CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 1 | Agustus . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Kecakapan Bermedia Sosial Bagi Mahasiswa Kesehatan Veki Edizon Tuhana1. Silvania S. E Mandaru2. Emanuel Sowe Leuape3 Kata Kunci: Kecakapan. Media Sosial. Mahasiwa. Kebidanan. Kupang. Keywords : Skills. Social Media. Students. Midwifery. Kupang. Corespondensi Author Ilmu Komunikasi. Universitas Nusa Cendana Jalan Adisucipto. Penfui-Kupang Email: eleuape@staf. Article History Received: 08-10-2024. Reviewed: 10-02-2025. Accepted: 16-05-2025. Available Online: 15-08-2025. Published: 28-08-2025. Abstract. The Midwifery Department of the Kupang Health Polytechnic (Polteke. is a vocational educational institution responsible for educating human resources so that they will have medical competencies in their fields. Most of the teaching and learning activities are integrated with the use of digital media The problem is, most local students do not have adequate social media literacy skills. Of course, this has the potential to cause misuse or negligence while using social media. Therefore, the Community Service Team provided digital media literacy training for students of the Midwifery Department of Poltekes - Kupang. The Community Service implementation method consists of two forms: material presentation and practicum . Evaluation of the measurement of the impact of activities via the One-Group Pretest-Posttest Design method with Time Comparison data analysis Community Service activities successfully honed local students' skills in utilizing social media both in the context of learning and in their daily activities. Among them: a higher antipathy to negative content . %), a decrease in social media dependence . %), and a high level of regulatory literacy . %). The substance of this Community Service activity should be a provision and guideline for local students so that they are more capable and wise when using social media, especially for learning purposes. Abstrak. Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan (Polteke. Kupang merupakan lembaga pendidikan vokasi bertanggungjawab mendidikan sumber daya manusia agar kelak memiliki kompetensi medis sesuai Sebagian besar penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar terintegrasi dengan penggunaan perangkat media digital. Problemnya, sebagian besar mahasiswa setempat belum memiliki kecakapan literasi media sosial yang memadai. Tentu hal itu berpotensi pada perilaku penyalanggunaan maupun kelalaian selama bermedia sosial. Oleh karena itu. Tim PKM memberikan pelatihan literasi media digital bagi mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekes Kupang. Metode pelaksanaan PKM terdiri dari 2 Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 bentuk, yaitu Presentasi materi dan praktikum . Evaluasi pengukuran dampak kegiatan via metode One-Group Pretest-Posttest Design dengan teknik analisis data Time Comparison. Kegiatan PKM berhasil mengasa kecakapan mahasiswa setempat dalam pemanfaatan media sosial baik dalam konteks pembelajaran maupun dalam aktivitas kesehariannya. Di antaranya: antipati konten negative lebih tinggi . %), ketergantungan media sosial turun . %), dan kemelekan regulasi menjadi tinggi . %). Substansi kegiatan PKM ini seyogianya menjadi bekal dan pedoman bagi mahasiswa setempat sehingga lebih cakap dan bijak selama memanfaatkan media sosial, terutama bagi kepentingan pembelajaran. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Media Sosial merupakan platform teknologi komunikasi yang paling banyak digunakan masyarakat moderen. Penetrasi pemanfaatan media sosial terus meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia, total pengguna media sosial mencapai 49,9% dari total populasi penduduknya (Kemp, 2. Secara gamblang, media sosial dapat diartikan saluran komunikasi yang berbasis koneksi internet di mana para penggunanya kepentingan, mengekspresikan diri secara dramaturgis . melalui konten pesan yang bernilai. Media sosial adalah arena interaksi dalam format virtual memberikan pengalaman kontak dan komunikasi yang lebih leluasa bagi para penggunanya (Carr & Hayes, 2. Dalam kontek pendidikan, media sosial dapat dijadikan sarana komplementer atau subsitusi bagi metode pembelajaran konvensional, menciptakan iklim belajar yang interaktif dan kolaboratif. Media sosial mengfasilitasi terciptakanya relasi-relasi interpersonal di antara subyek pendidikan (Thurlings & Brok, 2. Manajemen lembaga pendidikan dapat internal dan eksternal melalui media sosial. Tenaga pendidik dapat memanfaatkan media sosial untuk membentuk iklim pembelajaran yang konstruktivis dan kolaboratif, alternatif referensi pembelajaran, serta membangun kedekatan emosional dalam hubungan Peserta PENDAHULUAN Kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah memberikan corak baru pada dunia pendidikan. Adopsi perangkat TIK menjamin kegiatan belajarmengajar menjadi lebih praktis dan efektif dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional sebelumnya. Pemanfaatan TIK penggunaan perangkat dan teknik inovatif guna meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik (Joshi, 2. Ini mencakup penggunaan jaringan internet, komponen multimedia, serta perangkat digital untuk mengfasilitasi kegiatan pendidikan. Adopsi TIK memudah akses dan menyederhanakan proses pembelajaran, menjadikan kegiatan belajar berlangsung efektif dan efisien, serta membantu memecahkan persoalan melalui solusi yang lebih baik (Ilyas et al. , 2. Situasi Pandemi Covid-19 silam semakin memperkuat keyakinan manusia betapa dalamnya peranan TIK sebagai solusi bagi aktivitas komunikasi berjarak. Preseden ini terbukti mengakselerasi pemaduan TIK ke dalam aktivitas kehidupan manusia, tak terkecuali dalam bidang pendidikan (Wiyono et al. , 2. Penerapan teknologi ke dalam bidang pendidikan memberikan sentuhan pada pengalaman belajar yang khas, menjadikannya lebih interaktif, atraktif, dan akses yang mudah (Srimulat, 2. Tuhana, et al. Kecakapan Bermedia Sosial Bagi Mahasiswa. mengembangkan kecakapan komunikasi, kerjasama, dan menumbuhkan motivasi (Beemt et al. , 2. Mahasiswa merupakan kelompok belia yang tidak dapat melepaskan rutinitas kehidupannya dari pemanfaatan TIK. Rerata pengguna media sosial di Indonesia berkisar 18 tahun ke atas. Berkisar 64,8% dari total pengguna media sosial (Kemp, 2. Data ini mengindikasikan penetrasi media sosial yang relati tinggi di kalangan peserta didik. Tingginya akses media sosial punya resultan ganda, bisa positif namun juga negatif. Idealnya, media sosial dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa guna menopang aktivitas belajar, mengembangkan kapasitas diri, serta membangun komunikasi yang produktif. Minimnya kompetensi literasi media dapat menjadi momok yang dapat menjebak mereka ke dalam aktivitas online yang destruktif. Secara konseptual, literasi media sosial merujuk aktivitas mengakses, analisis, dan produksi platform media sosial yang (Aufderheide, 2. Sedangkan kecakapan teknis dari literasi media sosial mencakup segala aktivitas pemanfaatan media sosial itu, di antaranya: pengoperasian . itur-fitu. media, produksi dan publikasi konten, daya kritis mencerna pesan, manajemen akun, isu privasi, dan lainnya (Cho et al. , 2. Literasi media sosial melengkapi kapasitas diri kelompok pengguna agar bijak dalam penggunaan media sosial. PKM ini menyasar kelompok muda, khususnya peserta didik yang berada di jenjang pendidikan tinggi. Problem yang