Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus ------------------------------- Volume 2 Nomor 2. November 2024 e-ISSN 3024-8493 PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG PERAWATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS PADA BALITA Julia Pratiwi. Obar Obar. Parida Sania. Sherlita Davina Wijaya. 1,3,4 Program Studi D3- Kebidanan. STIKes Permata Nusantara. Indonesia Program Studi S-1 Keperawatan. STIKes Permata Nusantara. Indonesia Abstrak Balita rentan terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA. Berdasarkan data World Health Organization, secara keseluruhan ada sekitar 15 juta kematian balita per tahun. Ada sekitar 20-30% di antaranya meninggal karena menderita ISPA. ISPA menjadi penyebab kasus kematian bayi dan balita di negara berkembang. Riskesdas . , kejadian ISPA pada bulan Desember sebesar 25,5%, dengan kejadian tertinggi terjadi pada anak usia lima tahun sebesar 35%. Menurut SDKI 2017, prevalensi ISPA tertinggi pada anak usia 24-35 bulan, yaitu sebesar Hasil pendataan yang sudah dilakukan di Puskesmas Kota Cianjur pada tahun 2020, ditemukan kasus ISPA yang paling banyak terjadi yaitu 4. 128 kasus. Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi hubungan pengetahuan dan sikap Ibu tentang perawatan ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Cijedil Kabupaten Cianjur. Metode penelitian deskriptif korelatif cross-sectional study dengan sampel 93 orang. Hasil uji chi-square terdapat hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang perawatan ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur dengan p=0,000. Kata kunci: Balita. Ibu. Infeksi Saluran Pernapasan Atas. Pengetahuan. Sikap Abstract Toddlers are susceptible to Acute Respiratory Infections or ARI. Based on data from the World Health Organization, overall, there are around 15 million deaths of children under five per year. There are around 2030% of them who die from ISPA. ISPA is the cause of infant and toddler deaths in developing countries. Riskesdas . , the incidence of ISPA in December was 25. 5%, with the highest incidence occurring in five-year-old children at 35%. According to SDKI 2017, the prevalence of ISPA is highest in children aged 24-35 months, which is 14%. The results of data collection that have been carried out at the Cianjur City Health Center in 2020 found that the most cases of ISPA occurred at 4,128 cases. The purpose of this study is to explore the relationship between mothers' knowledge and attitudes about ISPA care in toddlers in the Working Area of the Cijedil Health Center. Cianjur Regency. The descriptive research method was a cross-sectional study with a sample of 93 people. The results of the chi-square test showed a relationship between mothers' knowledge and attitudes about the treatment of ISPA in toddlers in the working area of the Ciherang Health Center. Cianjur Regency with p=0. Keywords: Acute Respiratory Infection. Attitude. Knowledge. Mothers. Toddlers *email korespondensi: juliapratiwi@stikespernus. PENDAHULUAN Anak-anak rentan terhadap infeksi khususnya anak balita. Infeksi yang sering terjadi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA (Octavariny et al. , 2. ISPA adalah sebuah infeksi yang bersifat akut dan menyerang saluran pernapasan bagian atas. Balita di definisikan sebagai anak berusia di atas satu tahun hingga di bawah lima tahun (Handayani & Dewi, 2. Penyakit ISPA menimbulkan beberapa gejala seperti demam . C) ditambah dengan satu atau lebih gejala meliputi pilek disertai batuk berdahak maupun kering, sakit menelan atau sakit tenggorokan, terlihat pembengkakan amandel dan radang amandel atau telinga tengah. Pada anak yang mengalami ISPA biasanya terjadi batuk dan pilek yang berulang. ISPA juga dapat menimbulkan beberapa komplikasi yang berkaitan dengan saluran