ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 10 No. 04 Desember 2024 id/index. php/andharupa STRATEGI SENI PARTISIPATORIS UNTUK WISATA SEJARAH DAN SENI DI PERMUKIMAN BERGOTA. SEMARANG Ernest Irwandi1. Juliana Putra2. Donny Ibrahim3. Baptista Anton4 Program Studi Desain Komunikasi Visual. Fakultas Desain. Universitas Pelita Harapan Jl. Thamrin Boulevard 1100 Lippo Village Tangerang 15811 email: ernest. irwandi@uph. Juliana. putra@uph. edu2 , donny. ibrahim@uph. anton@uph. Correspondent Author : Ernest Irwandi1 1,2,3,4 Abstrak Satu dasawarsa ini telah terjadi gerakan transformasi permukiman kumuh menjadi kawasan Beberapa kampung kota mengekspresikan wilayahnya dengan warna-warni mural, menyelenggarakan festival dan menciptakan berbagai keunikan wilayahnya. Penelitian ini fokus pada model penciptaan identitas wilayah melalui pendekatan partisipatif dan merekomendasikan model seni partisipatif Re-Visit sebagai strategi pemberdayaan di kampung Studi dikalukan pada latar sejarah geografis serta potensi keberlanjutan yang dapat dikembangkan di permukiman Wonosari Randusari Semarang atau sekarang dikenal dengan nama Kampung Pelangi. Kegiatan seni partisipatoris dilakukan secara kolaboratif bersama dengan warga dan komunitas seni melalui proses penciptaan mural serta kegiatan lainnya guna mengekspresikan identitas tempat. Model seni partisipatoris ReVisit ditujukan untuk menciptakan stimulus sehingga warga tergerak untuk menghasilkan beragam kegiatan yang dapat mendukung keberlanjutan wilayahnya sebagai tempat wisata. Kata kunci: Model pemberdayaan. Identitas Tempat. Seni Partisipatoris Abstract In the past decade, various movements have been taking place to transform slum settlements into tourist destinations. Several urban villages express their village through colourful murals, holding festivals and creating various uniqueness that can become a tourist attraction. This study recommends the Re-Visit participatory art model for building regional identity via a participatory arts approach, which includes community empowerment measures to promote village sustainability through creative approaches. The participatory art model involves exploring the region's history, local characteristics and collaborative planning. This research was conducted in the Wonosari Randusari settlement today known as Kampung Pelangi. Semarang. The ReVisit participatory art model aims to create a stimulus for creativity and motivate residents to produce various activities that can support the sustainability of their area as a tourist destination. Keywords: Empowerment Model. Place identity. Participatory Art Available online at: do/andharupa 30 Desember 2024 Received: 20 September 2023 Revised: 05 Oktober 2024 Accepted: 15 November 2024 Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 PENDAHULUAN Identitas tempat . lace identit. terbentuk atas penghayatan masyarakat terhadap suatu tempat, sehingga dapat dipahami bahwa suatu tempat merupakan ekstensi dari identitas kolektif masyarakatnya. Menurut Snow . identitas kolektif adalah Aorasa kebersamaanAo yang bertumpu pada berbagai atribut dan pengalaman bersama. Rasa kebersamaan ini kemudian bekerja di dalam interaksi kelompok dan mendorong tindakan-tindakan kolektif, sehingga kelompok bersatu untuk meraih cita-cita bersama (Anderson, 1. Menurut Tuan . keberlanjutan suatu wilayah dapat dibina oleh masayarakatnya melalui rasa memiliki . ense of belongin. , rasa kebergantungan dengan tempatnya . lace dependenc. dan rasa cinta terhadap tempat . , sehingga masyarakatnya berhasrat untuk merawat lingkungan wilayahnya. Perwujudan identitas wilayah dapat disebabkan oleh perubahan kebijakan pemerintah, ekspansi aktivitas ekonomi, atau hadirnya penduduk baru yang mengekspresikan wilayahnya dengan nilai-nilai baru. Menurut Paasi . , identitas suatu wilayah dibentuk oleh berbagai kepentingan kelompok pada ruang. Selain itu berbagai aktivitas masyarakat juga mempengaruhi wujud, fungsi dan makna suatu tempat. Proses pembentukkan ini dijelaskan oleh Paasi . sebagai proses teritorialisasi, simbolisasi, dan institusionalisasi. Pandangan Paasi memusatkan studi pada masyarakat sebagai agen perubahan yang membentuk identitas suatu tempat. Proses teritorialisasi, simbolisasi, dan institusionalisasi di kebanyakan kota besar di Indonesia disebabkan oleh modernisasi dan ekspansi ekonomi sehingga mengakibatkan perluasan kota yang berdampak pada hilangnya banyak desa tradisional. Perubahan fungsi dan makna wilayah juga mempengaruhi adat istiadat yang melekat pada masyarakatnya. Menurut Raagma . proses perwujudan identitas suatu wilayah adalah proses yang evolutif, dan pada perkembangannya masyarakat di suatu wilayah selalu melakukan reteritorialisasi, re-simbolisasi dan re-institusionalisasi. Demikian juga yang terjadi pada perubahan identitas wilayah Kampung Pelangi. Semarang. Wilayah Kampung Pelangi Semarang dalam sejarahnya dikenal dengan berbagai nama, antara lain: Bergota. Gunung Brintik. Randusari. Wonosari (Sunarjan, , 2. : dan sejak tahun 2017 dikenal sebagai Kampung Pelangi. Perubahan institusi dari zaman ke zaman turut mempengaruhi perubahan wajah wilayah Bergota dan sekitarnya. Latar belakang terwujudnya wilayah Bergota atau wilayah Gunung Brintik, beririsan dengan sejarah Kota Semarang, yang dipengaruhi oleh pasang surutnya berbagai pemerintahan Hugiono . Menurut data wawancara dengan pegiat sejarah Kota Semarang Bapak Rukardi . , di masa lampau wilayah Bergota merupakan wilayah pelabuhan yang strategis dan pusat perdagangan, selain itu wilayah Bergota merupakan tempat penyebaran berbagai agama, kemudian di masa kolonial Belanda wilayah Bergota atau Gunung Brintik difungsikan sebagai pusat administrasi dan perdagangan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 45 yang diterbitkan tahun 2017 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, turut mendorong keterlibatan berbagai lapisan masyarakat untuk berkontribusi dalam perencanaan dan pembangunan wilayah. Partisipasi masyarakat berdampak signifikan khususnya pada perbaikan kawasan kumuh di kota-kota besar di Indonesia. kota Semarang implikasinya adalah bertumbuhnya peran aktivis atau paguyuban yang berkerja sama dengan berbagai pihak dalam melakukan gerakan-gerakan kebudayaan dan kesenian. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Pada tahun 2017 pemerintah kota Semarang melakukan penataan Pasar Bunga Kalisari yang terletak di depan Kampung Pelangi. Pasar Bunga Kalisari ditetapkan oleh pemerintah kota Semarang sebagai salah satu kawasan wisata dan kawasan ekonomi Setelah penataan Pasar Bunga Kalisari selesai, dilakukan perbaikan dan penataan pemukiman Wonosari dan sejak itu Kampung Pelangi terbentuk. Warna-warni Kampung Pelangi menjadi salah satu ikon baru Kota Semarang dan menjadi daya tarik wisata. Pada pelaksanaan Festival Kampung Pelangi tahun 2019 dengan tema AuArt for Peace and UnityAy bahwa warna-warni yang menjadi daya tarik wisata di Kampung Pelangi adalah simbol yang menggambarkan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia. Kampung Pelangi merupakan salah satu contoh fenomena yang muncul satu dasawarsa ini yaitu, gerakan mewarnai kampung kota dalam rangka mentransformasi permukiman kumuh menjadi permukiman kreatif sehingga menjadi daya tarik wisata. Namun keberlanjutan kampung kota sebagai kawasan wisata tidak dapat mengandalkan warnawarni penampilan fisik permukiman saja. Keberlanjutan kampung wisata perlu didukung dengan langkah-langkah transformatif dengan melibatkan warga dan partisipasi berbagai stakeholder, serta melakukan ekplorasi terhadap kekhasan lokal. Studi ini adalah analisis dari penerapan model seni partisipatoris Re-Visit (Irwandi, 2. untuk pemberdayaan di permukiman kumuh melalui proses kreasi seni. Beberapa lingkup pembahasan meliputi partisipasi warga, keterlibatan multistakeholder dan proses penciptaan atau upaya yang dilakukan untuk memperkuat kekhasan lokal. METODE PENELITIAN Artikel ini membahas tentang penelitian dengan pendekatan penelitian tindakan partisipatoris . articipatory action researc. yang di lakukan melaui aktivitas seni di Kampung Pelangi Randusari Semarang. Penelitian pendahuluan dimulai pada tahun 2019 dengan melakukan studi literatur dan wawancara bersama dengan ahli untuk mengetahui sejarah geografis wilayah Bergota. Tahap kedua dilakukan pada tahun 2020 untuk melakukan studi terhadap proses partispasi pemberdayaan di Kampung Pelangi sejak tahun 2017. Survei dan wawancara kepada warga Kampung Pelangi dilakukan pada tahun 2020 untuk mengetahui persepsi warga pasca penataan wilayah permukiman Wonosari menjadi Kampung Pelangi sejak tahun 2017. Wawancara kepada warga juga dilakukan untuk mengeksplorasi potensi dan kekhasan wilayah Kampung Pelangi. Gambar 1. Tahap penelitian seni partisipatoris di Kampung Pelangi Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Tahap ketiga dilakukan studi perbandingan terhadap model partisipatif yang diterapkan di beberapa permukiman, serta melakukan studi literatur tentang model seni Penerapan model seni partisipatif di Kampung Pelangi dilakukan pada tahun 2021 dengan melibatkan komunitas Hysteria. Paguyuban Kali Semarang. Karang Taruna, warga Kampung Pelangi dan komunitas seni. Evaluasi terhadap kreasi seni partisipatif dilakukan pasca pelaksanaan aksi partisipatif Bersama dengan warga Kampung Pelangi. Paguyuban Kali Semarang dan Komunitas Hysteria. Pada tahun 2023 dilakukan wawancara dan FGD bersama dengan Ketua dan sekertaris RW04. Ketua Paguyuban Kali Semarang dan perwakilan warga Kampung Pelangi. Wawancara dan FGD ini dilakukan untuk mengetahui dampak keberlanjutan program yang dapat menjadi daya tarik wisata di Kampung Pelangi. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam rangka merancang model seni partisipatoris untuk mewujudkan identitas tempat, studi literatur melandasi kerangka pemikiran dibalik model seni partisipatoris Re-Visit (Irwandi, et all. , 2. yang terdiri atas hubungan antara beberapa konsep yaitu: konsep ekspresi identitas kolektif, konsep perwujudan identitas tempat, konsep tangga partisipasi, tindakan partisipatoris serta konsep penciptaan seni. Hubungan antara konsep dijabarkan sebagai berikut: Gambar 2. Hubungan antara konsep -konsep pembentuk model seni partisipatoris untuk mewujudkan identitas tempat di Kampung Pelangi. Perwujudan Identitas tempat Hubungan antara ekspresi identitas kolektif dengan proses perwujudan identitas tempat pada penelitian ini, mengacu pada konsep Paasi . dan Raagma . mengenai bentuk institusi, bentuk teritori dan bentuk simbolik pada formasi identitas wilayah. Menurut Paasi . Bentuk institusi adalah organisasi formal dan non formal yang berperan di suatu wilayah sehingga menentukan perubahan-perubahan wilayah. Bentuk teritori dihasilkan oleh partisipasi masyrakatnya di suatu tempat, sehingga fungsi tempat terwujud atas aktivitas masyarakat yang paling dominan. Sedangkan bentuk simbolik suatu wilayah merujuk pada kualitas-kualitas alam lingkungan serta budaya yang khas yang dapat mewakili ciri suatu wilayah. Kualitas-kualitas tersebut direpresentasikan ke dalam wujud benda konkret seperti bendera, patung atau totem dan wujud-wujud lainnya. Menurut Raagmaa . pembentukan identitas wilayah Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 juga meliputi proses 're-teritorialisasi'. Aore-simbolisasiAo yang terjadi ketika ada kontestasi kepentingan terhadap pemanfaatan suatu tempat, sehingga terjadi upaya-upaya suatu kelompok untuk memaknai atau mendefinisikan fungsi suatu tempat. Proses pembentukan identitas wilayah Kampung Pelangi dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Faktor ekstrinsik dapat ditelusuri pada sejarah kota Semarang yang mempengaruhi dinamika identitas wilayah Kampung Pelangi yang dulu dikenal sebagai wilayah Gunung Brintik atau Bergota kemudian Wonosari. Sedangkan faktor instrinsik yang membentuk identitas wilayah Kampung Pelangi pada masa kini, dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat. Relasi antar institusi juga turut membentuk perubahan identitas wilayah dari Bergota. Gunung Brintik. Wonosari dan saat ini dikenal sebagai Kampung Pelangi. Institusi pemerintah, pendidikan, perusahaan, lembaga sosial serta komunitas lokal, melakukan transformasi pemukiman Wonosari yang pernah dikategorikan sebagai kawasan kumuh pada akhir 1980 hingga akhir 1990. Penataan fisik yang dilakukan pemerintah kota Semarang di pemukiman Wonosari di tahun 2017 dan mengubah nama wilayah menjadi Kampung Pelangi, telah berhasil menjadi daya tarik Penataan dan pengecatan kampung merupakan langkah awal bagi Kampung Pelangi sebagai kawasan wisata (Adiwibawa, 2. Partisipasi eksternal yang berlangsung sejak 2017 telah berkontribusi dalam perubahan masyarakat di sekitar Kampung Pelangi. Partisipasi berbagai pihak juga mendorong kreativitas warga sehingga menjadi penggerak ekonomi lokal. diselenggarakannya festival, pagelaran seni dan budaya telah menghidupi ruang-ruang publik yang sebelumnya merupakan ruang Tangga Partisipasi Menurut Arnstein . tingkat partisipasi warga dapat dipahami sebagai suatu proses pembinaan atau pemberdayaan ke tingkat akhir yaitu citizen control, suatu kondisi ketika warga memiliki kendali penuh atas gagasan dan implementasinya. Setiap tahap pada konsep tangga partisipasi Arnstein, mendeskripsikan partisipasi warga dan proses pembinaan dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi, sehingga warga memiliki kesadaran untuk meningkatkan partisipasinya ke tingkat yang lebih tinggi. Hubungan antara partisipasi warga terhadap pembentukkan identitas tempat dapat diamati pada tindakan-tindakan warga ketika berpartisipasi