Fajar Historia Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan https://e-journal. id/index. php/fhs/index ISSN: 2549-5585 . Vol. 8 No. 1 2024, hal 64-77 Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Dede Novita Jumiarti,1* M. Fakhruddin,2 Nur Aeni Marta3 Universitas Negeri Jakarta. novitajumiartidede@gmail. Korespondensi Dikirim: 11-01-2024. Direvisi: 02-05-2024. Diterima: 03-05-2024. Diterbitkan: 05-05-2024 Abstrak: Artikel ini mendeskripsikan implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan strategi studi kasus terpancang tunggal. Metode penelitian pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Validitas data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber data dan metode. Adapun data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian: Pertama, perencanaan pembelajaran guru sejarah sudah menyiapkan dan melaksanakan modul sejarah yang menggunakan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Kedua. Pelaksanaan pembelajaran, guru sejarah menerapkan pembelajaran berupa diferensiasi konten, proses, dan produk untuk materi asal usul nenek moyang, empat teori asal usul nenek moyang, dan kaitannya dengan masyarakat Indonesia saat ini. Ketiga, evaluasi pembelajaran, guru menggunakan penilaian berdasarkan pedoman aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keempat. Dampak yang ditimbulkan dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah yaitu meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada pembelajaran sejarah. Kelima, hambatan yang dialami yaitu sarana dan prasarana yang kurang memadai, dan juga waktu pembelajaran yang kurang. Kata Kunci: pembelajaran diferensiasi. pembelajaran sejarah. Abstract: This article describes the implementation of differentiated learning in history subjects at SMAN 23 Tangerang Regency. This research method uses qualitative methods, with a single case study strategy. The research method in this study is a qualitative method. The validity of the data used in this research uses triangulation of data sources and methods. The data was obtained through in-depth interviews, observation and document study. Research results: First, the history teacher's learning planning has prepared and implemented a history module that uses a differentiated learning approach. Second, implementation of learning, history teachers apply learning in the form of differentiation of content, processes and products for material on ancestral origins, four theories of ancestral origins, and their relationship to current Indonesian society. Third, learning evaluation, teachers use assessments based on cognitive, affective and psychomotor aspects. Fourth, the impact of differentiated learning in history subjects is improving critical and creative thinking skills in history learning. Fifth, the obstacles experienced are inadequate facilities and infrastructure, and also insufficient learning Keywords: differentiated learning. history learning. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. DOI: https://doi. org/10. 29408/fhs. Page 64 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Pendahuluan Dalam proses pembelajaran, guru dan peserta didik memainkan peran yang penting. Hal ini karena perlunya upaya bersama yang baik antara guru dan peserta didik dalam kegiatan Guru diharapkan mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Adapun pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan belajar peserta didik, dimana dalam penerapannya terdapat diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk disebut sebagai pembelajaran berdiferensiasi (Widiastuti, et al. , 2. Dalam Pembelajaran berdiferensiasi, setiap peserta didik dianggap unik karena peserta didik memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dengan peserta didik lain (Bendriyanti, et al. Pada pembelajaran berdiferensiasi juga menyoroti pada kebutuhan pembelajaran abad ke-21 mengenai keterampilan yang harus dimiliki peserta didik di masa depan (Mahdiannur, et , 2. Pembelajaran berdiferensiasi memiliki keterkaitan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara (KHD) yang menyatakan penndidikan dapat memberikan tuntunan kepada peserta didik sesuai dengan ketentuan anak yang berlaku agar setiap anak dapat menjadi manusia seutuhnya di masyarakat (Susanto, et al. , 2. Dari pemaparan tersebut pembelajaran berdiferensiasi dapat disimpulkan sebagai pembelajaran yang menyesuaikan pada kebutuhan siswa, dimana dalam proses pembelajaran berdiferensiasi menekankan pada perbedaan konten, proses, dan produk. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus memulai dengan melakukan penilaian terhadap kesiapan peserta didik. Penilaian kesiapan ini dilakukan agar guru dapat memfasilitasi kebutuhan dari peserta didik dalam melakukan pembelajaran (Elviya & Sukartiningsih, 2. Salah satu langkah untuk melakukan analisis kebutuhan yaitu dengan mengetahui kesiapan peserta didik, mengetahui minat, bakat, dan gaya belajar peserta didik. Langkah ini dilakukan agar guru dapat mengenal kesiapan, minat, bakat, dan juga gaya belajar pada peserta didik yang disebut juga sebagai asesmen awal. Berbekal dari hasil asesmen tersebut guru kemudian melakukan persiapan pembelajaran berdiferensiasi yang dituangkan pada tahap pembelajaran berupa diferensiasi konten, proses, dan produk. Pembelajaran berdiferensiasi sendiri, menjadi