pernapasan bagian atas seperti radang faring, pneumonia, peradangan pada sinus, bahkan dapat menyebabkan sesak napas yang dapat menjadi kematian (Padila et al. , 2. Berdasarkan data dari WHO, secara keseluruhan ada sekitar 15 juta kematian balita per tahun. Ada sekitar 20-30% di antaranya meninggal karena menderita ISPA. ISPA menjadi penyebab kasus kematian bayi dan balita di negara berkembang. Kasus kematian tersebut dua pertiganya di didominasi oleh kelompok bayi yang berusia dua bulan pertama sejak kelahiran. Kejadian ISPA, di negara berkembang hampir sama dengan kejadian yang terjadi di Amerika. Afrika dan Asia yaitu dilaporkan ada sekitar 4-7 kali per anak per tahun (WHO 2. Kematian bayi dan balita di Indonesia didominasi oleh penyakit ISPA. Dari jumlah kematian yang tercatat yaitu 000 kematian, 33. 33% di antaranya meninggal karena ISPA. Berdasarkan hasil Riskesdas . , kejadian ISPA pada bulan Desember sebesar 25,5%, dengan kejadian tertinggi terjadi pada anak usia lima tahun sebesar Menurut SDKI 2017, prevalensi ISPA tertinggi pada anak usia 24-35 bulan, yaitu sebesar 14%. Menurut Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus------ http://jurnal-pernus. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus ------------------------------- Volume 2 Nomor 2. November 2024 e-ISSN 3024-8493 Dinas Kesehatan Jawa Barat, 28,4% kasus ISPA terjadi pada balita (Riskesdas, 2. Hasil pendataan yang sudah dilakukan di Puskesmas Kota Cianjur pada tahun 2020, ditemukan kasus ISPA yang paling banyak terjadi yaitu 128 kasus. Jika tidak ditangani dengan baik. ISPA dapat menyebabkan pneumonia dan kematian. Pneumonia merupakan manifestasi ISPA yang paling serius, sehingga dapat berakibat fatal. Pengendalian faktor risiko ISPA dapat mendukung upaya penurunan angka kematian pada bayi maupun balita (Lestari, 2. ISPA dapat ditangani di rumah oleh keluarga. Penanganan ISPA di rumah dapat dilakukan dengan cara memberikan obat parasetamol atau memberikan kompres pada anak dengan cara menggunakan kain atau handuk bersih lalu mencelupkan pada air. Pengompresan ini dilakukan tiga kali sehari untuk menurunkan demam pada anak (Suryanti, 2. Jika anak batuk dapat diberikan obat tradisional yang dapat dibuat sendiri seperti campuran jeruk nipis dengan madu atau kecap yang diberikan sehari tiga kali dengan dosis setengah sendok teh madu/kecap serta jeruk nipis. Cukup mengonsumsi makanan yang bergizi dengan porsi sedikit dan diberikan secara sering dapat dilakukan jika anak mengalami tidak nafsu makan. Jika anak muntah segera berikan banyak minum untuk menggantikan cairan yang keluar dan dapat membantu mengencerkan dahak. Penanganan ini dilakukan untuk mencegah kekurangan cairan atau dehidrasi yang dapat memperparah kondisi anak (Marleni et al. , 2. Selain itu, pengobatan tradisional lain dapat dengan cara mengoleskan minyak kayu putih kemudian dilakukan pemijatan atau dibawa ke tukang pijat supaya anak menjadi lebih rileks (Dary, 2. Selain itu pijat dengan minyak kayu putih ini dapat menjadi salah satu alternatif pengobatan ISPA di rumah selain menjaga kelembapan lingkungan tempat tinggal anak dan kebersihan diri supaya anak cepat sembuh dan dapat kembali beraktivitas. Apabila pengobatan tradisional tidak memperbaiki kondisi anak maka anak memerlukan perawatan lebih lanjut di pelayanan kesehatan (Marleni et al. , 2. Pengobatan penyakit ISPA di rumah ini dapat berjalan dengan optimal jika terdapat peran ibu di Peran ibu sebagai mekanisme yang mengurangi efek lanjutan dari masalah kesehatan yang terjadi pada anak dan keluarganya. Peran ini dapat berjalan dengan optimal jika ibu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ISPA, sehingga dapat membantu untuk melakukan identifikasi dan pencegahan ISPA lebih dini. Menurut Notoadmodjo . , sikap ibu yang baik dan peduli dalam menyikapi kondisi anaknya yang mengalami ISPA akan menghasilkan perawatan yang baik pada anak (Padila et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian Padila et al. , . yang mengulas mengenai sikap ibu terkait ISPA sebagian besar sikap ibu kurang baik . ,9%). Penyebab dari ini adalah gizi yang kurang baik, lingkungan rumah lembab, banyak asap rokok, serta tidak sehat dan tingkat pendidikan yang rendah. Dari uraian tersebut. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengeksplorasi Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Perawatan ISPA dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Cijedil Kabupaten Cianjur. METODE Desain penelitian deskriptif korelatif cross-sectional study. Sampel yang digunakan adalah Ibu yang memiliki anak Balita di Wilayah kerja Puskesmas Cijedil Kabupaten Cianjur sebanyak 93 orang dengan durasi waktu dari September 2023-Februari 2024. Uji statistic yang digunakan Chi-Square dengan pengujian statistika SPSS 25 dengan nilai p<0,05. HASIL Analisa Univariat Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil bahwa responden terbesar dengan usia 19-30 tahun sebanyak 43 orang . ,5%), dan sisanya sebagian kecil dari responden dengan usia 41-58 sebanyak 15 orang . ,4%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Ibu Usia Ibu Total Frekuensi . Persentase (%) 46,50% 35,70% 16,40% Berdasarkan Tabel 2 didapatkan hasil bahwa responden terbesar dengan usia anak 1-3 tahun sebanyak 63 orang . ,8%) dan sisanya hampir setengahnya dari responden dengan usia anak 4-5 tahun sebanyak 30 orang . ,3%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Anak Usia Anak Frekuensi . Persentase (%) Usia 1-3 Usia 4-5 Total 67,8% 32,3% Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus------ http://jurnal-pernus. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus ------------------------------- Volume 2 Nomor 2. November 2024 e-ISSN 3024-8493 Berdasarkan tabel 3 didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari responden dengan pendidikan SMA yaitu sebanyak 50 orang . ,8%), sisanya Sebagian kecil dari responden dengan pendidikan S1 yaitu sebanyak 5 orang . ,4%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu Pendidikan Ibu Frekuensi . Persentase (%) 19,4% SMP 21,5% SMA 53,8% 5,4% Total Berdasarkan Tabel 4 didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden dengan pekerjaan Ibu Rumah Tangga sebanyak 79 orang . ,9%), dan sisanya sebagian kecil dari responden dengan pekerjaan Karyawan Swasta sebanyak 3 orang . ,2%). Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu Pekerjaan Ibu Frekuensi . Persentase (%) Ibu Rumah Tangga 84,9% Wirausaha 6,5% Karyawan Swasta 3,2% PNS 5,4% Total 100,0% Berdasarkan Tabel 5 didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari responden didapatkan hasil pengetahuan cukup baik sebanyak 53 orang . ,0%), sebagian kecil dari responden dengan pengetahuan kurang baik sebanyak 20 orang . ,5%), sebagian kecil dari responden dengan pengetahuan baik sebanyak 12 orang . ,9%), dan sisanya sebagian kecil dari responden dengan pengetahuan tidak baik sebanyak 8 orang . ,6%). Tabel 5. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengetehuan Ibu Pengetahuan Ibu Frekuensi . Persentase (%) Baik 12,9% Cukup Baik 57,0% Kurang Baik 21,5% Tidak Baik 8,6% Total Berdasarkan Tabel 6 didapatkan hasil bahwa sebagian besar dari responden dengan sikap cukup baik sebanyak 46 responden . ,5%). sebagian kecil dari responden dengan sikap kurang baik sebanyak 24 orang . ,5%), sebagian kecil dari responden dengan sikap baik sebanyak 13 orang . ,0%), dan sisanya sebagian kecil dari responden dengan sikap tidak baik sebanyak 10 orang . %). Tabel 6. Distribusi Sikap Ibu terhadap ISPA Balita Sikap Ibu Frekuensi . Persentase (%) Baik 14,0% Cukup Baik 49,5% Kurang Baik 21,5% Tidak