dalam kelompok untuk mewujudkan citacita bersama. Model seni partisipatoris yang direkomendasikan pada penelitian ini menekankan pada proses kolaboratif dan melibatkan partisipasi berbagai pihak ke dalam forum dan kegiatan seni - budaya, sehingga diharapkan dapat menciptakan pola kebiasaan baru. Tindakan partisipatoris Untuk mengamati proses penciptaan makna pada model seni partisipatoris, pengamatan dilakukan dengan pendekatan penelitian tindakan. Menurut Kemmis dan McTaggart . , untuk mengamati proses tindakan, setiap langkah tindakan perlu dikategorikan ke dalam beberapa tahap dan dilaksanakan melalui siklus sehingga setiap tindakan dapat dievaluasi secara menyeluruh. Penelitian tindakan pada umumnya terdiri atas empat tahap pada setiap siklusnya yaitu: Observe. Plan. Action, dan Reflect. Tahap AoObserveAo adalah proses pengamatan yang dilakukan oleh peneliti terhadap Tahap Plan atau tahap perencanaan adalah tahap untuk mengidentifikasi Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 masalah, kemudian tahap 'Action' yang merupakan implementasi tindakan berdasarkan identifikasi masalah. Tahap akhir adalah 'Reflect' adalah tahap evaluasi, rumusan serta Pendekatan seni partisipatif dapat menggunakan prinsip dan skema serupa dengan penelitian tindakan dengan melibatkan tahap perencanaan, tindakan, observasi dan evaluasi. 1 Model Seni Partisipatoris Re-Visit Model seni partisipatoris Re-Visit (Irwandi, et all. , 2. menekankan pada keterlibatan warga dalam mengkonstruksikan makna suatu wilayah. Proses penciptaan makna seni menerapkan prinsip co-authoring dengan mengedepankan proses kolaborasi antara warga dan komunitas seni. Menurut Bishop . konsep Arnstein mengenai AoTangga Partisipasi yang berhujung pada kendali warga', merupakan faktor penting untuk diperhatikan dalam praktik seni partisipatori. Arnstein . , menyebutkan bahwa kondisi ideal dari aktivitas partisipatori adalah, ketika warga . memiliki kendali penuh . itizen contro. dalam menangani semua perencanaan, membuat kebijakan, dan mengelola program. Setiap tahap pada konsep tangga partisipasi Arnstein, mendeskripsikan kondisi partisipasi warga dan proses pembinaan dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi sehingga warga memiliki kesadaran untuk meningkatkan partisipasinya ke tingkat yang lebih tinggi. Proses partisipatori pada kegiatan skala kecil hingga kegiatan skala besar, adalah upaya untuk menciptakan peluang-peluang, mendukung dan memotivasi aktor-aktor lokal. Meningkat atau menurunnya peran stakeholder eksternal perlu diimbangi dengan kemandirian warga dalam mengendalikan berbagai konteks, sehingga terjadi pergeseran partisipasi dan kendali dari stakeholder eksternal kepada aktor-aktor lokal. Partisipasi transformasional dapat terwujud ketika partisipasi dipahami sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, misalnya suatu komunitas menjadi swadaya dan dapat menciptakan suatu berkelanjutan (Kruks. Maka diperlukan model kolaborasi yang diiringi dengan peningkatan kapasitas internal sebagai kunci dalam melakukan intervensi partisipatoris. Visi kolektif warga dapat diwujudkan melalui proses perencanaan terbuka dan kolaboratif bersama dengan pihak eksternal yang dapat memperkuat dalam pelaksanaan tindakan-tindakan untuk keberlanjutan wilayah. Hubungan antara partisipasi warga terhadap pembentukkan identitas tempat dapat diamati pada tindakan-tindakan warga ketika berpartisipasi dalam kelompok untuk mewujudkan cita-cita bersama. Model seni partisipatoris Re-Visit bertolak pada ekspresi identitas kolektif yang diidentifikasi pada aktivitas komunitas lokal di Kampung Pelangi dan dirumuskan ke dalam empat kategori yaitu ekspresi Relasional. Vernakular. Simbolikal dan Teritorial. Ekspresi Relasional Landasan pemikiran mengenai ekspresi relasional diinspiriasikan oleh Bourriaud . tentang estetika relasional. Menurut Bourriaud . , aktivitas seni mampu menyatukan berbagai faktor yang heterogen ke dalam suatu permaknaan yang koheren dan menciptakan relasi sosial. Konsep Bourriaud tentang estetika relasional dibangun atas landasan pengertian bahwa karya seni dapat menghasilkan model sosialibilitas, yaitu ketika seni menawarkan berbagai bentuk realitas sosial yang dapat membina hubungan sosial. Di tengah kehidupan kota modern yang didorong oleh percepatan aktivitas produksi dan konsumsi, hubungan sosial perlu penyeimbang. Nicolas Bourriaud . melihat peran dan fungsi seni untuk menciptakan dan menghidupkan kembali Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 ruang relasional yang menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial di ruang urban. Relasi adalah proses yang bersifat saling tergantung, setiap tindakan manusia dapat menciptakan pengaruh pada pertukaran pengalaman kehidupan sosial. Ketika aktivitas seni dipandang melalui perspektif pertukaran sosial, seni berada pada tataran kognitif yang bersifat abstrak dan simbolik. Seni memungkinkan khalayak untuk menyaksikan, menyikapi, melakukan dialog serta memungkinkan khalayak untuk menerima pengalaman baru. Aktivitas seni di ruang urban menciptakan aksi dan rekasi atau interpretasi dan re-interpretasi sehingga kehidupan di ruang urban lebih bermakna bagi Bourriaud . menyimpulkan bahwa bentuk-bentuk dalam karya seni adalah properti relasional. Seni merupakan perekat ruang-ruang relasional, sehingga seni memiliki peran penting sebagai pemandu atau pembina masyarakat. Berdasarkan pengertian Bourriaud tentang estetika relasional, pengamatan yang dilakukan di Kampung Pelangi menyoroti berbagai aktivitas yang dilakukan oleh komunitas-komunitas lokal dalam rangka menciptakan tali persaudaraan, kekompakan dan keguyuban warga. Ekspresi relasional dapat diidentifikasi pada berbagai komunitas di Kampung Pelangi yang memiliki sifat gotong royong dalam menyelesaikan berbagai masalah lingkungan. Sebagai contoh. Paguyuban Kali Semarang (PAKAS) yang dibentuk sejak tahun 2020 di RW 04 Randusari telah melakukan berbagai aktivitas untuk memperbaiki kondisi sungai. Ekspresi Vernakular Menurut Kingston Heath . , kreativitas vernakular adalah praktik representasi, tindakan ekspresif, pertukaran pengetahuan, serta keterampilan yang bermula dari warisan budaya dan dipahami secara regional. Seiring perkembangan waktu kreativitas vernakular dapat bersifat transisional atau mengalami perubahan secara kolektif, sebab warisan budaya selalu diperbaharui oleh komunitas di suatu wilayah sebagai respon terhadap perubahan lingkungan mereka. Interaksi mereka dengan alam sekitar menciptakan adat istiadat yang khas. Di Kampung Pelangi dapat kita jumpai komunitas yang melestarikan warisan budaya seperti Karawitan dan Tari Jathilan. Selain itu juga dapat dijumpai komunitas yang menghasilkan kuliner tradisional seperti Lumpia. Es Dawet, minuman Wedhang Asem jawa dan masakan Ikan Bandeng, yang