150 HUBUNGAN POLA ASUH IBU BEKERJA TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK CEMARA JAKARTA UTARA THE RELATIONSHIP BETWEEN PARENTING OF WORKING MOMAo AND THE SOCIAL DEVELOPMENT OF PRESCHOOL IN KINDERGARTEN CEMARA NORTH JAKARTA Fitria Wulan1*. Ernawani1. Khalida Ziah Sibualamu1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rumah Sakit Husada *E-mail: fwulan. cap555@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak prasekolah. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional, sebanyak 52 ibu bekerja di TK Cemara dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Instrumen penelitian meliputi data demografi, kuesioner pola asuh, dan kuesioner perkembangan sosial anak. Analisis data menggunakan uji Spearman menunjukkan mayoritas ibu menerapkan pola asuh positif . ,2%), namun 50% anak berisiko tinggi mengalami keterlambatan sosial. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak . = 0,191. p = 0,. Kata Kunci: Pola Asuh. Ibu Bekerja. Perkembangan Sosial. Anak Prasekolah. TK Cemara ABSTRACT This study aims to identify the relationship between the parenting styles of working mothers and the social development of preschool children. Using a quantitative approach with a descriptive correlational design, a total of 52 working mothers at TK Cemara were selected through total sampling. The research instruments included demographic data, a parenting style questionnaire, and a child social development questionnaire. Data analysis using the Spearman test showed that the majority of mothers applied positive parenting styles . 2%), yet 50% of children were at high risk of experiencing social developmental Statistical results indicated no significant relationship between the parenting styles of working mothers and the social development of preschool children . = 0. Keywords: Parenting Style. Working Mothers. Social Development. Preschool Children. TK Cemara Pendahuluan Masa prasekolah, yang mencakup usia 3 hingga 6 tahun, merupakan fase kritis dalam perkembangan anak, terutama dalam aspek sosial yang mencakup kemampuan berinteraksi, memahami emosi, dan membangun relasi dengan lingkungan. Pada tahap ini, anak sangat bergantung pada kualitas pengasuhan yang diberikan oleh orang tua, khususnya ibu, sebagai figur utama dalam pembentukan karakter dan keterampilan sosial. Namun, perubahan struktur sosial ekonomi telah mendorong banyak perempuan untuk menjalankan peran ganda sebagai pengasuh sekaligus Hal: 150-157 Hubungan Pola Asuh Ibu Bekerja terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Prasekolah di TK Cemara Jakarta Utara pencari nafkah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik . , sebanyak 49,53% perempuan dewasa di Indonesia aktif bekerja, dengan angka tertinggi di DKI Jakarta sebesar 43,60%. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam pengasuhan anak, terutama terkait keterbatasan waktu dan intensitas interaksi antara ibu dan anak. Studi terdahulu menunjukkan bahwa ibu bekerja memiliki tingkat stres yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi pola asuh dan berdampak pada perkembangan anak, termasuk risiko keterlambatan sosial. Pola asuh yang kurang responsif atau tidak kemampuan anak dalam membangun hubungan sosial yang sehat, seperti empati, komunikasi, dan pengendalian emosi. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji hubungan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak prasekolah, khususnya di TK Cemara. Jakarta Utara. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada karakteristik wilayah urban yang memiliki proporsi ibu bekerja cukup tinggi, serta keberadaan TK Cemara sebagai institusi pendidikan anak usia dini yang aktif melibatkan orang tua dalam proses Penelitian di tempat ini diharapkan dapat memberikan gambaran kontekstual yang relevan dan menjadi dasar intervensi yang sesuai dengan kebutuhan Metodologi Penelitian Penelitian pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional untuk mengkaji hubungan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak usia prasekolah. Populasi penelitian mencakup seluruh ibu bekerja yang memiliki anak usia 3Ae6 tahun di TK Cemara. Jakarta Utara. Sampel terdiri dari 52 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi: ibu bekerja . aik dari rumah maupun di luar ruma. , memiliki anak Instrumen yang digunakan meliputi: kuesioner pola asuh . item, skala Likert 1Ae. , . kuesioner perkembangan sosial anak menggunakan Ages and Stages Questionnaires: Social-Emotional (ASQ:SE) sebanyak 36 item dengan skala frekuensi, serta . kuesioner demografi yang mencakup usia anak, jenis kelamin, urutan kelahiran, dan jenis pekerjaan ibu. Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan konsistensi internal yang baik dan layak digunakan, dengan nilai CronbachAos Alpha masing-masing sebesar 0,741 untuk pola asuh dan 0,845 untuk perkembangan sosial Data dianalisis menggunakan SPSS Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, sedangkan analisis bivariat dilakukan dengan uji Spearman. Pemilihan uji Spearman didasarkan pada karakteristik data yang bersifat ordinal dan tidak berdistribusi normal, sehingga sesuai untuk mengukur kekuatan dan arah hubungan antar variabel. Tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. Hasil Penelitian Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden . Karakteristik Responden Usia Anak prasekolah Ibu bekerja Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Urutan Anak Pertama Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ibu Bekerja Bekerja dari rumah Bekerja dari luar rumah Responden MeanASD 3,60 A 1,053 36,40 A 5,18 Penelitian ini melibatkan 52 ibu bekerja yang memiliki anak usia prasekolah di TK Cemara, dengan komposisi anak yang relatif seimbang berdasarkan jenis kelamin . perempuan dan 25 laki-lak. Usia anak berkisar antara 3 hingga 7 tahun, dengan rata-rata 5,6 tahun dan simpangan baku 1,053. Rentang usia yang homogen ini mencerminkan karakteristik perkembangan sosial yang sedang berkembang pesat, terutama pada usia 4Ae6 tahun yang dikenal sebagai golden age, yaitu masa optimal dalam pembentukan keterampilan sosial, emosional, dan motorik (Soetjiningsih & Ranuh, 2016. Syahrul & Nurhafizah, 2. Sebagian besar anak merupakan anak pertama . ,8%), diikuti oleh anak kedua, ketiga, dan keempat. Dominasi anak sulung ini relevan karena urutan kelahiran sering dikaitkan dengan intensitas perhatian orang tua dan pengalaman pengasuhan yang lebih perkembangan sosial anak. Usia ibu berkisar antara 28 hingga 49 tahun . erata 36,4 tahun. SD = 5,. , mencerminkan variasi tingkat kedewasaan dan pengalaman Mayoritas ibu . ,3%) bekerja di luar rumah, sementara sisanya bekerja dari Perbedaan lokasi kerja ini berimplikasi pada fleksibilitas waktu dan intensitas interaksi dengan anak. Ibu yang bekerja dari rumah cenderung memiliki peluang lebih besar untuk menjalin kedekatan emosional, sedangkan ibu yang bekerja di luar rumah menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan. Hal ini sejalan menunjukkan bahwa peran ganda ibu dapat meningkatkan stres dan memengaruhi efektivitas pola asuh (Prasetyanti & Saidah. Alisma & Adri, 2. Dalam hal pola asuh, sebanyak 96,2% ibu menerapkan gaya pengasuhan positif, seperti demokratis dan suportif, sementara 3,8% lainnya menunjukkan kecenderungan pola asuh negatif. Namun, meskipun pola asuh positif mendominasi, hasil pengukuran perkembangan sosial anak menunjukkan bahwa 50% berada pada kategori risiko tinggi keterlambatan, 36,5% risiko sedang, dan hanya 13,5% yang Temuan mengindikasikan bahwa selain pola asuh, terdapat faktor lain yang turut memengaruhi perkembangan sosial anak, seperti kualitas interaksi, dukungan lingkungan, dan kondisi individual anak. Tabel Distribusi Perkembangan sosial anak Perkembangan anak Risiko Rendah Risiko Sedang Risiko Tinggi Total Frekuensi Penelitian Jatmiko et al. menyoroti bahwa faktor-faktor maternal seperti usia ibu, status gizi, dan riwayat Hubungan Pola Asuh Ibu Bekerja terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Prasekolah di TK Cemara Jakarta Utara Hal: 150-157 persalinan memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan sosial anak. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kondisi biologis dan psikososial ibu sejak awal kehidupan anak berperan sebagai fondasi perkembangan yang Pada usia 3Ae6 tahun, anak mulai menunjukkan perilaku sosial yang khas, seperti berbagi, berkomunikasi aktif, membentuk relasi, dan memahami tanggung jawab sosial (RofiAoah et al. , 2022. Wondemagegn & Mulu, 2. Fase ini, terutama usia 4Ae6 tahun, merupakan masa kritis dalam pembentukan karakter sosial, di mana proses internalisasi nilai-nilai interaksi dan empati berlangsung secara intensif (Syahrul & Nurhafizah, 2. Namun, menunjukkan bahwa separuh dari anak yang diteliti berada dalam kategori risiko tinggi keterlambatan sosial. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun pola asuh positif telah diterapkan, hal tersebut perkembangan sosial yang optimal. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang lebih kualitas interaksi emosional antara orang tua dan anak, serta dukungan lingkungan yang kondusif. Orang tua dapat memperkuat stimulasi sosial anak melalui komunikasi yang reflektif, keterlibatan dalam aktivitas bersama, dan penciptaan ruang aman untuk eksplorasi sosial yang Tabel Distribusi Perkembangan sosial anak Frekuensi Pola asuh Positif Negatif Total Hasil analisis terhadap 52 responden menunjukkan bahwa sebagian besar ibu bekerja di TK Cemara . %) menerapkan pola asuh positif, seperti demokratis dan suportif, sementara hanya 4% menunjukkan kecenderungan pola asuh negatif. Temuan ini mencerminkan kemampuan ibu bekerja dalam menciptakan lingkungan pengasuhan yang responsif, meskipun menghadapi keterbatasan waktu akibat peran ganda. Pola asuh positif yang ditandai dengan komunikasi terbuka dan penghargaan terhadap kemandirian anak berkontribusi terhadap pembentukan konsep diri dan kestabilan emosional anak (Prasetyanti & Saidah, 2021. Rohmalimna et al. , 2. Sebaliknya, pola asuh negatif yang ditemukan pada sebagian kecil responden menunjukkan potensi risiko terhadap perkembangan anak, terutama dalam hal kelekatan emosional dan pembentukan harga diri. Kurangnya perhatian dan konsistensi dalam pengasuhan dapat menimbulkan ketidakpastian dalam diri anak, yang berdampak pada aspek sosial dan psikologisnya. Fenomena kompleksitas dinamika pengasuhan dalam konteks ibu bekerja, khususnya bagi mereka yang beraktivitas di luar rumah. Keterbatasan waktu dan intensitas interaksi menjadi tantangan dalam menjaga kualitas relasi dengan anak. Krisdiantini et al. pengasuhan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan anak, sementara Zahara dan Masitah . menambahkan bahwa pola asuh demokratis cenderung meningkatkan kepercayaan diri, meskipun tidak selalu berdampak langsung pada seluruh aspek perkembangan. Dengan demikian, penting bagi ibu bekerja untuk tidak hanya mempertahankan pola asuh positif, tetapi juga memastikan keterlibatan emosional yang konsisten. Dukungan dari lingkungan sekitar, pendidikan, menjadi krusial dalam menjaga kualitas pengasuhan di tengah tuntutan Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. Tabel 4. Hubungan Pola Asuh Ibu Bekerja terhadap Perkembangan Sosial Anak prasekolah di TK Cemara Frekuensi pola asuh ibu bekerja . Perkembangan Sosial Koefisien Korelasi . 0,191 p-value 0,174 Uji Korelasi Spearman Hasil analisis bivariat menggunakan uji Spearman menunjukkan korelasi negatif yang sangat lemah antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak . = Oe0,191. p = 0,. , yang tidak signifikan Temuan mengindikasikan bahwa dalam konteks ibu bekerja di TK Cemara, gaya pengasuhan tidak memiliki pengaruh langsung terhadap capaian perkembangan sosial anak usia Meskipun mayoritas ibu menerapkan pola asuh positif, hal tersebut belum cukup untuk menjamin optimalnya perkembangan sosial anak. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai dimensi, termasuk faktor biologis, lingkungan, dan Studi sebelumnya oleh Ramadhani et . dan Rumalean et al. menunjukkan bahwa aspek seperti tidak menerima ASI eksklusif, kondisi kesehatan, dan riwayat persalinan turut berkontribusi terhadap keterlambatan perkembangan. Dengan demikian, diperlukan kajian lanjutan yang lebih komprehensif terhadap variabel eksternal seperti kualitas interaksi anak di lingkungan sekolah, dukungan sosial keluarga, dan status kesehatan anak. Pendekatan melibatkan orang tua, pendidik, dan tenaga merancang intervensi yang lebih efektif dalam mendukung perkembangan sosial anak secara menyeluruh. Pembahasan Temuan utama dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas ibu bekerja di TK Cemara menerapkan pola asuh positif, seperti demokratis dan suportif, yang ditandai dengan komunikasi terbuka, dukungan emosional, dan penghargaan terhadap kemandirian anak. Pola asuh ini secara teoritis dianggap mendukung perkembangan sosial anak (Baumrind, 1. , namun dalam konteks ibu bekerja, efektivitasnya tampak tereduksi oleh keterbatasan waktu dan intensitas interaksi. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas pola asuh tidak hanya ditentukan oleh gaya pengasuhan, tetapi juga oleh konsistensi berkelanjutan (Prasetyanti & Saidah, 2. Menariknya, meskipun pola asuh positif mendominasi, sebanyak 50% anak dalam penelitian ini menunjukkan risiko tinggi keterlambatan sosial. Temuan ini menyoroti adanya faktor eksternal yang turut berperan, seperti kualitas lingkungan sekolah, dukungan keluarga luas, status gizi, dan riwayat persalinan (Jatmiko et al. Ramadhani et al. , 2. Anak yang tidak mendapatkan stimulasi sosial yang memadai cenderung mengalami kesulitan dalam membangun relasi, memahami emosi orang lain, dan berpartisipasi dalam interaksi sosial yang sehat. Dengan demikian, pendekatan pengasuhan tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dikombinasikan dengan dukungan sistemik dari lingkungan sekitar anak. Hasil uji Spearman menunjukkan korelasi lemah dan tidak signifikan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak. Temuan ini memperkuat gagasan bahwa hubungan antara pola asuh dan perkembangan sosial bersifat kompleks dan tidak selalu linier. Penelitian Zahara & Masitah . juga mengungkap bahwa meskipun pola asuh demokratis dapat meningkatkan kepercayaan diri anak, dampaknya terhadap aspek sosial tidak selalu langsung terlihat. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada konteks ibu bekerja di wilayah urban, yang menghadapi tekanan waktu dan peran ganda, namun tetap berusaha menerapkan pola asuh Hal: 150-157 Hubungan Pola Asuh Ibu Bekerja terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Prasekolah di TK Cemara Jakarta Utara Hal ini membuka ruang diskusi bahwa dalam situasi keterbatasan, kualitas interaksi singkat namun bermakna mungkin lebih menentukan daripada kuantitas waktu Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi orang tua dan pendidik. Bagi ibu bekerja, penting kebersamaan dengan anak melalui interaksi yang hangat, responsif, dan terstruktur. Sementara itu, bagi pendidik di PAUD, hasil ini menegaskan perlunya kolaborasi aktif dengan orang tua dalam memberikan stimulasi sosial yang konsisten, termasuk melalui kegiatan kelompok, simulasi emosi, dan pembiasaan interaksi positif. Intervensi yang bersifat lintas sektor melibatkan keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan perkembangan sosial anak secara holistik. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu bekerja dan perkembangan sosial anak prasekolah di TK Cemara . = 0,191. p = 0,. Meskipun sebagian besar ibu menerapkan pola asuh demokratis dan suportif, hal tersebut belum cukup menjamin optimalnya perkembangan sosial anak. Temuan ini pengasuhan perlu ditopang oleh faktorfaktor lain seperti intensitas keterlibatan emosional, stimulasi sosial yang konsisten, serta dukungan lingkungan belajar yang responsif terhadap kebutuhan anak. Sebagai rekomendasi praktis, guru di PAUD memperkuat peran sebagai fasilitator sosial dengan menciptakan aktivitas yang mendorong interaksi, empati, dan kerja sama antar anak. Orang tua, khususnya ibu bekerja, disarankan untuk memaksimalkan waktu berkualitas bersama anak melalui komunikasi yang hangat dan kegiatan yang bersifat reflektif sosial, meskipun dalam durasi yang terbatas. Peneliti selanjutnya disarankan untuk mengkaji pengaruh variabel eksternal seperti pola interaksi di sekolah, dukungan ayah, status gizi, dan kondisi psikososial keluarga, serta melakukan perbandingan antara ibu bekerja dan tidak bekerja dalam berbagai konteks sosial ekonomi untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Daftar Pustaka