Baik Total Analisa Bivariat Berdasarkan Tabel 7 dari 53 responden . ,0%) memiliki tingkat pengetahuan cukup baik, memiliki sikap perawatan ibu tentang ISPA cukup baik, dari 20 responden . ,5%) memiliki pengetahuan kurang baik, memiliki sikap perawatan tentang ISPA kurang baik, dari 12 responden . ,9%) memiliki pengetahuan baik, memiliki sikap perawatan baik, dan sisanya 8 responden . ,6%) memiliki pengetahuan tidak baik, memiliki sikap tidak baik. Tabel 7. Distribusi Pengetahuan Ibu terhadap ISPA Balita Variabel Sikap perawatan Ibu Tentang ISPA Total Value Tingkat Baik Cukup Baik Kurang Tidak Baik Pengetahuan Ibu Baik Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus------ http://jurnal-pernus. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus ------------------------------- Volume 2 Nomor 2. November 2024 e-ISSN 3024-8493 Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Total 10,8% 3,2% 0,0% 0,0% 14,0% 49,5% 49,5% 0,0% 4,3% 21,5% 0,0% 25,8% 2,2% 0,0% 0,0% 8,6% 12,9% 57,0% 21,5% 8,6% 0,000* *Chi-Square . <0,05=Signifika. PEMBAHASAN Analisa Univariat Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian sejalan dengan penelitian Indah . yang diketahui bahwa hampir setengah dari responden dengan usia 19-30 tahun sebanyak 43 orang . ,5%), hampir setengahnya dari responden dengan usia 30-40 tahun yaitu sebanyak 35 orang . ,7%) dan sisanya sebagian kecil dari responden dengan usia 41-58 sebanyak 15 orang . ,4%). Ditinjau dari usia anak, didapatkan bahwa usia 1-3 tahun sebanyak 63 orang . ,8%), dan usia anak 4-5 tahun sebanyak 30 orang . ,3%). Menilik dari usia tersebut, balita merupakan perlu mendapatkan perhatian, karena balita rentan terhadap penyakit sehingga tingkat kematian balita masih terbilang tinggi dikarenakan sistem imun balita yang belum sempurna. Diperkuat oleh Amaliah . bahwa sebagian besar dari responden dengan usia anak 1-2 tahun sebanyak 48 orang . ,6%) dan responden dengan usia anak 4-5 tahun sebanyak 19 orang . ,4%). Karakteristik berdasarkan pendidikan didapatkan tingkat SMA sebanyak 50 orang . ,8%), hasil ini sangat mempengaruhi perawatan ISPA pada Balita. Sejalan dengan penelitian, bahwa semakin tinggi pendidikan orang tua maka semakin ringan derajat ISPA (Lestari, 2. Berdasarkan hasil penelitian hampir seluruhnya dari responden dengan pekerjaan Ibu Rumah Tangga sebanyak 79 orang . ,9%). Hasil ini sejalan dengan Ning, . dan mampu memperkuat bahwa seorang ibu rumah tangga lebih sering menghabiskan waktu dengan keluarga mampu meningkatkan kesehatan keluarga (Isnain, 2. Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Ibu Berdasarkan hasil penelitian responden dengan pengetahuan cukup baik sebanyak 53 orang . ,0%), pengetahuan kurang baik sebanyak 20 orang . ,5%), pengetahuan baik sebanyak 12 orang . ,9%), dan pengetahuan tidak baik sebanyak 8 orang . ,6%). Pengetahuan diartikan sebagai tahu dari suatu informasi, dan hasil ini terjadi setelah orang merasakan atau mengalami objek tertentu. Sebelum pengetahuan didapat informasi yang didapat harus melewati persepsi. Persepsi ini diproses melalui panca indra manusia baik penciuman, perasaan, penglihatan, perabaan, maupun pendengaran. Mayoritas informasi datang melalui indra penglihatan dan pendengaran. Pembentukan tindakan seseorang didasari dari domain terpenting yaitu informasi (Darsini et al. , 2. Pada penelitian ini terdapat 10 Pertanyaan pengetahuan jawaban responden masih banyak yang salah pada pertanyaan no. 1 tentang menanyakan gejala penyakit ISPA hal ini menyebabkan nilai pengetahuan responden hanya mendapatkan nilai 100 yaitu 12 responden. Asumsi penelitian ini disebabkan oleh pilihan jawaban yang hampir menyerupai dan kurang pengetahuan tentang ISPA pada balita responden. Karakteristik Berdasarkan Sikap Ibu Karakteristik berdasarkan sikap bahwa responden dengan sikap