merupakan hasil asimilasi budaya kuliner dengan sejarahnya yang panjang. Ekspresi Simbolik Istilah Ekspresi Simbolik yang digunakan dalam konteks ini, merujuk pada gagasan Raagma tentang wujud simbolik . ymbolic shap. dalm perwujudan identitas tempat. Menurut Raagma . , interpretasi tentang karya di ruang publik dan berbagai peninggalan kota, selalu berkembang dan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu, dan perubahan makna merupakan proses re-simbolisasi yang terus menerus dinegosiasikan dan dibentuk secara aktif oleh masyarakat. Menurut Paasi . , bentuk simbolik pada perwujudan identitas wilayah adalah wujud abstrak yang direpresentasikan di dalam suatu institusi dengan semangat solidaritas kelompok, ketika suatu kelompok melakukan tindakan secara terus-menerus dalam praktik legitimasi serta mengekspresikan pemahamannya terhadap suatu wilayah, sehingga membentuk ciri identitas suatu wilayah. Bentuk simbolik yang ada di suatu wilayah tersusun atas mozaik nilai-nilai yang mewakili wilayah tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat berwujud material seperti bangunan monumen atau berwujud dalam tindakan adat istiadat, serta Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 berbagai wujud penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang memiliki peran penting di wilayah tersebut. Ekspresi identitas simbolik di Kampung Pelangi, direpresentasikan melalui sifat dan atribut dari tokoh-tokoh dalam sejarah yang menjadi panutan warga. Tokoh-tokoh panutan warga dimakamkan di kompleks makam Bergota yang letaknya berdampingan dengan Kampung Pelangi. Makam Bergota sebagai wujud fisik simbolik, dipahami oleh warga Kampung Pelangi sebagai tempat leluhur. Warga Kampung pelangi yang tergabung dalam komunitas Gunung Brintik dan komuntas makam Bergota, bertugas untuk merawat pemakaman Bergota dan makam Nyai Brintik, serta mengkomunikasikan kisah-kisah sejarah leluhur kepada generasi muda dan mengkordinir aktivitas AonyekarAo. Kisah-kisah tentang sejarah tokoh-tokoh diketahui oleh warga melalui kisah nenek moyang dan para sepuh. Simbol-simbol pada konteks ini, hadir sebagai kunci untuk memahami kehidupan bermasyarakat. Ekspresi Teritori Ekspresi teritori yang ditemukan di Kampung Pelangi, dapat diidentifikasi melalui kisahkisah warga mengenai sejarah wilayah Kampung Pelangi yang diperoleh secara turuntemurun. Namun pemahaman warga mengenai batas wilayah Kampung Pelangi tidak sama dengan batas administratif yang hanya meliputi wilayah RW03 dan RW 04. Berdasarkan cerita warga yang diketahui melalui cerita nenek dan para sepuh di, bahwa wilayah Randusari telah ada sejak lama dan telah dihuni oleh warga. Menurut perspektif warga tempat tinggal mereka mencakup wilayah Randusari secara keseluruhan yang meliputi makam Bergota dan Kali Semarang dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari memori warga. Gambar 3. Formasi Ekspresi Identitas Tempat dan Representasi pada seni [Sumber: Irwandi, et all. , 2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Sejarah geografis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor serta budaya tradisi yang masih dilestarikan, merupakan potret kehidupan di Kampung Pelangi yang unik. Selain faktor eksternal yang membentuk identitas Kampung Pelangi, komunitas lokal di Kampung Pelangi juga turut membentuk identitas tempatnya. Mayoritas masyarakat di Kampung Pelangi berasal dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga ekspresi kebudayaan Jawa tercermin pada aktivitas-aktivitas komunitas di Kampung Pelangi. Ekspresi masyarakat Kampung Pelangi juga dipengaruhi oleh keberagaman budaya yang ada di kota Semarang, yang telah berasimilasi dalam kurun waktu yang panjang. Penghayatan masyarakat pada wilayahnya menghasilkan pola kebiasaan yang tercermin pada aktivitas komunitas lokal, seperti pada komunitas seni dan budaya tari Jathilan. Gamelan, komunitas Gunung Brintik dan komunitas Bergota. 2 Model Penciptaan Seni partisipatoris di Kampung Pelangi Gambar 4. Model penciptaan seni partisipatoris di Kampung Pelangi Semarang [Sumber: Irwandi, et all. , 2. Aktivitas seni partisipatori di Kampung Pelangi dilakukan dengan tujuan membentuk identitas tempat yang mewakili asprirasi warga. Identitas tempat tidak hanya berfungsi sebagai penanda suatu tempat, tetapi diharapkan dapat mendorong keberlanjutan Kampung Pelangi sebagai kawasan wisata. Aktivitas seni partisipatori di Kampung Pelangi adalah upaya eksplorasi kreatif untuk memperkuat identitas lokal serta mengembangkan potensi lokal yang khas, sehingga dapat mendorong keberlanjutan Kampung pelangi sebagai tempat wisata. Dalam rangka memahami proses perwujudan identitas tempat melalui pendekatan seni partisipatori, penelitian tindakan dilakukan dengan melibatkan warga pada serangkaian aktivitas seni partisipatori. 3 Siklus Tindakan Partisipasi pada Model Seni Partisipatoris ReVisist Implementasi seni partisipatori dilakukan melalui siklus . yang diadaptasi dari model penelitian tindakan . ction researc. menurut Kemmis dan McTaggart . Menurut Kemmis dan McTaggart, siklus penelitian tindakan meliputi tiga aspek yaitu: perencanaan (Pla. , tindakan (Ac. , pengamatan (Observ. , dan reflektif (Reflec. Siklus tindakan dirancang untuk dapat memahami pola aktivitas dan pengalaman partisipan dalam proses perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Siklus tindakan dilakukan beberapa kali melalui lokakarya dan FGD dalam rangka mendapatkan hasil evaluasi yang komprehensif. Siklus tindakan pada penelitian ini dirancang untuk Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 memahami pola aktivitas dan pengalaman partisipan dalam proses perencanaan serta aktivitas seni partisipatori yang meliputi: tahap mengeksplorasi ide dan mewujudkan kreasi warga yang dapat menjadi stimulus untuk keberlanjutan di suatu kawasan. Langkah dan siklus penelitian tindakan dijabarkan pada diagram berikut ini. Gambar 5. Rincian siklus penelitian tindakan seni partisipatoris [Sumber: Irwandi, et all. , 2. Untuk menyesuaikan dengan tahap-tahap proses seni partisipatoris, istilah AoPlanAo. AoActAo. AoObserveAo dan AoReflectAo, menurut model Kemmis dan McTaggart, diadaptasi menjadi AoDialogAo. AoIdeasiAo dan AoKo-KreasiAo. Pada setiap siklus tindakan seni partisipatoris, peneliti berperan sebagai fasilitator sekaligus sebagai pengamat. Peneliti aktif terlibat dalam setiap tahap untuk memperoleh gambaran menyeluruh setiap tahap siklus tindakan. Setiap siklus model penelitian tindakan seni partisipatoris diawali dengan komunikasi dua arah AoDialogAo(Dialogu. antara peneliti dengan warga dan fasilitator. Fasilitator pada konteks ini adalah komunitas atau lembaga yang turut mendukung proses Pada tahap AoDialogAo, peneliti memulai dan mendorong aktivitas diskusi antar warga dan fasilitator. Tahap ini dilakukan untuk memperoleh