sebuah revolusi pendidikan yang saat ini digalakkan oleh pemerintah dalam kurikulum merdeka. Pembelajaran berdiferensiasi ini diharapkan mampu memecahkan permasalahan keragaman peserta didik di kelas. Kurikulum Merdeka sendiri adalah kurikulum yang dilegalkan di tahun 2020 oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Teknologi Indonesia. Kurikulum Merdeka menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Widiastuti, et al. , 2. Peserta didik sebagai pusat dalam proses belajar agar guru dapat fokus pada peserta didik mulai dengan menyesuaikan keberagaman dan kebutuhan peserta didik serta mampu meningkatkan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran berdiferensiasi. Pemerintah melalui kurikulum merdeka sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Hal ini dilakukan agar pendidikan yang tidak hanya sebagai proses transfer ilmu pendidikan saja melainkan juga terdapat transfer kepribadian dan keterampilan, terutama dalam mata Page 65 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang pelajaran sejarah (Suyanti, 2. Mata pelajaran sejarah adalah salah satu mata pelajaran yang diberikan pada jenjang SMA/SMK. Pembelajaran sejarah pada Kurikulum Merdeka berusaha untuk memotivasi peserta didik untuk belajar sejarah tidak hanya sekedar mengetahui dan menghafal saja, melainkan peserta didik mampu menggunakan pengetahuannya sebagai pisau analisis dalam mempelajari peristiwa-peristiwa sejarah (Rahmawati. Sutiyah, & Abidin, 2. Selain itu dalam kurikulum Merdeka, pembelajaran sejarah dirancang agar peserta didik mampu menerapkan tahapan kognitif mulai dari mengamati hingga merefleksikan yang selanjutnya berkolaborasi pada proyek lanjutan dalam ruang lingkup IPS (Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, 2. Pembelajaran sejarah sendiri juga bertujuan untuk mampu melatih keterampilan berpikir diakronis, sinkronis, kausalitas, kreatif, kritik, seleksi dan sintesis sumber, serta penulisan Melalui pembelajaran sejarah juga mampu meningkatkan keterampilan seseorang dalam menganalisis informasi baik secara manual maupun digital (Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, 2. Penelitian mengenai pembelajaran berdiferensiasi sudah mulai banyak dilakukan, diantaranya Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah (Studi pada SMA Negeri Pontiana. (Mirzachaerulsyah, 2. , penelitian ini berhasil menumbuhkan etos belajar peserta didik melalui pembelajaran Melalui pembelajaran berdiferenaisai terdapat kolaborasi antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran sejarah yaitu mampu menciptakan pembelajaran sejarah yang menarik dan bermakna. Guru menjadikan minat dan bakat yang dimiliki peserta didik sebagai sebuah terobosan dalam menciptakan inovasi-inovasi dalam kegiatan Penelitian lain tentang pembelajaran berdiferensiasi yaitu literature review: Pembelajaran Berdiferensiasi Di Sekolah Menengah (Safarati & Zuhra, 2. Pada penelitian ini, diungkapkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi baik diterapkan pada tingkat sekolah menengah maupun atas, selain itu melalui pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan mampu mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Adapun peneliti dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Penelitian yang peneliti lakukan saat ini berbeda dengan penelitian terdahulu. Perbedaan dapat dilihat dari fokus penelitian yaitu peneliti akan melakukan observasi langsung mengenai implementasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah. Selain itu peneliti juga ingin melihat guru sejarah mampu memberikan pembelajaran pada keberagaman karakteristik peserta didik di kelas. Peneliti juga menggunakan instrumen wawancara yang dapat melihat pembelajaran berdiferensiasi dari sudut pandang yang berbeda yaitu guru dan juga peserta didik, sehingga diharapkan akan memberikan dampak dari sudut pandang masing-masing. Berdasarkan observasi awal, peneliti juga menemukan keunikan dalam proses pelaksanaan pembelajaran sejarah kelas X melalui pembelajaran berdiferensiasi. Keunikan ini muncul ketika guru sejarah di kelas mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan baik walaupun fasilitas sarana dan prasarana yang kurang mendukung. SMAN 23 Kabupaten Page 66 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Tangerang sendiri merupakan salah satu sekolah negeri terbaik di Kabupaten Tangerang versi (Nugroho, 2. Walaupun fasilitas sekolah yang kurang memadai karena memiliki gedung letter I, sehingga kelas yang sedikit harus dibagi dua, agar KBM tetap berjalan. Sekolah ini mampu bersaing dengan beberapa sekolah terbaik lainnya seperti Pahoa. Penabur dll. Dari keunikan pembelajaran yang terjadi di SMAN 23 Kabupaten Tangerang pada mata pelajaran sejarah, membuat peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian di SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dipakai untuk melakukan research mengenai kehidupan, sejarah, tingkah laku, konsep atau fenomena, dan masalah sosial. Lebih lanjut penelitian ini mendeskripsikan mengenai penerapan pembelajaran diferensisasi pada mata pelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas. Untuk mendalami penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode studi kasus. Menurut Yin . penelitian studi kasus digunakan untuk mengumpulkan, menyajikan, dan menganalisis data secara