dialami mitra sekaligus dalil pemilihan tema dan subyek pengabdian, yaitu: . Mitra belum memiliki tenaga ahli dan pengajaran terkait literasi media sosial, . Mitra belum mumpuni menerapkan literasi media sosial dalam aktivitas virtualnya, serta . Mitra belum mengoptimalisasikan media sosial dalam skema pembelajaran di kampus. Prioritas penyelesaian masalah via kegiatan pengabdian ini, yakni: . Mahasiswa memiliki kesadaran dan dorongan guna cakap dalam bermedia sosial dan . Optimalisasi media sosial sebagai sarana pembelajaran. Besar Jurusan Kebidanan Poltekes Ae Kupang dapat menjadi pelaku sekaligus protipe pemanfaatan media sosial secara sehat di lingkungan kampus maupun pergaulannya. METODE Kegiatan PKM Jurusan Kebidanan Poltekkes - Kupang, tepatnya pada Kamis, 25 Juli 2024. Total subyek pelatihan terdiri dari 21 orang mahasiswi Jurusan Kebidanan didampingi oleh PJ Sebelum memulai kegiatan. Tim PKM juga menyempatkan diri untuk bersilahturahmi dengan pimpinan jurusan guna meminta izin secara lisan. Kegiatan PKM ini mengadopsi metode pelatihan berupa pemaparan pengetahuan dalam bentuk presentasi dan praktikum berkaitan dengan pengetahuan dan skill mahasiswa dalam bidang literasi media sosial. Presentasi dipandang bentuk desiminasi informasi yang berguna menambah pengetahuan dan pemahaman target peserta (Siswanto, 2. Narasumber PKM menyajikan materi dan membangun diskusi guna meningkatan wawasan kelompok peserta terkait literasi media sosial. Pemahaman yang baik demikian diharapkan dapat mendorong kesadaran mereka untuk kompeten dan bijak dalam bermedia sosial. Sementara metode praktikum berguna mengasa kemahiran peserta agar cakap dalam keterampilan tertentu (Yudhi Ardiana et al. , 2. Dalam sesi ini, narasumber mengsimulasikan kecakapan pengoperasian media sosial yang selanjutnya dipraktikan juga oleh peserta PKM. Etape kegiatan PKM ini terdiri dari pra observasi persoalan mitra, penjajakan kesediaan mitra, perencanaan dan persiapan kegiatan, pelaksanaan aksi, dan evaluasi. Guna mengukur ketercapaian tujuan kegiatan PKM ini, tim menggunakan Skema PretestPosttest Kelompok Tunggal (One-Group PretestPosttest Desig. yang mana penilaian oleh satu kelompok peserta dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan PKM berlangsung (Arief Budiarto et al. , 2. Penilaian peserta dikomparasikan guna melihat peningkatan kapasitas pengetahuan maupun keterampilan Sehingga teknik analisis data yang digunakan dalam evaluasi kegiatan ini, yaitu Perbandingan Periode (Individualizing Compariso. yang dilakukan secara deskriptif. Teknik ini menganalisis dua atau lebih periode waktu yang berbeda guna melihat Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 adanya kemajuan (Abdillah et al. , 2. Dalam hal ini, kelompok peserta dinilai tingkat kemajuan pemahaman maupun kecakapan berdasarkan periode sebelum dan sesudah kegiatan berlangsung. pemanfaatannya lebih lanjut. Tiap peserta diminta untuk mengakses fitur tersebut pada akun media sosialnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum sesi pemaparan materi, peserta diwajibkan mengisi Pretest yang telah disiapkan oleh Tim PKM. Evaluasi ini bertujuan mengukur kecakapan peserta sebelum mereka nantinya mendapatkan pengetahuan dan skills baru dalam kegiatan pelatihan ini. Tiap peserta melakukan scan barcode untuk mengakses sejumlah pertanyaan dalan google form. Narasumber 1 mengawali materinya dengan informasi empirik guna membangkitkan kesadaran peserta betapa urgensinya literasi media sosial. Penetrasi internet dalam negeri mencapai 185,3 juta orang . ,5% dari populas. dan pengguna aktif Media Sosial sendiri tembus 139 juta orang . ,9% dari total populas. Tingginya akses media sosial di kalangan khalayak Indonesia dimaksudkan bagi