan ini, siswa belajar menyusun ide-ide dan merencanakan strategi penyelesaian masalah. Reflecting, sebagaimana dijelaskan oleh K. Harahap . , merupakan fase dimana siswa diminta untuk mempertimbangkan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya. Siswa dapat menilai seberapa baik mereka memahami materi pelajaran dan menentukan area mana yang masih perlu mereka pelajari lebih lanjut dengan menggunakan alat refleksi ini. Tahapan terakhir. Extending, seperti yang disebutkan oleh Widianingsih . , memungkinkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan mereka melalui penerapan konsep yang telah dipelajari dalam konteks yang baru. Hasilnya, pendekatan pembelajaran CORE memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pendidikan, mengasah kemampuan berpikir kritis, dan memperluas pemahaman melalui proyek kelompok. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Israwaty . , pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri 46 Parepare terbukti memanfaatkan model pembelajaran Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE). Setelah menerapkan model CORE, proses pembelajaran baik pendidik maupun siswa mengalami peningkatan, dan hasil belajar siswa meningkat drastis. Penelitian lain yang dilakukan oleh Mulyani . menyatakan bahwa model CORE juga berkontribusi positif terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa. Persentase aktivitas siswa meningkat pada setiap pertemuan, terutama dalam diskusi, menghargai, dan mencapai kesimpulan. Penelitian selanjutnya oleh Wati menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa sangat ditingkatkan dengan model pembelajaran CORE. Setelah penerapan model CORE, terlihat peningkatan yang cukup baik dalam keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian terakhir oleh Melinda dan Tiara . menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran CORE yang dipadukan dengan dukungan multimedia interaktif meningkatkan hasil belajar ekonomi di kelas XI IPS 1 Man 1 Lampung Timur, khususnya pada bidang kerjasama internasional. Model pembelajaran CORE memberikan banyak harapan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan kemanjuran pembelajaran, menurut temuan penelitian. Penting untuk mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan model CORE. Manfaat pendekatan ini antara lain mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pendidikan, meningkatkan retensi ide dan pengetahuan, serta mengasah kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis. Selain itu, karena siswa berpartisipasi aktif dalam pendidikannya, pendekatan ini menawarkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Namun, model CORE juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama. Guru harus sangat berhati-hati dalam mempersiapkan sebelum menggunakan mdoel ini. Kedua, guru yang menggunakan model ini akan memacu pemikiran kritis siswa, yang bisa menjadi tantangan bagi beberapa siswa. Ketiga, model CORE memerlukan waktu yang lebih banyak karena melibatkan interaksi yang intens antara guru dan siswa. Terakhir. Pendekatan pembelajaran CORE tidak dapat digunakan untuk mengajarkan setiap topik, sehingga fleksibilitasnya terbatas. Dalam konteks penggunaan model CORE, penting bagi guru untuk mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya serta menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan siswa agar dapat memberikan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Hasil Belajar Pada bidang pendidikan, hasil belajar merupakan suatu gagasan krusial yang menggambarkan bagaimana proses belajar mempengaruhi perilaku, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai positif seseorang. Menurut KBBI Online . , meskipun belajar adalah upaya untuk memperoleh kecerdasan atau informasi, hasil adalah sesuatu yang dicapai melalui usaha. Belajar dapat dipahami dalam konteks pendidikan sebagai proses mengubah perilaku melalui pengetahuan, pilihan, dan perbuatan (Djamaluddin & Wardana, 2. Dalam proses pembelajaran, hasil belajar mencakup perubahan yang dapat diukur dalam beberapa topik yang telah dipelajari telah menghasilkan perilaku, pengetahuan, kemampuan, sikap, dan