adil. Sebagaimana mengungkapkan berbagai situasi yang terdiri dari individu, kelompok, organisasi, sosial, politik, dan terkait dengan fenomena. Fokus studi kasus yang dikaji mengenai penyelidikan fakta dan konteks yang terjadi di lapangan. Penelitian ini menggunakan strategi penelitian kasus tunggal, hal ini dikarenakan penelitian ini hanya dilakukan pada satu lokasi yaitu SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Adapun studi kasus yang dilakukan lebih khusus yaitu studi kasus tunggal. Adapun sumber data pada penelitian ini berasal dari hasil observasi dan hasil wawancara bersama guru sejarah dan peserta didik yang melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Wawancara yang dilakukan peneliti direkam menggunakan handphone peneliti kemudian dicatat dalam catatan tertulis, sedangkan untuk pengamatan observasi, peneliti melakukan pengamatan langsung di SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Untuk data selanjutnya dalam penelitian ini yaitu buku-buku, jurnal terindex. Modul. Video pembelajaran, power point, padlet, dan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didi. berupa tugas berdiferensiasi produk dari tiap kelompok peserta didik. Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman . Validitas data yang digunakan pada penelitian ini yaitu triangulasi. Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber . yang didapatkan dari narasumber-narasumber . yang berbeda posisinya dengan melakukan wawancara secara mendalam, hal ini dilakukan guna membandingkan informasi dari narasumber satu dan narasumber lainnya. Untuk triangulasi metode, diperoleh dengan cara wawancara, studi dokumen, dan observasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan peserta didik Ketika pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilakukan di SMAN 23 Kabupaten Tangerang, dengan pertimbangan hasil observasi awal yang telah dilakukan peneliti, sekolah ini merupakan sekolah negeri yang memiliki akreditasi A. Guru Sejarah di sekolah ini sudah mengikuti seminar mengenai pembelajaran berdiferensiasi dan sudah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Page 67 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Hasil Penelitian Perencanaan Pembelajaran Perencanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah yang dimiliki guru dibuat melalui sebuah proses. Dimana proses pembuatan perencanaan pembelajran diawali dengan kegiatan rapat kerja MGMP Sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Rapat kerja MGMP Sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang dilakukan pada awal tahun ajaran baru yaitu diakhir bulan Juni- awal Juli 2023. Adapun dokumen yang dihasilkan yaitu modul, prota . rogram tahuna. , prosem . rogram semeste. , penilaian, dan bahan ajar. Modul yang dibuat oleh guru dibuat dengan berpedoman pada CP (Capaian Pembelajara. yang berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dapat diunduh dalam Platform Merdeka Mengajar. Pembuatan modul sendiri dibebaskan kepada guru mata Pelajaran, guna menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, dan lingkungan sekolah. Temuan yang diperoleh dalam modul yang dibuat guru, guru menggunakan CP yang sudah disediakan kemudian diturunkan menjadi ATP (Alur Tujuan Pembelajara. Setelah itu guru memperinci dengan Langkah-langkah pembelajaran berdiferensiasi yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di kelas. Adapun Langkah-langkah awal yang direncanakan guru mulai dengan melakukan asesmen awal dengan memberikan link untuk mengetahui gaya belajar anak, selain itu guru juga melakukan penilaian kesiapan anak dengan memberikan pertanyaan pemantik sebelum pembelajaran untuk mengetahui pemahaman peserta didik. Pada saat menyusun perencanaan, guru sejarah melalui MGMP Sejarah sekolah menyusun modul dengan pengembangan Modul pembelajaran berdiferensiasi. Dalam modul tersebut, guru membuat modul berbasis teknologi dengan tujuan melayani seluruh gaya belajar peserta didik yang berbeda dan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. Pada materi ini, guru mengembangan modul mengenai asal usul nenek moyang. Pengembangan modul ajar yang dilakukan guru sejarah memuat materi pembelajaran, kemudian terdapat barcode yang bisa discan oleh peserta didik untuk selanjutnya dapat membawa peserta didik menonton video pembelajaran yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Disamping itu, pengembangan modul juga dilakukan dengan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila. Adapun nilai Profil Pelajar Pancasila yang tertuang dalam modul ini yaitu berkebhinekaan global dan mandiri. Nilai berkebhinekaan global dapat diperoleh peserta didik dengan memahami asal usul nenek moyang berdasarkan empat teori, sedangkan untuk nilai mandiri dapat diperoleh peserta didik dengan teknis pembelajaran modul yang dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Hal ini membuat modul ajar sejarah menjadi efektif digunakan oleh peserta didik. Adanya modul ajar ini membuat awalan tahap perencaan yang baik didalam kegiatan pembelajaran. Proses perencanaan pembelajaran juga dilakukan dengan sangat sistematis oleh guru, mulai dari penyiapan bahan ajar hingga pelaksanaan dan evaluasi. Pembelajarannya sendiri Page 68 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang berlangsung melalui metode diskusi dan tanya jawab yang