aktivitas rekreasi dan entertainment, yaitu Menghabiskan waktu luang . ,9%) dan Menjaga konektivitas dengan keluarga dan teman . ,1%). Gambar 1: Pemaparan Narasumber Literasi media sosial mencakup pemahaman tentang peran media sosial mempengaruhi individu dan masyarakat serta kemampuan untuk menggunakan dan berpartisipasi dalam media sosial secara bijaksana (Livingstone, 2. Literasi Media (Sosia. penggunaan media sosial secara proporsional dan tepat, dimanfaatkan bagi kegiatan Ae komunikasi yang produktif. Narasumber 1 selanjutnya menguraikan manfaat literasi media sosial, yaitu: Pertama, membantu user mengetahui fungsi dari media sosial itu. Soal ini mencakup kompetensi teknis dan pemanfaatan media sosial. Varian media Terdapat 11 platform Media Sosial yang paling banyak digunakan oleh khalayak Indonesia, yaitu: Whatsapp . ,9%). Instagram . ,3%). Facebook . ,6%). TikTok . ,5%). Telegram . ,3%). Twitter . ,5%). Facebook Messager . ,9%). Pinterest . ,2%). Snack Video . ,4%), dan Linkedin . %) (Kemp, 2. Tiap individu memiliki peluang yang sama besarnya dalam mengakses media sosial. Keleluasaan ini perlu dijamin tata aturan sehingga tidak menimbulkan benturan kepentingan di antara user yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Literasi media sosial menggarisbawahi dimensi etika dan norma, selain aspek operasional dan fungsinya yang seyogianya dikuasai pengguna dalam bermedia sosial (Gilster. Narasumber mengkonfirmasi habitus digital peserta terkait AoStandar dan Aturan KomunitasAo pada tiap media sosial terlebih dahulu sosial memiliki karakteristik yang berbeda. Keunikan Instagram terletak pada entitas visual dalam format foto. Tik-Tok memiliki kekhasan dalam menyajikan konten dalam bentuk video. Twitter dikenal dengan media sosial yang mengutamakan narasi teks, dan Sementara nilai pemanfaatan media sosial tergantung orientasi kebutuhan / kepentingannya (Aichner et al. , 2. Kedua, komprehensif terkait dinamika interaksi dalam ruang virtual media sosial. Literasi dimaksud menyalurkan pengetahuan dan kompleksitas perjumpaan virtual dan komunikasi yang terjalin dalam media Gambaran dan analisis peristiwa virtual media sosial perlu didiskursuskan sebagai bahan pembelajaran bagi user di Tuhana, et al. Kecakapan Bermedia Sosial Bagi Mahasiswa. dan password yang kuat sehingga tidak mudah dibobol oleh orang lain, tidak menyerahkan data pribadi ke situs tertentu dengan imingimin berhadiah, tidak menggunakan fasilitas umum terutama untuk kepentingan akses Kecakapan diri individu sangat menentukan keamanan siber dalam bermedia Kelalaian manusia adalah mata rantai terlemah dalam semesta jejaring siber (Herath et al. , 2. Di penghujung sesi. Narasumber 2 menjelaskan manfaat memiliki kecakapan literasi media sosial yang baik, di antaranya: Menghemat waktu. Peserta diajarkan skills mengatur waktu secara produktif ketika bermedia sosial, . Menghemaat biaya Peserta memaksimalkan fungsi media sosial dengan ongkos operasional yang kecil, . Belajar Peserta melalui media sosial, . Selalu update Peserta diajarkan petunjukpetunjuk memperbaharui informasi yang relevan, . Terhindar dari informasi palsu (Hoa. Peserta mengidentifikasi informasi palsu / sesat serta cara mencegah atau menanggulanganinya, . Terhindar dari kekerasan dan perundungan. Peserta diajarkan terhindar dari aktivitas kekerasan dan cyber bullying, . Privasi dan keamanan bisa terjaga. Peserta diajarkan kemampuan menjamin / menjaga tingkat securisitas aktivitas bermedia sosial dan kerahasiaan akun, . Penguasaan teknologi. Peserta pengoperasian platform media sosial tertentu sesuai kekhasannya masing-masing, . Kemampuan berkomunikasi yang baik. Peserta diajarkan etika komunikasi daring ketika bermedia sosial, dan . Mempunyai