nilai-nilai yang baik (Djamaluddin & Wardana, 2. Individu belajar untuk memperoleh pengetahuan baru, mengubah sikap dan nilai, serta mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi (Meti, 2. Hasil belajar juga merupakan indikator dari efektivitas metode pengajaran dan kurikulum, serta menjadi acuan untuk membantu pendidik dalam menciptakan metode pengajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswanya. Indikator hasil belajar terbagi dalam tiga kategori: kognitif, emosional, dan psikomotor. Pengetahuan, pemahaman, penerapan, penilaian, dan produksi semuanya termasuk dalam ranah kognitif. Domain pengaruh dikaitkan dengan keyakinan, nilai, dan sikap. Sedangkan gerak dasar, generik, ordinatif, dan kreatif semuanya merupakan bagian dari ranah psikomotorik (Fauhah & Rosy, 2. Ranah kognitif hasil belajar, menurut penelitian Sola et al. , berkaitan dengan bagaimana siswa memperoleh pengetahuan akademik melalui pengajaran dan penyampaian informasi. Siswa yang berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar mempunyai sikap, nilai, dan keyakinan yang berhubungan dengan ranah emosional (Sola et , 2. Artikel ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih lanjut mengenai hasil pembelajaran, indikatornya, dan faktor yang mempengaruhinya. Manfaat Hasil Belajar Proses belajar sangat mempengaruhi hasil belajar. Tujuan pembelajaran sering kali melibatkan pemberian lebih banyak informasi, pemahaman, sikap, dan kemampuan kepada siswa sehingga mereka dapat meningkat dari sebelumnya. Karena hasil pembelajaran mewakili perubahan perilaku yang dialami siswa sebagai akibat dari terlibat dalam kegiatan pembelajaran, ini merupakan metrik penting untuk menilai seberapa efektif proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik juga mencakup pengembangan kemampuan afektif dan psikomotorik siswa, tidak hanya aspek kognitif. Selain itu, hasil belajar juga memberikan informasi tentang kemampuan dan perkembangan siswa, serta tingkat keberhasilan pendidikan yang diterima. Ini penting untuk mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan dan merencanakan perbaikan lebih lanjut. Hasil belajar juga dapat digunakan untuk menilai perubahan keadaan yang lebih baik pada siswa, seperti peningkatan pengetahuan, pengembangan keterampilan, dan perubahan sikap positif. Dengan demikian, hasil belajar merupakan gambaran yang komprehensif tentang pencapaian siswa dalam proses pendidikan. Hal ini sejalan dengan pandangan Poni Lestari et al. mengatakan bahwa setelah proses belajar tertentu, hasil belajar merupakan modifikasi perilaku individu, termasuk keterampilan kognitif, emosional, dan psikomotorik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, pendidik dapat menciptakan teknik pembelajaran yang lebih efektif dengan memiliki pemahaman yang kuat tentang hasil pembelajaran. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Kemampuan belajar seseorang dipengaruhi oleh variabel internal dan eksternal. Unsur internal siswa meliputi komponen fisiologis . eperti pendengaran, penglihatan, kebugaran jasmani, dan masalah kesehata. dan komponen psikologis . eperti kesadaran, perhatian, dan mina. Lingkungan rumah, guru, teman, kondisi gedung, penempatan lokasi pembelajaran, dan fasilitas penunjang lainnya merupakan contoh pengaruh luar yang berada di luar kendali siswa. Menurut Ayu Damayanti . , unsur internal . sikologis dan fisiologi. maupun unsur eksternal . osial dan non-sosia. dapat berdampak terhadap hasil belajar. Sedangkan menurut Marlina Leni . , hasil belajar dipengaruhi oleh variabel eksternal . ingkungan sekolah, keluarga, dan masyaraka. dan internal . isik dan psiki. Berdasarkan Budi Kurniawan . Hasil belajar dipengaruhi oleh variabel eksternal . eknik pengajaran, media pembelajaran, dan lingkungan sosia. dan internal . inat, motivasi, dan perhatia. Oleh karena itu, peningkatan hasil belajar siswa dapat dibantu dengan pemahaman yang kuat terhadap aspek-aspek tersebut. Hasil Penelitian ini terdiri dari dua siklus sesi luring untuk kegiatan yang berkaitan dengan pengajaran dan pembelajaran. Pada tanggal 27 Februari 2024, penelitian