Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBANTUAN METODE DRILL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA BERBASIS HOTS Putri A. Aruan1. Andri Zainal2. Ulfa Nurhayani3. Tuti Sriwedari4. Roza Thohiri5 Universitas Negeri Medan Email: putriaruan0@gmail. Abstrak Aktivitas belajar dan hasil belajar siswa merupakan indikator penting dalam keberhasilan proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang menuntut kemampuan berpikir kritis, analitis, dan evaluatif. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan efektivitas penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis HOTS pada materi jurnal Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus, terbagi dalam dua pertemuan yang terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI AKL 2 SMK Negeri 13 Medan dengan jumlah 33 orang. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar berbasis HOTS mengalami peningkatan dari 61% pada siklus I menjadi 80% pada siklus II. Selain itu, hasil belajar siswa juga meningkat, di mana ketuntasan klasikal meningkat dari 63,64% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II sesuai dengan kriteria ketuntasan yang ditetapkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan metode drill efektif dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis HOTS. Kata kunci: problem based learning, drill, aktivitas belajar, hasil belajar, higher order thinking skills (HOTS) Abstract Student learning activities and learning outcomes are key indicators of the success of the learning process, particularly in Higher Order Thinking Skills (HOTS) based learningwhich requires critical, analytical, and evaluative thinking skills. This study aims to describe the effectiveness of implementing a Problem-Based Learning (PBL) model supplemented by drill methods in enhancing student learning activities and outcomes based on HOTS in the topic of adjusting journals. This study employed the Classroom Action Research method, conducted over two cycles. Each cycle consisted of two sessions, each comprising four stages: planning, action, observation, and reflection. The research subjects were 33 students in Class XI AKL 2 at SMK Negeri 13 Medan. Research data were collected through interviews, observations, tests, and documentation. The results of the study indicate that HOTS-based learning activities increased from 61% in Cycle I to 80% in Cycle II. Additionally, student learning outcomes improved, with the classical mastery rate rising from 64% in Cycle I to 100% in Cycle II, in accordance with the established mastery criteria. Thus, it can be concluded that the implementation of the Problem Based Learning model supported by the drill method is effective in improving students HOTS-based learning activities and outcomes. Keywords: problem-based learning, drill, learning activities, learning outcomes, higher order thinking skills dari yang sebelumnya hanya menekankan penguasaan pengetahuan faktual menjadi pengembangan Higher Order Thinking PENDAHULUAN Pada abad ke-21, dunia pendidikan telah mengalami transformasi paradigma Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Skills (HOTS) yang menuntut siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan analitis dalam memecahkan permasalahan kompleks (Sabaruddin, 2. Perubahan ini menegaskan bahwa pembelajaran tidak lagi cukup hanya sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan harus mampu melibatkan siswa secara aktif melalui aktivitas belajar yang merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dalam kejuruan, pengembangan HOTS menjadi sangat penting karena siswa dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan Pada pembelajaran akuntansi, siswa tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi mengevaluasi transaksi keuangan. Salah satu materi yang menuntut keterlibatan HOTS adalah Ayat Jurnal Penyesuaian (AJP) pada perusahaan dagang, yang menjadi tahapan krusial dalam proses penyusunan laporan keuangan. Materi ini tidak hanya menuntut pemahaman prosedural, tetapi juga kemampuan menganalisis transaksi dan mengevaluasi dampaknya terhadap laporan keuangan. Aktivitas dan hasil belajar siswa merupakan dua komponen yang menjadi Pembelajaran yang efektif tidak hanya ditandai dengan pencapaian nilai yang tinggi, tetapi juga keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill. Kemampuan HOTS kemampuan menganalisis (C. dan (C. diperlukan agar siswa mampu memahami dan menyelesaikan permasalahan secara Aktivitas belajar adalah pembelajaran, baik secara fisik maupun Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berpusat pada guru, tetapi juga memberi kesempatan