kesadaran kritis mengenai konten media Literasi Media Sosial membantu khalayak pengguna dalam mengidentifikasi dan menghindari konten-konten yang Media sosial menjadi arena tambahan bagi interaksi sosial, meningkatkan kualitas komunikasi melalui lebih banyak kesempatan bersua (Nesi et al. , 2. Sesi berikut dilanjutkan Narasumber 3 ya memaparkan petunjuk etis terkait perihal bijak dan etika komunikasi dalam bermedia Di antaranya yaitu: . Tidak membagikan informasi pribadi di media kemudian hari (Baumyl et al. , 2. Sesi ini diakhiri dengan game dengan durasi waktu 5-8 menit dan diikuti dengan suasana ceria, tawa, ramai dan partisipasi aktif dari peserta. Materi dilanjutkan oleh Narasumber 2 berkaitan dengan aktivitas bermedia sosial. Catatan pertama dari Narasumber 2 menyoroti orientasi penggunaan media sosial. Dalam praktiknya, terdapat banyak konten media sosial yang menyimpang, seperti: konten sadistis, pornografis, cyber bullying, ujaran kebencian, ancaman, pembunuhan karakter, dan lainnya. Keyminds dari Narasumber 2 yaitu khalayak pengguna media sosial tidak hanya berpartisipasi secara aktif, tetapi juga bermakna. Artinya, aktivitas mencontohkan pencarian informasi, diskusi, ekspresi ide / gagasan, serta membagikan konten positif merupakan aktivitas produktif dalam media sosial. Perilaku patologis di media sosial menimbulkan kekhawatiran besar terkait dampak negatif dari aktivitas daring terhadap kehidupan pribadi dan Penyebaran hoaks dan propaganda, rekayasa multimedia oleh AI, maraknya akun palsu, serta kemunculan berbagai konten berbahaya di antaranya merupakan bahaya yang dihadapi pengguna media sosial. Segenap problem ini menciptakan kondisi kritis dan darurat, kian meningkatkan ancaman bagi ekosistem daring (Ferrara et al. Manajemen privasi dalam bermedia sosial perlu mendapat atensi serius. Tidak semua informasi dapat dibagikan dan menjadi konsumsi publik. Privasi adalah konstruksi normatif yang menyesuaikan konteks dan karenanya dapat adaptif seiring waktu, pada kultur maupun orang yang berbeda. Privasi merepresentasikan wilayah personal individu yang perlu dibatasi dari jangkauan publik. Ruang privat individu merupakan hak asasi dan dasar penghargaan / penghormatan (Knijnenburg et al. , 2. Keamanan siber seringkali menimpa banyak pengguna, seperti: kebocoran dan transaksi jual beli data, pembobolan akun, pelanggaran privasi, virus, dan lainnya. Masyarakat siber perlu menjamin keamanan akun media digitalnya. Kecakapan dasar yang bisa dilakukan oleh siswa dalam memproteksi aktivitas online, di antaranya: memastikan tingkat keamanan akun media digital dengan membuat username Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 Data yang bersifat privat tidak menjadi konsumsi publik karena memicu kejahatan Resiko siber mengancam integritas informasi dan sistem informasi (Cremer et al. , . Tidak memicu konflik dengan orang selama bermedia sosial. Konflik dimaksud meliputi: rasisme, anti-semitisme, homofobia, fanatisme, kebencian politik, penyebaran rumor, misogini dan pornografi, terorisme, perundungan, pelecehan, serta penguntitan (Gagliardone et al. , 2. Permusuhan dan konflik hanya akan menghabiskan energi, . Memastikan kebenaran informasi. User harus memperbiasakan diri melakukan verifikasi informasi terlebih dahulu sebelum bersikap dan bertindak. Individu sebagai aktor utama gatekeeper bagi media (Khan & Idris, 2. , dan . Mempertimbangkan segala sesuatu yang dibagikan ke dalam konten. Aktivitas bermedia sosial harus dilandasi pertimbangan Informasi sesat jauh lebih cepat destruktif yang jauh lebih besar (Aymeur et , 2. Di akhir sesi, peserta diwajibkan kembali untuk mengisi Post-test. Hasil evaluasi Post-test akan dikomparasikan dengan pre-test guna mengukur