selaras dengan kurikulum Merdeka Belajar. Proses perencanaan pembelajaran menggambarkan Langkah-langkah awal yang dilakukan melalui pembagiann link untuk mengidentifikasi gaya belajar peserta didik dan diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah pikiran tentang materi sebelumnya, yang pada akhirnya diberikan kepada peserta didik. Guru juga dapat membuat rencana belajar untuk mencapai tujuan belajar. Tujuan pembelajaran biasanya ditetapkan oleh guru untuk membantu peserta didik berpikir kritis ketika menafsirkan apa yang telah mereka pelajari. Tujuan pembelajaran selalu diberikan di awal pembelajaran, hal ini dilakukan guru guna memberikan informasi kepada peserta didi mengenai manfaat mempelajari materi yang akan Guru memaparkan, setidaknya melalui tujuan pembelajaran yang disampaikan, peserta didik mampu menganalisis materi sejarah khususnya materi asal usul nenek moyang dalam kehidupan saat ini. Guru mengharapkan, pembelajaran akan menjadi faktual dengan dikaitkannya materi dengan keadaan saat ini (Wawancara dengan IH, 2. Berdasarkan hasil pengamatan, proses perencanaan yang dibuat oleh guru sudah sangat baik, dimana perencanaan tersusun dengan rapi dan sesuai runtutan pembelajaran. Perencanaan yang dibuat oleh guru juga sudah mencakup pembelajaran berupa diferensiasi konten, proses, dan produk yang didalamnya disisipkan nilai-nilai profil pelajar Pancasila sesuai dengan kurikulum Merdeka belajar. Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah harus didasarkan pada rencana pembelajaran, yang kemudian dilaksanakkan dalam penyampaian pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran merupakan penerapan RPP yang terdiri dari pendahuluan, inti, dan penutup (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang juga terdiri dari tiga langkah kegiatan, dimulai dari langkah pendahuluan, inti, dan penutup. Pembelajaran berdifereniasi pada mata Pelajaran sejarah di kelas X. 3 sampai dengan X. dilaksanakan oleh dua guru sejarah. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan durasi 3 kali pertemuan dengan sekali pertemuan memuat 6 jam pelajaran (JP). Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran project based learning, dengan metode diskusi, media berdiferensiasi, dan sumber belajar yang difasilitasi oleh guru. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif diterapkan dalam mata pelajaran sejarah. Hal ini dikarenakan, melalui pembelajaran berdiferensiasi mampu memenuhi keberagaman kebutuhan dan gaya belajar peserta didik. Melalui pembelajaran berdiferensiasi juga mampu merubah paradigma pembelajaran sejarah yang membosankan menjadi menyenangkan, sehingga melalui pembelajaran berdiferensiasi 6mampu membangkitkan semangat peserta didik di dalam kelas (Wawancara dengan IH, 2. Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan konsep pembelajaran yang menitikberatkan pada keberagaman dan kebutuhan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi juga diartikan sebagai proses menciptakan suasana kelas yang heterogeny sekaligus memberikan ruang yang sama kepada peserta didik untuk menampung konten, proses, dan produk yang berbeda sesuai dengan Page 69 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang minat dan bakatmya (Faiz, et al. , 2. Kegiatan pembelajaran yang berdiferensiasi dalam kelas diartikan sebagai sebuah dasar pembelajaran, yang didalamnya guru memiliki kebebasan untuk merancang pembelajaran mulai dari metode yang digunakan, sumber belajar, strategi belajar, dan produk pembelajaran sebagai upaya mengatasi keberagaman peserta didik. (Mastuti, et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi mendorong kegiatan pembelajaran yang menyesuaikan pada kebutuhan setiap peserta didik. Hal ini bertujuan agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan menyenangkan sehingga mencapai konsep merdeka belajar. Tomlinson . mengemukakan pembelajaran berdiferensiasi sebagai upaya adaptasi pembelajaran di kelas agar terpenuhinya kebutuhan belajar peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi dimaksudkan guru dalam kegiatan belajar harus memiliki inovasi agar siswa semangat dalam kegiatan pembelajar dan dapat mencapai keberhasilan dari suatu pembelajaran. Dalam bahasa sederhana, pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar yang student oriented dengan Keputusan yang masuk akal agar terpenuhinya kebutuhan murid (Kusuma & Luthfah, 2. Dalam pelaksanaan kegiatan mengajar sejarah dikelas melalui pendekatan berdiferensiasi dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan yang saling terkait dan berkesinambungan, dan berulang yang menciptakan sebuah siklus proses. Asesmen Diagnostik Asesmen diagnostik adalah evaluasi yang dilakukan dalam menguji pemahaman peserta didik, untuk mengetahui mengenai desain pembelajaran yang menyesuaikan dengan kesiapan peserta didik (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2. Asesmen diagnostik merupakan tahapan paling dasar dalam pembelajaran berdiferensiasi. Pada tahap ini guru melakukan tes awal untuk mengetahui kesiapan dan profil peserta didik. Adapun bentuk asesmen diagnostik dapat berupa tes tertulis, survey, wawancara, observasi, games, forum diskusi, tes psikologi, gaya belajar dan minat bakat. Dalam temuan di sekolah, peneliti menemukan proses asesmen diagnostic atau asesmen awal dilakukan dengan pemberian link