cukup baik sebanyak 46 responden . ,5%). Pada penelitian ini memiliki 10 pertanyaan sikap, skor sikap responden masih rendah pada pertanyaan positif ketika anak demam tinggi diberikan obat tradisional. Asumsi penelitian ini disebabkan oleh kurang pemahaman responden mengenai perawatan ISPA pada Balita. Hasil ini mengungkapkan bahwa sikap meirupakan keiadaan diri seiseiorang yang beirgeirak untuk beirtindak beirdasarkan eimosi teirteintu atau teirlibat dalam aktivitas sosial keitika meireika meinanggapi situasi atau kondisi dan objeik yang ada di lingkungan. Sikap teirhadap objeik ini dapat meindukung atau meimihak maupun tidak meindukung yang dikaitkan ke idalam dua beilas objeik (Mutmainah eit al. , 2. Analisa Bivariat Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Perawatan ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur Hasil Analisa data menggunakan uji Chi square pada Tabel 7 didapatkan nilai P value 0,000 < . ebih keci. dari 0,05, yang artinya ada Hubungan yang signifikan antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Perawatan ISPA pada Balita . -5 Tahu. di Wilayah kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan ISPA merupakan modal untuk terbentuknya kebiasaan yang baik demi kualitas kesehatan anak Balita. pengetahuan adalah dasar bagi seseorang untuk mengambil keputusan Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus------ http://jurnal-pernus. Jurnal Ilmiah Kesehatan Pernus ------------------------------- Volume 2 Nomor 2. November 2024 e-ISSN 3024-8493 bertindak seolah-olah seseorang sedang berusaha mencegah suatu penyakit setelah menerima atau melihat dan mempelajari informasi (Niki, 2. Dengan didasari pengetahuan Ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang perawatan ISPA diharapkan akan membawa dampak positif bagi kesehatan balita. Pengobatan penyakit ISPA di rumah ini dapat berjalan dengan optimal jika terdapat peran ibu di dalamnya. Peran ibu sebagai mekanisme yang mengurangi efek lanjutan dari masalah kesehatan yang terjadi pada anak dan keluarganya. Peran ini dapat berjalan dengan optimal jika ibu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ISPA, sehingga dapat membantu untuk melakukan identifikasi dan pencegahan ISPA lebih dini. Penanganan ISPA meliputi pemberian makanan bergizi yang cukup, pemberian kenyamanan, pemberian cairan, penanganan ketika panas . , dan memperhatikan tanda-tanda bahaya ISPA yang memerlukan perhatian khusus dari tenaga medis. Selain itu, jika pengetahuan ini sudah terpenuhi maka ISPA dapat ditangani dengan cepat oleh orang tua dan dapat dilakukan pencegahan supaya tidak terserang ISPA kembali. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Padila et al. , . dan Pawiliyah, . di mana diperoleh hasil uji statistik dengan nilai p-Value 0,000<0,05 artinya terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap Ibu Terhadap Perawatan ISPA. KESIMPULAN Karakteristik responden berdasarkan usia ibu, usia Balita. Pendidikan Ibu. Pekerjaan ibu. diperoleh hasil bahwa responden berusia sebagian besar berusia 19-30 tahun sebanyak 35 orang . ,7%), berdasarkan usia balita 1-3 tahun sebanyak 63 . ,8%). Tingkat pendidikan menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tingkat pendidikan terakhirnya SMA sebesar 50 orang . ,8%), dan berdasarkan pekerjaan ibu rumah tangga sebanyak 79 orang . ,9%). Tingkat pengetahuan Ibu tentang Perawatan ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur adalah 57,0%. Termasuk dalam Kategori Pengetahuan Cukup Baik. Sikap Ibu tentang Perawatan ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur adalah 46,5% termasuk dalam kategori Sikap Ibu Cukup Baik. Terdapat Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Perawatan ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Ciherang Kabupaten Cianjur. DAFTAR PUSTAKA