efektivitas pelatihan ini terhadap mahasiswa terkait kecakapan literasi media sosial. hanya 14% peserta yang benar-benar mengetahui, memahami, dan menjadikan UU ITE sebagai panduan normatif mereka dalam bermedia sosial. Angka ini naik menjadi 68% memahami, dan sadar betapa pentingnya UU ITE setelah mereka mengikuti pelatihan ini. Selain ada perubahan pemahaman dan bertambahnya kesadaran peserta, terdapat indikator evalusi yang menandai efektivitas kegiatan PKM ini, yaitu: aspek relevansitas tema PKM dengan kebutuhan peserta, peningkatan pengetahuan, dan dorongan kesadaran terkait praktik cakap bermedia SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan PKM Program Studi Ilmu Komunikasi Ae Undana Tahun 2024 ini telah Kegiatan merupakan desiminasi informasi terkait literasi media sosial yang dianggap perlu untuk diajarkan kepada mahasiswa setempat. Tingginya akses mereka terhadap berbagai platform media sosial perlu disertai dengan kecakapan literasi yang memadai. Hal tersebut membantu mahasiswa untuk dapat lebih mawas diri dan kritis terhadap segala sesuatu yang berlangsung dalam aktivitas Kegiatan PKM ini telah memenuhi 3 luarannya, yaitu: . Impak kegiatan bagi peserta yang diukur berdasarkan hasil evaluasi dari peserta, . Publikasi kegiatan PKM dalam pemberitaan daring, . Publikasi kegiatan PKM dalam website kampus, dan . Publikasi jurnal PKM. Tim sangat mengharapkan kegiatan pelatihan ini kian meningkatkan kecakapan bermedia sosial mahasiswa, terutama berkaitan dengan kemampuan mereka dalam membedakan mana yang positif atau negatif dari aktivitas daringnya. Kegiatan PKM yang diselenggarakan secara kontinu dalam rangka menumbuhkembangkan kecakapan bermedia sosial di kalangan kelompok penggunanya. Selain itu. Program Studi Ilmu Komunikasi Ae Universitas Nusa Cendana menindaklanjuti kegiatan PKM ini dalam MoU berkolaborasi dalam berbagai agenda kegiatan Tridharma PT. Tabel 1 : Evaluasi Impak PKM Aspek Evaluasi Antipati Konten Negatif Sikap Ketergantungan Pada Media Sosial Melek UU ITE Pretets Posttest Kegiatan PKM ini telah berdampak positif terhadap peserta berdasarkan hasil evaluasi para peserta terkait subtansi pelatihan dalam kegiatan PKM ini. Sebelum mengikuti pelatihan ini, 71% peserta menolak membuat atau mengkonsumsi berbagai penyimpangan konten di Media Sosial, seperti: kekerasan, pornoaksi, cyber bullying, ujaran kebencian, dan sebagainya. Angka ini naik menjadi 94% setelah peserta mengikuti kegiatan pelatihan ini. Sebelum mengikuti pelatihan ini, 78% peserta memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap akses media sosial. Angka menurun drastis hanya tersisa 25% yang terdeterminasi oleh media Sebelum mengikuti pelatihan ini. Tuhana, et al. Kecakapan Bermedia Sosial Bagi Mahasiswa. Technology. Pedagogy and Education, 29. https://doi. org/10. 1080/1475939X. DAFTAR RUJUKAN Abdillah. HS. Muniarty. Nanda, . Retnandari. Wulandari. Prasetyo. Sinambela. Mansur. Aulia. Hamzah. Firmansyah, . Andari. Rismadi. Purba. Gazi, & Sina. Metode Penelitian Analisis Data Comprehensive. In Penerbit Insania. Carr. , & Hayes. Social Media: Defining. Developing, and Divining. Atlantic Journal Communication, 23. https://doi. org/10. 1080/15456870. Cho. Cannon. Lopez. , & Li. Social Media Literacy: A Conceptual Framework. New Media and Society, 26. https://doi. org/10. 1177/146144482110 Aichner. Grynfelder. Maurer. , & Jegeni. Twenty-Five Years of Social Media: A Review of Social Media Applications and Definitions from 1994 In Cyberpsychology. Behavior, and Social Networking (Vol. Issue . https://doi. org/10. 1089/cyber. Cremer. Sheehan. Fortmann. Kia, . Mullins. Murphy. , & Materne. Cyber Risk And Cybersecurity: A Systematic Review Of Data Availability. Geneva Papers on Risk and Insurance: Issues and Practice, 47. https://doi. org/10. 