https://akupintar. id/tes-gaya-belajar. Pada link tersebut memuat beberapa pertanyaan mengenai kebiasaan-kebiasaan yang dianggap paling mendekati dari setiap peserta didik, yang pada akhirnya menghasilkan gaya belajar yang dimiliki peserta didik tersebut. Link tersebut pada awalnya dibagikan oleh guru kepada peserta didik, untuk kemudian setiap peserta didik membuka dan mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam link tersebut. Setelah selesai, siswa memperoleh hasil gaya belajarnya dan mendapatkan informasi mengenai cara belajar yang baik bagi mereka (Wawancara dengan DV, 2. Dari pernyataan peserta didik tersebut, memaparkan sudah dilakukannya asesmen awal sebelum memulai pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengetahui gaya belajar masing-masing peserta didik. Dari adanya informasi mengenai gaya belajar peserta didik inilah yang dijadikan dasar oleh guru dalam menerapkan metode pembelajaran. Begitu juga dengan peserta didik yang bisa memahami gaya belajarnya, sehingga pembelajaran dapat maksimal. Page 70 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Analisis CP dan ATP Sejalan dengan asesmen diagnostik, pada tahap ini dilanjutkan dengan dilakukan analisis CP dan ATP. Pada analisis CP dan ATP, guru menyesuaikan dari hasil diagnostic asesmen yang sudah dilakukan. Untuk kemudian guru memilih CP yang akan diajarkan kepada peserta didik, kemudian dilanjut dengan pembuatan Alur Tujuan Pembelajaran. Setelah ATP dibuat, guru merancang strategi pembelajaran yang tepat dan juga merancang modul pembelajaran yang akan dibuat, tentunya berdasarkan kebutuhan murid (Marta, et al. , 2. Dari hasil observasi, peneliti melihat modul ajar yang dimuat oleh guru sejarah sudah memuat CP dan ATP. Adapun CP yang diambil mengenai materi asal usul nenek moyang. Untuk ATP yang diturunkan yaitu Audengan bernalar kritis dan mandiri, peserta didik dapat menganalisis konsep asal usul nenek moyang meliputi: Asal usul nenek moyang Teori asal usul nenek moyang Kaitannya dengan masyarakat Indonesia saat ini. Hasil Asesmen Diagnostik peserta didik dan Analisis Kurikulum Berdasarkan hasil asesmen diagnostik peserta didik dilakukan dengan menggunakan analisis kurikulum, yang meliputi konten, proses, produk, dan tahap evaluasi. Keempat proses analisis kurikulum yang dilakukan tersebut, secara lebih rinci dijelaskan, sebagai berikut: Konten Diferensiasi konten, erat kaitannya dengan materi yang akan dipelajari oleh peserta didik. Guru dapat menyesuaikan pemilihan bahan ajar untuk menyajikan materi kepada siswa berdasarkan asesmen diagnostik dan asesmen kurikulum yang sudah dilakukan. Adapun pemilihan bentuk konten bagi peserta didik dirumuskan Rowntree (Purba, et al. , 2. sebagai pertama, bahan cetak: buku, panduan belajar siswa, modul Latihan, lembar kerja siswa, peta, diagram, foto, majalah, surat kabar, dan sebagainya. Kedua, materi pendidikan berbasis digital seperti program audio, film, acara televisi, video interaktif, tutorial digital, dan Ketiga, ada materi Latihan dan proyek seperti bahan ajar, lembar observasi, lembar wawancara, dan lain-lain. Keempat, bahan Pelajaran, seperti aplikasi pembelajaran, telepon genggam, dan lain-lain, terutama diperlukan untuk interpersonal dalam pendidikan jarak jauh. Hasil temuan dilapangan Bapak Ilham sudah menerapkan diferensiasi konten dengan memberikan sumber belajar berupa buku cetak dan LKPD. Selain itu, pada pembelajaran sejarah Bapak Ilham dan Ibu Wini sudah memberikan bahan ajar berbasis teknologi dengan memberikan materi dengan Bahasa yang sederhana pada ebook yang didalamnya diberikan barcode yang akan membawa peserta didik memudahkan akses untuk mencari video pembelajaran sejarah. Ebook yang disajikan oleh guru sejarah, menggunakan bookcreator. Dimana didalamnya guru memaparkan mengenai pembelajaran sejarah mengenai asal usul nenek moyang yang berasal dari 4 teori. Adapun teori asal usul nenek moyang yaitu Teori Yunan. Teori Nusantara. Teori Out of Afrika, dan Teori Out of Taiwan. Keempat teori tersebut menjelaskan mengenai Page 71 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang asal usul nenek moyang di Indonesia, yang pada akhirnya mengajak siswa berpikir kritis dan juga berpikir kreatif. Keragaman konten dalam pembelajaran sejarah juga terlihat dengan disediakannya barcode yang akan mengantarkan peserta didik menemukan video pembelajaran mengenai keempat teori tersebut. Keragaman konten ini akhirnya mampu melayani kebutuhan gaya belajar siswa yang juga beragam. Proses Dalam diferensiasi proses, guru mempertimbangkan strategi yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan murid. Selain menggunakan strategi yang beragam dan tepat, dalam diferensiasi proses juga diperlukan diferensiasi lingkungan belajar. Dalam diferensiasi proses juga diharapkan peserta didik akan mampu memperoleh pengalaman belajar yang kaya, relevan, dan kontekstual dan terciptanya pengalaman berhasil bagi peserta didik. Pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru sejarah, diferensiasi proses cukup terlihat walaupun sedikit terkendala dengan fasilitas ruangan di kelas. Guru sejarah melakukan strategi dengan penggunaan book creator untuk menjangkau kebutuhan gaya belajar. Pemilihan book creator sendiri karena bisa dibuka melalui gadget peserta didik dan dapat dibuka kapanpun dan dimana saja. Penggunaan