informasi dari warga tentang pengalaman masa lalu, refleksi terhadap masalah yang dihadapi, aspirasi atau rekomendasi warga terhadap solusi-solusi permasalahan yang dihadapi. Komunikasi antara fasilitator, komunitas lokal dan warga, dibangun dan bersifat inklusif dalam pembahasan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tahap pembentukan gagasan AoIdeasiAo (Ideat. , adalah tahap untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada, dengan menggali kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat diterapkan di suatu wilayah. Keterlibatan serta keaktifan warga merupakan faktor terpenting, terutama ketika warga memberikan gagasan dan terlibat pada proses pembentukan opini. Pada kondisi tertentu di dalam proses AoIdeasiAo, peneliti turut terlibat dalam membuat sketsa atau membuat gagasan karya namun basis ideologis karya dibuat berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari warga, dari pengamatan serta hasil studi yang telah dilakukan. Pengumpulan data pada tahap AoAoIdeasiAo dapat berupa catatan deskriptif, sketsa, foto atau video serta bentuk media komunikasi lainnya. Seluruh gagasan kemudian dikategorikan, dipresentasikan dan dipilih untuk mencapai kesepakatan antara warga. Tahap pelaksanaan tindakan AoKo-KreasiAo (Co-Creat. adalah adalah tahap tindakan (Actio. ketika warga dilibatkan dalam proses implementasi gagasan bersama dengan fasilitator secara kolaboratif. Peneliti melakukan observasi pada proses AoKo-KreasiAo untuk mengetahui tingkat partisipasi, keaktifan serta peran Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 setiap peserta. Peneliti turut berpartisipasi dalam proses kreasi karya seni namun fokus untuk mengamati proses kreasi kolaboratif yang sedang berlangsung. Langkah pengamatan yang dilakukan memiliki kemiripan prinsip dengan pendekatan observasi 4 Evaluasi Seni Partisipatoris di Kampung Pelangi 2021 Menurut Kusmara . pengalaman estetik dan nilai-nilai perseptual pada perkembangan medan sosial seni telah berubah menjadi pengalaman efek sosial. Pada konteks seni partisipatoris, apresiasi terhadap seni tidak lagi berorientasi pada dimensi apresiasi terhadap objek karya seni semata tetapi sejauh mana seni berdampak bagi Proses penciptaan makna seni tidak lagi bertumpu pada seniman namun meluas pada aspek yang semakin kolektif dan berbasis jejaring sosial. Pada konteks ini seni adalah produk konsensus sosial. Karya seni tak lagi diartikan sebagai objek tetapi sebagai himpunan relasi sosial di balik objek seni. Evaluasi seni tidak terletak hanya pada produk seni yang dihasilkan namun terletak pada proses gagasan dalam menciptakan makna seni serta bagaimana karya seni dapat menghadirkan relasi sosial. Gambar 6. Representasi pada objek seni dan tindakan masyarakat [Sumber: Irwandi, et all. , 2. Pada konteks seni partisipatoris seni adalah produk konsensus sosial. Evaluasi seni tidak terletak hanya pada produk seni yang dihasilkan namun terletak pada proses gagasan dalam menciptakan makna seni serta bagaimana karya seni dapat menghadirkan relasi Representasi tidak hanya dilakukan pada objek seni tetapi juga membentuk pola kebiasaan yang menyertai, seperti ritual yang menyatu pada seni-seni tradisional. Implementasi seni partisipatoris di Kampung Pelangi diwujudkan dalam acara AoPanggilan Kali SemarangAo dan berlandaskan pada konsep menelusuri sejarah, budaya dan religi. Kegiatan seni partisipatori dilaksanakan dengan pembuatan mural oleh komunitas seniman dan warga yang merepresentasikan ekspresi identitas kolektif Kampung Pelangi. Tema dialog bersama warga menyoroti aktivitas komunitas di Kampung Pelangi meliputi aktivitas-aktivitas budaya, religi serta aktivitas kreatif yang merupakan kebiasaan warga. Selain itu mengimpun informasi dari sudut pandang warga tentang unsur-unsur apa saja yang dapat mewakili identitas Kampung Pelangi. Hasil dialog bersama warga RW4 merumuskan bahwa aktivitas Paguyuban Kali Semarang PAKAS, menjadi tema utama untuk kegiatan seni partisipatori di Kampung Pelangi. Warga secara khusus hendak mengedepankan Paguyuban Kali Semarang sebagai komunitas yang dapat menjadi salah satu ciri khas RW04 Kampung Pelangi. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Siklus tindakan seni partisipatoris selanjutnya adalah tahap pembentukkan gagasan atau tahap AoIdeasiAo. Pada tahap ini, dialog fokus pada aktivitas komunitas Paguyuban Kali Semarang. Konten seni partisipatoris menggali cerita warga tentang sejarah Kali Semarang dan berdasarkan hasil diskusi ditemukan adanya cerita turun-temurun yang didengar langsung oleh warga melalui cerita dari nenek moyang. Cerita warga mendeskripsikan bahwa di masa lampau banyak kapal-kapal layar yang melintasi kali Semarang. Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian aktivitas, pertama adalah penelusuran sejarah untuk mengupas data-data faktual menurut para ahli sejarah Kota Semarang. Selain itu kegiatan kebersamaan di Kali Semarang yang terdiri dari: menebar bibit ikan, mengucap syukur dan memancing bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan bercerita dan pembuatan mural yang dilakukan bersama komunitas seni dengan tema utama sejarah dan Kali Semarang. Kegiatan dilanjutkan dengan menelusuri makam para tokoh penting dalam sejarah Semarang. Kegiatan ini juga menggelar forum diskusi Peka Kota yang mempertemukan komunitas warga, perwakilan pemerintah, mahasiswa dan pendidik untuk bersama-sama mewujudkan strategi keberlanjutan wilayah Wonosari Randusari. Urutan Tabel 1. Rincian kegiatan Seni Partisipatoris Panggilan Kali Semarang Kegiatan Deskripsi kegiatan Pelatihan Sejarah Meliputi sejarah Kali Semarang. Gunung Brintik dan Bergot. Mengundang ahli sejarah Semarang dan arkeolog untuk menggali fakta-fakta sejarah Kali Semarang sehingga dapat memperluas wawasan warga serta komunitas seni, sehingga menjadi dasar konten seni partisipatoris yang akan diterapkan. Kebersamaan di Kali Menggelar lomba memancing sebagai upaya komunikasi kepada Semarang pengunjung dan warga untuk melestarikan Kali Semarang dan mempererat hubungan antar warga. Telusur Sejarah dan Melakukan wisata Religi dan sejarah di Bergota dalam rangka Religi memperkuat identitas Kampung Pelangi sebagai kawasan yang memiliki sejarah yang panjang dan unik. Wisata menelusuri makam para tokoh sejarah yang memiliki irisan kisah dengan wilayah Gunung Brintik. Bergota dan Kali Semarang. Kegiatan Seni Kegiatan AuBercerita melalui muralAy adalah pelatihan melukis mural dibina dan diperagakan oleh komunitas seni. Forum Diskusi Peka Kota AoEksplorasi Kali Semarang. Gunung Brintik dan BergotaAo Selain itu terdapat kegiatan AuPanggung Takjil RamadhanAy, kegiatan warga menjual makanan khas Kampung Pelangi untuk berbuka puasa yang dilakukan di depan balai warga RW04. Acara juga dimeriahkan dengan pentas musik dari Karang Taruna