pemahaman secara mandiri. Menurut Nofrion & Wijayanto, . aktivitas belajar tidak hanya berupa kegiatan mengamati, menanya, berdiskusi, dan mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga mencakup aktivitas lanjutan yang dapat diamati melalui memproses/menganalisis (C. , berkomunikasi/berdialog secara logis (C. , berdiskusi/bekerja sama untuk mengevaluasi alternatif solusi (C. , serta mempresentasikan/membangun pemahaman secara runtut dan sistematis (C. Setelah melakukan observasi awal di kelas XI AKL 2 SMK Negeri 13 Medan, diperoleh gambaran bahwa aktivitas belajar siswa berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) masih Kondisi ini disebabkan karena penerapan kurikulum yang menekankan Higher Order Thinking Skills (HOTS) belum sepenuhnya mampu mendorong aktivitas belajar siswa pada Ayat Jurnal Penyesuaian perusaahan dagang. Rendahnya aktivitas belajar siswa terlihat dari terbatasnya jumlah siswa yang mampu memproses menyampaikan penjelasan secara jelas dan logis, menanggapi pendapat teman, serta bekerja sama dalam menyelesaikan kasus Ayat Jurnal Penyesuaian. Selain itu, sebagian besar siswa cenderung hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa mampu menyajikan hasil analisis melalui kegiatan presentasi maupun membangun pemahaman secara mandiri terhadap materi yang dipelajari. Dari 33 siswa, tidak terdapat siswa yang berada pada kategori sangat aktif, hanya 2 siswa yang tergolong aktif, 7 siswa cukup aktif, 13 siswa kurang aktif, dan 11 siswa tidak Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 70% siswa belum menunjukkan keterlibatan secara optimal dalam pembelajaran berbasis HOTS. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Aktivitas belajar siswa yang optimalnya peningkatan hasil belajar akuntansi, karena keterlibatan siswa secara aktif dalam proses analisis dan pemecahan masalah pembelajaran melalui kegiatan pengamatan serta penelusuran informasi menjadi faktor penting dalam pencapaian hasil belajar. Sejalan dengan hal tersebut. Estarini . menyatakan bahwa aktivitas belajar siswa berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar, karena siswa terlibat aktif dalam proses analisis dan pemecahan masalah. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Rahayu . yang menemukan bahwa aktivitas belajar siswa berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas X Akuntansi 4 SMK Negeri 1 Kedawung Kabupaten Cirebon. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar siswa merupakan faktor penting dalam pembelajaran akuntansi, karena peningkatan hasil belajar tidak akan tercapai secara optimal tanpa keterlibatan aktif siswa dalam proses Menurut Sardiman dalam Faizah et al. , . , hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pembelajaran yang ditunjukkan melalui perubahan perilaku peserta didik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS), hasil belajar tidak hanya menekankan pada kemampuan mengingat konsep, tetapi juga kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis (C. dan mengevaluasi (C. pengetahuan dalam konteks pembelajaran. Pada materi Ayat Jurnal Penyesuaian, hasil belajar HOTS mengidentifikasi kebutuhan penyesuaian, menganalisis data transaksi akhir periode, menentukan ayat jurnal penyesuaian yang tepat, serta memberikan alasan logis terhadap pencatatan yang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Juhrah. Pd. , guru mata Praktikum Akuntansi Perusahaan Jasa. Dagang. Manufakturaktur di SMKN 13 Medan, diketahui bahwa hasil belajar siswa berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) masih belum optimal, yang ditunjukkan oleh masih banyaknya siswa memperoleh nilai rapor di bawah Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) Dari akumulasi data, terlihat bahwa hanya 9 siswa yang tuntas dengan persentase 27,3%, sedangkan 24 siswa belum tuntas dengan persentase 72,7%. Nilai komprehensif hasil belajar menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi hubungan antar akun, mengevaluasi transaksi, dan menentukan ayat jurnal penyesuaian yang tepat, sehingga kemampuan HOTS pada aspek analisis dan evaluasi belum berkembang secara maksimal. Dalam menghadapi tantangan ini, inovasi dalam model pembelajaran sangat Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah model Problem Based Learning. Model ini menempatkan siswa dalam situasi pembelajaran berbasis masalah nyata sehingga mendorong mereka untuk berpikir kritis, analitis, serta aktif dalam menemukan solusi. Menurut Arends dalam Maulana et. , . Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, memperkuat kerja sama keterlibatan siswa melalui penyelesaian masalah autentik yang relevan dengan kehidupan nyata. Dalam pembelajaran akuntansi, khususnya pada materi kompleks seperti jurnal penyesuaian. PBL menganalisis transaksi, mengevaluasi dampaknya terhadap laporan keuangan, serta menentukan pencatatan yang tepat secara logis dan sistematis melalui pengalaman belajar berbasis konteks Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 Berbagai menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning memberikan dampak positif terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Silaban et , . menemukan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa dari 51,43% menjadi 85,71% serta ketuntasan hasil belajar dari 65,71% menjadi 88,57%. Sejalan dengan itu. Hairawaty et al. , . melaporkan adanya peningkatan rata-rata hasil belajar dari 78,38 menjadi 82,28 dengan ketuntasan klasikal meningkat dari 70% menjadi 90,63%. Selain itu. Widodo & Listiadi . juga menunjukkan bahwa penerapan PBL pada materi jurnal penyesuaian mampu meningkatkan ratarata hasil belajar dari 74,83 menjadi 91,14 serta ketuntasan belajar dari 60% menjadi Dari data ini, kita dapat melihat bahwa PBL efektif dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui proses pemecahan masalah yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran akuntansi pada materi ayat jurnal penyesuaian tidak hanya menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi juga penguasaan keterampilan prosedural, ketelitian, serta ketepatan dalam menyusun jurnal. Keterampilan prosedural ini berperan penting dalam mendukung aktivitas belajar berbasis HOTS, karena siswa tidak mengevaluasi transaksi, tetapi juga mampu menerapkannya secara teknis Jika kemampuan berpikir tingkat tinggi dan hasil belajar siswa juga cenderung Oleh memperkuat keterampilan prosedural siswa model Problem Based Learning (PBL) perlu diperkuat dengan menggunakan metode drill yang berfokus pada latihan terstruktur dan berulang. Metode drill sebagai pendamping model PBL dapat mendorong siswa berlatih secara kontinu sehingga meningkatkan ketelitian, ketepatan, dan penguasaan prosedur pencatatan. Hal ini sejalan dengan pendapat Nursehah & Rahmadini , . yang menyatakan bahwa metode drill menekankan pada latihan berulang yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga mampu meningkatkan ketepatan, ketangkasan, serta penguasaan keterampilan peserta Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa metode drill efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Sari et ,. bahwa penggunaan metode drill mampu meningkatkan hasil belajar akuntansi siswa SMK melalui pembiasaan latihan yang sistematis dan terarah. Sejalan dengan itu. Widyanita Yarisma et , . menjelaskan bahwa penerapan drill secara berulang dapat meningkatkan daya ingat konseptual serta ketelitian dalam memahami prosedur pencatatan Selain itu. Suhendah et al. melaporkan adanya peningkatan signifikan pada nilai rata-rata hasil belajar siswa antara pre-test dan post-test setelah penerapan metode drill pada materi jurnal Hal ini diperkuat oleh Suantara, et. , . yang menemukan bahwa metode drill mampu meningkatkan hasil belajar kognitif sebesar 11,11% dan 20,83%. Berdasarkan temuan tersebut, metode drill keterampilan prosedural serta mendukung kemampuan berpikir analitis dan evaluatif, sehingga penerapannya sebagai pendamping Problem Based Learning (PBL) diyakini dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa secara Penerapan Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pembelajaran yang relevan untuk akuntansi yang tidak hanya menuntut kemampuan analisis dan pemecahan masalah, tetapi juga ketelitian dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 penerapan prosedur teknis. Namun demikian, dalam praktiknya, kedua pendekatan tersebut masih cenderung diterapkan secara terpisah, sehingga potensi peningkatan aktivitas dan hasil belajar belum optimal. Oleh karena itu. Problem Based Learning (PBL) meningkatkan aktivitas dan hasil belajar berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 13 Medan. Tes terdiri atas pre-test dan posttest untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada level kognitif menganalisis (C. dan mengevaluasi (C. Dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Data aktivitas belajar dianalisis dengan menghitung persentase keterlibatan siswa, sedangkan hasil belajar dianalisis melalui ketuntasan individu dan ketuntasan HASIL DAN PEMBAHASAN Mengacu penelitian, penerapan model PBL berbantuan metode drill memberikan dampak positif terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis HOTS. Kenaikan persentase aktivitas belajar siswa berbasis HOTS pada pelaksanaan tindakan siklus I dan II disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Berbasis HOTS pada Siklus I dan Siklus II METODE Penelitian ini menerapkan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research, yaitu suatu kajian ilmiah yang bersifat reflektif yang memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Desain penelitian menggunakan model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahap, yaitu: . perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . observasi, dan . Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas dua kali Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 13 Medan pada kelas XI AKL 2 tahun ajaran 2025/2026 dengan jumlah siswa sebanyak 33 orang. Waktu penelitian dilaksanakan pada akhir Februari hingga Maret 2026. Mata pelajaran yang menjadi fokus penelitian adalah Praktikum Akuntansi Perusahaan Jasa. Dagang, dan Manufaktur pada materi Ayat Jurnal Penyesuaian. Objek penelitian adalah aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill. Pengumpulan data dilakukan melalui Observasi digunakan untuk mengukur aktivitas belajar siswa berbasis HOTS berdasarkan delapan indikator aktivitas Kategori Siklus I Siklus II Jumlah Jumlah Sangat aktif 6,06 57,58 Aktif 15,15 27,27 Jumlah siswa Cukup aktif 21,21 84,85 42,42 15,15 Kurang aktif 27,27 Tidak aktif 9,09 Jumlah siswa 78,79 15,15 kurang aktif Jumlah 2012,42 2637,50 Persentase Aktivitas Siswa berbasis HOTS Menghitung Siklus I = 2. 012,42 / Siklus II = 2. 637,50 Rata-rata 33 = 61% / 33 = 80% Aktivitas Belajar berbasis HOTS seluruh siswa: Sumber: Data Diolah . Pada Tabel 1, aktivitas belajar siswa berbasis HOTS menunjukkan peningkatan yang signifikan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I, sebanyak 7 siswa . ,21%) berada pada kategori Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 aktif, sedangkan 26 siswa . ,79%) masih berada pada kategori kurang aktif. Pada siklus II, terjadi peningkatan yang signifikan, di mana 28 siswa . ,85%) telah berada pada kategori aktif dan hanya 5 siswa . ,15%) yang masih berada pada kategori kurang aktif. Secara keseluruhan, rata-rata persentase aktivitas belajar berbasis HOTS meningkat dari 61% pada siklus I menjadi 80% pada siklus II, sehingga telah melampaui kriteria ketuntasan minimum (Ou75%). Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima, yaitu bahwa aktivitas belajar siswa berbasis HOTS dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan metode drill Pada penelitian ini, hasil belajar siswa berbasis HOTS diperoleh melalui pre-test dan post-test yang dilaksanakan pada siklus I dan siklus II. Pre-test digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa sebelum penerapan tindakan, sedangkan post-test I dan II digunakan untuk mengevaluasi pencapaian hasil belajar setelah pembelajaran. Persentase hasil belajar siswa berbasis HOTS pada setiap tahap pembelajaran disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Berbasis HOTS pada Siklus I dan Siklus II Pre-Test Post-Test I Post-Test II Jlh Jlh siklus I, serta post-test II pada siklus II. Rentang nilai hasil belajar pada pre-test berada pada kisaran 45Ae80, sedangkan pada post-test I berada pada rentang 62Ae 88, dan peningkatan paling signifikan terlihat pada post-test II dengan rentang nilai 78Ae96. Selanjutnya, nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pre-test mencapai 60, kemudian meningkat pada post-test I menjadi 72, dan kembali mengalami peningkatan yang signifikan pada posttest II menjadi 85,33. Lebih lanjut, persentase nilai pre-test menunjukkan bahwa siswa yang berada pada kategori rendah sebanyak 28 siswa . ,85%), kategori sedang sebanyak 5 siswa . ,15%), dan belum terdapat siswa pada kategori tinggi. Pada post-test I terjadi peningkatan, di mana siswa pada kategori rendah berjumlah 12 siswa . ,36%), kategori sedang sebanyak 19 siswa . ,58%), dan kategori tinggi sebanyak 2 siswa . ,06%). Peningkatan paling signifikan terjadi pada post-test II, di mana tidak ditemukan lagi siswa pada kategori rendah, sedangkan kategori sedang sebanyak 14 siswa . ,42%) dan kategori tinggi sebanyak 19 siswa . ,58%). Ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II selanjutnya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Belajar Siswa berbasis HOTS pada Siklus I dan Siklus II Kategori Jlh Nilai Maksimal Nilai Minimal Rata-rata 85,33 Rendah (Tidak Tuntas. Nilai < . Sedang (Tuntas. HOTS CT/T) Tinggi (ST) 84,85% Jumlah Tuntas Jumlah 36,36% Tidak Tuntas Jenis Test Pre-Test Persentase (%) 15,15 Jumlah Persentase (%) 84,85 Post-Test I 63,64 36,36 Post-Test II Sumber: Data Diolah . 