ini akan dimulai. Peneliti akan melakukan penelitiannya sesuai dengan rencana aksi yang telah dibuat sebelumnya. Instrumen penelitian dan materi pembelajaran telah divalidasi oleh para ahli. Materi pembelajaran yang disusun oleh peneliti adalah Modul Ajar dengan model CORE dan media pembelajaran yang akan digunakan adalah video yang memperlihatkan situasi permasalahan. Berikut tabel 2 terkait langkah model CORE dalam penelitian. Tabel 2. Langkah Penerapan Model Connecting. Organizing. Reflecting. Extending (CORE) Sintaks Kegiatan Connecting Menyampaikan konsep lama yang akan dihubungkan dengan (Menghubungka. konsep baru kepada siswa oleh guru. Organizing Siswa mengorganisir ide-ide mereka untuk memahami materi (Mengorganisasika. dengan bimbingan guru. Membentuk kelompok dengan anggota yang berbeda-beda tingkat kemampuannya . andai, sedang, dan kuran. yang terdiri dari 4-5 siswa dan melakukan diskusi kelompok. Reflecting Merefleksikan, mengeksplorasi, dan menyelami informasi yang (Merefleksika. didapat dari hasil diskusi. Menyajikan hasil diskusi yang dicapai kepada guru dan kelompok Extending (Memperluas Pengetahua. Mengembangkan dan meluaskan pemahaman melalui tugas yang diselesaikan secara individu. Penelitian ini akan melibatkan dua pertemuan tatap muka. Rencana pembelajaran akan disusun sesuai dengan model CORE yang telah divalidasi. Setiap siklus akan mencakup pre-test dan post-test. Pre-test akan dilakukan sebelum penerapan model CORE untuk menilai pemahaman awal siswa, sedangkan post-test akan dilakukan setelah penerapan model CORE untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman siswa setelah pembelajaran. Post-test ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak model CORE terhadap pemahaman siswa. Tabel 3. Hasil Belajar Siklus I Pre-test Post-test Nama Rata-rata CHS CIT CRS CRT EDS JCS KAS MIS RMP RPS Rata-rata Berdasarkan data dalam tabel 3, terlihat adanya perbedaan antara nilai pre-test dan post-test. Rata-rata nilai pre-test adalah 63,3, sedangkan rata-rata nilai post-test adalah 88,2. Perbedaan ini mengindikasikan peningkatan yang signifikan dalam pemahaman siswa setelah menerapkan model pembelajaran CORE. Peningkatan skor post-test dibandingkan hasil pre-test menunjukkan keefektivan pendekatan pembelajaran CORE dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, diasumsikan bahwa post-test dilakukan setelah implementasi model CORE, mengingat hasil post-test mencerminkan hasil akhir setelah proses pembelajaran dengan model tersebut. Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa model pembelajaran CORE mempunyai efek positif pada siswa yang dapat memahami materi pelajaran. Nama CHS CIT CRS CRT EDS JCS KAS MIS RMP RPS Rata-rata Tabel 4 Hasil Belajar Siklus II Pre-test Post-test Rata-rata Berdasarkan data pada tabel 4, terlihat bahwa hasil pre test dan post test berbeda-beda untuk setiap siswa yang diperiksa. Nilai pre-test rata-rata 89, dan nilai post-test rata-rata 96,3. Variasi ini menunjukkan bahwa setelah menggunakan pendekatan pembelajaran CORE, pemahaman siswa meningkat secara signifikan. Peningkatan nilai post-test dibandingkan dengan pre-test menunjukkan bahwa model pembelajaran CORE efektif dalam mengoptimalkan pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Meskipun tidak dijelaskan secara spesifik, diasumsikan bahwa post-test dilakukan setelah implementasi model CORE, mengingat hasil post-test mencerminkan hasil akhir setelah proses pembelajaran dengan model tersebut. Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa model pembelajaran CORE mempunyai efek positif pada siswa yang dapat memahami materi pelajaran. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan Model Pembelajaran CORE meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. Pada siklus I rata-rata nilai siswa meningkat dari 63,3 pada tes awal menjadi 88,2 pada tes akhir, dan pada siklus II meningkat dari 89 pada tes awal menjadi 96,3 pada tes Hal ini menunjukkan bagaimana Model Pembelajaran CORE membantu siswa kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan mencapai hasil belajar Pendidikan Agama Katolik (PAK) yang lebih baik. Khususnya dalam konteks Pendidikan Agama Katolik, penelitian ini membantu dalam penciptaan strategi pembelajaran yang meningkatkan hasil belajar siswa. Karena penekanannya pada pembelajaran aktif dan pengembangan keterampilan berpikir sosial dan kritis melalui proyek kelompok, model pembelajaran CORE bisa jadi pilihan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar Temuan penelitian ini konsisten dengan penelitian lain yang menunjukkan keberhasilan Model Pembelajaran CORE dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar (Israwaty et al. , 2022. Melinda & Tiara Anggia Dewi, 2021. Mulyani, 2020. Wati et al. , 2. Berdasarkan penelitian Israwaty, siswa kelas IV UPTD SD Negeri 46 Parepare lebih banyak belajar tentang hubungan gaya dan gerak. Sebelum menggunakan paradigma pembelajaran CORE, hasil awal siswa pada evaluasi siklus I lebih tinggi. Namun pada siklus II, terdapat peningkatan yang lebih signifikan: 28 dari 32 siswa memperoleh nilai lebih tinggi dari 75, sehingga menghasilkan tingkat penyelesaian sebesar 87,5% (Israwaty et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CORE berhasil meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Penelitian Mulyani juga menunjukkan hasil tes meningkat sebelum/ tes awal dan sesudah tes akhir ketika penerapan model pembelajaran CORE diterapkan. Rata-rata skor tes awal pada kelompok eksperimen meningkat dari 34,52 menjadi 70,91 pada tes akhir. Sebaliknya, rata-rata skor tes awal kelompok kontrol meningkat dari 38,88 menjadi 59,88 pada tes akhir. Hasilnya, skor kelompok eksperimen meningkat sebesar 36,39 sedangkan kelompok kontrol meningkat sebesar 21, hal ini menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan model pembelajaran CORE mengalami peningkatan skor yang lebih besar (Mulyani, 2. Menurut penelitian Wati, kemampuan berpikir kritis siswa meningkat ketika pembelajaran menggunakan model CORE. tes N gain skor menghasilkan kenaikan rata-rata 0,55. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan CORE bekerja dengan baik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa serta tingkat keterlibatan dan efektivitas mereka dalam proses pembelajaran (Wati et al. , 2. Hasil tersebut semakin didukung oleh penelitian Melinda dan Tiara yang pada penerapannya menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran CORE dengan dukungan multimedia interaktif. Setelah penerapan, jumlah murid yang tuntas pembelajaran meningkat dari 5 menjadi 24. Hal ini menunjukkan seberapa baik model pembelajaran berhasil meningkatkan tujuan belajar siswa (Melinda & Tiara Anggia Dewi, 2. Dengan demikian, penelitian yang saya lakukan dapat dikatakan telah mendukung penelitianpenelitian sebelumnya yang menunjukkan efektivitas model pembelajaran CORE dalam meningkatkan hasil belajar siswa. KESIMPULAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi apakah penerapan model pembelajaran CORE dapat membantu siswa kelas VII SMP Santo Antonius Bangun Mulia Medan mencapai hasil belajar yang lebih maksimal pada Pendidikan Agama Katolik (PAK). Temuan penelitian menunjukkan kemampuan model pembelajaran CORE dalam meningkatkan tujuan belajar siswa. Nilai rata-rata siswa meningkat secara signifikan dari siklus I ke siklus II: dari 63,3 pada tes awal menjadi 88,2 pada tes akhir pada siklus I, dan dari 89 pada tes awal menjadi 96,3 pada tes akhir pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran CORE membantu meningkatkan tujuan belajar siswa. Saran yang dapat diberikan adalah untuk melanjutkan pengembangan dan penerapan model pembelajaran CORE dalam mata pelajaran lainnya, serta memberikan pelatihan dan pendampingan kepada guru dalam mengimplementasikan model ini. Perlu juga dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengukur efektivitas model pembelajaran CORE dalam konteks pembelajaran yang lebih luas dan dengan jumlah siswa yang lebih besar. Harapannya, penelitian ini berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa dengan memajukan penciptaan strategi pengajaran yang lebih ampuh, khususnya pada pembelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK). DAFTAR PUSTAKA