Randusari. Forum diskusi mempertemukan warga dengan pihak pemerintah, komunitas lokal, mahasiswa, pendidik untuk membahas keberlanjutan Kampung Pelangi di masa mendatang. Kegiatan Pelatihan Sejarah Kegiatan telusur sejarah dilaksanakan untuk memperkaya wawasan warga Kampung Pelangi tentang sejarah Kali Semarang dan wilayah Bergota. Materi pelatihan sejarah disampaikan oleh Arkeolog Bapak Tri Subekso dan pengiat Sejarah Semarang Bapak Rukardi. Pelatihan sejarah, memaparkan beberapa fakta sejarah tentang wilayah Bergota sebagai pelabuhan Mataram Kuno di masa lampau. Selain sejarah tentang Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 wilayah Bergota, pelatihan juga membahas tentang sejarah Kali Semarang. Kali Semarang di masa pemerintahan kolonial Belanda difungsikan sebagai alat transportasi log kayu yang diperlukan untuk membangun gedung-gedung pemerintahan kolonial Belanda dan Masjid. Kegiatan Kebersamaan di Kali Semarang Gambar 7. Suasana Kebersamaan di Kali Semarang [Sumber: dokumentasi Hysteria Kolektif dan Irwandi, 2. Bagian acara kebersamaan di kali Semarang dibuka dengan mengucap syukur, menebar bibit ikan. Acara berlanjut dengan kegiatan memancing bersama, pagelaran musik dan gelar kuliner untuk Takjil. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Mei sebagai bagian dari acara Panggilan Kali Semarang dan memperingati hari jadi Kota Semarang. Kegiatan Telusur Sejarah dan Religi di Makam Ki Ageng Pandanaran. Gambar 8. Kegiatan telusur sejarah wilayah Randusari Semarang. Kegiatan telusur sejarah dan religi diselenggarakan pada tanggal 1 Mei dan 2 Mei 2021 di wilayah pemakaman Bergota Randusari. Semarang. Pemandu kegiatan teusur sejarah dan religi adalah warga rw4 dan rw6 Randusari yang juga bertugas sebagai juru kunci di makam Bergota. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Kegiatan Seni Gambar 9. Mural bertema Kebersamaan di Kali Semarang karya Aelefu Ae komunitas seni Demak komunal 2021. Dimensi 3x4 meter Karya mural diinspirasikan oleh aktifitas warga ketika melestarikan Kali Semarang dengan memelihara ikan dan menggelar lomba-loba memancing sebagai kebiasaan Kegiatan ini diwujudkan oleh Paguyuban Kali Semarang, komunitas di Kampung Pelangi yang dibentuk secara resmi pada tahun 2020. Inspirasi karya mural juga diperoleh dari kisah-kisah warga tentang unsur-unsur budaya tradisi yang masih melekat pada kebiasaan warga. Kegiatan memancing bersama adalah salah satu strategi Paguyuban Kali Semarang untuk melestarikan Kali Semarang. Tabel 2. Ekspresi relasional pada objek seni Ekspresi Relasional Representasi pada objek seni Representasi pada pola Tindakan Pesan visual Deskripsi karya Mural menggambarkan suasana Mural karya Aelefu dari Kegiatan memancing bersama keguyuban ketika memancing komunitas seni Demak pada bagian acara Panggilan bersama di Kali Semarang yang Komunal, menggambarkan Kali Semarang merupakan kegiatan memancing yang upaya komunikasi kepada merupakan pola kebiasaan warga sekitar dan para warga di Kampung Pelangi. pendatang untuk memelihara Bersihnya Kali Semarang kebersihan Kali Semarang dan memungkinkan warga untuk menciptakan keberlanjutan menebar bibit ikan dan menjadi Kampung Pelangi sebagai pola kebiasaan baru sejak Kali kawasan wisata yang bersih. Semarang diperbaiki pada Pelestarian Kali Semarang disebut oleh warga sebagai AoNyadran KaliAo atau upaya menjaga kualitas air sungai dengan mengucap syukur. Pada saat acara Panggilan Kali Semarang, warga menebar bibit ikan di Kali Semarang, membaca doa syukur dan menggelar lomba memancing sebagai bagian dari AoNyadran Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 KaliAo suatu konsep kearifan lokal yang diadaptasi untuk melestarikan Kali Semarang. Tradisi Nyadran Kali masih dipraktekkan di desa,di luar Kota Semarang seperti di wilayah Gunungpati Semarang. Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa yang diajarkan turun-temurun. Tradisi Nyadran awalnya berkembang dari masyarakat kepercayaan Hindu. Seiring berkembangnya jaman dan masuknya agama Islam yang disebarkan Walisanga, tradisi Nyadran mengalami rekontekstualisasi dengan agama Islam. Pelaksanaan tradisi nyadran pada masa Hindu-Budha menggunakan puji-pujian dan sesaji sebagai perlengkapan ritualnya sedangkan oleh walisongo diakulturasikan dengan doa-doa dari Al- Quran. Hingga saat ini masyarakat Jawa masih melestarikan tradisi nyadran sebagai penghormatan kepada nenek moyang dan ritual untuk merawat Sebagian masyarakat Jawa meyakini jika tidak melaksanakan upacara atau tradisi adat, akan ada bahaya yang terjadi, keyakinan ini hadir dan diketahui melalui mitosmitos. Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa roh leluhur yang sudah meninggal masih hadir dan mempengaruhi kehidupan keturunannya. Karena pengaruh agama Islam makna nyadran mengalami pergeseran sebagai upaya untuk berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan. Nyadran merupakan cara untuk mengagungkan, menghormati, dan memperingati roh leluhur (Handayani. , 1. Dari segi religius tradisi Nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah, mengingatkan akan kematian dan mendoakan arwah leluhur atau keluarga. Pelaksanaan Nyadran juga dimaksud sebagai sarana intropeksi diri atau perenungan terhadap segala upaya yang telah dilakukan selama satu tahun. Masyarakat khususnya di pulau Jawa yang masih melestarikan tradisi penghormatan nenek moyang dalam bentuk perayaan tradisi nyadran memiliki ikatan yang erat dengan Itu juga sebabnya mereka sangat memperhatikan kejadian-kejadian alam sekitar sebagai pertanda bagi kejadian-kejadian lain. Oleh karena itu sebagian masyarakat meyakini jika tidak melaksanakan upacara maupun tradisi yang merupakan adat akan ada bahaya maupun bencanayang terjadi di masyarakat tersebut, biasa masyarakat menyebutnya sebagai mitos. Upaya melestarikan alam juga dikenal seperti pada upacara Nyadran Kali yang dilakukan sebagai bentuk syukur dengan cara membersihkan sungai dan menjaga kelestarian air sungai. Pesan Visual Tabel 3. Ekspresi vernakular pada objek seni dan pola tindakan Ekspresi Vernakular Representasi pada objek seni Representasi pada pola Tindakan Deskripsi karya Sketsa digital yang Di Kampung Pelangi dapat memvisualkan buah asam dan ditemukan berbagai masakan daun dari pohon asam. Pada sisi tradisional yang telah tengah sketsa digital dikembangkan oleh komunitas memvisualkan ikan bandeng PKK. (Ikan Bandeng. Lumpia dengan motif pelangi dan motif khas Semarang. Wedhang AoBatik SemaranganAo. Asem, dan sebagainy. Ekspresi vernakular dapat diidentifikasi di wilayah Randusari Kampung Pelangi Semarang, pada pengembangan masakan tradisional yang memilki keterkaitan dengan alam sekitarnya. Hasil pengembangan masakan tradisional yang dapat dijumpai di Kampung Pelangi merupakan hasil asimilasi budaya kuliner dengan sejarahnya yang panjang. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Gambar 10. Sketsa digital berdasarkan tema pohon asam dan ikan bandeng sebagai representasi ekspresi vernakular wilayah Randusari Semarang. Salah satu wujud masakan tradisional yang erat dengan sejarah wilayahnya adalah minuman tradisional Wedhang Asem. Buah asam dalam budaya Jawa memiliki konotasi filosofis yang mewakili dinamika hidup. Pohon asam dipahami kaya akan manfaat, biji buah asam atau klungsu dalam bahasa Jawa, memiliki makna bahwa meskipun kecil, namun keras dan sulit dihancurkan. Biji buah asam yang kecil dapat tumbuh menjadi pohon asam yang besar dan berguna, mulai dari batang, daun, hingga buahnya. Filosofi klungsu menggambarkan semangat untuk teguh berjuang dalam memberikan manfaat kepada sesama manusia (Widyastuti, 2. Perbedaan makna buah asam bagi Kampung Pelangi dengan wilayah lain di pulau Jawa, bahwa pohon asam yang mengelilingi Kampung Pelangi memiliki sejarah khusus dengan asal usul nama kota Semarang. Nama kota Semarang diberikan oleh Ki Ageng Pandanaran yang merupakan singkatan dari sebutan AoAsem Arang-ArangAo dalam bahasa Jawa yang berarti pohon asam yang ditanam jarang-jarang. Gambar 11. sumber: dokumentasi Hysteria Kolektif . dan Irwandi . Hingga saat ini Kampung Pelangi dikelilingi dengan pohon asam yang besar dan tradisi minuman Wedhang Asem dikembangkan oleh warga dan disajikan pada cafy yang dikelola oleh warga Kampung Pelangi. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Gambar 12. Pengembangan sketsa ekspresi vernakular oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual [Sumber: Karya studio DKV Universitas Pelita Harapan tahun 2. Gambar 13. Pengembangan ekspresi vernakular oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual [Sumber: Karya studio DKV Universitas Pelita Harapan tahun 2. Tabel 4. Ekspresi simbolik Ekspresi Simbolik Representasi pada objek seni Pesan visual Deskripsi karya Ki Ageng Pandanaran sebagai Mural karya komunitas seni tokoh pemersatu dan bupati Bags and the Bake, pertama Semarang menampilkan sosok Ki Ageng Pandanaran di tengah desa Wonosari yang dikelilingi dengan pohon asam. Mural ini menarasikan sejarah kota Semarang, bahwa Ki Ageng Representasi Pada acara Panggilan Kali Semarang, dilakukan wisata sejarah dan religi dengan mengunjungi makam Ki Ageng Pandanaran, makam Nyai Brintik, makam Ki Kertoboso Bustam dan K. H Sholeh Darat. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Pesan visual Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Ekspresi Simbolik Representasi pada objek seni Deskripsi karya Pandanaran ketika tiba di Pulau Tirang menemukan pohon asam yang di tanam jarang-jarang atau Aoasam arang-arangAodan sejak itu wilayah pulau Tirang dikenal sebagai Semarang. Representasi Ekspresi identitas simbolik di Kampung Pelangi, direpresentasikan melalui sifat dan atribut dari tokoh-tokoh dalam sejarah yang menjadi panutan warga. Tokoh-tokoh panutan warga dimakamkan di kompleks makam Bergota di wilayah Randusari yang letaknya berdampingan dengan Kampung Pelangi. Makam Bergota bagi warga Kampung Pelangi merupakan tempat leluhur warga, oleh sebab itu warga Kampung pelangi yang tergabung dalam komunitas Gunung Brintik dan komuntas makam Bergota, bertugas untuk merawat pemakaman Bergota, mengkomunikasikan kisah-kisah sejarah leluhur kepada generasi muda. Salah satu makam terbesar di Bergota adalah makam Ki Ageng Pandanaran, bupati pertama Semarang. Pada acara Panggilan Kali Semarang, dilaksanakan wisata telusur sejarah dan religi dengan mengunjungi makam-makam para tokoh penting di Bergota. Gambar 14. Mural bertema Ki Ageng Pandanaran karya komunitas seni Bags and the Bake 2021 Aktivitas AoNyekarAo dilaksanakan oleh komunitas makam Bergota dan komunitas Gunung Nyekar adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi makam atau kuburan leluhur yang ada di suatu kelurahan atau desa. Masyarakat Jawa menganggap bahwa setiap desa mempunyai roh pelindung yang tinggal dalam sebatang pohon yang rindang. Masyarakat Jawa kuno membayangkan bahwa roh-roh itu sudah tinggal di tempat tersebut sebelum tanah itu dihuni oleh masyarakat desa (Prasetyo ,2. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Warga Kampung Pelangi yang tergabung di Komunitas Gunung Brintik bertugas untuk merawat makam petilasan Nyai Brintik serta melakukan aktivitas spritual sebagai penghormatan kepada leluhur, serta apresiasi terhadap kesaktian dan kebijaksanaan Nyai Brintik. Hingga saat ini warga di Kampung Pelangi masih melakukan nyekar ke makam Nyai Brintik sebagai bentuk penghormatan kepada roh leluhur dan memohon izn sebelum menggelar berbagai kegiatan di wilayah Gunung Brintik. Makna yang dapat diinterpretasikan terhadap sosok Nyai Brintik adalah Ausosok pengayomAy dan penjaga AukerukunanAy. Penghormatan terhadap Nyai Brintik juga dapat diinterpretasikan bahwa dusun merupakan titipan leluhur, maka menjaga kelestarian dusun merupakan kewajiban warga. Tabel 6. Ekspresi Simbolik Ekspresi Simbolik Representasi pada objek seni Pesan visual Deskripsi karya Sebelum dikenal menjadi Mural bertema Bunga Kalisari Kampung Pelangi, nama adalah simbol yang mewakili pemukiman adalah Wonosari nama pemukiman Wonosari dalam bahasa Jawa terdiri dari sebelum dikenal Kampung dua suku kata yaitu Wono yang Pelangi. berarti bunga atau tumbuhan yang lebat atau hutan sedangkan Sari adalah inti atau pusat Wonosari berarti hutan Representasi pada pola Simbol bunga mewakili paguyuban pedagang bunga yang berjualan di Pasar Bunga Kalisari di depan Kampung Pelangi. Gambar 15. Sebelah kiri, mural bertema Bunga Kalisari Semarang karya komunitas seni Inonkinonk 2021. Sebelah kanan Pedagang bunga di Pasar Bunga Kalisari Mural bunga merepresentasikan paguyuban pedagang bunga yang berjualan di Pasar Bunga Kalisari di depan Kampung Pelangi. Simbol ini dipahami oleh warga bahwa pemukiman Wonosari adalah tempat yang subur dan dikelilingi oleh pohon dan bunga. Aktivitas pelestarian lingkungan seperti bercocok tanam juga menjadi kebiasaan warga Kampung Pelangi. Tabel 7. Ekspresi teritori pada objek seni Ekspresi Teritori Representasi pada objek seni Representasi pola tindakan Pesan visual Deskripsi karya Jukstaposisi antara masa lalu Mural karya Ismu, menggambarkan peKegiatan AuBercerita wilayah Bergota dan sekarang ninggalan masa lampau ketika pendamuralAy adalah pelatihan melukis tang berlabuh di Pelabuhan Bergota. mural dibina dan diperagakan oleh komunitas seni. Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Pesan visual Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Ekspresi Teritori Representasi pada objek seni Deskripsi karya Mural karya Demak Komunal menggambarkan hiruk pikuk suasana pelabuhan Bergota di masa lampau ketika warga menyaksikan kapal layar yang berlabuh dari atas bukit Brintik. Representasi pola tindakan Gambar 16. Mural bertema kapal berlabuh di Bergota. Karya Ismu 2021 Mural karya Ismu, menggambarkan peninggalan masa lampau ketika pendatang berlabuh di Bergota. Pada sisi bagian atas kapal, diggambarkan api, meriam, kotak berisikan uang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, rempah-rempah, bangunan dengan atap kubah bergaya budaya Timur Tengah, atap rumah bergaya budaya Tionghoa serta bangunan bergaya budaya Eropa. Mural karya Ismu menyiratkan pesan bahwa peninggalan masa lampau telah banyak membawa berbagai ragam kebudayaan. Kapalkapal di masa lampau telah membawa dan mengambil berbagai hasil bumi yang diperdagangkan secara global. Kapal diartikan sebagai segala sisi baik dan buruk hadir berdampingan yang terjadi di satu kapal yang masih utuh bertahan. Kapal menggambarkan persatuan dan isi kapal menggambarkan keberagaman serta segala rintangan yang ada. Gambar 17. Mural bertema Bergota Hore. Karya Demak Komunal 2021 Mural karya Demak Komunal menggambarkan hiruk pikuk suasana pelabuhan Bergota di masa lampau ketika warga menyaksikan kapal layar yang berlabuh dari atas bukit Brintik. Pada lukisan mural ini, rumah warga dengan sengaja diberikan warna-warni yang Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 mewakili kondisi Kampung Pelangi saat ini. Kelompok seniman Demak Komunal, hendak menampilkan jukstaposisi antara masa kini dengan masa lampau. Forum Diskusi Langkah intervensi dapat berupa studi permasalahan serta solusi alternatif. Secara bertahap warga didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dirancang oleh fasilitator. Pada tingkat ini juga diperlukan komunikasi dua arah antara fasilitator dan warga, sehingga terjadi pengambilan keputusan secara kolaboratif. Pada tingkat AoRe-VisitAo warga dan fasilitator berpartisipasi lebih dinamis dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Re-Visit adalah tindakan untuk meninjau kembali, mengunjungi kembali dan mengamati secara langsung. Pada tahap pengumpulan data penelitian, langkah ini ditempuh melalui observasi lapangan, observasi partisipan dan Pada tahap AoRe-VisitAo dilakukan eksplorasi pada hubungan sudut pandang warga dengan wilayahnya. Sudut pandang warga meliputi kisah-kisah masa kecil warga yang berhubungan dengan tempat tinggalnya, memori kolektif pada suatu tempat, kisah nenek moyang mengenai wilayahnya, selain itu juga budaya tradisi, kearifan lokal serta mitos-mitos yang melekat pada wilayah itu. Gambar 18. Model seni partisipatoris Re-Visit Melalui model partisipatif, penggalian kisah-kisah keseharian warga menjadi bagian daari tema seni partisipatif. Konsep seni menghubungkan tindakan artistik dengan permasalahan yang ditemukan. Berdasarkan pengetahuan yang diperoleh, fasilitator melakukan pemberdayaan melalui rancangan program-program peningkatan kapasitas dalam rangka memperkuat kemampuan warga dalam menyelesaikan masalahnya secara mandiri. Sedangkan warga berpartisipasi aktif untuk mengembangkan keahliannya, memahirkan diri dalam berbagai kreativitas serta memperkuat potensipotensi yang dimiliki. Tingkat AoTransformasiAo (Transformin. adalah tingkat tertinggi dalam proses partisipasi, atau kondisi ketika warga berperan aktif dalam mentransformasikan potensi yang mereka miliki. Tingkat AoTransformasiAo adalah tingkat seperti yang dideskripsikan oleh Arnstein . tentang AoCitizen ControlAo, kondisi ketika warga dapat mengelola dan mengambil keputusan secara mandiri. Pada tingkat ini, fasilitator mendukung inisiatif warga dengan lebih strategis, misalnya menghubungkan komunitas warga dengan jaringan stakeholder yang lebih luas. Fasilitator pada konteks ini, berperan sebagai mitra yang dapat mendukung inisiatif warga. Pada konteks Andharupa. Vol. 10 No. 04 Tahun 2024 Irwandi et al. Stratedi Seni PartisipatorisA 494-516 Kampung Pelangi, yang dulu merupakan kampung kota atau ruang kumuh, telah bertansformasi menjadi kampung wisata yang mandiri. KESIMPULAN Proses seni partisipatoris yang dikemas dalam kegiatan Panggilan Kali Semarang, warga telah secara aktif memberikan gagasan-gagasan serta solusi kreatif. Terwujudnya bentuk wisata baru sebagai hasil dari forum diskusi bersama dengan warga RW04 pada rangkaian kegiatan Panggilan Kali Semarang, merupakan indikasi bahwa warga telah berada pada tingkat pengembangan, karena warga telah berupaya untuk memperkaya makna Kampung Pelangi dengan tujuan untuk menciptakan daya tarik. Tingkat partisipasi juga telah mengarah pada tahap transformatif, namun masih diperlukan studi lebih mendalam khususnya pada kekayaan sejarah di wilayah Randusari. Diperlukan juga upaya-upaya strategis dalam perbaikan di berbagai sektor, seperti perbaikan kali Semarang yang masih rentan polusi, pengembangan keterampilan warga yang dapat bersinergi dengan keberlanjutan wisata dan lingkungan. Pada forum diskusi, berbagai dinas dari pemerintah daerah juga siap mendukung segala upaya peningkatan kapasitas internal warga dan mengembangkan wisata budaya dan kuliner di Kampung Pelangi. Kegiatan Panggilan Kali Semarang merupakan titik awal bagi warga Kampung Pelangi di RW04 untuk terus menciptakan keberkelanjutan kawasan pemukiman, dengan merawat lingkungan serta berkreasi sehingga meningkatkan daya tarik wisata. Karya seni partisipatoris yang dihasilkan pada kegiatan Panggilan Kali Seamrang bersifat co-authoring, proses penciptaan tema dan karya dilakukan oleh seniman bersama dengan warga. Penelusuran sejarah semarang dan tokoh-tokoh memperkaya pemahaman warga dan partisipan. Hubungan antara tempat, sejarah dan aktivitas memiliki arti khusus bagi warga sehingga berkontribusi pada penciptaan ciri khas di Kampung Pelangi. Penerapan model seni partisipatori telah mendorong terbentuknya wisata baru di Kampung Pelangi yaitu wisata sejarah dan religi yang merupakan bagian kegiatan AuPanggilan Kali SemarangAy. Karya-karya seni partisipatoris pada kegiatan AuPanggilan Kali SemarangAy adalah upaya komunikasi kepada masyarakat Kota Semarang dan juga para pendatang, untuk selalu melestarikan Kali Semarang dan wilayah Kegiatan AuPanggilan Kali SemarangAy menempatkan Kali Semarang. Kampung Pelangi dan wilayah Bergota sebagai sebagai simbol pemersatu guna menciptakan rasa kebersamaan dan rasa memiliki. Tujuan kegiatan adalah untuk memperkuat identitas wilayah Wonosari Randusari Semarang dengan menelusuri kembali sejarah yang melekat di dalam cerita-cerita nenek moyang warga. Bagi warga Kampung pelangi. Kali Semarang dan wilayah Bergota adalah bagian penting dari identitas warga, sehingga keberlangsungan Kali Semarang dan wilayah Bergota juga merupakan keberlangsungan kisah nenek moyang warga. Upaya pelestarian ini tidak hanya untuk menjaga fungsi Kali Semarang sebagai sebagai drainase kota yang baik, tetapi juga untuk melestarikan nilainilai budaya tradisi dan sejarah Kota Semarang. DAFTAR PUSTAKA