57,58% 42,42% 6,06% 57,58% Pada Tabel 3, ketuntasan hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan pada setiap siklus. Pada pre-test siklus I, hanya 5 siswa . ,15%) yang mencapai ketuntasan, sedangkan 28 siswa . ,85%) masih belum tuntas, yang menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa masih Setelah penerapan tindakan pada siklus I, hasil post-test I meningkat menjadi 21 siswa . ,64%) tuntas dan 12 15,15% Sumber: Data Diolah . Pada Tabel 2, hasil belajar siswa berbasis HOTS menunjukkan peningkatan yang signifikan yang direpresentasikan melalui nilai pre-test dan post-test I pada Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 ,36%) belum tuntas. Namun, ketuntasan klasikal belum mencapai Ou85%, dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II, seluruh siswa . siswa atau 100%) telah melampaui indikator yang ditetapkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa berbasis HOTS meningkat pada setiap siklus dan telah mencapai ketuntasan pada siklus II. Oleh karena itu, hipotesis penelitian diterima, yaitu penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill dapat meningkatkan hasil belajar siswa berbasis HOTS. sekaligus mengaitkan materi sebelumnya dengan topik ayat jurnal penyesuaian sebagai orientasi pembelajaran. Guru kemudian melakukan tanya jawab dengan menunjuk beberapa peserta didik untuk menyampaikan pendapat sebagai stimulus berpikir kritis. Setelah itu, guru membagikan soal pre-test berbasis HOTS untuk mengukur pengetahuan awal siswa sekaligus menjadi dasar penentuan strategi pembelajaran selanjutnya. Kegiatan Inti . Pada memberikan pertanyaan pemantik untuk mengarahkan siswa pada permasalahan ayat jurnal penyesuaian, kemudian memaparkan materi konsep dasar menggunakan media PowerPoint sebagai landasan pemahaman. Siswa terlibat aktif mencatat, dan mengemukakan pendapat. Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan LKPD berisi studi kasus. Siswa mengerjakan pertanyaan dasar secara individu, lalu berdiskusi dalam kelompok untuk menganalisis konsep jurnal penyesuaian, pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Dalam proses ini, siswa diarahkan untuk mengidentifikasi masalah, mengaitkan konsep dengan kasus, serta merumuskan Untuk memperdalam pemahaman, siswa mencari referensi dari berbagai sumber dan mengolahnya melalui diskusi serta latihan berulang . dalam penyusunan jurnal penyesuaian. Guru membimbing dan memberikan pertanyaan terbuka untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan. Selanjutnya, siswa mempresentasikan hasil diskusi secara bergantian, sementara kelompok lain memberikan tanggapan. Guru kemudian memberikan latihan lanjutan dan tugas individu untuk memperkuat pemahaman. Pada tahap akhir, guru memfasilitasi evaluasi melalui refleksi, diskusi, dan pemberian umpan balik untuk mengukur perkembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa. Siklus I . Perencanaan Perangkat pembelajaran dirancang menggunakan modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka yang dikembangkan melalui model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill. Tujuan pembelajaran difokuskan pada TP poin 6, yaitu menganalisis transaksi penyesuaian, yang dijabarkan ke dalam ATP poin 6. enjelaskan termasuk penyesuaian persediaan barang daganga. enganalisis transaksi penyesuaian untuk menentukan nilai dan pencatatan yang tepa. Modul ajar disusun menjadi tiga tahap yaitu: . Pendahuluan, . Kegiatan inti, dan . Penutup. Pada tahap perencan, guru menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi studi kasus kontekstual, lembar observasi aktivitas belajar berbasis HOTS, soal pretest dan post-test berbasis HOTS, serta rubrik penilaian yang digunakan selama proses penelitian. Pelaksanaan Pertemuan Pendahuluan . Tahap awal pembelajaran dimulai dengan guru mengucapkan salam, memimpin doa, serta mengecek kehadiran Selanjutnya, menyampaikan Capaian Pembelajaran (CP). Tujuan Pembelajaran (TP), langkah kegiatan, serta mekanisme penilaian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 penyesuaian, dan mempresentasikannya di depan kelas. Kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, dan masukan sehingga terjadi diskusi aktif yang melatih komunikasi dan berpikir kritis, dengan guru memberi bimbingan dan umpan balik. Pada tahap akhir, guru memfasilitasi analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah melalui perbandingan hasil antar kelompok, penalaran logis, dan evaluasi ketepatan pencatatan. Guru kemudian memberikan penguatan dan penilaian sebagai refleksi pembelajaran serta pengukuran kemampuan HOTS Penutup . Pada bagian akhir, guru menunjuk salah satu peserta didik untuk menyampaikan kesimpulan, kemudian kesimpulan