1057/s41288-02200266-6 Aymeur. Amri. , & Brassard. Fake News. Disinformation And Misinformation In Social Media: A Review. Social Network Analysis and Mining, 13. https://doi. org/10. 1007/s13278-02301028-5 Ferrara. Cresci. , & Luceri. Misinformation. Manipulation. And Abuse On Social Media In The Era Of COVID-19. Journal of Computational Social Science, 3. https://doi. org/10. 1007/s42001-02000094-5 Arief Budiarto. Aninstya. , & Ariyanto, . Peningkatan Pengetahuan. Sikap, dan Tindakan Cuci Tangan Enam Langkah WHO Siswa SD Negeri 1 Iroyudan: Studi One Group PretestPosttest. Jurnal Pengabdian. Riset. Kreativitas. Inovasi. Dan Teknologi Tepat Guna, 1. https://doi. org/10. 22146/parikesit. Gagliardone. Gal. Alves. , & Martinez. Countering Online Hate Speech - UNESCO Digital Library. In UNESCO Series on Internet Freedom (Issue Ma. Aufderheide. Media Literacy: From a Report of the National Leadership Conference on Media Literacy. MEDIA LITERACY INFORMATION AGE. https://doi. org/10. 4324/978135129292 Gilster. Digital Literacy. Wiley. Herath. Khanna. , & Ahmed. Cybersecurity Practices for Social Media Users: A Systematic Literature Review. In Journal of Cybersecurity and Privacy (Vol. Issue https://doi. org/10. 3390/jcp2010001 Baumyl. Hollebeek. , & Jung. Dynamics Customer Interaction On Social Media Platforms. In Electronic Markets (Vol. Issue . https://doi. org/10. 1007/s12525-0160227-0 Ilyas. Akbar. Hamza Wajid. Joghee. Fatima. , & Mago. The Growing Importance of Modern Technology in Education. International Conference on Business Analytics for Technology and Security. ICBATS https://doi. org/10. 1109/ICBATS57792. Beemt. Van Den. Thurlings. , & Willems. Towards An Understanding Of Social Media Use In The Classroom: A Literature Review. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 1. Agustus 2025 Joshi. Technology In Education. Vidya - A Journal Of Gujarat, 2. Wiyono. Supriyanto. , & Prastiawan, . Use Of Information Technology And Problems Faced By Students In The Teaching-Learning Process In Higher Education During The 2019 Covid Pandemic. AIP Conference Proceedings, https://doi. org/10. 1063/5. Kemp. February . Digital 2024: Indonesia. DataReportal. Khan. , & Idris. Recognise Misinformation And Verify Before Sharing: A Reasoned Action And Information Literacy Perspective. Behaviour and Information Technology, 38. https://doi. org/10. 1080/0144929X. Yudhi Ardiana. Widyastuti. Susanti. Muthmainah. Herlina, . Nugroho. Fitria. Veryawan, & Yuniawati. Metode Pembelajaran Guru. In Yayasan Kita Menulis. Knijnenburg. Page. Wisniewski. Lipford. Proferes. , & Romano, . Modern Socio-Technical Perspectives On Privacy. In Modern Socio-Technical Perspectives on Privacy. https://doi. org/10. 1007/978-3-03082786-1 Livingstone. Media Literacy And The Challenge Of New Information And Communication Technologies. Communication Review, 7. https://doi. org/10. 1080/107144204902 Nesi. Choukas-Bradley. , & Prinstein. Transformation of Adolescent Peer Relations in the Social Media Context: Part 1AiA Theoretical Framework and Application to Dyadic Peer Relationships. In Clinical Child and Family Psychology Review (Vol. Issue https://doi. org/10. 1007/s10567-0180261-x Siswanto. Presentasi Multimedia Media Pembelajaran Interaktif. Penerbit Yayasan Prima Agus Teknik. Srimulat. Peran Teknologi Dalam Transformasi Pendidikan. Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan: Teknologi untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan. Bildung Nusantara. Thurlings. , & Brok, den P. Learning Outcomes Teacher Professional Development Activities: A Meta-Study. In Educational Review (Vol. Issue https://doi. org/10. 1080/00131911.