media ini juga diharapkan mampu menjangkau seluruh gaya belajar peserta didik yang beragam (Wawancara dengan IH, 2. Saat diberikan ebook kepada peserta didik, mereka terlihat sangat antusias dengan gambar-gambar, materi teori asal usul nenek moyang, dan video pembelajaran. melalui media yang mampu menaungi gaya belajar siswa yang beragam ini, ternyata peneliti menemui sebuah keterampilan berpikir kritis dan kreatif pada peserta didik. Keterampilan berpikir kreatif terjadi ketika guru mengeluarkan pertanyaan Aumenurut kalian, teori apa yang paling tepat untuk menjelaskan asal usul nenek moyang?Ay. Dari pertanyaan tersebut, membuat peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompok satu dan lainnya. Selain keterampilan berpikir kritis, pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah juga terlihat memacu untuk siswa berpikir kreatif dengan produk yang nantinya harus dibuat. Dari hasil temuan, pembelajaran sejarah yang dilakukan oleh dua guru sejarah hampir Namun terdapat sedikit perbedaan pada strategi pembelajaran yang dilakukan Ibu WN. Ibu WN terlihat menggunakan link padlet yang dibagikan kepada siswa saat kegiatan Link padlet tersebut digunakan Ibu WN sebagai media diskusi peserta didik mengenai materi yang sudah dipelajari. Ketika diamati, ternyata dari hasil pemberian link padlet tersebut membuat peserta didik yang pasif dalam pembelajaran, mampu mengungkapkan pendapat melalui tulisan. Link padlet diakui dapat membantu cara belajar peserta didik yang kurang percaya diri dalam kegiatan diskusi secara langsung, sehingga cenderung pasif. Pasifnya peserta didik ini dikarenakan, kurang beraninya untuk mengungkapkan pendapat secara langsung. Untuk mengatasi itu, guru mengantisipasinya dengan menggunakan media yang mampu menjadi perantara peserta didik dalam mengungkapkan pendapat (Wawancara dengan WN, 2. Keberagaman proses dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah sudah Page 72 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang sangat terlihat baik. Mulai dari adanya diskusi kelompok kecil maupun kelompok besar dan media pembelajaran digitan dan non digital. Keberagaman kegiatan ini dapat dinilai efektif karena mampu memenuhi kebutuhan gaya belajar murid yang beragam. Produk Untuk diferensiasi produk, guru melihat dari asesmen diagnostic yang sebelumnya sudah dilakukan oleh siswa. Diferensiasi produk ini dilakukan sebagai tahapan asesmen sumatif dalam pembelajaran. Melalui pilihan produk yang sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Melalui diferensiasi produk ini, memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan pengalaman belajar yang kontekstual dari dunia nyata. Pembelajaran berdiferensiasi pada tahapan produk di kelas sejarah sangat terlihat baik. Di kelas sejarah beliau, peneliti melihat kemampuan para peserta didik dalam membuat produk pembelajaran dengan bentuk yang beragam. Mulai dari poster, power point, info grafis, komik, video, sampai dengan pembuatan cerpen. Keberagaman produk yang dihasilkan dalam pembelajaran sejarah ini dikarenakan kebebasan yang diberikan guru kepada peserta didik secara berkelompok dalam membuat tugas. Di kelas peserta didik sudah mampu menghasilkan beberapa produk yang berbeda sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Walaupun masih terdapat 1 atau 2 kelompok yang meniru tugas kelompok lain, sedangkan yang lainnya sudah kreatif membuat produk tentang materi asal usul nenek moyang dengan kreatif (Wawancara dengan IH, 2. Guru melakukan hal ini, karena guru ingin memberikan kebebasan kepada setiap peserta didik dalam menciptakan kreatifitas-kreatifitas. Hal yang baru ditemui yaitu terdapat kelompok yang mampu membuat cerpen dengan materi dasar teori asal usul nenek moyang. Kelompok tersebut mampu menyajikan produk asal usul dengan bahsa yang sederhana melalui cerpen dan mudah dipahami peserta didik dalam membaca (Wawancara dengan WN, 2. Dari produk-produk yang dibuat oleh peserta didik, peneliti menemukan keterampilan berpikir kreatif peserta didik. Peserta didik setelah melakukan diskusi dalam kegiatan inti, dianjurkan untuk membuat produk sebagai projek pembelajaran. terdapat kelompok yang membuat komik mini dengan lukisan manual yang menjelaskan mengenai konsep sederhana teori asal usul nenek moyang. Selain komik, peneliti juga menemui kelompok yang mampu membuat cerpen mengenai asal usul nenek moyang yang dikemas dengan Bahasa yang ringan dan membuat pembaca cerpen tersebut mampu seperti ada di dalam cerita. Peneliti juga menemui isi power point yang menurut peneliti sangat factual, karena kelompok mampu memberikan contoh real siswa yang ada di SMAN 23 Kabupaten Tangerang, yang berkaitan denga nasal usul nenek moyang berdasarkan empat teori tersebut. Dari beberapa contoh tersebut peneliti melihat bahwa kreatifitas peserta didik di kelas sejarah sangat baik. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi merupakan tahap akhir yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Dalam tahap evaluasi, guru dan peserta didik secara bersama-sama merefleksikan pengalaman pembelajaran yang sudah dilakukan bersama. Tahap evaluasi dirasa penting karena untuk Page 73 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang mengetahui indikator keberhasilan dalam pembelajaran baik dari sisi guru maupun peserta Jika melihat hasil temuan pembelajaran berdiferensiasi di kelas sejarah, pada tahap evaluasi sudah dilakukan namun belum maksimal. Evaluasi baru sekedar siswa secara berkelompok diberikan kesempatan untuk memaparkan hasil produk yang sudah mereka buat di depan kelas. Namun dalam melakukan refleksi masih bersumber dari guru dan beberapa siswa yang secara spontan mengemukakan. Jadi pada pembelajaran sejarah ini belum adanya kesempatan diskusi antara guru maupun murid mengenai bagaimana pengalaman pembelajaran Siswa juga belum diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat mengenai cara guru mengajar ataupun saran dari pengalaman pembelajaran berdiferensiasi ke Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pembelajaran diawali dengan kegiatan pembentukan kelompok, kemudian diberikan tugas. Peserta didik membuat produk yang beragam, dalam hal ini dibebaskan sesuai bakat dan minat peserta didik. Adapun penilaian yang dinilai pada produk dan pemaparannya . percaya diri 20%. kemampuan menjelaskan 20%. kemampuan bertanya 20%. menghargai pendapat teman 20%. kreativitas dalam membuat produk 20%. Hasil ini diperoleh peneliti berdasarkan hasil observasi terhadap modul yang dibuat oleh guru. Evaluasi pada pembelajaran berdiferensiasi menggunakan dasar penilaian secara berkelanjutan yang sudah direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Adapun penilaian produk pembelajaran berdasarkan pada ranak pengetahuan, afektif, dan psikomotorik. Dampak Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah Pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang memberikan beberapa dampak yang signifikan. Adapun beberapa dampak yang peneliti temui diantaranya yaitu: Meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada pembelajaran sejarah Pada pembelajaran sejarah, keterampilan kritis terlihat saat kegiatan diskusi dalam Diskusi terlihat aktif karena media yang disediakan guru beragam, sehingga banyak peserta didik yang tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan. Siswa yang memiliki gaya belajar visual, merasa tertarik dengan pembelajaran dengan menggunakan media buku ajar dan juga video. Siswa dengan gaya belajar audiotory merasa tertarik dengan pemaparan guru dan juga video yang ditampilkan. Siswa dengan gaya belajar kinestetik senang dengan kegiatan diskusi kelompok karena ada kegiatan bergerak ke depan. Hasil temuan dilapangan, siswa juga mengatakan bahwa melalui pembelajaran berdiferensiasi, mampu memudahkan mereka dalam memahami pembelajaaran asal usul nenek Ada hal yang memotivasi mereka untuk mencari sumber bacaan lain dari yang guru Mereka merasa bersemangat untuk menampilkan produk yang baik untuk dipaparkan di depan kelas (Wawancara dengan KS, 2. Dari pernyataan tersebut dapat terlihat juga salah satu pemikiran kritis siswa dalam mencari materi pembelajaran dari berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan akan materi asal usul nenek moyang. Page 74 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Meningkatkan keterampilan berpikir kreatif pada pembelajaran sejarah Dalam keterampilan kreatif juga sangat terlihat jelas dari adanya kebebasan yang diberikan guru terhadap peserta didik dalam membuat projek. Dari kebebasan tersebut, muncul beragam tugas dengan bentuk yang berbeda. Diawali dari produk sederhana seperti poster digital hingga dengan bentuk yang kompleks seperti komik dan cerpen yang masih jarang ditemui dalam hasil produk pembelajaran sejarah. Siswa juga mengakui merasa senang dengan pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah, karena disamping mempelajari materi sekolah, mereka juga bisa mengasah keterampilan mereka yaitu membuat komik yang sebelumnya sering mereka lakukan ketika SD. Namun saat di SMP itu semua terhenti karena tidak adanya ruang untuk berkreasi. Pembelajaran diferensiasi juga diakui peserta didik dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa karena mampu menyalurkan hobinya untuk membuat komik (Wawancara dengan AD, 2. Pernyataan tersebut memaparkan bahwa melalui pembelajaran berdiferensiasi memberikan dampak yang berarti khusunya dalam pemikiran kreatif. Keterampilan berpikir kreatif dapat muncul setelah diberikannya kesempatan bagi peserta didik agar membuat produk sesuai dengan karakteristik siswa. Jika dicermati, ada perasaan senang karena merasa diakui kemampuan yang dimiliki peserta didik tersebut di hadapan teman dan juga guru. Hambatan Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah erat kaitannya dengan tahapan pembelajaran mulai dari tahap awal, tahap inti . erdiferensiasi konten, proses, dan produ. , dan tahap akhir. Adanya ketiga tahap ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga terkadang waktu 2x45 menit dalam satu kali pertemuan dirasa kurang cukup untuk pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi. Kurangnya waktu dalam pembelajaran menjadi salah satu penghambat yang peneliti temui dalam observasi dikelas. Hambatan lain juga peneliti temui pada sarana dan prasarana yang ada di SMAN 23 Kabupaten Tangerang. Seperti halnya daya Listrik yang kurang memadai ketika seluruh kelas menggunakan infocus, maka Listrik akan turun. Selain itu konsep kelas yang lebih kecil disbanding kelas normal pada umumnya, membuat gerak pembelajaran dikelas menjadi susah. Hal ini terlihat saat akan dibuat duduk perkelompok yang cukup memakan waktu saat Kesimpulan Dari temuan