bersama. Selanjutnya, guru memberi arahan untuk mempelajari materi berikutnya, dan pembelajaran diakhiri dengan doa serta salam penutup. Pertemuan II. Pendahuluan . Pada pertemuan kedua dalam siklus I, kegiatan pembelajaran diawali dengan guru mengucapkan salam, memimpin doa, dan mengecek kehadiran Selanjutnya, kesempatan menyampaikan hasil latihan kemudian guru memberikan tanggapan dan penguatan untuk memperjelas pemahaman konsep. Penutup . Pada kegiatan penutup, peserta didik bersama guru menyimpulkan inti materi melalui diskusi kelas yang dipandu Selanjutnya, guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan peningkatan terbaik sebagai contoh bagi kelompok lain, serta melakukan refleksi melalui tanya jawab terkait kesulitan penyesuaian persediaan. Guru kemudian memberikan post-test untuk mengukur pemahaman individu sebagai dasar tindak lanjut, dilanjutkan dengan latihan lanjutan secara mandiri yang dikumpulkan melalui Google Classroom (GCR). Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan salam Kegiatan Inti . Pada kegiatan inti, guru memulai pemantik berbasis konteks nyata terkait ayat jurnal penyesuaian persediaan barang dagang untuk menstimulasi kemampuan analitis dan evaluatif siswa. Siswa aktif menjawab, menyampaikan pendapat, dan menalar permasalahan. Selanjutnya, guru menyampaikan garis besar materi serta memberikan kasus awal yang dianalisis melalui latihan . untuk memperkuat pemahaman konsep. Kemudian, siswa dibagi ke dalam kelompok dan menerima LKPD berisi studi kasus jurnal penyesuaian metode ikhtisar laba/rugi dan HPP. Siswa mengidentifikasi masalah, berdiskusi kolaboratif, dan menyusun solusi secara logis dan sistematis. Siswa juga mencari dan memperdalam informasi dari buku, modul, dan sumber digital dengan bimbingan guru sebagai fasilitator melalui arahan, pertanyaan terbuka, dan klarifikasi konsep, yang dilanjutkan . Selanjutnya, siswa mengembangkan hasil diskusi melalui analisis kasus lanjutan yang lebih kompleks, menyusun jurnal Observasi (Pengamata. Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa pada siklus I masih tergolong rendah. Hasil observasi HOTS menunjukkan kategori Sangat Aktif sebanyak 2 siswa . ,06%). Aktif 5 siswa . ,15%). Cukup Aktif 14 siswa . ,42%). Kurang Aktif 9 siswa . ,27%), dan Tidak Aktif 3 siswa . ,09%). Secara keseluruhan, siswa pada kategori aktif hanya 21,21%, sedangkan 78,79% berada pada kategori kurang aktif, sehingga belum memenuhi indikator keberhasilan Ou85% dan perlu tindak lanjut pada siklus II. Sementara, hasil belajar berbasis Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 HOTS menunjukkan peningkatan dari pre-test ke post-test I, dengan rata-rata naik dari 60 menjadi 72 serta rentang nilai 45Ae80 . re-tes. dan 62Ae88 . ost-test I). Pada pre-test, 28 siswa . ,85%) berada pada kategori rendah dan 5 siswa ,15%) kategori sedang, sedangkan pada post-test I bergeser menjadi 12 siswa ,36%) kategori rendah, 19 siswa ,58%) kategori sedang, dan 2 siswa ,06%) menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir siswa. Ketuntasan hasil belajar juga meningkat dari 5 siswa . ,15%) pada pre-test menjadi 21 siswa . ,64%) pada post-test I, namun belum mencapai indikator Ou85% termasuk keterampilan berpikir kritis melalui aktivitas mendengar, bertanya, dan berargumentasi berbasis bukti. Guru juga merevisi langkah-langkah Problem Based Learning (PBL) memperjelas setiap tahap mulai dari identifikasi masalah, analisis, sintesis, hingga kesimpulan agar alur berpikir siswa lebih terarah. Selain itu, guru menyesuaikan alokasi waktu agar seluruh tahapan pembelajaran, termasuk analisis, refleksi, dan evaluasi, dapat terlaksana secara optimal. Dalam proses pembelajaran, guru memberikan clue, batasan masalah, serta pertanyaan terbuka dan lanjutan sebagai scaffolding untuk membantu siswa menganalisis dan menyusun argumen secara sistematis. Guru juga menyediakan sumber belajar tambahan berupa E-book serta memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengakses smartphone sebagai sumber informasi mandiri. Untuk memastikan keterlibatan dan pemahaman siswa, guru dan peneliti melakukan pengecekan berkala terhadap hasil latihan Selain itu, guru membagi dan merotasi peran dalam kelompok agar seluruh siswa terlibat aktif dalam analisis, penyusunan jawaban, dan presentasi. Guru juga meningkatkan keterlibatan siswa yang kurang aktif melalui pertanyaan langsung serta bimbingan dalam menjelaskan alasan logis secara runtut, serta memberikan reward dan penguatan positif kepada siswa yang aktif meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas HOTS. Refleksi Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill pada siklus I mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh: . pengelolaan pembelajaran yang belum . distribusi waktu dan arahan yang belum merata. fasilitasi diskusi yang kurang efektif. pembagian tugas kelompok yang belum seimbang. pendampingan presentasi yang belum . kompleksitas bahasa LKPD dan soal. rendahnya kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas individu. Aktivitas belajar berbasis HOTS pada siklus I sebesar 61% belum mencapai indikator Ou75%, sedangkan ketuntasan hasil belajar sebesar 63,64% juga belum memenuhi target Ou85%. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan pada siklus II yang difokuskan pada penguatan kemampuan optimalisasi fasilitasi diskusi, serta penyederhanaan bahasa LKPD dan soal. Pelaksanaan Pertemuan Pendahuluan . Kegiatan belajar dimulai dengan guru mengucapkan salam, menanyakan kabar, mengarahkan doa sesuai keyakinan masing-masing, serta mengecek kehadiran melalui sekretaris kelas. Guru kemudian menumbuhkan sikap disiplin dan kesiapan belajar siswa. Selanjutnya, guru menunjuk Siklus II. Perencanaan Pada tahap ini, guru melaksanakan tindakan perbaikan berdasarkan hasil refleksi siklus I. Guru memberikan motivasi dan arahan mengenai pentingnya berpikir logis dan sistematis dalam Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 siswa yang kemampuan HOTS-nya perlu resume dan analisis materi sebelumnya, kemudian ditanggapi oleh siswa lain melalui diskusi singkat untuk memperkuat pemahaman awal. Di akhir pendahuluan, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan jenis penilaian serta menegaskan pentingnya kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mempresentasikan penyelesaian masalah secara sistematis. secara sistematis disertai alasan logis, serta melakukan presentasi kelompok. Kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, dan koreksi berbasis alasan logis, kemudian guru memfasilitasi diskusi, menegaskan konsep yang benar, dan melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa. Penutup . Guru dengan menanyakan kesalahan dalam menganalisis transaksi penyesuaian, dampaknya terhadap laporan keuangan, serta cara memperbaikinya untuk Selanjutnya, guru memberikan latihan individu berupa soal analisis transaksi penyesuaian beserta ringkasan reflektif sebagai penguatan evaluasi proses Guru pengerjaan, memberi arahan kepada siswa yang mengalami kesulitan, serta menilai hasil latihan dan refleksi untuk mengetahui tingkat pemahaman dan tindak lanjut. Kegiatan diakhiri dengan arahan persiapan materi lanjutan, doa bersama, dan salam penutup. Kegiatan Inti . Pada tahap ini, guru memberikan kasus jurnal penyesuaian melalui Google Classroom (GCR) disertai pertanyaan pemantik dan lanjutan untuk mendorong siswa mengidentifikasi informasi penting serta menyusun hipotesis awal. Siswa menganalisis kasus, kemudian beberapa siswa dengan kemampuan HOTS rendah diminta menjelaskan kembali inti permasalahan, sementara siswa lain Selanjutnya, menyampaikan materi AuTransaksi Ayat Jurnal PenyesuaianAy PowerPoint, yang mencakup pencatatan perlengkapan, penyusutan aset tetap, dan taksiran kerugian piutang, di mana siswa aktif memperhatikan, mencatat, dan merespons pertanyaan. Guru kelompok dan membagikan LKPD berisi studi kasus serta pertanyaan pemantik terkait analisis akun penyesuaian, dampaknya terhadap laporan keuangan, dan urgensi jurnal penyesuaian. Siswa berdiskusi dalam kelompok dengan bimbingan awal dari guru karena masih terdapat kesulitan dalam mengidentifikasi akun tertentu. Selanjutnya, siswa mengeksplorasi sumber belajar digital dan mengolah informasi secara logis untuk menyusun jawaban. Guru memantau, memberi umpan balik, dan membimbing siswa yang kurang aktif. Pada tahap akhir, siswa mengembangkan hasil diskusi dengan mendalam, menyusun jurnal penyesuaian Pertemuan II. Pendahuluan . Pembelajaran pada pertemuan kedua siklus II diawali dengan guru mengucapkan salam, menanyakan kabar, mengarahkan doa, serta mengecek kehadiran dan kebersihan kelas. Guru mengingatkan kembali materi pos deferred dan accrued yang telah dibagikan sebelumnya untuk dipelajari mandiri. Selanjutnya, menyampaikan resume materi yang kemudian ditanggapi siswa lain untuk memperkuat pemahaman. Guru juga mengajukan pertanyaan pemantik terkait pentingnya pencatatan pos deferred dan accrued yang dijawab siswa dengan penalaran ketepatan periode Di akhir pendahuluan, guru menegaskan tujuan pembelajaran agar siswa lebih aktif dalam menganalisis dan mengevaluasi penyesuaian akun serta meminimalkan kesalahan sebelumnya. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 penguatan mandiri yang dikerjakan di kelas dan dikumpulkan melalui Google Classroom (GCR). Selanjutnya guru menyampaikan arahan pembelajaran pertemuan berikutnya, kemudian kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan salam Kegiatan Inti . Guru memulai pembelajaran dengan pertanyaan pemantik terkait pospos deferred dan accrued yang dikaitkan dengan konteks sehari-hari untuk mengarahkan siswa pada identifikasi. Selanjutnya guru menampilkan studi kasus melalui GCR, kemudian siswa mengidentifikasi informasi penting dan menyusun hipotesis awal yang dilanjutkan dengan diskusi kelas melalui tanggapan Siswa dikelompokkan dan diberikan LKPD berisi kasus serta pertanyaan analitis terkait transaksi penyesuaian . endapatan dan beban diterima/dibayar di muka maupun masih harus diterima/dibaya. Siswa diarahkan mengaitkan konsep dengan kasus untuk menentukan jenis Selanjutnya siswa mengeksplorasi materi melalui buku ajar dan sumber digital untuk menganalisis kasus dan menyusun ayat jurnal penyesuaian secara sistematis. Guru berkeliling memberikan bimbingan memperkuat kemampuan analisis siswa. Hasil analisis kemudian disusun menjadi ayat jurnal penyesuaian disertai alasan Beberapa mempresentasikan hasilnya, sementara kelompok lain memberikan tanggapan, koreksi berbasis argumentasi logis. Siswa dengan menjelaskan konsep sebagai penguatan Pada akhir kegiatan, guru memfasilitasi evaluasi melalui presentasi dan diskusi kelas, memberikan umpan balik, serta mengumpulkan hasil kerja kelompok untuk penilaian perkembangan pemahaman siswa. Observasi (Pengamata. Hasil observasi aktivitas belajar siswa berbasis HOTS pada siklus II menunjukkan peningkatan yang sangat Pada pertemuan pertama masih terdapat beberapa siswa yang belum optimal dalam memproses informasi, bekerja sama, dan menganalisis masalah, namun pada pertemuan kedua seluruh siswa menunjukkan peningkatan yang Siswa terlihat lebih aktif dalam membagi tugas kelompok secara merata, menjelaskan ulang konsep jurnal penyesuaian, serta mengajukan ide pemecahan masalah. Selain itu, siswa juga lebih berani menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan guru, menanggapi teman dengan argumentasi yang logis, serta mempresentasikan hasil analisis secara runtut dan sistematis. Aktivitas belajar juga tampak meningkat melalui keterlibatan siswa dalam mencari informasi tambahan, membandingkan kesalahan pencatatan. Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa 19 siswa . ,57%) berada pada kategori sangat aktif, 9 siswa . ,27%) aktif, dan 5 siswa . ,15%) cukup aktif, sehingga tidak terdapat siswa pada kategori kurang aktif maupun tidak aktif. Dengan demikian, siswa yang termasuk kategori aktif . angat aktif dan akti. mencapai 84,84%, yang menunjukkan bahwa aktivitas belajar berbasis HOTS pada siklus II telah memenuhi indikator Penutup . Diakhir, guru memberikan posttest berbasis HOTS secara individu untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi jurnal penyesuaian setelah tindakan, dilanjutkan dengan latihan Refleksi Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi diarahkan untuk membangun pemahaman melalui pemecahan masalah Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora Vol. No. 1 Mei 2026 EISSN: 2502-9630 secara sistematis melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan metode drill. Siswa dilatih secara berulang untuk menganalisis penyesuaian, dan menyusun jurnal penyesuaian secara logis sehingga kemampuan HOTS, khususnya analisis (C. dan evaluasi (C. dapat berkembang. Latihan berulang melalui metode drill memperkuat pemahaman konseptual dan prosedural serta membantu siswa memahami keterkaitan transaksi, akun, dan dampaknya terhadap laporan Berdasarkan uraian tersebut, penerapan PBL berbantuan metode drill memberikan hasil positif terhadap peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis HOTS pada materi ayat jurnal penyesuaian perusahaan dagang, yang ditunjukkan oleh aktivitas 80% dan ketuntasan 100% yang telah melampaui indikator keberhasilan. pemerataan partisipasi siswa dalam diskusi dan penyelesaian LKPD disertai latihan berulang . Setelah tindakan tersebut, aktivitas belajar berbasis HOTS meningkat menjadi 80% dan ketuntasan klasikal mencapai 100%, sehingga telah melampaui indikator keberhasilan yang Peningkatan ini tidak hanya terlihat dari capaian angka, tetapi juga dari kualitas proses berpikir siswa yang semakin mandiri, aktif, serta mampu menyelesaikan permasalahan secara Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning (PBL) meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa berbasis HOTS pada materi Ayat Jurnal Penyesuaian perusahaan dagang di kelas XI AKL 2 SMK Negeri 13 Medan. DAFTAR PUSTAKA