dilapangan, dapat ditarik kesimpulan yaitu pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang sangat efektif. Hal ini dapat terlihat dari mulai proses persiapan yang melakukan asesmen awal kepada siswa, kemudian melakukan kegiatan inti dengan beberapa diferensiasi konten, proses, dan produk, dan pada kegiatan akhir. Peneliti menemui inovasi yang diberikan guru pada saat pembelajaran agar keragaman peserta didik dapat terpenuuhi semua. Inovasi yang ditemui yaitu dengan adanya Page 75 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang pembuatan modul pembelajaran yang dibuat secara pribadi, kemudian guru secara kreatif memaksimalkan sumber daya yang ada ditengah fasilitas yang minim di sekolah. Guru mampu menggunakan gadget sebagai media untuk pembelajaran. Dari penelitian ini, peneliti menemukan tidak hanya pembelajaran yang berorientasi kepada siswa melainkan juga merubah paradigma mengenai pembelajaran sejarah yang semula membosankan menjadi menyenangkan, selain itu melalui pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreatif, dan komunikasi pada peserta didik. Hal ini dibuktikan dari proses pembelajaran yang berhasil meningkatkan keterampilan abad ke 21 dari hasil produk yang disajikan. Namun dalam pelaksanaannya, tetap terdapat hambatan yang ditemui. Mulai dari waktu yang kurang dan juga sarana prasarana sekolah yang kurang memadai. Keterbatasan ini yang membuat pembelajaran berdiferensiasi pada mata Pelajaran sejarah di SMAN 23 Kabupaten Tangerang kurang maksimal. Daftar Rujukan Bendriyanti. Dewi. , & Nurhasanah. Manajemen pembelajaran berdiferensiasi dalam meningkatkan kualitas belajar siswa kelas ix smpit khairunnas. (Jurnal Pendidika. Teori Praktik, 6. , https://doi. org/10. 26740/jp. Elviya. , & Sukartiningsih. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum merdeka pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas IV sekolah dasar di SDN Lakarsantri I/472 Surabaya. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 11. , https://ejournal. id/index. php/jurnal-penelitianpgsd/article/view/54127. Rahmawati. Sutiyah. Abidin. Implementasi Pembelajaran Sejarah dalam Kurikulum Merdeka Kelas X di SMA Penggerak Surakarta. Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Serarah, 22. , 80Ae94. https://jurnal. id/candi/article/view/72327. Suyanti. Peran guru sejarah dalam pendidikan karakter di Era Revolusi Industri 4. FOUNDASIA, 10. , 33-44. https://doi. org/10. 21831/foundasia. Tomlinson. Differentiation of Instruction in the Elementary Grades. ERIC Digest. Widiastuti Y. Rani. Wahyuni. Implementasi dan Asesmen Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Materi Anekdot Untuk Siswa SMA. Semantik, 12. , 61Ae74. https://doi. org/10. 22460/semantik. Yin. Case Study Research: Design and Methods (Third Edi. California: SAGE Publication Inc. Faiz. Pratama. , & Kurniawaty. Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Program Guru Penggerak pada Modul 2. Jurnal Basicedu, 6. , 2846Ae2853. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan. Pembelajaran dan Asesmen (Pertam. Bandan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Page 76 of 77 Dede Novita Jumiarti. Fakhruddin. Nur Aeni Marta Implementasi Pembelajaran Diferensiasi pada Mata Pelajaran Sejarah: Studi Kasus di SMAN 23 Kabupaten Tangerang Kusuma. , & Luthfah. Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdifeerensiasi. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Mahdiannur. Erman. Martini. Nurita. , & Rosdiana. Eksplorasi Pengetahuan Guru IPA SMP Tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka: Pengukuran Berdasarkan Complex Multiple-Choice Survey. Jurnal Tarbiyah, 29. , 295-310. https://doi. org/10. 30829/tar. Marta. Djunaidi, & Martini. Mengembangkan Kompetensi Profesional Guru Untuk Pembelajaran Inovatif Kurikulum Merdeka di SMP Pattimura. Sarwahita, 20. , 204Ae213. https://doi. org/10. 21009/sarwahita. Mastuti. Abdillah. , & Rumodar. Peningkatan Kualitas Pembelajaran Guru Melalui Workshop dan Pendampingan Pembelajaran Berdiferensiasi. JMM (Jurnal Masyarakat Mandir. , 6. , 1Ae9. https://doi. org/10. 31764/jmm. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Miles. Huberman. , & Saldana. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (Third edi. Arizona State University: SAGE. Mirzachaerulsyah. Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi Pada Mata Pelajaran Sejarah (Studi pada SMA Negeri di Pontiana. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9. , 1-6. https://doi. org/10. 5281/zenodo. Nugorho. SMAN 23 Jadi Satu-Satunya SMA Negeri Terbaik di Kabupaten Tangerang. Apa lagi SMA Terbaik di Tangerang? https://jateng. com/pendidikan/pr-3737900195/sman-23-jadi-satu-satunya-sma-negeri-terbaik-dikabupaten-tangerang-apa-lagi-sma-terbaik-di-tangerang?page=all. Purba. Purnamasari. Soetantyo. Suwarna. , & Susanti. Prinsip Pengembangan Pembelajaran Berdiferensiasi. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Safarati. , & Zuhra. Literature review: pembelajaran berdiferensiasi di sekolah Jurnal Genta Mulia, 14. Susanto. Sandi. , & Shofiani. Pembelajaran berdiferensiasi dan kreativitas menulis cerpen peserta didik program sekolah penggerak angkatan pertama jenjang SMP Kota Probolinggo. GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 181-190. https://doi. org/10. 19105/ghancaran. Page 77 of 77